Category Archives: Jawa Timur

Rona Merah Menawan Suku Tengger

KEELOKAN Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tidak hanya pada panorama alam yang begitu memesona, tapi juga Suku Tengger-nya sendiri yang mendiami wilayah sekitaran Bromo.

Suku Tengger memiliki ciri khas khusus pada rona wajah yang mereka miliki. Kulit di sekitar wajah mereka kemerah-merahan, hasil adaptasi dari suhu pegunungan Bromo yang sangat dingin. Boleh juga, ini menjadi pesona tersendiri bagi pelancong yang melirik penduduk asli Bromo ini.

Berdasarkan mitos atau legenda yang bertahan di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama Tengger sendiri diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger.

Masyarakat Suku Tengger merupakan masyarakat yang sangat plural terutama pada masalah keyakinan spiritual. Terbagi menjadi tiga agama besar, Hindu, Budha dan Islam. Walaupun begitu kerukunan dan sikap toleransi beragama Suku Tengger tetap terjaga dengan kuat.

Suku Tengger yang berdiam di Bromo sangat mudah dikenali karena selalu menggenakan sarung. Suku Tengger mengenal sarung dengan istilah kawengan. Sarung bagi Suku Tengger adalah baju atau jaket penghangat mereka. Kawengan digunakan untuk menepis serangan angin dingin yang menusuk tulang, selain karena harganya yang murah dan mudah di dapat di mana-mana dibandingkan pakaian hangat yang lain.

Suku Tengger sangat mempertahankan seni dan budaya tradisional. Tarian khas mereka adalah tari sodoran yang kerap kali ditampilkan pada perayaan Karo dan Kasada.

Dari sisi budaya, masyarakat Tengger berbudaya pertanian dan pegunungan yang kental, hal ini terlihat dari penghormatan berupa upacara adat pada dewa setelah panen.

Mereka tidak pernah menjual ladang (tanah) kepada orang lain, apalagi orang yang berasal dari luar Bromo. Hasil pertanian utama suku Tengger adalah kentang, kubis, wortel, jagung dan tembakau. Mereka termasuk pengonsumsi tembakau yang cukup kuat.

Sebagian dari mereka selain bertani menambah penghasilan menjadi porter para pendaki gunung Semeru atau menjadi pemanudu wisata di Bromo. Mereka juga kerap menawarkan kuda tunggangan untuk disewakan pada para wisatawan yang ingin merasakan desir pasir Bromo yang liat.(*/M-1)

Kenang Majapahit di Museum Mpu Tantular

SEORANG kolektor berkebangsaan Jerman yang sudah menjadi warga Surabaya Van Faber mendirikan Stedelijk Historisch Museum karena jatuh cinta pada kebesaran Kerajaan Majapahit.

Upaya Van Faber untuk mendirikan museum ini sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1922, tetapi baru sebelas tahun kemudian dapat diwujudkan. Museum ini dibuka secara resmi pada tanggal 25 Juni 1937.

Sejarah museum
Dalam perjalanannya, nama Stedelijk Historisch Museum Surabaya pada tahun 1972 diubah menjadi Museum Jawa Timur dan pada tanggal 1 November 1974 diresmikan dengan nama Museum Negeri Provinsi Jawa Timur Mpu Tantular.

Pemberian nama Mpu Tantular bagi museum ini adalah untuk mengabadikan pujangga besar Majapahit, pengarang kitab Arjunawijaya dan Sutasoma yang didalamnya terkandung falsafah Bhineka Tunggal Ika yang selanjutnya dijadikan semboyan bangsa Indonesia.

Koleksi
Koleksi museum ini berjumlah kurang lebih 15.000 buah yang digolongkan menjadi koleksi geologi, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatik, heraldik, filologi, keramik, seni rupa dan teknologi.

