Batik Pekalongan, dari Pasar, Akademi, sampai Museum

Museum Batik Pekalongan. [Foto-foto: Pembaruan/Roso Setyono]

Seorang wanita sedang memeragakan cara membatik di Museum Batik Pekalongan.

Sejak dahulu, Kota Pekalongan di Jawa Tengah dikenal sebagai Kota Batik. Batik di kota ini diproduksi ketika masih sebagai kerajinan tangan yang dilakukan secara perorangan di rumah-rumah penduduk, hingga seperti sekarang ini ketika diproduksi secara massal dengan mesin. Tak heran bila sasanti (semboyan kota) seperti yang dituangkan dalam Perda Kota Pekalongan No 5 Tahun 1992 antara lain berbunyi, “Pekalongan Kota Batik mewujudkan tatanan masyarakat dan kota serta lingkungan yang Bersih, Aman, Tertib, Indah dan Komunikatif (Batik).”

Memang bagi banyak orang awam soal batik selalu berpandangan, Pekalongan adalah produsen batik dengan kualitas dan harga yang rendah. Sedangkan batik kualitas tinggi dengan harga mahal, diproduksi di Solo. Itu jelas tidak betul. Coba ditelusuri, batik yang diproduksi di luar Pekalongan, pasti pekerja utamanya adalah orang Pekalongan. Bahkan tak sedikit ahli batik yang yang pernah belajar membatik di Pekalongan. “Semua itu asalnya dari Pekalongan,” kata Wali Kota Pekalongan dr HM Basyir Ahmad dalam wawancaranya dengan Pembaruan di Pekalongan, baru-baru ini.

Di Pekalongan bahkan ada Akademi Batik. Toko yang menjual bahan baku dan alat-alat produksi batik, baik dalam bentuk eceran maupun partai besar, juga tersedia. Catatan lain, dari 270.000 jiwa penduduk Kota Pekalongan, sekitar 43.000 orang bekerja dalam industri batik. Bila pekerja tersebut menghidupi lima orang, berarti sekitar 200.000 orang yang hidup dari industri batik.

Sayangnya industri batik di Pekalongan sedang kekurangan modal untuk membeli bahan baku, untuk produksi dan memperluas pasar. Di Pekalongan memang ada 7 koperasi batik, namun sebagian besar tidak aktif lagi. Bahkan ada yang menjual atau menyewakan aset yang berupa lahan dan gedung yang dimiliki. Koperasi Pengusaha Batik Setono (KPBS) yang berdiri tahun 1941, mengalami hal yang serupa dengan koperasi batik lainnya. Dari 291 pengusaha anggotanya, hanya 20 persen saja yang aktif memproduksi batik. Lainnya berusaha di bidang lain.

Tetapi mereka ini masih memiliki saham di KPBS, kata Ketua KPBS Mirza Luthfi Mufti, sehingga mereka masih mendapatkan SHU (sisa hasil usaha). Apalagi KPBS memiliki lahan seluas 5 hektare yang terletak di kawasan Setono di jalan raya Pantura di kota Pekalongan. Sebagian di antaranya menjadi pasar grosir batik dengan 260 kios. Semuanya sudah terisi dengan omset sekitar Rp 1 miliar perhari di hari-hari biasa. Kalau hari libur, apalagi di saat Lebaran, omzetnya naik tajam karena banyaknya pemudik dan wisatawan belanja di sini.

Pasar grosir inilah yang menjadi pusat belanja kota Pekalongan. Di sini ada ATM, ada pula bank. Hanya saja di Pekalongan kekurangan hotel. Kami tawarkan kepada investor untuk mengembangkan lahan KPBS menjadi hotel bintang tiga. Nantinya di Pasar Grosir ini juga dikembangkan menjadi pusat oleh-oleh khas Pekalongan,” ujar Mirza Luthfi Mufti.

Di tempat itu, direncanakan akan dibangun pula rumah makan yang menghidangkan makanan khas Pekalongan seperti nasi megono, taoto (soto dengan bumbu taoco), garang asem, minuman jahe alang-alang, dan gulai kambing kacang hijau. Rencana itu didasarkan kenyataan bahwa sampai saat ini di Pekalongan tidak ada rumah makan yang cukup memadai yang menyajikan hidangan tersebut.

Program IDP

Beruntung bagi Pekalongan, karena tahun ini dijadikan satu dari lima kota di Indonesia dalam program Indonesia Design Power (IDP). Program ini dimulai dari Pekalongan yang menampilkan unggulannya, tak lain dan tak bukan dari batik. Pertama, kegiatan city branding pada Maret 2007. Di sini akan dibangun citra bahwa semua batik itu asal-usulnya dari Pekalongan. Produksi batik Pekalongan dipasarkan ke mana-mana. Bila ada batik yang diproduksi di daerah lain, bisa dipastikan pekerjanya berasal dari Pekalongan atau pernah belajar dari perajin Pekalongan.

Kedua, penyelenggaraan Festival Batik pada Juni 2007. Di sini akan diadakan pertemuan masyarakat batik. Bahkan akan didatangkan desainer dari Eropa untuk menarik perhatian mereka pada batik-batik daerah itu. Dalam acara ini juga akan dilibatkan pengusaha dan pedagang kecil batik. Di sini akan dipromosikan bahwa di Pekalongan, masyarakat bisa membeli batik secara eceran di pasar grosir. Ketiga, kegiatan Trade Fair yang direncanakan juga diadakan pada Juni 2007 untuk lebih mempromosikan batik Pekalongan. Keempat, upaya untuk membuktikan bahwa batik ini merupakan barang seni dan komoditas perdagangan. Kelima, pembuatan master plan untuk menata perekonomian di kawasan Pekalongan sehingga objek wisata dan potensi investasi ini lebih mudah diakses oleh masyarakat.

