Category Archives: Jakarta

Museum Jenderal Nasution

Museum Jenderal NasutionMuseum ini semula adalah kediaman pribadi dari Pak Nasution yang ditempati bersama dengan keluarganya sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000. Petugas dari Dinas Sejarah Mabes TNI AD melakukan perawatan diorama di Museum Jenderal Besar DR AH Nasution, Jakarta Pusat, Minggu (29/9/2013).

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila untuk mengenang korban dari peristiwa G30S/PKI yang juga merenggut nyawa putri Jenderal Besar Nasution, Ade Irma Suryani Nasution. Museum Abdul Haris Nasution atau tepatnya Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution adalah salah satu museum pahlawan nasional yang terletak di Jalan Teuku Umar No. 40, Jakarta Pusat, DKI Jaya, Indonesia.

Museum ini terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga hari Minggu, dari pukul 08:00 hingga pukul 14:00 WIB. Setiap hari Senin museum ini ditutup untuk umum.

Sumber: Nonblok.com

Jembatan Cinta & Main Air Sepuasnya di Pulau Tidung

Pulau TidungDi dekat Jakarta, terdapat pulau cantik untuk tempat berakhir pekan. Pantai pasir putih, lautan biru cantik dan tempat yang asyik untuk basah-basahan. Inilah Pulau Tidung yang juga terkenal dengan Jembatan Cinta.

Saya berkesempatan menjelajahi Pulau Tidung pada beberapa waktu lalu. Pulau Tidung merupakan salah satu pulau yang terletak di Kepulauan Seribu, Jakarta. Pulau Tidung tidak terlalu jauh dari Jakarta, dibutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Pelabuhan Muara Angke atau sekitar 2,5 jam dari Pelabuhan Ancol dengan menggunakan kapal kayu. Jarak tempuh ini juga akan menjadi lebih singkat apabila menggunakan boat khusus.

Pulau ini terbagi dua, yaitu Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Pulau Tidung Besar dihuni sekitar 4.000 jiwa penduduk, dan salah satu pulau yang penduduknya terbanyak di antara pulau-pulau di gugusan Kepulauan Seribu. Sedangkan, Pulau Tidung Kecil tak berpenghuni. Di sana terdapat sebuah jembatan penghubung antara Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil.

Inilah yang dikenal dengan masyarakat sebagai Jembatan Cinta. Tempat ini kemudian menjadi tempat wisata yang paling terkenal dan paling ramai dikunjungi di Pulau Tidung dan menjadi ikon pulau tersebut. Setiap pengunjung yang berwisata ke Pulau Tidung tidak pernah melewatkan tempat ini.

Pada saat menelusuri jembatan ini, akan dijumpai bagian yang cukup tinggi sekitar tujuh meter dari permukaan laut dengan dasar laut sekitar empat sampai lima meter. Airnya sangat jernih dan arus airnya sangat tenang. Berdasarkan informasi dari pemandu yang juga merupakan penduduk setempat, terlepas dari benar atau tidaknya, konon bagi setiap wisatawan yang loncat dari jembatan ini dipercaya akan menemukan cinta sejati secepatnya.

Namun, untuk melakukan loncatan tersebut dibutuhkan nyali yang cukup besar. Jadi, bagi Anda yang masih single atau sudah punya pacar, percaya atau tidak, tempat ini patut dikunjungi.

Kemudian bagi wisatawan yang datang dengan pasangannya, konon tiap pasangan yang berjalan di atas Jembatan Cinta akan langgeng dan semakin mesra. Selain itu, alamnya indah sekali!

Di Pulau Tidung juga terdapat beberapa pantai yang sangat menawan, seperti Pantai Tanjongan Timur dan Pantai Tanjung Barat. Pesona pantai tersebut tidak kalah di banding pantai-pantai di luar Jakarta.

Pantai Tanjongan Timur terletak di depan jembatan penghubung. Pantai ini sudah tergolong ramai, sebab di sekitar pantai banyak tenda-tenda penjual makanan. Banyak wisatawan menghabiskan waktu di sini, untuk bermain dan berenang. Wisatawan akan disuguhi pasir putih dan pemandangan yang luar biasa. Wisatawan pun dapat mencoba berbagai olahraga air yang seru seperti jet sky, banana boat, kano dan lain-lain.

