Category Archives: Kalimantan Barat

Taman Nasional Gunung Palung

peta-gunung-palungTaman Nasional Gunung Palung merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang memiliki keaneka-ragaman hayati bernilai tinggi, dan berbagai tipe ekosistem antara lain hutan mangrove, hutan rawa, rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan pamah tropika, dan hutan pegunungan yang selalu ditutupi kabut.

Taman nasional ini merupakan satu-satunya kawasan hutan tropika Dipterocarpus yang terbaik dan terluas di Kalimantan. Sekitar 65 persen kawasan, masih berupa hutan primer yang tidak terganggu aktivitas manusia dan memiliki banyak komunitas tumbuhan dan satwa liar.

Seperti daerah Kalimantan Barat lain, umumnya kawasan ini ditumbuhi oleh jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), damar (Agathis borneensis), pulai (Alstonia scholaris), rengas (Gluta renghas), kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), Bruguiera sp., Lumnitzera sp., Rhizophora sp., Sonneratia sp., ara si pencekik, dan tumbuhan obat.

Tumbuhan yang tergolong unik di taman nasional ini adalah anggrek hitam (Coelogyne pandurata), yang mudah dilihat di Sungai Matan terutama pada bulan Februari-April. Daya tarik anggrek hitam terlihat pada bentuk bunga yang bertanda dengan warna hijau dengan kombinasi bercak hitam pada bagian tengah bunga, dan lama mekar antara 5-6 hari. Continue reading Taman Nasional Gunung Palung

Tanpa Bayangan di Tugu Khatulistiwa

tugu-khatulistiwa-pontianakPONTIANAK – Salah satu objek wisata yang cukup menarik di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, adalah Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument.

Pada tengah hari setiap tanggal 21-23 Maret dan 23 September, para pengunjung selalu disuguhi pemandangan yang sangat menarik. Benda-benda tegak yang berada di sekitar Tugu Khatulistiwa tidak mempunyai bayangan (tanpa bayangan).
Hal tersebut menunjukkan bahwa Tugu Khatulistiwa di Pontianak terletak tepat pada garis lintang nol derajat. Maka wajarlah kalau setiap tanggal 21-23 Maret dan 23 September, wisatawan dalam dan luar negeri selalu memadati Tugu Khatulistiwa. Pemerintah Kota Pontianak sendiri selalu menyuguhkan berbagai acara demi lebih menarik minat wisatawan.
Wali Kota Pontianak Sutarmidji kepada SH menuturkan, tempat wisata Tugu Khatulistiwa memang tidak ada duanya di Kalimantan. Oleh karena itu, berbagai upaya terus dilakukan untuk menarik minat pengunjung. Kota Pontianak memiliki luas 107,82 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk 514.622. Jumlah angkatan kerja 238.576 orang, dan sebanyak 207.344 orang sudah terserap sehingga tingkat pengangguran terbuka sekitar 31.232 jiwa. Continue reading Tanpa Bayangan di Tugu Khatulistiwa

Kampung Beting

Kampung Beting
Kampung Beting

“Kampung Beting” adalah sebuah peradaban Kota Pontianak di masa lalu yang masih terjaga kelestariannya hingga kini. Kampung tersebut dibangun diatas sungai, sehingga sampan merupakan sarana penting yang digunakan untuk lalu lintas sehari-hari. Aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat juga sangat menggantungkan pada transportasi air. Kampung Beting menyingkap banyak kehidupan era kesultanan Pontianak sejak berdirinya ibukota Kalimantan Barat pada tahun 1771. Continue reading Kampung Beting

Aloe Vera Centre

aloe-vera-centreAloe vera adalah tumbuhan atau tanaman yang sudah digunakan berabad-abad untuk berbagai macam tujuan. Sejak 4.000 tahun yang lalu, Aloe Vera telah dikenal khasiatnya karena di dalam daunnya mengandung berbacam macam nutrisi. DI Yunani pada tahun 333 SM, Aloe vera dikenal sebagai tanaman untuk mengobati berbagai macam penyakit, demikian juga di China, orang menyebutnya sebagai tanaman suci. Continue reading Aloe Vera Centre

Tugu Khatulistiwa Pontianak

Tugu Khatulistiwa
Tugu Khatulistiwa

Kota Pontianak menjadi istimewa karena dilalui garis khayal Equator atau garis Khatulistiwa. Garis itu membagi bumi ini menjadi dua bagian, yakni belahan utara dan selatan. Bila berdiri di titik lintang 0 derajat itu, jelas membuahkan kebanggaan tersendiri.

Keistimewaan itu bermula dari ekspedisi internasional yang dipimpin oleh ahli geografi berkebangsaan Belanda tahun 1928. Tujuannya untuk menentukan titik atau tonggak garis Equator di Kota Pontianak. Setelah ditemukan, lalu dibangun sebuah tonggak dengan bentuk tanda panah di puncaknya. Itu penanda bahwa Kota Pontianak dilalui garis Khatulistiwa. Continue reading Tugu Khatulistiwa Pontianak