Category Archives: Papua

Air Terjun Napua, Percikan Kesegaran Milik Wamena

Air Terjun NapuaWamena – Kota Wamena di Papua tak hanya dikelilingi Pegunungan Jayawijaya, dengan Lembah Baliem yang membentang indah di tengahnya. Tak jauh dari pusat kota, terdapat Air Terjun Napua yang memercikkan air dingin nan segar.

Walaupun angin membawa hawa dingin, teriknya matahari siang itu tak ada bandingannya. Tak butuh waktu lama hingga saya dan beberapa wartawan yang meliput Festival Lembah Baliem 2012 menyetujui untuk datang ke sebuah tempat wisata.

Namanya Air Terjun Napua, dengan jarak tempuh setengah jam dari pusat Kota Wamena. Bisa kami bayangkan, pasti segar sekali terkena gemericik air di tengah terik matahari siang itu.

Jumat (10/8/2012), mobil sewaan kami melintasi jalanan menanjak yang berkelok. Panorama Kota Wamena tampak luar biasa indah dari atas sini. Pegunungan Jayawijaya menjadi teman selama perjalanan, berdiri gagah di kejauhan, seakan melindungi apa yang kami pijak sekarang.

Tiga mobil sewaan kami berbelok ke jalan setapak. Tak lama, tibalah kami di atas bukit hijau. Inilah titik awal trekking untuk bisa mencapai Air Terjun Napua.

Sepuluh menit pertama, ladang jagung mendominasi pandangan. Tanah masih nyaman dipijak, turunan dan tanjakan masih wajar, sedikit lumpur tak memberatkan langkah. Namun setelah itu, jalan setapak berubah menjadi kubangan lumpur. Butuh sedikit usaha untuk melewati beberapa turunan yang licin. Bukan karena hujan, tapi karena wilayah yang kami lewati adalah hutan hujan tropis.

Setelah melewati sungai dangkal dan jembatan kayu ringkih yang memacu adrenalin, kami tiba di Air Terjun Napua setelah trekking 20 menit. Lucunya, hal pertama yang tertangkap mata bukanlah air terjun melainkan Honai! Rumah bundar khas Papua itu berdiri di lahan datar, sebagai tempat beristirahat para pengunjung Air Terjun Napua.

Tebing lumut dan lanskap hijau langsung mendominasi pandangan. Tinggi air terjun itu sekitar 7 meter, memercikkan air yang sejuk bukan main. Saya langsung melepas sepatu dan membenamkan kaki sebatas betis. Segar sekali!

Hampir satu jam kami bermain air, mengabadikan momen sebanyak mungkin dari berbagai sudut. Teriknya matahari tak terasa lagi siang itu, tertutup oleh rimbun pepohonan dan percikan air terjun. Walaupun harus kembali bergelut dengan lumpur di perjalanan pulang, saya pun kembali ke mobil dengan perasaan segar!

Sumber: detikcom

Raja Ampat yang Sangat Mengesankan

JANGAN pernah Anda lewatkan salah satu tempat wisata terbaik di Tanah Air ini. Adalah Kepulauan Raja Ampat yang memiliki pesona begitu mengagumkan. Meski terpencil di Teluk Cendrawasih, Papua Barat, tempat ini sangat diminati wisatawan asing.

Mungkin sebagian besar orang Indonesia, termasuk Anda belum pernah mendengar tentang Raja Ampat. Makanya, jangan lewatkan untuk berwisata ke tempat yang sangat eksotik ini.

Ada apa saja di sana? Yang paling utama adalah kekayaan alam laut yang sangat beragam di dunia dan pulau-pulau kecil yang bisa dilihat dari salah satu bukit di wilayah Kepulauan Raja Ampat.

Jika Anda ingin menyelam dan segera mengeksplorasi kekayaan alam di bawah laut, lakukanlah di Karang Segitiga yang masih menjadi wilayah Kepulauan Raja Ampat. Di sini Anda bisa menyaksikan terumbu karang dan jenis ikan laut lainnya yang unik.

Untuk menjelajahi tempat ini, Anda bisa menyewa kapal perahu selama tujuh hingga 10 hari dengan kapasitas 15 orang. Ada pun harga sewa kamar hotel standar mulai dari $ 285 (Rp2,4 juta), $ 350 (Rp3 juta) untuk master suite.

