Home » DKI Jakarta

Pecinan Glodok Pesona Kota Tua di Tengah Gemerlap Jakarta

EnJ 23 April 2009 DKI Jakarta 1,704 views No CommentPrint This Post PRINTEmail This Post EMAIL

glodokMeski telah menjelma menjadi kota metropolitan dengan gedung pencakar langit serta sarana transportasi modern, ternyata Jakarta masih menyimpan peninggalan sejarah. Banyak bangunan kuno berikut adat-istiadat dan budaya yang kental dengan pengaruh Tionghoa-nya dapat kita jumpai di Pecinan Glodok.

Sisi kota tua Jakarta ini terdiri dari belasan gedung perkantoran, permukiman yang mayoritas dihuni WNI keturunan Tionghoa dan bangunan tua peninggalan Belanda yang kemudian dijadikan museum oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Beberapa bangunan di kota tua Jakarta yang kini dijadikan museum antara lain Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, Museum Wayang dan Museum Fatahillah.

Bagi para pelancong lokal maupun mancanegara yang berwisata di sana, kota tua ini dapat memberikan pengalaman tersendiri seolah kembali ke masa silam. Namun, dalam perjalanan waktu bangunan-bangunan tua di kawasan kota tua Jakarta itu berada dalam kondisi merana dan nyaris tidak terawat.

Hal ini akhirnya disadari oleh Pemerintah DKI yang mulai melakukan program revitalisasi kota tua Jakarta yang telah dicanangkan pada awal tahun 1990-an. Masyarakat pemilik gedung dapat tetap memanfaatkan bangunannya sejauh mematuhi ketentuan undang-undang dan SK Gubernur tersebut yang diatur lengkap dalam Perda No 9 Tahun 1999 mengenai pemanfaatan lingkungan bangunan bersejarah.

Memang sangat jelas tanpa peran serta masyarakat, program yang bertujuan memelihara lingkungan bangunan bersejarah dan sekaligus menghidupkan kembali ekonomi kawasan tersebut itu, sulit mencapai sasaran.

Glodok hingga Beos

Perjalanan menyusuri kota Jakarta tempo doeloe dimulai dari kawasan Pecinan yang populer dengan sebutan Petak Sembilan serta Pancoran Glodok yang sejak berabad lalu memang merupakan pusat perniagaan yang terus bertahan hingga kini.

Meski Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah beberapa kali melakukan penataan kawasan tersebut, namun pemerintah daerah meminta agar bangunan-bangunan toko di sana yang kental dengan arsitektur China tetap dipertahankan dengan tidak mengubah bentuk bangunan yang ada.

Hal itu terlihat di kawasan Glodok Pancoran, misalnya, dapat ditemui jejeran toko barang pecah-belah hingga makanan kering yang merupakan bangunan lama berarsitektur China.

Beberapa toko, seperti Gloria, yang telah berusia lebih dari 30 tahun dan toko Kawi, selain mencantumkan tahun berdirinya toko seperti sejak 1964 pada papan merek toko juga masih mempertahankan penataan barang dagangan dengan gaya zaman dulu, yakni masih meletakkan dagangan di atas rak-rak atau lemari-lemari kayu berukuran besar dengan kaca dorong.

Dari kawasan perniagaan Pancoran Glodok, bangunan tua bersejarah yang kental dengan pengaruh arsitektur Belanda dan China dapat disaksikan di ujung Jalan Gajah Mada atau yang dilebih dikenal dengan sebutan Beos.

Di kawasan ini dapat ditemukan perpaduan antara arsitektur Belanda dan China pada gedung-gedung tua yang masih tegak berdiri seperti gedung pusat Bank Indonesia kini menjadi museum Bank Mandiri, Toko Merah, jembatan Kota Intan dan bekas Galangan VOC.

Salah satu gedung tua berarsitektur China dibuat dari batu bata warna merah, sehingga disebut Toko Merah, didirikan pada 1730 sebagai tempat kediaman Gubernur Jenderal VOC Baton van Imhoff. Tiga belas tahun kemudian, bangunan ini menjadi Akademi Angkatan Laut hingga 1755. Setelah itu pemiliknya berganti-ganti dan kini ditempati sebagai kantor PT Dharmaniaga.

