Category Archives: Yogyakarta

Bebatuan Unik di Gunung Api Purba, Yogyakarta

Gunung Api PurbaAda suatu objek wisata menarik di Gunungkidul, DI Yogyakarta. Di sana terdapat Gunung Nglanggeran atau yang biasa disebut Gunung Api Purba. Bebatuan di sana sungguh unik, ukurannya yang beragam seolah membawa Anda ke zaman purba!

Kawasan ekowisata Gunung Api Purba yang terletak di Daerah Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul ini memang sangat menantang untung dikunjungi. Udara yang masih sangat sejuk, menambah semangat untuk menjelajahinya.

Perjalanan saya kali ini ke Gunung Api Purba berawal dari rasa penasaran, karena namanya yang cukup unik dan menarik. Saya pun mencoba untuk mencari lokasi dan akhirnya sampai juga di sana.

Kesan pertama kali ketika sampai di sana adalah keren banget! Bebatuan yang tersusun dan membentuk seperti gunung tampak mengagumkan. Saya juga menemukan banyak bentuk batu-batu unik dengan ukuran yang sangat besar. Warna-warna batu yang bervariasi juga membuat saya tidak berhenti untuk mencari hal-hal unik lainnya yang berada di sana.

Semangat yang mengalahkan rasa lelah membuat saya terus berjalan mendaki dan menyusuri pepohonan dan bebatuan. Ada banyak hal yang menarik ketika saya mulai menyusuri tempat ini, melewati jalan sempit dan menanjak yang cukup sulit di lewati. Namun tidak usah khawatir, karena di sana telah di sediakan tangga kecil untuk membantu perjalanan menjadi lebih mudah.

Setelah perjalanan yang cukup seru, saya kembali dikejutkan dengan panorama indah ketika berada di atas bebatuan. Dari atas, saya dapat melihat hampir seluruh pemandangan yang sangat menakjubkan dengan angin yang cukup kencang. Itu tidak membuat saya ragu untuk tetap berdiri di atas sana.

Pemandangan ini akan lebih bagus apabila dinikmati pada saat sunset ataupun sunrise, terlihat sangat indah. Ini aalah salah satu hal yang membuat saya bersyukur berada di negeri sendiri dengan segala keindahan dan kekayaannya.

Sumber: detikcom

Pemandangan Memikat di Pantai Sundak

Pantai Sundak memang kalah terkenalnya dengan Pantai Depok atau Pantai Baron di Yogyakarta. Namun, kecantikan Pantai Sundak berhasil memikat banyak wisatawan untuk menginjak pasir putih dan laut jernihnya.

Siapa yang tidak kenal Kabupaten Gunung Kidul yang memiliki berjuta pesona dengan banyak pantai indah di pesisirnya. Salah satunya yang mengundang perhatian para wisatawan adalah Pantai Sundak yang berada di Desa Sidoharjo, Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta.

Konon katanya, berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat, nama Sundak berasal dari perkelahian antara anjing yang dalam bahasa Jawa adalah asu dan landak. Maka kemudian, kedua binatang tersebut disingkat menjadi Sundak.

Terlepas dari sejarah yang dimilikinya, Pantai Sundak juga memiliki pemandangan alam yang sangat cantik. Maka tak heran jikan belakangan pantai ini menjadi wisata alam unggulan di Kabupaten Gunungkidul selain Pantai Depok, Pantai Baron, Pantai Krakal, dan Pantai Indrayanti. Sulit untuk disangkal bahwa Pantai Sundak memang memiliki pemandangan yang luar biasa.

Kolaborasi antara pasir putih yang landai dan air laut yang jernih membuat daya tarik pantai ini. Berjalan menyusuri pantai menjadi kegiatan wajib di sini. Anda akan disuguhkan oleh bukit-bukit kapur yang eksotis. Saking bagusnya, tempat ini juga sering digunakan sebagai lokasi pemotretan. Nah, di antara beberapa bukit kapur tersebut, salah satunya memiliki goa. Di dalam lubang besar, terdapat sumur mata air tawar yang menjadi sumber mata air penduduk sekitar.

