Category Archives: Nusa Tenggara Timur

Pulau Rote Jadi Incaran Para Peselancar Dunia

Pulau RoteHobi berselancar, datanglah ke Pulau Rote di NTT! Pulau kecil ini memiliki pantai-pantai dengan ombak panjang dan menantang. Bahkan, banyak peselancar dunia yang datang untuk menjajal kehebatan ombak di pulau ini.

Pantai Bo’a di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, dikenal sebagai lokasi sempurna dan menantang untuk para peselancar. Gulungan ombaknya yang spektakuler bisa Anda temukan di pantai ini.

Selain dikenal sebagai wilayah paling selatan Indonesia, Pulau Rote juga memiliki ciri khas budidaya lontar, alat musik sasando, topi adat ti’i langga, serta wisata baharinya, terutama olahraga selancar.

Pulau ini beriklim kering dan dipengaruhi angin muson. Musim hujannya pun relatif pendek, antara 3-4 bulan. Bagian utara dan selatan berupa pantai dengan dataran rendah, sementara bagian tengah merupakan lembah dan perbukitan. Pulau ini dapat dikelilingi dalam jangka waktu yang relatif singkat.

Dari Kupang, Ibukota Nusa Tenggara Timur, Anda bisa mencapainya dengan kapal ferry Bahari Express. Di mana setiap harinya kapal ini melayani rute Kupang-Bo’a selama 1 jam 45 menit. Selanjutnya, untuk dapat menikmati indahnya ombak di Pantai Bo’a Anda dapat menempuh perjalanan selama 1,5 jam menggunakan mobil.

Sapi, kerbau, kambing, babi, ayam dan pohon-pohon kelapa akan menghiasi pemandangan traveler selama menuju Pantai Bo’a. Setelah sampai di sana Anda akan melihat pantai yang sangat jernih.

Pasti Anda tidak akan sabar untuk berenang atau berfoto-foto. Apalagi dengan latar belakang air laut yang jernih, berwarna hijau dan biru. Saya pun melakukan hal seperti itu.

Tak hanya Pantai Bo’a, di pulau ini juga ada Pantai Nemberala dengan ombaknya yang menantang. Objek wisata yang terletak di Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat ini adalah sebuah kawasan pantai selancar yang berada di Pulau Rote.Â

Gulungan ombak Pantai Nemberala yang menantang, menempatkan pantai tersebut sebagai salah satu arena pelaksanaan lomba selancar bertaraf internasional. Ya, lomba itu dikenal dengan ISC (International Surfing Contest) yang diselenggarakan pada tanggal 14 Oktober 2011 lalu.

Di Nemberala terdapat jalur ombak yang sedikit bergerak perlahan, yaitu di Break. Tinggi ombak di tempat ini mencapai tiga kali tinggi orang Indonesia. Lokasinya pun digemari para peselancar yang sudah mahir. Mereka biasanya datang pada bulan Juli hingga September. Bagi mereka yang gemar jalur arah putaran ke kiri, ada salah satu tempat yang ditempuh dengan mengendarai sepeda motor selama 15 menit ke Pantai Bo’a.

Tiga kilometer dari Pantai Bo’a Anda dapat melanjutkan petualangan ke Pantai Oeseli. Di sepanjang jalan menuju Oeseli itu, dijumpai banyak bukit karang yang ditumbuhi pohon kerdil, sehingga tampak seperti taman bonsai.

Hingga akhirnya Anda bisa menjumpai Pantai Oeseli yang memiliki gerbang besar dari bukit batu cadas. Bukit batu cadas itu membentuk sebuah gerbang besar untuk mengintip keindahan Pulau Rote.

Sungguh senang rasanya dapat mengunjungi pulau yang berada di wilayah paling selatan Indonesia. Bagi teman-teman yang ingin berselancar, menantang gulungan ombak yang spektakuler serta melihat pantai indah, datang ke Pulau Rote.

Dijamin, Anda pasti ketagihan untuk kembali ke Pulau Rote. Banyak traveler bilang, ini adalah pulau kecil nan eksostis dengan gelombang laut terpanjang di Indonesia.

Sumber: detikcom

Petualangan Menarik di Dekat Gunung Kelimutu

TUJUAN trekking kali ini adalah Danau Kelimutu yang memiliki tiga warna air berbeda di kawasan gunung berapi Kelimutu, tepatnya di puncak Taman Nasional Kelimutu, Flores.

Untuk mencapai lokasi danau, Anda bisa berangkat dari kota kecil Moni atau dikenal sebagai basecamp para backpacker sekitar 12 km. Danau Tiwu Ata Mbupu berada paling barat, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai di tengah dan Tiwu Ata Polo di timur.

Warna masing-masing danau itu selalu berubah-ubah dan ketiga Danau Kelimutu diyakini memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat. Ini merupakan tempat bersemayamnya para roh.

