Category Archives: Mancanegara

Dikelilingi Pemandangan Hijau nan Asri Menyusuri Jalan Tol Halsema yang Unik, Berkelok dan Mendebarkan

Tak sedikit orang merasa takjub dengan jalanan menuju puncak yang sedikit berkelok dengan pemandangan hijau nan asri. Namun, itu belum seberapa bila Anda pernah berkunjung ke Tol Halsema di Philipina.

Yah, jika Anda ingin mencapai daerah yang tinggi dan berkelok dari bawah, maka datanglah dan lewati jalan tol Halsema.

Jalan tol ini konon menjadi tol tertinggi di negeri bekas jajahan Spanyol itu. Jalanan yang berliku melalui berbagai wilayah yang juga hijau di samping pegunungan yang menghubungkan daerah Baguio dan Sagada.

Nama jalan tol ini diambil dari nama insinyur Halsema yang mampu membangun jalan melewati pegunungan di awal abad 20. Selain pemandangan peternakan dan kebun-kebun sayur, Anda juga bisa melihat berbagai obyek unik.

Momen unik itu adalah ketika Anda melihat banyak dari desa-desa ini yang mendirikan monumen untuk ekspor terbesar mereka, sayuran. Pastikan Anda berhenti untuk berfoto di patung kentang, patung wortel, dan seterusnya.

Sebuah perjalanan yang tentu istimewa di negeri sesama ASEAN. Di sepanjang perjalanan ini Anda akan melalui daerah hutan dan berbagai tanaman sayuran dataran tinggi Seperti kentang, wortel, lobak berkembang menghijau. Masyarakat setempat menyebut kawasan pegunungan ini dengan nama ‘Gunung Trail’.

Perjalanan wisata hijau nan unik. Kawasan ini juga terkenal dengan tradisi kuno, daerah Cordillera host yang banyak didatangi pengunjung sepanjang tahun, terutama bagi yang tertarik dengan cara hidup masyarakat dataran tinggi yang memang berwarna-warni.

Di lereng rendah pegunungan Cordillera ini, padi ditanam di teras dan desain batu yang dibangun kuno. Pendaki dan fotografer pecinta bukit banyak yang juga berkunjung. Ada juga Kota Banawe di Provinsi Ifugao, serta gua dan air terjun atau Kota sagada di Mountain Provinsi.

Jalan Tol Halsema ini bukan hanya jalan ke tempat lain, sebagai media memperpendek jarak dan sarana transportasi, tetapi cukup baik juga untuk dijadikan sebagai tujuan wisata dengan penginapan unik.

Jalan ini dimulai dari Baguio City, mulai jalan menanjak dari ladang stroberi La Trinidad. Pada bagian awal tahun, sekitar bulan Maret hingga Juni, wisatawan rela melihat semua jenis bunga lili liar bermunculan dari batu di samping program air dan sepanjang jalan di ketinggian yang lebih tinggi.

The Benguet off-putih, berbentuk terompet Lily selalu berkembang. Ada juga yang lain Seperti bunga bakung Calla yang juga tumbuh liar di seluruh daerah.

Setelah melalui Sayangan Town, jalan terus menanjak untuk sedikit lebih lama sampai mencapai titik point tertinggi dalam Sistem Highway Philipina ini.

Titik tinggi itu berada di 7200 meter di atas permukaan laut, di sini ada juga sebuah toko suvenir yang menjual t-shirt dan makanan ringan. Dari titik tertinggi ini, anda bisa melihat pemandangan alam istimewa, jalanan di sepanjang pegunungan dengan bersebelahan tebing batu yang spektakuler.

Setelah berada di puncak, jalanan akan menurun melalui beberapa tempat yang tentu juga menarik untuk disusuri. Jalanan menurun ini akan menemui sisi sungai Chico di Sabangan Town, sebuah sungai yang akan mengalirkan airnya hingga samudera pasifik di pantai utara Philipina.

Akhir dari jalan tol ini adalah kawasan Buntoc yang juga menghadirkan pesona kota unik, ada museum dan berbagai tempat yang menyajikan industri kerajinan lokal masyarakat Philipina.

Anda tertarik untuk menyaksikan jalanan tol yang berkelok yang bisa jadi melebih kelok sembilan ala Sumatera Barat.glo/dy/LI-07

Sumber: lensaindonesia.com

Melepas Lelah di Keindahan Canberra

Selain Sydney dan Melbourne, Canberra bisa dipilih sebagai tujuan wisata lain di Australia. Kota ini sangat tenang, jauh dari hiruk pikuk, tetapi menyimpan kejutan-kejutan yang mengagumkan. Dijamin badan dan pikiran menjadi rileks, terlebih bagi mereka yang ingin lepas dari kebisingan dan kemacetan.

Di Ibukota negara Australia ini sejumlah objek wisata unik siap dikunjungi. Canberra sengaja dibangun sebagai kota pemerintahan, dan menjadi jalan keluar atas persaingan Sydney dan Melbourne, yang ingin menjadi ibu kota negara.

Kondisi kota yang mayoritas warganya berpendidikan ini, sungguh teratur dan aman. Sarana transportasi pun dibuat aman dan nyaman. Naik bus dari satu tempat ke tempat lain menjadi suatu petualangan yang menyenangkan.

Pemerintah Australia telah menyediakan jaringan bus Action yang bersih, berbahan bakar gas, dilengkapi dengan rak penyimpanan sepeda. Untuk memudahkan penggunanya, tiket bus dapat dibeli di lebih dari 100 agen dan masing-masing peta jalur bus dapat diambil secara gratis.

Nikmat, ‘kan?

Mengintip parlemen

Perjalanan dimulai dari gedung parlemen Australia. Kalau Amerika memiliki White House, Australia punya Old Parliament House dan Parliament House. Di Old Parliament House yang terletak di Parkes ini terdapat The Museum of Australia Democracy yang bercerita tentang demokrasi Australia.

Di Parliament House yang terletak di Canberra, jajaran bendera dari seluruh negara di dunia dikibarkan. Tentu saja ada sang saka Merah-Putih di antaranya. Di tempat ini Anda bisa tur gratis untuk mengetahui proses kerja para anggota parlemen.

Di seberang Parliament House terdapat Australia War Memorial. Sesuai namanya, museum yang tidak memungut bayaran ini akan membawa Anda ke masa PD II. Ada banyak senjata dan kendaraan perang di museum yang terletak di Campbell ini.

Pada sore hari, terkadang terdapat pertunjukkan musik di taman museum tersebut. Keindahan taman ini sangat menggoda untuk sekadar menggoyangkan kaki, duduk-duduk santai, sambil menikmati musik.

Semuanya gratis

Museum lain yang juga patut dikunjungi adalah The National Museum of Australia yang dekat dengan Parliament House. Arsitektur museum ini sangat mengagumkan, juga memunculkan desain serta warna-warna yang mengejutkan.

Didasari filosofi benang yang dirajut, isi museum yang terletak di semenanjung Acton ini menyuguhkan cerita sejarah masa lalu, masa kini, kultur, masyarakat tradisional maupun modern, serta berbagai aspek lain yang saling bertaut menjadi suatu eksistensi keindahan yang disebut Australia.

Di sini terdapat sejumlah benda peninggalan bintang kriket, olahraga yang paling digemari warga Australia, Greg Chappell. Di dalam museum juga terdapat duplikat dapur dari beberapa puluh tahun lalu.

Kalau belum puas dengan kehidupan masa lalu dan sekarang, Anda diajak mendesain warna dan bentuk kendaraan serta rumah tempat tinggal masa datang di area K-Space. Anda bisa berfoto bersama rumah dan kendaraan karya Anda itu. Tak perlu merogoh kocek untuk menikmati fasilitas ini karena semuanya gratis.

Tempat-tempat wisata tersebut umumnya buka mulai pukul 09.00 hingga 17.00. Jadi, manfaatkan waktu Anda sebaik-baiknya.

Selamat jalan-jalan!