Puas dengan batu kapur, berjalanlah sedikit ke arah laut. Jika air sedang bagus, Anda bisa melihat dengan jelas pemandangan alam bawah laut Pantai Sundak. Banyak ikan-ikan kecil yang bersembunyi di antara batu karang. Pemandangan berbeda bisa ditemukan jika Anda berani untuk mendaki bukit kapur setinggi 12 meter. Di pucak bukit tersebut tersaji pemandangan pantai yang benar-benar memesona. Garis pantai yang melengkung rapi menjadi bidikan apik para pecinta fotografi.

Pantai Sundak memang berada di pesisir selatan Pulau Jawa, namun ombak di sini tidak seperti yang dimiliki di pantai selatan lainnya. Besar, tapi sangat mudah untuk ditaklukan. Banyak wisatawan yang ingin belajar surfing datang ke pantai ini. Jika ingin mencoba berselancar, Anda harus hati-hati. Batu-batu karang bisa saja mengancam keselamatan Anda.

Uniknya lagi, pantai ini dilengkapi dengan pepohonan yang teduh. Saat sore hari, biasanya wisatawan ramai duduk di bawah pohon untuk menanti sunset yang cantik. Walaupun pantai tidak menghadap ke arah barat, tapi pemandangan langit kuning keemasan di sore hari tetap terlihat cantik di tempat ini.

Belakangan wisatawan memang sudah mulai ramai, tapi Pantai Sundak masih terlihat bersih. Selain pengelola pantai, pengunjung juga diimbau untuk menjaga kebersihan pantai agar selalu terlihat bersih dan menjadi daya tarik Gunungkidul.

gambar: kocklokpariwisata.blogspot.com

Sumber: detikcom

Mendekatkan Diri dengan Alam di Desa Kebon Agung

Desa Kebon Agung

JENUH dengan suasana perkotaan? Luangkan waktu untuk mengunjungi Desa Kebon Agung untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi penduduk desa. Lahan pertanian yang terhampar luas dan suasana lingkungan yang sejuk, hijau, dan indah dijamin mampu mengusir kepenatan yang menghinggapi Anda. Ditambah lagi dengan keramahan penduduk setempat yang masih berpedoman pada nilai budaya lokal.

Desa Kebon Agung atau yang juga dikenal sebagai Desa Wisata Tani menawarkan ragam wisata yang terdiri dari wisata air, wisata budaya, wisata kerajinan tangan, dan wisata museum. Desa terletak di wilayah Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dan diresmikan oleh Sri Sultan Hemengkubuwono X pada tahun 2003.

Wisatawan berkesempatan tinggal di homestay yang menyatu dengan rumah-rumah penduduk. Saat menetap, wisatawan bisa sekaligus menyaksikan dan belajar cara membajak sawah, menanam padi, menyemprot, memanen, menumbuk padi dengan lesung, dan menanak nasi secara tradisional.

Sedikitnya ada 130 homestay yang berlokasi di 60 rumah penduduk. Tiap rumah bisa ditinggali 6 orang. Biayanya sekitar Rp 100.000/hari/orang dan sudah termasuk biaya makan tiga kali. Di kawasannya terdapat pusat jajanan makanan khas Jawa dan area parkir yang luas.

Bersama dengan 10 desa wisata lainnya di Indonesia, Desa Kebon Agung terpilih sebagai salah satu pilot proyek Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Madiri 2010 berbasis pariwisata berdasarakan serangkaian progam unggulan yang ditawarkan berupa paket wisata dan ragam aktivitas budaya. (jogjatrip.com/*/X-13)

Makan Malam Romantis di Pantai Indrayanti

TIDAK sekadar menawarkan pesona pantai berpasir putih dengan air lautnya yang jernih, di Pantai Indrayanti Anda bisa menikmati makan malam romantis di sebuah restoran yang berada di tepi pantai.

Pantai Indrayanti terletak di sebelah timur Pantai Sundak, tepatnya di desa Tepus, kecamatan Tepus Wonosari Gunung Kidul, Yogyakarta. Bukit-bukit karang menjadi pembatas pantai dan pemandangannya terbilang paling indah dibanding pantai lain di Gunungkidul.

