Category Archives: Banten

Menikmati Kesunyian Alam di Pulau Peucang

SANGAT pribadi dan jauh dari kehidupan modernisasi merupakan dua hal yang bisa diperoleh jika Anda mengunjungi Pulau Peucang, pulau tropis yang berada di kawasan warisan alam dunia (world heritage site) Taman Nasional Ujung Kulon, Selat Panaitan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Peucang kaya akan koleksi flora dan faunanya. Letak pulau yang ada di antara pertemuan samudra Indonesia dan peariran selat Sunda membuat kehidupan bawah lautnya memiliki aneka biota laut dan terumbu karang beragam.

Bagi Anda yang ingin melakukan ekowisata atau kegiatan wisata bahari sangatlah cocok memilih pulau kecil yang indah dan berpasir putih ini. Kata peucang berarti rusa, penamaan dikarenakan banyak dijumpai ratusan rusa hidup di hutan pulau peucang.

Tak perlu bingung mencari penginapan di Pulau Peucang. Tersedia fasilitas penyedia operator perjalanan setempat bernama Ujung Kulon Ecowisata yang akan mengorganisir pengunjung, baik perorangan atau kelompok, untuk mendapatkan penginapan.

Pilihan akomodasi yang tersedia di pulau antara lain 10 kamar Flora B dan 6 kamar Flora A dengan fasilitas teras pribadi dan ruangan utama. Kemudian ada kamar Fauna dengan 10 kamar standar dengan kipas angina yang terletak di antara hutan dan di pinggir pantai.

Penginapan dilengkapi pula dengan restoran yang menghadap ke pantai dan semenanjung Ujung Kulon. Wisatawan juga akan diajak para tim pemandu untuk berkeliling seluruh kawasan Ujung Kulon. (peucangisland.com/*/X-13)

Pantai Sawarna: Keindahan Tersembunyi di Banten

PANTAI Sawarna merupakan sebuah keindahan tersimpan di Provinsi Banten yang berada di desa pesisir dengan ragam objek wisata menarik. Sawarna merupakan pantai paling memukau dari lima pantai di Banten. Panjang pantai mencapai 65 km yang dihiasi dengan pasir putih, air laut biru yang jernih, serta barisan bukit hijau.

Para pecinta kegiatan berselancar dan surfing, kerap berdatangan ke kawasan pantai. Tak jarang pantai dikunjungi peselancar asing asal Amerika, Australia, Jepang dan Korea. Kondisi pantai masih terbilang asli dan jauh dari kata tercemar.

Tak hanya keindahan pantainya yang memikat, pengunjung berkesempatan pula menikmati wisata gua, seperti goa Lalay, Sikadir, Cimaul, Singalong dan Bukit Pasir Tangkil. Goa di Sawarna berupa gua karst (batu gamping) yang terbentuk dari masa Miosen awal.

Salah satu daya tarik Sawarna yang tak kalah unik yakni wilayah pesisir pantai yang menyatu dengan kisah misteri Nyai Roro Kidul serta eksploitasi batu bara di Bayah dan Lebak oleh penjajah asing.

Letak pantai berada di wilayah Kampung Gendol, Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Sekitar 150 km dari pusat kota Rangkasbitung. Sebelum menuju pantai, terlebih dahulu pengunjung melewati Desa Wisata Sawarna. (indonesia.travel/*/X-13)

Nuansa Asri di Pulau Cangkir

SEKITAR 35 Km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang, Pulau Cangkir berada. Nuansa pedesaan yang masih asri pun terasa di pulau yang terletak di Kecamatan Kronjo ini.

Menurut cerita warga setempat, di tepi laut Pulau Cangkir terdapat Makam Pangeran Cangkir yang dianggap kramat. Mungkin ini bisa menjadi tempat wisata berikutnya lantaran ke depan, kawasan pantai di pulau ini akan dikembangkan seluas 10 ha.

Tidak sulit berlibur ke Pulau Cangkir, karena saat ini sudah dibuatkan daratan yang menghubungkan pulau dengan wilayah Kronjo. Ini berbeda dengan kondisi sebelumnya, di mana pulau ini masih terpisah dari daratan.

Berbagai fasilitas pulau telah dilengkapi dengan jaringan telekomunikasi interlokal atau internasional (SLI), sarana air bersih dan jaringan listrik. Kondisi jalan menuju lokasi beraspal, terbentang menyusuri sungai sepanjang 4 Km. (wisatanesia.com/*/X-13)

Menyusuri Keindahan Pulau Umang

PULAU Umang terletak di selatan Taman Nasional Ujung Kulon, Provinsi Banten. Perjalanan menuju pulau itu tidaklah sulit. Dengan menggunakan perahu motor, Pulau Umang dapat ditempuh dalam 5 menit dari ujung terdekat Pulau Jawa. Perahu itu telah disediakan oleh pengelola Pulau Umang.

Pulau Umang menjanjikan banyak hal menarik untuk berlibur. Mulai dari pemandangan alam yang indah hingga petualangan di alam liar yang mendebarkan.

Setibanya di pulau ini, Anda langsung disuguhkan keindahan pemandangan pasir putih dan birunya laut. Saat itu, kepenatan berkendara selama 5 jam dari Jakarta pun seolah sirna.

Pulau itu juga menyediakan sejumlah resor atau vila untuk tempat bermalam. Setiap vila memiliki dua ruangan sama besar yang dihubungkan oleh sebuah pintu.
Selain memiliki ruang tidur dan ruang tamu, vila di Pulau Umang juga dilengkapi dengan kamar mandi ala perdesaan yang dilengkapi dengan hiasan dari tanah liat untuk memperkuat kesan alami. Pada lantai atas terdapat tempat tidur yang sangat romantis dengan bagian atas dari kaca sehingga kita dapat memandang bintang pada malam hari.

Pulau itu hanya seluas 5 hektare, namun fasilitas yang disediakan oleh pengelola dapat membuat siapa pun yang berkunjung ke sana nyaman. Mereka yang gemar menikmati keindahan pemandangan alam dapat berjalan-jalan mengitari pulau tersebut, bisa berjalan kaki maupun berperahu.

