Home » Banten

Berkunjung ke Kampung Badui

21 January 2009 Banten 11,921 views One CommentPrint This Post PRINTEmail This Post EMAIL

suku-baduiMenyebut kata Badui mungkin orang langsung membayangkan sebuah suku masyarakat terpencil yang tinggal di pedesaan udik dan terisolasi dari berbagai perkembangan dunia yang semakin hari semakin mengglobal. Suku Badui yang terletak di wilayah selatan Provinsi Banten itu merupakan suatu kesatuan masyarakat yang terikat oleh kesamaan budaya, bahasa Sunda Badui, hidup berladang atau bercocok tanam, dan memegang teguh agama Sunda Wiwitan. Orang Badui memiliki model rumah panggung yang khas beratapkan daun lontar atau alang-alang dan berdindingkan anyaman bambu.

Suku Badui memiliki karakteristik kehidupan unik yang tidak pernah berubah sejak beberapa abad yang lalu, jauh sebelum agama Hindu dan Islam masuk ke wilayahnya.

Menariknya, pola hidup masyarakat Badui sampai saat ini tidak pernah berubah karena mereka ingin mempertahankan kekhasan mereka sebagai masyarakat yang unik, lain daripada masyarakat lain. Karena itu, Badui telah dijadikan salah satu aset wisata Banten, bahkan aset nasional yang perlu dipertahankan dan dipelihara.

Kampung Badui persisnya terletak di pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Wilayah tempat Suku Badui tinggal seluas 5132 hektare telah ditetapkan sebagai daerah kekuasaan adat yang harus dilindungi, pada bagian utara berbatasan dengan Leuwidamar dan di selatan berbatasan dengan Malingping.

Dua Kelompok

Suku Badui terdiri atas dua kelompok, yakni orang Badui Dalam dan orang Badui Luar. Badui Dalam terdiri dari tiga kampung yakni Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawarna. Sedangkan Badui Luar terdiri dari 51 kampung. Penduduk Badui Dalam sebanyak 600 jiwa sedangkan Badui Luar sebanyak 7.140 jiwa, yang dikelompokkan sebagai bagian dari Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.

Jarak antara Badui Luar dan Badui Dalam relatif jauh dan ditempuh dengan jalan kaki melewati hutan rimba dan pegunungan. Kalau orang Badui sendiri untuk bisa sampai ke Badui Dalam hanya memerlukan waktu empat jam. Sementara kalau orang non Badui selama kurang lebih delapan jam.

Penggunaan istilah orang Badui atau orang Kanekes, tidak lebih dari upaya orang-orang luar Badui memberi nama kepada kelompok masyarakat yang memang tinggal di sekitar Gunung Badui dan Sungai Cibadui itu. Untuk sebutan orang Kanekes, lebih disebabkan adanya Desa Kanekes yang membawahi seluruh perkampungan masyarakat Badui. Perlu diingat bahwa orang Badui bisa disebut orang Kanekes, namun orang Kanekes belum tentu orang Badui karena di Desa Kanekes juga terdapat perkampungan masyarakat non-Badui.

Bagi masyarakat Badui sendiri, tidak dikenal istilah orang Badui, orang Kanekes, Badui Dalam maupun Badui Luar. Masyarakat di sana menggunakan istilah urang tonggoh atau urang girang atau urang tangtu untuk menyebutkan Badui Dalam. Sedang untuk Badui Luar, mereka menggunakan istilah urang landeuh atau urang panamping. Istilah tersebut hingga saat ini masih dipergunakan. Orang Badui tidak akan menyebutkan dirinya dari Badui atau dari Kanekes. Mereka akan menyebutkan nama kampungnya, seperti urang Kaduketug untuk masyarakat Badui yang berasal dari Kampung Kaduketug atau urang Cibeo bagi yang berasal dari kampung Cibeo.

Pola hidup yang dijalani dan dilakoni orang Badui memang sangat menarik untuk dipelajari. Hidup mereka memang sangat tradisional. Hal ini dapat kita lihat dari cara berpakaian mereka yang sederhana. Pakaian yang mereka gunakan memang sangat khas dan kita bisa langsung membedakan orang Badui Luar dari orang Badui Dalam. Orang Badui Luar biasanya memakai ikat kepala hitam, baju hitam, dan celana hitam. Sedangkan orang Badui Dalam, sering dan wajib aturannya memakai kain ikat kepala berwarna putih, baju putih, dan celana putih.

Sementara mata pencaharian, baik Badui Dalam maupun Badui Luar pada umumnya adalah bercocok tanam atau berladang dengan sistem berpindah-pindah. Selain itu, mereka juga memiliki kerajinan tangan seperti menenun dengan model tenunan sarung dan selendang khas Badui. Kesamaan lain antara Badui Dalam dan Badui Luar seperti larangan untuk memelihara hewan berkaki empat kecuali anjing karena digunakan untuk berburu. Hewan berkaki empat seperti sapi, kambing, kerbau, kuda, dan babi menurut mereka merupakan binatang yang merusak tanaman.