Di sekitar kawasan pantai terdapat restoran dan cafe, serta sejumlah penginapan menghadap ke pantai yang siap memanjakan wisatawan. Saat malam hari gazebo-gazebo di pinggiran pantai terlihat cantik karena disinari kerlipan lampu. Makan malam sambil menikmati hembusan angin dan deburan ombak akan menjadikan pengalaman romantis tak terlupakan.

Adanya campur tangan pihak swasta dalam pengelolaan pantai memberikan dampak positif. Di sepanjang garis pantai terlihat bersih dan bebas dari sampah. Berbeda dengan pantai lain yang biasanya nampak kotor dan tak terawat. Bahkan wisatawan yang membuang sampah sembarangan dikenakan denda sebesar Rp 10.000 oleh pihak pengelola.

Penamaan pantai sempat menjadi kontroversial. Kata Indrayanti sebenarnya berasal dari nama cafe dan restoran yang ada di pantai. Meski pemerintah menamai pantai dengan nama Pantai Pulang Syawal, masyarakat sudah terbiasa menyebutnya sebagai Pantai Indrayanti. (yogyes.com/*/X-13)

Sejenak Menjadi Warga Desa di Desa Wisata Pentingsari

DESA Wisata Pentingsari menjadi pilihan tepat bagi Anda yang jenuh akan kehidupan perkotaan yang menjemukan. Tawaran nuansa pedesaan yang hijau siap meneduhkan hati dan pikiran Anda lengkap dengan aktivitas yang mendekatkan diri dengan alam.

Saat memasuki kawasan seluas 130 hektare ini, Anda akan disambut oleh hamparan tanah yang ditanami pepohonan asri, seperti sedereta pohon buah-buahan, serta perkebunan coklat, kopi, dan cengkeh.

Desa Wisata Pentingsari berada di Kelurahan Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Suasananya sejuk dan masih alami kerena berdekatan dengan pegunungan.

Serangkaian aktivitas sudah disiapkan untuk pengunjung. Untuk wisata alam pengunjung akan diajak berkeliling desa menikmati nuansa pedesaan sambil melihat kekayaan alam, budaya, pertanian dan lingkungan desa. Tersedia pula area Outbond.

Sedangkan untuk wisata budaya pengunjung bisa belajar bermain gamelan, membatik, serta menari Jawa klasik yang dipandu oleh para ahli.

Mengunjungi desa tak akan lengkap sebelum melakukan wisata pertanian yang meiputi kegiatan seperti menanam bibit padi, bertani jamur, bertani umbi-umbian, dan bertani pohon cokelat.

Tersedia puluhan homestay khas desa untuk pengunjung yang dilengkapi dengan fasilitas penginapan standar. Pengunjung bisa menikmati air yang bersumber dari mata air pegunungan dan makanan yang diolah dari bahan-bahan kualitas pilihan yang diperoleh langsung, misalnya telur ayam. Selengkapnya silahkan mengunjungi laman: http://desawisatapentingsari.com (*/X-13)

Gua Rancang Kencono, Tempat Persembunyian Pejuang

GUA Rancang Kencono menjadi saksi bisu atas masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Gua merupakan gua purba karena di dalamnya ditemukan artefak dan tulang belulang berumur ribuan tahun. Terletak di Desa Wisata Bleberan, Yogyakarta.

Tak perlu perlengkapan khusus untuk menyusuri gua. Untuk memasukinya, pengunjung hanya cukup menuruni tangga batu yang sudah dibangun sejak dulu. Sebatang pohon klumpit berdiri tegak menutupi atas gua seakan menjadi pelindung.

Dulu gua sempat dijadikan sebagai lokasi persembunyian dan pertemuan Laskar Mataram saat menyusun rencana pengusiran Belanda dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Fungsi gua sebagai tempat perancangan strategi kemerdekaan menjadi alasan mengapa gua diberi nama Gua Rancang Kencono.