Sementara itu, bagi mereka yang gemar berpetualang ria, pengelola pulau ini menyediakan sejumlah peralatan olahraga air, seperti jet ski, banana boat, dan snorkeling.

Bagi mereka yang hobi berenang, pengelola juga menyediakan kolam renang yang berbatasan dengan pantai. Setelah puas berenang, pengunjung dapat menikmati pijatan gelembung air dalam sebuah jacuzzi. Masih belum puas, kita masih bisa bermalas-malasan dengan menikmati paket spa di sekitar pantai, yakni pijat dengan aromaterapi.

Aneka ikan

Bagi pecinta olehraga memancing, perairan di pulau ini memiliki beragam aneka ikan. Di dekat dermaga, Anda dapat melihat kumpulan ikan yang berkelompok. Ini dapat menjadi tempat bagi Anda yang mempunyai hobi memancing. Sedangkan bagi anak-anak, pengelola menyediakan arena bermain seperti ayunan, trombolin, dan permainan lainnya.

Anda juga dapat bersantai di gazebo yang terdapat di depan tiap-tiap suites tempat Anda menginap dan berada tepat di pantai. Tempat yang ideal untuk menikmati sunrise atau sunset.

Saat makan malam suasana romantis bisa Anda dapatkan bila ingin makan di tepi pantai sambil mendengar suara ombak. Atau bisa juga di dalam kafe sambil mendengarkan alunan lagu yang dilantunkan penyanyi.

Puas menikmati Pulau Umang, pengelola menyediakan sejumlah suvenir yang bisa dijadikan buah tangan. Sejumlah toko menjual berbagai suvenir berupa kaus atau topi yang berlogo Pulau Umang. Ada juga pajangan dari kerang dan gantungan kunci. Harga yang ditawarkan pun cukup bersahabat dan tidak menguras kantong kita.

Berlibur ke Pulau Umang sangat menyenangkan. Sayangnya infrastruktur menuju pulau ini terasa kurang nyaman. Belum lagi jaraknya yang jauh, berkelok-kelok, serta naik turun. Jalan di wilayah ini pun hanya cukup untuk dilalui oleh dua kendaraan.

Pulau Umang harus ditempuh melalui jalur laut, sekitar 5 menit dari daerah Kecamatan Sumur yang merupakan batas dari perjalanan darat. Dari sini, pengelola Pulau Umang menyediakan transportasi khusus ke Pulau Umang. Kapal motor dengan kapasitas 25 orang ini selalu siap mengangkut tamu kapan saja hingga kita bisa menikmati liburan menyenangkan di Pulau Umang. (mediaindonesia.comS-3)

Sepotong Cerita dari Tanjung Lesung

Segudang aktifitas wisata bahari menjadi pilihan di kawasan Tanjung Lesung Beach Resort. Sebuah lokasi ideal untuk menikmati indahnya senja dengan desiran ombak kecil di bibir pantai berpasir halus.

Sebuah perjalanan panjang dari Jakarta berakhir di Desa Tanjung Jaya, Pandeglang, Banten. Hari mulai merambat senja ketika minibus yang saya tumpangi bersama teman-teman wartawan memasuki kawasan wisata Tanjung Lesung di Kecamatan Panimbang.

Jalan beraspal dengan ruas yang tidak lebar membuat kendaraan yang saya tumpangi harus berhati-hati dalam memacu kecepatan. Jarak kawasan wisata Tanjung Lesung dari Jakarta terbilang tidak jauh hanya sekitar 170 km. Sebuah jarak yang masih sangat nyaman untuk dicapai menggunakan jalur darat.

Bicara keindahan alam kawasan yang berdekatan dengan Taman Nasional Ujung Kulon ini tentu tak perlu lagi disangsikan lagi, sebuah perjalanan wisata menyenangkan akan membekas bagi mereka yang sudah mengunjunginya. Pesona alam pantai Tanjung Lesung telah menjadi buah bibir dan santapan para pembuat berita.

Kawasan Tanjung Lesung merupakan perairan yang menjorok ke darat atau biasa disebut teluk, bentuk teluk ini menyerupai Lesung, masyarakat Sunda mengenal Lesung sebagai alat penumbuk padi (sebagian ada juga yang menyebutnya Lisung) maka dari sinilah nama Tanjung Lesung itu berasal.

Tanjung Lesung Resort (TLR) telah dikembangkan sejak 1998. Meski masih dalam pengembangan, fasilitas pendukung pariwisata telah tersedia lengkap disini. Beragam kegiatan wisata bahari bisa dilakukan mulai snorkling, diving, banana boat, canoing, pedal boat, atau sekadar bermain hangatnya air yang begitu jernih. Harga untuk menikmati fasilitas water sport cukup terjangkau.

Tanjung Lesung Resort dikonsepkan sebagai sebuah kota resor dengan beragam fasilitas. Sekarang ini baru 200 hektar yang tergarap dari 1500 hektar luas kawasan TLR. The Bay Villas, Kalicaa Villa, The Beach Club, blue fish adalah beberapa resor dan hotel yang telah berdiri. Dengan segala fasilitas dan pesona alamnya nampaknya kawasan ini juga sangat cocok bagi mereka yang ingin berbulan madu.

Entah ungkapan apa yang pantas LIMA menggambarkan syahdunya sunsana di Pantai Bodur, Tanjung Lesung, sebuah lokasi yang tepat menyaksikan sang mentari melangkah pasti menuju ufuk barat. Semburat cahayanya memancarkan warna merah di unjung senja, hembusan angin dan halusnya pasir pantai semakin melengkapi. Menikmati Sunset menjadi aktivitas berkesan sebelum menyantap hidangan malam.

Hari kedua di Tanjung Lesung saya manfaatkan untuk menikmati serunya kegiatan wisata bahari. Snorkling menjadi pilihan pertama setelah puas mengabadikan pesona alam pantai landai berpasir putih. Hanya berjarak sekitar 100m dari bibir pantai beraneka ikan warna-warni sudah bisa disaksikan. Sayang saya tak membekali diri dengan kamera bawah air untuk mengabadikan keindahan taman air Tanjung Lesung.

