Category Archives: Kalimantan Selatan

Pantai Batakan

Pantai BatakanPantai Batakan terletak di Desa Batakan, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut (Tala), sekitar 125 kilometer arah timur dari Kota Banjarmasin (Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan). Untuk mencapai lokasi Pantai Batakan, dari Kota Banjarmasin relatif mudah karena kondisi jalannya cukup baik.

Walaupun jalannya berkelak-kelok dan turun-naik, tetapi menyajikan pemandangan alam yang indah berupa barisan perbukitan yang menghijau, hamparan persawahan yang menguning, serta perkampungan nelayan yang berada di tepi pantai. Pantai Batakan merupakan obyek wisata bahari yang terpadu dengan panorama alam pegunungan, karena di sebelah timurnya terdapat perbukitan pinus yang menjadi bagian dari Pegunungan Meratus.

Di pantai ini pengunjung dapat mengelilingi pantai sambil menggunakan kuda sewaan, bersantai di bawah pohon cemara sambil menikmati keindahan pantai, atau menyaksikan panorama alam terutama saat matahari akan terbenam (sunset).

Pantai Batakan juga dilengkapi pula dengan fasilitas khas tempat rekreasi, seperti kamar mandi untuk bilas, rumah ibadah (masjid), panggung hiburan, cottage, restourant, penginapan, playground, hingga areal parkir kendaraan bermotor yang cukup luas.(wisatanesia)

Sumber: DNA Berita

Dari Masjid ke Masjid dan Makam Banjarmasin – Kalimantan Selatan

Dari latar belakang sejarah, Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi ikon pusat penyebaran Islam untuk Pulau Kalimantan. Sehingga sangat lazim, banyak ditemui tempat-tempat (destinasi), bangunan dan tempat ibadah (masjid) tua dan bernilai sejarah tinggi.

Maka Kalsel memiliki beberapa obyek wisata religi yang masih sangat mungkin dikembangkan. Diantaranya Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Masjid dan Makam Sultan Suriansyah, Masjid Al-Karomah Martapura, Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, dan banyak makam lainnya yang tak pernah sepi dari puluhan ribu peziarah atau pengunjung setiap tahunnya.

Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah salah satu landmark kota Banjarmasin yang berada di jantung kota. Menempati areal seluas 10.36 hektar menghadap sungai Martapura yang ramai dengan lalu lintas airnya. Bangunan berarsitektur modern dikelilingi oleh lima menara menjulang tinggi serta taman luas nan indah, berlantai dua dapat menampung sekitar 15.000 jamaah.

Sementara Masjid Sultan Suriansyah merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Dan jika sempat ziarah ke Martapura, sebaiknya juga menyinggahi Masjid Agung Al-Karomah, Martapura. Masjid ini memiliki kubah yang unik dengan warna-warna dipuncaknya, dan juga dilengkapi dengan satu menara tinggi berarsitektur unik.

Meski sudah tiga kali rehab, namun tetap meninggalkan beberapa komponen bangunan asli dari pembangunan pertama. Empat tiang Ulin yang masih tegak di tengah menjadi penanda bangunan sebagai nilai sejarah. Dengan mengikuti bentuk bangunan modern dan Eropa, sekarang Masjid Agung Al Karomah Martapura terlihat lebih megah. Ke empat tiang bersejarah ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid.

Selanjutnya, jangan lewatkan pula Makam Ulama Agung Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau lebih dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan, merupakan destinasi wisata religius yang juga banyak dikunjungi orang.

Makam beliau berlokasi di desa Kalampayan Ulu, Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar dengan jarak tempuh sekita 60 km dari kota Banjarmasin, sedangkan dari kota Martapura – Ibukota Kabupaten Banjar- hanya kurang lebih 22 menit waktu perjalanan. Kitab/buku karangan beliau yang terkenal adalah Sabilal Muhtadin – sebuah kitab ilmu agama Islam – yang kemudian diabadikan sebagai nama masjid terbesar di Kalimantan Selatan.

Sumber: Majalah Travel Club

Menjaga Tradisi dari Atas Perahu

Dingin angin Subuh terasa lembut mengelus kulit, tak menyurutkan tangan-tangan lincah mengayuh dayung di atas perahu kayu. Remang-remang lampu temaram menjadi alat penerang, setiap perahu mengangkut muatan berbeda, mulai dari sayuran, makanan tradisional, buah-buahan hingga bahan pokok kebutuhan sehari-hari. Tak sedikit pula perahu yang dirancang sebagai warung makan.

Riuh suasana pedagang dengan pembeli tawar menawar yang didominasi kaum wanita berbahasa Banjar terasa semakin menyemarakkan suasana pagi. Demikian sekelumit suasana di Muara Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sebelum azan subuh berkumandang, aktivitas masyarakat berperahu di sungai Barito sudah dimulai pedagang berperahu yang berjualan di pasar Muara Kuin.

