<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Potlot Adventure &#187; EnJ</title>
	<atom:link href="http://www.potlot-adventure.com/author/EnJ/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.potlot-adventure.com</link>
	<description>Indonesia Traveling and Adventure Guide</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 01:27:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Curug Cipendok dan Telaga Pucung yang Sensasional</title>
		<link>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/29/curug-cipendok-dan-telaga-pucung-yang-sensasional/</link>
		<comments>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/29/curug-cipendok-dan-telaga-pucung-yang-sensasional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 01:27:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EnJ</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[curug]]></category>
		<category><![CDATA[telaga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.potlot-adventure.com/?p=2666</guid>
		<description><![CDATA[BANYUMAS – Tentu sudah tidak asing lagi, kalau Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) memiliki satu objek wisata Baturaden. Kekhasan alam sangat terasa mulai dari hutan, air sungai yang jernih, sampai asrinya lokasi perkemahan (camping ground). Namun, ternyata Banyumas tidak hanya memiliki Baturaden. Di Kecamatan Cilongok atau sekitar 15 km arah barat Kota Purwokerto, juga mempunyai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-2667" title="curug cipendok" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/curug-cipendok.jpg" alt="" width="281" height="300" />BANYUMAS</strong> – Tentu sudah tidak asing lagi, kalau Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) memiliki satu objek wisata Baturaden. Kekhasan alam sangat terasa mulai dari hutan, air sungai yang jernih, sampai asrinya lokasi perkemahan (<em>camping ground</em>). Namun, ternyata Banyumas tidak hanya memiliki Baturaden.<br />
Di Kecamatan Cilongok atau sekitar 15 km arah barat Kota Purwokerto, juga mempunyai objek wisata yang hampir sama dengan Baturaden. Pesonanya sensasional, karena alam khas pegunungan benar-benar dapat dinikmati pengunjung. Itulah Curug Cipendok dan Telaga Pucung.<br />
Jika Anda ingin mengunjungi Curug Cipendok, siap-siaplah membawa payung atau jas hujan, minimal pakaian ganti. Sebab kalau memasuki kawasan Curug Cipendok, Anda pasti ”kehujanan”. Ini dikarenakan Curug Cipendok adalah air terjun yang memiliki ketinggian hampir 100 meter sehingga titik-titik air membasahi daerah sekitarnya, meski tidak turun hujan.<br />
Curug Cipendok menjadi daya tarik tersendiri, karena lingkungan alamnya masih betul-betul alami. Kesunyian juga masih sangat terasa, sebab belum banyak pelancong yang datang menikmati keindahan alam di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok tersebut.<br />
Antara Curug Cipendok dengan tempat parkir mobil masih tersisa sekitar 500 meter. Namun jangan khawatir, perjalanan 500 meter jalan dari pintu masuk menuju curug tidak bakal membuat bosan. Justru sebaliknya, perjalanan tersebut membuat pengunjung dibawa memasuki alam yang masih asri. Dengan jalan yang naik turun, wisatawan yang datang akan disambut dengan suara-suara serangga khas hutan tropis.<br />
Setelah berjalan sekitar 15-20 menit, sebelum sampai Curug Cipendok akan terdengar suara gemuruh seperti hujan lebat. Itulah suara air terjun yang turun dari ketinggian hampir 100 meter tersebut. Udara dingin ditambah dengan titik-titik air membuat suasana damai dan fresh. Jika sudah agak siang, sinar matahari yang bersinar membuat pelangi tipis hasil pantulan titik-titik air yang turun.<br />
Menuju Curug Cipendok tidaklah terlalu susah. Hanya saja, belum ada angkutan umum resmi yang sampai ke sana, sehingga kalau wisatawan mengunjungi tempat itu harus dengan kendaraan pribadi atau sewaan. Tempat wisata alam itu, berada sekitar 10 km arah barat Kota Purwokerto atau sekitar 5 km dari Ajibarang, Banyumas.</p>
<p><strong>Elang dan Monyet</strong><br />
<a href="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/telaga-pucung.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-2668" title="telaga pucung" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/telaga-pucung-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Dari jalan raya Cilongok menuju lokasi berjarak 8 km dengan kondisi jalan naik dan berkelok, tapi aspalnya sudah halus. Di sekitar lokasi Curug Cipendok, ada juga wisata telaga yang sungguh menakjubkan yakni Telaga Pucung. Telaga setempat dikelilingi oleh hutan pinus dan damar, sehingga sangat cocok untuk camping ground.<br />
Telaga ini akan menjadi salah satu andalan Kabupaten Banyumas untuk menyedot wisatawan. Kompleks Telaga Pucung menempati areal seluas tiga hektare (ha), dengan luas telaga sekitar satu ha. Objek wisata di Banyumas mungkin belum banyak yang kenal, sebab baru akan dibuka secara resmi menjadi tujuan wisata pada 8 Agustus 2005.<br />
Daya tarik objek wisata ini adalah telaga dengan air yang cukup jernih dan di sekitarnya dikelilingi hutan yang masih alami. Selain itu, wisatawan juga dapat mendengar suara-suara burung langka seperti elang Jawa yang terbang berputar-putar di atas telaga. Apalagi, bagi pengunjung yang beruntung dapat melihat spesies endemik sejenis monyet berwarna abu-abu yakni rek-rek.<br />
Tempat wisata yang masuk dalam wilayah Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuma Timur tersebut mulai dibenahi dengan berbagai fasilitas, karena dijadikan tujuan wisata secara resmi.<br />
KPH Banyumas Timur telah melengkapi dengan tempat parkir, tempat istirahat, dan kamar mandi. Bahkan, Perhutani telah memberi nama-nama pohon langka yang hidup di situ. Tujuannya tidak lain diperuntukkan bagi para pelajar, di samping menikmati alam, mereka juga dapat mengenal tumbuh-tumbuhan langka yang hidup di tempat itu.<br />
Di sekitar Telaga Pucung juga terdapat tempat lapang yang dapat digunakan untuk camping ground. Tempat tersebut sengaja dibuat, dikhususkan bagi anak-anak muda yang suka berpetualang dengan di alam bebas. Telaga Pucung ini semakin memantapkan wisata khas Banyumas yakni alam pegunungan. Dengan bertambahnya objek wisata tersebut, wisatawan yang datang ke Banyumas semakin mendambah daftar alternatif tujuan wisata. Jadi, kalau selama ini Anda ke Banyumas hanya pergi ke Baturaden, akan rugi. Pasalnya, masih ada tempat alternatif lainnya yang tidak kalah asrinya. Yang pasti, wisatawan yang datang ke tempat ini akan merasa damai, karena jauh dari hiruk pikuk perkotaan. (*)</p>
<p>Oleh Lilik Darmawan &#8211; Sinar Harapan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/29/curug-cipendok-dan-telaga-pucung-yang-sensasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wisata Sembari “Ngalap” Berkah</title>
		<link>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/27/wisata-sembari-%e2%80%9cngalap%e2%80%9d-berkah/</link>
		<comments>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/27/wisata-sembari-%e2%80%9cngalap%e2%80%9d-berkah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 12:06:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EnJ</dc:creator>
				<category><![CDATA[DI Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[alun-alun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.potlot-adventure.com/?p=2663</guid>
		<description><![CDATA[YOGYAKARTA – Alkid. Demikian anak-anak muda di Kota Yogyakarta menyebut nama alun-alun kidul (alun-alun yang terletak di sebelah selatan). Alkid terletak di kompleks Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Kawasan yang terletak di sebelah barat Tamansari ini setiap malam selalu ramai dikunjungi orang. Apalagi jika malam Minggu tiba, sejak pukul 19.00, alun-alun kidul ini sudah dipenuhi oleh anak-anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/alkid-yogya.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2664" title="alkid yogya" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/alkid-yogya-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>YOGYAKARTA</strong> – <strong>Alkid</strong>. Demikian anak-anak muda di Kota Yogyakarta menyebut nama alun-alun kidul (alun-alun yang terletak di sebelah selatan). Alkid terletak di kompleks Keraton Yogyakarta Hadiningrat.</p>
<p>Kawasan yang terletak di sebelah barat Tamansari ini setiap malam selalu ramai dikunjungi orang. Apalagi jika malam Minggu tiba, sejak pukul 19.00, alun-alun kidul ini sudah dipenuhi oleh anak-anak muda untuk ngeceng atau malah berasyik masyuk dengan sang pacar sembari lesehan dan menikmati hangatnya wedang ronde, roti, jagung bakar, dan pisang bakar.<br />
<strong>Alkid</strong> memang punya daya tarik tersendiri. Di kawasan ini terdapat dua pohon beringin yang jarak antara satu beringin dengan lainnya sekitar 7 meter. Dua pohon beringin terletak berada di tengah persis. Karena pohon ringin dipagari, kemudian disebut sebagai ringin kurung. Ringin kurung adalah satu tanda kultural yang dikenal oleh publik.<br />
<strong>Alkid </strong>dulunya sebagai tempat latihan baris berbaris bagi prajurit keraton, sehari sebelum upacara grebeg. Tempat itu juga sebagai ajang sowan abdi dalem wedana prajurit berserta anak buahnya, di malam bulan Puasa tanggal 23, 25, 27 dan 29. Namun sejak Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VIII bertahta, pisowanan ini dihentikan.<br />
Tak hanya itu, di zaman Sri Sultan HB VII, tiap Senin dan Kamis digelar lomba panahan dari jam 10.00-13.00. Target bidik berada di utara ringin kurung. Pernah pula Alkid juga dipakai untuk adu harimau lawan kerbau.<br />
Seiring dengan perkembangan zaman, dan entah kapan mulainya, muncul sebuah kepercayaan, barang siapa bisa berjalan dengan mata tertutup dan berhasil melewati jalan di tengah di antara dua ringin kurung itu, akan mendapat berkah. Prosesi ini dinamai Masangin, yang berarti masuk antara pohon beringin.<br />
Meski jalannya sangat lebar, namun hanya segelintir orang yang berhasil melewati lorong selebar tujuh meter itu dengan mata ditutup. Selebihnya, nyasar tak karu-karuan. Leo Kristi, penyanyi asal Surabaya yang sering membawakan lagu-lagu Balada, juga pernah mencoba. Dia gagal, meski dilakukan di siang hari.<br />