Kandungan garam yang cukup tinggi sangat memungkinkan Anda mudah mengapung di atas air. Selain snorkling saya mencoba pula menikmati indahnya laut dengan Jetski dan Banana Boat. sungguh sebuah pengalaman seru yang terus memacu adrenalin.

Saat matahari mulai meninggi, kami siap dengan aktifitas selanjutnya, yaitu makan siang menu yang khas. Penyajian makan siang yang di tempat ini amat unik, dengan cara bancakan, yaitu makan besama diatas daun pisang. Sebuah ritual makan yang bisa mengakrabkan.

Selesai makan siang rombongan dibawa berkeliling melihat fasilitas camping ground, fasilitas yang disediakan bagi mereka yang ingin menikmati alam terbuka di tepian pantai. Setelah puas berkeliling, saatnya untuk kembali ke villa sebelum akhirnya berkemas untuk pulang ke Jakarta. Selamat tinggal Tanjung Lesung pesona alammu meninggalkan cerita indah dari perjalanan singkat ini.

Tips Perjalanan

Meski jalan menuju Tanjung Lesung terbilang bagus, namun ruas jalan yang tidak terlalu lebar membuat Anda harus berhati-hati ketika berkendara, paling penting siapkan stamina sebelum menempuh perjalanan ke Tanjung Lesung.

Sepanjang jalan menuju Tanjung Lesung kini sudah banyak berdiri minimarket, jadi Anda bisa membeli berbagai kepeluan selama perjalanan. Ada baiknya melakukan pejalanan di pagi hari, sehingga Anda bisa menikmati keindahan senja hari di kawasan Tanjung Lesung secara utuh.

Dari Jakarta, ada dua pilihan rute menuju Tanjung Lesung. Melalui jalan tol Jakarta-Merak, kemudian keluar di gerbang tol Serang Timur. Selepas melintas Kota Serang, perjalanan dilanjutkan ke arah Kota Pandeglang dan Labuan.

Mayoritas wisatawan dari Jakarta lebih memilih jalur ini karena waktu tempuhnya yang relatif lebih singkat. melalui jalur ini perjalanan dari Jakarta sampai ke Tanjung Lesung bisa di capai 3-3,5 jam.

Alternatif jalur Kedua, sama melalui jalan tol Jakarta-Merak, namun keluar melalui gerbang tol Cilegon. perjalanan ini melintasi wilayah pesisir Anyer-Carita, kemudian menuju arah Labuan, dan berujung di kawasan Tanjung Lesung.

Bagi yang menggunakan kendaraan umum, Bus menuju Labuan bisa melalui terminal Kalideres. Setelah mencapai Labuan, Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota menuju desa Cibaliung. Dari Cibaliung untuk mencapai Tanjung Lesung biasanya menggunakan ojeg.

Sumber: Majalah Travel Club

Taman Nasional Ujung Kulon Banten Melihat Badak dari Dekat

Tak akan pernah habis memang jika membahas kekayaan alam bumi Indonesia, selalu saja ada keunikan dan daya tarik bagi kegiatan wisata alam seperti yang terdapat di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di Provinsi Banten. Taman nasional ini terdiri dari tiga ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan.

Taman Nasional Ujung Kulon menjadi rumah bagi 240 jenis burung, 142 jenis ikan, 72 jenis insekta, 59 jenis reptilia, 35 jenis mamalia, 33 jenis terumbu karang, 22 jenis amfibia, dan 5 jenis primata. Kawasan ini juga menjadi tempat perlindungan bagi badak jawa yang masuk kategori binatang langka.

Selain badak jawa, terdapat pula beberapa binatang dilindungi lainnya yang hidup disini seperti, banteng (Bos Javanicus Javanicus), rusa (Cervus Timorensis Russa), ajag (Cuon Alpinus Javanicus), kima raksasa (Tridacna Gigas), surili (Presbytis Comata Comata), macan tutul (Panthera Pardus), kucing batu (Prionailurus Bengalensis Javanensis), lutung (Trachypithecus Auratus Auratus), dan owa (Hylobates Moloch).

Beberapa obyek wisata yang ada dalam area taman nasional ini antara lain Pulau Peucang, Kondisi alamnya masih terjaga baik menjadikan lokasi ini cocok untuk berenang, menyelam, memancing, snorkeling. Kawasan ini juga merupakan habitat rusa yang dalam bahasa setempat disebut Peucang.

Di Pulau Handeuleum, Cigenter, dan Cihandeuleum menjadi kawasan untuk pengamatan satwa seperti banteng, babi hutan, rusa, dan pengamatan burung, atau bisa juga menyelusuri sungai di ekosistem hutan mangrove.

tak kalah menarik adalah menyaksikan kearifan lokal masyarakat suku Banten yang tinggal disekitar taman nasional ini, mereka hingga kini masih mempertahankan tradisi dan kebudayaan leluhurnya.

Bukan hanya wisata ekologi dan petualang saja bisa dinikmati, dalam lingkungan taman nasional juga terdapat beberapa tempat yang dikeramatkan. Goa Sanghiang Sirah satu yang paling dikenal gua yang berada di ujung Barat semenanjung Ujung Kulon ini menjadi tujuan banyak peziarah.

Lokasi:
Jalan Perintis Kemerdekaan No.51
Labuan, Pandeglang 42264
Telp. (0253) 801 731
Faks. (0253) 804 651

Sumber: Majalah Travel Club

Menapaki Hikayat Kesultanan Banten

Jejak kejayaan Kesultanan Banten masih bisa disaksikan, meski tinggal bangunan-bangunan tak utuh lagi di Situs Banten Lama.

Dahulu kala, di Kota Serang, Ibukota Provinsi Banten sekarang, pernah berdiri sebuah kerajaan Islam yang mengalami zaman keemasan antara abad ke-16 hingga abad ke-19 Masehi. Salah satu peninggalan yang hingga saat ini masih bisa disaksikan dan dinikmati secara utuh adalah Masjid Agung Banten. Masjid ini berlokasi di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Serang.