Disini juga mudah ditemukan tikus-tikus gunung (Bunomys naso), banteng (Bos javanicus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak nainggolani), luwak (Pardofelis marmorata), trenggiling (Manis javanica), landak (Hystrix brachyura brachyura) dan kancil (Tragulus javanicus javanicus).

Meski danau ini indah, namun tidak semua daerah dapat dijelajahi. Pasalnya Kelimutu merupakan salah satu daerah yang berbahaya. Taman Nasional Kelimutu merupakan taman nasional terkecil dari enam taman nasional di wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

Beberapa tempat menarik lainnya yang dapat Anda kunjungi di Flores adalah Blue Stone Beach, Situs Rumah Bekas Pembuangan Bung Karno dan pusat perbelanjaan kain di Pasar Ikat.(*/X-13)

Sumba Semakin Eksotik

BEGITU turun di Bandara Tambolaka, pertama-tama yang kujumpai di luar pintu keluar para lelaki rata-rata bermulut merah karena sirih. Sebagian dari mereka menyarungkan parang di pinggang.

Mengapa semua lelaki di Sumba harus menyandang parang? Itu kesan dan pertanyaanku saat kunjungan pertama ke Sumba. Akhirnya takjub juga. Betapa indah dan kayanya kebudayaan Indonesia. Inilah Sumba, satu dari ribuan kebudayaan di Nusantara.

Tepatnya Sumba Barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dalam rangka memenuhi ajakan teman sesama fotografer yang berniat menyaksikan acara sukacita musim panen atau tahun baru menurut penanggalan Merapu. Mengunjungi Sumba dapat melalui Bandara Tambolaka atau dari Waingapu. Luas Sumba 11.150 km pesegi. Boleh dikatakan pulau terbesar di Provinsi NTT.

Tatanan kehidupan sosial adat Sumba masih mengenal tingkat raja atau golongan Maramba. Juga golongan tokoh-tokoh adat dan pejabat yang disebut Kabihu, dan orang-orang biasa yang dikenal dengan Ata.

Kehidupan umum orang Sumba dari hasil pertanian, berternak kerbau dan sapi serta perikanan laut. Semakin banyak berternak kerbau semakin tinggi simbol status seseorang, terutama kerbau menjadi nilai untuk mas kawin pada waktu melamar gadis.

Sumba terkenal dengan kayu cendana, kuda-kudanya, makam-makam megalith dan kain-kain ikat yang unik dan terjaga dengan tema-tema filosofis.

Bentuk-bentuk rumah adat mereka memiliki puncak atap-atap tinggi yang unik, guna menyimpan benda-benda pusaka dan hasil panen. Ruangan tinggal juga terbagi untuk wanita dan pria. Sementara bagian terbawah tempat kandang-kandang ternak. Rumah mereka umumnya juga dikelilingi makam-makam keluarga dan leluhur klen-klen mereka.

Hampir seluruh segi-segi kehidupan masyarakat Sumba diliputi muatan atas dasar antropologi agama. Marapu merupakan inti kebudayaan mereka, yang berintikan pada sumber nilai-nilai dan pandangan hidup yang berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Sumba pada umumnya.

Upacara yang terbesar dalam lingkungan adat adalah upacara pernikahan dan upacara kematian dan mengorbankan banyak kerbau, sapi, babi bahkan kuda.

Pada setiap upacara keagamaan berbagai bentuk kesenian biasanya selalu ditampilkan pula. Dapat dikatakan bahwa kesenian merupakan pengiring bagi religi mereka.

Walaupun tidak mengenal bahasa tulisan, orang Sumba mempunyai kesusasteraan suci yang hidup dalam ingatan para ahli atau pemuka-pemuka kepercayaan Merapu. Dikenal dengan sebutan Lii Ndai atau Lii Marapu yang dituturkan pada upacara-upacara ritual dalam alunan nyanyian adat yang syahdu.

Kesusasteraan suci itu dipercaya bertuah dan dapat mendatangkan kemakmuran pada warga komunitas demi mengundang kesuburan bagi tanaman serta binatang ternak.

Hal lain yang menarik dari perjalanan saya ke dusun-dusun di pelosok Sumba itu, adalah tentang kuburan. Jika di tempat lain makam-makam biasanya jauh dari pemukiman maka di Sumba dibangun di halaman rumah.

Dahulu material yang digunakan membuat pemakaman adalah batu-batu alam yang dipotong. Namun sekarang sudah banyak yang membuat makam-makam semacam itu terbuat dari semen yang dicor.

Makam-makam tersebut dibangun di halaman rumah, merupakan wujud kecintaan mereka terhadap orang yang telah pergi agar tetap dekat dan selalu turut menjaga keamanan dan kesejahteraan keluarga yang masih hidup.

Sastra Sumba
Nyanyian suci selalu menggambarkan pentingnya manusia harus selalu meyesuaikan dengan irama gerak alam semesta, dengan mengawasi bersama akan ketertiban hubungan antara manusia dengan alam.