Bagi yang tak ingin berjalan cukup jauh, juga bisa melakukan Masangin dengan cara berjalan dari ringin kurung yang satu ke ringin kurung yang satunya lagi. Tentu dengan mata tertutup pula. Dalam prosesi yang satu ini, kedua tangan yang menjulur ke muka harus bisa masuk dalam lubang tembok yang menjadi pagar pohon beringin ini. Namun tak jarang pula orang yang melakukan prosesi ini tak hanya memasukkan tangannya, tapi juga kepalanya.<br />
Konon, menurut yang percaya, hanya pengunjung yang berhati bersih yang bisa menembusnya. Untuk melakukan prosesi Masangin ini, para pengunjung bisa menyewa sebuah tutup mata seharga Rp 2.000. “Jika berhasil, maka orang itu akan tercapai apa yang diminta,” ujar Andri, salah satu guide yang nongkrong di Alkid.<br />
Andri juga mengingatkan, dalam melakukan itu tidak boleh dibimbing oleh siapapun. Artinya, setelah orang itu ditutup matanya dengan seikat kain, maka orang itu harus dibiarkan berjalan sendiri. “Ya kalau didampingi dan pendampingnya memberikan petunjuk, ya sama saja bohong,” tuturnya.</p>
<p><strong>Tempat Nongkrong</strong><br />
Banyak orang yang mencoba melakukan Masangin ini. Tak kurang dari 50 orang setiap malamnya mencoba ber-Masangin. Tak hanya sebatas warga Yogya, tapi juga wisatawan domestik yang kebetulan datang ke Yogyakarta. Sujono, warga Lampung, misalnya. Ayah dari tiga anak ini tengah mengunjungi anaknya yang kuliah di Yogyakarta, dan merasa penasaran untuk mencoba ber-Masangin. “Saya memang nggak percaya tentang tahayul itu. Tapi saya ingin mencoba, masak jalan selebar itu orang tak bisa melewatinya,” ungkap Sujono.<br />
Pada Kamis (4/8) malam lalu, Sujono mencoba Masangin. Ia mencoba dua kali. Yang pertama, ia hanya sampai di pertengahan. Yang kedua, dia berhasil melewati dua buah ringin kurung itu, meski dibimbing pendamping. “Saya berhasil. Saya melakukan ini lebih karena untuk refreshing bersama keluarga saja,” tuturnya sembari tertawa.<br />
Rekreasi, refresing. Itulah alasan yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang melakukan Masangin. Sebagaimana yang dilakukan Sujono, hal ini juga dilakukan oleh keluarga Sonia. “Hitung-htung refreshing setelah penat bekerja. Ya syukur-syukur bisa ngalap berkah, apalagi ini malam Jumat,” tutur Ibu Sonia yang didampingi oleh suami serta kedua anaknya itu.<br />
Alkid memang menjadi fenomena tersendiri di pusat Kota Yogyakarta. Setiap malam, kawasan ini sangat ramai dikunjungi orang. Karenanya, jika Anda datang ke Yogyakarta dan kebetulan tertarik untuk mencoba Masangin tak ada salahnya berkunjung ke Alkid. Siapa tahu Anda bisa ngalap berkah atau hanya sekadar nongkrong, nyari pacar sembari menikmati makanan dan minuman yang dijual di sekeliling Alkid.<br />
Hanya saja, siapkan banyak uang receh, mengingat banyaknya pengamen yang datang-pergi. “Saya sampai kasihan pada pengunjung, karena selalu merogoh kantong untuk memberi pengamen,” ungkap ibu penjual minuman ronde dan pisang bakar. (*)</p>
<p>Sumber: <strong>Sinar Harapan</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/27/wisata-sembari-%e2%80%9cngalap%e2%80%9d-berkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menelusuri Benteng Keraton Buton</title>
		<link>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/25/menelusuri-benteng-keraton-buton/</link>
		<comments>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/25/menelusuri-benteng-keraton-buton/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 00:31:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EnJ</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sulawesi Tenggara]]></category>
		<category><![CDATA[makam]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.potlot-adventure.com/?p=2659</guid>
		<description><![CDATA[BAU-BAU – Jika masyarakat Jawa Tengah bangga akan Borobudur, sebuah candi peninggalan kerajaan Budha yang tersohor di seluruh penjuru dunia, warga Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengagungkan benteng dan Masjid Agung Keraton yang bernilai religius tinggi. Benteng yang mengelilingi pusat pemerintahan Kesultanan Buton dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton III, La Sangaji (Sultan Kaimuddin). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-2660" title="Benteng Keraton Buton" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Benteng-Keraton-Buton.jpg" alt="" width="275" height="183" />BAU-BAU </strong>– Jika masyarakat Jawa Tengah bangga akan Borobudur, sebuah candi peninggalan kerajaan Budha yang tersohor di seluruh penjuru dunia, warga Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengagungkan benteng dan <strong>Masjid Agung Keraton</strong> yang bernilai religius tinggi. Benteng yang mengelilingi pusat pemerintahan Kesultanan Buton dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton III, La Sangaji (Sultan Kaimuddin).<br />
Banyak cerita yang mengalir seputar keberadaan benteng tersebut. Menurut La Ode Abu Bakar, tokoh adat masyarakat Buton, benteng tersebut awalnya hanyalah tumpukan batu yang mengelilingi pusat kerajaan. Selain berfungsi sebagai pembatas pusat lingkungan keraton, tumpukan batu tersebut berfungsi sebagai perlindungan dari serangan musuh. Pada masa pemerintahan sultan Buton IV, La Elangi (Sultan Dayanu Ikhsanuddin), tumpukan batu tersebut dibangun menjadi sebuah benteng. Cerita unik seputar pendirian benteng yang beredar di tengah masyarakat mirip dengan kisah pendirian Candi Borobudur. Konon, tumpukan batu tersebut direkatkan dengan menggunakan putih telur. “Kalau semata-mata hanya menggunakan putih telur tentu akan menggunakan sekian banyak telur. Secara jujur, tentu itu bukan hanya menggunakan putih telur, tapi juga kapur yang diolah menjadi adonan dengan campuran agar-agar dan putih telur,” kata Abu Bakar ketika ditemui di rumahnya, Kota Bau-Bau.<br />
Menurutnya, benteng tersebut dikerjakan oleh seluruh penduduk kesultanan Buton, laki-laki dan perempuan. Para laki-laki mengumpulkan batu-batuan gunung dan menyusunnya. Sementara pasir dikumpulkan oleh kaum perempuannya.<br />
Benteng yang berukuran keliling 2.740 meter dengan tinggi 2-3 meter dan ketebalan dinding 1,5 meter hingga 2 meter ini memiliki 12 pintu (lawa) dengan tambahan na (nya) yang diberi nama sesuai dengan nama atau gelar pengawas pintu-pintu tersebut, antara lain Lawana Rakia, Lawana Lanto, Lawana Labunta, Lawana Kampebuni, Lawana Wabarobo, Lawana Dete, Lawana Kalau, Lawana Bajo/Bariya, Lawana Burukene/Tanailandu, Lawana Melai/Baau, Lawana Lantongau, dan Lawana Gundu-gundu, yang berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung di sekitarnya.<br />
Pintu-pintu tersebut menurut La Ode Mursali (48), budayawan Buton, diidentikkan dengan jumlah lubang dalam tubuh manusia yang juga terdiri dari 12 lubang. Kedua belas lubang pada tubuh manusia tersebut adalah lubang pori-pori kulit, mulut, dua lubang telinga, dua lubang mata, dua lubang hidung, satu lubang anus, satu lubang saluran kencing, satu lubang saluran sperma, dan satu lubang pusat.<br />
Lubang saluran sperma diidentikkan dengan pintu rahasia benteng yang menjadi jalan keluar bagi petinggi-petinggi Kesultanan atau tempat persembunyian, jika ada serangan musuh yang mengancam dan membahayakan keselamatan keluarga Istana Keraton. Lawana Kampebuni (pintu tersembunyi) itu pula digunakan oleh Aru Palaka ketika hendak bersembunyi di sebuah gua di sekitar benteng dari kejaran raja Gowa.<br />
”Dalam tatanan masyarakat suku bangsa Buton, segala sesuatu yang dibuat atau dibangun, selalu dikaitkan dengan tubuh manusia. Makanya, semua bangunan yang ada di dalam keraton, sarat dengan nuansa Islam. Karena memang, para sultan yang berkuasa menganut paham Islam,” tutur Mursali.<br />
Sebagai sebuah benteng perlindungan, benteng Keraton Buton dilengkapi dengan puluhan meriam yang terdapat pada setiap pintu. “Meriam-meriam yang ada di sisi kiri-kanan pintu masuk itu merupakan bukti kuat bahwa Kesultanan Buton pernah melawan penjajah Belanda,” kata Mursali.<br />
Keterangan serupa juga diungkapkan oleh pemerhati budaya Buton, Lutfi Hasmar. Menurut laki-laki yang bekerja sebagai juru bicara Pemda Kabupaten Buton ini, di wilayah Kesultanan Buton terdapat 72 benteng yang tersebar di sejumlah kadie (wilayah setingkat kecamatan). Di Buton sendiri terdapat tiga buah benteng, yaitu benteng Keraton Buton yang berbentuk huruf dal, benteng Baadia yang berbentuk huruf alif, dan benteng Sorawolio yang menyerupai huruf mim.<br />
“Kombinasi karakter huruf yang membentuk ketiga benteng tersebut diasosiasikan masyarakat Buton dengan nama Nabi Adam, nabi yang mengawali kehidupan di muka bumi ini, tutur Lutfi.</p>
<p><strong>Masjid dan Makam</strong><br />
Jika memasuki lingkungan benteng tersebut, kita seolah berada di masa lampau. Rumah-rumah yang terdapat di dalamnya dipertahankan berbentuk rumah asli Buton, rumah panggung yang sebagian besar bahan bangunannya adalah kayu. Orang-orang yang tinggal di dalamnya pun masih berhubungan dekat dengan para petinggi kesultanan.<br />
Selain benteng itu sendiri, terdapat beberapa bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi, Masjid Agung Keraton dan Makam Murhum.<br />
Masjid Agung Keraton dibangun pada masa pemerintahan Sultan Sakiyuddin Darul Alam (La Ngkariyri, Sultan Buton XIX). Masjid yang berukuran 20,6 x 19,40 m merupakan bangunan pusat kegiatan lembaga kesultanan di bidang keagamaan. Para perangkatnya berstatus sebagai aparat kesultanan.<br />
Menurut Abu Bakar, bahan yang digunakan untuk membangun masjid itu sama dengan bahan untuk benteng keraton. Bangunan yang teridi dari dua lantai ini pun memiliki 12 pintu seperti pada benteng keraton. Sementara itu, kayu yang digunakan untuk membangun masjid tersebut berjumlah 313 potong yang diidentikkan dengan jumlah tulang pada tubuh manusia.<br />
Jumlah anak tangga masuk masjid 17 buah, sama dengan jumlah rakaat salat umat Islam dalam sehari. Bedug masjid yang berukuran panjang 99 cm dianalogikan dengan asmaul husna (99 sifat Allah), dan diameter 50 cm dimaknai sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima Rasulullah. Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan tasbih sebanyak 33 kali.<br />
Di samping masjid, terdapat tiang bendera yang didirikan tidak lama setelah masjid dibangun. Menurut Abu Bakar, kayu yang digunakan untuk tiang bendera tersebut dibawa oleh pedagang beras dari Pattani, Siam (sekarang Thailand).<br />