Memang, sebenarnya tidak sulit untuk datang ke Pekalongan.Bisa ditempuh melalui jalur darat Pantura Selain menggunakan bus atau kendaraan pribadi, wisatawan dapat pula menggunakan kereta api (KA). Semua KA eksekutif baik dari Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bandung, pasti berhenti di Stasiun Pekalongan. Hanya saja bila menggunakan pesawat terbang, harus turun di Bandara Achmad Yani Semarang, dilanjutkan jalan darat 90 km ke arah barat.

Pasar Grosir Batik Setono yang merupakan pusat wisata belanja Kota Pekalongan, dipenuhi ratusan kios yang menjual beragam jenis batik.

Belajar Sejarah

Selain berbelanja di pasar grosir, wisatawan juga dapat belajar sejarah dan segala hal yang berkaitan dengan batik di kota itu. Di Pekalongan telah didirikan Museum Batik yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 12 Juli 2006. Di museum ini dipamerkan peralatan batik tradisional seperti canting dan kompor, maupun alat produksi batik modern.

Dipamerkan pula bahan-bahan baku, bahan penolong alami (kayu, kulit kayu, akar, daun, malam, parafin, getah damar mata kucing, lilin tawon) maupun zat penolong berupa pewarna sintetis dan kimia. Terdapat pula peragaan seseorang sedang membuat batik tradisional.

Di museum itu juga terdapat ruangan yang memamerkan koleksi batik yang diproduksi dari daerah lain maupun yang sudah terpengaruh luar negeri. Dari data di museum itu, terungkap bahwa diduga batik sudah muncul pada abad ke-7 Masehi dengan masuknya pengaruh kebudayaan Hindu ke Pulau Jawa. Ini bisa dilihat dari kerajaan-kerajaan di Jawa yang berlatarbelakang Hindu seperti Mataram Kuno. Motif batiknya simetris. Di Pekalongan sendiri, masih ada yang memproduksi batik dengan motif simetris. Tetapi itu sudah ke daerah pinggiran kota Pekalongan seperti Ulujami, Comal, Wonopringgo, dan Karanggondang.

Sedangkan yang di Pekalongan sendiri , motif batiknya sudah mengikuti pengaruh budaya asing lainnya. Maklum Pekalongan memiliki pelabuhan yang cukup besar sehingga bangsa lain dengan mudah datang ke Pekalongan. Seperti bangsa Arab, India, Belanda, Jepang, Tiongkok.

Sedangkan di pesisir atau di pantai utara Jawa (Pantura), motif batiknya lebih kotemporer dengan menggambarkan keadaan lingkungan di sekitarnya seperti gambar tumbuh-tumbuhan dan binatang. “Ini batik yang dipengaruhi oleh orang-orang Tionghoa,” kata Diana Budiman, seorang petugas di Museum Batik Pekalongan.

Di Tiongkok, tutur Diana, semula batik hanya bentuk kain panjang untuk upacara sembahyang sebagai sembah sujud kepada para dewa. Namun di Pekalongan, Batik Tiongkok dipengaruhi pula oleh kebudayaan Indo-Belanda.Sekarang, batik semacam itu masih diproduksi di daerah selatan kota Pekalongan, yaitu di Kedungwuni. Batik ini hanya diproduksi satu macam saja dan hanya satu helai. Tidak diproduksi dalam jumlah banyak dengan motif yang sama.

Di museum itu, kita juga dapat melihat batik motif Belanda, berwarna biru pesta. Motifnya berisikan dongeng-dongeng dari Eropa seperti cerita Cinderella.. Dulu seorang pembatik Belanda, Elisa Van Sulen, di Pekalongan pada sekitar 1850. Batik Belanda semacam itu yang oleh orang setempat disebut motif buketan ssangat digemari orang Belanda. Bila ke Pekalongan, wisatawan asal Belanda mencari batik motif ini.

Di museum tersebut juga ada koleksi batik tiga negeri dengan warna merah dari daerah Lasem, Jawa Timur. Warna merah diperoleh dari akar pohon mengkudu (pace). Warna biru dari Pekalongan. Warna biru diperoleh dari daun nilai. Warna cokelat dari Solo yang warnanya diambil dari kayu tegeran

Ada pula batik Jepang. Satu kain dibuat dua motif dengan dua warna yang berbeda sehingga batik ini disebut “pagi sore”. Warna dan motif kain di bagian depan dan di belakangnya berbeda. Bisa dipakai di pagi hari. Bila dibalik, bisa dipakai untuk sore hari. Masih banyak lagi hal lain yang bisa diamati dan dipelajari di Museum Batik Pekalongan. Termasuk data yang menyatakan bahwa pada tahun 1950, Presiden Soekarno sudah mencetuskan adanya batik Indonesia. Kita memang harus terus membanggakan batik sebagai salah satu kekayaan seni budaya Indonesia. Bahkan bila perlu, pada suatu hari harus dicanangkan”Hari Batik Nasional”. [Pembaruan/Roso Setyono]

One thought on “Batik Pekalongan, dari Pasar, Akademi, sampai Museum”

Comments are closed.