Home » Sulawesi Utara

Ikan Purba Coelacanth dan Maskot WOC

EnJ 18 May 2009 Sulawesi Utara 2,726 views No CommentPrint This Post PRINTEmail This Post EMAIL

ikan-purbaMANADO–Dua nelayan asal Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, Yustinus Lahama dan Delfie, tidak menyangka bahwa ikan hasil tangkapannya pada 19 Mei 2007 di perairan Teluk Manado, cukup menggegerkan dunia.

Pasalnya, ikan yang diketahui para ilmuwan dunia itu, sejenis “Latimeria menadoensis” atau Coelacanth, merupakan ikan purba yang sebenarnya sudah dianggap punah sejak 65 juta tahun lalu.

Sekarang ikan tersebut telah dipajang di lokasi pelaksanaan World Ocean Conference (WOC) dan Coral Triangle Initiative (CTI) Summit, 11-15 Mei 2009, dan menjadi perhatian peserta dari berbagai negara.

Yustinus mengatakan, ikan purba tersebut ditangkap ketika tersangkut di kail miliknya. Ketika ditarik nampak seekor ikan dengan panjang kurang lebih satu meter dan berat berkisar 30 Kg disertai bintik-bintik putih.

Ikan itu didapat pada kedalaman laut sekitar 105 meter, di pantai Malalayang, pada pukul 08.00 Wita, 19 Mei lalu.

“Meski tergolong besar, namun ikan tersebut tampaknya tidak melakukan perlawanan lagi ketika diseret hingga ke dalam perahu,” katanya, mengisahkan penangkapan itu.

Menurut data berbagai sumber, Coelacanth diartikan sebagai “duri yang berongga” berdasarkan kata Yunani coelia, “berongga” dan acanthos, “duri”. Ini merujuk pada fisiknya yang berduri pada sirip yang berongga.

Coelacanth adalah ikan yang berasal dari sebuah cabang evolusi tertua yang masih hidup dari ikan berahang. Diperkirakan sudah punah sejak akhir masa Cretaceous 65 juta tahun lalu, sampai sebuah spesimen ditemukan di Timur Afrika Selatan, di perairan Sungai Chalumna tahun 1938.

Namun, sejak itu Coelacanth ditemukan di Komoro, perairan Pulau Manado Tua di Sulawesi, negara Kenya, Tanzania, Mozambik, Madagaskar dan Taman Llaut St Lucia di Afrika Selatan.

Di Indonesia, khususnya di sekitar Manado, Sulawesi Utara, spesies ini oleh masyarakat lokal dinamai ikan raja laut. Coelacanth terdiri dari sekitar 120 spesies yang diketahui berdasarkan penemuan fosil.

Sampai saat ini, telah ada dua spesies hidup Coelacanth yang ditemukan yaitu Coelacanth Komoro, Latimeria chalumnae dan Coelacanth Sulawesi, Latimeria menadoensis.

“Hingga tahun 1938, ikan yang berkerabat dekat dengan ikan paru-paru ini dianggap telah punah semenjak akhir masa Cretaceous, sekitar 65 juta tahun yang silam,” kata Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Unsrat Manado, Prof KWA Masengie.

Menurut dia, ada seorang iktiologis (ahli ikan), Dr JLB Smith kemudian mendeskripsi ikan tersebut dan menerbitkan artikelnya di jurnal Nature pada tahun 1939.

Ia memberi nama Latimeria chalumnae kepada ikan jenis baru tersebut, untuk mengenang sang kurator museum dan lokasi penemuan ikan itu.

Pencarian lokasi tempat tinggal ikan purba itu selama belasan tahun berikutnya kemudian mendapatkan perairan Kepulauan Komoro di Samudera Hindia sebelah barat sebagai habitatnya, di mana beberapa ratus individu diperkirakan hidup pada kedalaman laut lebih dari 150 meter.

Di luar kepulauan itu, sampai tahun 1990-an beberapa individu juga tertangkap di perairan Mozambik, Madagaskar dan juga Afrika Selatan. Namun semuanya masih dianggap sebagai bagian dari populasi yang kurang lebih sama.

Pada tahun 1998, enam puluh tahun setelah ditemukannya fosil hidup Coelacanth Komoro, seekor ikan raja laut tertangkap jaring nelayan di perairan Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara.

Ikan ini sudah dikenal lama oleh para nelayan setempat, namun belum diketahui keberadaannya di sana oleh dunia ilmu pengetahuan. Ikan purba itu secara fisik mirip Coelacanth Komoro, dengan perbedaan pada warnanya.