Langit-langit gua banyak dihiasi stalaktit. Banyak di antaranya sudah mati sehingga tak nampak air yang menetes. Tepat di sebelah ruang pertemuan, ada ruang kecil yang sempit dan gelap. Di dalamnya terdapat lukisan bendera merah putih serta kata-kata penyemangat untuk para pejuang.

Ada pula sebuah lorong yang menghubungkan Gua Rancang Kencono dengan obyek wisata Air Terjun Sri Gethuk. Namun sayangnya sebagian lorong telah runtuh sehingga tak bisa ditelusuri.

Wisata Gua Rancang Kencono dikelola sepenuhnya oleh masyarakat Desa Wisata Bleberan. Harga tiket masuk seharga Rp 3.000 dan sudah termasuk tiket masuk ke Air Terjun Sri Gethuk. (yogyes.com/*/X-13)

Air Terjun Srigethuk, Oase di Gunungkidul

KABUPATEN Gunungkidul di Provinsi DI Yogyakarta makin terkenal dengan pantai-pantai barunya yang indah. Namun, selain pantai, wilayah ini juga dianugerahi dengan keindahan alam lain yakni gua dan air terjun. Air terjun Srigethuk adalah salah satu lokasi wisata baru yang menjadi buah bibir selama setahun terakhir ini.

Ketika saya berkunjung ke Srigethuk akhir pekan lalu, kesan pertama saya adalah adanya kemiripan dengan Green Canyon di Jawa Barat. Namun, tentu saja setiap lokasi memiliki keunikan sendiri-sendiri.

Pada dasarnya, inti objek wisata Srigethuk ini adalah tiga air terjun yang berada dalam satu lokasi. Ketiga air terjun tersebut jatuh di bebatuan yang sama kemudian bersama-sama mengalir di Sungai Oya. Masing-masing air terjun tersebut berasal dari tiga sumber mata air, yaitu Dong Poh, Ngandong, serta Bleberan. Selain ketiga air terjun utama, ada beberapa air terjun kecil — dalam bahasa Jawa disebut kriwikan — di lokasi tersebut.
Objek wisata ini masih cukup baru sehingga infrastruktur pun masih terbatas. Namun, jangan khawatir, sarana dasar seperti toilet dan warung makan sudah tersedia di sini. Hingga saat ini, objek wisata Srigethuk masih dikelola secara lokal oleh pihak Desa Bleberan.

Walaupun sarana masih terbatas, pihak pengelola telah membangun tangga batu dari tempat parkir menuju ke tepi sungai, sehingga wisatawan tidak perlu khawatir ketika menuruni tebing. Butuh waktu sekitar 5-10 menit untuk mencapai bibir sungai. Setibanya di pinggir sungai Oya, Anda akan dimanjakan dengan paduan warna kehijauan sungai serta tumbuh-tumbuhan yang mengelilinginya. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi tertiup angin.

Dari sini Anda tidak dapat langsung melihat air terjun utama, hanya sebuah air terjun kecil di kejauhan. Anda harus menaiki rakit untuk mencapai air terjun Srigethuk. Di sini Anda harus membayar Rp 5.000 per kepala untuk perjalanan pulang-pergi. Ada dua buah rakit yang beroperasi di sungai itu, yang mengangkut wisatawan secara bergantian.
Butuh waktu sekitar 10 menit untuk mencapai air terjun utama. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, namun rakit berjalan sangat lambat. Dari atas rakit Anda dapat mengabadikan pemandangan yang memang mayoritas didominasi warna hijau. Semakin dekat, air terjun Srigethuk (yang juga dikenal dengan nama Slempret) ini semakin menakjubkan. Ketiga air terjun jatuh dari ketinggian sekitar 25 meter. Ketiganya bergabung menjadi satu di bebatuan yang berwarna kekuningan di bawahnya.

Setelah turun dari rakit Anda harus menyeberangi batu-batu basah itu untuk mendekati air terjun. Rasakan sensasi mandi di bawah Srigethuk! Banyak wisatawan yang memanfaatkan waktu untuk mandi dan berenang di sungai sekitar air terjun. Hijaunya air di sini adalah karena lumut, bukan karena limbah, sehingga aman untuk mandi.