Lainnya, Jembatan Intan yang dulu dikenal dengan Jembatan Jungkit. Sesuai dengan namanya, setiap kali kapal besar hendak melintas, jembatan ini diangkat dulu. Sayangnya di masa Orde Baru jembatan ini dipugar dan dibuat permanen dan tidak bisa lagi dijungkitkan. Alasannya, bisa jadi karena sekarang tak ada lagi kapal besar yang bisa berlabuh.

Kawasan kota tua Jakarta memang layak dijadikan objek wisata sejarah karena tidak hanya kaya oleh bangunan-bangunan tua yang kini dijadikan museum, tetapi perkampungan tua yang kental dengan nuansa Tionghoa, seperti Kampoeng Kramat Loear Batang, Kampoeng Pekodjan dan Kampoeng Petjinan yang berada di kawasan Tambora, Glodok Jakarta Barat.

Di perkampungan tersebut para pelancong bisa menikmati suasana Jakarta tempo dulu yang dikenal sebagai kota jasa dan niaga karena dekat dengan pelabuhan laut.

Selain melihat-lihat permukiman penduduk yang kental dengan arsitektur Cina, wisatawan di akhir perjalanan juga dapat menikmati wisata kuliner khas Tionghoa baik berupa makanan siap saji maupun bahan-bahan kebutuhan rumah tangga hingga makanan kering impor dari negara tetangga Malaysia, Singapura, China dan Thailand yang sejak beberapa tahun belakangan menyerbu kawasan tersebut.

Di kawasan Glodok Pancoran dengan mudah ditemui di sepanjang lorong-lorong pecinan, kios-kios penjual buah-buah segar maupun manisan berbaur dengan kios-kios penjual masakan China dan makanan Betawi seperti sup dan telur penyu, bakso, bakpau, siomay, kwetiau, ketupat sayur dan soto Betawi atau bubur kembang tahu yang disiram air gula berbumbu jahe serta minuman teh dingin Oolong Tea yang dijajakan di atas gerobak dorong. (Adi)


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...


Artikel Terkait:

  • Menjelajah Jakarta Kota
    [ Wednesday, 5 Nov 2008 - 15 : 05 | 0 comments | 756 views ]
    Ingin berwisata tapi kehabisan tiket? Cobalah jelajahi kawasan Jakarta Kota. Dahulu, kawasan kota ini merupakan pintu gerbang utama masuk ke Jakarta, melalui pelabuhan Sunda Kelapa. Pada pertengahan abad ke-17, pasukan Belanda juga masuk Batavia melalui pelabuhan ini. Pada masa itu...
  • Museum Nasional Jakarta
    [ Tuesday, 17 Mar 2009 - 13 : 51 | 1 comments | 2188 views ]
    Museum Nasional Museum Nasional Eksistensi Museum Nasional diawali dengan berdirinya suatu himpunan yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 24 April 1778. Pada masa itu di Eropa tengah terjadi revolusi intelektual (the Age of Enlightenment) yaitu...
  • Museum M.H. Thamrin
    [ Friday, 27 Mar 2009 - 8 : 04 | 0 comments | 1106 views ]
    museum-mh-thamrin Memasuki awalAbad ke-20 Pemerintah Kolonial mengembangkan prasarana kota Batavia dengan membangun gedung-gedung untuk rumah tinggal. kantor dan pelayanan masyarakat, termasuk bangunan yang kemudian dibeli oleh Mohammad Hoesni Thamrin dan dihibahkan untuk kegiatan Pergerakan Nasional Indonesia untuk menuju Kemerdekaan, lepas dari...
  • Kampung Kapitan, Bukan Sekadar Kampung China
    [ Wednesday, 15 Apr 2009 - 9 : 27 | 0 comments | 1057 views ]
    kampung-kapitan PALEMBANG – Kampung Kapitan memang salah satu bangunan peninggalan China. Namun, bukan ciri khas China yang melekat di sana, melainkan perpaduan antara budaya Palembang, China, dan Belanda yang terasa kental mewarnai kawasan yang terletak di pinggir Sungai Musi ini. Menurut budayawan...
  • Museum Affandi
    [ Thursday, 24 Sep 2009 - 11 : 28 | 0 comments | 525 views ]
    Museum Affandi Museum Affandi terletak di jalan Solo No 167, tepatnya di tepi barat sungai Gajah Wong. Komplek museum yang menempati tanah seluas 3.500 meter persegi terdiri dari bangunan museum dan bangunan rumah yang dahulu merupakan rumah tempat tinggal pelukis...




Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes