Category Archives: Sulawesi Selatan

Misteri Bawah Laut Pulau Samalona, Makassar

MAKASSAR, Sulawesi Selatan (Sulsel), memiliki beragam objek wisata yang layak dikunjungi. Anda akan menemui pulau-pulau eksotis, pantai yang indah, kesenian yang atraktif, hiburan, dan kuliner khas.

Makassar juga merupakan pintu gerbang wisata lainnya di Sulawesi, seperti Tana Toraja, Bunaken, dan Wakatobi. Salah satunya objek yang pantas Anda kunjungi adalah Pulau Samalona.

Pulau itu merupakan satu dari 11 pulau yang ada di Kota Makassar. Lokasinya berada di sebelah barat daya pantai barat Sulawesi Selatan. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kota Makassar. Posisi lebih tepatnya berada di sebelah barat kecamatan Wajo, Makassar, berjarak sekitar 2 km dan bisa dilihat dengan jelas dari kecamatan tersebut.

Di pulau ini berdiri sebuah mercu suar yang digunakan sebagai tanda batas daratan bagi kapal-kapal berbadan besar. Samalona bisa jelas dari Benteng Fort Rotterdam di daerah Keling, Makassar.

Pulau ini sangat terkenal sebagai tempat snorkeling dan menyelam (diving). Karang laut bertebaran di sekeliling pulau membentuk taman bawah laut yang sangat indah. Selain terdapat berbagai karang-karang laut, Anda juga akan menemui beraneka ragam ikan tropis berwarna-warni, dan biota laut lainnya.

Pulau Samalona merupakan gugusan pulau karang kecil yang berbentuk bundar dengan luas sekitar 2,34 hektare. Pulau kecil ini merupakan salah satu tujuan wisata bahari yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Pasir putihnya dan airnya yang jernih menjadikan pulau ini cocok untuk wisatawan yang suka berjemur.

Pulau Samalona berjarak sekitar 6,8 km dari Kota Makassar, dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 – 30 menit dengan menggunakan speed boat berkapasitas maksimal 12 orang dengan biaya berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp300 ribu.

Pulau Samalona menyimpan sejuta misteri tentang karamnya sejumlah kapal peninggalan Perang Dunia Ke-2. Ada sekitar tujuh unit kapal yang karam di pulau tersebut.

Kapal-kapal itu di antaranya kapal Maru, kapal perang milik Jepang yang karam pada kedalaman sekitar 30 meter. Kemudian kapal Lancaster Bomber yang juga karam pada kedalaman sekitar 30 meter, kapal selam pemburu (gunboat) milik Jepang, kapal kargo Hakko Maru buatan Belanda yang merupakan kapal selam milik Jepang.

Kapal-kapal yang karam tersebut telah berubah wujud menjadi karang dan menjadi ‘rumah’ bagi ratusan biota laut yang beraneka ragam dan jenis serta warna yang sangat mengagumkan. Keindahan inilah yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk datang berenang di antara bangkai-bangkai kapal karam tersebut.

Selain misteri dan keindahan taman lautnya, para wisatawan juga dapat menyaksikan matahari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset) pada satu posisi yang sama.

Di pulau tersebut, Anda juga dapat menikmati kelezatan berbagai macam seafood segar. Uniknya seafood itu dimasak dengan cara diletakkan di atas tempurung kelapa kemudian ditutupi dengan daun pohon.

Dengan cara demikian, aroma asap arang tempurung kelapa tersebut segera tercium dan dapat menggugah selera makan.

Bagi Anda yang ingin lebih lama menikmati keindahan Pulau Samalona, Anda dapat bermalam di pulau ini. Di sana tersedia berbagai penginapan sederhana berbentuk rumah pangggung dengan tarif antara Rp150 ribu hingga Rp250 ribu per malam. (S-1)

Pulau Bulupoloe Menjadi Spot Pilihan Penyelam

MUNGKIN tidak banyak yang tahu bahwa Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, memiliki objek wisata alam indah yang berpotensi menjadi ikon pariwisara, yakni Pulau Bulupoloe. Keindahan panorama pegunungan dan baharinya menjadi daya pikat utama pulau ini.

Selain pantai berpasir putih yang mengitari pulau, nilai tambah pulau Bulupoloe adalah keberadaan sumber-sumber air tawar di tempat-tempat tertentu.

Kondisi pantai yang nampak begitu alami dan belum terkontaminasi turut menambah pesona laut Pulau Bulupoloe. Air lautnya yang jernih berisikan ragam biota laut mengagumkan, seperti terumbu karang dan ikan warna-warni. Tak heran kawasannya menjadi pilihan bagi para penyelam serta menjadi tempat bagi mereka yang hobi memancing.