Masing-masing kamar ber-AC, dilengkapi dengan ruang TV dan DVD, perpustakaan kecil dan masih banyak lagi lainnya. Info selengkapnya bisa Anda lihat di situs papualiveaboard.com. (*/X-13)

Pulau Pef, Seperti Raja Ampat dalam Satu Tempat

NAMA Raja Ampat pasti sudah tak asing lagi didengar. Namun bagaimana dengan Pulau Pef? Tahukah Anda bahwa pulau yang merupakan bagian dari Raja Ampat ini ternyata menyimpan potensi alam luar biasa. Keanekaragaman biota lautnya menjadikan perairan pulau sebagai kawasan penyelaman favorit dunia. Terletak di Papua Barat, sekitar 109 dari Sorong.

Kawasan Pulau Pef terdiri dari jejeran pegunungan yang diselimuti dengan rerimbunan hutan, teluk-teluk indah, pantai berpasir putih, pohon-pohon kelapa sawit, hutan bakau berair biru yang alami, danau-danau tersembunyi, laguna, area bebatuan kapur, serta fauna dan flora mengagumkan.

Pulau Pef menawarkan sederetan kegiatan yang mendekatkan Anda dengan alam, seperti kayaking, menyelam, berenang, menjelajah, menyaksikan burung-burung langsung di habitatnya, dan tak ketinggalan photography.

Satu mahluk laut yang paling menarik dari perairan pulau adalah pygmy, kuda laut yang berukuran seperti butiran nasi. Meski mungil, Pulau Pef layaknya seluruh kawasan Raja Ampat dalam satu tempat.

Sebuah penginapan bernama Raja4Divers menjadi tempat persinggahan sempurna untuk Anda. Disepanjang pantai yang dihiasi pohon kelapa sawit, terdapat bungalow atas air yang sangat privat dan dilengkapi kamar mandi pribadi di taman terbuka, dek dengan pemandangan mengarah ke luar, dan akses wi-fi.

Dari segala aspek, pihak penginapan bekerja sama dengan warga desa sekitar. Satu keuntungan yang didapat adalah peningkatan ekonomi setempat, di antaranya pembelian ikan segar, penggunaan bahan lokal untuk kebutuhan resort, dan mempekerjakan warga Papua dari desa sekitar. (divediscovery.com/*/X-13)

Dofior, Tembok Berlin di Papua

BICARA soal Tembok Berlin yang menjadi pembatas antara Berlin Barat dan Berlin Timur, di negara kita sendiri juga ada tembok seperti itu. Adalah Dofior yang menjadi tembok pembatas pantai-pantai Dofior di Kota Sorong, Papua.

Tembok Dofior atau sering juga disebut Tembok Berlin Papua itu memiliki panjang sekitar 1 kilometer dan digunakan sebagai penangkal abrasi. Tinggi tembok ini diperkirakan sekitar 1,5 meter dan lebar tembok bagian atasnya sekitar 1 meter.

Pada bagian tembok lainnya terdapat beberapa titik anak tangga yang mempunyai selisih tinggi sekitar 30 sentimeter. Seolah bagian atas tembok memang sengaja dibuat untuk memudahkan pengunjung menikmati suasana Pantai Dofior.

Biasanya orang-orang pergi ke Pantai Dofior untuk melihat terbenamnya matahari (sunset). Jika ingin melanjutkan perjalanan wisata di Sorong bisa ke Pulau Doom dan Pulau Buaya.(*/X-13)

Rumberpon, Pulau Indah di Papua

LETAKNYA di utara Kabupaten Teluk Wondama dan berbatasan dengan Kabupaten Manokwari. Pulau ini memiliki pantai yang indah seperti Pantai Pasir Panjang yang panjangnya mencapai 6.000 meter.

Air laut di sekitar pulau ini jernih dan rataan terumbu (reef flat) kelas dunia memadati sebagian besar pulau. Di kawasan perairan ini dapat dilakukan berbagai kegiatan. Mulai dari snorkeling, scuba diving, selancar angin, ski air dan memancing.

Hewan-hewan seperti burung elang laut, kuskus dan rusa pun menjadi pemandangan yang bisa dinikmati di Rumberpon. Pada habitat mangrove dan padang lamun mudah ditemukan duyung dan penyu laut.

