Category Archives: Nanggroe Aceh Darussalam

Merasakan Bencana Alam di Museum Tsunami Aceh

SEBAGAI upaya mengenang peristiwa tsumani Aceh tahun 2004 silam, didirikanlah Museum Tsunami Aceh. Arsitektur bangunannya merupakan gabungan rumah panggung khas Aceh dengan konsep escape building hill berupa bukit untuk evakuasi bencana tsunami.

Jika dilihat dari jauh, bangunan museum menyerupai kapal laut dengan cerobong. Museum berlokasi di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh.

Daya tarik utama museum adalah sebuah lorong sempit dimana pada kedua sisi dindingnya terdapat suara air yang bergemuruh seakan mengingatkan pada gelombang tsunami. Museum juga menampilkan simulasi elektronik gempa bumi Samudra Hindia 2004 beserta foto korban dan kisah dari mereka yang selamat.

Museum yang diresmikan pada Februari 2008 ini, juga difungsikan sebagai pusat pendidikan dan pusat evakuasi jika bencana tsunami terjadi lagi.

Konsep bangunan merupakan ide dari M. Ridwan Kamil, sang pemenang sayembara sekaligus Dosen Arsitektur Institut Teknologi Bandung, yakni Rumoh Aceh as Escape Hill.

Museum memiliki 2 tingkat. Lantai 1 merupakan area terbuka yang berfungsi sebagai tempat untuk mengenang peristiwa tsunami. Terdapat ruangan-ruangan berisikan hal-hal terkait kejadian tsunami 2004, seperti foto, artefak jejak tsunami, dan diorama (miniatur) kapal nelayan yang diterjang gelombang tsunami.

Sementara pada lantai 2 terdapat media pembelajaran seperti perpustakaan, ruang alat peraga, ruang 4D, ruang lukisan bencana, serta souvenir shop dan café. (indonesia.travel/*/X-13)

Ayo Menikmati Indahnya Alam Kota Sabang

SABANG, kota kecil yang indah di ujung barat Indonesia, merupakan objek wisata bahari nusantara yang menjadi surga bagi para penyelam. Satu kota di Pulau Weh ini memiliki tugu Nol Kilometer sesuai dengan slogan “Dari Sabang sampai Merauke”. Tak jarang banyak orang menyebut Pulau Weh sebagai Pulau Sabang.

Sabang memiliki keindahan garis pantai, air laut biru yang jernih, serta pepohona hijau di sekitarnya. Selain wisata bahari ada pula wisata gunung, danau, pantai, laut dan hutan yang kealamiannya masih terjaga. Warga setempat kerap menyebut kota Sabang dengan dua nama, yakni kota bawah dan kota atas.

Sekitar ratusan spesies ikan dan ragam terumbu karang alami menghiasi kehidupan bawah lautnya. Perairan di Sabang merupakan tempat pertemuan Samudera Hindia dan Selat Malaka. Sebagai pelengkap wisata, Sabang menyelenggarakan event bernama Sabang International Regatta.

Sedikitnya ada lima pulau di Sabang, yakni Pulau Weh (pulau terbesar), Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Seulako, dan Pulau Rondo. Keaadaan alam Sabang meliputi dataran rendah, tanah bergelombang, berbukit dan begunung dan bebatuan sepanjang pantai. Sabang berbatasan langsung dengan 3 negara, yakni Malaysia, Thailand dan India. (indonesia.travel/*/X-13)

Masjid Baiturrahman dan Makam Bertuliskan Ayat Al Quran

Destinasi wisata religi dalam Jelajah Utama kali ini berakhir di Aceh. Sebagai pusat dari segala pusatnya penyebaran Islam di Nusantara, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) mempunyai nilai historis budaya dan religius yang sangat kuat dan harus menjadi perhatian semua pihak.

Sebagaimana dalam sejarah, kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang posisinya terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kini dalam sekitaran Kota Lhokseumawe, Aceh Utara.