Seluruh koleksi yang dipamerkan di ruang pameran tetap museum terdiri dari koleksi yang terbagi dari zaman prasejarah, klasik (Hindu-Budha), zaman Islam, kolonial dan zaman modern, termasuk di dalamnya koleksi ilmu pengetahuan dan teknologi. (OL-08)

Jam buka museum
Selasa s/d Kamis : pukul 08.00 s/d 15.00 WIB
Jumat : pukul 07.00 s/d 14.00 WIB
Sabtu :pukul 08.00 s/d 13.30 WIB
Senin : tutup

Harga tiket masuk
Dewasa : Rp 1.500,-
Anak-anak : Rp 1.000,-
Rombongan (minimal 10 orang)
Dewasa : Rp 1.000,-
Anak-anak : Rp 500,-

Transportasi
a. Dari Bandara Udara Juanda : 15 Km
b. Dari Pelabuhan Laut Tanjung Perak : 50 Km
c. Dari terminal bus Bungur Asih : 10 Km
d. Dari Stasiun KA : 35 Km

Menikmati Sejarah dan Ziarah di Surabaya

TAK banyak yang bisa saya bayangkan saat kaki menjejakkan Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, selain sebuah ibu kota provinsi yang padat aktivitas penduduk urban. Nyatanya bayangan ruwetnya Jakarta tak pernah terbukti, bahkan di kota besar seperti Surabaya.

“Mungkin karena jalan-jalannya enggak pas jam sibuk di tengah kota, jadi enggak ketemu macet,” ujar Diane Laurentia, asisten MICE Manager Hotel Mercure Grand Miramar, saat saya dan beberapa rekan wartawan mengikuti inspeksi di sana dua pekan lalu.

Pembangunan di kota itu tampak begitu pesat. Proyek konstruksi di mana-mana. Tapi memang bukan jalanan macet atau konstruksi mal ala Jakarta yang ingin saya cari, melainkan keindahan menawan yang membuat napas tertahan dan pandangan mata tak beranjak. Seperti deretan gedung kuno di kawasan kota tua.

Peninggalan Belanda
Satu hal yang cukup membantu adalah lokasi tempat kami menginap di Hotel Ibis Rajawali yang terletak di kota tua Surabaya yang sarat sejarah.

Julangan bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial Belanda mengelilingi pandangan di sana. Kemegahan gedung-gedung masa lalu dengan pintu-pintu tinggi memikat hati meski tak semuanya masih berfungsi.

Banyak bangunan di kawasan utara Surabaya itu dilengkapi papan informasi di depannya, yang memberitahukan bahwa bangunan termasuk dalam cagar budaya pelestarian arsitektur sesuai peraturan daerah.

Pejalan kaki di kawasan ini pun mulai dimanja dengan jalur trotoar selebar kira-kira 4 meter di tepi jalan utama, termasuk di depan hotel, meski masih putus-sambung karena pembangunannya masih berlangsung.

Sekelompok orang berwajah Melayu keluar dari hotel saat saya juga hendak keluar, menikmati sore di Jembatan Merah yang jaraknya tak sampai 500 meter dari pintu masuk hotel. “Tamu dari Malaysia. Banyak yang suka ke sini untuk belanja di Pusat Grosir Jembatan Merah,” cetus Saiful Malik, front office manager hotel, menjawab rasa ingin tahu saya tentang mereka.

Pusat grosir itu terletak hanya di seberang hotel, di lokasi tewasnya pemimpin pasukan Inggris Jenderal Mallaby yang dikirim ke Surabaya setelah Perang Dunia II untuk melucuti tentara Jepang.

Kampung Arab
Selain gedung-gedung lawas di kawasan kota tua, beberapa rumah tinggal penduduk juga tampil cantik dengan gaya ‘jadul’-nya. Beberapa rumah di jalan-jalan kecil di kawasan Kampung Arab masih berfasad asli dengan lebar muka 5-6 meter.

Tatanan bukaannya simetris, sebuah pintu di tengah bidang dan dua jendela di setiap sisinya. Keaslian bangunan tampak dari lubang udara di atas pintu dan konsol yang dibuat dari besi bermotif lengkung, atau keriting, beberapa rekan arsitek menyebutnya. Beberapa fasad tampak asli, tapi mayoritas telah dirombak habis-habisan. Sayang.

Jalan kecil di Kampung Arab ini merupakan jalur masuk ke Masjid Sunan Ampel, salah satu tujuan wisata religi di Surabaya. Dari Jalan Nyamplungan yang merupakan jalan raya, perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki menelusuri gang kecil, Jalan Ampel Kembang. Lebarnya tak lebih dari 3 meter dan membelah permukiman padat penduduk.