Entah sejak kapan rutinitas ini dimulai, tak ada yang bisa menjelaskannya dengan pasti. Kegiatan perekonomian diatas air ini sudah ada sejak jaman dahulu, bermula dari pedagang-pedagang dari sungai-sungai yang ada di Kota Banjarmasin yang bertemu. Sistem perdagangan yang digunakan awalnya adalah sistem saling bertukar barang dagangan atau yang disebut Sistem Barter.

Hingga kini, pasar terapung tetap berlangsung dan terjaga dengan baik. Meski serbuan pasar-pasar moderen begitu gencar. Pasar Muara Kuin tetap tak tergantikan. Pedagang dan barang yang dijual di sini mungkin tak berbeda dengan pasar tradisional di daerah lainnya di Indonesia. Namun, keunikan terletak pada aktivitas jual beli berlangsung di atas sebuah sungai yang melintasi Kota Banjarmasin. Pasar ini lebih populerdengan sebutan Pasar Terapung.

Pedagang di Pasar Terapung begitu antusias menawarkan dagangannya kepada calon pembeli. Biasanya si penjual yang mendatangi calon pembelinya, bukan sebaliknya. Para pembelinya pun menggunakan Jukung (sejenis perahu) untuk berbelanja. Tak jarang sering terjadi kejar mengejar pedagang dengan pembeli, mereka begitu lincah dalam mengemudikan jukungnya. Jukung merupakan istilah yang digunakan masyarakat Banjar untuk menyebut perahu kecil yang terbuat dari kayu.

Orang yang datang ke pasar ini tak hanya untuk kepentingan berbelanja, banyak juga yang sekadar ingin menikmati sarapan pagi diatas perahu yang menjual hidangan sarapan, atau berburu kudapan tradisional khas Kalimantan Selatan, tak kalah menarik dari aktifitas pasar ini adalah masih berlakunya sistem transaksi barter atau yang dalam masyarakat Banjar dikenal dengan nama bapanduk.

Sama seperti pasar tradisional pada umumnya yang berada di darat, Pasar Terapung juga memiliki ketentuan dalam mengatur lokasi tempat berjualan. Ada lokasi yang diisi dengan pedagang buah-buahan. Ada lokasi yang diperuntukkan khusus untuk pedagang sayuran dan seterusnya.

Aktivitas perdagangan pasar terapung mencerminkan kebudayaan masayarakat di Kota Seribu Sungai ini. Aliran sungai adalah kehidupan, tempat mereka tinggal sekaligus mencari kesejahteraan. Berdagang dan belanja di atas aliran sungai bukan semata upaya mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, lebih dari itu.

Mempertahankan aktifitas ini juga melestarikan sebuah warisan leluhur. Di pinggir sungai, bisa disaksikan rumah-rumah penduduk yang terapung. Wisatawan bisa bermalam dengan menyewa rumah-rumah yang disebut Lanting ini.

Untuk masayarakat lain, keberadaan pasar di atas air mungkin tak biasa. Tak heran Pasar Terapung menjadi sebuah daya tarik. Kini, Pasar Terapung tak hanya menjadi tempat trasansaksi jual-beli tetapi menjadi daya tarik wisata, melebur dan menikmati serunya berbelanja di atas sungai menggunakan perahu yang terombang-ambing digoyang ombak sungai akan menjadi pengalaman menarik berwisata di kota yang juga dikenal dengan predikat Kota Seribu Menara ini.

Pasar Terapung Muara Kuin menjadi banyak tujuan para penyuka fotografi. Aktivitas pasar ini menjadi obyek menarik untuk diabadikan. Aktivitas pasar terapung hanya berlangsung hingga sekitar pukul 8.00-09.00. Jika ingin menikmati keunikan Pasar Terapung, sebaiknya berangkat ketika hari masih fajar agar bisa lebih puas menyaksikan aktivitasnya. Waktu yang tepat, tiba di lokasi sekitar pukul 05.30 atau pukul 06.00. Selain suasana sudah ramai kondisipun sudah mulai benderang.

Cara Cepat Menuju Muara Kuin

Ada ungkapan yang mengatakan tak lengkap jika berkunjung ke Banjarmasin sebelum datang dan belanja di Pasar Terapung Muara Kuin. Begitu terkenalnya pasar ini membuat setiap wisatawan yang melancong ke Banjarmasin selalu menyisihkan waktu untuk mengunjunginya.

Untuk mencapai daerah ini tidaklah sulit. salah satu alternatif untuk mencapainya adalah melalui jalan darat. Dari pusat kota hanya butuh waktu sekitar 15-20 menit menuju Dermaga Kuin. Disarankan untuk menggunakan jalur sungai yang bisa ditempuh dari banyak dermaga di sana. Termasuk dermaga di depan Pemkot Banjarmasin.