Perjalanan ke Pulau Rumberpon dapat diakses langsung dari Kabupaten Manokwari dengan menggunakan kapal air jenis longboat selama 5,5 jam atau lewat jalan darat dari Manokwari ke Ransiki sekitar 3 jam dan dilanjutkan dengan longboat juga sekitar 2 jam.(*/X-13)

Ayo Berjemur Santai di Pantai Amai

NEGARA kita memiliki banyak pantai yang indah. Wisatawan lokal dan asing pun sering menikmatinya. Salah satunya ada di Kota Jayapura. Adalah Pantai Amai yang menjadi objek wisata dengan air lautnya yang jernih dan pasir putih yang menarik.

Pantai Amai juga dihiasi dengan muara sungai air tawar yang jernih di ujung pantai dan merupakan area pantai yang mempertemukan air asin laut dan air tawar. Objek wisata ini sangat cocok untuk wisata akhir pekan bersama keluarga.

Wisatawan banyak yang datang ke pantai ini untuk mandi dan berjemur di bawah teriknya panas matahari. Di sekitar Pantai Amai juga tersedia pondok-pondok untuk beristirahat.

Pantai Amai terletak di Distrik Depapre, 5 km dari Pantai Depapre Kota Jayapura. (*/X-13)

Raja Ampat Surga Terakhir di Bumi

Panorama pulau karang di Wayag, Waigeo Barat, Raja Ampat, Papua Barat

Namanya kian berkibar sebagai destinasi wisata bahari yang terindah dan terlengkap di dunia. Petulangan menarik akan terus Anda dapatkan di sini, dari keunikan biota laut hingga kuliner khas. Inilah surga dunia yang tak mungkin Anda lupakan.

Seorang milioner asal Amerika, rela membawa kapal pesiarnya melaut ribuan mil jauhnya untuk menikmati keindahan sebuah daerah yang masih “perawan” bernama Raja Ampat. Cerita yang mampir ke telinga saya dua tahun lalu itu memang bukan isapan jempol. Perlahan namun pasti, Raja Ampat yang terletak di kepala burung Papua (Vogelkoop), kini sudah menjadi tujuan pariwisata bahari dunia, terutama bagi para penyelam.

Selain memiliki terumbu karang terlengkap di dunia -dari 537 jenis karang yang ada di dunia, 75 persennya berada di perairan ini-, ditemukan pula 1.397 spesies ikan, 669 jenis moluska (hewan lunak), dan 537 hewan karang. Juga ratusan pulau yang menyebar dengan indahnya bak jamur di musim hujan. Tak salah jika pecahan Kabupaten Sorong yang masuk Provinsi Papua Barat ini dijuluki surga bagi para pecinta kehidupan bawah laut.

Banyak fotografer bawah laut internasional datang berulang kali mengabadikan pesona laut Raja Ampat. Buku khusus tentang keindahan terumbu karang dan biota laut kawasan ini pun mulai banyak beredar di pasaran. Apalagi saat tim khusus dari majalah petualangan ilmiah terkemuka dunia, National Geographic, membuat liputan khusus mengenai Raja Ampat pada 2007. Kepopulerannya pun tak terbendung lagi.

Menilik sejarahnya, nama Raja Ampat tersemat sejak abad ke-15, ketika seorang sultan asal Tidore melakukan kesepakatan dengan Raja asal Waigeo, Bantata, Salawati, dan Misool. Maka saat keempat pulau ini ditetapkan sebagai bagian dari Provinsi Papua Barat pada 2003 maka diambillah nama Raja Ampat menjadi identitas kabupaten yang berpenduduk 31 ribu jiwa ini.

Selain empat gugusan pulau besar utama tersebut, hingga kini tercatat lebih dari 1500 pulau kecil yang dimiliki Raja Ampat, dari jumlah itu hanya 35 pulau yang dihuni. Selebihnya adalah pulau-pulau karang tak berpenghuni. Sehingga dari luas wilayah sekitar 46.000 km2 yang ada hanya sekitar 6.000 km2 nya berupa daratan. Inilah yang kemudian menjadikannya destinasi taman laut terbesar di Indonesia.