Pada awalnya kerajaan Samudera Pasai terdiri atas dua daerah, yaitu Samudera dan Pasai. Kedua daerah itu telah lama menjadi tempat persinggahan dan tempat pemukiman saudagar Arab, hal ini diperkuat dengan bukti keterangan perjalanan Marcopolo. Dari sinilah Islam masuk pada sekitar abad ke 13.

Sejak itu Aceh menjadi pusat perkembangan pemikiran dan dakwah Islam terbesar di Asia Tenggara, sehingga Aceh dikenal sebagai sebuah kerajaan Islam yang penting pada Abad ke 16 dan 17 silam.

Seperti destinasi lainnya, wisata ziarah spiritual di NAD berupa ratusan masjid, pesantren kuno, makam raja dan kesultanan, dan tentu saja makam ulama besar. Salah satu yang kini sangat terkenal dan menjadi favorit wisatawan adalah Masjid Raya Baiturrahman yang memiliki persyaratan penuh sebagai objek wisata spiritual.

Disamping bangunan yang megah di tengah kota, masjid ini juga merupakan bangunan budaya dengan arsitektur yang sangat tinggi. Kemudian penetapan syariat Islam berlaku untuk semua wisatawan yang memasuki area masjid menjadi nilai tersendiri yang harus ditaati, seperti harus berpakaian sesuai Islam, bagi pengunjung perempuan mutlak harus memakai kerudung/jilbab.

Kembali menengok sejarah Islam di Aceh. Cirebon sebagai destinasi yang telah dibahas pada halaman muka, ternyata mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Aceh. Bukti ini bisa kita telusuri dengan berziarah ke makam Said Syarif, seorang menteri dari Kerajaan Samudera Pasai. Beliau merupakan ayah kandung Fatahillah atau Falatehan, seorang ulama terkenal bergelar Sunan Gunung Jati, pendiri Kota Jayakarta (Jakarta), lahir di Pasai 1490 Masehi.

Makamnya terletak di Gampong Mancang Kecamatan Samudera. Makam ini dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 16 km sebelah timur Kota Lhokseumawe. Batu nisannya terbuat dari batu marmer bertuliskan kaligrafi indah terdiri dari ayat Kursi, surat Ali Imran ayat 18-19 dan surat At Taubah ayat 21-22.

Di dekat Makam Said Syarif, tedapat Makam Teungku Di Iboih atau Makam Maulana Abdurrahman Al-Fasi yang nisannya bertuliskan surat Al Quran yang sama dengan makam Said. Dan masih banyak makam peninggalan lain yang nisannya bertuliskan ayat-ayat Al Quran yang merupakan situs peninggalan sejarah Kerajaan Samudera Pasai. Tokoh utama yang dimakamkan pada situs Batee Balee ini adalah Tuan Perbu yang mangkat tahun 1444 Masehi.

Lokasinya di Desa Meucat Kecamatan Samudera sebelah Timur Kota Lhokseumawe. Diantara nisan-nisan tersebut ada yang bertuliskan kaligrafi yang indah yang terdiri dari Surat Yasin, Surat Ali Imran, Surat Al’Araaf, Surat Al-Jaatsiyah dan Surat Al-Hasyr.

Sumber: Majalah Travel Club

Banda Aceh dalam Bingkai Hikayat

Genderang rebana tanda diluncurkan Visit Banda Aceh 2011 telah di tabuh. Ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) kini mulai menggeliat membangun sektor pariwisata.

Lima tahun setalah gempa tsunami dan kesepakatan perdamaian tercapai, pembangunan negeri Serambi Mekah ini terus menggeliat mengejar ketertinggalan. Tak terkecuali sektor pariwisata yang terus berbenah.