Selain itu manusia juga harus selalu mengupayakan keseimbangan hubungan dengan kekuatan-kekuatan bahasa alam yang menjadi bagian dari alam semesta itu sendiri. Bila hubungan baik atau kerja sama antara manusia dengan alam terpelihara, maka keseimbangan dan ketertiban itu dapat mendatangkan kemakmuran dan kedamaian hati.

Hal tersebut berlaku pula antara manusia yang masih hidup dan hubungannya dengan arwah-arwah mereka yang sudah mati. Manusia yang masih hidup mempunyai kewajiban untuk tetap dapat mengadakan hubungan dengan arwah-arwah leluhur tersebut.

Berbagai upacara adat pun kutemui. Upacara umumnya harus diatur waktunya agar sejajar dengan irama gerak alam semesta. Pengaturan waktu untuk itu didasarkan pada kalender adat Sumba. Kalender adat tidak boleh diubah atau ditiadakan.

Karena telah ditetapkan berdasarkan nuku-hara para leluhur. Bila ada yang berani mengubah aturan leluhur, dipercayai akan menimbulkan kegoncangan yang juga menimbulkan bahaya karena murkanya para leluhur. Dari situ, ragam tarian adat bisa dinikmati. Alunan musik pengiring dan gemulai gerak sungguh menampakkan keharmonisan.(mediaindonesia.com)

Pink Beach, Pantai Indah di Flores

PINK Beach atau yang kerap disebut dengan Pantai Merah menjadi satu destinasi yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Flores. Ini merupakan salah satu tempat favorit di Taman Nasional Komodo yang terkenal di kalangan turis.

Salah satu daya pikat utamanya adalah pasir pantai yang terlihat berwarna kemerahan. Warna merah berasal dari serpihan batu merah yang kemudian tersebar di sepanjang pantai yang berukuran 300m. Bukit-bukit bebatuan dengan tanaman terbatas menjadi latarbelakang kawasan pantai

Kehidupan biota lautnya yang indah dan beranekaragam menjadikan Pantai Merah sebagai salah satu titik penyelaman terbaik di Taman Nasional Komodo. Selain itu airnya juga sangat jernih dan tenang.

Pantai Merah berada di sebuah pulau kecil berbatu dengan koleksi batu karang dan aneka ikan penuh warna. Meski memiliki panorama alam indah, sekitar area pantai terbilang kering dan cukup gersang sehingga tak dijumpai penduduk lokal. (*/X-13)

Pesona Kota Karang

TERIK mentari terasa menusuk begitu Anda menginjakkan kaki di Bandar Udara El Tari yang terletak di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di siang hari, suhu udara di sini memang bisa sangat tinggi, yakni sekitar 37 derajat Celcius. Akan tetapi, semua itu sepadan dengan pengalaman merasakan sejuta pesona yang bersemayam di Kota Karang ini.

Bagi Anda yang terbiasa terjebak macet di Jakarta, mengunjungi Kupang bisa menjadi alternatif penghilang keruwetan otak. Di kota ini, jalanan terlihat lengang dan tidak sepadat Jakarta. Hanya beberapa kendaraan bermotor yang terlihat melintas di sepanjang jalan.

Sebagai sarana transportasi umum, terdapat minibus angkutan kota yang lebih dikenal dengan sebutan ‘oplet’ untuk melayani rute dalam kota. Selain itu, ada pula taksi dan armada bus kota yang melayani rute ke luar kota. Jika hendak ke Dili, Anda tinggal mencari bus yang melayani rute antarnegara, salah satunya disediakan oleh DAMRI. Sementara itu, layanan imigrasi Indonesia-Timor Leste dilakukan di Tasifeto Timur-Batugede.

Keindahan laut
Kupang menyimpan daya tarik tersendiri dengan keindahan laut biru dan pantai putihnya. Pantai Lasiana merupakan salah satu destinasi wisata andalan Kota Kupang, yang terletak di Kecamatan Kupang Tengah, sekitar 12 km di sebelah timur pusat kota. Untuk sampai ke sana, Anda membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit menggunakan kendaraan bermotor.

Kawasan di sekitar pantai Lasiana mempunyai topografi alam yang unik, merupakan perpaduan antara pantai dan perbukitan di bagian baratnya. Semilir angin yang membelai lembut wajah serta debur ombak di pantai berpasir putih ini mampu membius siapa pun yang berkunjung ke sana. Pada hari libur, terutama libur sekolah dan hari raya, pantai ini diserbu wisatawan yang ingin berekreasi melepas lelah dan menikmati pemandangan alam di sana.

Di sepanjang pantai Lasiana, terdapat deretan pohon kelapa dan lontar yang meneduhkan. Jika ingin beristirahat, Anda tinggal memilih satu di antara sederet lopo-lopo, sebutan penduduk lokal untuk pondok yang dibangun menyerupai payung dengan tiang dari batang pohon kelapa atau kayu, dan beratapkan ijuk atau pelepah kelapa, lontar, dan alang-alang.

Sebagai camilan, Anda bisa menikmati aneka jajanan seperti kelapa muda, jagung bakar, atau pisang gepe yang dijajakan beberapa penjual. Selain itu, tersedia pula beberapa kios yang menjual berbagai cinderamata unik khas NTT sebagai buah tangan.