Jalan ini berujung pada Jalan Ampel Suci, sebuah lorong beratap seperti pasar. Di dua sisinya terhampar para pedagang yang menawarkan beragam barang. Dari keperluan ibadah seperti baju-baju gamis, tasbih, kopiah, sampai aksesori, parfum, bahkan air zamzam dari Arab.

Ziarah
Ujung lorong Ampel Suci adalah pelataran Masjid Sunan Ampel. Di sana juga terdapat makam Sunan Ampel, salah satu Wali Songo, yang biasa dikunjungi warga peziarah. Makam itu, bersama makam istri dan beberapa pengikutnya, dibatasi gerbang masuk serupa gapura.

Penjaga di mulut gerbang tak segan mengingatkan pengunjung perempuan agar mengenakan kerudung saat memasuki permakaman. Mereka juga menyiapkan kain kerudung untuk dipinjamkan kepada pengunjung, tanpa biaya.

Pelataran makam yang ditutup konblok dibagi dua dengan batas pagar besi.

Satu untuk peziarah laki-laki, satu lagi untuk perempuan. Suasananya sejuk dan hening meski dengungan doa dari puluhan peziarah yang duduk bersila di sekeliling makam membahana.

“Setiap hari selalu ada yang ke sini. Ya saya sih berdoa saja, enggak ada yang khusus,” tutur seorang ibu yang duduk di sisi utara makam. Dia masih tampak khusyuk berdoa saat saya menyentuh lengannya untuk berpamitan.

Sembahyang
Ziarah lain di Surabaya bisa berlanjut ke tepi Pantai Kenjeran. Sayang, kawasan wisata di sana yang dinamai Ken Park–singkatan dari Kenjeran Park–begitu kering. Rumput liar, cat bangunan mengelupas, pepohonan mati. Beberapa sudut dijadikan tempat berduaan.

Tetapi di kawasan inilah berdiri Sanggar Agung. Sebuah bangunan ibadah bergaya Tionghoa, berhias tulisan China dengan nyala lilin-lilin raksasa setinggi manusia. Umat Buddha dan Konghucu beribadah di sana. Tak jarang wisatawan mengunjunginya untuk berekreasi.

Di balik dinding altar depan terhampar panorama lautan Selat Madura berbingkai patung Dewi Kwan Im, yang diyakini sebagai dewi cinta kasih. Sang dewi berdiri di atas gapura dengan total tinggi sekitar 20 meter, diapit dua anak dan dua pasang dewa. Mereka dijunjung sepasang naga.

Komposisi panorama nan agung yang disempurnakan debur ombak di laut lepas. Sesaat napas saya pun tertahan dan pandangan mata enggan beranjak. Sampai seorang perempuan muda berkacamata menyentuh bahu saya, berujar, “Permisi Mbak, saya mau sembahyang.” Dia memegang beberapa batang hio yang sudah dinyalakan dan karena saya menghalanginya persis di depan hio lo, tempat hio ditancapkan.(mediaindonesia.com/OL-5)

Ayo Melihat Lebih Dekat Patung Dewa Empat Muka

OBJEK wisata yang tak boleh terlewat saat berkunjung ke Surabaya adalah Patung Dewa Empat Muka atau Four Faced Buddha Monument yang diresmikan pada November 2004. Disebutkan bahwa tempat ini merupakan salah satu destinasi wisata tersohor di Asia Tenggara.

Bahkan MURI memberikan penghargaan sebagai Patung Dewa Empat Muka tertinggi dan terbesar di Indonesia. Tinggi patung mencapai 9 meter dan luas 225 meter persegi. Sedangkan tinggi total hingga puncak kubah adalah 36 meter.

Model bangunannya serupa dengan Four Faced Buddha Monument di Thailand. Bahan kampoh/kimpo atau kerta emas yang digunakan dalam proses pelapisan emas pada patung didatangkan langsung dari Thailand, beserta pekerjanya. Biaya pembangunan untuk tempat ini berkisar 4 milyar rupiah.