Wajah Aceh sekarang penuh senyum kedamaian, siap menyongsong perkembangan dunia pariwisata yang sempat terhenti. Pencanangan Visit Banda Aceh 2011 mengindikasikan keseriusan membangun kembali bidang pariwisata. Program ini merupakan starting point bagi pembangunan pariwisata di Aceh secara keseluruhan

Ibu kota propinsi ini sejak berabad silam telah dikenal orang hingga ke seberang benua. Sejarah perjalanan salah satu kota Islam tertua di Asia Tenggara ini masih tersimpan di beberapa bangunan. Setiap obyeknya menawarkan informasi serta pengetahuan menarik bagi wisatawan mengenai kekayaan budayanya.

Masjid Raya Baiturrahman merupakan bangunan sebagai simbol sekaligus ikon kota yang sudah berusia lebih dari tujuh abad ini. Komplek masjid ini berlokasi di pusat kota. Dahulu masjid ini adalah masjid kerajaan Aceh Darussalam yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada 1612.

Berbagai kegiatan keagamaan berlangsung di masjid yang pada masa penjajahan digunakan sebagai benteng pertahanan pasukan Aceh melawan Belanda. Wisata sejarah, religi dan budaya tersaji sekaligus di kawasan masjid yang megah dan anggun ini. Jangan dulu pergi meninggalkan Kota Serambi Mekah ini sebelum mengunjunginya.

Sultan Iskandar Muda menjadi tokoh penting dalam sejarah Aceh. Dibawah kepemimpinannya, Kerajaan Aceh masuk dalam lima besar kerajaan Islam di dunia. Di mata rakyatnya, sang Sultan adalah pemimpin yang adil dan bijaksana.

Jasad Sultan Besar ini dikebumikan di Jalan Sultan Alaidin Mahmud Syah (Japakeh), Komplek Baperis Museum Aceh, disamping Pendopo Gubernur NAD. Lokasi makamnya kini menjadi salah satu tujuan wisata sejarah Banda Aceh, kunjungi dan belajarlah dari kearifan akhlaknya.

Sisa-sisa kemasyhuran kerajaan Aceh di Bawah perintah Sultan Iskandar Muda juga bisa disaksikan dengan mendatangi Gunongan. Bangunan bercat putih ini dibangun sebagai hadiah sekaligus tanda cinta kepada sang permaisuri, Putri Phang yang berasal dari Malaysia.

Gunongan merupakan miniatur dari perbukitan yang mengelilingi istana Putroe Phang di Pahang, Malaysia. Gunongan dibangun untuk mengobati kerinduan sang permaisuri terhadap negeri tempat kelahirannya. Obyek wisata ini berlokasi di Jalan Teuku Umar, Banda Aceh.

Tak jauh dari lokasi Gunongan terdapat sebuah pemakan tentara Belanda yang gugur dalam peperangan dengan pejuang Aceh. Situs sejarah yang dikenal dengan nama Kerkhof ini merupakan bukti perlawanan terhadap kaum penjajah di tanah Aceh. Ada sekitar 2.200 makam di komplek pemakaman yang dibangun sekitar 1880 ini.

Tak hanya serdadu Belanda yang jasadnya dikuburkan disini, beberapa tentara marsose asal Ambon, Manado dan Jawa juga bersemayam di komplek pemakaman ini. Yang membedakan antara makam tentara Belanda dan prajurit Marsose adalah inisial yang ditulis pada bagian belakang nama di nisan kuburan. Untuk prajurit Belanda diberi tanda EF/F, marsose dari Jawa di tandai dengan inisial IF (Inlander Fuselir) prajurit dari Ambon dengan tanda AMB, dan dari Manado dengan MND.

Tak kalah menarik berwisata di Banda Aceh adalah mengunjungi replika Pesawat Seuluwah yang ada di Lapangan Blang Padang, Kecamatan Baiturrahman. Pesawat Seuluweh merupakan cikal bakal maskapai penerbangan yang sekarang dikenal dengan nama Garuda Indonesia. Pesawat ini merupakan persembahan rakyat Aceh sebagai dukungan terhadap perjalanan berdirinya Republik Indonesia. Pesawat yang dikenal dengan nama RI-1 dan RI-2 ini dibeli dengan harga US$120.000, kala itu.