Kuliner lezat
Bagi para penggemar seafood, kota ini bagaikan surga karena menyediakan berbagai macam kuliner olahan hasil laut nan lezat. Wisatawan yang berkunjung ke Kupang akan dimanjakan dengan suguhan ikan bakar berukuran jumbo, olahan cumi serta udang dengan harga yang ringan di kantong.

Bagi pecinta daging, masakan daging se’i yakni daging sapi atau daging babi yang diasap dan dicampur susu, garam, dan rempah-rempah tentunya juga menerbitkan selera. Jangan lupa untuk mencicipi makanan khas Kupang lainnya, jagung bose, yang dibuat dari campuran jagung, sayuran, serta kacang-kacangan seperti kacang hijau dan kacang tanah. Hmm… Sedap!

Jika ingin membeli oleh-oleh untuk kerabat di rumah, langkahkan kaki menuju kios Ibu Soekiran, yang merupakan pusat oleh-oleh khas NTT. Di kios yang terletak di JL Moh. Hatta No. 16, Kupang, NTT itu, tersedia berbagai macam makanan ringan seperti jagung titi, kacang sembunyi, abon sapi, jagung bumbu pedas, paru sapi, kerupuk kulit ikan, gula hela, madu hutan, serta sambal lu’at asli manalagi khas NTT. Berbagai penganan ringan itu dijual dengan harga cukup terjangkau, mulai dari Rp8.000,00-Rp25.000,00. (mediaindonesia.com/Ol-5)

Kejaiban Warna dari Ende

PAGI belum lagi sempurna. Kabut tebal masih menyelimuti kaki pendakian Danau Kelimutu. Tiga danau yang menjadi buah bibir wisatawan belum juga tampak.

Kami menunggu di puncak pendakian, sambil menyeruput secangkir kopi yang di jual di atas oleh Avelinus, salah satu penduduk asli Suku Lio yang ada di kawasan Kelimutu. Dia sengaja datang membawa termos, keranjang gelas, sendok, gula, kopi dan teh, serta beberapa potong kain untuk dijual pada wisatawan. Di puncak pengamatan Danau Kelimutu, hanya dialah yang berjualan.

Tiga jam menunggu dari pukul 07.00 WIT hingga sekitar 10.00 WIT, akhirnya tirai kabut Kelimutu tersibak. Teriakan pengunjung yang jumlahnya tak lebih dari 15 orang langsung terdengar. “Lihat, lihat.”

Dua danau berwarna hijau tosca dan hijau tua terpampang di depan mata. Sebelumnya, danau hitam lebih dulu terlihat di sisi lain tempat kami berdiri. Tak ada kata yang bisa dengan tepat menggambarkan momen saat itu. Barangkali yang mendekati ialah kata takjub! Tiga danau berbeda warna terlihat tenang, dibentengi dinding batu dan di kejauhan terhampar hutan yang masih hijau. Suara burung sesekali masih terdengar, udara sejuk, dan angin kencang membelai serta mengibarkan rambut, jaket, dan busana.

Danau tiga warna Kelimutu terletak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Ajaib sekaligus menyimpan misteri. Warna air danau berubah-ubah seiring perjalanan zaman. Semula pergantian warna air dilaporkan Van Suchtelen, warga Belanda yang datang ke Kelimutu pada 1915. Kelimutu aktif memamerkan misteri alamnya selama 2002-2006. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat 17 kali pergantian warna pascaperubahan terakhir pada 13-21 Mei 1997.

Selama delapan hari, Danau Atapolo berwarna merah hati kemudian berganti warna ke hijau lumut. Danau ini dipercaya masyarakat setempat sebagai tempat arwah-arwah jahat. Sementara itu, danau Nua Muri Koo Fai berwarna hijau tosca (kampung arwah muda-mudi) berganti dari hijau terang ke hijau tosca. Terakhir Danau Ata Mbupu berwarna hitam–sebelumnya cokelat tua–dipercaya masyarakat sebagai kampung arwah para tetua bijaksana.

Kepala Tanam Nasional Kelimutu Gatot Subiantoro mengatakan, sesuai penelitian LIPI, kandungan mineral dalam danau membuat pantulan ketiga danau bervariasi. Perubahan itu dipengaruhi pembiasan matahari, kadar garam besi, dan sulfat. Juga ada pengaruh mikroba air serta aktivitas vulkanik.

Gatot menjelaskan, awalnya Kelimutu (1.640 meter di atas permukaan laut) merupakan gunung api aktif. Gunung ini meletus terakhir pada 1886 dan meninggalkan tiga kawah berbentuk danau. Ketika itu, tiga kawah memiliki warna air berlainan, yaitu merah, biru, dan putih.