“Perahu dagang selalu membawa kayu untuk persiapan mengganti bagian perahu yang rusak di perjalanan,” katanya. Setelah dagangan mereka habis dan hendak kembali ke Pattani, sultan meminta agar kayu tersebut ditinggalkan untuk dijadikan tiang bendera. Dahulu, setiap Jumat dipasang bendera kerajaan yang berwarna kuning, merah, putih, dan hitam di tiang tersebut.<br />
Selain masjid, terdapat pula makam raja terakhir sekaligus Sultan I Buton, Murhum yang juga dikenal dengan Sultan Kaimuddin dan Halu Oleo (dalam bahasa Muna berarti delapan hari). Nama Halu Oleo diberikan karena Murhum mampu menyelesaikan perang saudara antara Konawe dengan Mekongga dalam waktu delapan hari.<br />
Murhum adalah raja Buton pertama yang menganut ajaran Islam. Sejak itu pula, sistem pemerintahan berubah menjadi kesultanan yang sarat dengan nilai-nilai Islam. Makam Murhum terletak di belakang Baruga Keraton Buton (balai pertemuan) yang berada di hadapan Masjid Agung Keraton.</p>
<p>Sumber: Sinar Harapan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/25/menelusuri-benteng-keraton-buton/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tamansari Gua Sunyaragi: Melacak Jejak Kejayaan Arsitektur Masa Silam</title>
		<link>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/24/tamansari-gua-sunyaragi-melacak-jejak-kejayaan-arsitektur-masa-silam/</link>
		<comments>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/24/tamansari-gua-sunyaragi-melacak-jejak-kejayaan-arsitektur-masa-silam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 12:12:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EnJ</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[goa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.potlot-adventure.com/?p=2653</guid>
		<description><![CDATA[CIREBON – Tamansari Gua Sunyaragi adalah satu contoh hasil budaya nenek moyang Indonesia. Begitupun, kecanggihan arsitekturnya tak kalah dengan kreasi orang-orang masa kini. Sayang, potret kekaguman itu harus luntur lantaran tak ada perawatan yang serius. Inikah cermin kepribadian bangsa kita? Djulianto Susantio pernah beberapa kali mengingatkan. Lewat tulisan lepasnya di harian ini, anggota Ikatan Ahli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></p>
<div id="attachment_2654" class="wp-caption alignleft" style="width: 380px"><strong><img class="size-full wp-image-2654" title="Gua Sunyaragi" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Gua-Sunyaragi.jpg" alt="" width="370" height="250" /></strong><p class="wp-caption-text">Kantor Administrasi dan Meseum Tamansari Gua Sunyaragi, Cirebon</p></div>
<p>CIREBON</strong> – Tamansari Gua Sunyaragi adalah satu contoh hasil budaya nenek moyang Indonesia. Begitupun, kecanggihan arsitekturnya tak kalah dengan kreasi orang-orang masa kini. Sayang, potret kekaguman itu harus luntur lantaran tak ada perawatan yang serius. Inikah cermin kepribadian bangsa kita?</p>
<p>Djulianto Susantio pernah beberapa kali mengingatkan. Lewat tulisan lepasnya di harian ini, anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia itu mengatakan, wisata budaya atau arkeologi bukanlah angan-angan. Wisata budaya malahan bisa jadi yang terbaik dalam dunia pariwisata kita. Objek budaya mampu menyumbang banyak uang ke pundi-pundi negara dan tak ketinggalan kantung masyarakat.<br />
Namun, kalau mau jadi yang terbaik harus ada beberapa syarat yang dipenuhi. Objek budaya harus dirawat dengan sungguh-sungguh. Sesudah itu, dikemas rapi dengan bungkus paket wisata yang menarik. Biar tambah ciamik ditambahi “bumbu” dan variasi yang beraneka rupa.<br />
Soal dananya? Nah, inilah masalah klasik yang tak pernah mendapat jawaban tuntas. Kekurangan dana selalu menjadi penyebab utama terbengkalainya peninggalan arkeologi di Indonesia. Padahal, sudah dari dulu peninggalan itu membuat wisatawan asing terkagum-kagum.<br />
Yang dalam negeri sebetulnya punya ketertarikan sama. Tapi, mereka lebih terfokus pada peninggalan-peninggalan yang sudah jadi objek wisata massal, seperti Candi Borobudur, Prambanan dan lainnya. Di situ, semuanya sudah “jadi”. Tak salah memang.<br />
Yunani adalah satu contoh negara yang serius betul menangani pariwisata budaya. Hasilnya, dalam setahun Yunani didatangi 12 juta wisatawan mancanegara untuk menyaksikan peninggalan nenek moyang mereka yang terkenal kesohorannya itu. Jumlah ini jauh lebih banyak daripada jumlah penduduk Yunani.<br />
Bukan cuma ketersediaan anggaran yang besar, namun manajemen pariwasata budaya Yunani sudah ditangani secara profesional. Sumber daya manusianya pun benar-benar berkualitas tinggi. “Penanganannya tidak asal jalan, tetapi mempunyai prospek ke depan,” tulis Djulianto, suatu ketika.</p>
<p><strong>Tamansari Gua Sunyaragi</strong><br />
<img class="alignright size-full wp-image-2655" title="Gua Sunyaragi 1" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Gua-Sunyaragi-1.jpg" alt="" width="200" height="132" />Menurut perhitungan Djulianto, terdapat sekitar 3.000 peninggalan arkeologi di Indonesia, berupa bangunan, situs dan permukiman. Peninggalan ini termasuk benda tak bergerak. Dengan jumlah sebanyak itu kebudayaan, Indonesia boleh dibilang sejajar dengan dengan kebudayaan Mesir, Cina dan India.<br />
Peninggalan arkeologi yang terawat dan tergarap sebagai objek wisata budaya dengan baik jumlahnya masih sedikit, selebihnya megap-megap untuk bisa bertahan tak lapuk dimakan waktu. Salah satunya adalah Tamansari Gua Sunyaragi. Objek budaya ini berada di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono, Cirebon.<br />
Konstruksi dan komposisi bangunan situs ini merupakan sebuah taman air. Dari sisa peninggalan yang ada, terlihat kecanggihan dan keunikan hasil budaya manusia pada zamannya. Dan seharusnya, itu masih bisa terlihat sampai sekarang bila tak ada gangguan dan perawatan secara berkala.<br />
Beberapa waktu lalu, SH sempat mengunjungi Tamansari Gua Sunyaragi. Situs yang luasnya sekitar 1,5 hektare begitu memiriskan dada. Saat ini, objek wisata budaya ini tak lagi bergigi. Berantakan dan rasanya tak pantas untuk ditawarkan kepada wisatawan. Malah di beberapa bagian, terdapat bangunan yang harus disangga supaya tak runtuh.<br />
Bontot (46) – pemandu lokal – yang menemani kami berkeliling mengakui hal itu. Bukan cuma situsnya yang terbengkalai, tapi para pengelola –termasuk pemandu– tak mendapat perhatian sepadan. “Dulu, saya sering iri dengan orang, waktu Lebaran begini mereka dapat thr (tunjangan hari raya), tapi kami tidak. Paling-paling berupa uang kadeudeuh (hadiah-red),” ucapnya serius. Tunjangan impian itu baru ia nikmati sekitar delapan tahun ke belakang, sebelumnya ia harus tambal sana-sini untuk menghidupi keluarga.<br />
Taman Sunyaragi berasal dari kata ”sunya” yang berarti sepi dan ”ragi” yang berarti raga atau jasad. Taman ini berada di dalam kekuasaan Keraton Kasepuhan. Walaupun berubah -ubah fungsinya menurut kehendak penguasa pada zamannya, secara garis besar Taman Sunyaragi adalah taman tempat para pembesar keraton dan prajurit keraton bertapa untuk meningkatkan ilmu kanuragan.<br />
Taman Sunyaragi terdiri dari 12 bagian:<br />
(1)bangsal jinem, tempat sultan memberi wejangan sekaligus melihat prajurit berlatih;<br />
(2) goa pengawal, tempat berkumpul para pengawal sultan;<br />
(3) kompleks Mande Kemasan (sebagain hancur);<br />
(4) gua Pandekemasang, tempat membuat senjata tajam;<br />
(5) gua Simanyang, tempat pos penjagaan;<br />
(6) gua Langse, tempat bersantai;<br />
(7) gua peteng, tempat nyepi untuk kekebalan tubuh;<br />
(8) gua Arga Jumud, tempat orang penting keraton;<br />
(9) gua Padang Ati, tempat bersemedi;<br />
(10) gua Kelanggengan, tempat bersemedi agar langgeng jabatan;<br />
(11)gua Lawa, tempat khusus kelelawar;<br />
(12) gua pawon, dapur penyimpanan makanan.</p>
<p>Mengamati Sunyaragi kita bisa melihat rangkaian sejarah sesuai dengan masanya. Dari data penelitian, konstruksinya menunjukkan keunikan, setiap kurun waktu selalu ada perubahan bentuk menurut selera serta kebutuhan sultan yang memerintah. Ini juga menyangkut dengan fungsi dari tempat ini. Lama-kelamaan, Tamansari Gua Sunyaragi berfungsi ganda. Bukan hanya digunakan sebagai pesangrahan saja, tapi juga untuk kegiatan politik perlawanan.<br />
Simbol perlawanan itu dapat terlihat pada masa pemerintahan Sultan Matangaji Tajul Arifin, tempat ini dijadikan sebagai tempat pembuatan senjata dan pusat latihan olah keprajuritan kerajaan. Itu sebabnya, pada masa pemerintahan Sultan Adiwijaya pada tahun 1852, Tamansari Gua Sunyaragi mengalami renovasi, setelah sebelumnya dihancurkan oleh Belanda.<br />
Untuk perbaikan itu, Sultan menugaskan arsitek Cina. Konon, arsitek itu disekap dan dibunuh agar rahasia Gua Sunyaragi tak bocor ke tangan Belanda. Chay Khong dan Sam Pho Tia Jin juga sering dihubung-hubungkan dengan legenda Sunyaragi. Apalagi, kompleks ini juga menyimpan bukti ada situs yang diberi patok “Kuburan Cina”. Di dekatnya terdapat pohon beringin yang umurnya sudah ratusan tahun. Saking tuanya, beberapa batangnya perlu disangga dengan tiang beton dan besi.</p>
<p><strong>Upaya Pemugaran</strong><br />
<img class="alignleft size-full wp-image-2656" title="Gua Sunyaragi 2" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Gua-Sunyaragi-2.jpg" alt="" width="139" height="200" />Pemugaran Tamansari Gua Sunyaragi pernah dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1937-1938. Pelaksanaannya diserahkan kepada seorang petugas Dinas Kebudayaan Semarang. Namanya, Krisjman. Ia hanya memperkuat konstruksi aslinya dengan menambah tiang-tiang atau pilar bata penguat, terutama pada bagian atap lengkung. Namun terkadang ia juga menghilangkan bentuk aslinya, apabila dianggap membahayakan bangunan keseluruhan. Seperti terlihat di Gua Pengawal dan sayap kanan-kiri antara gedung Jinem dan Mande Beling.<br />
Pemugaran terakhir dilakukan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala, Direktorat Jenderal Kebudayaan, yang memugar Tamansari secara keseluruhan dari tahun 1976 hingga 1984. Sejak itu tak ada lagi aktivitas pemeliharan yang serius pada kompleks ini.<br />
Bila ditilik, kompleks taman air dilahirkan lewat proses yang teramat panjang. Tempat ini beberapa kali mengalami perombakan dan perbaikan. Menurut buku Purwaka Carabuna Nagari karya Pangeran Arya Carbon, Tamansari Gua Sunyaragi dibangun pada tahun 1703 M oleh Pangeran Kararangen. Pangeran Kararangen adalah nama lain dari Pangeran Arya Carbon.<br />