Bencana dahsyat yang pernah meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah meninggalkan kesedihan yang begitu mendalam bagi penduduk Aceh dan bangsa Indonesia. Ratusan ribu nyawa meninggal dunia disapu gempa Tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 tersebut.

Untuk mengingatkan kembali bahaya dan ganasnya Tsunami, diatas tanah seluas 10.00 meter persegi di kawasan jalan Iskandar Muda, Blang Padang didirikan Museum Tsunami. Selain sebagai obyek sejarah, museum ini juga menjadi pusat penelitian dan pembelajaran mengenai bencana tsunami. Di, museum karya anak negeri ini, terpampang foto-foto yang merekam dampak bencana berkekuatan 9,2 skala richter tersebut.

Obyek Wisata Banda Aceh

Makam Syiah Kuala
Kawasan pantai Desa Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala.

Monumen Thank’s to The World
Lapangan Blang Padang.

PLTD apung
Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru.

Kapal di Atas Rumah
Kawasan Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam.

Pinto Khop Putroe Phang
Jl. Teuku Umar, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturahman.

Sumber: Majalah Travel Club

Menjenguk Makam Serdadu Belanda di Aceh

SH/Murizal Hamzah GERBANG KERKOFF — Sebuah pintu gerbang Kerkoff berdiri megah lengkap dengan relief nama-nama serdadu Belanda yang tewas dalam pertempuran sejak tahun 1873 hingga 1910.

BANDA ACEHNanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang juga dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah menyimpan cerita tentang perjuangan yang gigih ketika melawan penjajahan Belanda. Dalam pertempuran melawan Belanda sejak 1873 hingga 1942, pejuang Aceh berhasil menewaskan komandan perang Belanda, Jenderal Kohler. Salah satu jejak sejarah itu dapat ditelusuri di Kerkoff Peucut, Banda Aceh. Dalam bahasa Indonesia Kerkoff berarti ”kuburan”.

Usai mengikuti upacara bendera 17 Agustus 2004 di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, kami memutuskan untuk menengok Kerkoff. Alasannya, selain letaknya yang berhadap-hadapan dengan Lapangan Blang Padang, kami juga ingin mengetahui nilai sejarah tempat tersebut sekaligus mendengarkan cerita tentang kegigihan para pejuang Aceh mengusir Belanda.
Keinginan untuk menziarahi tempat bersejarah itu nyatanya lebih kuat daripada suhu udara yang saat itu terasa sangat menyengat. Dengan semangat tinggi, kami datang di Kerkoff. Setiba di sana, rasa gerah berangsur-angsur hilang. Pepohonan yang ditanam di halaman Kerkoff memberikan udara yang sejuk.
Rasa takjub pun tak henti-hentinya terlontar dengan sendirinya. Baru saja kaki ini menapak di halaman, sebuah gerbang berbentuk lengkung khas Belanda tampak berdiri dengan kokoh dan terlihat kuno.
Di bawahnya, beberapa tentara dan seorang pegawai pemerintah daerah (pemda) terlihat asyik berbicara. Nun jauh di balik pintu gerbang yang megah itu, tampak deretan pegunungan berwarna biru. Nisan berwarna putih juga tampak berjajar dengan rapi di atas lahan yang ditumbuhi rerumputan. Paduan pemandangan ini menciptakan keindahan yang luar biasa. Kami pun makin mempercepat langkah.
Selanjutnya, ketika posisi kami sudah mendekati pintu gerbang, ukiran cantik mulai terlihat oleh mata. Ukiran itu tak lain adalah nama-nama serdadu Belanda yang meninggal pada saat melakukan pertempuran dengan masyarakat Aceh.
Nama-nama serdadu yang meninggal itu terukir dengan rapi pada relief dinding gerbang. Setiap relief memuat 30 nama serdadu, daerah pertempuran dan tahun mereka mengembuskan napas terakhir. Kejadiannya berkisar antara tahun 1873 – 1910. Di antara nama-nama yang terpampang rapi tersebut, ada beberapa prajurit yang berasal dari Jawa, Manado, dan Ambon. Menurut cerita mereka dulunya tergabung dalam tentara Marsose.
Serdadu Jawa yang berada di bawah pimpinan Belanda biasanya disertai dengan identitas IF (inlander fuselier) di belakang namanya. Tentara Belanda diikuti kode EF ataupun F. Art dan serdadu dari Ambon ditandai dengan AMB dan serdadu dari Manado ditandai dengan MND.
Sedangkan, beberapa wilayah pertempuran itu antara lain: Sigli, Moekim, Tjot Basetoel, Lambari en Teunom, Kandang, Toeanko, Lambesoi, Koewala, Tjot Rang – Pajaoe, Lepong Ara, Oleh Karang – Dango, Samalanga dan sebagainya. Tempat itu untuk mengubur jasad-jasad serdadu Belanda yang tewas seketika pada pertempuran di Aceh maupun orang Belanda lainnya. Bagi serdadu yang meninggal seketika di medan pertempuran akan disertai dengan keterangan Gesneuveld. Sedangkan bagi yang meninggal karena sakit akan disertai dengan keterangan overleden.
Sementara itu, di bagian kiri pintu gerbang tertulis kalimat ”in memoriam Generaal – Majoor JHR Kohler, Gesneuveld, 14 April 1873”. Kalimat tersebut intinya mengenang Jenderal Kohler yang meninggal seketika dalam pertempuran di Aceh pada 14 April 1873.

