Home » Jawa Barat

Menikmati Sisi Lain Kota Lembang

EnJ 16 August 2009 Jawa Barat 1,289 views One CommentPrint This Post PRINTEmail This Post EMAIL

Batu yang bentuknya seperti lonceng itu ditemukan di sebelah menhir pipih yang disebut sebagai Batu Kujang. Formasi batu di lokasi itu seperti pola punden berundak.

Batu yang bentuknya seperti lonceng itu ditemukan di sebelah menhir pipih yang disebut sebagai Batu Kujang. Formasi batu di lokasi itu seperti pola punden berundak.

Kota Lembang, ibukota kecamatan yang terletak sepuluh kilometer di utara Kota Bandung ini memang memiliki daya tarik tersendiri. Setiap akhir pekan, Lembang tidak pernah sepi dari wisatawan. Para wisatawan itu umumnya datang untuk berekreasi dan berbelanja. Selain membeli sayuran segar di pasar, mereka juga bisa menikmati wisata kuliner yang beranekaragam di kawasan itu.

Apakah hanya itu yang ada di Kota Lembang? Meski demikian, belum banyak orang yang memperhatikan warisan geologi di sana. Padahal, salah satu yang sering terabaikan meski bentuknya cukup mencolok adalah Gunung Batu. Lokasinya pun tidak jauh dari Kota Lembang. Agar bisa mencapai lokasi ini, kita bisa mengikuti jalanan yang menghubungkan kota itu dengan tempat wisata alam Maribaya di sebelah baratnya. Apabila menggunakan kendaraan bermotor, gunung itu sudah bisa dilihat berada di sebelah kanan jalan dalam waktu sekitar lima menit saja. Buat Anda yang ingin merasakan hawa sejuk Lembang pada pagi hari, bisa juga menyewa delman untuk sampai ke sana.

Gunung Batu yang lebih tepat disebut sebagai bukit itu merupakan bagian kecil dari retakan di kerak bumi, yang dikenal sebagai patahan atau Sesar Lembang.

Bersama sekitar 40 orang lainnya yang menjadi peserta dalam acara Jajal Geotrack I dengan tema Potensi Wisata Sesar Lembang, SP berkesempatan menyambangi batuan yang sudah ada sejak 520.000 tahun lalu itu. Kami berangkat ke sana sejak pukul delapan pagi dengan menggunakan dua buah bus pariwisata pada pertengahan bulan Juli lalu.

Perjalanan ini dipandu oleh dua penulis buku Wisata Bumi Cekungan Bandung Budi Brahmantyo dan Titi Bachtiar. Keduanya secara bergantian memberikan penjelasan soal batuan bekas lava Gunung Sunda itu.

Menurut Budi, patahan itu adalah retakan di kerak bumi yang telah menggeser blok yang dipisahkannya. Sesar Lembang, digolongkan sesar normal. Bagian Blok Lembang di sebelah utara, ambles, menurun. Sedangkan, blok bagian selatan terangkat naik. Maka terbentuklah bidang geser patahan yang miring terjal ke arah utara.

Setelah berjalan sekitar 20 menit dari tempat bus berhenti, kami pun tiba di puncak batuan bekas lava itu. Dari puncaknya yang mudah didaki ini, terlihat jelas gunung-gunung yang mengelilingi Kota Bandung. Mulai dari Gunung Malabar, Wayang, dan asap dari panas bumi di Kawah Kamojang. Kota Garut juga terlihat jelas di sebelah selatan. Bergeser ke sebelah barat, terlihat sosok Gunung Gede dan Pangrango. Jika kita melihat ke timur, tampak Gunung Bukit Tunggul. Kalau kita mengarahkan mata ke utara, terlihat Gunung Tangkubanperahu dan Gunung Burangrang, yang menjadi bagian dari legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Titi Bachtiar memaparkan, dua gunung itu terbentuk dari letusan gunung api Sunda yang tingginya diperkirakan antara 3.000 hingga 4.000 meter dari permukaan laut. Pada zaman kuarter Pleistosen atau 1,8 juta tahun hingga 5 juta tahun lalu gunung tersebut meletus dan membentuk kaldera. Istilah itu diambil dari bahasa Spanyol yang artinya ketel besar. Dalam konteks letusan gunung diartikan sebagai cekungan atau kawah yang sangat besar di puncak gunung api akibat letusan dahsyat. Akibatnya, bagian puncak gunung amblas.

Gunung Tangkubanparahu lahir sekitar 125.000 tahun lalu dari sisi timur kaldera Gunung Sunda. Letusan berikutnya terjadi 55.000 tahun yang lalu. “Material letusannya membendung Citarum Purba di utara Padalarang sehingga terbentuk Danau Bandung Purba,” terang Bachtiar.

Bentuk perahu terbalik, yang terlihat dari arah Kota Bandung, pada gunung itu akibat letusan-letusan berikutnya berupa lava yang mengalir perlahan di lembah, di empat sisi mata angin. Meskipun menyajikan pemandangan yang menakjubkan, Sesar Lembang ini menyimpan potensi gempa yang cukup besar.

