Air Salobar Tapal Kuda

PEMANDANGAN baru di tepi pantai Tapal Kuda Air Salobar. Setiap sore, belasan orang terlihat nongkrong dengan santai di tenda-tenda yang berjejer di sepanjang jalan Air Salobar. Mereka umumnya bersantai sambil mencicipi rujak khas Tapal Kuda sambil menyaksikan speed boat lalu lalang di perairan Teluk Dalam, Kota Ambon, atau kapal-kapal ikan dan kapal penumpang milik PT Pelni melintas di perairan Laut Dalam. Anak-anak kecil dengan riang bermain air di tepian berbatuan pantai Air Salobar yang ada di bawah talud tepian jalan Air Salobar. Meskipun air laut di sekitar pantai Air Salobar relatif jauh dari kebersihan, anak-anak dan masyarakat sekitar tampak sangat menikmatinya. Suasana akan semakin ramai pada akhir pekan. Jika angin sedang kencang, tak sedikit anak muda yang datang ke pantai Air Salobar itu untuk berenang. Memancing, bermain air, atau sekadar melewatkan senja dengan menikmati pemandangan di sekitar laut Air Salobar. Itulah aktivitas baru yang bisa dilakukan oleh warga Ambon di laut Air Salobar- Tapal Kuda sejak konflik melanda negeri Pala Cengkeh. Pantai Air Salobar yang sering dipakai berenang itu terletak di depan Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Maluku.

Sebagai sebuah kota, Ambon yang kenyang dengan julukan Manise, Negeri Pala Cengkeh, negeri Minyak Kayu Putih, negeri Bahari, negeri rempah-rempah, dan negeri seribu pulau, yang dibangun sekitar akhir abad ke-16 memiliki eksotisme di setiap sudutnya.

Perkampungan warga asli Ambon di tepian laut Air Salobar, Pelabuhan Speed boat, dan objek wisata Batu Capeo adalah beberapa contoh bagian kota yang menjadi landmark, bangunan penanda ciri khas di sekitar lokasi rekreasi Air Salobar ini. Bagi pendatang atau pelancong dari luar Ambon, tempat-tempat itu berpotensi menjadi tujuan wisata kota yang cukup menarik.

Sayangnya, selama ini tempat-tempat itu tidak dikelola dalam satu paket wisata kota yang dikemas secara menarik. Maka, ketika konflik melanda Maluku Januari 1999 potensi wisatapun terpuruk seiring kehancuran Kota Ambon empat tahun silam. Pemerintah kota (pemkot) beberapa waktu lalu segera menggenjot gagasan untuk menciptakan kawasan wisata laut berupa hutan bakau di desa Passo, namun objek rekreasi baru seperti pantai Air Salobar yang mampu merangkum sebagian besar keindahan Kota Ambon justru dikemas sendiri oleh masyarakat secara alamiah.

Secara alami pula warga sekitar khususnya ibu-ibu rumah tangga berinisiatif untuk berjualan di sepanjang Jalan Dr.Malaihollo itu untuk menjamu masyarakat yang berkunjung sekaligus berekreasi dan berenang di pantai Air Salobar. Ny.Henny Pieterz (55) salah seorang ibu penjual rujak mengaku sudah tiga tahun berjualan di Jalan Dr.Malaihollo, padahal sebelumnya dirinya hanya menjadi ibu rumah tangga biasa, namun sejak konflik kemanusiaan lalu dirinya disibukkan setiap hari dengan jualan rujak dan bakso, apalagi akhir pekan dan hari Minggu. “Semua yang berjualan di sini adalah warga Air Salobar namun ada beberapa yang dari Kudamati,” kata Pieterz.

Dipastikan sepanjang jalan Dr Malaihollo setiap harinya ramai dilewati kendaraan khususnya pada akhir pekan dan Minggu lumayan ramai. Rujak, es buah dan bakso-pun terjangkau pengunjung berkisar Rp 3.500 – Rp 4.000. Ny Henny Pieterz dan ibu-ibu penjual lain umumnya berjualan mulai jam 11.00 hingga 18.30 .

Berbentuk Huruf H

Kota Ambon yang meliputi wilayah sepanjang kedua teluk, yaitu Teluk Ambon (Teluk Luar dan Teluk Dalam) serta Teluk Baguala seluas 377 km persegi. Pulau Ambon terletak di selatan Pulau Seram dengan luas 945 Km persegi, begitu kecilnya pulau ini sehingga nampak bagaikan titik yang paling kecil di peta dunia. Pulau Ambon berbentuk huruf “H” besar yang miring, seakan-akan membentuk dua pulau yang dihubungkan dengan daratan selebar kurang dari satu mil antara Teluk Dalam dan Teluk Baguala.