Sumber: Senior

Uji Nyali di Sidney

Sydney merupakan ibu kota negara bagian New South Wales dan kota terbesar di Australia. Meski tergolong ramai, para wisatawan masih tetap nyaman menikmati Sydney sambil berjalan kaki atau bersepeda. Banyak julukan untuk Sydney, sebut saja the Harbour City, the City of Villages, dan the Emerald City.

Inilah salah satu kota multikultural di dunia. Berbagai bangsa mudah kita jumpai di kota yang menjadi tujuan utama para imigran ke Australia ini.

Sebagai kota dermaga, memang salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah Sydney Harbour. Suasana laut yang indah bisa kita nikmati di dermaga alami ini. Sekitar 134 meter di atas Sydney Harbour terbentang ikon Australia, Sydney Harbour Bridge.

Tur ketinggian

Kalau Anda penggemar olahraga ekstrem, cobalah uji nyali Anda dengan mengikuti tur mendaki dan berjalan di atas jembatan tersebut. Pengalaman tak terlupakan menyaksikan kota Sydney dari ketinggian Sydney Harbour Bridge tidak gratis. Anda harus membayar 128-188 AUD (dolar Australia). Seusai tur, Anda akan mendapat sertifikat resmi yang menyatakan Anda sudah mendaki jembatan itu.

Tak perlu khawatir. Penyedia jasa tur sangat memperhatikan kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan para peserta. Dijamin aman saat Anda menjelajah di ketinggian. Namun, berhubung takut ketinggian, saya hanya menjadi penonton bagi mereka yang mengikuti uji nyali itu.

Jika sudah sampai ke jembatan ini, berarti Sydney Opera House sudah di depan mata. Ikon Australia yang lain ini jelas wajib dikunjungi pula. Bangunan berbentuk serupa kerang dan terdiri atas dua hall utama ini masuk dalam daftar World Heritage pada bulan Juni 2007.

Gedung opera Sydney menjadi pusat pertunjukan kesenian seperti Opera Australia, The Australian Ballet, Australian Chamber Orchestra, dan masih banyak lagi. Di sini, Anda bisa mengikuti “Backstage Tour” atau tur belakang panggung. Anda bisa melihat-lihat kesibukan persiapan sebuah pementasan.

Untuk mencapai gedung opera ini Anda bisa berjalan kaki dari tempat parkir umum menyusuri Sydney Harbour di kawasan Circular Quay. Saat menyusuri area ini Anda dapat melihat laut di sisi kiri jalan dan pertokoan, restoran, serta bioskop di sisi kanan jalan.

Saat malam menjelang, jika Anda lapar, mampirlah ke salah satu restoran yang ada. Suasananya sangat cozy.

Pantai bebas asap rokok

Tempat lain yang juga perlu dikunjungi adalah pantai. Sebagai kota pelabuhan, Sydney memiliki beberapa pantai. Salah satu yang ramai dikunjungi saat musim panas, pantai Manly. Di sini Anda bisa berjemur, bermain frisbee, voli, atau berselancar di gulungan ombak Lautan Pasifik.

Lelah bermain, menyantap semangkuk es krim akan memberi kenikmatan tersendiri, apalagi ketika cuaca panas. Bila ingin belanja, mampirlah ke butik di dekat pantai.
Peringatan bagi perokok! Pantai ini merupakan kawasan bebas asap rokok.

Bagi yang bosan dengan suasana pantai, kunjungi saja taman yang banyak terdapat di Sydney. Mulai dari Royal Botanical Garden, Hyde Park, sampai taman nasional. Coba kunjungi kawasan Kung-ring-gai yang luasnya 8,4 hektare.

Yang hobi treking, tersedia jalur Kalkari Discovery. Tempat ini terletak di antara Mount Colah dan Bobbin Head, yang memiliki pemandangan danau nan cantik. Jika beruntung, saat berjalan di jalur treking tersebut, Anda dapat bertemu kanguru, koala, maupun biawak.

Jadi, tempat mana yang akan Anda kunjungi?

Sumber: Senior

Berbelit Ular di Delta Mekong

Anda ingin bepergian keluar negeri dengan ongkos murah? Vietnam adalah jawabannya. Dengan harga tiket satu juta rupiah dan berbekal sedikit uang dollar, kita sudah bisa pergi ke Negeri Paman Ho yang penuh objek wisata ini. Bagi yang suka shopping dan makan, Vietnam boleh dibilang surga juga.

Boleh dibilang Vietnam memang serba murah. Hotel Nam De yang terletak di Nguyen Trai St, hanya memasang tarif Rp 400.000 untuk family room. Satu hal hal yang perlu dicatat, jangan menukarkan dolar di Vietnam. Di sini, 100 dolar AS hanya ditukar 1 juta dong, di Jakarta bisa mendapat 2 juta dong.

Co Ben Thanh

Di sini tak sulit menjumpai mal dan toko yang menjual perhiasan serta baju. Namun, menarik berbelanja di pasar tradisional Co Ben Thanh. Mereka menjual T-shirt berlogo Vietnam, aksesori, tas, alat rumah tangga dari porselen, kopi Vietnam yang terkenal, sampai makanan dari hasil laut yang sudah dikemas cantik. Satu set seprei bordir tangan hanya berharga 300 dong.

Lelah belanja, tujuan selanjutnya pasti makan. Banyak orang tampak menghirup sup panas. Springroll alias lumpia yang dibungkus tipis menerawang sangat menggugah selera, tetapi isinya dicampur daging babi. Yang juga sangat menggoda adalah udang besar dicocol sambal dan dimakan dengan nasi panas.

Berbagai makanan khas Vietnam, dari yang berkuah sampai dipanggang, boleh dicoba. Saran bagi umat Muslim, harus cermat memilih karena masakan di sini rata-rata dikombinasikan daging babi.

Sebagai pekerja keras dan gigih, masyarakat Vietnam juga menyukai suasana santai. Hampir di sepanjang trotoar bisa kita menjumpai kafe kaki lima. Pengunjung duduk di kursi-kursi sangat rendah sambil minum kopi hitam pekat, atau minum kelapa muda yang dikupas cantik. Biasanya mereka mengobrol sambil menikmati lalu-lalang motor yang mengalahkan Jakarta.

Di depan kursi, ada banyak gerobak makanan. Kita bisa beli kacang, jagung rebus, atau ikan dan cumi bakar.

Menyusuri Mekong dan terowongan Chu Chi

Kesempatan menyusuri Delta Mekong dan mengunjungi beberapa pulau kecil yang sedikit penghuninya sungguh tak terlupakan. Di setiap pulau yang disinggahi, tampak kebun buah-buahan. Jenisnya sama dengan yang ada di Indonesia. Bedanya, buah-buahan di sini lebih besar dan manis.

Kita disuguhi potongan buah dan minuman segar sambil menikmati tarian tradisional. Ada juga yang mendemonstrasikan cara membuat kue dari kelapa atau manisan jahe.

Kenangan “ngeri” yang melekat sampai sekarang, yaitu berfoto bersama ular besar milik seorang penduduk setempat. Ketika ular besar itu dikalungkan ke leher saya, rasanya dingin, licin, berminyak, dan berat!

Terowongan Chu Chi tidak boleh dilewatkan. Chu Chi adalah tempat bersejarah peninggalan gerilyawan Vietkong, sewaktu perang melawan AS. Letaknya di luar Ho Chi Minh City, perlu waktu perjalanan dua jam dengan mobil.

Terowongan ini sudah ada sejak Vietnam dijajah Perancis, digunakan penduduk untuk menghindari kerja paksa. Jalur terowongan sangat berliku, terdiri atas beberapa tingkat dilengkapi tempat tinggal, rumah sakit, sumur, dapur umum, serta tempat penyimpanan logistik dan persenjataan.

Menurut pemandu, terowongan bisa menembus perbatasan negara sekitar. Kedalamannya ada yang mencapai lima, tujuh, dan sembilan meter. Dari atas, seluruh lorong ini tidak akan terlihat karena tertutup daun-daun kering. Di sini dapat disaksikan peninggalan Vietkong seperti amunisi berat, ranjau, patung gerilyawan, dan tank-tank AS yang dilumpuhkan.