Pada 3 Juni 1968, terjadi letusan dalam danau hijau muda. Gejalanya didahului suara mendesis, disusul semburan air cokelat kehitaman mencapai ketinggian 10 meter. Itu adalah aktivitas vulkanik ke-12 kalinya sejak 1830. Menurut Gatot, danau hijau muda masih aktif sampai sekarang. Adapun dua danau lainnya tidak aktif lagi, tetapi tetap ikut berubah warna. Itulah misteri yang belum sepenuhnya tersingkap para ahli.

Warga setempat, seperti disampaikan Gatot, mengatakan warna air Kelimutu berubah-ubah selama ratusan tahun. Hanya, saat ini dua danau yang berdampingan di bagian timur, yaitu Nua Muri Koo Fai dan Ata Mbupu dikhawatirkan lenyap. Pasalnya, dinding pemisahnya makin menipis, diduga akibat peristiwa vulkanik. “Dulu, masyarakat bisa berjalan melewati dinding pemisah itu. Tapi, sekarang sudah menipis sehingga tidak bisa dilewati lagi,” papar Gatot.

Wisata Andalan

Keajaiban dan misteri keindahan Kelimutu membuat danau ini terus dibanjiri wisatawan lokal dan mancanegara. Kelimutu bukan hanya obyek wisata andalan Nusa Tenggara Timur, tetapi menjadi satu-satunya objek danau tiga warna di dunia. Kelimutu terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, sekitar 66 kilometer arah utara Ende, ibu kota Ende.

Jika perjalanan dilakukan dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, sejauh 83 kilometer. Tidak sulit mencapai Kelimutu. Dari Maumere, perjalanan sekitar 3-4 jam, sewa mobil termurah sekitar Rp800 ribu. Pengunjung disarankan berangkat pada pukul 03.00 atau 04.00 WIT, hingga bisa tiba di Kelimutu sekitar pukul 06.00-08.00 WIT.

Pada jam itu merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pendakian. Tidak perlu khawatir karena jalan menuju puncak pengamatan Kelimutu tidaklah berat, sudah ada tangga-tangga dari semen. Waktu tempuh menuju puncak sekitar satu jam, tentu jika dilakukan tanpa henti.

Datang ke Kelimutu memang disarankan pagi hari. Saat Media Indonesia berkunjung April lalu, kabut baru terbuka pada pukul 10.00 WIT. Siang menjelang sore, kabut sudah datang lagi menutupi keindahan tiga danau tersebut.

Alternatif tempuh lain, berangkat dari Maumere sore hari menuju Desa Moni. Kawasan berjarak 13 kilometer dari danau itu ialah wilayah paling dekat dengan Kelimutu. Ada kafe, restoran dan 20 homestay berkapasitas sekitar 100 tempat tidur.

Moni menyuguhkan nuansa perdesaan yang sangat kental, seperti persawahan dan perbukitan hijau, sayang untuk dilewatkan. Pukul 03.00 dini hari dengan suhu 20 derajat celcius adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke Kelimutu. Kendaraan wisatawan di parkir di pos penjagaan, kemudian berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Saat itu panorama sungguh menakjubkan, terutama saat menyaksikan matahari terbit dari celah rimbunnya pohon pinus. Setelah tiba di puncak silakan menunggu keajaiban tiga danau, begitu kabut menyingkir.

Flora dan fauna

Taman Nasional Kelimutu–tempat Danau Kelimutu berada–menyimpan potensi flora dan fauna yang dikenal langka. Ada 19 jenis burung yang terancam punah, seperti tesia timor (Tesia everetti), sepah kerdil (Pericrocotus lansbergei), kehicap flores (Monarcha sacerdotum), punai flores (Treron floris).

Sementara itu, mamalia endemik seperti landak (Hystrix brachyura brachyura), kancil (Tragulus javanicus javanicus), dan luwak (Pardofelis marmorata).

Kekayaan alam tersebut dilindungi setelah ditetapkan menjadi taman nasional pada 26 Februari 1992. Kawasan taman nasional seluas 5.356,5 hektare ini meliputi tiga kecamatan, yaitu Detusoko, Wolowaru, dan Ndona. (mediaindonesia.com/OL-5)

Compang Ruteng, Desa Tradisional yang Eksotis

DI pusat desa Pu’u Ruteng, Kecamatan Golo Dukal, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) terdapat altar batu yang biasanya ditemukan di halaman rumah tradisional masyarakat Manggarai.

Batu ini terlihat unik dan luasnya sekitar setengah lapangan sepak bola. Compang adalah inti dari upacara tradisional Penti yang dibuat untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas panen yang melimpah dengan mengorbankan kerbau dan sapi.

Batu compang dan lahan di sekitarnya berada di wilayah yang lebih tinggi dari rumah-rumah penduduk lokal. Dulunya ada pohon Beringin (dalam bahasa lokal Ruteng) di tengah compang, lalu diganti dengan pohon Dadap.

Selain itu di sebelah timur compang, juga terdapat dua rumah tradisional yang menjulang tinggi dengan atap yang melengkung tajam.