Pantai Tanjung Barat, terletak di ujung Pulau Tidung Besar sebelah Barat. Berbeda dengan Pantai Tanjongan Timur, pantai ini kurang dikenal oleh wisatawan sehingga tidak banyak yang berkunjung kesini dan terlihat sepi. Namun, pemandangan di pantai ini luar biasa, terutama saat sunset.

Pantai Tanjung Barat cocok bagi wisatawan yang ingin mencari ketenangan. Bermain di pantai ini memberi pengalaman tersendiri. Rasanya, pantai ini benar-nbenar milik pribadi!

Di Pulau Tidung, wisatawan bisa menginap di rumah-rumah penduduk atau homestay. Sebabnya, tidak terlalu banyak hotel atau resor di sana. Selain itu, ada baiknya untuk menyewa sepeda untuk menikmati keindahan Pulau Tidung. Jalanannya sudah beraspal, sehingga nyaman buat pengendara sepeda. Kecuali sewaktu menuju Anda Pantai Tanjung Barat, karena jalanannya banyak gundukan pasir sehingga cukup berat untuk mengayuh sepeda.

Selamat berkunjung ke Pulau Tidung!

Sumber: detikcom

Nikmatnya Bersantai di Hutan Mangrove

BAGI warga ibu kota yang ingin melepas kepenatan, tak perlu pergi meninggalkan Jakarta. Sebuah kawasan wisata mangrove bernama Taman Wisata Alam Angke Kapuk menjadi pilihan yang tepat. Anda bisa menghabiskan waktu sambil menikmati keindahan vegetasi pohon bakau yang menedukan.

Satu kegiatan yang bisa dilakukan di sini adalah berjalan kaki menyusuri pinggiran sungai, hutan mangrove, hingga pinggir laut. Sederetan pohon bakau yang rindang akan membantu Anda menyegarkan pikiran, ditambah lagi dengan kicauan burung pantai.

Saat bersampan mengelilingi hutan mangrove, Anda akan dipandu oleh petugas untuk melihat ragam satwa yang jarang dijumpai di luar kawasan hutan mangrove. Setiap ada perahu yang lewat biasanya akan ada beberapa ikan yang bermunculan.

Fasilitas di taman wisata terbilang lengkap dan pastinya terawat, seperti restoran dan cafe, area outbond, kawasan perkemahan, dan lapangan olahraga. Bagi Anda yang ingin bermalam tersedia beberapa pilihan villa. Bila ingin mendekatkan diri dengan alam tersedia pula penginapan berupa kemah.

Taman Wisata Alam Angke Kapuk juga dikenal sebagai Mangrove Resort Kapuk. Letaknya tak jauh dari perumahan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Cukup mudah untuk menggapainya. Biaya masuk taman seharga Rp 10.000. (*/X-14)

Museum Taman Prasasti: Bekas Pemakaman yang Tidak Lagi Angker

SEBAGIAN dari Anda mungkin pernah mendengar Museum Taman Prasasti. Museum yang merupakan bekas pemakaman Belanda ini juga kerap digunakan sebagai lokasi pemotretan. Ini dikarenakan ada berbagai koleksi prasasti, nisan, makam, dan patung sebanyak 1.372 yang terbuat dari bahan batu dan perunggu.

Museum Taman Prasasti pada awalnya adalah pemakaman umum yang dididirikan pada akhir pemerintahan VOC tahun 1795 dengan nama Pemakaman Kerkhoof Laan. Kerkhoof Laan dimaksudkan sebagai pengganti kuburan di samping Gereja Nieuw Hollandsche Kerk (sekarang menjadi Museum Wayang ) dan Gereja Portugeesche Buitenkerk (sekarang Gereja Sion) yang saat itu sudah penuh terisi makam.

Dikatakan, Museum Taman Prasasti adalah satu-satunya museum dengan konsep outdoor karena hampir seluruh prasastinya tidak terlindung dari pengaruh cuaca.

Memasuki Museum Taman Prasasti, Anda akan disambut oleh taman yang bersih dengan pohon tinggi yang rindang. Tidak terasa keangkeran dari bekas lokasi pemakaman umum di sini malahan Anda akan melihat berbagai prasasti serta patung dengan gaya arsitektur Belanda yang unik.