Bagian pulau sebelah utara yang lebih besar adalah Jazirah Leihitu dan sebelah selatan adalah Jazirah Leitimor. Sepanjang jalan dari daerah Tapal Kuda hingga ke desa paling ujung Kecamatan Nusaniwe terdapat sejumlah objek wisata yang sangat menjanjikan bagi pemasukan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari sektor pariwisata bagi Kota Ambon.

Kota Ambon masih dikelilingi oleh objek wisata pantai seperti pantai Felawatu, Santai Beach, pantai Namalatu, Tanjung, pantai Leilisa, Batu Konde, Pintu Kota, Batu Palungku, pantai Natsepa, Pantai Honimua, pantai Batu Kuda, pantai Manuala, Batu Capeo, pantai Amahusu, pantai Leihari, pantai Toisapu, dan pantai Hukurila. Di sekitar pulau Ambon terdapat 33 lokasi selam.

Selain wisata pantai, kawasan-kawasan pegunungan juga mewarnai indahnya Kota Ambon. Pegunungan di bagian tengah pulau Ambon, menjadikan pulau ini memiliki keindahan alam tersendiri, di sini dapat ditemui berbagai atraksi wisata alam maupun sejarah-budaya seperti taman laut, tanaman pala, cengkeh, benteng-benteng, gereja-gereja tua, masjid tua, museum dan lainnya.

Pemilihan area di Air Salobar yang saat ini berada di sekitar Asrama Komando Distrik Militer 1504 dan Komando Rayon Militer 1504-6 Pattimura bisa dikatakan sebuah keputusan yang sangat pas. Awalnya, kawasan yang diapit oleh objek wisata Batu Capeo dan dermaga speed boat maupun Pelabuhan Benteng itu sepi. Namun sejak pecah konflik wilayah Air Salobar dan Tapal Kuda Benteng menjadi tempat yang ramai dengan munculnya dermaga speed boat baru, hadirnya pasar kaget tradisional yang melayani pemasok ikan dan sayuran dari desa Hatu, Laha, Tawiri, Hative Besar dan Wayame maupun desa Latuhalat serta objek wisata baru Pantai Air Salobar sejak akhir tahun 2001.

Penataan Tapal Kuda

Pembangunan dan penataan kawasan di sekitar Tapal Kuda diproyeksikan akan menjadi tempat hiburan terbuka yang menjual pesona Pantai Air Salobar. Secara teknis, Pantai Air Salobar akan dibentuk menjadi daerah yang letaknya agak menjorok karena dipenuhi batu karang.

Meskipun setiap hari dipenuhi oleh penduduk setempat maupun warga yang datang dari Kecamatan Sirimau, daerah ini tidak dilirik sedikit pun oleh Dinas Pariwisata Kota Ambon.

Untuk melengkapi kawasan tersebut warga masyarakat berinisiatif sendiri untuk berjualan makanan ringan maupun makanan khas, Rujak Air Salobar. Walau demikian Pemkot Ambon tetap tidak berniat membenahi ruas jalan maupun lokasi Tapal Kuda tersebut. Sempitnya area wisata baru ini cukup menyulitkan masyarakat yang bertandang ke Air Salobar untuk memarkirkan kendaraan. Jika dilihat dari desa Hative Besar Kecamatan Teluk Ambon-Baguala Tapal Kuda dan Pantai Air Salobar pemandangan yang tampak adalah sejumlah speed boat dan tenda-tenda dengan latar belakang deretan pohon akasia.

Di malam hari, suasana akan terasa lebih dramatis walaupun daerah ini jelang sore sepi pengunjung. Tidak ada cahaya dan deretan lampu-lampu taman yang menciptakan refleksi warna kuning pada permukaan laut, yang ada kegelapan malam. Pada malam hari yang ditemui hanya orang yang memancing atau pasangan muda-mudi yang asyik memadu kasih di bawah pohon akasia.

Warga Ambon memang kekurangan ruang publik sebagai tempat rekreasi terbuka. Keberadaan tempat terbuka, seperti taman tidak ada sama sekali, derap pembangunan kota, menyisihkan sejumlah taman seperti Taman Belakang Kota dan Pantai Losari sepanjang Pantai Mardika. Taman rekreasi belakang kota misalnya adalah sebuah contoh tempat rekreasi murah meriah bagi masyarakat yang tergusur akibat konflik.