Catatan Sejarah
Menurut catatan sejarah, pada 1873, serdadu Belanda masuk ke Aceh untuk menguasai daerah tersebut. Namun, upaya Belanda untuk menguasai wilayah Aceh tidak dapat segera terlaksana. Mereka mendapat perlawanan sengit dari pejuang Aceh yang gagah berani. Bahkan, Jenderal Kohler yang memimpin penyerangan tersebut harus kehilangan nyawanya pada tahun 1873 itu juga. Dia terkena tembakan tepat di dahinya di depan Masjid Raya Baiturrahman pada 14 April 1873.
Usaha menguasai Aceh tersebut tetap tidak dapat berjalan mulus hingga pada tahun 1942. Belanda hanya dapat menguasai daerah perkotaan. Sedangkan, di daerah-daerah pedesaan, Belanda dapat dikatakan mengalami kekalahan.
Akibat penjajahan yang dilakukan selama 59 tahun itu, ribuan serdadu Belanda tewas. Serdadu yang terdiri dari orang Belanda sendiri dan pasukan antigerilya atau Marsose yang serdadunya berasal dari orang Jawa, Ambon dan Manado tewas di ujung senjata khas Aceh, yaitu Rencong dan bedil. Pada mulanya, mereka yang tewas di daerah-daerah pertempuran seperti Sigli, Samalanga, Meulaboh, Bakongan, Idi, Paya Bakong langsung dimakamkan di derah itu pula. Namun, karena banyaknya graven atau kompleks kuburan yang berceceran di Aceh, maka dilakukan upaya untuk mengumpulkan jasad para inlander tersebut menjadi satu.
Kerkoff yang sebelumnya merupakan kawasan ilalang dan kemudian menjadi kandang kuda disulap menjadi kompleks kuburan oleh Belanda. Saat ini, di sana dikuburkan 2.200 serdadu Belanda dari yang berpangkat Jenderal sampai berpangkat rendah.
Jasad-jasad tersebut dikumpulkan dari daerah-daerah. Misalnya di dinding gapura disebutkan serdadu Belanda yang tewas di Idi. Walaupun di dinding dicantumkan nama serdadu Marsose yang berasal dari orang Jawa atau Ambon seperti nama Paijo (ditambah nama-nama orang Jawa dan Ambon), namun mereka tidak dikuburkan di Kerkoff, tetapi mereka dikuburkan di Taman Makam Pahlawan sekitar 500 meter dari Kerkoff.