Tepat di seberang masjid ini, nampak sisa-sisa peninggalan komplek Keraton Surosowan (Sorosoan), sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Banten pada masa itu. Kini, sisa-sisa peninggalan kesultanan yang hancur oleh kekuasaaan kolonialisme tersebut menjadi salah satu lokasi wisata arkeologi yang dikenal dengan nama situs Banten Lama.

Kemunculan Kesultanan Banten tak lepas dari peran Syarif Hidatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Satu dari sembilan wali yang berperan dalam menyebaran agama Islam di Nusantara ini, berhasil merebut kekuasaan wilayah Banten dari kerajaan Padjajaran sekitar tahun 1525.

Pada 1552 Sunan Gunung Jati mendaulat anaknya, Maulana Hasanudin, sebagai sultan Banten. Di bawah kekuasaan sultan pertama Banten ini, dibangun keraton sebagai tempat tinggal raja sekaligus pusat pemerintahan. Keraton ini kemudian dikenal dengan nama Keraton Surosowan. Sisa-sisa kejayaan dan kemegahan keraton ini masih dapat disaksikan hingga sekarang, meski hanya berupa sisa-sisa bangunan yang tak lagi utuh.

Awalnya, keraton dengan luas mencapai lebih dari tiga hektare tersebut bernama Kedaton Pakuwan. Keraton ini tersusun dari tumpukan batu bata merah dan batu karang, dengan ubin berbentuk belah ketupat berwarna merah. Dalam perjalanan waktu, keraton ini pun beberapa kali mengalami pemugaran.

Kesultanan Banten mengalami masa puncak kejayaan ketika di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah yang berkuasa pada periode 1651 – 1682. Sultan yang terkenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa ini juga seorang yang paling lantang menentang kebijakan monopoli yang diberlakukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang Belanda.

Dalam masa kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten berkembang menjadi pelabuhan internasional. Di bawah kepemimpinannya pula Keraton Surosowan dipercantik dengan melibatkan seorang arsitek berkebangsaan Belanda, Hendrik Lucaszoon Cardeel. Salah satu peninggalan karya arsitek bergelar Pangeran Wiraguna yang masih bisa dilihat dan dinikmati adalah menara Masjid Agung Banten yang memiliki ketinggian mencapai 30 meter.

Di bagian tengah keraton, terdapat sebuah kolam taman, yang dikenal dengan nama Bale Kambang Rara Denok. Kolam pemandian ini berbentuk persegi empat dengan panjang 30 meter dan lebar 13 meter dengan kedalaman kolam 4,5 meter. Air di Keraton Surosowan berasal dari Danau Tasik Ardi di Desa Margasana sekitar dua kilometer dari lokasi keraton. Selain kolam Rara Denok, ada juga pancuran untuk pemandian yang biasa disebut “pancuran mas” yang diperuntukkan bagi kerabat keraton.

Selain Keraton Surosowan, peninggalan kesultanan Banten lainnya adalah Istana Kaibon. Desain arsitekturnya dibuat cukup menarik, dengan saluran air yang mengelilinginya. Keraton ini sengaja dibangun untuk ibunda Sultan Syafiudin, Ratu Aisyah karena pada saat itu, sebagai sultan ke 21, Syaifudin masih berumur lima tahun sehingga tidak mungkin untuk memegang pemerintahan.

Sama seperti Keraton Surosowan, Istana Kaibon juga dihancurkan oleh pihak Belanda. Pemerintah Hindia-Belanda meluluhlanakkan kesultanan Banten lantaran Sultan Syafiudin menolak tegas perintah Gubernur Jendral Herman Daendles yang memerintahkan untuk meneruskan proyek pembangunan Jalan Anyer-Panarukan dan pelabuhan armada Belanda di sekitar daerah Labuhan.

Berbeda dengan Keraton Surosowan yang bisa dikatakan rata dengan tanah, Istana Kaibon masih menyisakan sedikit sisa-sisa bangunan seperti gerbang bersayap, Pintu Paduraksa, pintu khas bugis yang sisi kanan dan kirinya tersambung.

Diantara bangunan peninggalan kesultanan Banten yang masih utuh berdiri adalah Masjid Agung Banten yang masih terlihat megah dengan menaranya yang menjulang keatas langit. Masjid ini tak pernah sepi dikunjungi orang. Pada hari-hari besar tertentu jumlahnya bahkan bisa mencapai ribuan orang.

Wihara Avalokitesvara

Meski jelas-jelas Kesultanan Banten adalah Kerajaan Islam, bukan berarti peninggalan bangunan rumah ibadah hanya berupa bangunan masjid sebagai tempat peribatan masyarakat muslim. Kesultanan Banten juga menyisakan bangunan rumah ibadah agama lain yakni Wihara Avalokitesvara.

Wihara yang dibangun pada 1652 ini lokasinya berada di sebelah Barat Daya Keraton Surosowan. Keberadaan rumah ibadah ini menunjukkan adanya hubungan yang harmonis antara kaum muslim dengan warga non-muslim, dan mencerminkan adanya penghormatan dari pemegang kekuasaan terhadap kebebasan memeluk agama.

Diyakini, wihara ini adalah peninggalan Sultan Syarief Hidayatullah. Ia menikahi seorang putri Cina yang saat itu sedang bertandang ke Pelabuhan Banten. Wihara dibangun sebagai tempat ibadah para pengikut putri Cina, yang kemudian tinggal di Banten Lama.

Di sini terdapat altar Kwan Im Hut Cou atau Dewi Kwan Im, Avalokitesvara tercatat sebagai salah satu Wihara tertua di Indonesia kerap dibanjiri peziarah setiap tahunnya.

Sumber: Majalah Travel Club

Sawarna Intan Yang Tak Terasah

SAWARNA, sebuah desa yang terletak di bagian selatan Provinsi Banten, adalah ibarat intan yang tak terasah. Intan baru akan terlihat kemilaunya bila diasah dengan serius dan dirawat secara berkesinambungan. Sudah saatnya intan tersebut diangkat dari lumpur yang menyelimutinya selama ini.