Tak hanya itu, Raja Ampat saat ini sudah dinominasikan untuk masuk dalam World Heritage Coral Reef Areas oleh UNESCO. Sejak 2005, Bank Dunia bersama lembaga lingkungan global memberikan bantuan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) II bagi Raja Ampat untuk menjaga kelestarian bawah laut Kepulauan Raja Ampat.

Beberapa kawasan seperti selat Dampier, Kepulauan Kofiau, Kepulauan Misool, dan Kepulauan Wayag tercatat memiliki terumbu karang yang sangat baik kondisinya, yaitu tipe terumbu karang tepi dengan kontur landai hingga curam. Namun disini juga ditemukan tipe atol dan tipe gosong (taka) di beberapa tempat seperti di kampung Saondarek, dimana bisa disaksikan hamparan terumbu karang tanpa menyelam. Uniknya, karang tersebut tetap bisa hidup walaupun berada di udara terbuka dan terkena sinar matahari langsung.

Bila berkesempatan menyelam Anda akan menemukan spesies unik seperti kuda laut katai dan ikan pari manta. Khusus di Manta point yang terletak di Arborek, Anda bisa menyelam ditemani beberapa ekor Manta Ray yang jinak. Sementara di Cape Kri atau Chicken Reef, dapat dirasakan sensasi dikelilingi ribuan ikan saat menyelam. Bahkan kadang dikelilingi oleh kumpulan ikan Barakuda, Dugong, atau ikan duyung pun bisa ditemui di sekitar Pulau Salawati, Batanta, dan Waigeo.

Kondisi Raja Ampat yang memiliki banyak pulau dan berselat sempit, menjadikan lokasi penyelaman di waktu-waktu tertentu memiliki arus yang kencang. Ini sangat menarik, karena Anda dapat melakukan drift dive menyelam sambil mengikuti arus kencang dengan air yang sangat jernih sambil menerobos kumpulan ikan.

Pulau-pulau disini masih asri karena hutannya tetap terjaga dengan air laut yang bersih, sehingga biota laut bisa terlihat jelas dari permukaan saat para wisatawan berenang atau ber-snorkelling.

Selain keindahan bawah laut, Raja Ampat pun memiliki gugusan pulau-pulau karst yang elok dan belum terjamah. Dengan mendaki karang setinggi 80 meter, Anda akan mendapatkan birunya laut, cerahnya langit, putihnya pasir pantai, serta sebaran pulau berwarna hijau pekat, sebuah komposisi yang tak dapat dijumpai di belahan lain di dunia ini, selain di Wayag, Raja Ampat.

Jika tidak tertarik dengan aktivitas menyelam, masih banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi diantaranya menikmati flora serta fauna unik endemik, seperti cenderawasih, kuskus, dan serta beragam bunga anggrek. Kini Raja Ampat pun sudah menjadi daerah kunjungan wisata bird watching, yaitu kegiatan wisata untuk memantau burung yang ada di Yenwaupnor, Sawinggrai, Yenbeser, dan Pulau Gam. Berbagai jenis burung hidup dengan bebas disini, diantaranya cendrawasih merah, cendrawasih wilson, maleo waigeo, beraneka burung kakatua, dan nuri.

Bagi penggemar budaya, Raja Ampat juga dapat dijadikan pilihan. Seperti upacara “Sasi”, sebuah aktivitas semacam bersih desa dengan menutup area memancing hingga waktu yang ditentukan, ini adalah bentuk konservasi biota laut yang alami. Upacara ini sarat makna dan sangat menarik untuk ditonton, karena memiliki nilai filosofi luhur.

Disini Anda pun bisa menikmati tari-tarian, lagu, maupun musik khas, dengan tampilan busana mereka yang tak kalah uniknya karena terbuat dari akar pohon, kulit kayu, dan dedaunan. Sementara untuk para penggemar kuliner, Anda bisa berpesta mencicipi hidangan laut yang lezat, apalagi ditambah makanan khas seperti Papeda, Ayam Barapan, dan Mumu.