Beberapa bagian dari Gunungkidul merupakan tanah tandus sehingga air yang berasal dari Sungai Oya dan air terjun Srigethuk bagaikan oase di Desa Bleberan ini. Air dimanfaatkan untuk pengairan daerah pertanian penduduk setempat. Vegetasi yang umum di wilayah tersebut adalah jagung, jati, serta kayu putih.

Bila sudah puas bermain-main di air terjun, Anda dapat menumpang rakit untuk kembali. Apabila perut sudah melilit, ada beberapa warung makan di sekitar tangga menuju ke tempat parkir. Cobalah salah satu menu khas Gunungkidul, yaitu tiwul. Tiwul adalah makanan yang dibuat dari singkong. Secara umum, tiwul manis dimakan untuk makanan ringan.
Menuju ke Srigethuk

Dari Yogyakarta, Srigethuk dapat dicapai melalui jalan Yogya-Wonosari. Sebelum sampai di Wonosari, tepatnya setelah lapangan udara Gunungkidul, Anda harus membelok ke kanan menuju ke Playen. Sampai di pertigaan pasar Playen, Anda kembali membelok ke kanan untuk menuju ke arah Desa Bleberan. Setelah itu akan ada penanda arah untuk menuju ke Srigethuk.

Tanda-tanda yang tersedia cukup banyak. Jalanan dari Yogyakarta hingga ke mulut Desa Bleberan sangat baik, namun setelah itu cukup buruk karena banyak bagian yang belum diaspal. Setiap orang yang berkunjung ke Srigethuk dipungut biaya Rp 2.000 sementara mobil Rp 3.000. Biaya itu sudah termasuk ongkos parkir, jadi masih sangat murah!

Selain Srigethuk, Anda juga dapat berkunjung ke Gua Rancang yang berada di desa itu. Biaya yang Anda bayarkan sudah termasuk kedua lokasi wisata sehingga Anda tidak perlu membayar lagi. Nah, saatnya wisata hemat ke Gunungkidul!

Ijo, Candi Lain di Dekat Ratu Boko yang Patut Dikunjungi

LETAKNYA tidak jauh dari Candi Ratu Boko atau kita-kira 18 km di sebelah timur kota Yogyakarta. Candi Ijo adalah candi Hindu yang dibangun pada abad ke-9, di zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Candi ini berdiri pada ketinggian 410 meter di atas permukaan laut dan di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo. Dari tempat ini, Anda bisa menyaksikan pemandangan yang begitu indah, terutama area persawahan dan Bandara Adisucipto di sisi baratnya.

Kompleks Candi Ijo memiliki 17 buah bangunan yang dilengkapi sebelas teras berundak. Di bagian pintu masuk terdapat ukiran kala makara, berupa mulut raksasa (kala) yang berbadan naga (makara) seperti yang ada di pintu masuk Candi Borobudur.

Untuk bagian dalam kompleks adalah tiga candi perwara yang melambangkan penghormatan warga Hindu di sekitar candi terhadap Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Syiwa.(*/X-13)

Nikmati Kereta Kelinci di Kaliurang

OBJEK wisata Kaliurang di kawasan selatan kaki Gunung Merapi, sampai saat ini masih diminati keluarga. “Objek wisata yang berjarak 30 kilometer ke arah utara dari pusat Kota Yogyakarta itu, setiap hari libur panjang akhir pekan selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik,” kata Ketua Asosiasi Perhotelan Kaliurang (Aspek), Christian Awuy kemarin.

Menurutnya, objek wisata perbukitan di wilayah Dusun Kaliurang, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu, masih menjadi pilihan utama wisatawan terutama keluarga.

“Bagi wisatawan, banyak pilihan untuk menikmati liburan bersama keluarga di tempat ini. Mulai dari menyewa hotel, menikmati menu khas makanan seperti jadah dan tempe, pisang emas hingga aktivitas olah raga trekking yang menantang,” katanya.