Menyusuri terowongan itu, wou…sempit dan pengap, tingginya hanya satu meter. Sekali mencoba harus terus karena sulit untuk berbalik. Bagi yang bertubuh besar, lebih bik jangan coba-coba.

Acara menjelajah Chu Chi diakhiri dengan menikmati makanan khas tentara Vietkong, yaitu singkong rebus dan teh hijau. Tak beda dengan menu pejuang kita.

Sumber: Senior

Ayooo…Wisata ke ‘Kota Neraka’ Chernobyl

Tragedi Chernobyl merupakan kecelakaan reaktor nuklir terparah di dunia. Sekitar 9.000 orang tewas dalam tragedi tersebut. Sekarang kawasan maut ini semakin menarik minat banyak wisatawan. Tujuh Euro 50 sen atau sekitar Rp 90 ribu cukup untuk membeli tiket masuk kawasan wisata yang unik itu.

Pemandu wisata Yuri Tatartchuk bercerita, sebagian pengunjung datang ke kawasan sekitar reaktor Chernobyl karena rasa ingin tahu. Sebagian lagi menganggapnya petualangan yang membuat bulu kuduk berdiri. “Tentu, ada ancaman tersembunyi yang membuatnya menarik. Tapi wisata seperti ini juga memainkan peranan penting agar seluruh dunia dunia tahu akan masalah-masalah konkret di sini,” papar Yuri Tatartchuk.

Tahun-tahun belakangan wisawatan yang datang ke tempat bencana Chernobyl terus bertambah. Tahun 2009 lalu jumlahnya 7.000 orang, mereka datang dari Swedia, Denmark, Belanda’ dan Jerman. Perjalanan dengan bis melalui kawasan sekitar reaktor Chernobyl makan waktu tujuh jam. “Wisata ini tidak berbahaya,” kata Tatartchuk. Tingkat radiasinya tidak lebih tinggi daripada saat menjalani pemeriksaan rontgen.

Program standar selama perjalanan wisata ini adalah kunjungan ke kota Pripyat. Kota yang khusus didirikan untuk para pekerja reaktor Chernobyl dan keluarganya terletak hanya beberapa kilometer dari instalasi tersebut. Sebelum bencana tanggal 26 April 1986 kota ini dihuni 50 ribu orang.

Kota Priypat baru dievakuasi 36 jam setelah ledakan terjadi. Kebanyakan warga hanya membawa barang-barang seperlunya karena beranggapan, mereka akan segera pulang kembali ke Priypat. Di sekolah di Priypat terlihat papan tulis yang dipenuhi nama dan nomer telpon bekas murid. Mereka berusaha untuk mengontak sesama murid yang dulu bersekolah di kota ini. Di salah satu TK masih tergantung jaket merah salah satu murid yang terburu-buru meninggalkan tempat itu.

Seluruh kota Priypat terlihat seperti kota hantu. Anastasijya, seorang mahasiswi yang mengikuti tur keliling kawasan Chernobyl mengaku, selama ini dirinya beranggapan bahwa energi atom sukses dan bahwa teknologi ini perlu dikembangkan. “Tapi setelah melihat semua ini dan mendapatkan informasinya, kemungkinan besar saya akan mengubah cara pandang saya,” ujar dia.

Dengan menumpang bis, para pengunjung melanjutkan tur wisatanya ke instalasi nuklir Chernobyl. Reaktor nomer empat yang meledak 24 tahun lalu terlindung dari pandangan mata, terbungkus kubah beton yang dibangun dengan tergesa-gesa setelah bencana tersebut terjadi. Insinyur Andriy Savin menjelaskan bahwa reaktor tersebut terlindung secara maksimal. Tahun 2008, kubah beton tersebut direnovasi.

“Konstruksi ini tahan 15 tahun. Tenggat waktu ini penting karena waktu inilah yang dibutuhkan untuk membangun kubah pelindung yang baru,” diterangkan Andriy Savin. Kubah baru yang rencananya mulai dibangun musim panas ini terbuat dari besi baja. Setelah konstruksi baru ini berdiri, barulah sampah radioaktif di tempat bencana dapat dibersihkan. Warisan beracun Chernobyl harus ditangani Presiden Yanukovich yang baru terpilih, meski sampai saat ini belum jelas apa rencananya untuk bekas instalasi nuklir itu.
Red: irf
Sumber: Deutsche Welle [Republika]

Melongok Piramida Meroe di Sudan

Melihat barisan Piramida Meroe, teringat lagu lama yang pernah populer di tahun 1950-an:

“See the Pyramids along the Nile, send me photograph and souvenir…You belong to me”.

Bicara piramida, asosiasi orang umumnya negara Mesir. Piramid sebenarnya tidak hanya terdapat di Mesir. Di Meksiko, ada juga piramida peninggalan bangsa Aztec.

Masih di Meksiko juga, dari kawasan Semenanjung Yucatan, banyak dijumpai piramida peninggalan bangsa Maya, yang menyebar ke Amerika Tengah, sekarang masuk negara-negara Belize, Guatemala, El Salvador, Honduras, dan lain-lain. Baru-baru ini penulis berkunjung ke Sudan, negara tetangga Mesir, ternyata ada banyak piramida juga.

Penulis menyempatkan diri melongok kompleks Piramida Meroe, lokasinya 220 km di sebelah barat laut Khartoum, ibu kota Sudan. Meski dikatakan highway, jalur jalan raya itu terdiri atas dua lajur saja dan digunakan untuk dua jalur lalu lintas berlawanan arah.

Untuk menempuh jarak itu dibutuhkan waktu sekitar 4,5 jam. Perjalanan yang melelahkan dan membosankan karena pemandangan di kedua sisi jalan itu melulu berupa padang pasir.

Tiga dinasti

Ketika tampak barisan piramida di puncak bukit pasir, timbul lagi gairah kami untuk berwisata memasuki kompleks Piramida, yang dinamakan Royal Cemeteries of Meroe. Tak peduli harus mendaki lereng pasir yang membutuhkan tenaga ekstra.

Mencapai puncak bukit, tampak barisan piramida di tengah padang pasir yang luas. Ukurannya tak sebesar yang ada di Mesir, tapi jumlahnya banyak sekali. Kondisinya sudah tidak utuh, banyak yang rusak. Sebagian sudah diperbaiki, namun hasil restorasi itu terlihat jelas bekas perbaikan.

Lembah Sungai Nil dahulu dikenal sebagai daerah Nubia. Tercatat antara tahun 2600 SM-300 M berkuasa Kerajaan Kush. Dalam kurun ribuan tahun itu, ada tiga dinasti yang berkuasa, yaitu Kerma, Nepata, dan Meroe. Karena demikian perkasa, Nepata pada tahun 712-657 SM pernah menguasai Mesir sebagai Pharaoh Dinasti ke XXV.

Di Meroe tercatat kurang lebih ada 200 piramida. Itu adalah pemakaman kuno raja-raja Nubia, permaisuri, serta kerabat. Lokasi piramida terbagi dalam tiga kelompok, berdasarkan lokasi pusat kekuasaan ketiga dinasti.

Pernah dijarah

Pada tahun 1920-an terjadi penjarahan yang memilukan. Seorang penjelajah Italia, Giuseppe Ferlini, merusak puncak 40 buah piramida, lalu menjarah barang-barang berharga dari makam-makam raja itu.

Konon hanya dari sebuah makam ia bisa mendapat perhiasan emas, yang kemudian dijualnya ke museum di Munich dan Berlin. Puncak piramida itu ia tinggal begitu saja dalam keadaan rusak.

Direktorat Purbakala Sudan lalu merestorasinya pada tahun 1980-an. Saat dilakukan penelitian resmi, diadakan ekskavasi pada piramida berukuran lebih besar. Didapati berbagai artefak berupa senjata, busur panah, kotak penyimpanan panah, cincin pelindung jempol pemanah, peralatan kuda, furnitur, barang tembikar, gelas-gelas berwarna, dan sebagainya.