Ketika ikan itu ditangkap dengan jenis yang lain oleh dua nelayan di Manado, informasinya langsung menghebohkan warga hingga ke telinga Gubernur Sulut, SH Sarundajang.

Gubernur Sulut selaku penggagas pelaksana WOC, langsung mencari ikan tersebut dengan mengundang sejumlah peneliti dari berbagai akademisi, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Ikan tersebut langsung diamankan di Dinas Kelautan dan Perikanan Sulut, disimpan di “cold storage”, agar bisa terus bertahan hingga pelaksanaan WOC dan kepentingan ilmiah.

Maskot WOC

Manado Ocean Declaration (MOD) sudah disepakati pada WOC yang diikuti ribuan peserta dari 80 lebih negara di Manado, serta telah mencatat sejarah tentang penyelamatan laut dan konservasinya.

Namun, keberadaan ikan purba yang ternyata masih berada di perairan di dunia ini tetap mencuatkan ide, agar Coelacanth jadi maskot WOC.

Koordinator Media Center WOC Roy Tumiwa di Manado, mengatakan, ikan purba itu sudah dijadikan bahan diskusi di tingkat pemerintah dan stakeholder kelautan.

Keberhasilan menyelenggarakan WOC telah menjadikan Kota Manado terkenal ke berbagai penjuru dunia. Namun, akan lebih terkenal lagi, bila ikan purba coelancanth kelak dijadikan maskot WOC.ant/Hence Paat/kem/http://republika.co.id


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...


Artikel Terkait:

  • Taman Nasional Bunaken
    [ Wednesday, 8 Apr 2009 - 10 : 55 | 0 comments | 2172 views ]
    Peta Bunaken Peta Bunaken Taman Nasional Bunaken merupakan perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia yang terdiri dari ekosistem hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem daratan/pesisir. Pada bagian Utara terdiri dari pulau Bunaken, pulau Manado Tua, pulau Montehage, pulau Siladen, pulau Nain, pulau Nain...
  • Semenanjung Totok Surga Baru “Diver” di Sulawesi Utara
    [ Tuesday, 7 Apr 2009 - 10 : 38 | 0 comments | 1937 views ]
    Ratatotok – Sulawesi Utara memang dikenal dunia dengan pesona keindahan Pantai Bunaken yang sangat memikat hati. Terumbu karang berwarna-warni bak pelangi membuat salah satu potensi bahari Indonesia ini menjadi surga bagi para diver (penyelam) dan pecinta snorkeling (menyelam di permukaan perairan)...
  • Sail Bunaken 2009, Jayalah Lautku
    [ Sunday, 30 Aug 2009 - 21 : 33 | 0 comments | 1111 views ]
    Pesawat Sukhoi TNI AU melesat di atas KRI Dewaruci yang bersama 26 kapal perang asing dan 6 KRI mengikuti parade kapal perang di perairan Teluk Manado, Rabu (19/8). Pesawat Sukhoi TNI AU melesat di atas KRI Dewaruci yang bersama 26 kapal perang asing dan 6 KRI mengikuti parade kapal perang di perairan Teluk Manado, Rabu (19/8). Nenek moyangku seorang pelaut/gemar arungi luas samudera/tiada takut ombak dan karang. Demikian...
  • Melongok Akuarium Raksasa
    [ Tuesday, 19 Jan 2010 - 15 : 17 | 0 comments | 692 views ]
    Taman wisata Purbasari, Pancuran Mas ini, diresmikan Bupati Purbalingga, 4 Juni 2001. Terletak di Desa Purbayasa, Kecamatan Padamara, Purbalingga, atau sekitar 5 kilometer kearah barat laut Kota Purbalingga. Obyek wisata ini mirip Sea World, dunia laut di kompleks Taman Impian Jaya...
  • Snorkeling di Pulau Racun
    [ Thursday, 4 Dec 2008 - 22 : 07 | 0 comments | 1099 views ]
    Racuuun…,Racuuun…,refrain …Lagu Racun Dunia milik Band Changcuters mengalun di telingaku lewat MP4 saat duduk sendiri di atap speedboat. Lagu yang dijadikan soundtrack sinetron itu menemani pelayaranku menuju pulau yang namanya mirip-mirip lagu itu, Pulau Racun. Dari namanya saja, Pulau Racun sudah...




Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>