Makna dari patung Dewa Empat Muka atau Dewa Catur Muka memiliki empat filosofi kebaikan yang dimiliki Budha, yakni welas asih, murah hati, adil (tidak memihak), dan meditasi. Tempat ini juga merupakan tempat peribadatan umat budha.

Di setiap sudut kawasannya terdapat empat patung gajah putih dengan tinggi 4 meter. Gajah putih sendiri adalah binatang khas Thailand. Obyek wisata ini juga memiliki tiga kolam yang dihias bunga teratai dan sebuah ruang meditasi.

Sebanyak 12 lampu berbahan perunggu dan tembaga tak ketinggalan menjadi hiasan di sekelilingnya. Pengunjung akan mendapat souvenir khas patung Budha empat muka saat melakukan kunjungan. (navigasi.net/*/X-13)

Ayo Mengitari Gua Maharani

SAAT sedang di Lamongan, Jawa Timur, jangan lupa mengajak anak Anda mengunjungi tempat wisata Maharani Zoo & Goa Maharani. Keduanya berada dalam satu kawasan sehingga hanya cukup membeli satu tiket untuk menikmati aneka satwa yang unik serta pemandangan bebatuan indah dalam Gua Maharani.

Beraneka binatang dari berbagai penjuru dunia bisa dijumpai di area Maharani Zoo. Sedangkan Gua Maharani menampilkam bentuk stalagtit dan stalagmit yang sangat unik, mulai daribentuk yang menyerupai singgasana raja hingga mirip flora/fauna.

Gua juga dilengkapi dengan pencahayaan yang beraneka warna sehingga menonjolkan keindahan masing-masing bentuk batuan di dalamnya. Stalaktit dan stalagmit dalam gua bisa memancarkan cahaya warna-warni jika tersorot cahaya.

Saat keluar pintu gua terdapat Museum Batu (Gem Stone Gallery) dengan koleksi batu-batu eksotis zaman purba dari beragam belahan dunia dengan desain menarik. Yang menjadi daya tarik utama adalah Batu Mutiara yang dilengkapi dengan kaca pembesar sehingga detail keindahan dalam batu bisa terlihat jelas

Gua Maharani dilengkapi dengan tangga dan jalan setapak untuk mempermudah pengunjung berkeliling gua mengikuti jalur yang tersedia. Waktu yang dibutuhkan mengitari gua adalah sekitar setengah jam.

Pengunjung tak mungkin kehabisan oksigen saat berada dalam gua karena pada bagian atas gua terdapat jalan angin berupa blower kipas angin yang mampu menembus batu setebal lima meter. (liburananak.com/*/X-13)

Indahnya Alun-alun Kota Wisata Batu Jatim

ALUN-ALUN Kota Wisata Batu Jatim layaknya bunga di tengah taman yang mempesona. Kepopulerannya sebagai tempat terindah di kawasan Asia Tenggara, mampu menarik banyak wisatawan untuk berkunjung.

Keberadaan alun-alun sudah ada sejak zaman kerajaan Singosari, namun baru direnovasi dan diresmikan pada Maret 2011 silam. Saat ini alun-alun menjadi trade mark di Kota Wisata Batu. Kunjungan wisatawan yang melimpah tentunya berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakatnya.

Sebagai tempat yang tepat untuk menghabiskan waktu santai bersama keluarga, Alun-alun Kota Wisata Batu dilengkapi dengan fasilitas tempat duduk eksklusif beratap transparan pada beberapa area dimana Anda bisa menyaksikan panorama alun-alun yang indah.

Bila ingin menikmati keindahan Kota Wisata Batu dan sekitarnya dari ketinggian, bisa menaiki “Bianglala” yang memiliki ketinggian lebih dari 60m. Melalui Bianglala yang berputar secara perlahan, Anda bisa melihat hamparan pegunungan, hijaunya tanah hutan, ladang pertanian, bangunan rumah penduduk dan objek wisata lainnya.

Untuk anak-anak tersedia playground yang dilengkapi dengan ayunan, lorong-lorong, dan air mancur dari dasar tanah. Bermacam replika binatang seperti kelinci, singa, sapi perah, dan gajah tersebar di kawasannya. Pada malam hari replika tersebut tampak menyala terang dengan lampion.