Sekarang, terdapat perahu wisata yang menawarkan paket keliling Muara Kuin. Rute yang ditempuh perahu wisata itu dengan menyusuri Sungai Martapura, melalui Makam Sultan Suriansyah, berlanjut menyaksikan pasar terapung, setelah menikmati Pasar terapung perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Kembang sebagai lokasi akhir. Setelah itu, ditempuh perjalanan kembali menyusuri Sungai Martapura hingga ke dermaga semula.

Sumber: Majalah Travel Club

Wisata Kota Banjarmasin (2): Kemilau Batu Kecubung

Kemilau Batu Kecubung

Serunya mencucuk kue di perahu kelotok di atas aliran Sungai Kuin di Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel), bukan menjadi klimaks penulis dalam merunut nostalgia di kota ini.

SP/N Nuke Ernawat i- Masjid Raya Al Karomah Kota Martapura.
SP/N Nuke Ernawat i- Masjid Raya Al Karomah Kota Martapura.
flickr.com - Batu kecubung ungu.

Setelah 25 tahun, pastinya semua berubah. Dulu, sembari berjalan kaki sepulang sekolah di SD Rajawali yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, menuju rumah yang berjarak sekitar 200 meter, penulis berjalan di trotoar tepi Sungai Martapura yang memang mengalir di tengah kota. Perjalanan pulang sekolah itu, melewati Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Nah, tepat di depan masjid, di tepi Sungai Martapura waktu itu, selalu ada beberapa perahu kelotok yang merapat dan berjualan aneka buah-buahan. Bila musim buah rambutan tiba, aneka jenis rambutan yang hanya ada di Kalsel, seperti cikotok dan garuda, biasanya menggunung di atas perahu kelotok pedagang. Belum lagi jeruk madang yang tak kenal musim dan selalu ada, selalu setiap saat dijajakan di tepi Sungai Martapura, depan Masjid Raya. Sembari pulang sekolah, penulis biasanya sekalian ‘dititipi’ ibu untuk membeli buah-buahan itu. Sekarang, perahu-perahu kelotok penjaja buah itu, hanya bisa ditemui pagi-pagi di Pasar Terapung. Semua memang sudah berubah. Pun lokasi SD yang sekarang sudah menjadi gedung Bank Mandiri dan rumah masa kecil juga telah menjadi sebuah hotel. Namun, yang paling menyedihkan, adalah keadaan bangunan Masjid Raya Sabilal Muhtadin yang demikian kusam dengan rumput-rumput liar yang meninggi. Padahal, dulu, masjid itu menjadi kebanggaan warga Kota Banjarmasin. Rumput di halamannya begitu tertata, bahkan menjadi lokasi pelajaran olahraga tempat penulis bersekolah. Continue reading Wisata Kota Banjarmasin (2): Kemilau Batu Kecubung

Wisata Kota Banjarmasin (1): Mencucuk Kue di Pasar Terapung

Pasar Terapung di tengah Sungai Kuin
Pasar Terapung di tengah Sungai Kuin

Menyebut Kota Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), maka yang terlintas dibenak adalah keunikan Pasar Terapung. Ini memang tidak salah, di mana lagi tempat bisa melakukan transaksi jual beli di sungai di Indonesia, selain di Pasar Terapung Kota Banjarmasin? Fenomena sama sebetulnya juga ada di Floating Market di Bangkok Thailand. Konsepnya nyaris sama, menjajakan suasana tempo dulu, ketika sungai adalah tempat untuk berjual beli.

Karena itu, tak salah apabila Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta pihak Pemprov Kalsel, juga mempromosikan keberadaan Pasar Terapung itu, sebagai bagian dari wisata air yang berpotensi menjadi daya tarik wisatawan. Langkah yang dilakukan pemerintah provinsi setempat, dengan menayangkan keunikan Pasar Terapung di televisi di Bandara Samsudin Noor Banjarmasin, tampaknya memang jitu. Sebab, siapa pun yang baru menjejak di bumi Kalsel yang juga terkenal dengan pendulangan intan, permata, dan aneka batu-batuan indah itu, pasti akan melayangkan mata, ke monitor televisi, sembari menunggu tas bagasinya diturunkan dari perut pesawat.

Hal ini juga SP lakukan baru-baru ini. Namun, aksi melihat televisi program lokal wisata tersebut, penulis lakukan lebih pada menyimak, apa saja yang ditawarkan di Pasar Terapung itu, sembari memuji upaya promosi tersebut. Bertransaksi di atas air sungai, bukan hal baru bagi penulis. Kebetulan, penulis menghabiskan sebagian masa bersekolah dasar di Kota Banjarmasin. Karena itu, kesempatan mendatangi kota tersebut 25 tahun kemudian, menjadi sebuah bagian merunut nostalgia.