Pada dinding susunan batu piramid tampak banyak relief. Sayangnya, relief itu tampak samar karena tererosi tiupan angin yang membawa butir-butir pasir selama ribuan tahun. Bukan saja mengikis relief pada dinding batu, tapi juga terjadi penimbunan pasir di dalam ruangan dan halaman.

Naik unta

Terlihat kerja pemugaran puncak piramida dan pembuatan kapel di muka piramida. Kapel ini semacam biara atau musola. Perlu diketahui, pada ribuan tahun sebelum Masehi, agama Kristen dan Islam belum dikenal. Kiranya biara untuk warga membaca salawat, mendoakan arwah raja agar mendapat jalan lapang kembali kepada Sang Pencipta.

Pelancong yang ingin menghindari berjalan kaki di bawah terik sinar matahari dapat naik unta sekaligus menyimpan kenangan khas gurun pasir, piramida dan unta.

Sumber: Senior

Mayat “Hidup” di Science Centre Singapura

Berwisata pada sebuah ruang pameran ilmiah mungkin bukan sesuatu yang mengasyikkan. Apalagi jika mereka bukan orang yang menggeluti bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi konsepsi seperti itu tak bisa kita terapkan untuk sebuah pameran langka dan kontroversial di Science Centre Singapura. Ruang pameran ilmiah itu begitu mengasyikkan.

Lihat saja, pameran yang digelar sejak 23 Oktober 2009 dan akan berakhir pada 6 Maret tahun depan itu mampu menyedot ratusan ribu pengunjung dikarenakan keunikan dan keberanian sang pemrakarsa. Penulis yang diundang Singapore Tourism Board (STB) -sebuah agensi pengembangan ekonomi di bidang pariwisata- selama tiga hari di Singapura, 13-15 November 2009, mendapat kesempatan menyaksikan pameran spektakuler bertajuk ’’Body Worlds: The Original and The Cycle of Life’’ tersebut serta mengunjungi sejumlah tempat wisata yang diharapkan akan menyedot banyak pengunjung dalam menyambut Natal dan Tahun Baru 2010. Singapura adalah situs kedua pameran ini setelah dunia premier di London.

Berdalih demi kajian ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan, tubuh-tubuh orang yang telah meninggal dipajang di dalam etalase. Semuanya dipamerkan dalam kondisi kulit sudah dilepas dari raga mereka, sehingga yang terlihat hanya daging, tulang, otot, atau organ dalam vital lainnya.

Sebelumnya tubuh-tubuh itu telah diawetkan dengan metode plastination -suatu proses untuk memelihara tubuh manusia dengan polimer reaktif untuk penelitian medis. Proses ini akan menghentikan dekomposisi dan memelihara tubuh setelah mati.

Semua bahan untuk pameran itu berasal dari Institut Tubuh Plasti­na­ti­on. Mereka yang sebagian tubuh atau keseluruhan tubuhnya dijadikan ba­han kajian ilmiah adalah para pendo­nor mati maupun hidup. Pendonor ha­rus memberikan izin sebelum tu­buh mereka digunakan.

Uniknya tubuh-tubuh tak ber­nya­wa ini tetap dikesankan hidup dalam berbagai aktivitas yang betul-betul ekspresif. Ada yang dibuat tengah bermain basket, bermain catur, melukis, berjalan, menunggang kuda, menunggang kereta ditarik dua rusa kutub, menari, merokok, memeragakan gerakan senam cincin, dan sebagainya.

’’Ini manusia beneran, lho,’’ bisik Basir, pemandu wisata dari STB kepada penulis yang tengah mengamati detail mayat ’’hidup’’ sedang bermain bola basket di dalam sebuah etalase kaca.

Tubuhnya sudah tak tertutup lagi oleh kulit. Terlihat jelas tulang terbungkus daging dengan serat besar-besar dan otot-otot di beberapa bagian tubuhnya. Tempurung kepala bagian depan terbuka, sehingga terlihat otak depannya.

’’Pemeragaan’’ itu terlihat begitu ekspresif. Tangan kanan memegang bola basket dalam posisi siap mendribel, dengan kaki kanan terangkat seakan siap berlari. Tubuhnya sedikit miring ke depan dengan tumpuan kaki kiri. Sorot mata tajam dan mulut membuka seakan berteriak pada rekan sesama timnya untuk mencari posisi agar bisa menerima umpan darinya. Sementara tangan kiri dibentangkan menyerong ke depan seolah sedang menghalangi lawan main yang hendak merebut bola dari sisi kirinya.

Dalam etalase kaca lain, ada juga tubuh dalam posisi duduk di depan papan catur. Tempurung kepala bagian atas terbuka, sehingga tampak sekali keseluruhan otaknya. Mimiknya serius mengamati bidak catur yang tertata di papan bujur sangkar dari kayu.

Di sudut lainnya, ada tubuh mati dengan jari tangan kiri memegang sebatang rokok, sedangkan tangan kanannya berkacak pinggang. Separo tubuh bagian kanan masih tertutup daging, sedangkan yang kiri terlihat organ dalam vitalnya antara lain usus, hati, tulang iga, dan paru-paru. Organ terakhir ini tampak hitam, memperlihatkan kerusakan akibat racun yang terkandung dalam rokok.

Tak hanya tubuh-tubuh manusia yang dipertontonkan. Sesuai dengan temanya, pameran yang mematok tarif 12 dolar Singapura (anak-anak 3-16 tahun) dan 20 dolar Singapura (dewasa) untuk tiket sekali masuk ini juga memperlihatkan sebuah siklus kehidupan manusia.

Esensi dari perkembangan dan penuaan manusia secara indah ditangkap dengan bantuan embrio mulai usia dua minggu dan janin yang telah diplastinasi. Pameran juga memperlihatkan bagaimana tubuh manusia berubah karena usia dan penyakit.

Terang saja, mayat ’’hidup’’ itu mampu menyedot perhatian pengunjung mulai dari masyarakat umum, mahasiswa, pelajar hingga anak-anak. Sesekali mereka mengamati detail tubuh-tubuh yang telah diambil kulitnya itu.

Tak ingin menyia-nyiakan, mereka juga mengabadikan objek langka itu dengan kamera foto ataupun handycam. Beberapa di antaranya bahkan berpose di dekat mayat-mayat itu.

Dr Chew Tuan Chiong, chief executive Science Centre Singapura memperkirakan, pameran ini benar-benar akan menjadi perjalanan penemuan bagi banyak orang, apa pun keyakinan awal dan persepsinya.

’’Jadi selain bisa memberikan gambaran tentang tubuh manusia dan anatomi, juga memungkinkan orang memahami sepenuhnya apa yang mereka khawatirkan tentang kematian, penyakit, atau bahkan khawatir tentang hal-hal lain seperti takhayul,’’ kata Dr Chew.

Lantas siapa sebenarnya penggagas ’’Body Worlds’’ itu? Dia adalah Dr Gunther von Hagens. Ahli anatomi dan pencipta plastination itu lahir pada 1945 di Alt-Skalden, Posen, Polandia—kemudian menjadi bagian dari Jerman.

Pada 1965, Gunther masuk sekolah kedokteran di Universitas Jena, sebelah selatan Leipzig. Metodenya yang ortodoks dan kepribadiannya yang flamboyan cukup terkenal untuk dicatat pada laporan akademis universitas.

Tahun 1970, Gunther mendaftar di Universitas Lubeck, menyelesaikan penelitian kedokterannya. Pada kelulusan tahun 1973, dia mengambil tempat tinggal di rumah sakit di Heligoland. Satu tahun kemudian, setelah mendapatkan gelar dokternya, dia bergabung di Departemen Anestesiologi dan Kedokteran Gawat Darurat di Universitas Heidelberg.

Menikah dengan Dr Cornelia von Hagens, bekas teman sekelasnya, pada Juni 1975, Gunther kemudian menggunakan nama terakhir istrinya. Pasangan ini dikaruniai tiga anak, Rurik, Bera, dan Tona.