Salah satu patung yang terlihat menarik ialah patung batu marmer Gadis Berduka yang menggambarkan seorang gadis sedang menangis dengan duka yang mendalam di wajahnya. Ada pula patung malaikat yang sedang berdoa.

Bukan itu saja, di tengah Museum Taman Prasasti juga terdapat bangunan berbentuk seperti Gereja Katedral yang terbuat dari bahan perunggu berwarna kehijauan. Selain peninggalan prasasti, terdapat pula kereta kuda pengangkut peti jenazah yang digunakan sejak 1825. Ada pula peti jenazah Presiden RI pertama Ir. Soekarno dan Wapres RI pertama Mohammad Hatta serta miniatur makam khas dari 33 provinsi di Indonesia.

Bagi penggemar fotografi, Museum Taman Prasasti menjadi surga di tengah hutan beton untuk menyalurkan bakat dan kreativitas seni fotografi. Bahkan, pembuatan beberapa video klip musik dibuat di museum ini dengan memanfaatkan nilai artistik tempat tersebut.

Belum pernah berkunjung, objek wisata Museum Taman Prasasti bisa Anda temukan di Jalan Tanah Abang 1/1 Kelurahan Petojo Selatan, Kecamatan Gambir Jakarta Pusat.

Harga tiket masuknya relatif murah yaitu Rp2.000 untuk dewasa, Rp1.000 untuk mahasiswa, dan Rp600 untuk anak-anak/pelajar. Waktu beroperasi museum ini pukul 09.00-15.00 WIB pada hari Selasa-Minggu, sedangkan Senin dan hari libur tutup. (wisatamelayu/*/X-13)

Kebersamaan di Taman Menteng

SUATU hari di Taman Menteng yang terletak di antara Jalan HOS Cokroaminoto, dan Jalan Moh Yamin, Jakarta, seorang anak terlihat berlari menuju areal permainan yang berada di tengah taman.

Anak yang bernama Abid, 3, ini langsung menuju ayunan bersama saudara perempuannya. Karena berpostur lebih kecil dibandingkan saudara perempuannya yang berusia lebih tua, Abid terlihat kesusahan menaiki ayunan.

Tidak lama berselang ayah Abid, Edi, 35, datang membantunya. Setelah sukses berada di atas bangku ayunan, sang ayah mulai mendorong perlahan ayunan anaknya. Sementara ibunya, Eni, 29, terlihat sibuk menggendong saudara perempuannya yang masih balita.

Siang itu, bocah kecil ini datang bersama orang tua dan dua saudara perempuannya. Menurut Eni, mereka sengaja datang dari Tebet karena anaknya ingin bermain di taman.

Khusus untuk anak-anak, Taman Menteng memang menyediakan sebuah areal di atas hamparan pasir yang berisi berbagai permainan mulai dari perosotan, bola dunia sampai ayunan.

Biasanya setiap waktu liburan, keluarga ini juga acap kali pergi ke taman hiburan lainnya seperti Kebun Binatang Ragunan. Sedangkan untuk lokasi wisata Ancol mereka mengaku malas pergi ke sana. ”Kalau musim liburan seluruh wahana biasanya antriannya panjang,” kata Eni.

Melihat hal ini, Taman Menteng agaknya bisa menjadi salah satu alternatif yang bagus untuk mengisi waktu liburan di akhir pekan. Taman ini juga menjadi tempat yang ideal karena masyarakat dari berbagai usia bisa menikmatinya.

Selain orang tua dan anak-anak, anak muda usia belasan juga terlihat datang bergerombol ke taman ini. Kalau anak lelaki bisanya berkumpul untuk bermain basket atau futsal di lapangan yang sudah disediakan sedangkan abg perempuan biasanya berkumpul di sudut taman untuk berfoto-foto.

Taman Menteng juga menjadi lokasi favorit untuk orang-orang yang hobi fotografi. Tidak jarang, beberapa orang terlihat sedang asyik berkutat dengan kamera SLRnya. Spot favorit untuk fotografi biasanya di seputar dua rumah kaca yang mempunyai bentuk unik.

Selain itu, pada akhir pekan taman ini juga menjadi tempat berkumpul komunitas musik. Taman Menteng yang dahulunya merupakan Stadion Menteng ditanami 1.000 pohon dari 30 jenis tanaman. Karena terhitung lebih muda dibanding Taman Suropati, pepohonan di taman ini belum berukuran besar. Di taman seluas 3,7 hektare juga ada sebuah air mancur yang terletak dekat tempat parkir. Fasilitas lain yang ada di taman ini adalah toilet serta mushola.