Untuk penggemar wisata sejarah maupun arkeologi, ditemukan peninggalan prasejarah berupa cap tangan dari sekitar 50.000 tahun lalu pada dinding batu di kawasan Pulau Misool. Uniknya, cap-cap tangan ini berada sangat dekat dengan permukaan laut dan tidak berada di dalam gua. Hal ini menjadi petunjuk bagi jalur penyebaran manusia menuju Papua dan Melanesia. Kapal-kapal karam bekas Perang Dunia II yang diperkirakan memuat “harta karun” bernilai tinggi pun dapat ditemui di beberapa tempat penyelaman, seperti di Pulau Wai.

Yang jelas, tak cukup satu atau dua hari menikmati keindahan Raja Ampat, sepekan pun terasa belum cukup untuk menjelajahinya. Beberapa penyelam mancanegara bahkan dapat bertahan hingga sebulan menikmati keindahan Raja Ampat. Salah satu tempat yang menjadi langganan para wisatawan mancanegara ini adalah Papua Diving Resor yang terletak di Pulau Mansuar, konon setiap tahun resor ini dikunjungi minimal 600 turis spesial yang menghabiskan paling sedikit dua pekan.

Pemiliknya adalah Maximillian J Ammer, pelopor dan penggerak wisata laut kawasan Raja Ampat. Warga negara Belanda ini harus menyiapkan berbagai fasilitas dengan dana yang tak sedikit untuk menarik turis mancanegara, namun usaha yang dirintis delapan tahun lalu itu kini telah membuahkan hasil yang memuaskan.

Selain Mansuar, Pulau Kri, Waigeo, serta Misool juga menyiapkan resort-resort menarik untuk pengunjung. Salah satunya Eco Resort di Pulau Misool, sebuah resor yang sepenuhnya menjaga konservasi alam, di area yang disebut “No Take Zone” ini penduduk sekitar wilayah sepakat untuk menjaga ekosistem terpadu dengan tidak mengambil apapun dari laut, apalagi menggunakan antiseptik agar limbahnya tidak merusak ekosistem terumbu karang di sekitarnya.

Mengunjungi kepulauan ini tidaklah terlalu sulit walau memang memakan waktu dan biaya cukup besar. Ada dua pilihan untuk menjelajahinya, ikut tur dengan kapal atau tinggal di resor menikmati keindahan bawah lautnya yang luar biasa. Untuk berkeliling pulau yang diinginkan, Anda dapat menyewa speedboat atau longboat dengan kapasitas 7 hingga 13 orang dengan harga Rp 4 hingga Rp 8 juta per 8 jam, tergantung kepandaian saat menawar.

Anda juga bisa mengambil paket wisata dengan mengunjungi perkampungan untuk melihat desa wisata yang ada, tanaman anggrek, dan hewan khas seperti burung Cendrawasih. Bila dana terbatas, cukup menyenangkan berenang, snorkeling, memancing, memberi makan ikan sembari menunggu matahari terbit atau terbenam. Kegiatan ini bisa Anda lakukan di Teluk Kabuy.

Jadi dengan dana melimpah atau terbatas, Anda tetap dapat menikmati keindahan Raja Ampat. Bagi para pencinta wisata bahari, saatnya temukan “Surga Terakhir” di Bumi.

Cara Mencapainya

Satu-satunya pintu masuk ke Raja Ampat adalah melalui Sorong. Karena hingga saat ini belum ada penerbangan yang langsung kesana.

Waktu tempuh Jakarta-Sorong sekitar 5 jam jika transit di Makassar (Ujung Pandang), namun bisa mencapai 6 jam jika transit di Manado. Biaya penerbangan dari Jakarta ke Sorong (PP) sekitar Rp 4 juta hingga Rp 6 juta, tergantung maskapai penerbangan yang digunakan.

Sesampainya di Sorong, perjalanan harus dilanjutkan kembali dengan mengunakan kapal ke kota Wasai (ibukota Raja Ampat) dengan biaya Rp 125.000 per orang. Jika cuaca bagus. waktu tempuh hanya sekitar 1,5 jam, namun dalam cuaca buruk perjalanan lewat laut ini bisa mencapai 3 jam.

Bagi yang tak ingin menggunakan transportasi umum, bisa menyewa speedboat (dengan waktu tempuh sekitar 40 menit hingga 1 jam) atau longboat (waktu tempuh 2 hingga 3 jam, dengan kapasitas 10 penumpang dengan tarif Rp 3,2 juta sekali jalan).