Pada 1977, dia menemukan plastination, teknologi terobosan untuk memelihara spesimen anatomis dengan menggunakan polimer reaktif. Dia mematenkan metode tersebut dan selama enam tahun ke depan, menghabiskan seluruh energinya untuk memperbaiki temuannya.

Selama kurun waktu itu, von Hagens memulai perusahaannya sendiri, Biodur Products, untuk mendistribusikan polimer khusus, peralatan, dan teknologi yang digunakan untuk plastination bagi institusi medis di seluruh dunia. Belakangan ini, lebih dari 400 institusi di 40 negara di seluruh dunia menggunakan penemuan Gunther untuk memelihara/mengawetkan spesimen anatomis.

Pada 1983, tokoh-tokoh Gereja Katolik meminta von Hagens memplastinasi tulang tumit St Hildegard dari Bingen (1090-1179), seorang mistis yang riang, ahli agama, dan penulis yang dipuja-puja di Jerman.

Tahun 1992, von Hagens menikahi Dr Angelina Whalley, seorang dokter yang bekerja sebagai manajer bisnis seperti halnya juga perancang pameran Body Worlds. Satu tahun kemudian dia mendirikan Institut Tubuh Plastination yang berbasis di Heidelberg.

Institut ini menawarkan spesimen yang telah diplastinasi untuk pendidikan dan Body Worlds, yang kali pertama dilangsungkan di Jepang pada 1995. Sampai sekarang, pameran tersebut telah ditonton oleh lebih dari 28 juta orang, di 50 kota seluruh Eropa, Asia, dan Amerika Utara.

’’Tubuh manusia adalah sifat terakhir yang tersisa dalam lingkungan yang dibuat manusia,’’ kata von Hagens dalam siaran persnya.
Dia berharap pameran ini bisa memberikan penerangan dan perenungan, bahkan filosofi dan pengakuan religius diri sendiri, serta terbuka pada interpretasi tanpa memperhatikan latar belakang dan filosofi kehidupan dari orang yang melihatnya.

Dari Orchard ke Merlion

Orchard Road tetaplah menjadi daya tarik tersendiri bagi Singapura, selain Merlion di tepi Sungai Singapura. Men­jelang Natal, Orchard didesain begitu gemerlap. Lampu hias, pohon Natal raksasa, pesta, dan berbagai festival menghiasi kawasan yang tak pernah redup oleh waktu itu. Orang-orang yang berbelanja dan sekadar jalan-jalan di kawasan itu juga diharapkan akan terpesona dengan efek-efek khusus perayaan yang dikemas dalam ”Christmas in the Tropic 2009” sejak 7 November 2009 sampai 3 Januari 2010 tersebut.

Bagi kaum shopaholic telah disiapkan pusat belanja terbaru di sepanjang Jalan Orchard, yakni ION Orchard dan Orchard Central, serta 313@Somerset dan Mandarin Gallery. Mal-mal yang menawarkan produk-produk merek terlengkap dari dalam maupun luar negeri itu dirancang dengan konsep unik.

Misalnya Orchard Central yang dikembangkan dengan dana 700 juta dolar Singapura dari Far East Organization. Dihadapkan pada eksterior ikonik yang menonjolkan membran seni digital mencolok dari seniman lokal Matthew Ngui, mal ini memberikan konsep kluster unik. Ba­ngun­an­nya dibuat transparan, sehingga dari luar bisa melihat yang di dalam, begitu juga sebaliknya.

Kemeriahan Orchard tak berhenti sampai di mal-mal yang akan menjadi ”surga” belanja. Pengunjung kawasan itu juga dimanjakan berkeliling Orchard dengan Hippo Bus—sebuah bus tingkat tanpa atap di bagian atasnya, dipandu oleh seorang guide.

”Perayaan Natal pertama kami di Orchard Central akan menghabiskan 1,5 juta dolar Singapura untuk membawakan aksi-aksi hiburan eksklusif, seperti Cirque de la Ville dari Rusia, menghiasi mal, dan kampanye iklan kami,” kata Kelvin Ling, kepala Petugas Pelaksana Bisnis Retail Far East Organization. Dia menambahkan, pi­haknya telah menghabiskan 4,8 juta dolar Singapura untuk mengembangkan penerangan umum di bagian depan mal.

Dibandingkan dengan perayaan sebelumnya, durasi light up tahun ini memang sedikit lebih panjang karena terkait dengan digelarnya KTT APEC, untuk memberikan kesempatan bagi delegasi yang datang di Negri Singa tersebut menikmati suasana Natal.

”Natal in the Tropic adalah acara utama kalender pariwisata Singapura,” ujar Andrew Phua, direktur Tourism Shopping and Dinning, Singapore Tourism Board (STB).Akhir tahun lalu, lebih dari enam juta orang mengunjungi Orchard Road dan Marina Bay selama Natal.

Di luar itu, keramaian bukan hanya monopoli Orchard Road. Sungai Singapura dengan kehidupan malamnya juga memikat. Puluhan restoran yang banyak menawarkan sea food di pinggir sungai tersebut selalu dipadati para pecinta kuli­ner. Kebanyakan dari mereka adalah kalangan bule.

Sementara bagi yang ingin menikmati wisata air, telah disiapkan kapal-kapal kayu. Baik siang maupun malam, kapal-kapal itu siap mengantarkan wisatawan menyusuri sungai sambil menikmati keindahan bangunan yang ada di kedua sisi sungai. Termasuk menyaksikan Merlion, ikon Singapura yang berada di salah satu bantaran sungai tersebut, yang terus dikunjungi wisatawan baik siang maupun malam.

”Dulunya sekitar Sungai Singapura merupakan ka­wasan perniagaan. Namun kini telah menjelma menjadi rumah makan, bar dan klub malam,” ujar Mo­hamed Yusoff Mahmood, pemandu wisata dari STB.

Sumber: Suara Merdeka

Menyapa Senja di Waikiki

Keindahan pantai di Hawaii menyedot jutaan wisatawan setiap tahunnya

Belum lengkap rasanya berwisata ke Hawaii tanpa singgah ke Waikiki. Ombak yang mengempas pantai berpasir putih serta laut biru yang tenang, membuat para wisatawan betah berlama-lama di Waikiki. Sejak era 1950-an, pantai ini sudah menjadi tujuan wisata yang paling populer di Hawaii, atau bahkan mungkin juga di seantero dunia. Mulai dari para peselancar hingga mereka yang sekadar ingin berjemur atau berjalan-jalan menyusuri keindahan pantai, seakan tak pernah bosan menjejakkan kaki ke Waikiki.

Kesempatan singgah ke pantai paling ternama di Pulau Oahu ini tentu tak boleh disia-siakan. Bagi kami, di Waikiki itulah keautentikan tradisi asli Hawaii bisa dinikmati.

Kepenatan karena padatnya program bagi para peserta Fall 2009 Jefferson Fellowships di East West Center (EWC) tak lagi terasa ketika air laut menari-nari di sekitar mata kaki. Cahaya senja indah menyapu laut yang hijau kebiru-biruan.

Ulupo Heiau, bukti peninggalan purba bangsa Polynesia

Kemeriahan suasana di Waikiki justru kian terasa ketika malam menjelang. Alunan musik khas Hawaiian terdengar lembut melantun mengiringi gemulai gerakan para penari hula (halau hula) yang cantik belia. Satu jam pertunjukan hula digelar empat kali seminggu di Kuhio Beach Hula Mound, persis di dekat patung Duke Kahanamoku, di tepi pantai yang berada di antara Uluniu dan Kalakaua Avenue di Waikiki. Meski singkat, setidaknya pertunjukan itu mampu membuat orang meresapi eksotisnya tradisi Hawaiian yang selama berabad-abad tetap utuh terjaga. Fantastik!

