Bandungan, “Puncak”-nya Semarang

Aneka bunga segar di Pasar Bandungan

Pulang ke Semarang bagi saya adalah hal biasa. Namun, libur Natal tahun lalu, saya mencoba me-refresh Semarang dan sekitarnya sebagai destinasi liburan, tak sekadar pulang ke rumah orangtua.

Tempat pertama yang dituju adalah Lawang Sewu. Gedung yang pernah terbengkalai tak terawat itu, kali ini tampil dengan sejuta harapan. Kendati ditutup karena sedang perbaikan, tetapi rasa senang melingkupi. Sebab, siapa pun sempat khawatir, gedung bersejarah ini akan rusak tak terawat, untuk selanjutnya dipugar seluruhnya hingga tak menyisakan bentuk aslinya, seperti halnya beberapa gedung di kawasan Kota Lama Semarang, yang sempat musnah tanpa perhatian pemda setempat. Beruntung, kesadaran akan sejarah itu akhirnya timbul, sehingga beberapa bangunan kuno bersejarah dijadikan cagar budaya, seperti halnya Lawang Sewu. Perbaikan gedung berpintu seribu itu, karena gedung yang sering dijadikan lokasi syuting film horor itu akan dijadikan kantor PT Kereta Api Indonesia, Museum Kereta Api, dan kantor biro perjalanan. Dulunya, gedung itu memang menjadi kantor perusahaan kereta api, pada zaman penjajahan, Belanda juga menduduki Kota Semarang, dengan nama gedung Wilhelmina Plein.

Gedung Lawang Sewu, Semarang

Sebuah lokomotif tua pun, sudah menghiasi halaman Lawang Sewu. Sementara itu, yang sangat menggembirakan, dinding gedung sudah cling putih bersih dicat ulang putih, beberapa kusen pintu juga sudah dicat ulang. Sementara itu, lukisan kaca patri warna-warni, yang sejak gedung dibangun pada tahun 1904, juga telah bersih dan semakin indah terlihat. Lantai gedung pun sudah dibersihkan. Beberapa plafon yang rusak pun sudah diganti baru. Singkat kata, Lawang Sewu, bersiap dihuni lagi.

Dari Lawang Sewu, tujuan berikutnya adalah replika kapal Laksamana Cheng Ho, saudagar asal Tiongkok yang mengembara hingga ke Semarang. Replika kapal ini terletak di Jalan Gang Baru. Di jalan ini terdapat lumpia Semarang yang juga kesohor kelezatannya. Orang biasa menyebutnya sebagai Loenpia Gang Baru. Pilihan memakannya, bisa digoreng, bisa tidak. Isian lumpia, berupa irisan rebung muda, ayam, telur, dan udang. Isian ini dimasak dengan bumbu khas yang rasanya gurih dengan sensasi manis, untuk kemudian dibungkus dengan kulit lumpia yang padat lentur dan tipis, dan dimakan dengan dibumbui saus tepung tapioka, acar mentimun, cabai rawit, dan daun bawang.

Replika kapal Laksamana Cheng Ho

Kota Semarang, dari dulu memetakan wisata kuliner yang patut dicoba dan selalu mengundang penasaran. Selain lumpia yang sekarang juga tampil dalam konsep cepat saji dan ala kafe, beberapa penganan legendaris lainnya juga layak dicoba, selain bandeng duri lunak yang dimasak berbagai racikan, tahu gimbal, dan kue moho yang sekarang semakin susah didapat. Berwisata tanpa makan-makan, pastinya tidak asyik.

“Puncak”-nya Semarang

Destinasi berikutnya adalah, kawasan wisata Kecamatan Bandungan yang terletak di Kabupaten Semarang. Kawasan wisata ini bisa disebut, “Puncak”-nya Semarang, karena orang berwisata ke Kecamatan Bandungan memang untuk menikmati udara sejuk nan segar, dan jauh dari keramaian kota.

Lumpia goreng dan basah.