Sampai saat ini Desa Sawarna sangat ketinggalan dalam segala hal, mulai dari masalah transportasi sampai sarana lain seperti pos, perbankan dan komunikasi. Tetapi dalam hal potensi, ia sangat kaya. Terlihat dari hasil pertanian yang ada seperti padi, singkong, jagung, pisang dan kelapa. Kelapa di sana merupakan salah satu hasil pertanian yang dapat diandalkan, selain untuk dijual ke pasaran, kelapa oleh penduduk juga dibuat kopra sebagai bahan dasar minyak kelapa. Selain bertani penduduk setempat juga beternak kerbau, kambing, sapi serta ayam.
Itu baru dilihat dari sisi potensi agrobisnis, kalau dilihat dari sisi potensi wisata ternyata desa ini juga menyimpan pantai-pantai, sungai, hutan dan gua-gua menarik yang indah untuk dikunjungi. Kalau bisa dikelola dengan baik bukan mustahil desa ini bisa menjadi sumber pemasukan yang cukup besar bagi pemerintah daerah setempat di masa yang akan datang.

Aksesibilitas
Dari sisi geografis Sawarna terletak di bagian barat Pelabuhan Ratu. Untuk mengunjunginya dari arah Jakarta, dapat melalui dua alternatif jalur darat. Kalau anda membawa mobil pribadi lebih disarankan melewati jalur barat. Anda menuju Rangkasbitung, kemudian terus ke arah selatan sampai tiba di kota Malingping dan berbelok ke arah timur melewati rentetan pemandangan indah pesisir pantai di kiri jalan dan dipadu dengan sawah pertanian yang menghijau di kanan jalan. Tiba di Pasar Bayah disarankan anda menitipkan mobil, karena jalur yang ada selanjutnya hanya cocok untuk angkutan desa dengan jeep bergardan empat.
Bila anda memutuskan naik kendaraan umum, lebih baik dari Jakarta anda menuju terminal Bogor dan meneruskan perjalanan dengan naik bus menuju terminal Pelabuhan Ratu dengan biaya Rp 7000,-. Dari Pelabuhan Ratu terus naik bus tigaperempat menuju Pasar Bayah dengan biaya 5000 perak.
Bila anda sudah tiba di Pasar Bayah, perjalanan diteruskan menuju Desa Sawarna menggunakan jeep yang khusus digunakan sebagai sarana transportasi darat. Dengan biaya 4000 rupiah anda akan menikmati pemandangan indah di sepanjang jalur mobil. Diawali dengan rentetan daerah pinggir pantai yang menawan. Kemudian masuk ke daerah hutan tropis dengan jalan lumpur bergelombang yang membuat badan anda tak bisa diam. Kondisi jalan yang tak rata akan menambah nikmat petualangan anda, apalagi ketika melewati jembatan yang tersisa setengah badan jalan. Kalimat doa kepada Tuhan akan sering terdengar untuk keselamatan kita saat melihat betapa mengenaskannya kondisi jembatan tersebut.
Tetapi semua pengorbanan itu akan terbayar lunas setelah melewati jalur hutan, karena akan terlihat pemandangan pantai putih terhampar diselingi pohon-pohon nyiur yang tumbuh melengkung memberikan salam hangat kepada anda.
Disarankan agar anda tiba di daerah Pasar Bayah pada saat hari masih siang karena sarana transportasi jeep ini hanya ada sampai pukul lima sore, setelah itu anda bisa naik ojek dengan ongkos sebesar 7500 rupiah. Tentu dengan risiko lebih besar karena harus melewati jalan berbatu dan berlumpur yang licin, dan kadang-kadang jalan menurun dan menaik secara tiba-tiba.
Kondisi sulitnya transportasi dan payahnya sarana jalan menuju ke sana inilah yang ternyata membuat banyak wisatawan mengurungkan niatnya mengunjungi Sawarna.

Objek Wisata Pantai
Terisolirnya daerah Sawarna membuat objek wisata indah yang ada di sana menjadi semakin dalam terbenam. Tercatat dua buah pantai berpotensi wisata internasional ada di sana. Pantai Pulau Manuk yang terletak di barat desa masih terlihat belum serius diupayakan sebagai daerah wisata unggulan. Pantai pasir putih yang bermaterialkan pasir kuarsa dan pecahan batuan gamping hasil abrasi gelombang laut ini sebenarnya sangatlah besar potensinya bila dilihat dari sisi kepariwisataan. Apalagi dengan adanya hutan suaka alam di sebelah timurnya. Berjalan dari pantai Pulau Manuk terus menyusur ke timur memasuki hutan suaka alam yang penuh dengan kekayaan flora dan faunanya seperti lutung, berbagai jenis burung dan terkadang masih di jumpai macan, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata petualangan.
Pantai berpanorama indah yang lain adalah Pantai Ciantir di sebelah selatan Sawarna. Dengan panjang garis pantai yang lebih kurang 3,5 km membuat pantai ini terlihat seperti garis lengkung tanpa batas. Di timur pantai terdapat batuan sisa abrasi gelombang laut yang tampak menonjol seperti layar. Tempat ini biasa disebut penduduk sekitar sebagai Tanjung Layar. Karena adanya Tanjung Layar inilah yang membuat pesisir di timur pantai ini menjadi pilihan nelayan untuk melabuhkan kapalnya. Selain karena tempat ini ombaknya paling kecil, juga ternyata ombak dari Samudera Indonesia tertahan oleh Tanjung Layar tersebut.
Pemandangan matahari terbenam terlihat indah sekali di sini. Belum lagi ditambah siluet dari kelewar yang keluar dari gua sepanjang pantai menjelang senja, akan terasa kesyahduan matahari senja menyelimuti pikiran anda.
Sayang kalau anda melewatkan keindahan bintang malam di pinggir pantai ini. Dengan hanya bermodal tenda anda pasti memilih menginap di pingir pantai merasakan hembusan angin laut menerpa tubuh sambil mengobrol bersama teman perjalanan anda di depan api unggun yang tercipta dari kayu-kayu kering yang banyak terdapat di pinggir laut. Selain itu suasana akan terasa sangat romantis.