Bandara yang seiring tuntutan zaman mulai menata diri, menjadi catatan tersendiri. Sebab, eksterior bandara yang dibiarkan tetap seperti dulu, mulai membuka “album kenangan” penulis. Perjalanan pun dimulai dengan meninggalkan lokasi bandara yang terletak di Kota Banjarbaru Kalsel, yang jaraknya sekitar 40 km dari Kota Banjarmasin. Perjalanan ini, dulu begitu menjemukan karena hanya ada pemandangan ilalang, tanaman pakis yang tumbuh tinggi, dan rumput gambut. Sekarang, semua berubah. Beberapa bangunan pun mulai tampak berselang seling dengan ilalang. Agaknya, pertumbuhan penduduk memang berlangsung signifikan setiap tahunnya, sehingga jalan yang dulunya sepi, menjadi mulai ramai, antara lain dengan sepeda motor, mobil pribadi, dan angkutan kota yang dulunya tidak ada. Continue reading Wisata Kota Banjarmasin (1): Mencucuk Kue di Pasar Terapung

Pasar Terapung Banjarmasin

Pasar Terapung BanjarmasinPerjalanan wisata melalui sungai Barito atau sungai Martapura bisa menggunakan perahu motor yang biasa disebut dengan “Klotok”. Untuk perjalanan yang agak jauh bisa menggunakan speedboat.

Jarak dari kota 1 jam perjalanan naik klotok (perahu motor air) dan 15 menit naik kendaraan darat. Pada obyek tersebut dapat dilihat budaya masyarakat Banjar yang menjual sayur mayur dan kue-kue, makanan dan minuman, serta keperluan rumah tangga sehari-hari diatas perahu, dan pembeli dapat membeli dari atas perahu juga, atau dari dermaga-dermaga kecil di rumah-rumah penduduk.
Pasar ini digelar dari jam 05:00 sampai dengan jam 07:00 pagi.

Keelokan Loksado

loksadoJika ingin merasakan segala kebaikan alam, datanglah ke Loksado, pemukiman masyarakat Dayak-Meratus di hulu Sungai Amandit, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Selain alamnya yang asri, di sana juga terdapat rumah panjang suku Dayak (Balai Malaris), air terjun Haratai, Danau Bangkau, Bukit Kantawan dan pemandian air panas Tanuhi.

Masih banyak lagi objek wisata yang dapat Anda kunjungi. Tapi aktivitas paling menantang adalah bamboo rafting atau orang setempat menyebutnya balanting paring. Yakinlah, adrenalin Anda akan terpacu di tengah Sungai Amandit yang deras dan berbatu-batu. Continue reading Keelokan Loksado

Martapura Kini Berubah Wajah

Megahnya Masjid Al Karomah Martapura
Megahnya Masjid Al Karomah Martapura

Martapura – Mendengar nama Martapura, masyarakat umumnya akan langsung menghubungkannya dengan lokasi penjualan intan permata. Tak heran karena sejak dulu nama Martapura memang dikenal sebagai penghasil intan terbesar di wilayah Kalimantan, bahkan di seantero Nusantara.

Kenyataannya, belakangan Martapura mulai berubah wajah. Lantaran terlalu sering dikunjungi pelancong dari wilayah Kalimantan sendiri maupun wilayah luar Kalimantan, Martapura pun berbenah sehingga belakangan mulai menjadi lokasi wisata tujuan para pelancong. Kawasan ini bukan saja untuk tujuan berburu membeli intan permata, tapi juga sebagai objek wisata keluarga.

Kalimantan Selatan (Kalsel) yang beribu kota Banjarmasin ini memang terbilang daerah yang cukup luas mencapai 36.985 km2. Provinsi Kalsel ini mempunyai dua kota besar, yaitu Banjarmasin dan Banjarbaru dengan sebelas kabupaten yang salah satunya adalah Kabupaten Banjar yang beribu kota Martapura. Continue reading Martapura Kini Berubah Wajah

Loksado Miliki Daya Pikat Kuat

BANJARMASIN–Obyek wisata alam Loksado di Kabupten Hulu Sungai Selatan (HSS) Kalimantan Selatan masih memiliki daya pikat luar biasa dan masih laku dijual kepada wisatawan mancanegara.

Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Bihman Mulyansyah mengatakan di Banjarmasin, Selasa, kesimpulan tersebut diperoleh dari hasil penelusuran yang dilakukan perwakilan seluruh perusahaan maskapai penerbangan di Kalsel bersama 20 anggota Asita ke Loksado beberapa waktu lalu.

Dari hasil perjalanan yang dilakukan oleh masing-masing perwakilan maskapai penerbangan yakni Garuda Indonesia, Continue reading Loksado Miliki Daya Pikat Kuat