Untuk sampai ke Compang Ruteng, Anda bisa menggunakan bemo atau taksi motor dari pusat kota Ruteng. (indonesia.travel/*/X-13)

Menyelami Keindahan Bawah Laut Maumere

dunialaut.com

TELUK Maumere Laut Flores merupakan salah satu tempat penyelaman dengan keanekaragaman biota laut yang sayang jika diabaikan. Meski tsunami pada tahun 1992 merusak sebagian ekosistemnya, perlahan kehidupan bawah lautnya mulai memulih.

Penyelaman di Maumere bisa dimulai dari Wai Terang. Di kawasannya terdapat bekas kapal transportasi logistik milik Jepang semasa Perang Dunia II. Kapal mulai terlihat pada kedalaman 12m-27m. Tak disarankan melakukan penyelaman berkelompok karena di sekitarnya dikelilingi sedimen lumpur pasir.

Ada pula Pulau Babi yang menjadi destinasi penyelaman pilihan di sekitar Maumere dengan terumbu karangnya yang tak kalah mempesona hingga mencapai kedalaman 50m. Biota laut seperti soft coral, sponges, dan crinoids warna-warni menjadi unggulan.

Waktu yang tepat melakukan penyelaman di Flores adalah April-Desember. Kedalaman yang direkomendasikan adalah 12-28m. Level penyelaman yang ada mulai dari intermediate hingga ke advance. Untuk diver pemula tidak disarankan.

Nikmati pula wisata darat di Maumere dengan menyaksikan beberapa peninggalan sejarah jaman Portugis. Salah satunya Gereja Katolik yang pertama didirikan di Indonesia beberapa ratus tahun silam. (dunialaut.com/*/X-13)

Keindahan Tersembunyi di Pantai Koka

indonesia.travel

PANORAMA di kecamatan Paga, Flores Selatan, Nusa Tenggara Timur, selalu mempesona bagi mereka yang datang berkunjung. Salah satunya adalah pantai Koka di Desa Wolowiro yang disebut sebagai tempat untuk memanjakan mata atas keindahan alamnya.

Pantai Koka memiliki hamparan pasir halus berwarna putih keemasan. Sayangnya tak banyak orang yang tahu akan keberadaan pantai ini. Keindahan pantai Koka seolah tersembunyi dari keramaian dunia.

Keadaan pantainya melengkung dan dibatasi oleh dua bukit batu di antara bibir pantai yang satu dan lainnya. Tak jarang nampak beberapa nelayan yang sedang berteduh di bawah pohon di tengah dua pantai yang melengkung ini.

Pada tahun 90-an pantai Koka pernah disinggahi tamu Eropa khususnya dari Belanda. Di kawasan pantai juga terdapat perkebunan teh hasil binaan pengusaha Belanda yang selalu memiliki pesona memukau.

Para wanita dari kampung setempat yang terlihat berjalan sambil membawa aneka barang di atas kepala mereka seakan memberikan pemandangan unik tersendiri. Mereka pun sangat ramah kepada para pengunjung pantai. (indonesia.travel/*/X-13)

Pulau Sumba, Tawaran Berwisata ke Masa Silam

Foto-foto: Istimewa PASIR PUTIH – Pantai Rua, sekitar 20 km dari Kota Waikabubak, Sumba Barat, NTT, menawarkan panorama pantai yang berpasir putih. Pantai yang masih jauh dari keramaian ini belum dijamah secara profesional sebagai objek wisata (atas).

WAIKABUBAK – Ketika menjejakkan kaki di perkampungan tua di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) sesaat bayangan kehidupan modern seolah lenyap. Kenyataan di depan mata menunjukkan sisa kehidupan dari masa prasejarah, zaman megalit. Sumba memberikan panorama kontras yang unik. Di satu sisi, tawaran dunia modern tak terelakkan dan terpaksa berhadapan dengan warisan tradisi masa lalu yang sangat kental di sisi yang lain.