Bila datang menggunakan motor, biaya yang dikenakan Rp2.000 selama seharian penuh namun bila datang menggunakan mobil, satu jam pertama dikenakan biaya Rp3.000 dan selama satu jam berikutnya dikenakan Rp1.000.

Jika kebetulan sedang berada di wilayah seputar Menteng, mampir ke taman ini bisa menjadi sebuah relaksasi untuk merasakan sudut Jakarta yang berbeda. Dan bila akhir pekan belum mempunyai rencana bepergian, taman ini bisa menjadi lokasi yang pas untuk berkumpul baik bersama keluarga, teman ataupun pasangan.

Waktu yang pas untuk datang ke Taman Menteng ialah pagi dan sore hari. Keduanya menjadi waktu favorit bagi mayoritas pengunjung taman ini. (*/X-12)

Museum Basoeki Abdullah: Warisan untuk Indonesia

MENIKMATI karya Basoeki Abdullah (almarhum), seolah menyadarkan betapa ia sangat berpengalaman dalam hal melukis. Basoeki turut membawa Indonesia sebagai bangsa besar atas hasil karyanya.

Seluruh koleksi pribadinya beserta rumah kediaman agar dihibahkan kepada pemerintah Republik Indonesia. Penyerahan ini dilakukan oleh Saraswati Kowenhouven, Cicilia Sidhawati dan Nataya Narerat sebagai ahli waris pada tanggal 2 dan 5 September 1995 kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada tahun 1998 rumah di Jalan Keuangan Raya No. 19 Cilandak Barat Jakarta Selatan diserahkan kepada pemerintah melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan Cq. Direktorat Permuseuman dan tepat tanggal 25 September 2001 diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Drs. I Gede Ardika.

Dari koleksi yang dihadirkan di Museum Basoeki Abdullah, pengunjung dapat melihat sosok Basoeki lewat benda-benda koleksinya, seperti jam tangan dan koleksi keramiknya. Beberapa koleksi jam tangan unik yang dipajang, seakan mengembalikan ingatan kita saat Basoeki dibunuh delapan tahun silam.

Bahkan, senapan angin yang digunakan untuk memukul Basuki, hingga menyebabkan seniman besar ini tewas tidak ketinggalan untuk dipamerkan disana.

Tokoh-tokoh dari negara asing seperti, Imelda Marcos dari Filipina dan Ratu Juliana dari Amsterdam juga tidak ingin ketinggalan mengabadikan dirinya untuk dilukis oleh Basoeki dan sekaligus menjadi salah satu karya monumental Basuki.

Negarawan dalam negeri, seperti Sukarno, Muhammad Hatta, Soeharto beserta sang istri, Tien Soeharto pun tak luput dari inspirasinya.

Koleksi lainnya
Koleksi Museum Basoeki Abdullah lainnya mengenai penjelasan tentang riwayat hidup sang Maestro, berupa teks informasi yang didukung dengan foto-foto kegiatan dirinya sebagai pelukis, piagam penghargaan dari dalam dan luar negeri.

Jam buka museum
Selasa-Kamis : pukul 08.30-15.30 WIB
Jumat : pukul 08.30-15.30 WIB
Sabtu-Minggu : pukul 08.30-15.30 WIB

Harga tiket masuk : Gratis

Wisata Alam di Tengah Kota Jakarta

KOTA megapapolitan Jakarta memang banyak menawarkan tujuan pelesiran bagi warganya. Di tengah deretan mal dan hiruk pikuknya aktivitas warganya, Jakarta masih memiliki sebuah lokasi yang dapat dijadikan alternatif wisata untuk lebih mengenal alam dan lingkungan Jakarta yaitu Suaka Margasatwa Muara Angke.

Suaka Margasatwa Muara Angke adalah sebuah kawasan konservasi di wilayah hutan bakau (mangrove) di pesisir utara Jakarta. Berada di atas lahan seluas 25,02 hektare, Anda dapat mengenal lebih banyak aneka jenis tumbuhan dan satwa langka.