Terletak sekitar 20 kilometer dari Jalan Raya Bawen, kawasan wisata Bandungan, sangat mudah dijangkau. Hanya 50 menit dari pusat Kota Semarang. Sementara itu, dari kawasan atas Kota Semarang, tempat orangtua saya, jarak tempuh hanya 30 menit. Titik-titik kemacetan hanya terdapat di jalur Ungaran-Bawen karena terdapat beberapa pabrik besar, seperti Nissin, Jamu Jago, Coca Cola dan sebagainya. Jadi, bila hendak menuju kawasan wisata ini, pastikan bukan di jam-jam pekerja pabrik.

Kawasan wisata Bandungan, sampai sekarang masih menjadi tujuan untuk melepas penat dan mencari kesegaran. Selain itu, Kecamatan Bandungan juga merupakan sentra bunga, yang siap dipasok ke beberapa kota. Anda harus pagi-pagi berada di Pasar Bandungan yang tak jauh dari lokasi hotel-hotel di kawasan tersebut, bila hendak membeli bunga aneka jenis dan warna, dengan harga murah. Ada lili, casablanca, aster, mawar, sedap malam, dan sebagainya. Semuanya segar-segar karena dipetik dari kebun yang tak jauh dari situ. Senang rasanya berada di tengah bunga-bunga segar beraneka warna, dan wangi, sembari menghirup udara sejuk segar. Hanya saja, bila masih pagi, udaranya masih sangat dingin, rata-rata sekitar 20 derajat celsius.

Akan tetapi, ada banyak penjual makanan hangat dan panas yang tersedia di pasar itu yang bisa mengusir hawa dingin, yang memerangkap Anda. Dari aneka minuman hangat, tempe mendoan, dan tahu goreng, juga bubur ayam dan satai ayam juga kambing, semuanya tersedia pada pagi hari.

Sementara itu, bila Anda ingin berbelanja buah, di pasar ini juga tersedia buah-buahan yang segar, terutama hasil bumi setempat. Desember lalu, Pasar Bandungan dipenuhi buah lengkeng. Jangan salah, itu semua lengkeng lokal, bukan impor dari Thailand. Kecamatan Bandungan, yang lokasinya dekat dengan Desa Jambu Ambarawa memang penghasil lengkeng lokal.

Dulu, lengkeng lokal ini bentuk buahnya sangat kecil dengan daging tipis, namun dengan rasa manis nan kuat. Beruntung, sekarang sudah dikembangkan jenis lengkeng lokal yang daging buahnya mulai menebal dan buahnya juga sudah lebih besar dari sebelumnya, dengan rasa manis yang tak berubah. Sebagai kawasan wisata, selain menyediakan hotel dengan aneka fasilitas, kawasan ini juga memberikan layanan naik kuda keliling dan naik andong, untuk sekadar melihat pemandangan alam.

Tahu Bandungan

Desember tahun lalu, tampaknya menjadi reuni menyenangkan bagi ayah saya, mantan manajer umum di Hotel Nugraha Wisata Bandungan, dan beberapa karyawan di situ yang masih tetap sama, setelah lebih dari sepuluh tahun. Maklum, hotel tersebut memang merekrut karyawan dari penduduk setempat.

Bukan tanpa alasan, hotel tersebut menjadi tujuan liburan. Selain bersih, memiliki kolam renang air hangat, juga lokasinya yang tepat di depan pabrik tahu Serasi, tahu khas yang semua pencinta kuliner menyebutnya sebagai Tahu Bandungan. Sekarang, aneka penjual tahu bisa ditemui di sepanjang jalan, tetapi, teksturnya berbeda dengan Tahu Serasi. Bila Anda ingin penganan murah meriah, sementara penjual Tahu Serasi, belum membuka toko dan pabriknya, Anda bisa menunggu dengan mencicip penganan yang dijual sepanjang jalan kawasan wisata Bandungan. Ada tahu dan tempe yang siap digoreng begitu Anda pesan. [Suara Pembaruan/S Nuke Ernawati]

2 thoughts on “Bandungan, “Puncak”-nya Semarang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.