Akomodasi

Pilihan penginapan banyak tersedia di sini, mulai dari Homestay, Hostel, Hotel, Cottage, hingga Resort. Harganya pun beragam sesuai fasilitas yang diberikan, mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 3.000.000 per malam. Tinggal pilih sesuai budget Anda.

Bagi para penggemar olahraga selam, dapat memilih Misool Eco Resort di Pulau Barbitim, atau dapat juga mencoba kenyamanan cottage dan bungalow bergaya tradisional di Cape Kri atau Papua Diving yang terletak di Pulau Mansuar. Selain itu, terdapat pula Papua Paradise Eco Resort di Pulau Batanta serta Raja Ampat Dive Lodge di Kurkapa. Rata-rata penginapan ini dilengkapi peralatan modern, termasuk fasilitas telepon internasional dan internet.

Jika tak mau pusing, banyak paket-paket yang ditawarkan agen perjalanan untuk menikmati Raja Ampat, rata-rata untuk paket 6 hari dibanderol dengan harga sekitar Rp 8.500.000,- harga tersebut sudah termasuk penginapan (hotel dan tenda) selama menginap di sana, juga makan pagi, siang dan malam, transportasi, air mineral dan makanan ringan, serta tiket masuk taman nasional. Namun harga ini belum termasuk tiket pesawat, bagasi, airport tax, obat-obatan, alat untuk menyelam, pemandu wisata, serta biaya tambahan jika ingin jalan jalan di luar destinasi yang dijadwalkan.

Sumber: Majalah Travel Club

Misool, Pulau Terindah di Dekat Sorong

wisatanesia.com

PULAU di dekat kota Sorong ini adalah salah satu yang terindah di daerah Raja Ampat. Wilayahnya terbagi atas dua bagian, Misool Timur Selatan dan Misool Barat, letaknya pun berbatasan dengan Laut Seram.

Daerah ini memiliki keanekaragaman budaya, adat, laut dan darat yang begitu terkenal di dunia. Misool termasuk daerah segitiga karang dunia. Puluhan ikan hias pun banyak ditemukan di sini atau setidaknya ada sekitar 75% di dalam laut.

Ini merupakan wilayah laut lepas yang sangat luas, sekaligus menjadi jalur terpenting bagi ikan paus dan gurita melintas. Menurut informasi dari warga setempat, gurita sering terlihat di malam hari sedangkan ikan paus di siang hari.

Jangan heran jika Anda akan menemukan hewan-hewan laut besar lainnya di Pulau Misool yang mungkin sudah dikategorikan punah di dunia. (*/X-13)

Desa Tablanusu – Papua Desa Batu Menangis Tempat Matahari Terbenam

Sebagian besar Desa Wisata Tablanusu diselimuti batu koral hitam. Sewaktu berjalan suara batu koral yang terinjak seolah bersuara isak tangis, kemudian desa ini dijuluki dengan nama Desa Batu Menangis. Batu koral hitam telah ada sejak nenek moyang mereka memutuskan menetap di sini.

Nenek moyang masyarakat Tablanusu telah pindah sebanyak dua kali. Awalnya mereka mendiami dua pulau di teluk yang tidak jauh letaknya dari tempat tinggal mereka sekarang. Namun tsunami menyapu daerah tersebut, mereka yang selamat mengungsi ke tempat lebih aman, dan menamakan tempat baru itu dengan Kampung Tua.

Ketika mendiami Kampung Tua mereka menjadi peladang, dengan umbi-umbian dan pisang sebagai tanaman andalan. Karena jumlah penduduk yang terus bertambah, sementara lahan berladang kian terbatas, mereka memutuskan untuk pindah lagi ke perkampungan baru yang kemudian diberi nama Tablanusu (tempat matahari terbenam). Secara otomatis mata pencarian mereka beralih menjadi nelayan.

Sambutan masyarakat begitu hangat dan bersahabat. Mengakrabkan diri dengan warga desa ini sangatlah mudah. Hanya dengan pinang (areca catechu/betel palm), sudah bisa meleburkan diri dengan masyarakat setempat. Sebagaimana masyarakat Papua pada umumnya, masyarakat Tablanusu pun terkenal suka mengkonsumsi pinang.