Kawasan ini pertama kali ditetapkan sebagai cagar alam merujuk Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor 24 tanggal 18 Juni 1939 seluas 15,4 hektare, hingga akhirnya berubah menjadi Suaka Margasatwa berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.755/Kpts-II/98 dengan luas 25,02 hektare.

Wilayah ini merupakan satu dari empat kawasan hutan bakau yang masih tersisa di Jakarta sebagai daerah resapan air. Di sini Anda juga dapat menyaksikan secara langsung 74 jenis burung-burung air. Selain itu terdapat binatang reptil seperti ular cobra, sanca, biawak dan kera berekor panjang.

Binatang yang tergolong unik disini adalah burung bubut jawa. Burung ini hanya bisa terbang pendek, yang jika terlihat seperti berlari. Burung ini bisa bertahan hidup dari memakan kelabang, belalang, tikus, katak, kumbang.

Puas berkeliling melihat-lihat jenis binatang yang berada disana, Anda juga dapat menyusuri Kali Adem dengan menggunakan speedboat. Bersama speedboat Anda akan dibawa menyusuri kawasan tersebut dari pinggir Kali Adem yang airnya sudah tercampur dengan limbah. Beragam jenis sampah mengapung sepanjang kali.

Di balik keindahan yang memang jarang Anda temui di kota besar Jakarta, Suaka Margasatwa Muara Angke memang menyimpan pesona tersendiri. Namun, sangat disayangkan jika kita sebagai masyarakat tidak perduli untuk merawatnya. (mediaindonesia.com/OL-5)

Museum Transportasi Nostalgia Naik Angkutan Umum

PERNAH merasakan naik delman, bemo, oplet atau becak? Beruntung bagi mereka yang pernah merasakannya karena di era modernisasi seperti saat ini, alat transportasi tersebut nyaris punah tergerus arus jaman. Bahkan, sarana itu sudah tergantikan dengan mobil dan bus angkutan umum di kota Jakarta.

Jangan kecewa dulu bila belum pernah merasakan sensasi naik kendaraan unik ini, karena Anda masih bisa melihatnya di Museum Transportasi. Berlokasi di area Taman Mini Indonesia Indah (TMII), museum yang diresmikan pada 20 April 1991, memiliki beragam koleksi alat transportasi Indonesia dari masa ke masa.

Sajian lengkap mengenai dunia transportasi mulai dari sejarah perkeretaapian Indonesia dan peta jaringan kereta api di pulau Jawa, lengkap dengan koleksi kereta api yang menggandeng gerbong-gerbong kayu, hingga bus-bus kuno, bisa dinikmati di area seluas 6,25 hektare tersebut.

Untuk lebih lengkapnya, museum ini terbagi menjadi empat ruang. Diawali, Modul Pusat. Terdiri atas koleksi alat transportasi tradisional diantaranya, bendi, becak, andong, sepeda, cikar, roda pedati, serta perahu layar dengan bentuk asli maupun miniatur. Koleksi unik di sini berupa foto kereta jenasah asli yang dipakai masyaarakat Aceh untuk mengangkutjenasah Sultan Iskandar Thani tahun 1641.

Selanjutnya, Modul Darat. Tempat itu khusus menampilkan sarana dan prasarana jalan raya, halan baja, serta penyebrangan. Lalu, Modul Laut. Terdapat transportasi laut menggunakan mesin, sebut saja, kapal penumpang, dok terapung, kontainer dan peralatan lainnya. Tak ketinggalan foto-foto mengenai perkembangan transportasi laut.

Kemudian, Modul Udara. Koleksinya adalah pesawat terbang, berbabgai macam peralatan di bandara, juga foto penunjang koleksi. Sementara, benda yang tidak boleh terlewatkan oleh pengunjung, bus wisata pertama dari Perum Pengangkutan Djakarta (PPD) tahun 1968 yang bermesin Mercedes Benz 0 302.

Tunggu apa lagi, yuk, bernostalgia di Museum Transportasi. Menikmati serunya naik angkutan umum dari sini.

Museum Transportasi
Komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Telp: 021-8400482, 8400662
Faks: 021-87792486
Buka: 09.00-16.00 (setiap hari)
Biaya: Rp. 2.000

Sumber: Majalah Travel Club

Mengenang Sejarah Batavia di Koja

MUNGKIN Anda lebih mengenal Kota Tua Jakarta sebagai tempat peninggalan sejarah Batavia Lama. Tapi di Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Koja, Jakarta Utara nuansa seperti itu juga bisa Anda rasakan di Kampung Tugu.