Menyusuri Waikiki niscaya tak akan pernah membosankan. Sebab, bukan hanya menawarkan keindahan pantainya, Waikiki juga surga bagi wisatawan yang doyan belanja. Deretan restoran dan toko berjajar rapi di sepanjang jalanan utama Waikiki, mulai dari butik barang-barang merek ternama hingga toko yang menjual produk lokal. Berbagai cendera mata karya para perajin tradisional serta makanan khas Hawai tersedia lengkap di International Marketplace. Pasar yang terletak di Kalakaua Avenue ini tidak berapa jauh dari Waikiki Town Center. Kacang Macadamia adalah produk asli Hawaii yang wajib dicicipi. Harganya, tentu sedikit lebih mahal di Waikiki jika dibandingkan pasar tradisional. Namun, kepuasan menikmati malam di Waikiki yang diselingi perburuan pernak-pernik khas Hawaii, sungguh pengalaman luar biasa yang tak bisa tergantikan.

Pendatang Polynesia

Patung Kamehameha I, raja Hawai yang pertama, menaklukkan O'ahu dalam Perang Nu'uanu yang meletup di Nu'uanu Pali. Ia memindahkan istana kerajaannya dari Pulau Hawai ke Waikiki pada 1804.

Tidak diketahui kapan persisnya Honolulu pertama kali didiami oleh para migran Polynesia awal yang datang ke Kepulauan Hawaii. Ada delapan pulau di kepulauan ini, yakni Ni’ihau, Kaua’i, O’ahu, Maui, Moloka’i, Lana’i, Kaho’olawe, serta Pulau Besar Hawaii. Kemungkinan besar Hawaii sudah didiami bangsa Polynesia sejak berabad silam.

Batu-batu pemujaan bagi arwah nenek moyang yang masih tersisa setidaknya memberikan gambaran, masyarakat Polynesia ketika itu masih penganut animisme. Kepercayaan ini berangsur ditinggalkan sejak kedatangan para misionaris. Tetapi, peninggalan purbakala tetap dilestarikan oleh pemerintah negara bagian Hawaii sebagai situs bersejarah, seperti Ulupo Heiau serta situs lainnya.

Sejarah lisan serta berbagai artefak memperlihatkan, sudah ada permukiman berdiri sejak abad ke-12 di lokasi Honolulu saat ini berada. Tetapi, kepemimpinan pertama di Hawaii yang berhasil menyatukan berbagai suku baru muncul pada abad ke-19, di bawah kekuasaan Kamehameha I. “Ia mampu tampil sebagai pemersatu. Di sisi lain, kepemimpinan Kamehameha I sendiri tidak pernah sepi dari pergolakan,” tutur Derek Ferrar, Media Relations Specialist dari East West Center, yang menemani kami berkeliling kepulauan kaya gunung berapi tersebut.

Setelah menaklukkan O’ahu dalam Perang Nu’uanu yang meletup di Nu’uanu Pali, ia memindahkan istana kerajaannya dari Pulau Hawai’i ke Waikiki pada 1804. Istana kemudian direlokasi oleh raja Hawaii pertama itu pada 1809 ke sebuah lokasi yang kini menjadi pusat Kota Honolulu.

Modernisasi

Peradaban modern Hawaii baru muncul setelah kedatangan orang-orang Barat. Kapten William Brown dari Inggris adalah orang asing pertama yang pada 1794 mendarat ke lokasi yang kini dikenal sebagai Honolulu Harbor. Keberadaan kapal-kapal asing yang terus berdatangan membuat Pelabuhan Honolulu menjadi titik penting bagi kapal-kapal dagang yang beperjalanan melintasi Amerika Utara dan Asia.

Ibu kota permanen Kerajaan Hawaii yang semula terletak di Lahaina, Pulau Maui, dipindahkan Kamehameha III ke Honolulu pada 1845. Honolulu, yang terletak di Pulau Oahu, diubah menjadi sebuah ibukota yang modern, baik oleh Kamehameha III maupun raja-raja yang berkuasa sesudahnya. Sejumlah bangunan megah dibangun mulai dari Katedral St.Andrew, Istana ‘Iolani dan Ali’iolani Hale. Honolulu akhirnya menjelma menjadi pusat perdagangan di Kepulauan Hawaii. Perekonomian kawasan semakin berkembang pesat setelah keturunan para misionaris Amerika membangun bisnis-bisnis utama di pusat Kota Honolulu.

Pergolakan kembali mewarnai perjalanan sejarah Hawaii sepanjang akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Setelah tumbangnya monarki Hawai, kepulauan ini dianeksasi oleh Amerika Serikat meskipun baru resmi dijadikan negara bagian AS pada 21 Agustus 1959.

Serangan Jepang ke Pearl Harbor pada Perang Dunia II jadi sepenggal sejarah kelam yang terus dikenang hingga kini. Kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa kehancuran itu. Bangkai kapal dibiarkan teronggok di dasar laut. Ribuan nama korban tewas dicatat rapi di dinding dalam USS Arizona Memorial. Seakan ada keinginan AS untuk membangun kesadaran di benak para wisatawan bahwa penjatuhan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki yang efektif menyudahi PD II adalah balasan setara Amerika atas kebiadaban Jepang di Pearl Harbor.

Pergolakan boleh saja terjadi. Tetapi, Hawaii tak pernah beranjak menebar pesonanya. Honolulu tetap menjadi ibu kota, sekaligus kota terbesar di Kepulauan Hawaii yang memikat untuk disinggahi. [Suara Pembaruan/Elly Burhaini Faizal]

Akuarium Raksasa Georgia

Pesona tayangan bawah laut di TV selalu saja membuat waktu beranjak tanpa terasa. Di atas pentas alam yang terhias secara apik tersebut, berbagai satwa laut dengan segala warna-warninya berparade sambil bertingkah polah menunjukkan kebolehannya.

Bagaikan pucuk dicinta ulam tiba. Di penghujung tahun 2009, berkat ajakan putra-putri kami, penulis secara langsung dapat menikmati keindahan karya Illahi yang satu ini. Namun, semuanya tak urung dimungkinkan pula oleh adanya akuarium raksasa Georgia.

Atlanta, kota Olimpiade XXVI (1996), adalah ibu kota negara bagian Georgia. Luasnya yang hanya setengah luas DKI Jakarta, beriklimkan subtropikal dengan kadar kelembapan yang tinggi (Atlanta: 343 km2; DKI Jakarta: 661.5 km2). Berbeda dengan negara-negara bagian Timur dan Utara, akumulasi salju hanya sekitar 2 – 3 sentimeter (Januari). Walaupun demikian, rata-rata suhu udara berkisar sekitar 16 derajat Celcius (tertinggi di bulan Juli: 31 derajat Celcius, terendah di bulan Januari: 0,5 derajat Celcius). Para wisatawan yang berkunjung pada musim panas, tetap dianjurkan membawa jaket tipis, karena ruang atraksi cukup dingin. Curah hujan sepanjang tahun merata (setiap bulan, sekitar10 hari). Sebagaimana sifat suatu negara imigran, penduduk Atlanta yang berjumlah 429.500 (2006) terdiri atas berbagai etnik. Nasi rawon, nasi rames, gado-gado, ayam balado, ikan goreng, dan sebagainya selalu tersedia di rumah-rumah makan Indonesia.

Penerbangan langsung dari Indonesia belum dibuka. Namun, karcis pesawat ke Atlanta dapat dipesan dari kota-kota besar di Indonesia. Atlanta berjarak 1.315 km dari tempat kami bermukim (Austin, ibu kota Texas). Jarak ini kami tempuh dengan mobil karena ingin menjelajahi beberapa negara bagian sambil menikmati pemandangan alam.

Akuarium Georgia

Akuarium Georgia yang letaknya berseberangan dengan Centennial Olympic Park, berada di kota bawah (down town) Atlanta. Objek wisata ini dapat dicapai dengan angkutan umum (kereta listrik/bus). Biasanya, hotel-hotel menyediakan angkutan dari dan ke stasiun. Para wisatawan dapat pula menggunakan kendaraan pribadi. Tempat parkir cukup banyak dan murah.