Dari sektor pariwisata, Pemkot Ambon tidak memiliki rencana apa pun untuk pengembangan sektor ini ke depan. Pemkot Ambon tidak juga memiliki usaha apapun untuk menghidupkan kembali kembali sejumlah wisata pantai di Kecamatan Nusaniwe.

Suasana Damai

Beberapa bulan terakhir ini, pascakonflik 25 April lalu suasana keramaian pada objek wisata pantai di Kota Ambon masih ramai, walau beberapa waktu lalu jalan yang menghubungkan pusat kota dengan beberapa objek wisata tersebut ditutup karena dinilai rawan.

Setelah situasi semakin baik, beberapa objek wisata pantai kembali ramai dikunjungi masyarakat lokal. Pantai Namalatu, Felawatu, Santai, Natsepa dan Liang merupakan objek-objek yang menjanjikan bagi masa depan pariwisata di Kota Ambon khususnya.

Ambon adalah kota yang dikelilingi pantai, tidak heran jika pantai merupakan tempat wisata utama masyarakat. Pada hari Minggu, hampir bisa dipastikan tempat-tempat itu selalu dipadati pengunjung, terutama sejak menjelang siang hingga sore, saat warga-warga yang beragama Kristen membanjiri pantai, setelah beribadah di gereja pagi harinya. Keramaian ini sempat lenyap, saat Ambon dilanda konflik beberapa waktu lalu. Namun sejak situasi makin damai, orang-orang mulai kembali ke pantai. Kedua komunitas membaur tanpa rasa curiga dan takut.

Misalnya pantai Hunimua, di Desa Liang, Kecamatan Salahutu. Pantai ini yang berjarak 34 kilometer dari Kota Ambon ini, objek wisata ini terletak di daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun kini baik warga Islam maupun Kristen menikmati keindahan objek wisata ini sambil melepas keletihan. Elia Lazarus (60) seorang bapak tua, dengan santainya mengaku sangat gembira bisa berekreasi di pantai Liang setelah hampir lima tahun dirinya tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di pantai ini.

“Sebelum konflik, saya dan keluarga memang sering ke sini kalau liburan, senang sekarang bisa kembali ke sini,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Johny Parera (32), seorang warga Kristen penggemar olahraga pancing, yang datang bersama rekan-rekannya. Ia ke sini bukan hanya untuk menyalurkan kembali hobi memancingnya tapi menumpahkan rindu bertemu kembali teman-teman lamanya yang Muslim. Meski tanpa membuat janji, ia yakin bila ke Hunimua, pastilah bertemu dengan satu-dua kawan lamanya dari komunitas Muslim.

Damainya kegembiraan di Hunimua ini tampak juga dari interaksi antara pengunjung Kristen dengan pedagang tradisional lokal yang beragama Islam. Hampir di setiap tenda-tenda kecil tempat para pedagang menjajakan rokok, rujak, minuman ringan, rebusan jagung dan penganan kecil lainnya, pengunjung Kristen tampak berbelanja dengan tenang.

Suasana pembauran seperti di Pantai Hunimua, tampak pula di Santai Beach di desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon. Meski pun Santai Beach terletak di kawasan komunitas Kristen, banyak warga Muslim datang ke sini tanpa ragu.

Santai Beach yang luasnya sekitar satu hektare, terkesan lebih eksklusif. Pantai yang dikelola Akai, pengusaha lokal, ini dilengkapi dengan beberapa bangunan dan instalasi pendukung lainnya. Petugas di loket karcis menjelaskan, para pengunjung yang datang setiap hari libur bisa mencapai 1.000-an orang. Mereka terdiri dari dua komunitas. Terlihat, beberapa perempuan berjilbab, tanpa kikuk berjalan dengan anak-anak.

Salah satu pengunjung Muslim, Yuli Suhairman (50), mengaku senang pada situasi Ambon sekarang. “Selama ini katong rindu kumpul bersama, tapi konflik bikin katong tapisah. Situasi su baik kembali, katong ingin hidup berdampingan dengan basudara Kristen seperti dulu,” katanya dengan dialeg kenatl Batu Merah.

LOKASI REKREASI – Pantai Air Salobar yang terletak di tepi jalan Dr Malaihollo, Kota Ambon, kini menjadi lokasi rekreasi warga yang setiap sore hari berenang di pantai tersebut.

Imigrasi

Status Tertib Sipil di Maluku saat ini sebenarnya cukup membantu pemulihan pariwisata di Maluku. Warga asing yang hendak ke Maluku khususnya ke Ambon tidak perlu lagi memakai Surat Izin Khusus (SIK) dan itu telah dikeluarkan sejak September 2003 lalu.