Pada kawasan pulau bisa dijumpai sejumlah restoran-restoran yang menghidangkan kuliner tradisional khas Kabupaten Luwu Timur, seperti lobster bakar dan ikan kerapu asli Pulau Bulupoloe. Jika ingin bermalam tersedia penginapan mulai dari losmen hingga hotel.

Pulau Bulupoloe berjarak sekitar 500km dari Kota Makassar. Jika ingin menggapainya menggunakan jalur darat membutuhkan waktu sekitar 8-10 jam dari Makassar menuju Malili, ibu kota Kabupaten Luwu Timur. Sementara dari udara butuh waktu sekitar 1-1,5 jam dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Selanjutnya dari Malili, perjalanan menuju Pulau Bulupoloe diteruskan melalui jalur laut menggunakan perahu dari Pelabuhan Balantang, Malili, dengan durasi sekitar dua jam. (wisatamelayu.com/*/X-13)

Wisata Gua Salukangkallang yang Menantang

MENELUSURI gua terpanjang di Indonesia bisa menjadi rekreasi alternatif bagi pecinta tantangan. Gua itu adalah Salukangkallang yang panjangnya mencapai 27 Kilometer.

Gua yang terletak di Kawasan Desa Wisata Samangki, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan itu kini menjadi tempat pendidikan dan pelatihan penelusuran gua (caving).

Kabupaten Maros terkenal dengan keindahan gunung kars dan barisan tebing sehingga dijuluki The Spectacular Tower Karst.

Pintu masuk gua berada di Desa Labuaja yang merupakan desa tetangga Samangki. Untuk memasuki mulut gua, Anda harus menuruni tebing berketinggian sekitar 5 Meter dengan menggunakan perlengkapan caving.

Saat menjelajahi gua, Anda akan mendapati tantangan yang lebih besar. Berhati-hatilah dengan kepala Anda karena saat berada di dalam gua tak jarang banyak yang terbentur. Namun, perjuangan Anda akan terbayar dengan keindahan bawah tanah gua yang dihiasi dengan stalaktit dan stalakmit di sepanjang gua.

Bebatuan kapur yang menghiasi dinding gua akan nampak bercahaya, bening dan mengkilap layaknya berlian jika disinari cahaya senter. Dibalik kesunyiannya ternyata gua memiliki keindahan yang mengagumkan.

Di dalam gua juga terdapat sungai yang pada bagian pinggirnya dijadikan sebagai tempat istirahat pengunjung. (desawisatasamangki.com/*/OL-14)

Melihat Koleksi Kupu-kupu di Bantimurung

BAGI Anda yang ingin memanjakan mata dengan keindahan kupu-kupu penuh warna, berkunjunglah ke Taman Wisata Alam Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan. Tempat ini merupakan sebuah penangkaran kupu-kupu terbesar di Indonesia.

Banyaknya ragam dan populasi kupu-kupu yang ada membuat seorang pria asal Inggris, Alfred Russel Wallace, menjulukinya sebagai The Kingdom of Butterfly. Di tempat ini juga Anda akan menemukan para pedagang yang menjual kupu-kupu yang sudah diawetkan.

Penangkaran dilengkapi pula dengan gedung laboratorium untuk mengembang-biakkan kupu-kupu. Sedikitnya terdapat 100 spesies kupu-kupu Bantimurung yang jumlahnya kerap ditingkatkan.

Di kandang penangkaran, ulat dibiarkan seminggu kemudian dimasukan ke tempat metamorfosis. Setelah dua minggu, kepompong berubah menjadi kupu-kupu. Sebagian di lepas ke alam bebas, dan sebagian diawetkan untuk koleksi museum.

Wilayah Taman Wisata Alam Bantimurung didominasi kawasan karst sehingga menjadikannya sebagai tempat kesukaan kupu-kupu yang senang akan kondisi lembab di kawasan wisata alam seluas 18 hektar ini.

Guna menjaga populasi kupu-kupu, dilakukan penanaman pohon dan tanaman bunga yang menjadi tempat bertelur kupu-kupu. Ditanam pula ratusan pohon jeruk, srikaya dan sirih hutan. Lalu ada tanaman kembang sepatu dan bunga asoka sebagai pakan (makanan/asupan yang diberikan kepada hewan) kupu-kupu.

Bunga dan pohon yang berfungsi sebagai pakan menjadi daya tarik terbesar karena banyak kupu-kupu hinggap di atasnya. (desawisatasamangki.com/X-13)

Kilauan Pasir Putih Pantai Bira

LANGIT biru membentang luas. Kanvas alami ini begitu cerah diantara guratan-guratan awan tipis yang menjadi ornamen indah pemandangan pantai Bira. Saat langit cerah, berdirilah di tepi pantai. Diantara pasir putih yang berkilau, hiruplah aroma laut sambil menatap perairan biru yang memesona.