Objek Wisata Gua
Batuan karst (gamping) yang ikut menentukan terbentuknya daerah Sawarna ternyata juga menyimpan misteri yang dalam. Tercatat ada beberapa gua yang bisa dijelajahi di sana seperti: Gua Lalay, Gua Kadir dan Gua Camaul.
Kebanyakan gua yang ada di Sawarna merupakan gua karst (batu gamping) dari zaman Miosen awal. Terjadinya Gua Lalay bermula dari adanya retakan pada batu gamping akibat pengaruh tektonik. Retakan tersebut selanjutnya berfungsi sebagai jalan air yang melarutkan batu gamping tersebut sesuai dengan sifat fisiknya yang mudah larut dalam air. Air yang melarutkan batu gamping tersebut selanjutnya mengendap dan menghasilkan berbagai ornamen gua. Bagian dasar gua ini merupakan sungai bawah tanah yang berlumpur dengan ketebalan 10 sampai 15 cm. Panjang gua diperkirakan sampai 1000 meter.
Sedangkan Gua Kadir berada di sebelah barat Gua Lalay dengan mulut gua sempit menghadap ke arah barat. Untuk bisa masuk ke dalam gua, orang harus merangkak sejauh kurang lebih 2 meter. Berbeda dengan Gua Lalay, Gua Kadir posisinya relatif lebih tinggi sehingga bagian dasar gua relatif lebih kering.

Objek Wisata Pendukung
Selain pantai dan gua, masih terdapat potensi wisata lain yang bisa mendukung objek wisata utama di Sawarna seperti yang di sebutkan di atas. Di antaranya adalah tempat pelelangan ikan yang terlihat eksotis pada pagi hari. Juga ada potensi agrowisata yaitu berjalan di persawahan menghijau yang ternyata juga dapat membuat hati menjadi lebih tenang.
Atau anda lebih memilih mencari batu hias sebagai koleksi. Di pinggir sungai Cisawarna terdapat banyak batuan hias yang bisa menambah jenis koleksi batuan anda. Batu hias yang merupakan hasil silisifikasi dari batuan atau kayu akibat terkena larutan hidrotermal tersebut bisa dikembangkan menjadi industri kecil yang mendukung kepariwisataan daerah tersebut. Di samping menjadi ciri khas desa Sawarna.
Tetapi kalau mau bicara pariwisata, mau tak mau pariwisata yang maju berkait erat dengan sarana dan prasarana yang ada. Dari segudang potensi yang ada sangatlah mungkin bisa dikembangkan, jika segala sarana dan prasana yang ada sekarang dibuat lebih memadai.
Kalau dilihat kondisi yang ada sekarang, patut dipertanyakan tentang kelanjutan daerah Sawarna menjadi daerah wisata unggulan setelah Pelabuhan Ratu sebagai kunjungan wisata menjadi terwujud. Jalur jalan yang masih terlihat menyedihkan, sarana telekomunikasi yang belum mencapai desa tersebut, menjadi PR tersendiri bagi instansi terkait.
Juga jangan dilupakan masalah perbankan yang mau tak mau sangat dibutuhkan wisatawan di sana juga ternyata belumlah tersedia.
Pendek kata, selama daerah ini masih terisolir karena kondisi jalan yang buruk, sulitnya peralatan komunikasi dan kurangnya berbagai penunjang lainnya. Maka tak akan pernah intan Sawarna terlihat bersinar kemilaunya.
(Sulung Prasetyo S Sinar Harapan)