Sumba ternyata bukan sekadar padang sabana, yang akrab dengan ringkikan kuda sandel. Juga, bukan sekadar menawan mata ketika kaum pria mempertontonkan kemahiran berkuda, dengan tubuh duduk tegap di punggung kuda mengiring ternak gembalaannya.
Sekilas, hamparan sabana menunjukkan kegersangan di saat kemarau atau tak lebih dari padang rumput hijau di saat musim hujan. Tapi, sabana itu merupakan sumber makanan ternak bagi kaum peternak. Untuk itu, wilayah Sumba Timur dijuluki sebagai “matawai amahu pada jara hamu” atau “mata air yang bagus bagi peternakan kuda”. Sementara Sumba Barat menegaskan sebagai daerah sabana dengan julukan “pada eweta manda elu” atau “padang rumput yang hijau”.
Pulau yang dikenal sebagai Pulau Sandelwood ini menyimpan situasi kontras yang tampak di Waikabubak, Ibukota Kabupaten Sumba Barat. Sepintas, kota ini tak berbeda dengan kota kabupaten lain di NTT. Sejumlah ruas jalan sudah licin berlapis hotmix, yang meliuk-liuk di bawah perbukitan. Namun, kalau kaki berbelok arah untuk menapaki bukit, di sana akan ditemui kehidupan dengan deretan rumah tradisional yang seolah tak terjangkau perubahan zaman.
Di kota ini, ada sejumlah kampung tua yang bisa dinikmati keasliannya, seperti Kampung Tarung, Tambelar, Dessa Elu, Bodo Ede, dan Kampung Paletelolu. Kampung Tarung, misalnya, merupakan kampung tua yang terletak persis di jantung kota. Sama dengan yang lain, kampung ini dipenuhi dengan deretan rumah menara beratap ilalang, rumah tradisional khas Sumba.
Rumah tradisional Sumba terdiri dari tiga bagian. Lantai paling dasar merupakan kandang ternak (kuda). Kemudian, lantai dua merupakan tempat keluarga, tempat tidur dan perapian terletak persis di bagian tengah. Sedangkan, bagian menara merupakan gudang atau tempat menyimpan persediaan pangan.
Untuk menuju ke lantai dua terdapat dua pintu. Fungsi dari setiap pintu terkait erat dengan polarisasi gender. Pintu utama biasanya diperuntukkan bagi tamu dan kaum lelaki. Sedangkan pintu belakang digunakan untuk aktivitas yang melekat dengan kaum perempuan. Pintu belakang ini boleh dikatakan menjadi pintu kaum perempuan. Pada masa lalu, sangat pantang bagi kaum perempuan untuk masuk melalui pintu kaum pria. Tapi, kini kedua pintu itu bisa dilalui kaum pria maupun perempuan tanpa harus merasa bersalah.
Nuansa masa lalu kian sempurna ketika rumah tradisional itu berpadu dengan kuburan batu, yang mengingatkan kehidupan masa megalitikum—zaman batu besar—salah satu babak zaman prasejarah. Tak salah lagi, Sumba merupakan sorga bagi peneliti megalit.
Di setiap sudut kota dan kampung begitu mudah Anda menemukan menhir—batu besar seperti tiang atau tugu yang ditegakkan di tanah, sebagai tanda peringatan dan lambang arwah nenek moyang. Begitu juga dolmen—monumen prasejarah berupa meja batu datar yang ditopang tiang batu, dalam berbagai ukuran sangat mudah dijumpai di setiap kampung.
Tapi, dalam satu dasawarsa terakhir, kebiasaan untuk menarik batu kubur yang menyerupai meja batu itu kian meredup, kalau tidak mau dikatakan hilang. Pada masa lalu, orang Sumba yang sudah berusia lanjut akan memikirkan, di mana harus dikubur ketika meninggal. Untuk itu, semasa hidup, ia akan membuat batu kubur yang melibatkan ratusan orang selama berhari-hari.
Memang, menyiapkan satu kuburan batu bukanlah perkara gampang, karena membutuhkan pengorbanan materi yang cukup besar. Rupanya, faktor materi ini menyebabkan orang lebih memilih untuk membuat kuburan dari beton daripada harus menarik batu kubur dari jarak sekitar 2 atau 3 km yang menelan anggaran cukup besar.

Marapu
Berbagai ornamen masa lalu itu tidaklah berdiri sendiri, melainkan terkait erat kehidupan sebagian masyarakat Sumba yang menganut agama tradisional Marapu. Marapu merupakan agama asli orang Sumba sebelum disentuh pengaruh agama Kristen. Kini, komunitas Marapu semakin terdesak seiring tak ada jaminan dari negara akan eksistensi dari keyakinan di luar enam agama resmi negara.
Meski tanpa pengakuan dari negara, komunitas Marapu tetap eksis dalam menjalankan upacara keagamaan, termasuk upacara kelahiran, perkawinan, kematian, dan syukuran. Bahkan, komunitas Marapu di wilayah Kota Waikabubak mengenal adanya wula podu (bulan suci) selama satu bulan sekitar Oktober dan November setiap tahun.
Penentuan bulan suci itu tidak berdasarkan kepada kalender masehi, tapi berdasarkan perhitungan tetua adat, dengan mengacu kepada gejala alam dan benda langit, terutama bulan. Tidak adanya waktu yang tetap membuat upacara ini sulit masuk dalam jadwal kunjungan wisata.
Upacara wula podu ini diselenggarakan di tiga kampung utama, yakni di Wee Bangga (sekitar 15 km dari Waikabubak), Kampung Bodo Maroto (sekitar 3 km dari Waikabubak) dan Kampung Tarung. Selama bulan suci itu, sama sekali tidak diperkenankan adanya pesta, termasuk menabuh gong. Praktis, selama bulan suci hanya gong dari ketiga kampung itu yang boleh ditabuh untuk mengiringi upacara keagamaan.
Bahkan, komunitas Marapu yang meninggal dalam bulan suci langsung dikubur tanpa upacara yang lazim dilakukan bagi orang meninggal. Tapi, setelah melewati bulan suci keluarga si mati bisa menggelar upacara resmi, yang biasanya ditandai dengan pemotongan ternak.
Pada saat wula podu itu, semua suku (kabisu) akan berkumpul di rumah induk masing-masing untuk melakukan upacara sekaligus menjadi ajang pertemuan keluarga. Pada umumnya, semua rumah adat yang di Kampung Tarung merupakan rumah utama dari setiap suku.
Upacara puncak wula podu diwarnai dengan berbagai tarian adat yang ditarikan seharian penuh, dari pagi hingga petang. Semua tarian itu hanya bisa disaksikan sekali dalam setahun (saat wula podu). Para penari baik kaum pria maupun perempuan mengenakan perlengkapan adat resmi. Selain diiringi gong, para rato (tetua adat) juga silih berganti melantunkan syair-syair adat yang ditujukan kepada pencipta.
Selain upacara wula podu, komunitas Marapu di Sumba Barat juga mempunyai upacara adat pasola, yang sangat atraktif. Sama dengan wula podu, pagelaran pasola dilakukan berdasarkan perhitungan kaum tetua adat. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi wisatawan untuk merencanakan perjalanan.