Sejak dulu, kampung ini dikenal sebagai tempat hunian orang-orang Portugis (kaum Mardjiker) yang pernah ditawan oleh Pemerintah Belanda. Umumnya, mereka beragama Katolik dan menggunakan bahasa Portugis sebagai bahasa percakapan.

Yang menjadi landmark tempat ini adalah Gereja Tugu di kampung ini. Konon, gereja ini didirikan sekitar tahun 1676-1678 M seiring dipindahkannya para Mardjiker dari Kota Batavia.

Menyusuri serpih-serpih sejarah di Kampung Tugu mengingatkan kita pada suasana Kota Batavia di masa lampau. Ada bangunan-bagunan kuno, jalan dan Kali Cakung yang dulu dipakai sebagai jalur transportasi air utama untuk menuju gereja.

Anda juga bisa mengikuti ritual mandi-mandi saat perayaan tahun baru. Ini dilakukan bukan dalam bentuk mandi yang sesungguhnya, melainkan saling memaafkan antar sesama warga di Kampung Tugu. Ritual ini merupakan warisan kaum Mardjiker.

Di Kampung Tugu juga ada pertunjukkan musik Keroncong Tugu yang biasa dipentaskan sejak tahun 1661 M pada acara pesta perkawinan, ulang tahun, peresmian, jamuan makan, menyambut tamu asing, perayaan Natal, dan perayaan tahun baru.

Selain itu, di Kampung Tugu masih bisa tersisa deretan rumah-rumah khas Batavia yang berumur ratusan tahun, bahkan beberapa kuburan kuno peninggalan zaman Belanda pun bisa ditemukan.

Kampung Tugu bisa diakses dari Jalan Raya Tugu Semper 20 dan Jalan Cakung-Cilincing. Anda bisa berangkat dari Stasiun Tanjung Priok dan pergi dengan angkutan umum 01, lalu turun di jalan Tugu, kemudian tinggal berjalan kaki sekitar 250 meter. (wisatamelayu.com/*/X-13)

Berwisata Sambil Belajar di Buperta

Jambore Anak Jalanan — ANTARA

SIAPA bilang Jakarta tak punya tempat wisata berupa lahan hijau? Buperta atau Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur, Jakarta Timur, hadir sebagai tempat rekreasi keluarga yang menyediakan beraneka fasilitas untuk anak-anak dan keluarga yang mengandung unsur pendidikan.

Luas area Buperta mencapai 210 hektare yang terbagi menjadi area perkemahan, hutan tropis, kawasan danau dan lahan untuk beberapa bangunan. Tak banyak negara yang memiliki lahan perkemahan seluas tempat ini.

Lahannya yang terbuka memang sengaja ditujukan untuk berbagai kegiatan kepramukaan, anak-anak, pemuda dan komunitas. Keasrian lingkungannya selalu dijaga dan anda bahkan bisa menjumpai monyet-monyet bergelantungan di pepohonan.

Bila ingin melakukan perkemahan bersama keluarga namun tak memiliki peralatan berkemah yang lengkap, tersedia jasa penyewaan perlengkapan berkemah. Dengan mengajak anak anda melakukan kegiatan berkemah bisa menanamkan nilai kemandirian dalam diri mereka.

Tak ketinggalan tersedia fasilitas berupa arena outbond dan kolam renang dengan kedalaman berbeda. Ada pula Taman Lalu Lintas Saka Bhayangkara yang dijadikan sebagai tempat belajar anak-anak guna meningkatkan kedisiplinan berlalu litas dengan lingkungannya yang indah.

Taman tersebut di desain menyerupai kota Jakarta namun dengan skala yang lebih kecil. Sistem pengajarannya juga dibuat sedemikian rupa agar anak-anak mudah mencerna dan tak merasa bosan. Mereka bisa belajar sambil bermain.

Untuk memahami secara lebih jelas, anak-anak bisa langsung melakukan praktek dengan mengendarai mobil (fun car), sepeda, dan naik kereta mengelilingi kota sambil menerapkan aturan berlalu lintas yang baik. (*/X-13)