Wisata Ziarah di Reruntuhan Kerajaan Banten Bersimpuh Sambil Mengharap Berkah

BANTEN — Dwi (28) bersimpuh di depan makam Sultan Hasanudin yang terletak di sebelah utara Masjid Agung Banten di Desa Banten, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang, Provinsi Banten. Mulutnya komat-kamit membaca doa secara cepat dan mimik wajahnya terlihat penuh pengharapan.
“Setiap hari Jumat saya ke sini, sekadar berziarah kepada para leluhur dan mencari berkah. Sebulan sekali pada malam Jumat saya tidur di masjid ini untuk membaca doa-doa, wirid, atau membaca Al-Quran,” kata Dwi yang lahir di Yogyakarta dan sudah tujuh tahun tinggal di Kota Serang.
Biasanya sepulang dari berziarah, Dwi membawa air putih dalam botol kemasan air mineral. Air ini sengaja diletakkan di dekat makam raja ketika dia berwirid atau membaca Al-Quran. Air ini diyakini telah diberkati. “Airnya saya percikkan ke sekitar tempat saya berdagang. Ini sudah kebiasaan saya,” katanya.
Dwi tidak sendirian. Setiap tahun tercatat 12-13 juta orang berdatangan ke kawasan reruntuhan Keraton Kerajaan Islam Banten yang jaya pada abad ke-12. Mereka datang dari berbagai daerah, baik dari luar maupun dari Banten sendiri. Kedatangan mereka selain untuk berwisata, juga untuk mendapat berkah di petilasan kerajaan ini.
Sultan Hasanudin merupakan raja pertama yang memimpin Kerajaan Islam Banten setelah didirikan oleh ayahnya, Syarif Hidayatullah yang kemudian berdiam di Gunung Jati, Cirebon. Gelar yang dipangku saat itu adalah Panembahan Maulana Hasanudin.
Kota kerajaan yang semula di Banten Girang dipindahkan ke dekat muara Sungai Cibanten yang kemudian dikenal dengan nama Banten. Pemindahan ibu kota ini setelah Pucuk Umun (Raja Banten) ditaklukkan dan daerahnya diislamkan.
Kejayaan kerajaan ini terbukti dengan semakin berkembangnya niaga antara negara dan pesatnya perkembangan pelabuhan. Tercatat bangsa yang berniaga itu adalah Inggris, Spanyol, Portugis, Arab, Melayu, Gujarat, Persia, Cina, dan bangsa-bangsa lainnya. Kejayaan pelabuhan ini menggeser ketenaran Sunda Kelapa (Jakarta).
Namun Belanda menghancurkan kerajaan ini setelah terjadi perpecahan pada pewarisnya. Belanda berhasil meyakinkan Sultan Haji untuk menyerahkan ayahnya, Sultan Agung Tirtayasa ke Belanda untuk dipenjara dan diasingkan. Belanda pun memindahkan kota ke Kota Serang yang hingga saat ini masih berdiri.
Kini reruntuhan keraton ini berserakan di atas tanah seluas 3,5 hektare di Desa Banten. Hanya Masjid Agung yang utuh dan telah direnovasi berulang-ulang. Bangunan-bangunan di kawasan kerajaan ini nyaris rata dengan tanah. Sisa-sisa keraton ini yang kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berziarah yang diyakini mendatangkan keberkahan bagi yang mempercainya.
Makam Raja-raja
Sejak dari Kota Serang menuju Banten sebenarnya wisata ziarah sudah bisa dimulai. Sepanjang jalan itu terdapat makam-makam raja dan pembesar kerajaan yang terkenal namanya, karena kebajikan maupun kepahlawanannya melawan penjajahan.
Misalnya, Maulana Yusuf yang terkenal dalam penyebaran agama Islam, serta Pangeran Arya Mandalika. Makam itu disertai dengan fasilitas parkir, kolam untuk wudhu, MCK, dan sebagainya.
Mendekati lokasi Masjid Agung Banten terdapat reruntuhan Keraton Kaibon yang kini sudah dipagar. Keraton Kaibon dibangun setelah berdirinya Keraton Surosowan yang merupakan keraton utama, tempat raja menjalankan pemerintahannya. Pembangunan kedua keraton itu dibantu arsitek Portugis bernama Cordel yang dianugerahi gelar Tubagus (Tb) Wiraguna. Sedangkan Keraton Kaibon dibangun untuk dipersembahkan kepada ibunda raja tercinta.
Keraton Surosowan merupakan pusat reruntuhan kerajaan yang kini tinggal tembok tinggi, pondasi-pondasi dan bagian-bagian kecil yang tersisa. Di sebelah selatan, terdapat sebuah kanal yang menghubungkan antara Tasikardi dengan keraton. Tasikardi merupakan tempat pengolahan air bersih yang dipasok ke kerajaan. Sedangkan di sebelah utara terdapat masjid agung dan sebuah museum yang memajangkan berbagai benda pusaka.
“Dulu, kapal-kapal perniagaan bisa merapat ke dekat keraton ini dan menyusuri Sungai Cibanten hingga ke Girang (daerah hulu yang sekarang dikenal Banten Girang di Kota Serang). Sekarang semuanya sudah tertutup, bahkan pembuatan Pelabuhan Karanghantu justru telah merusak tapak kerajaan,” kata Fatul Adhzim, pemimpin pesantren yang masih keturunan bangsawan Kerajaan Banten.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menyediakan terminal dan lapangan parkir cukup luas untuk kendaraan wisatawan. Dari parkir ini, dibuat jalan paving block untuk berjalan kaki menuju Masjid Agung dan makam Sultan Hasanudin. Sayangnya, lapangan parkir dan pinggir jalan itu dipenuhi berbagai pedagang mulai dari penjual kopiah, kemenyan, penganan hingga buah-buahan. Kondisi ini ditingkahi para pengemis yang masih anak-anak yang setia mengikuti pengunjung sebelum diberi uang recehan.
Sekitar 300 meter dari lokasi parkir, tampak meriam Si Jagur yang unik karena di bagian penyulut sumbunya berhiaskan kepalan tangan yang jari jempolnya diselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah. Meriam Si Jagur diyakini berpasangan dengan meriam Si Amuk yang kini berada di Jakarta. Keduanya merupakan hadiah dari Portugis dan digunakan untuk menjaga pantai. Konon, siapa yang sudah merangkul kedua meriam itu akan hidup bahagia dan serasi dengan pasangan hidupnya. Sedangkan bagi yang belum berkeluarga, keberanian dan kegarangan Si Jagur akan menular kepadanya.
Si Jagur ditempatkan di depan halaman Museum yang dibangun pemerintah pusat. Di museum itu dipajang penemuan hasil penggalian para arkeolog mulai dari gerabah, persolen cina, mata uang Banten, persenjataan hingga baju-baju kerajaan.
Menara Masjid Banten kini menjadi lambang bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Menara ini biasa dinaiki pengunjung. Di atasnya, bisa melihat laut sebelah utara dan pulau-pulau kecil, pelabuhan, serta perkampungan di sekitar reruntuhan kerajaan. Pada sore hari, pemandangannya sangat menakjubkan.
Sebelum berziarah ke makam raja, jangan lupa membeli air mineral untuk meangkap berkah doa-doa. Pulangnya. Jangan lupa pula, menyiapkan recehan karena akan diserbu pengemis anak-anak yang merengek dan mengikuti Anda. Sekali Anda memberi recehan, pengemis lain akan mengerubuti Anda.

Oleh Iman Nur Rosyadi [Sinar Harapan]

Wisata Selat Sunda: Dari Pemandangan Pantai hingga Petilasan Gubernur Jenderal Belanda

BANTEN – Daerah Anyer-Carita-Labuan, di sebelah barat Provinsi Banten yang pernah musnah dihantam tsunami saat Gunung Krakatau meletus tahun 1883, kini menjadi daerah wisata pantai nan elok. Pantainya yang landai dengan pasir putih menghampar bak permadani adalah pemandangan yang pantas dinikmati di saat matahari terbit atau terbenam.