Pesona Budaya
Pasola merupakan perang berkuda yang melibatkan dua kelompok besar pasukan berkuda dan saling menyerang dengan senjata lembing kayu. Pasola digelar sekali dalam setahun, antara Pebruari dan Maret di empat wilayah di Sumba Barat, yakni di Wanokaka, Lamboya, Gaura dan Kecamatan Kodi.
Kecuali wula podu dan pasola, upacara kematian dan perkawinan juga menyimpan pesona budaya tersendiri. Seseorang yang meninggal dunia, tidak akan serta merta dikuburkan. Tapi, bisa dibiarkan antara tiga sampai satu pekan di rumah sebelum dimakamkan. Setiap hari, keluarga duka harus menjamu tamu yang melayat dengan makanan dan minuman.
Pada hari pemakaman, sejak subuh tetua adat sudah menyampaikan doa dan syair adat bagi kemuliaan roh si mati. Penyampaian doa itu diiringi dengan tabuhan gong berirama sendu, yang bisa membangkitkan perasaan duka mendalam. Sebelum pemakaman, akan dilakukan pemotongan ternak dengan jumlah yang sesuai dengan kemampuan keluarga duka.
Hanya saja, pemotongan ternak itu sangat jauh dari perhitungan ekonomis. Bahkan, sekitar akhir dekade 1980-an, Pemda Sumba Barat pernah mengeluarkan kebijakan untuk membatasi pemotongan ternak maksimal lima ekor. Pasalnya, ketika itu Pemda menyaksikan pemotongan ternak yang sangat berlebihan.
Upacara perkawinan, juga tidak kalah menyimpan daya tarik. Namun, ini membutuhkan keberuntungan wisatawan untuk menyaksikan upacara perkawinan, terutama ketika terjadi pembicaraan mengenai belis (mas kawin). Sebab, belis dalam rupa ternak itu bisa mencapai puluhan ekor kuda, kerbau dan sapi yang harus diserahkan ke keluarga perempuan. Apalagi, kalau perkawinan itu melibatkan kaum “darah biru”.
Namun, mas kawin yang besar itu, biasanya mendapat imbalan yang setimpal dari pihak perempuan berupa kain dan perhiasan. Faktor keseimbangan ini biasanya sangat terjaga, guna menghindari dominasi dari satu pihak.

Pesona Alam
Pulau Sumba sesungguhnya bukan hanya menawarkan wisata budaya. Pesona alamnya pun tak kalah memikat. Setelah letih menyaksikan objek budaya, wisatawan bisa menyegarkan diri dengan menyaksikan air terjun di Weikelo Sawah, sekitar 9 km dari Waikabubak. Air terjun yang pernah dimanfaatkan sebagai sumber listrik itu menawarkan panorama yang alami, dengan sumber air dari gua yang cukup besar. Bila masih tertarik dengan air terjun, wisatawan bisa bergerak ke arah selatan Kota Waikabubak (sekitar 20-an km), di sana terdapat air terjun Laikanino, yang juga menawarkan pesona alam yang lain.
Wisatawan yang tertarik untuk menyaksikan laut, ada sejumlah pantai yang berpasir putih, terutama di pantai selatan. Seperti, pantai Rua (20 km dari Waikabubak), Wanokaka (15 km dari kota), Nihiwatu (25 km dari kota) dan Marosi sekitar 35 km dari kota. Panorama di sana dijamin masih asli, dan belum tersentuh polusi apa pun. Bahkan, nyaris tak ditemukan adanya sampah plastik. Garis pantai memanjang, berpasir putih dan air laut biru bening merupakan kekhasan pantai selatan.
Laut pantai selatan terkadang menunjukkan perangai yang tenang dan bersahabat. Tapi, terkadang perangai itu berubah menjadi gulungan ombak yang menawarkan tantangan kepada peselancar untuk menaklukkannya.
(Sinar Harapan/daniel duka tagukawi)