Akuarium Georgia dibangun di atas kawasan seluas 81.000 m2. Untuk menampung 100.000 lebih satwa air laut dan tawar dari 500 spesies, dibutuhkan 30.000 meter kubik air dan 680 ton garam. Sarana wisata yang diresmikan pada tanggal 23 November 2005 ini merupakan akuarium terbesar di dunia. Pembangunannya memakan waktu 27 bulan dan menelan biaya lebih dari 300 juta US dolar (2001). Dana tersebut terutama berasal dari sumbangan pribadi Bernie Marcus, salah seorang pendiri Home Depot.

Panorama dasar laut digelar dalam lima ruangan pameran, yaitu Georgia Explorer, River Scout, Cold-Water Quest, Ocean Voyager, dan Tropical Diver. Di samping itu, disediakan pula ruang pesta (Oceans Ballroom), toko cendera mata, ruang pemutaran film 3-D, dan kafetaria atau pusat jajanan serbaada (pujasera) ala Amerika.

Georgia Explorer memamerkan satwa sungai dan laut sekitar Georgia. Galeri ini menampung berbagai ubur-ubur, kuda laut, bintang laut, ikan pari, udang, kura-kura laut, dan satwa liar dari taman karang Gray (National Marine Sanctuary – Taman Laut Terlindung Amerika Serikat). Galeri ini sangat informatif. Dengan menyentuh dinding akuarium, nama atau jenis ikan yang melintas dapat diketahui.

Di River Scout, para wisatawan dapat menyaksi-kan berbagai satwa sungai-sungai di Afrika, Amerika Selatan, Asia dan lepas pantai Georgia.

Cold-Water Quest memamerkan satwa liar yang hidup di lautan bersuhu rendah. Di galeri ini, dapat disaksikan berbagai bunga karang (anemones), ikan-ikan yang hidup di sela-sela batu karang, dan ikan tikus.

Petualangan dasar laut yang menggairahkan dapat dijumpai di Ocean Voyager. Dengan berjalan melalui terowongan akrilik dan berdiri di depan jendela akrilik raksasa, para wisatawan akan merasa berada dalam kendaraan dasar lautan (Scuba) dan menjelajahi lautan biru yang tak terukur luasnya. Ribuan ikan dari yang berukuran kecil hingga raksasa (ikan pari, nandi, kura-kura laut, dan whale shark) berenang bebas dalam akuarium raksasa ini.

Terowongan akrilik Ocean VayagerTropical Diver adalah galeri taman karang terbesar di dunia. Ribuan ikan-ikan batu karang dengan berbagai warna-warninya merupakan hiasan dari taman karang ini. Di bagian atas gelombang buatan, mengumandangkan deburan lembut dari lautan Pasifik.

Di samping ke lima galeri di atas, para wisatawan dapat pula menyaksikan kebolehan teknologi perfilman. Dengan memadukan projeksi digital, film 3HD (high definition) dan efek khusus (seperti percikan air, desingan suara), para wisatawan dibawa bercengkerama ke dasar lautan.

Kesempatan membelai-belai punggung ikan pari dan anemone, merupakan atraksi tersendiri yang sangat digemari anak-anak. Para wisatawan dapat pula menyaksikan pemberian makan pada ikan-ikan hiu paus (whale sharks). Whale sharks disuapi dua kali sehari dengan 12.5 kilo campuran udang dan ikan. Menurut pemandu, walaupun sudah diberi makan, kadang-kadang masih ada juga whale shark yang menyerang ikan-ikan lain sebagai “camilan”.

64 Rasa Coca-Cola

Di sekitar akuarium Georgia sekurang-kurangnya ada dua objek wisata yang cukup menarik. Keduanya dapat dicapai dengan berjalan kaki dari akuarium Georgia.

Objek pertama adalah pusat penyiaran berita-berita CNN (Cable News Network). Dengan dipandu, para wisatawan dapat menyaksikan dapur CNN mulai dari seleksi hingga penyiaran berita. Pengamanan sangat ketat. Setiap pengunjung harus melalui pintu Sinar-X dan semua tas diperiksa, seperti layaknya pengamanan di bandar udara. Telepon seluler harus dimatikan dan tidak diperkenankan mengambil gambar.

Objek kedua adalah World of Coca Cola. Secara langsung dan melalui film 3-D, para wisatawan diajak meninjau dapur pengembangan rasa dan pembuatan Coca-Cola. Kemudian, para wisatawan dipersilakan sepuas-puasnya mencicipi 64 rasa Coca-Cola (dari sekitar 2.000 rasa di seluruh dunia). Sebagai penutup, setiap pengunjung diberi kenang-kenangan sebotol Coca-Cola. [Pouw Tjoen Tik/Penulis berdomisili di Austin, Texas, AS, Suara Pembaruan]

Pesona Kuno Angkor Wat

Sudah lama saya berangan-angan untuk berkesempatan mengunjungi negara-negara yang berada dalam kawasan IndoChina. Saya sudah banyak mendengar bagaimana eksotisme wilayah tersebut baik dari segi sosial budaya maupun warisan para leluhurnya. Dan, mengunjungi Angkor Wat adalah salah satu impian saya.

Perjalanan saya ke wilayah yang dikenal dengan candi dan pasukan Khmer Merah-nya ini dimulai tak lama setelah Lebaran. Dari jakarta, saya langsung terbang menuju Bangkok. Setiba di Bangkok, saya bergabung bersama rekan-rekan yang sudah tiba lebih dahulu di penginapan kawasan backpacking area di Khao San Road, Bangkok.

Keesokan paginya, dari stasiun kereta api Hualamphong, kami menumpang kereta api pukul 05:45 pagi menuju Aranyaprathet, kota yang berbatasan dengan Kamboja. Tujuan kami hari itu adalah Siem Reap kota di Kamboja dimana erdapat kompleks arkeologi Angkor Wat yang terkenal. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 6 jam, kami tiba di Aranyaprathet menjelang tengah hari.

Bus gratis dan makanan murah

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju perbatasan Poi Pet, pintu masuk menuju Kamboja, kami pun mampir di sebuah restoran kecil. Setelah selesai menyantap seluruh masakan yang disajikan dan meminta bon, kami bertujuh terperangah dan saling bertatapan seolah tidak percaya. Masakan Thailand yang sangat lezat itu ternyata berharga tidak lebih dari Rp. 20 ribu per orang!

Menuju Poi Pet kami menumpang Tuk Tuk, versi lain dari bajaj di Jakarta. Disini kewaspadaan kami diuji karena tanpa perintah kami, tiba-tiba sang pengemudi Tuk Tuk membelokkan kendaraannya menuju sebuah tempat yang terdapat beberapa orang menawarkan bantuan menguruskan Visa Kamboja super kilat dengan imbalan USD 40 per orang.

Menurut ketua rombongan kami, harga tersebut tidak wajar karena hampir dua kali lipat dari yang seharusnya. Meskipun ditakut-takuti bahwa pengurusan Visa memerlukan waktu sehari, kami meninggalkan tempat tersebut dan meminta sopir Tuk Tuk untuk membawa kami langsung ke perbatasan Thailand dan masuk ke Kamboja melalui Poi Pet.

Disini, visa Kamboja bisa diurus ditempat (visa on arrival) dengan biaya sekitar USD 30. Jangan lupa membawa cadangan pasfoto ukuran 4×6 agar proses pengurusan visa berjalan lancar. Dalam waktu 30 menit, kami bertujuh sudah mengantongi visa yang berlaku untuk satu bulan.

Tak lama setelah melewati kantor imigrasi, kami didatangi oleh seseorang yang mengaku petugas Pariwisata Kamboja yang menawarkan tumpangan bus gratis menuju terminal wisatawan. Tentu saja kami berhati-hati dalam menanggapi semua tawarannya. Namun ternyata tawaran itu benar-benar gratis, yang merupakan terobosan dari pemerintah Kamboja untuk menyambut wisatawan yang berkunjung ke negaranya. Suatu perubahan sangat positif yang patut diacungi jempol.

Terdapat dua alternatif transportasi menuju Siem Reap yaitu bisa menggunakan bus atau menyewa kendaraan/taksi. Demi alasan kenyamanan dan untuk mengejar waktu kamipun memutuskan untuk menyewa dua buah taksi sedan (sekitar USD 40 per mobil).