Tidak heran, pesona alam di Selat Sunda ini menarik pemilik uang untuk mendirikan tempat-tempat penginapan dengan sebutan hotel, cottage, resort, rumah makan dan sebagainya yang bertebaran sepanjang pantai itu. Sebut saja hotel berbintang mulai dari Sol Elite Marbella, Mambruk, Lippo, Patra Jasa, Sang Hyang dan sederet nama lainnya.
Sedangkan cottage-cottage pun bertumbuhan bak jamur di musim hujan, dan terkesan menyembunyikan diri dengan membangun tembok-tembok yang tinggi. Para pengunjung cottage langsung masuk ke area itu dengan kendaraan. Tak banyak aktivitas mereka yang bisa dilihat dari luar. Tembok tinggi memang telah menutupi mereka, dengan alasan menjaga kegiatan pribadi.
Bahkan pemilik uang membeli tanah-tanah terbuka di pinggir pantai, kemudian dikelola menjadi tempat wisata milik pribadi yang memungut uang bagi pengunjungnya. Ada nama Objek Wisata Marina, Pasauran Indah, Cinangka Beach, Carita Beach dan sebagainya. Fasilitas yang disediakan pengelola objek wisata itu sederhana, di antaranya MCK (mandi, cuci, kakus), bangunan-bangunan dari kayu untuk lesehan dan warung-warung. Biasanya, pengelola juga menyediakan perahu atau alat-alat untuk berenang.
Alhasil, daerah Anyer-Carita-Labuan yang secara administratif masuk Kabupaten Serang (Anyer) dan Pandeglang (Carita-Labuan) menjadi padat oleh para investor, terkesan wilayah ini sudah tak ada lagi ruang terbuka yang benar-benar milik publik. Nyaris pantai di Selat Sunda sudah dikuasai investor hingga ke bibir pantai, untuk mengeruk uang yang ada di kantung-kantung pengunjung.
Terbukti, setiap akhir pekan pantai di Anyer-Carita-Labuan dipadati wisatawan dari berbagai daerah seperti Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan provinsi-provinsi lain. Jadi pemandangan biasa, jalur wisata ini menjadi macet, terutama dari arah Kota Cilegon di saat hari-hari libur. Sebab arus kendaraan ke daerah wisata ini seperti leher botol yang menyempit ketika memasuki jalan ke arah Anyer, selain badan jalan itu sendiri lebarnya hanya 12 meter.
Padahal ada rute alternatif yang jarang disosialisasikan oleh pemerintah setempat. Rute itu antara lain Serang-Taktakan-Cinangka-Anyer atau Serang-Padarincang-Mancak-Cinangka-Anyer. Kedua rute ini menempuh daerah pegunungan dengan panorama khas. Misalnya, di Mancak terdapat Cagar Alam (CA) Rawadanau seluas 2.500 hektare yang merupakan rawa tropik pegunungan yang tinggal satu-satunya di dunia.
Rute alternatif ini tidak serius didandani pemerintah setempat, menimbulkan kesan yang kurang sedap. Jalan sempit dan rusak di beberapa ruasnya. Jika malam, ruas jalan ini benar-benar gelap, sehingga menakutkan pengemudi kendaraan.
Gunung dan Jalan
Selain panorama pantai, dua anak Gunung Krakatau di Selat Sunda adalah kekuatan alam yang menarik untuk dikunjungi. Meski gunung ini termasuk administratif Provinsi Lampung, gunung ini lebih mudah dijangkau dari Provinsi Banten. Daya tarik dua anak gunung ini selain kepulan asap akibat aktivitas gunung, juga munculnya kehidupan baru di badan gunung. Ini merupakan hal yang mendorong ilmuwan atau pemerhati lainnya untuk datang.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten berkerja sama dengan perusahaan pariwisata setiap tahun menggelar acara kunjungan ke anak Gunung Krakatau dengan menggunakan kapal fery (penyeberangan) berkapasitas lebih 1.000 orang. “Tujuannya untuk mempromosikan wisata di Selat Sunda. Dalam momen ini juga berlangsung transaksi antara perusahaan pariwisata dengan pengelola wisata dari dalam negeri maupun luar negeri. Tahun 2004 ada 15 negara yang mengirimkan pengusahanya,” kata Sulaeman Affandi, Kepala Disbudpar Banten kepada SH.
Wisata di Anyer dan sekitarnya bukan hanya pantai. Mercusuar Anyer diyakini sebagai titik nol jalan Anyer (Banten)-Panarukan (Jawa Timur) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendles. Pembangunan jalan ini menelan korban ribuan pekerja paksa. Sayangnya, tak ada monumen atau prasasti untuk mengenang sejarah yang penuh darah itu.
Sedangkan di Caringin, Kecamatan Labuan (Kabupaten Pandeglang) terdapat sebuah masjid yang didirikan sezaman dengan berdirinya Kerajaan Islam Banten. Corak dan gaya arsitekturnya hampir sama dengan Masjid Agung Banten di tengah reruntuhan Kerajaan Islam Banten di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang. Konon, masjid ini didirikan dalam waktu sehari seperti dongeng Sangkuriang-Dayang Sumbi di Tangkuban Perahu (Bandung) yang membangun kerajaan dalam sehari.
Namun peristiwa terbesar justru tidak terekam di daerah ini, yaitu musnahnya kehidupan di Anyer dan sekitarnya ketika Gunung Krakatau meletus tahun 1883. Peristiwa luar biasa ini memusnahkan Kota Anyer yang berpenduduk di atas 50.000, disusul dengan wabah malaria yang hebat. Kehancuran kota ini akibat gelombang tsunami yang dahsyat. Petugas Mercusuar di Ujungkulon di zaman itu mencatat, gelombang air mencapai ratusan meter di atas permukaan laut.
Kedahsyatan akibat letusan gunung ini sempat dipajang oleh pengelola Hotel Carita Beach yang berkebangsaan Jerman, berikut memajang foto dan karya Suku Baduy di Pegunungan Keundeung, Kabupaten Lebak. Hotel ini menggunakan bangunan khas Baduy. Setelah hotel ini dibeli oleh Grup Lippo dan mendirikan hotel modern, pajangan itu hilang.
Meski begitu, pantai Anyer-Carita-Labuan dan kini melebar ke Tanjung Lesung memang tetap menarik untuk dikunjungi. Paling tidak, daerah ini menjadi pelepas kejenuhan bagi warga Kota Jakarta. (*)

Iman Nur Rosyadi – Sinar Harapan