Namun menurut Caruban Kandha dan beberapa catatan dari Keraton Kasepuhan, Tamansari dibangun karena Pesanggrahan ”Giri Nur Sapta Rengga” berubah fungsi menjadi tempat pemakaman raja-raja Cirebon, yang sekarang dikenal sebagai Astana Gunung Jati. Terutama dihubungkan dengan perluasan Keraton Pakungwati (Cirebon) yang terjadi pada tahun 1529 M, dengan pembangunan tembok keliling keraton, Siti Inggil dan lain-lain. Sebagai data perbandingan, Siti Inggil dibangun dengan ditandai candra sengkala ”Benteng Tinataan Bata” yang menunjuk angka tahun 1529 M.<br />
Di Tamansari Gua Sunyaragi ada sebuah taman Candrasengkala yang disebut ”Taman Bujengin Obahing Bumi” yang menunjuk angka tahun 1529. Di kedua tempat itu juga terdapat persamaan, yakni terdapat gapura ”Candi Bentar” yang sama besar bentuk dan penggarapannya.<br />
Dijelaskan, Pangeran Kararangen hanya membangun kompleks Gua Arga Jumut dan Mande Kemasan saja. (bay / <strong>Sinar Harapan</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/24/tamansari-gua-sunyaragi-melacak-jejak-kejayaan-arsitektur-masa-silam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pergilah ke Gemeh Sebelum Didahului Turis Asing</title>
		<link>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/24/pergilah-ke-gemeh-sebelum-didahului-turis-asing/</link>
		<comments>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/24/pergilah-ke-gemeh-sebelum-didahului-turis-asing/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 00:47:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EnJ</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sulawesi Utara]]></category>
		<category><![CDATA[goa]]></category>
		<category><![CDATA[makam]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.potlot-adventure.com/?p=2647</guid>
		<description><![CDATA[TALAUD – Ada kalanya seorang wisatawan bosan dengan segala kemapanan dan keteraturan. Ada kalanya wisatawan bosan dengan pariwisata konvensional, di mana semua sudah diatur biro perjalanan, tidur di hotel berbintang, semua serba-terencana, terkemas rapih dengan aroma bisnis yang kental. Terlalu sempurna, monoton, tanpa kejutan dan mungkin tanpa tantangan. Karena itulah, belakangan muncul wisata pedesaan (village [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></p>
<div id="attachment_2648" class="wp-caption alignleft" style="width: 380px"><strong><img class="size-full wp-image-2648" title="Gemeh" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Gemeh.jpg" alt="" width="370" height="262" /></strong><p class="wp-caption-text">TALAUD – Ada kalanya seorang wisatawan bosan dengan segala kemapanan dan keteraturan. Ada kalanya wisatawan bosan dengan pariwisata konvensional, di mana semua sudah diatur biro perjalanan, tidur di hotel berbintang, semua serba-terencana, terkemas rapih dengan aroma bisnis yang kental. Terlalu sempurna, monoton, tanpa kejutan dan mungkin tanpa tantangan.</p></div>
<p>TALAUD</strong> – Ada kalanya seorang wisatawan bosan dengan segala kemapanan dan keteraturan. Ada kalanya wisatawan bosan dengan pariwisata konvensional, di mana semua sudah diatur biro perjalanan, tidur di hotel berbintang, semua serba-terencana, terkemas rapih dengan aroma bisnis yang kental. Terlalu sempurna, monoton, tanpa kejutan dan mungkin tanpa tantangan.</p>
<p>Karena itulah, belakangan muncul wisata pedesaan (village tour) yang mencoba menjawab kebosanan itu. Wisata pedesaan memungkinkan wisatawan tidak bersentuhan dengan dunia luar. Tidak ada pesawat televisi, tidak ada surat kabar, tidak ada urusan bisnis. Yang ada cuma kampung, penduduk dan kehidupan keseharian yang serbasederhana dan manual.<br />
Salah satu desa yang terbuka dan bersedia menampung wisatawan adalah desa Gemeh, di Kecamatan Gemeh, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Desa yang dekat dengan perbatasan Filipina ini tetap asli, penduduknya ramah dan keamanan terjamin.<br />
Dari Jakarta, perjalanan ke Talaud dapat dimulai dengan pesawat terbang. Mendarat di Manado, Anda bisa melanjutkannya dengan pesawat kecil ke Melongue di Pulau Karakelang. Ini merupakan pulau terbesar di Talaud. Di Melongue, terdapat banyak speedboat sewaan, lengkap dengan juru mudi dan awaknya. Mereka siap mengantarkan Anda ke bagian mana pun di Kepulauan Talaud.<br />
Yang ingin mencicipi petualangan lain dapat memilih jalur laut. Banyak kapal sejenis feri yang melayani pelayaran dari Pelabuhan Manado ke Talaud. Umumnya, kapal di sini berangkat sekitar pukul 18.00 WITA. Begitu keluar dari Pelabuhan Manado, atau sekitar satu jam kemudian, kapal akan terguncang disebabkan pertemuan arus selatan dan utara di sekitar Pulau Talise.<br />
<img class="alignright size-full wp-image-2649" title="Gemeh 1" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Gemeh-1.jpg" alt="" width="200" height="147" />Kapal akan terus mengarah ke utara. Lihatlah ke sebelah kanan kapal sekitar pukul 22.00 WITA. Di situ ada Gunung Karangentang di Pulau Siau. Puncak Gunung Karangetang selalu berasap dan berwarna merah membara. Terakhir kali, gunung tersebut meletus pada 1976. Hingga kini, gunung itu belum meletus lagi, mungkin karena gunung itu mengalirkan laharnya secara teratur. Pemandangan ini dapat dinikmati dengan perjalanan siang hari.<br />
Sepanjang perjalanan, kapal akan diterjang ombak yang cukup besar. Bagi yang menyukai angin dan udara laut, tempat ini sungguh mengasyikkan. Namun, bagi yang tidak suka angin dan ombak, sebaiknya minum obat antimabuk dan tidur saja di kamar. Besok pagi, sekitar pukul 10.00, kapal akan sampai di Kaburuang, pelabuhan pertama yang biasa disinggahi kapal di Kepulauan Talaud.<br />
Kapal berada di sini sekitar satu atau dua jam untuk menurunkan barang dan penumpang. Lalu, kapal akan melanjutkan perjalanan ke Lirung untuk keperluan yang sama. Dari sana, kapal akan menuju Melongue, Rainis dan terakhir ke Beo. Dari Beo, perjalanan dilanjutkan dengan ojek karena ada jembatan yang putus antara Beo dengan Gemeh. Kelak, ojek dan penumpangnya diseberangkan dengan rakit.<br />
Bagi yang tidak sabar, bisa saja turun di Melongue atau Lirung. Di kedua pelabuhan ini banyak terdapat speedboat yang dapat disewakan untuk langsung menuju Gemeh.<br />
Perjalanan dari Lirung ke Gemeh dengan speedboat makan waktu sekitar empat jam.</p>
<p><strong>Selamat Datang</strong><br />
Desa Gemeh letaknya agak terpencil di sisi barat Pulau Karakelang, pulau terbesar di Kabupaten Talaud. Gemeh tidak memiliki pelabuhan atau dermaga, kecuali pantai yang agak landai untuk pendaratan speedboat.<br />
Di tempat ini terdapat sebuah gapura yang jika dilihat dari arah laut bertuliskan bahasa Talaud, yang jika diindonesiakan berarti ”Selamat Datang di Kampung Kami”. Sebaliknya, ketika kita hendak meninggalkan Gemeh, di balik gapura yang sama terdapat tulisan berbahasa Talaud yang jika diindonesiakan berarti “Selamat Jalan, Semoga Tuhan Menyertai Anda”.<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-2650" title="Gemeh 2" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Gemeh-2.jpg" alt="" width="200" height="138" />Apakah tulisan di gapura itu sebuah basa-basi? Rasanya tidak, terutama jika Anda sudah masuk ke dalam desa dan tinggal bersama penduduknya. Setiap orang yang lebih muda mengucapkan selamat terhadap orang asing yang berpapasan di jalan.</p>
<p><strong>Rumah Penduduk</strong><br />
Sebelum menginap di rumah penduduk, lapor dulu kepada kepala desa Gemeh. Sang kepala desar akan mengantar Anda ke rumah warga yang bersedia diinapi. Salah satunya adalah keluarga Adonis Maarisit. ”Silakan saja kalau mau menginap di sini,” kata Nyonya Adonis.<br />
Ia hanya tinggal berdua dengan suaminya. Sementara itu, ketiga anaknya sudah keluar semua, merantau. Yang tertua merantau ke Maluku, yang kedua ke Jakarta dan yang bungsu ke Bogor. Ia memiliki tiga kamar, dua di antaranya kosong.<br />
Dua rumah di sebelah kanan rumah Adonis adalah rumah sekaligus sekretariat Lembaga Pemberdayaan Masyarakat. Di rumah ini pun terdapat dua kamar kosong untuk tamu. Dengan menginap di sana, berarti Anda turut memberdayakan perekonomian pedesaan.<br />
Kebetulan pula, di rumah ini terdapat sarana telekomunikasi semacam wartel, yakni telepon PASTI. Anda bisa menghubungi siapa pun dari sini.<br />
Tetapi, Anda jangan berharap menemukan pesawat televisi atau surat kabar di sini. Pasalnya, listrik di sini menggunakan tenaga diesel yang disalurkan ke rumah-rumah penduduk. Listrik sering “byar-pet” sehingga membuat pesawat televisi mudah rusak. Surat kabar juga merupakan barang yang langka karena harus didatangkan dari Manado. Jadi, siap-siaplah menjadi orang yang terisolasi.</p>
<p><strong>Objek Wisata</strong><br />
Ada beberapa objek wisata di Gemeh, yakni, makam raja Larenggam di kaki bukit di desa Arangkaa, dua kilometer dari Gemeh dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Makam tersebut sebenarnya tidak bisa dibilang makam karena jenazah diletakkan begitu saja di gua. Tengkorak kepala dikumpulkan dalam satu bak, sedangkan tulangnya berserakan. Pemandangan serupa terdapat di gua di bagian atas. Gua kedua bisa dicapai lewat jalan setapak.<br />
Gua ini konon juga menjadi tempat bertapa bagi orang-orang yang ingin menuntut ilmu hitam atau ingin bisnisnya maju. Di luar gua terdapat kursi-kursi bambu yang menghadap ke laut lepas, Lautan Pasifik. Pemandangannya indah, anginnya segar, pasirnya putih dan lautnya jernih sehingga menimbulkan suasana tenang.<br />
Objek wisata lainnya adalah memancing bersama penduduk dengan menggunakan perahu dayung. Penduduk desa Gemeh umumnya berprofesi ganda, yakni: petani dan nelayan. Ketika musim ombak besar, mereka bertani dan berkebun di gunung. Ketika laut sedang teduh (ombak kecil) mereka memancing atau menombak ikan.</p>
<p><strong>Ikan Bakar</strong><br />
Renang di laut juga kegiatan yang cukup menarik karena lautnya jernih dan pasirnya putih. Bagi yang suka makan, ikan bakar rica merupakan menu yang menggiurkan, terutama bila disantap sehabis berenang. Dan ikan di daerah sini pasti segar karena baru ditangkap dari laut.<br />
Ikan bakar dapat dikonsumsi bersama nasi, ubi atau sagu. Nasi adalah sesuatu yang agak mahal karena Talaud bukan penghasil beras. Minumannya adalah minuman keras lokal yang lazim disebut cap tikus. Kadar alkoholnya mencapai 70 persen. Tetapi, jika Anda mengharamkan minuman keras, minum saja air kelapa atau air mineral. Tidak perlu khawatir, air mineral di daerah ini sama seperti di Jakarta, yakni, Rp2.000 untuk ukuran 500 mililiter (setengah liter).<br />