Perbedaannya, Badui Dalam tidak pernah naik kendaraan kalau bepergian. Karena itu setiap kali ke Jakarta atau ke mana saja mereka harus berjalan kaki dan tidak menggunakan alas kaki, sandal atau sepatu. Sedangkan orang Badui Luar sudah mulai terbuka terhadap perkembangan seperti menggunakan alas kaki dan bisa naik kendaraan kalau bepergian. Orang Badui Luar bisa berobat ke puskesmas kalau sakit, sementara orang Badui Dalam dilarang. Mereka menggunakan dukun kampung untuk menyembuhkan sakit. Pola rumah tinggal yang mereka gunakan juga sudah sedikit berbeda. Badui Dalam sama sekali dilarang untuk menggunakan paku dalam mendirikan rumah. Mereka hanya menggunakan tali untuk mengikat tiang rumah dan kerangka rumah lainnya. Sementara Badui Luar sudah bisa menggunakan paku untuk membuat rumah.

Harmonis

Kendati ada banyak hal yang berbeda, kehidupan orang Badui sangat harmonis dan penuh dengan kedamaian. Pola hidup gotong royong yang mereka terapkan membuat mereka hidup rukun. Mereka tampaknya sangat ramah, berbudaya, beradab, bahkan terhadap para wisatawan pun mereka memperlihatkan sikap ramah. Dalam sejarahnya belum ada orang Badui yang saling perang atau melakukan tindakan kriminal. Kenyataannya memang demikian, sesama orang Badui belum pernah terjadi saling membunuh, saling menipu, apalagi dengan orang luar Badui.

Kebersamaan mereka sangatlah kuat. Mereka mengadakan upacara adat secara bersamaan, menanam padi dan panen bersamaan, serta banyak kegiatan lain yang memang sudah terjadwal untuk dilaksanakan secara serempak.

Suku Badui mempunyai sistem pemerintahan yang sederhana namun efektif. Pusat pemerintahan dilakukan dari tiga kampung di Badui Dalam. Kampung Cikeusik, kampung paling selatan di Badui merupakan pusat pemerintahan yang mengurusi soal keagamaan dan adat istiadat. Kampung Cikartawana, (ci = air, karta = kota, wana = hutan), merupakan pusat pemerintahan yang mengurusi soal pertanian dan kesejahteraan masyarakat Badui. Terakhir adalah Kampung Cibeo yang letak geografisnya berada di tengah-tengah daerah Badui, menjadi pusat pemerintahan yang mengurusi bidang keamanan wilayah dan intelijen. Masing-masing ketiga kampung ini dipimpin oleh seorang kepala kampung yang diberi nama Puun

Perubahan

Sejak dibukanya terminal Ciboleger, Desa Kanekes sekitar tahun 1992 yang menghubungkan daerah Badui dengan daerah luar, membawa dampak yang tidak sedikit. Lancarnya transportasi ke Ciboleger membuat Ciboleger menjadi pasar raya bagi masyarakat Badui. Dari mulai gayung plastik, pakaian, sepatu, sabun, shampo, alat tulis menulis hingga makanan dan minuman seperti coca cola, teh botol hingga chiki dan mi instan, banyak tersedia di Ciboleger. Ditambah dengan banyaknya wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang dengan segala perilaku serta kebiasaan berbeda dengan masyarakat Badui.

Hal tersebut tentunya membawa perubahan dalam pola hidup masyarakat Badui, terutama Badui Luar. Di setiap kampung kita sudah biasa menjumpai paling tidak satu buah warung. Tidak heran bila saat ini di Badui Luar banyak orang yang sudah memakai sandal jepit, menggunakan kantong plastik, makan mi instan dengan sambal botolan, mencuci perabotan menggunakan sabun colek, dan para wanitanya membersihkan diri di sungai dengan sabun wangi serta shampo saset.

Kita tidak kesulitan meminta kertas dan ballpoin untuk menulis kepada penduduk Badui Luar, bahkan ada beberapa orang Badui Luar yang telah memiliki kartu nama sebagai media promosi diri dan daerahnya. Namun mereka tetap tidak mau merubah secara drastis adat serta budaya yang telah ada dengan segala konsekuensinya.

Kondisi tersebut tidak akan kita jumpai di Badui Dalam yang hingga saat ini tetap memegang teguh adat istiadat, budaya serta kebiasaan para pendahulunya. Kita boleh merasa lega karena di Badui Dalam masih belum tergoyahkan oleh kemajuan teknologi dan zaman.

