Pria berambut gondrong itu terlihat tenang saat duduk di atas papan selancarnya. Dia sengaja memilih untuk terombang- ambing oleh ombak, sekitar 300 meter dari bibir Pantai Batu Karas, Kabupaten Ciamis. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Pria yang akrab disapa Uping itu memang belum lama menceburkan dirinya ke air. Dia selektif memilih ombak yang bakal ditungganginya. Sesekali matanya dipicingkan ke arah laut lepas. Itu dilakukannya untuk menghalau pantulan sinar matahari yang datang dari permukaan air.

 Foto-foto: SP/Adi Marsiela - Beberapa peselancar bersantai di pinggir Pantai Batu Karas.

Seorang peselancar tengah melakukan manuver di atas ombak Pantai Batu Karas.

Tidak lama kemudian, sebuah gulungan air yang tingginya mencapai satu meter datang mengham- piri. Dengan sigap Uping membalikkan papan selancarnya ke arah pantai dan mulai mengayuhnya. Sayang, belum lagi Uping berada di depan ombak pilihannya, gulungan air laut itu sudah mulai pecah di sebelah kirinya. Dia pun mengurungkan niatnya dan kembali duduk menanti.

Selepas maghrib, Uping baru menjejakkan kakinya lagi di atas hamparan pasir cokelat yang melengkung dan menjad identitas dari Pantai Batu Karas. “Setiap libur saya datang ke sini,” ujar Uping yang usianya 34 tahun itu sembari terengah-engah seusai ber-main selancar.

Dia mengaku jatuh hati dengan pantai itu setelah kedatangannya pertama, 17 tahun silam. Menurutnya, suasana di pantai yang berjarak sekitar 30 kilometer sebelah barat Pantai Pangandaran ini sangat cocok untuknya. Selain sepi, ombak yang ada memang sesuai untuk belajar selancar. “Ramai itu baru sekitar lima tahun ke belakang,” ujarnya sembari mengganti celana dan kaus hitamnya yang basah.

Menariknya, lagi, tempat yang memang kalah pamor dibandingkan tetangganya, Pantai Pangandaran ini terbilang indah pemandangannya. Hamparan pasir cokelat yang melengkung melengkapi pesona batu karang yang ada di sisi kiri dan kanan pantai tersebut. Pantainya yang landai serta terbebas dari karang di bagian bawahnya membuat para peselancar senang bermain di sana.

Soleh (46), salah seorang penduduk asli Kampung Batu Karas, Desa Batu Karas, Kecamatan Cijulang menuturkan kegiatan selancar di sana diawali sekitar tahun 1972. Dia bisa dibilang orang pertama yang menggiatkan olahraga itu di Batu Karas.

Perkenalannya dengan David, seorang asing dari New Zealand membuat Soleh mulai belajar bermain selancar. Saat itu, kawasan Batu Karas masih dipenuhi oleh pohon pandan. “Saya cuma mengantar dia. Lalu diajari,” katanya.

Memasuki tahun 1980-an, sambung ayah dari dua anak ini, mulai ada penduduk lokal yang turut bermain selancar. Karena mulai banyak yang senang, akhirnya di tahun 1986, berdirilah Batu Karas Surfing Club. Soleh menjadi ketua pertamanya sampai tahun 2003 lalu. “Pantai di sini baik untuk yang baru belajar.”

Menyoal belajar selancar di Batu Karas, Uping mengamininya. Pasalnya, dari para peselancar lokal di sana juga dia bisa mengembangkan kemampuannya bermanuver di atas ombak.

Setiap datang ke sana, Ipung lebih sering menginap di Pangandaran. Apabila hendak main selancar di Batu Karas, dia akan menyewa motor atau menumpang ojek.

“Kalau mau ombak yang lebih besar, biasanya minta diantar ke Pantai Bulak Benda di Cimerak. Dari Batu Karas bisa ditempuh dengan perahu juga. Hanya saja, kalau di sini (Batu Karas) sudah besar, tidak perlu ke sana. Bahaya,” tuturnya.

Pantai Batu Karas, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, dengan pemandangannya yang indah.

Penginapan

Seiring dengan perkembangan olahraga tersebut, kawasan Batu Karas pun mulai berbenah diri. Tempat menginap mulai bermunculan satu demi satu, dari yang hanya rumah penduduk sampai kamar hotel dengan tipe cottage . Hingga saat ini, setidaknya ada tujuh buah penginapan di sana.

Soal kenyamanan, tidak perlu diragukan lagi. Meski tidak banyak jumlahnya, penginapan yang ada cukup murah harganya. Pelayannya pun tidak kalah, terlebih penginapan di sana mengedepankan suasana kekeluargaan dengan para tamunya.

Pantai Batu Karas secara geografis seperti teluk dan terlindung oleh adanya hamparan tebing di sisi kanannya.

Keheningan yang diwarnai suara deburan ombak di sana memang menjadi daya tarik wisata bagi mereka yang mendambakannya. Soleh pun sudah mempersiapkan dirinya untuk terbuka dengan kunjungan wisatawan asing, yang memang lebih banyak bermain selancar di Batu Karas.

Soleh memang menginginkan daerahnya berkembang menjadi sebuah kawasan wisata yang diminati selain Pangandaran. Hanya saja, sambungnya, harus teratur.

Kawasan ini memang bisa menjadi tempat liburan favorit, khususnya mereka yang gemar akan selancar. Bayangkan saja biaya peminjaman papan selancar satu harinya Rp 50 ribu, tanpa batas waktu. Jika Anda belum mahir, tinggal minta bantuan dari instruktur yang ada di sana. “Paling Rp 25 ribu saja biayanya,” ujar Soleh.

Jadi tunggu apalagi? Kalau Anda memang mau menikmati suasana pantai bisa dimulai dari Pantai Pangandaran dahulu, baru kemudian ke Batu Karas. Jangan salah, masih banyak tempat wisata lainnya di antara dua pantai itu.

Sebut saja Batu Hiu dan kawasan Green Canyon. Yang disebut terakhir itu adalah sebuah sungai yang di sisi kiri dan kanannya terdapat pemandangan alam yang menyejukkan mata. Apabila sudah sampai di ujung perjalanan perahu, kita juga bisa menikmati segarnya air sungai itu di sebuah kolam alam yang lengkap dengan stalaktit di bagian atasnya. Selamat berlibur ke Batu Karas. [SP/Adi Marsiela]