”Di desa kami, keamanan adalah nomor satu. Di desa lain, orang yang mabuk bisa berkeliaran di jalanan. Di desa ini, kami melarang mereka berkeliaran,” kata Elmer Laira, seorang aparat Kelurahan Gemeh, Kecamatan Gemeh.<br />
Bagi yang gemar belanja, Anda dapat membeli produk-produk Filipina yang dijual bebas dengan harga yang relatif murah, terutama produk rokok dan minuman keras. Umumnya, mutu barang-barang Filipina itu masih di bawah barang-barang buatan dalam negeri. Jadi, tunggu apalagi. Datanglah ke Gemeh, sebelum Gemeh didatangi turis Asing dan menjadi sangat komersial.<br />
(Sinar Harapan/Isyanto)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/24/pergilah-ke-gemeh-sebelum-didahului-turis-asing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesona Pantai Maluk di Sumbawa Barat</title>
		<link>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/22/pesona-pantai-maluk-di-sumbawa-barat/</link>
		<comments>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/22/pesona-pantai-maluk-di-sumbawa-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 13:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EnJ</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nusa Tenggara Barat]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.potlot-adventure.com/?p=2643</guid>
		<description><![CDATA[SUMBAWA BARAT — Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki obyek wisata pantai yang tak kalah eksotisnya dengan Bali. Salah satu objek wisata pantai di NTB yang namanya sudah mulai dikenal adalah Pantai Senggigi. Sebenarnya bukan cuma Pantai Senggigi yang dapat dijadikan obyek wisata di NTB. Jika pelancong punya cukup banyak waktu, objek wisata pantai di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2644" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Pesona-Pantai-Maluk-di-Sumbawa-Barat.jpg"><img class="size-medium wp-image-2644" title="Pesona Pantai Maluk di Sumbawa Barat" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Pesona-Pantai-Maluk-di-Sumbawa-Barat-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a><p class="wp-caption-text">Pantai Maluk - Terdapat di Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat. Dari Pantai Maluk ini wisatawan bisa melihat pesona keindahan Teluk Maluk.</p></div>
<p><strong>SUMBAWA BARAT </strong>— Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki obyek wisata pantai yang tak kalah eksotisnya dengan Bali. Salah satu objek wisata pantai di NTB yang namanya sudah mulai dikenal adalah Pantai Senggigi. Sebenarnya bukan cuma Pantai Senggigi yang dapat dijadikan obyek wisata di NTB. Jika pelancong punya cukup banyak waktu, objek wisata pantai di Kabupaten Sumbawa Barat layak untuk dikunjungi.</p>
<p>Di Kabupaten Sumbawa Barat ini terdapat beberapa obyek wisata pantai. Mulai dari Pantai Maluk, Pantai Sekongkang, Pantai Tropical, hingga ke Pantai Jelengah. Dari obyek wisata pantai yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat ini, Pantai Maluk merupakan obyek yang paling banyak menarik minat wisatawan.<br />
Untuk mengunjungi Pantai Maluk ini tidak terlalu sulit. Sarana transportasi yang dibutuhkan oleh wisatawan tersedia setiap saat. Dari Ibu Kota NTB, Mataram, dibutuhkan waktu sekitar enam jam untuk sampai ke Pantai Maluk. Sekitar dua jam perjalanan menggunakan feri dari Pelabuhan Kayangan Lombok. Selebihnya perjalanan ditempuh melalui jalur darat.<br />
Pantai Maluk terdapat di Desa Maluk, Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat. Dari Pantai Maluk ini wisatawan bisa melihat pesona keindahan Teluk Maluk. Bukan hanya itu. Pantai Maluk kerap dijadikan oleh wisatawan sebagai arena berselancar. Tak heran apabila peselancar kelas dunia senantiasa mengagendakan kegiatan di Pantai Maluk.<br />
“Ombak di Pantai Maluk ini telah masuk dalam daftar ombak terbaik bagi peselancar dunia,” jelas Eldiman, salah seorang pengelola papan selancar di Pantai Maluk yang ditemui SH belum lama ini. Oleh para peselancar, ombak di Pantai Maluk diberi julukan Super Suck. Julukan ini diberikan karena ombak yang menuju daratan terpecah oleh sebuah tanjung.<br />
Oleh penduduk setempat, tanjung tersebut dinamai Tanjung Ahmad. Pecahan ombak ini menggulung hingga ketinggian di atas dua meter. Ombak tersebut terus bergulung-gulung hingga seolah menyedot para peselancar yang mencoba menaklukkannya. Menurut Eldiman, hanya peselancar yang piawai bermain di atas papan selancar saja yang mampu menaklukkan ombak Super Suck Pantai Maluk.<br />
Jika wisatawan tidak membawa papan selancar, tak perlu kuatir. Eldiman menyebutkan pihaknya siap menyewakan papan selancar. Menyangkut tarif sewa, tidak ada tarif tertentu. “Kadang kami malah meminjamkannya dengan gratis,” timpal Eldiman. Dengan ombak yang begitu menantang, tak heran jika Pantai Maluk menjadi ajang pamer kemahiran para peselancar yang datang dari berbagai penjuru dunia. Biasanya mereka datang pada saat-saat hari libur. Suasana pantai yang masih tergolong sepi, membuat wisatawan menjadi lebih enjoy.<br />
Memang dibandingkan dengan obyek wisata pantai di Bali, Pantai Maluk belum banyak dikunjungi oleh wisatawan. Pantai Maluk masih kalah populer dibandingkan dengan Pantai Kuta maupun Pantai Sanur. Padahal dari segi pesona eksotisnya, Pantai Maluk tak kalah. Pasirnya yang putih dan lembut serta matahari yang memancarkan sinar terik, bisa membuat wisatawan betah berjemur. Bagi wisatawan yang tidak ingin berjemur atau berselancar, dapat menghabiskan waktu dengan bermain kano. Setiap kano dapat disewa dengan tarif sebesar Rp 5.000 per jam.</p>
<p><strong>Masakan Laut</strong><br />
Puas berjemur, berselancar maupun bermain kano, wisatawan dapat mengisi perut dengan berbagai masakan laut yang membangkitkan selera. Menikmati sea food sembari menyaksikan gulungan ombak berkejar-kejaran memang sangat nikmat. Kendati mulai banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, sayangnya fasilitas yang ada masih perlu dibenahi. Memang fasilitas di Pantai Maluk terkesan masih minim. Memang fasilitas seperti pancuran terbuka, rumah makan, arena voli pantai serta fasilitas bermain anak-anak telah tersedia. Hanya saja fasilitas tersebut kapasitasnya masih minim.<br />
Menurut Kepala Desa Maluk, Mukhlis HM, fasilitas yang ada saat ini sebenarnya jauh memadai dibandingkan beberapa tahun lalu. “Sekitar empat tahun lalu Pantai Maluk masih banyak ditumbuhi oleh semak belukar. Sekarang jauh lebih baik,” ujar Mukhlis.<br />
Masalah lain barangkali berkaitan dengan fasilitas menginap. Memang telah ada hotel dengan tarif berkisar Rp 150.000 &#8211; Rp 250.000 per hari. Namun fasilitasnya masih terkesan seadanya. Belum dikelola secara profesional dan serius. Meski demikian, dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya di Sumbawa Barat, fasilitas di Pantai Maluk sesungguhnya jauh lebih memadai. Di Pantai Sekongkang, misalnya, bahkan fasilitas yang tersedia boleh dibilang tak memadai. Kurangnya promosi membuat Pantai Sekongkang kalah pamor dibandingkan dengan Pantai Maluk.<br />
Padahal ombak Pantai Sekongkang ini pun telah masuk kategori ombak terbaik di dunia bagi kalangan peselancar. Oleh para peselancar, ombak Pantai Sekongkang dijuluki dengan Ombak Yoyo. Pasalnya, gerakan ombak di Pantai Sekongkang ibarat mainan yoyo yang terayun-ayun naik turun kala dimainkan oleh anak-anak.<br />
Di masa mendatang potensi obyek wisata pantai di Kabupaten Sumbawa Barat memang masih dapat dioptimalkan. Jika digarap dengan serius, bisa jadi pesona pantai nan eksotis Sumbawa Barat mampu menggeser popularitas Bali sebagai destinasi wisatawan dunia</p>
<p>Oleh: Didit Ernanto [Sinar Harapan]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/22/pesona-pantai-maluk-di-sumbawa-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terkecoh di Danau Dipati Empat</title>
		<link>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/21/terkecoh-di-danau-dipati-empat/</link>
		<comments>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/21/terkecoh-di-danau-dipati-empat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 00:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EnJ</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jambi]]></category>
		<category><![CDATA[danau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.potlot-adventure.com/?p=2639</guid>
		<description><![CDATA[Danau Dipati Empat berada di bagian barat daya Desa Pulau Tengah. Berjarak paling tidak delapan kilometer. Menurut penuturan beberapa penduduk setempat, danau tersebut dinamakan seperti itu lantaran dipelihara oleh empat dipati. Yaitu Dipati Gento rajo dan Dipati Pamuntjak Alam Tiang Agamo, yang menguasai bagian timur dan selatan. Serta Dipati Payung dan Dipati Naudo Manggalo, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-2640" title="Terkecoh di Danau Dipati Empat" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Terkecoh-di-Danau-Dipati-Empat.jpg" alt="" width="182" height="137" />Danau Dipati Empat</strong> berada di bagian barat daya Desa Pulau Tengah. Berjarak paling tidak delapan kilometer. Menurut penuturan beberapa penduduk setempat, danau tersebut dinamakan seperti itu lantaran dipelihara oleh empat dipati. Yaitu Dipati Gento rajo dan Dipati Pamuntjak Alam Tiang Agamo, yang menguasai bagian timur dan selatan. Serta Dipati Payung dan Dipati Naudo Manggalo, yang menguasai bagian utara dan barat.<br />
Perjalanan menuju danau dapat ditempuh selama paling tidak empat jam dengan berjalan kaki. Namun jangan terkecoh, karena hitungan itu ternyata diperuntukkan bagi orang yang sudah terbiasa mendaki gunung. Pengalaman itu juga yang dialami tim ekspedisi ini, saat mencoba melihatnya dari dekat.<br />
Perjalanan menuju danau ini terasa sedemikian rumitnya. Mungkin lantaran tak ada satu pun petunjuk arah menuju ke lokasi. Berbekal peta dan kompas dan tanya sana-sini, akhirnya tim berhasil juga menemui pertigaan menuju bukit pertama yang harus kami lalui. Itupun setelah enam kali melintasi sungai, yang cukup merepotkan karena harus terus melepas sepatu, dan lolos dari tipisnya jalan pinggir sawah.<br />
Setelah dua jam melakukan perjalanan, kondisi jalan hutan yang setipe dengan hutan dataran tinggi tersebut, belum menunjukan tanda-tanda mendekati lokasi danau. Sedangkan matahari terlihat telah menggelincir.<br />