Mantan Kepala Kantor Imigrasi Maluku Wiryono mengatakan kepada Pembaruan pekan lalu dalam acara serah terima dirinya, setelah status darurat sipil dicabut, SIK memang tidak diperlukan lagi. Namun kelengkapan surat-surat seperti visa dan paspor tetap diwajibkan.

Wiryono menjelaskan, karena di Maluku belum ada penerbangan internasional yang langsung masuk, pemeriksaan bagi warga asing sudah tidak terlalu ketat lagi. Ditambahkan, bagi pihaknya semua urusan tentang surat-surat mereka dianggap sudah clear, karena pemeriksaan surat-surat sudah dilakukan di Jakarta atau Bali. Jadi Imigrasi Ambon hanya sebatas monitoring.

“Imigrasi hanya memeriksa berapa lama masa berlaku visa. Monitoring itu perlu, sebab tidak semua warga asing yang berkunjung ke Maluku dapat memperpanjang masa berlaku visanya,” kata Wiryono. Ada standar khusus katanya, yang perlu diperhatikan sebelum memperpanjang masa berlaku visa mereka.

Lebih jauh diungkapkan, warga asing yang dapat memperpanjang visanya adalah mereka yang terlibat urusan bisnis atau urusan pekerjaan dan lainnya. Namun sebelum diperpanjang, warga asing harus bisa membuktikan kalau maksud kunjungannya adalah dalam rangka pekerjaan ataupun bisnis.

Ketika Maluku masih dalam status darurat sipil saja Wiryono mengatakan, cukup banyak warga asing berkunjung ke Maluku, dan semuanya memiliki SIK. Peningkatan jumlah kunjungan orang asing ke Maluku terjadi tahun 2003.

Kondisi Maluku kian membaik maka angka kunjungan mengalami peningkatan. Dibanding tahun 2001-2002, angka kunjungannya tidak sebanyak tahun 2003 lalu.

Pada tahun 2003, jumlah kunjungan warga asing ke Maluku setiap bulan adalah, Januari 75 orang, Februari 43 orang, Maret 57 orang, April 52 orang, Mei 56 orang, Juni 80 orang, Juli 170 orang dan Agustus sebanyak 66 orang.

Pengunjung yang datang kebanyakan berasal dari Eropa dan Amerika. Selain itu, menurut dia, ada juga beberapa warga negara Cina, Jepang dan lainnya, dan kebanyakan dari pengunjung ini berbisnis, dan juga ada yang melakukan kerja dengan Pemerintah Daerah.

Jumlah pegawai kantor Imigrasi semenjak kerusuhan, banyak yang eksodus ke luar daerah, kini sudah mulai kembali dan melakukan tugas-tugasnya. “Dalam pelaksananaan tugas di kantor ini telah terjadi pembauran sehingga kami sudah tidak bekerja secara terpisah-pisah lagi, “jelas Wiryono.

Warga Asing

Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Ir Piet Mustamu baru-baru ini mengungkapkan, keamanan memang masih jadi masalah utama di Maluku, tapi selain itu secara global memang terjadi penurunan dunia pariwisata karena terjadinya tragedi WTC, kasus bom Bali dan ancaman SARS.

Para turis tambahnya, datang dengan menggunakan kapal pesiar, yang langsung mengunjungi titik singgah. Misalnya, sebelum tragedi ledakan World Trade Centre (WTC), ada kapal pesiar dari luar negeri dengan membawa 140 turis datang ke Maluku termasuk Banda.

Lebih lanjut Mustamu membeberkan, sebelum kerusuhan melanda Maluku, jumlah turis asing ke Maluku cukup signifikan. Tahun 1998, turis asing ke Maluku sebanyak 14.258 orang. Jumlah ini nyaris sama banyak dengan turis domestik yakni 14.560 orang. Namun ketika Maluku dilanda konflik, jumlah turis asing turun menjadi 650 orang. Jumlah kunjungan terendah terjadi tahun 2000 ketika hanya 203 orang asing berkunjung ke Maluku.

Mustamu mengatakan, tahun 2001 hingga 2003, jumlah turis asing cenderung meningkat setelah konflik makin menurun. Dikatakan, jumlah kunjungan orang asing tahun meningkat menjadi 510 tahun 2001 dan naik lagi menjadi 628 tahun 2002. Kini, di paro pertama 2003 saja, jumlah turis asing ke Maluku sudah 515 orang.

SUARA PEMBARUAN/ VONNY LITAMAHUPUTTY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.