Jasad Kohler
Uniknya, setelah Kohler tewas, pejuang Aceh tidak mengetahui, di mana jasadnya dikuburkan. Terakhir diketahui, Kohler dikuburkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun, karena kawasan Tanah Abang akan dibangun pertokoan, makam Kohler pun terkena penggusuran. Sehingga, sebagai peringatan sejarah dan atas permintaan Gubernur Aceh Muzakir Walad, jasad Kohler akhirnya dikubur ulang di Kerkoff, Banda Aceh pada 19 Mei 1978. Menurut cerita, pemakaman ulang Kohler di Kerkoff tersebut dihadiri oleh satu peleton tinggi Belanda.
Kerkoff sendiri ternyata tidak hanya digunakan sebagai tempat peristirahatan yang terakhir bagi serdadu Belanda yang tewas karena pertempuran, tetapi juga karena sakit dikuburkan. Sejumlah pejabat tinggi perwakilan Belanda yang pernah bertugas di Aceh pun mewasiatkan untuk dikuburkan di lahan tersebut. Misalnya, A Ph Van Aken, Gubernur Belanda untuk Aceh yang tewas di Jakarta pada 1 April 1936 dalam kedudukannya sebagai anggota Dewan Hindian Belanda. Tokoh ini terbilang memiliki sikap lunak dan dikenal baik sehingga menarik simpatik masyarakat Aceh. Dia dikenal telah merenovasi kubah Masjid Raya Baiturrahman.
Karena mengandung nilai sejarah yang tinggi, usaha untuk melakukan perawatan Kerkoff terus dilakukan. Adalah Kolonel Koela Bhee dan Lamie Djeuram mantan komandan bivak di Blang Pidie yang datang kembali ke Aceh pada Juli 1970 dan merenovasi Kerkoff yang sudah ada sejak tahun 1880.
Sumber dana pada awalnya bersifat partikelir dan selanjutnya dilakukan upaya kampanye pengumpulan dana perawatan Kerkoff di Belanda. Hasilnya, terbentuklah Yayasan Peucut atau yang belakangan dikenal Stichting Renovatie Peucut. Dana dari yayasan tersebut disalurkan melalui Pemda Banda Aceh.
(Sinar Harapan/tutut herlina/ murizal hamzah)

Gerbang Nirwana di Pedalaman Sumatera

Ketika sang mentari muncul, saat cahayanya mulai menghangatkan daun-daun pepohonan, berpadu dengan gemuruh sungai yang mengalir bak pita biru membelah kehijauan hutan, keindahan pagi hari di Bukit Lawang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Bahorok, sungai di Bukit Lawang ini, adalah salah satu dari sekian banyak sungai-sungai menawan yang mengalir di Taman Nasional Gunung Leuser. Kawasan ini merupakan blok hutan terluas di pulau Sumatera, mencakup dari pegunungan sampai pantai dan dihuni oleh berbagai binatang besar seperti gajah, harimau, badak, orang utan, tapir, beruang madu, kambing hutan dan rusa.

Tidak heran mitologi orang-orang Gayo di dataran tinggi Aceh menyebutkan Leuser merupakan nirwana bagi satwa. Setiap binatang yang sedang menjelang ajal akan melakukan perjalanan ke arah gunung Leuser untuk mati di sana.

Bukit Lawang sendiri merupakan bagian dataran rendah dari Leuser di Sumatera Utara dengan kondisi masih berupa rimba belantara dipenuhi oleh pohon-pohon bernilai ekonomis seperti damar, meranti dan kruing. Konon namanya berasal dari suatu bukit yang dipenuhi tanaman lawang.