Sepanjang perjalanan kami lalui dengan mulus, sangat berbalik dengan apa yang saya baca di buku dan portal bahwa Kamboja adalah negara terbelakang dengan berbagai kekurangan di bidang infrastruktur. Bahkan perjalanan dari Poi Pet ke Siem Reap mengingatkan saya pada perjalanan darat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan pemandangan hijau di kiri dan kanan jalan.

Jarak antara Poi Pet dan Siem Reap adalah sekitar 170 km dan ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Namun taksi tersebut tidak akan mengantar sampai hotel, melainkan menurunkan penumpang di pinggiran kota dan mentransfernya ke kendaraan Tuk Tuk tanpa menambah ongkos. Tuk Tuk lah yang akhirnya mengantar ke penginapan.

Penginapan

Di Siem Reap, Anda tidak perlu khawatir dengan penginapan. Disini banyak tersedia hotel dari yang berbintang lima sampai dengan hotel kelas melati. Harga kamar hotel sangat bervariasi sehingga kita mudah untuk menyesuaiakan dengan budget kita.

Para pelayan hotel umumnya sangat ramah dan sangat membantu, mungkin karena belakangan ini jumlah wisatawan yang mengunjungi Siem Reap terus meningkat dan mereka sadar bahwa mereka hidup dari industri wisata. Fasilitas sambungan Internet nirkabel gratis pun tersedia di hotel-hotel dan restoran.

Jasa penyedia telekomunikasi semacam warnetpun mudah dijumpai di kota ini. Bahkan di hotel mereka menyediakan layanan komputer secara cuma-cuma bagi para tamu hotel yang memerlukannya.

Untuk memuaskan hasrat kuliner Anda, di Siem Reap tidak perlu khawatir. Banyak tersedia berbagai macam restoran terutama di kawasan Old Market yang buka hingga tengah malam. Disini kita bisa memilih menu makanan ala western maupun lokal dengan harga yang sangat terjangkau. Bahkan beberapa restoran menggelar tarian tradisional Kamboja yang bisa dinikmati secara cuma-cuma sambil menyantap makan malam.

Keesokan harinya, ketika langit masih berkabut, kami sudah dijemput oleh dua buah Tuk Tuk yang kami sewa menuju komplek Arkeologi Angkor Wat. Kami disarankan berangkat subuh agar bisa menikmati keindahan sunrise dari pagoda Angkor Wat.

Angkor Wat

Jarak komplek Arkeologi Angkor Wat dari hotel kami sekitar 10 km dan ditempuh sekitar 30 menit menggunakan Tuk Tuk. Ketika membeli tiket masuk, saya mulai bertanya dalam hati, seperti apakah komplek ini, karena kita diminta memilih apakah akan berkunjung untuk 1 hari, atau 2 hari bahkan 3 hari.

Saya belum pernah menemui opsi seperti itu di lokasi wisata lainnya yang pernah saya kunjungi. Besarnya ongkos masuk pun berbeda USD 20 untuk satu hari kunjungan, USD 40 untuk dua hari kunjungan dan USD 60 untuk tiga hari kunjungan.

Karena jadwal perjalanan kami memang hanya satu hari di Angkor Wat maka kami membeli tiket untuk kunjungan satu hari saja. Untuk mempercepat waktu saya berinisiatif membayar secara kolektif, tetapi petugas tiket mengharuskan kami untuk antri satu persatu.

Ternyata kami baru menyadari kalau setiap pengunjung diminta bergaya didepan kamera kecil yang terpasang di loket tiket dan dalam waktu kurang dari semenit, petugas loket memberikan tiket masuk dengan wajah kami masing-masing terpampang disana, hehehe…

Dengan waktu kunjungan satu hari, kami hanya bisa mengunjungi tiga tempat saja yaitu Pagoda Angkor Wat, Bayon di area Angkor Thom, dan Ta Prohm yang dikenal sebagai lokasi syuting film Tomb Raider yang dibintangi oleh si seksi Angelina Jolie.

Dilihat dari luar, komplek ini terlihat masih sepi pengunjung dan cuaca terlihat mendung pada pukul lima pagi itu. Namun begitu kami memasuki pintu gerbang sebelah barat ternyata didalam Angkor Wat sudah disesaki oleh banyak pengunjung yang ingin menyaksikan keindahan matahari terbit!

Ketika memasuki gerbang Angkor Wat saya sudah terkagum kagum dengan luas dan besarnya bangunan ini. Sebuah karya arsitektur monumental yang dibangun oleh kekaisaran Khmer pada abad ke 12.

Semakin menjelajah kedalam saya semakin kagum. Tidak terbayangkan bagaimana manusia pada abad 12 bisa membangun sebuah bangunan raksasa semacam ini lengkap dengan relief, ornamen dan gaya arsitekturnya.

Tidak terasa kami sudah 4 jam berada di Angkor Wat meski rasanya enggan untuk beranjak karena belum puas menelusuri candi ini. Kami mulai paham kenapa pada waktu membeli tiket kami diberi opsi untuk memilih berapa hari waktu kunjungan di komplek arkeologi ini. Waktu sehari memang tidak cukup.

Angkor Thom Dan Ta Phrom

Dari Angkor Wat, kami menuju candi yang kedua yaitu Bayon di komplek Angkor Thom. Secara ukuran candi ini jauh lebih kecil dibanding Angkor Wat. Namun komplek candi ini memiliki Bayon yang terkenal dengan stupa wajah Budha di keempat penjuru mata angin.

Banyak reruntuhan di komplek ini dan saat kami berkunjung sedang dilakukan restorasi besar-besaran dengan bantuan dari Jepang. Candi ini memiliki daya tarik sendiri dengan pilarnya, lorongnya dan jendela batunya.

Setelah 2 jam menelusuri Bayon, kami menuju Ta Prohm yang berjarak sekitar 7 km. Jalan masuk ke candi ini tidak senyaman dua candi sebelumnya, becek dan seperti masuk ke sebuah hutan. Namun, mengingat ini adalah candi yang menjadi lokasi syuting filmya Tomb Raider, rasa penasaran kami mengalahkan kelelahan fisik.

Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit kami disambut oleh pemandangan sebuah candi dimana diatasnya tubuh sebatang pohon tinggi menjulang. Seperti mendapatkan gairah baru, semangat kami pulih kembali.

Disini kita disuguhi pemandangan yang menakjubkan dimana karya manusia(candi) dan karya alam (pohon) terkait menjadi satu membentuk maha karya yang luar biasa. Pohon dan batu tersebut tentunya telah berusia ratusan tahun. Disini juga banyak terdapat spot yang sangat eksotik untuk dijadikan lokasi pemotretan. Terutama lorong, pilar, dan pepohonan yang menyatu dengan candi.

Saya masih bernafsu untuk kembali ke Angkor Wat untuk mengambil fotofoto dalam suasana matahari menjelang tenggelam. Namun kawan-kawan saya sudah kelelahan dan akhirnya kami putuskan untuk kembali ke hotel sore itu.

Kegiatan malam hari setelah makan malam adalah belanja di Night Market yang hanya berjarak 500 meter dari hotel tempat kami menginap. Suasana pasarnya cukup nyaman. Bagi pecinta cinderamata disini kita bisa membeli berbagai macam cinderamata buatan lokal seperti tas, kaos, pashmina, hiasan dinding, aksesories semacam kalung dan gelang, serta banyak lagi pilihan barangnya.

Kualitas barang dipasar ini cukup bagus dan harganyapun sangat murah. Yang menarik transaksi disini bisa dilakukan dengan USD sehingga kita tidak perlu banyak-banyak menukar uang Riel (mata uang Kamboja). Malam itu kami merasa seperti berada pada malam terakhir dari sebuah perjalanan, tetapi saya masih bertekad kembali lagi ke Siem Reap diwaktu mendatang untuk sebuah kunjungan yang tentunya lebih lama lagi.

Sumber: Male Emporium