Dengan terbukanya transportasi menuju wilayah Badui, semakin banyak wisatawan datang berkunjung ke daerah ini. Sembilan puluh lima persen wisatawan yang berkunjung adalah wisatawan lokal, selebihnya merupakan wisatawan mancanegara.

Minimnya brosur dan pemberitaan tentang Badui membuat calon wisatawan luar negeri tidak sempat melirik kawasan wisata ini. Agar wisatawan dapat menikmati perjalanan sambil mendapat penjelasan yang benar tentang Badui dan mengingat kondisi medan yang lumayan berat serta banyaknya larangan atau pamali di wilayah Badui, maka sudah seharusnya mereka membutuhkan jasa pramuwisata atau guide sebagai pemandu serta jasa porter sebagai pembawa barang.

Be Sociable, Share!


Artikel Terkait:

  • Kampung Bali Giri Jati
    [ Saturday, 22 Aug 2009 - 21 : 22 | 0 comments | 4330 views ]
    Kampung Bali Giri Jati 1 Kampung Bali Giri Jati terletak di Kecamatan Sijuk sekitar 27 Km dari Tanjungpandan. Kampung Bali adalah pemukiman transmigrasi asal Bali yang telah tinggal menetap di Belitung dan masih mempertahankan budaya dan identitasnya sebagai orang Bali meskipun mereka juga telah membaur...
  • Kampung Beting
    [ Friday, 13 Mar 2009 - 22 : 24 | 1 comments | 6666 views ]
    Kampung Beting Kampung Beting “Kampung Beting” adalah sebuah peradaban Kota Pontianak di masa lalu yang masih terjaga kelestariannya hingga kini. Kampung tersebut dibangun diatas sungai, sehingga sampan merupakan sarana penting yang digunakan untuk lalu lintas sehari-hari. Aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat juga...
  • Jembatan Akar Berumur 100 Tahun?
    [ Tuesday, 27 Mar 2012 - 7 : 51 | 0 comments | 1707 views ]
    SEBUAH jembatan akar yang diuperkirakan berumur sekitar 100 tahun di Sumatra Barat menjadi objek wisata yang unik untuk dikunjungi. Berbeda dengan jembatan akar lain yang dibangun menggunakan campuran bahan semen, jembatan akar ini secara keseluruhan dirajut dari akar pohon yang...
  • Semalam di Baduy Dalam
    [ Tuesday, 27 Oct 2009 - 8 : 04 | 0 comments | 8529 views ]
    baduy 1 Tak sembarang orang bisa bertandang di tengah orang Baduy Dalam. Hidup di tengah harmonisasi alam dan kebijakan tentang nilai luhur yang terus dijaga, seakan menjalar dalam nadi. Sebuah jembatan bambu dengan bentuknya yang unik, menyambut kedatangan setiap tamu yang mengunjungi Baduy...
  • Kawasan Wisata Kampung Pending
    [ Wednesday, 25 Mar 2009 - 11 : 55 | 6 comments | 12880 views ]
    kampung-pending Berwisata merupakan salah satu kebutuhan hidup, apalagi jika kita tinggal di perkotaan dengan suasana yang bisa membuat pikiran stres dan hati tak nyaman. Banyak pilihan tempat untuk berwisata, namun ’Wisata Cerdas’ yang ditawarkan Kampung PENDING dapat memberikan nuansa yang berbeda...


Error. Page cannot be displayed. Please contact your service provider for more details. (1)



One Comment »

  1. Assalamu alaikum WR Wb, Semoga perhatian pemerintah Kabupaten Lebak lebih, sehingga kehidupan saudara kita suku Badui lebih sejahtera tanpa harus mengganggu adat budaya mereka selama ini. Pengalaman saya melakukan pelayan umat disana,diperkampungan suku Badui, banyak sekali masalah masalah disana yang belum mendapat perhatian maksimal dari pemerintah kabupaten setempat. Seperti masalah kesehatan, pemberdayaan ekonomi pedesaan, promosi wisata budaya masyarakat badui ddl. Salam dari kami YAYASAN BULAN SABIT. Pelayanan umat meliputi : 1.Dakwah / Tausyiah. 2.Pemecahan masalah lahir dan batin/solusi problematika kejiwaan dengan metode Islami. 3.Santunan anak yatim piatu. 4.Search And Rescue/SAR(pencarian orang hilang). 5.Pelatihan bela diri dengan metode olah pernafasan. 6.Pengelolaan Baitul Maal, Zakat, Infak, Sadekah/ usha ekonomi syariah pedesaan. 7.Bedah/kajian/seminar buku buku Islam/kesehatan Isla. SekretariatPondok SDilaturohim : Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Derpok, Jawa Barat. Wassalamu alaiklum WR Wb. Pengasuh ( Ust Drs Sugeng Pri Al Basyah MA ). HP: 081399007728

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>