Pada pintu masuk sebelah timur terdapat media TV berukuran besar yang biasanya menyajikan acara seperti live music, pertandingan Sepakbola, MotoGP, Formula, dan lainnya. Sedangkan pada tengah area alun-alun tersedia Wifi untuk pengunjung yang ingin bersantai sambil mengakses internet.

Tersedia pula sarana toilet umum berupa gedung berbentuk Apel yang cukup bersih dan layanan informasi pariwisata secara umum di Gedung Strawberry yang berada di ujung paling barat alun-alun. (wisatamalang.com/X-13)

Trowulan, Kota Klasik di Jawa Timur

SATU dari sekian banyak tempat sejarah berada di Jawa Timur. Trowulan adalah satu-satunya situs kota klasik di Indonesia yang menjadi warisan kebesaran kerajaan Majapahit. Ya, inilah situs Kerajaan Majapahit dari masa abad XIII s/d XV Masehi.

Situs dan Museum Purbakala Trowulan berlokasi di Trowulan, Mojokerto. Situs ini pertama kali muncul dalam literatur berjudul ‘History of Java I‘ yang ditulis Sir Stamford Raffles pada tahun 1817.

Raffles sendiri mengatakan bahwa nama Trowulan berasal dari Trang Wulan atau Terang Bulan. Namun, saat ditemukan seluruh situs ini tertutup hutan jati yang cukup lebat, sehingga dia tidak dapat terlihat sebagai sebuah kota yang klasik.

Situs kota klasik Trowulan dibangun dengan pola ruang kanal air yang diduga ada hubungannya dengan konsep mandala, sebagai acuan dan dasar pembagian kosmologis kota ini.

Kolam Segaran misalnya, yang berfungsi sebagai telaga di tengah kota. Berdasarkan sketsa rekonstruksi Kota Majapahit dan foto udara, kota klasik ini memiliki sistem kanal pengairan untuk drainase dan pasokan air yang dibuat dalam garis lurus memanjang dari barat laut ke tenggara dan dari timur laut ke barat daya.(indonesia.travel/*/X-13)

Menikmati Lautan Pasir di Bromo

KEINDAHAN lautan biru bisa Anda jumpai di banyak tempat. Namun keunikan pemandangan berupa lautan pasir seluas 5.250 hektarE hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Bromo Tengger. Taman ini juga merupakan satu-satunya kawasan konversi di Indonesia dan memiliki sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilian.

Kawasan Taman Nasional terletak di 4 Kabupaten yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Selain itu berada pada ketinggian sekitar 2.100m dari permukaan laut dengan keindahan alam yang mempesona dan didominasi oleh pegunungan.

Pada hamparan laut pasirnya, terdapat tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang. Meski mengetahui Gunung Bromo berbahaya, Suku Tengger yang merupakan suku asli penghuni kawasan gunung, tak pernah beranjak dari tempat tinggalnya.

Begitu pula dengan wisatawan yang tak berhenti datang berkunjung. Pemandangan alamnya yang sangat mempesona terlalu sulit untuk diabaikan.

Selain melihat matahari terbit, pengunjung bisa menyaksikan atraksi budaya Suku Tengger dengan segala keunikan kehidupan mereka yang justru menjadi daya pikat tersendiri. Salah satunya adalah upacara kasodo dan karo yang dilakukan besar-besara tiap tahunnya.

Sambil menikmati panorama alam yang menawan, pengunjung juga bisa berkemah dan melakukan pengamatan satwa/tumbuhan. Waktu yang baik untuk berkunjung adalah bulan Juni-Oktober dan bulan Desember-Januari. (wisatamalang.com/*/X-13)

Ayo Melihat Koleksi Keraton Sumenep di Museum

DI Jalan Dr. Sutomo, Sumenep atau tepatnya di belakang Keraton Sumenep terdapat sebuah museum yang menyimpan beragam peninggalan bersejarah para bangsawan Sumenep.

Koleksi yang tersimpan di antaranya adalah kereta keraton buatan abad ke-18, keramik dari Dinasti Ming, naskah kuno, peralatan pertanian dan nelayan kuno, prasasti, arca, keris, tombak, pedang, meriam dan alat-alat pribadi atau rumah tangga kerajaan.