Namun ada juga yang mengatakan bahwa di tempat ini ditemukan bukit-bukit membentuk celah sebagai pintu masuk menuju kawasan Leuser.

Daerah Bukit Lawang mulai dikenal pada tahun 1973, ketika dua orang ilmuwan zoologi dari Swiss membangun pusat rehabilitasi orang utan dengan tujuan untuk menampung dan melepaskan kembali orang utan peliharaan ke kawasan ini.

Karena orang utan ini mudah dilihat, selain juga sungainya yang indah, lama kelamaan pariwisata berkembang di sini. Berbagai fasilitas seperti penginapan, rumah makan dan warung cenderamata juga tumbuh dengan pesat. Puncaknya pada pertengahan tahun 1990-an, tingkat kunjungan wisatawan mancanegara terutama dari Eropa mencapai lebih dari 20.000 orang dalam setahun.

Namun setelah itu krisis moneter tahun 1998 datang ditambah banjir bandang yang menyapu Bukit Lawang pada tahun 2003, menghancurkan sebagian besar fasilitas dan menelan korban lebih dari 200 orang, kunjungan wisatawan pun menurun secara drastis. Kini beberapa tahun belakangan tempat ini mulai menggeliat kembali. Turis-tuns dari Eropa mulai berdatangan kembali.

Hanya berjarak sekitar 90 km dari kota Medan dengan kondisi jalan cukup minus saat ini, Bukit Lawang dapat ditempuh dalam waktu 3 jam dengan kendaraan bermotor dari Medan melalui Binjai.

Lokasinya berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser, terletak pada ketinggian 100m-200m dari permukaan laut dengan kondisi bentang alam berbukit-bukit. Setibanya di sini, kita akan disambut dengan gemuruh suara air sungai Bahorok yang begitu jernih dan memancarkan warna kebiruan.

Di areal ini, terdapat berbagai warung makanan, barang cenderamata dan berbagai barang kebutuhan lainnya. Penginapan dan restoran terdapat di sepanjang kedua sisi sungai.

Macam penginapan cukup beragam dari yang menawarkan harga murah di bawah 100 ribu rupiah sampai yang cukup mahal di atas 250 ribu rupiah per malam. Menu yang ditawarkan di restoran juga cukup beragam, ada yang menyajikan makanan lokal atau menu makanan Barat.

Umumnya wisatawan domestik, dari Medan dan sekitarnya, menyukai lokasi di sekitar areal kedatangan yang ramai, sedangkan para turis mancanegara lebih memilih masuk ke arah hulu sungai, tempat penginapan lebih tenang dan sepi dapat ditemukan. Pada akhir pekan dan hari libur, Bukit Lawang dipenuhi oleh para wisatawan domestik yang datang untuk berekreasi dan mandi di sungai.

Namun berkunjung ke Bukit Lawang lebih dari sekadar bermain air. Melihat orang utan adalah atraksi menarik lainnya terutama bagi para wisatawan asing. Sekalipun saat ini pusat rehabilitasi telah ditutup, tetapi kegiatan pemberian makan orang utan masih dilakukan pada pagi dan sore hari.

Untuk melihat kegiatan ini, kita harus berjalan ke arah hulu sungai sampai bertemu gerbang masuk Taman Nasional Gunung Leuser, kemudian dilanjutkan menuju lokasi pengamatan orang utan.

Menjelajahi hutan sambil berkesempatan menjumpai binatang liar lainnya seperti owa, monyet pemakan daun kedih, lutung, atau berjumpa dengan pohon-pohon berukuran besar, dapat menjadi kegiatan alternatif yang menyenangkan. Para pemandu menawarkan berbagai paket penjelajahan hutan untuk turis mulai dari 3 jam sampai menginap selama seminggu di dalam hutan.