Surga tropis ini bisa Anda nikmati bila berkunjung ke Sulawesi Selatan tepatnya di Tanjung Bira yang merupakan lokasi wisata di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba.

Jarak yang dibutuhkan dari Kota Bulukumba untuk menuju Tanjung Bira sekitar 40 km atau tepatnya, 200 km dari Kota Makassar. Perjalanan yang cukup jauh dan menyenangkan ini dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum. Tarif yang ditawarkan berkisar antara Rp10 ribu-Rp40 ribu.

Sesampainya di lokasi wisata, siapkanlah uang Rp5.000 sebagai tiket masuknya. Jumlah ini tidak sebanding dengan keindahan pantai yang akan Anda rasakan. Bayangkan, dengan uang sejumlah ini Anda bisa merasakan kilauan pasir putih yang menjadi pesona utama pantainya.

Sekilas semuanya tampak indah dan menarik. Namun Anda mungkin masih bertanya-tanya, bagaimanakah bila datang dari tempat yang jauh dan tidak mungkin pulang pergi dalam waktu sehari? Hal ini tidak perlu Anda khawatirkan karena kawasan wisata Pantai Tanjung Bira telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti restoran, penginapan, villa, bungalow, dan hotel.

Harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau. Perharinya Anda hanya perlu menyisihkan uang sebesar Rp100 ribu-Rp600 ribu. Selain itu, disediakan pula peralatan diving dan selam untuk menuju Pulau Selayar.

Dengan segala fasilitas yang ada, Anda tinggal memikirkan kapan waktu yang tepat untuk pergi berlibur serta berapa uang yang harus dibawa jika ingin menginap beberapa hari di pinggir pantai ini.

Anda ingin berenang atau berjemur, semua kegiatan ini akan terasa lengkap dengan keindahan sunrise dan sunset yang tampak dari titik horisontal di ujung cakrawala Pantai Bira. Pastika mata Anda tetap terjaga pada saat-saat yang indah ini. (*/OL-5)

Malino, Puncak-nya Makassar

SEJAK dahulu, kota kecil bernama Malino yang terletak di Sulawesi Selatan memang sudah tersohor. Terletak 90 km arah selatan Kota Makassar, tepatnya di Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Malino merupakan salah satu kawasan wisata alam yang memiliki daya tarik yang luar biasa, seperti kawasan Puncak di Bogor ataupun Lembang, Bandung.

Untuk mencapai kota Malino, Anda harus melalui jalan menanjak dan berkelok-kelok dengan melintasi deretan pegunungan yang sangat kaya serta pemandangan batu gamping dan pinus. Berbagai jenis tanaman tropis yang indah, tumbuh dan berkembang di kota yang dingin itu.

Malino pun menghasilkan buah-buahan dan sayuran khas yang tumbuh di lereng Gunung Bawakaraeng. Sebagian masyarakat Sulawesi Selatan masih mengkulturkan gunung itu sebagai tempat suci dan dikeramatkan.

Pemandangan yang tidak kalah menariknya adalah ada air terjun yang posisinya tegak lurus dari puncak tebing bernama Takkapala. Gemuruh suara air yang terjun bebas tak pernah berhenti barang sejenak. Keberadaannya menjadi seperti magnet yang menggoda wisatawan domestik dan asing untuk selalu kembali.

Dalam taman wisata alam Malino ditemui berbagai jenis fauna seperti burung nuri (Trichaglossus flavoridis), kera hitam (Macaca maura), biawak (Varanus salvator), jalak kerbau (Acridatheres sp), raja udang (Halcyon sp), dan burung gelatik (Padda oryzofora).

Sedikit ke arah atas yaitu daerah Pattapang, terdapat perkebunan teh milik Nittoh asal jepang yang juga menjadi salah satu objek wisata Malino yang digemari karena hamparan hijaunya yang cantik dan memukau. Sempatkan diri Anda untuk membeli bubuk daun teh asli Malino. Tanaman hortikultura seperti kol, vetsai, bawang prei, kentang dan tomat, digarap oleh para petani desa setempat terletak di daerah Kanrepia.

Puas melihat yang hijau-hijau, sempatkan juga untuk berjalan ke Air Terjun 1000 Tangga. Diberi nama 100 tangga karena untuk sampai ke air terjun harus ngelewatin tangga yang jumlahnya 1000.

Yang unik juga terdapat Air Terjun Ketemu Jodoh. Konon katanya dulu ada sepasang anak muda yang kesana dan akhirnya mereka berjodoh setelah bertemu disana.