Uniknya lagi, terdapat Alquran raksasa berukuran 4 x 3 meter dengan berat 500 kg. Alquran ini dibuat oleh seorang wanita yang bernama Yanti dari Desa Bluto pada tahun 2005. Waktu pembuatannya pun dibutuhkan selama enam bulan.

Bagian pertama museum berada di luar keraton. Ini merupakan tempat penyimpanan kereta kencana kerajaan Sumenep dan kereta kuda pemberian ratu Inggris. Hingga kini, kereta kerajaan ini masih dipakai saat upacara peringatan hari jadi kota Sumenep.

Bagian kedua museum ada di dalam Keraton Sumenep. Alat-alat untuk upacara mitoni atau upacara tujuh bulan kehamilan keluarga raja dan senjata-senjata kuno berupa keris, clurit, pistol pedang tersimpan di sini. Beragam guci dan keramik Tiongkok pun ada.

Di Museum Keraton Sumenep juga ada piring ajaib (magic rower) yang memiliki kekuatan magis, dimana nasi yang dihidangkan di atasnya tidak akan basi meskipun sudah satu minggu.

Jangan heran dengan salah satu raungan yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung, karena kamar itu diyakini sebagai kamar tidur raja Sumenep.

Museum Bindara Saod adalah bagian ketiga museum yang terletak di dalam keraton. Ruangan ini terdiri lima bagian yaitu teras rumah, kamar depan bagian timur, kamar depan bagian barat, kamar belakang bagian timur dan bagian barat.

Keraton Sumenep yang dikenal sebagai Potre Koneng (Putri Kuning) dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo I tahun 1762. Arsiteknya adalah Liaw Piau Ngo dari China yang memadukan gaya arsitektur Islam, Eropa, China, dan Jawa.

Di dalam keraton pun terdapat Pendopo Agung, Kantor Koneng, dan bekas Keraton Raden Ayu Tirto Negoro yang saat ini dijadikan tempat penyimpanan benda-benda kuno. (indonesia.travel/*/X-13)

Bertemu Koleksi Satwa Langka di TN Meru Betiri

BILA Anda termasuk pecinta alam, Taman Nasional Meru Betiri bisa menjadi pilihan untuk dijelajahi. Taman ini merupakan perwakilan ekosistem mangrove, hutan rawa, dan hutan hujan dataran rendah di Jawa, serta merupakan habitat tumbuhan langka dan beberapa jenis tumbuhan bakau.

Taman Nasional Meru Betiri berada dalam wilayah Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Potensi satwa yang dimilikinya terdiri dari 29 jenis mamalia, dan 180 jenis burung. Kesemuanya dilindungi.

Yang menjadi ciri khas taman adalah keberadaan habitat penyu belimbing, penyu sisik, penyu hijau dan penyu ridel/lekang di Pantai Sukamade. Untuk pengembangan penyu agar mereka tidak punah, dibangun beberapa fasilitas penunjang sederhana di sekitar pantai.

Keberadaan harimau loreng Jawa yang langka juga menjadi satu hal terkenal dari taman. Satwa tersebut sangatlah dilindungi karena tak lagi ditemukan dan diduga sudah punah.

Pantai Rajegwesi termasuk objek wisata yang ada di area taman. Pengunjung bisa melakukan kegiatan seperti wisata bahari, berenang, melakukan pengamatan satwa/tumbuhan dan wisata budaya. Lalu ada Sumbersari, area seluas 192 hektar untuk melihat atraksi satwa seperti sambar, rusa, kijang, dan terdapat laboratorium alam untuk kegiatan penelitian.

Bila ingin melihat penyu yang sedang bertelur, berkemah, berselancar, atau melakukan pengamatan terhadap tumbuhan dan satwa bisa mendatangi Pantai Sukamade. Di sekitarnya tersedia penginapan memadai.

Selama perjalanan ke Sukamade anda bisa menikmati pemandangan perkebunan karet dan kakao yang sangat jarang ditemukan di dunia. Musim kunjungan terbaik ke tempat ini adalah ketika bulan Februari – Juli, setiap tahunnya.(*/X-13)