Dengan pertimbangan harus melihat rupa danau-danau yang lain, akhirnya tim memutuskan kembali sebelum sempat merasakan melihat rupa Danau Dipati Empat tersebut.<br />
Sebenarnya agak disayangkan keputusan ini, karena berarti kami melewatkan kesempatan melihat keindahan danau terbesar dari trio danau di Kabupaten Merangin ini. (sulung prasetyo/hendro bakti &#8211; Sinar Harapan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/21/terkecoh-di-danau-dipati-empat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wisata Alam di Pulau Tengah, Menunggu ‘tuk Dinikmati</title>
		<link>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/20/wisata-alam-di-pulau-tengah-menunggu-%e2%80%98tuk-dinikmati/</link>
		<comments>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/20/wisata-alam-di-pulau-tengah-menunggu-%e2%80%98tuk-dinikmati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 00:13:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EnJ</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jambi]]></category>
		<category><![CDATA[air terjun]]></category>
		<category><![CDATA[pulau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.potlot-adventure.com/?p=2635</guid>
		<description><![CDATA[JAMBI—Ibarat gadis perawan malu-malu, Kabupaten Merangin, Jambi, ternyata menyimpan banyak potensi wisata alam. Paling tidak, itu yang sempat tertangkap oleh tim perjalanan ekspedisi arung jeram Mapala UI – Sinar Harapan, di Kabupaten Merangin, 6 – 20 Agustus lalu. Desa Pulau Tengah merupakan desa terbesar dan terluas di Kecamatan Jangkat. Mata pencaharian penduduk umumnya bertani, dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></p>
<div id="attachment_2636" class="wp-caption alignleft" style="width: 192px"><strong><img class="size-full wp-image-2636 " title="Wisata Alam di Pulau Tengah" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Wisata-Alam-di-Pulau-Tengah.jpg" alt="" width="182" height="137" /></strong><p class="wp-caption-text">SAWAH – Persawahan masih menghampar luas di sebagian besar wilayah desa Pulau Tengah, diselingi dengan lumbung di sana-sini. Rugi rasanya bila tak sempat menikmatinya. </p></div>
<p>JAMBI</strong>—Ibarat gadis perawan malu-malu, Kabupaten Merangin, Jambi, ternyata menyimpan banyak potensi wisata alam. Paling tidak, itu yang sempat tertangkap oleh tim perjalanan ekspedisi arung jeram Mapala UI – Sinar Harapan, di Kabupaten Merangin, 6 – 20 Agustus lalu.</p>
<p>Desa Pulau Tengah merupakan desa terbesar dan terluas di Kecamatan Jangkat. Mata pencaharian penduduk umumnya bertani, dengan tambahan usaha berkebun. Tetapi bukan hanya itu yang membuat desa ini istimewa. Sebab ternyata desa ini juga menyimpan banyak jenis wisata yang menarik, di antaranya panorama desa, serta tiga danau dan air terjun Mentalun.<br />
Mengenai panorama desa, bisa dikatakan desa ini merupakan salah satu desa terindah di pertiwi ini. Persawahan yang menghampar dengan lumbung-lumbung padi. Hutan yang masih ijo royo-royo (hijau), lengkap dengan sungai yang mengalir jernih di dalamnya.<br />
Menikmati pemandangan alam desa, seperti tak ada habis-habisnya mentahbiskan keindahannya. Semua seperti gambaran kita pada kerinduan alam pedesaan.<br />
Bila ingin menambah kekaguman lagi mengenai keindahan wisata di sini, bisa juga kita menyempatkan diri menyinggahi ketiga danau di sekitar desa. Ketiganya biasa dikenal dengan nama Danau Dipati Empat (Gedang), Danau Pauh dan Danau Kecil (Kecik).<br />
Dipati Empat merupakan danau terbesar diantara ketiga danau tersebut. Terletak di bagian barat desa, berjarak sekitar empat jam perjalanan. Namun disarankan bagi Anda yang ingin pergi ke danau ini, agar mempersiapkan perjalanan sebaiknya karena masih sulitnya jalur yang harus ditempuh.<br />
Dua danau lainnya, biasa disebut penduduk sekitar dengan nama Danau Pauh dan Danau Kecik. Danau Pauh dan Danau Kecik terletak berdekatan di bagian utara desa. Berada di kilometer 4 dan dapat ditempuh dengan mobil atau ojek selama 30 menit perjalanan dari desa.<br />
Dari penuturan masyarakat sekitar, disebut Danau Pauh karena dahulu banyak pohon Pauh di sekitar pinggiran danau. Pohon Pauh ini menurut mereka, berbuah mirip mangga, dengan getah di sana-sini.<br />
Danau Kecik juga ternyata tak kalah berseleranya untuk didatangi. Danau terkecil di antara ketiga danau tadi, juga menyimpan aset berharga sebagai daerah tujuan wisata. Letaknya dikelilingi hamparan sawah yang tertata rapih dengan sistem terasiring, malah membuat danau ini laksana colloseum di Roma.<br />
Tak terbayangkan indahnya, bila padi yang terdapat di sekeliling danau kecil tersebut mulai menguning. Pasti pemandangan yang tercipta sulit tertandingi oleh bagian manapun di dunia ini.</p>
<p><strong>Mentalun</strong><br />
Aset wisata lain yang tampaknya belum juga tergali adalah air terjun Mentalun yang bertingkat dua. Bagian air terjun yang bawah setinggi 40 meter. Dengan air yang jatuh jernih di atas kolam selebar enam meter. Menurut informasi penduduk yang sempat menemani kami melihat tempat itu, masih terdapat banyak ikan di bawah air terjun tersebut.<br />
Namun hingga kini beberapa masalah masih melingkupi potensi wisata ini. Seperti sulitnya jalan masuk menuju Danau Dipati Empat dan air terjun Mentalun. Karena kita harus berjalan kaki paling tidak sejauh empat jam menuju ke sana.<br />
Kesulitan ini kemudian ditambah dengan belum maksimalnya pembangunan sarana transportasi menuju lokasi. Ini terlihat dari jalan yang digunakan untuk menuju Danau Pauh dan Danua Kecik. Dimana terlihat banyak jalan yang berlubang dan tak teraspal, sehingga bisa menyebabkan mobil–mobil jenis tertentu seperti sedan kandas sebelum mencapai lokasi.<br />
Ketiga aset tersebut sebenarnya merupakan potensi wisata yang sangat berpeluang untuk meningkatkan pendapatan daerah.<br />
Tinggal bagaimana pemerintah daerah memanfaatkannya semaksimal mungkin. Aset ini kini ibarat gadis yang malu-malu, namun sebenarnya menunggu untuk disunting.</p>
<p>Oleh: <span style="font-family: Arial; font-size: x-small;"><em>Sulung Prasetyo/Hendro Bakti [Sinar Harapan]<br />
</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/20/wisata-alam-di-pulau-tengah-menunggu-%e2%80%98tuk-dinikmati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>20 Keindahan Bawah Laut Indonesia</title>
		<link>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/16/20-keindahan-bawah-laut-indonesia/</link>
		<comments>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/16/20-keindahan-bawah-laut-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 14:28:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EnJ</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[laut]]></category>
		<category><![CDATA[taman nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.potlot-adventure.com/?p=2632</guid>
		<description><![CDATA[Negeri seribu pulau ini begitu eksotis, pesona alamnya mampu menyihir siapa pun. Bukan hanya didarat, keelokan alam Indonesia juga tersaji indah di bawah laut. Jernih air laut, warna-warni terumbu karang yang berpagutan dengan cantiknya ikan-ikan seolah membentuk lukisan hidup. Mungkin hanya sedikit negara yang memiliki kekayaan jenis terumbu karang dan ikan hias seperti yang ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2633" title="Keindahan Bawah Laut Indonesia" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Keindahan-Bawah-Laut-Indonesia.jpg" alt="" width="253" height="300" />Negeri seribu pulau ini begitu eksotis, pesona alamnya mampu menyihir siapa pun. Bukan hanya didarat, keelokan alam Indonesia juga tersaji indah di bawah laut. Jernih air laut, warna-warni terumbu karang yang berpagutan dengan cantiknya ikan-ikan seolah membentuk lukisan hidup.</p>
<p>Mungkin hanya sedikit negara yang memiliki kekayaan jenis terumbu karang dan ikan hias seperti yang ada di Indonesia. Keanekaragaman hayati laut dengan segala keunikannya telah menempatkan taman-taman laut di Indonesia sebagai surganya para penyelam. Tak heran jika menyelam di Indonesia adalah impian para penyelam di dunia.</p>
<p>Edisi kali ini Travel Club mencoba menampilkan sedikit dari begitu banyaknya surga bawah air di Indonesia. Semoga yang sedikit ini bisa memberikan informasi berharga bagi pembaca sekalian. Silakan tentukan tempat mana yang Anda minati.</p>
<p><strong>1. Taman Wisata Laut (TWA) Laut Pulau Weh</strong></p>
<p>Taman laut yang berada di Kecamatan Sukakarya, Kotamadya Sabang ini dihuni beragam jenis terumbu karang, baik keras (hard coral) maupun karang yang lunak (soft coral), dengan kondisi masih terjaga baik.</p>
<p>Aneka jenis terumbu karang ini menjadi tempat hidup ikan aneka jenis dan warna yang cantik seperti dari jenis Tropet fish, Dunsel fish, Grope fish, Angel fish, Sergeon fish, Parrot fish. Kawasan ini memang diperuntukkan wisatawan menyelam, fasilitas-fasilitas pendukung pun sudah tersedia di sini. Jarak pandang (visibility) mencapai 25 meter.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Nanggroe Aceh Darussalam</strong></p>
<p><strong>2. Bintan</strong></p>
<p>Salah satu titik menyelam terbaik di Bintan adalah di Pulau Mapur. Terumbu karang di Pulau Mapur terdiri dari terumbu tepi (fringing reefs), terumbu takat (patch reefs) dan dangkalan (shoals) yang tersebar seluas 18 kilometer persegi.</p>
<p>Kelebihan lain lokasi menyelam di sini adalah sinar matahari yang menembus hingga kedalaman, membuat penyelam dapat leluasa menikmati keindahannya. Berdasarkan sebuah penelitian terbaru yang dilakukan pertengahan 2009, terdapat 103 jenis ikan karang (coral fishes)</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Kepulauan Riau</strong></p>
<p><strong>3. Ujung Kulon</strong></p>
<p>Taman Nasional Ujung Kulon memiliki lokasi penyelaman yang layak direkomendasikan. Bagian barat Tanjung Layar Lighthouse, merupakan lokasi menyelam yang berbatu dan terletak dibawah permukaan laut yang tenang.</p>
<p>Terumbu karang memang jarang di sini, tetapi yang menarik adalah ikan barracuda berukuran besar, school of fusiliers, ikan berukuran sedang lainnya dan platoons of bumphead parrotfish.</p>
<p>Lokasi lain adalah Karang Copong, tidak jauh dari Pulau Peucang. Tempat menyelam yang dangkal, terdapat terowongan batu yang mengarah ke gua-gua pulau. Satu lagi yang tak kalah menarik adalah di Karang Jajar. Ditempat ini, banyak terdapat batu-batu besar dari Pulau Penietan. Karang Jajar menawarkan terumbu karang yang berwarna-warni. Hidup pula kura-kura dan ikan pari dalam jumlah yang banyak di area ini.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Banten</strong></p>