Budi mengungkapkan, apabila patahan yang membentang sepanjang hampir 25 kilometer dari Cianjur hingga Gunung Palasari di sebelah timur aktif kembali, bukan tidak mungkin terjadi gempa bumi berkekuatan 6,5 hingga 7 skala richter.

Selesai menyaksikan pemandangan di sana, rombongan pun kembali ke bus. Kali ini tujuan selanjutnya adalah Kampung Batuloceng di Desa Gegersunten, Cibodas yang masih termasuk ke dalam Kecamatan Lembang.

Sebelum sampai di sana, rombongan berhenti dulu di Maribaya, yang berada di sekitar dinding Sesar Lembang. Tempat ini menjadi lokasi terpotongnya Sesar Lembang oleh Sungai Cikapundung.

Perjalanan dilanjutkan dengan bus. Kali ini, rombongan disajikan bentang alam Sesar Lembang yang menyejukkan mata. Sayangnya, pembukaan lahan kebun di beberapa bagian dari bentang alam itu merusaknya. Buat Budi dan Titi Bachtiar, pemandangan di sana tidak kalah dengan pegunungan di Alpen, Swiss.

Mendekati jam makan siang, kami tiba di pintu masuk Kampung Batuloceng. Kampung ini terletak di sebelah timur Sesar Lembang, tempat hulu anak sungai Ci Kapundung bermula.

Selesai makan siang, rombongan melanjutkan perjalanan dengan menapaki jalan setapak ke arah kampung yang jumlah rumahnya tidak lebih dari 50 bangunan. Suara lenguhan sapi dan bau pupuk memberikan suasana berbeda buat sebagian peserta yang banyak menghabiskan hidupnya dalam suasana perkotaan.

Burung “Manintin”

Nama kampung ini didasarkan pada sebuah batu yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Secara fisik, tinggi batu itu sekitar 40 sentimeter, membulat membentuk silinder seperti tabung dengan diameter 25 sentimeter. Pada bagian atasnya ada sebuah tonjolan bulatan yang tingginya sekitar 15 sentimeter dan diameter 5 sentimeter. Sekilas bentuknya memang seperti lonceng.

Masyarakat di sana menyebut batu yang berbentuk lonceng ini sebagai Batuloceng, keramat. Permukaan batunya sendiri berwarna hitam dan berlubang-lubang hasil pelepasan gas ketika batu membeku. [Suara Pembaruan/Adi Marsiela]


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...


Artikel Terkait:

  • Lembang
    [ Wednesday, 11 Nov 2009 - 15 : 50 | 0 comments | 3020 views ]
    Lembang 1 Lembang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Kecamatan Lembang berada pada ketinggian antara 1.312 hingga 2.080 meter diatas permukaan laut. Titik tertingginya ada di Puncak Gunung Tangkuban Parahu. Sebagai daerah yang terletak di pegunungan, suhu rata-rata berkisar...
  • Maribaya Lembang
    [ Saturday, 28 Mar 2009 - 8 : 23 | 0 comments | 4926 views ]
    maribaya-lembang Air terjun, tempat rekreasi dan jurang yang indah sekali membuat maribaya menjadi tempat peristirahatan yang sangat terkenal , hanya beberapa menit dari timur Lembang, pada hari minggu khususnya tempat ini ramai. Minibus dan kereta kuda bulak – balik dari lembang....
  • Wana wisata Jayagiri
    [ Friday, 8 Aug 2008 - 15 : 37 | 0 comments | 1714 views ]
    Keadaan umum WW Jayagiri dengan luas 7ha menurut administrasi pengelolaan hutan termasuk KPH Bandung Utara, BKPH Lembang, Kabupaten Bandung Kecamatan Lembang. Wana wisata ini dan sekitarnya terletak pada ketinggian 1.250-1.500m dpl, konfigurasi lapangan umumnya bergelombang. Kawasan ini mempunyai curah hujan 2.700mm/th dengan...
  • Kampung Beting
    [ Friday, 13 Mar 2009 - 22 : 24 | 0 comments | 1605 views ]
    Kampung Beting Kampung Beting “Kampung Beting” adalah sebuah peradaban Kota Pontianak di masa lalu yang masih terjaga kelestariannya hingga kini. Kampung tersebut dibangun diatas sungai, sehingga sampan merupakan sarana penting yang digunakan untuk lalu lintas sehari-hari. Aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat juga...
  • Gunung Bunder
    [ Sunday, 3 Aug 2008 - 4 : 39 | 2 comments | 6520 views ]
    gunung_bunder_1 Gunung Bunder adalah desa di kecamatan Pamijahan, Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Kawasan Gunung Bunder memiliki ketinggian antara 750-1.050 meter dari permukaan laut (dpl) dan sebagian besar merupakan hutan produksi milik Perhutani yang ditanami dengan pohon pinus. Di kawasan tersebut terdapat sebuah...




One Comment »

  1. Kota yang terkenal dengan udara yang dingin dan perkebunan stawberi ini,sangat mempesona lingkungan yang asri dan bersih membuat kita akan kembali ke Lembang, tetapi semua ini berkat Masyarakat dan pemerintah daerah yang selalu menjaga, melestarikan dan mengembangkan Kebudayaan dan Alam Lembang Indonesia

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>