Ia menyatakan optimistis objek wisata Kaliurang masih bisa eksis dan bertahan, karena daya tariknya tidak hanya pada hawa sejuk dan panorama alam yang indah, tetapi juga suasana lingkungan dan alam pedesaan yang menjadi pilihan tersendiri bagi wisatawan.

“Bagi orang kota terutama yang hari-harinya selalu disibukkan dengan pekerjaan rutin, berlibur ke Kaliurang tentu terasa mengasyikkan, sekaligus menyegarkan fisik dan pikiran,” katanya.

Meningkatnya jumlah pengunjung Kaliurang menurut Christian diharapkan berdampak pada peningkatan tingkat hunian sekitar 250 hotel terdiri kelas bintang, melati maupun pondok wisata.

Fasilitas di Kaliurang
Fasilitas di objek wisata ini di antaranya taman rekreasi seluas 10.000 meter persegi yang dilengkapi taman bermain anak-anak, dan kolam renang mini.

Selain itu, juga tersedia gardu pandang untuk melihat puncak Gunung Merapi, dan bumi perkemahan. Di kawasan Kaliurang juga terdapat Taman Wisata Bukit Plawangan dan Bukit Turgo. Di dekat Taman Wisata Bukit Plawangan terdapat kolam renang Tlogo Putri yang airnya dari mata air lereng bukit itu.

Untuk menikmati pemandangan di Kaliurang, wisatawan bisa berkeliling menggunakan kereta mini atau yang dikenal dengan sebutan “kereta kelinci”. Kereta tersebut melewati gardu pandang di pinggir Kali Boyong atau di sisi barat kawasan Kaliurang. Dari gardu pandang itu wisatawan bisa melihat dengan jelas puncak Gunung Merapi pada saat cuaca cerah. (Ant/*/OL-08)

Gembira Loka Bukan Sekadar Kebun Binatang

TERLETAK di daerah aliran sungai Gajah Wong, Gembira Loka merupakan kebun binatang kebanggaan milik warga Yogyakarta. Hampir setengah abad yang lalu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX telah mewujudkan keinginan pendahulunya untuk mengembangkan tempat memelihara satwa peliharaan raja menjadi sebuah kebun binatang.

Gembira Loka terletak di atas lahan seluas 20 hektare yang setengahnya berupa hutan lindung. Di sini terdapat lebih dari 100 spesies satwa dari dalam maupun dari luar negeri, termasuk diantaranya beberapa jenis binatang yang telah langka di dunia, seperti veranus komodoensis (kadal raksasa dari Pulau Komodo), ular berkaki dan lain sebagainya.

Di kebun binatang ini juga tersedia fasilitas hiburan seperti bersampan di danau buatan, kolam pemancingan dan lainnya. Pada hari libur dan hari raya, di tempat ini diselenggarakan juga pergelaran musik, lomba mocopat, pergelaran seni kerawitan dan atraksi hiburan yang lain, sehingga Gembira Loka merupakan tempat yang nyaman untuk rekreasi bersama keluarga.

Gembira Loka bukan sekadar kebun binatang namun juga taman impian anak-anak, karena di sana tersedia gua-gua yang artistik dan taman bermain. Di kebun binatang ini terdapat beberapa danau buatan.

Pihak kebun binatang juga telah menjadwalkan setiap tahunnya akan ada tambahan binatang baru untuk menambah koleksinya, bahkan sudah beberapa kali binatang langka seperti komodo telah menetaskan telurnya.

Kebun Binatang Gembira Loka dibuka untuk umum mulai pukul 07.00-18.00 WIB dan sangat mudah untuk di akses karena terletak di pinggir jalan. Untuk sampai di sana dapat dicapai dengan segala jenis kendaraan umum yang berada di Yogyakarta.

Namun, ada satu hal yang memprihatinkan, yaitu banyak kondisi satwa yang kurang terurus. Banyak fasilitas yang seakan seadanya saja. Hal itu karena pendapatan dari tiket masuk sangat kecil dari sedikitnya wisatawan yang berkunjung.(mediaindonesia.com/Ol-5)