<p><strong>4. Pulau Menjangan</strong></p>
<p>Pulau Menjangan masuk dalam wilayah Taman Nasional Bali Barat, dengan kontur yang membentuk jurang bawah laut, kawasan ini dianggap sebagai lokasi wall diving terbaik di pulau para dewa. Dengan kondisi perairan yang jernih dan tenang menjadi surga para penyuka fotografi bawah air.</p>
<p>Salah satu daya tariknya adalah terumbu karang Gorgonian Seafen raksasa. Blue-toothed triggerfish, gerombolan Longin Bannerfish, Angel fish, Butterfly fish, gerombolan batfish, ada juga koloni Garden-Eel adalah sedikit dari sekian banyak fauna penghuni Menjangan. Pada kedalaman 35 meter terdapat puing-puing kapal kayu yang menjadi tempat bermain ikan-ikan cantik. Jarak pandang (visibility) 15 meter.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Bali</strong></p>
<p><strong>5. Wakatobi</strong></p>
<p>Ada sekitar 750 jenis terumbu karang tersebar di taman laut seluas 1,39 juta hektar ini, tak heran jika Wakatobi menjadi surga bagi penyuka olahraga menyelam. Kekayaan jenis ikan juga tersimpan disini seperti Argus bintik (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), Pogo-pogo (Balistoides Viridescens), Napoleon (Cheilinus Uundulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), Lutjanus Monostigma, Caesio Caerularea dan masih banyak jenis lainnya.</p>
<p>Meski atifitas menyelam dapat dilakukan hampir sepanjang waktu, namun bulan April dan Desember menjadi waktu yang sangat direkomendasikan bagi yang ingin menikmati keindahan Wakatobi.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Sulawesi Tenggara</strong></p>
<p><strong>6. Gili Trawangan, Air, Meno</strong></p>
<p>Popularitas Desa Gili Indah di Kabupaten Lombok Barat sudah begitu mendunia. Keindahan pantainya membuat banyak wisman terpesona. Ada tiga pulau kecil yang terkenal disini, Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.</p>
<p>Ketiga gili ini juga terkenal dengan keindahan taman bawah airnya. Salah satu daya tarik bagi penyelam adalah terdapatnya blue coral. Konon, hanya ada dua lokasi yang memiliki karang ini, di Desa Gili dan Karibia.</p>
<p>Terdapat banyak lokasi penyelaman di sekitartiga pulau ini. Ikan yang bisa dijumpai di sini antara lain Tiger Fish, Blue Moon, ikan Kepe-kepe, Lion fish dan ikan Sotong. Jarak pandang (visibility) 5-30 meter.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Lombok Barat, NTB</strong></p>
<p><strong>7. Kepulauan Seribu</strong></p>
<p>Meskipun kondisi terumbu karang di kawasan Kepulauan Seribu sudah banyak yang terganggu oleh aktivitas manusia, tapi masih banyak tempat penyelaman yang cukup menarik untuk disinggahi. Jenis karang yang ditemukan seperti karang batu, karang kipas, karang daun, dan karang jamur. Karang lunak (soft coral) pun banyak terdapat di sini. Berdasarkan penelitian, dikawasan ini pun terdapat sekitar 267 jenis karang bercabang.</p>
<p>Pulau-pulau yang menjadi tujuan para penyelam adalah Pulau Kotok, Papa Theo, Peniki, Matahari, Gosonglaga, Sepa, Semak Daun. Terdapat sekitar 144 jenis ikan hias yang hidup di sini, antara lain Anemone Fish, Sweetlips Fish, Office Fish, Sonang Rambut, Keletuk Peliding, Gepe Monyong, ada pula moray eel, dan lainnya.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Jakarta Utara &amp; Banten</strong></p>
<p><strong>8. Karimunjawa</strong></p>
<p>Kepulauan Karimunjawa ditetapkan sebagai Taman Nasional Laut (TNL) sejak 1988. Terdapat 242 jenis ikan hias mendiami kawasan ini. Terumbu karang yang mengisi taman laut Karimunjawa terdiri dari tipe terumbu karang pantai (fringing reefs), terumbu karang penghalang (barrier reefs), dan beberapa taka (patch reef).</p>
<p>Daya tarik taman laut ini adalah terdapatnya karang merah (tubipora musica) dan karang hitam (antiphates ssp). Jenis karang ini sangat langka dan diduga hampir punah. Terdapat bangkai kapal yang menjadi habitat ikan karang dan menjadi lokasi yang cocok untuk wreck diving.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Jawa Tengah</strong></p>
<p><strong>9. Nusa Penida</strong></p>
<p>Nusa Penida memiliki kekayaan ikan hias berwarna-warni. Bahkan belum lama ini, para ahli dari Conservation International Indonesia kembali menemukan lima spesies baru di kawasan ini. Kelima spesies itu antara lain Chromic sp, Priolepis 33 sp, Priolepis 11. Sebelumnya terdapat sebanyak 550 spesies ikan karang di sini.</p>
<p>Ada beberapa dive sites di sini. Pelabuhan Penida, Puncak Manta, Batu Meting, Batu Lumbung, Batu Abah, kemudian Toyapakeh, di sini terdapat tiang-tiang koral yang menawan. Kemudian di lokasi Puncak Malibu terdapat terumbu karang abu-abu, reef white tips, dua lokasi ini juga dianggap memiliki pemandangan yang paling indah. Jarak pandang 15 meter.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Bali</strong></p>
<p><strong>10. Kepulauan Derawan</strong></p>
<p>Sebutan akuarium bawah laut tersemat pada kepulauan ini. Derawan juga dikenal sebagai kerajaan Penyu Hijau. Setiap tahunnya, lebih dari 5.000 penyu betina bersarang di sini. Biodiversitas Kepulauan Derawan menempati urutan kedua setelah Kepulauan Raja Ampat.</p>
<p>Derawan pun memiliki beberapa spesies hewan khas dan dilindungi, seperti, paus, lumba-lumba (Delphinus), penyu hijau (Chelonia Mydas), penyu sisik (Erethmochelys Fimbriata), dan dugong (Dugong Dugon). Ada pula ikan duyung. Di sini pun menjadi tempat hidup manta ray salah satu spesies ikan pari raksasa. Jarak pandang (visibility) mencapai 5-30 meter.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Kalimantan Timur</strong></p>
<p><strong>11. Sangalaki</strong></p>
<p>Kekhasan taman wisata alam laut ini yaitu adanya terumbu karang yang mengelilingi Pulau Sangalaki. Potensi keanekaragaman sumber daya lautnya sangat luar biasa. Terumbu karang berada dikedalaman 3 meter sampai 10 meter. Jenis karang meja, keras, cabang daun, dan substrat menghiasi kawasan ini.</p>
<p>Ikan yang mendiami antara lain Threadfin Butterflyfish, C. Lunula, C. Rafflesi, tongkol, teri, tenggiri, manyung, napoleon, bendera, dakocan, kakatua biru. Jarak pandang (visibility) 5-25 meter</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Kabupaten Berau, Kalimantan Timur</strong></p>
<p><strong>12. Bunaken</strong></p>
<p>Keindahan alam bawah airnya telah membawa nama Bunaken terkenal hingga ke mancanegara. Meski termasuk landai, tapi Taman Laut Bunaken kaya dengan keanekaragaman hayatinya. Terdapat sekitar 58 jenis terumbu karang. Bunaken memiliki 29 titik penyelaman (dive spot).</p>
<p>Taman Laut Bunaken juga kaya akan spesies ikan, antara lain Oci Putih (Seriola Rivoliana), Goropa (Ephinephelus Spilotoceps dan Pseudanthias Hypselosoma), Ila Gasi (Scolopsis Bilineatus), Snapper, Groupers, Baracuda, Napoleon, Angel fish, Blow fish, Blue Ribbon Eels.  Bulan Mei dan Juni merupakan saat yang tepat untuk menyelam. Pada bulan ini air laut disini tenang, jarak pandang (visibility) pun cukup jauh, 20-35 meter.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Sulawesi Utara</strong></p>
<p><strong>13. Kepulauan Selayar</strong></p>
<p>Taman laut seluas 340 hektar ini memiliki karang atol besar. Karang atol yang mencapai luas 220.000 hektar dengan terumbu karang tersebar datar seluas 500 kilometer persegi ini menjadi yang terbesar ketiga setelah karang atol Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Maldives.</p>
<p>Ada sekitar 261 jenis terumbu karang menjadi tempat hidup dari 295 jenis ikan karang. Penyu dari jenis penyu sisik, penyu hijau, dan penyu lekang juga mendiami taman laut ini.</p>
<p>April hingga Juni dan Oktober sampai Desember, adalah waktu yang sangat baik untuk menikmati keindahan alam bawah air Takabonerate. Jarak pandang (visibility) 15-45 meter.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Sulawesi Selatan</strong></p>
<p><strong>14. Banggai Kepulauan</strong></p>
<p>Terumbu karang yang tersebar di tempat ini masih sangat baik. Terumbu karang yang mengisi kawasan ini terdiri dari tipe barrier reef, atol reef, pringing reef, dan patch reef.</p>
<p>Di sini pun hidup spesies ikan yang masuk kategori langka seperti ikan Napoleon Wrasse dan Cardinal fish Banggai. Berbeda dengan Cardinal fish lainnya. Cardinal fish Banggai memiliki keunikan tersendiri. Ia bertelur, menetas, dan memelihara anaknya melalui mulut. Jarak pandang (visibility) 15-40 meter.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Sulawesi Selatan</strong></p>
<p><strong>15. Togean</strong></p>
<p>Banyak penyelam dunia menyebut taman bawah air Togean dengan julukkan hidden paradise in Tomini Bay. Ada sekitar 262 jenis terumbu karang dan jenis 555 moluska di sini. Beberapa lokasi penyelaman di antaranya, Taipee Wall dan Coral Garden.</p>
<p>Berbagai macam hard dan soft coral tersaji sempurna di sini. Ikan-ikan hias cantik akan menjadi teman menyelam di lokasi ini, antara lain blue devils, cardinal, pipefish, emperor angel fish, grouper, butterfly, fire darft fish, hawk fish, lion fish.</p>
<p>Lokasi lain adalah di Mini Canyon, Dominique, di lokasi ini hidup beberapa jenis ikan dan hewan lain, seperti Crocodile Fish, Pufer, Sweet Lips, Lobster, Moray Eels, Hum Head. Lokasi ini juga kaya akan soft coralnya. Jarak pandang (visibility) 20-40 meter.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Sulawesi Tengah</strong></p>
<p><strong>16. Selat Lembeh</strong></p>
<p>Satu lagi lokasi menyelam di Sulawesi utara adalah Selat Lembeh yang berada di Kotamadya Bitung, Propinsi Sulawesi Utara. Lembeh terkenal dengan keanekaragaman invertebrata terutama dari kelompok Echinodermata.</p>
<p>Terumbu karang beraneka warna hidup mesra dengan beragam penghuni laut lainnya, seperti gurita, Banggai Cardinalfish, cumi-cumi, Mandarin fish, lion fish. Sarana-sarana pendukung pun sudah tersedia di sini. Jarak pandang (visibility) 10-25 meter.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Sulawesi Utara</strong></p>
<p><strong>17. Taman Nasional Komodo</strong></p>
<p>Taman Nasional yang tengah bersaing dalam pemilihan Tujuh Keajaiban Dunia ini terkenal juga memiliki keanekaragaman hayati alam bawah airnya. tak heran jika Taman Nasional Komodo juga menjadi tujuan banyak para penyelam lokal maupun mancanegara. Sedikitnya terdapat 53 titik lokasi rekreasi menyelam.</p>