Acara perhelatan dan upacara khas masyarakat Desa Tablanusu yang bisa disaksikan, misalnya, peringatan hari masuknya Injil ke desa yang diperingati tiap tahun. Pada saat itu, akan ada pawai mengelilingi desa yang diakhiri dengan menggelar misa di gereja mereka.

Ada pula ritual di beberapa lokasi perairan, terutama yang banyak terdapat terumbu karangnya, diruwat setahun atau setiap dua tahun sekali. Untuk memperoleh berkah laut dan sekaligus untuk melestarikan laut, ada dua ritual yaitu ritual Sasi dan ritual Tiyatiki.

Ritual Sasi adalah menancapkan dahan pohon kayu besi pantai (suang teko) di tempat-tempat yang banyak ikannya, terutama di kawasan terumbu karang yang merupakan sarang ikan. Sedangkan ritual Tiyatiki bertujuan melarang menangkap ikan selama beberapa waktu yang telah disepakati.

Rute Panduan dan Fasilitas

Desa Tablanusu terletak di Kecamatan Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua. Untuk mencapai Desa ini bisa memulai perjalanan dari Kota Jayapura. Dari Kota Jayapura menggunakan bus menuju Kota Sentani yang berjarak sekitar 33 kilometer.

Kemudian lanjutkan dengan naik bus atau mobil carteran menuju Dermaga Depapre dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Berlanjut naik perahu mesin menuju Dermaga Tablanusu sekitar 20 menit.

Setelah itu, perjalanan menuju Desa Wisata Tablanusu dilanjutkan dengan berjalan kaki. Fasilitas; pemandu wisata, gereja, persewaan perahu, pasar ikan, dan warung yang menyediakan aneka makanan, minuman, serta suvenir khas masyarakat setempat. Penginapan, sewa rumah penduduk setempat (homestay), atau berkemah di berbagai lokasi desa, seperti di tepi pantai, atau tepi danau.

Sumber: Majalah Travel Club

Taman Nasional Lorentz

Taman Nasional Lorentz adalah sebuah taman nasional yang luasnya mencapai 2,5 juta hektare atau mencapai 25.000 km dan merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara. Secara administratif pemerintahan, Taman Nasional Lorentz berada pada wilayah Kabupaten Paniai, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Fak-fak dan Kabupaten Merauke, Propinsi Papua, Negara Indonesia.

Sebagian besar dari kawasan Taman Nasional Lorentz masih merupakan hutan perawan yang belum terusik keaslian alamnya, disamping itu Taman Nasional Lorentz terdiri dari lembah-lembah dengan lereng curam dan terjal, dengan ketinggian tempat antara 2.000 sampai 6.000 meter dpl, Puncak Jaya adalah puncak tertinggi.

Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di kawasan Asia Tenggara dan kawasan Pasifik. Kawasan Taman Nasional Lorentz merupakan salah-satu diantara tiga kawasan di dunia yang memiliki gletser di daerah tropis, yang membentang dari puncak gunung (5.030 meter dpl) yang diselimuti oleh salju hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura.

Taman Nasional Lorentz memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan juga memiliki keanekaragaman budaya yang sangat mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan yang ada dikawasan ini telah berumur 30.000 tahun lamanya dan merupakan tempat kediaman para suku di Papua yaitu suku Dani Barat, Asmat, Amungme, Nduga, dan Sempan.

Diperkirakan masih ada lagi sekelompok suku yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan masyarakat modern.

Pada tahun 1999, kawasan taman nasional ini ditetapkan oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) sebagai Situs Warisan Dunia yang memiliki 43 jenis ekosistim dan juga sebagai kawasan daerah tropis yang memiliki gletser.

Taman Nasional Lorentz dapat dicapai dengan melalui beberapa kota, antaralain melalui Timika (Kab. Mimika), Enarotali (Kab. Paniae), Nabire (Kab. Nabire), Wamena (Kab. Jayawijaya), Mulia (Kab. Puncak Jaya), Meroke (Kab. Meroke).

Semua kota-kota yang tersebut diatas dapat dijangkau dengan transportasi udara dari Biak dan Jayapura dengan waktu tempuh antara 1 sampai dengan 2 jam perjalanan.(Sumber:Indonesia-indahnya)

Sumber: DNA Berita