Terdapat dua suasana paling mempesona di Bukit Lawang. Pertama, suasana pagi hari ketika cuaca cerah. Pemandangan menatap ke sungai yang begitu biru berpadu dengan kesegaran dedaunan pepohonan dari cahaya kemerahan dari matahari terbit, merupakan pemandangan luar biasa.

Kedua suasana di sore hari yang merupakan waktu paling tepat untuk bermain di sungai, baik itu mandi-mandi, berenang atau mengarungi riam-riam dengan menggunakan ban dalam mobil atau dikenal dengan istilah tubing. Berapa lama pun kita tinggal di Bukit Lawang, tidak akan pernah merasa bosan dalam menikmati keindahan baik di pagi hari maupun keceriaan sore hari.

Sumber: Majalah ASRI

Taman Nasional Gunung Leuser

Peta Leuser
Peta Leuser

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan pantai, dan hutan hujan tropika dataran rendah sampai pegunungan.

Hampir seluruh kawasan ditutupi oleh lebatnya hutan Dipterocarpaceae dengan beberapa sungai dan air terjun. Terdapat tumbuhan langka dan khas yaitu daun payung raksasa (Johannesteijsmannia altifrons), bunga raflesia (Rafflesia atjehensis dan R. micropylora) serta Rhizanthes zippelnii yang merupakan bunga terbesar dengan diameter 1,5 meter. Selain itu, terdapat tumbuhan yang unik yaitu ara atau tumbuhan pencekik.

Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional antara lain mawas/orangutan (Pongo abelii), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Capricornis sumatraensis), rangkong (Buceros bicornis), rusa sambar (Cervus unicolor), dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis sumatrana).

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir. Berdasarkan kerjasama Indonesia-Malaysia, juga ditetapkan sebagai “Sister Park” dengan Taman Negara National Park di Malaysia. Continue reading Taman Nasional Gunung Leuser

Buang Lelah ke Pulau Rubiah

pulau-rubiahSABANG – Apa yang terpikir jika disebut nama Bunaken atau Nusa Penida? Mungkin terlintas surga taman laut. Selain dua nama itu, masih ada daerah lain di Tanah Air yang memiliki akuarium raksasa, yakni Pulau Rubiah di Sabang.
ada masa kolonial Belanda, pulau seluas 50 hektare itu menjadi asrama haji sebelum calon jemaah haji naik kapal laut menuju Mekkah. Yahya, pemilik pulau itu mengantar SH menyaksikan sisa-sisa fondasi asrama haji, bak air, dan dermaga pelabuhan. Pada masa Perang Dunia II, pulau ini menjadi benteng pertahanan pasukan Belanda dan Jepang. Tak heran, di belakang rumah Yahya terlihat reruntuhan benteng.
”Setengah pulau ini saya miliki dan tidak boleh dijual. Setengah lagi milik Pemda Sabang. Saya mendapat warisan sejak zaman Sultan Iskandar Muda,” ungkap Yahya yang menerangkan ada surat penyerahan pulau ini kepada nenek moyangnya.
Yahya menuturkan, pada masa Darurat Militer tahun 2003, praktis usaha wisata di Aceh pada umumnya dan Sabang khususnya, berada pada ”titik nadir”. TNI pun berpatroli di Rubiah untuk mencari anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang bersembunyi di sana. Namun semua itu berakhir setelah RI-GAM sepakat berdamai di Helsinki pada 15 Agustus 2005. Continue reading Buang Lelah ke Pulau Rubiah

Indahnya Masjid Raya Baiturrahman

masjid-raya-baiturrahmanMasjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, telah berusia 712 tahun, namun masih tetap memancarkan keindahan dan berlatar belakang sejarah yang besar. Karena itu, tidaklah mengherankan jika bangunan masjid yang mampu menampung sekitar 10.000-13.000 jemaah ini menarik perhatian umat Islam, baik yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) maupun dari berbagai pelosok Tanah Air. Continue reading Indahnya Masjid Raya Baiturrahman