<p>Jenis ikan hias dengan berbagai bentuk dan warna menghuni Taman Laut Komodo, seperti Regal Angelfish, Checkerboard Wrasse And Masked Unicornfish, Acripora Corals, Gorgonian Fans and Sponges.</p>
<p>Berdasarkan penelitian The Nature Conservancy tercatat sedikitnya 200 jenis karang keras, dengan 1.000 jenis ikan yang tinggal disini. Jarak pandang (visibility) 5-30 meter.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Nusa Tenggara</strong></p>
<p><strong>18. Halmahera</strong></p>
<p>Surga lokasi menyelam banyak terdapat di Halmahera Utara. Terdapat sebanyak 49 titik selam yang tersebar di beberapa wilayah seperti di perairan Pulau Doi-Loloda Utara, Pulau Morotai, gugusan pulau-pulau kecil di depan Tobelo sampai ke Galela.</p>
<p>Terumbu karang dengan berbagai jenis dan warna dapat dijumpai di setiap dive site. Jenis-jenis seperti soft coral, hard coral, gorgonion, sea fun berpadu warna dengan aneka jenis ikan hias seperti anemone fish, surgeon fish, unicorn fish, dan angel fish membentuk sebuah lukisan hidup yang menawan. (Visibility) 15-30 meter</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Maluku Utara</strong></p>
<p><strong>19. Kepualauan Raja Ampat</strong></p>
<p>Kepulauan Raja Ampat nirwana bawah air impian para penyelam, kawasan ini digadang-gadang sebagai yang terbaik di dunia. Alamnya masih terjaga dengan baik. Posisinya di kawasan segitiga terumbu karang, tepat pada pusat keragaman terumbu karang dunia, Kepulauan Raja Ampat menjadi kawasan yang paling kaya keragaman hayatinya. Jenis karang yang hidup disini mencapai 75 persen pesies karang dunia.</p>
<p>Dengan kondisi kekayaan karang yang dimiliki, Raja Ampat juga menjadi kawasan taman laut yang sangat kaya dengan jenis ikannya. Diperkirakan jumlah keseluruhan jenis ikan di daerah ini mencapai jumlah 1.074.  Pentapodus numberii, adalah salah satu spesies ikan baru yang ditemukan dikawasan ini pada April 2006. jarak pandang (visibility) 10-30 meter</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Papua Barat</strong></p>
<p><strong>20. Pemuteran</strong></p>
<p>Satu lagi lokasi menyelam di Bali Utara tepatnya di Desa, Kecamatan Gerokgak. Sebelumnya kondisi terumbu karang di pemuteran rusak parah akibat banyaknya aktifitas menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak.</p>
<p>Namun sejak tahun 2000 masyarakat setempat dengan para pemilik resor dan dive center kembali menkonservasi terumbu karang dengan menggunakan teknologi biorock. Upaya ini berjalan dengan baik, kini warna-warni terumbu karang sudah dapat kembali dinikmati. Ikan-ikan yang cantik pun sudah kembali berlarian diantara karang-karang yang tak kalah lucu.</p>
<p>Lokasi:<br />
<strong>Bali</strong></p>
<p>Sumber: <strong>Majalah Travel Club</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/16/20-keindahan-bawah-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wisata Selat Sunda: Dari Pemandangan Pantai hingga Petilasan Gubernur Jenderal Belanda</title>
		<link>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/16/wisata-selat-sunda-dari-pemandangan-pantai-hingga-petilasan-gubernur-jenderal-belanda/</link>
		<comments>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/16/wisata-selat-sunda-dari-pemandangan-pantai-hingga-petilasan-gubernur-jenderal-belanda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 00:43:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EnJ</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.potlot-adventure.com/?p=2628</guid>
		<description><![CDATA[BANTEN – Daerah Anyer-Carita-Labuan, di sebelah barat Provinsi Banten yang pernah musnah dihantam tsunami saat Gunung Krakatau meletus tahun 1883, kini menjadi daerah wisata pantai nan elok. Pantainya yang landai dengan pasir putih menghampar bak permadani adalah pemandangan yang pantas dinikmati di saat matahari terbit atau terbenam. Tidak heran, pesona alam di Selat Sunda ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignright size-full wp-image-2629" title="Wisata Selat Sunda" src="http://www.potlot-adventure.com/wp-content/uploads/2010/07/Wisata-Selat-Sunda.jpg" alt="" width="225" height="149" />BANTEN</strong> – Daerah Anyer-Carita-Labuan, di sebelah barat Provinsi Banten yang pernah musnah dihantam tsunami saat Gunung Krakatau meletus tahun 1883, kini menjadi daerah wisata pantai nan elok. Pantainya yang landai dengan pasir putih menghampar bak permadani adalah pemandangan yang pantas dinikmati di saat matahari terbit atau terbenam.</p>
<p>Tidak heran, pesona alam di Selat Sunda ini menarik pemilik uang untuk mendirikan tempat-tempat penginapan dengan sebutan hotel, cottage, resort, rumah makan dan sebagainya yang bertebaran sepanjang pantai itu. Sebut saja hotel berbintang mulai dari Sol Elite Marbella, Mambruk, Lippo, Patra Jasa, Sang Hyang dan sederet nama lainnya.<br />
Sedangkan cottage-cottage pun bertumbuhan bak jamur di musim hujan, dan terkesan menyembunyikan diri dengan membangun tembok-tembok yang tinggi. Para pengunjung cottage langsung masuk ke area itu dengan kendaraan. Tak banyak aktivitas mereka yang bisa dilihat dari luar. Tembok tinggi memang telah menutupi mereka, dengan alasan menjaga kegiatan pribadi.<br />
Bahkan pemilik uang membeli tanah-tanah terbuka di pinggir pantai, kemudian dikelola menjadi tempat wisata milik pribadi yang memungut uang bagi pengunjungnya. Ada nama Objek Wisata Marina, Pasauran Indah, Cinangka Beach, Carita Beach dan sebagainya. Fasilitas yang disediakan pengelola objek wisata itu sederhana, di antaranya MCK (mandi, cuci, kakus), bangunan-bangunan dari kayu untuk lesehan dan warung-warung. Biasanya, pengelola juga menyediakan perahu atau alat-alat untuk berenang.<br />
Alhasil, daerah Anyer-Carita-Labuan yang secara administratif masuk Kabupaten Serang (Anyer) dan Pandeglang (Carita-Labuan) menjadi padat oleh para investor, terkesan wilayah ini sudah tak ada lagi ruang terbuka yang benar-benar milik publik. Nyaris pantai di Selat Sunda sudah dikuasai investor hingga ke bibir pantai, untuk mengeruk uang yang ada di kantung-kantung pengunjung.<br />
Terbukti, setiap akhir pekan pantai di Anyer-Carita-Labuan dipadati wisatawan dari berbagai daerah seperti Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan provinsi-provinsi lain. Jadi pemandangan biasa, jalur wisata ini menjadi macet, terutama dari arah Kota Cilegon di saat hari-hari libur. Sebab arus kendaraan ke daerah wisata ini seperti leher botol yang menyempit ketika memasuki jalan ke arah Anyer, selain badan jalan itu sendiri lebarnya hanya 12 meter.<br />
Padahal ada rute alternatif yang jarang disosialisasikan oleh pemerintah setempat. Rute itu antara lain Serang-Taktakan-Cinangka-Anyer atau Serang-Padarincang-Mancak-Cinangka-Anyer. Kedua rute ini menempuh daerah pegunungan dengan panorama khas. Misalnya, di Mancak terdapat Cagar Alam (CA) Rawadanau seluas 2.500 hektare yang merupakan rawa tropik pegunungan yang tinggal satu-satunya di dunia.<br />
Rute alternatif ini tidak serius didandani pemerintah setempat, menimbulkan kesan yang kurang sedap. Jalan sempit dan rusak di beberapa ruasnya. Jika malam, ruas jalan ini benar-benar gelap, sehingga menakutkan pengemudi kendaraan.<br />
<strong>Gunung dan Jalan</strong><br />
Selain panorama pantai, dua anak Gunung Krakatau di Selat Sunda adalah kekuatan alam yang menarik untuk dikunjungi. Meski gunung ini termasuk administratif Provinsi Lampung, gunung ini lebih mudah dijangkau dari Provinsi Banten. Daya tarik dua anak gunung ini selain kepulan asap akibat aktivitas gunung, juga munculnya kehidupan baru di badan gunung. Ini merupakan hal yang mendorong ilmuwan atau pemerhati lainnya untuk datang.<br />
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten berkerja sama dengan perusahaan pariwisata setiap tahun menggelar acara kunjungan ke anak Gunung Krakatau dengan menggunakan kapal fery (penyeberangan) berkapasitas lebih 1.000 orang. “Tujuannya untuk mempromosikan wisata di Selat Sunda. Dalam momen ini juga berlangsung transaksi antara perusahaan pariwisata dengan pengelola wisata dari dalam negeri maupun luar negeri. Tahun 2004 ada 15 negara yang mengirimkan pengusahanya,” kata Sulaeman Affandi, Kepala Disbudpar Banten kepada SH.<br />
Wisata di Anyer dan sekitarnya bukan hanya pantai. Mercusuar Anyer diyakini sebagai titik nol jalan Anyer (Banten)-Panarukan (Jawa Timur) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendles. Pembangunan jalan ini menelan korban ribuan pekerja paksa. Sayangnya, tak ada monumen atau prasasti untuk mengenang sejarah yang penuh darah itu.<br />
Sedangkan di Caringin, Kecamatan Labuan (Kabupaten Pandeglang) terdapat sebuah masjid yang didirikan sezaman dengan berdirinya Kerajaan Islam Banten. Corak dan gaya arsitekturnya hampir sama dengan Masjid Agung Banten di tengah reruntuhan Kerajaan Islam Banten di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang. Konon, masjid ini didirikan dalam waktu sehari seperti dongeng Sangkuriang-Dayang Sumbi di Tangkuban Perahu (Bandung) yang membangun kerajaan dalam sehari.<br />
Namun peristiwa terbesar justru tidak terekam di daerah ini, yaitu musnahnya kehidupan di Anyer dan sekitarnya ketika Gunung Krakatau meletus tahun 1883. Peristiwa luar biasa ini memusnahkan Kota Anyer yang berpenduduk di atas 50.000, disusul dengan wabah malaria yang hebat. Kehancuran kota ini akibat gelombang tsunami yang dahsyat. Petugas Mercusuar di Ujungkulon di zaman itu mencatat, gelombang air mencapai ratusan meter di atas permukaan laut.<br />
Kedahsyatan akibat letusan gunung ini sempat dipajang oleh pengelola Hotel Carita Beach yang berkebangsaan Jerman, berikut memajang foto dan karya Suku Baduy di Pegunungan Keundeung, Kabupaten Lebak. Hotel ini menggunakan bangunan khas Baduy. Setelah hotel ini dibeli oleh Grup Lippo dan mendirikan hotel modern, pajangan itu hilang.<br />
Meski begitu, pantai Anyer-Carita-Labuan dan kini melebar ke Tanjung Lesung memang tetap menarik untuk dikunjungi. Paling tidak, daerah ini menjadi pelepas kejenuhan bagi warga Kota Jakarta. (*)</p>
<p>Iman Nur Rosyadi &#8211; <strong>Sinar Harapan</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.potlot-adventure.com/2010/07/16/wisata-selat-sunda-dari-pemandangan-pantai-hingga-petilasan-gubernur-jenderal-belanda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