Dilihat dari potensi pariwisatanya, Malino merupakan prospek pariwisata yang sangat potensial. Keindahan Panorama Alam yang memukau, potensi flora dan faunanya, dan kenyamanan yang dijanjikannya, membuatnya berpeluang menjadi salah satu objek wisata yang terkenal di Nusantara. Semoga…(mediaindonesia.com/Ol-5)

Ke Negeri Angin Mamiri Yuk…!

SATU lagi wahana wisata berkelas internasional didirikan di Indonesia. Kali ini bukannya di Jakarta atau di Jawa, yang memang sebagian warganya menjadwalkan kegiatan refreshing ini setiap bulannya. Di Kota Makassar, Sulawesi Selatan telah dibangun dan bertengger megah kawasan wisata terpadu yang dikenal dengan nama Trans Studio Theme Park yang mampu menampung pengunjung hingga 10 ribu orang.

Berada di atas tanah seluas 24 hektare, selaian terdapat tempat hiburan keluarga yang dikenal dengan nama Trans Studio Theme Park, juga ada Trans Rodeo Drive yang trdiri atas dua hotel berbintang tiga dan lima. Juga ada Trans Studio Walk yang merupakan pusat perbelanjaan kelas dunia. Wow ..warga Angin Mamiri kiranya bisa berbangga.

Secara keseluruhan, Trans Studio World Makassar berada dalam area Trans Studio Resort yang berlokasi di Kawasan Bisnis Global dan Pariwisata Terpadu Tanjung Bunga. Dari pusat Kota Makassar bisa ditempuh hanya sekitar 5 menit.

Lebih hebatnya lagi, Theme Park Trans Studio World Makassar mengadopsi konsep Universal Studio di Amerika Serikat. Berisi ruang-ruang simulasi beberapa program salah satu stasiun televisi swasta atau peristiwa di Indonesia.

Beberapa di antaranya adalah Tsunami Island yang mengingatkan pada suasana mencekam tsunami dan gempa bumi melanda Aceh. Ada juga Magic Museum yang berisi benda-benda hidup seperti dalam film Night at The Museum, Dunia Lain, Arung Jeram, Magic Corner, Lost City, Terror Twister, dan Water Coaster. Untuk anak-anak jika ke sini pasti merasa seperti dimanjakan.

Selain theme park, beberapa fasilitas lain yang dibangun adalah hotel, pasar swalayan, arena rekreasi pantai, fasilitas perkantoran, dan kafe. Trans Studio World mulai beroperasi pada Juni mendatang. Secara bertahap, seluruh proyek selesai pada 2010.

Untuk Trans Studio Theme Parknya yang merupakan theme park indoor terbesar yang dibangun di atas lahan seluas 2,7 hektare terinspirasi dari Disneyland dan Universal Studio yang di dalamnya terdapat 21 wahana permainan yang terbagi dalam empat zona dan tema yang berbeda. Masing-masing adalah Studio Central, Lost City, Cartoon City dan Magic Corner.

Sementara itu, di Trans Studio Walk terdapat pusat perbelanjaan kelas dunia dengan lima lantai yang dilengkapi tiga atrium pusat perbelanjaan yang akan menyediakan berbagai keperluan merek internasional. Bagi yang hobi shoping tempat ini cocok untuk mencari barang-barang produk luar tanpa harus ke luar negeri.

Tempat favorit

Dari keempat zona yang ada di theme park tersebut, yang menjadi favorit para pengunjung adalah zona Magic corner. Pada zona ini bertemakan suasana magis dan penuh sensasi bagi para pengunjung.

Di zona tersebut terdapat empat jenis permainan yang seru, yaitu magic roal coaster, putar petir, dragon tower dan wahana dunia lain yang merupakan ikon acara misteri di Trans.

Selain, Zona Magic Corner, wahana yang juga paling banyak digemari para penunjung theme park tersebut adalah Lost City, yang menampilkan petualangan menegangkan ala Indiana Jones dengan wahana bernama jelajah, si bolang dan hutan wisata.

Ada juga wahana yang membuat para penunjung bisa merasakan bagaimana menjadi seorang bintang dan mengetahui rahasia di balik layar tayangan-tayangan di televisi. Zona tersebut diberi nama Studio Central.

Bagi yang membawa anak, dapat bermaian di zona yang bernama Cartoon City, yang merupakan dunia penuh warna, fantasi dan keajaiban. Di tempat yang dikhususkan bagi anak-anak tersebut bisa bermain dengan ceria, bahkan bagi orang tua yang ingin mengenang masa kecil mereka.

Trans Studio yang dibangun atas kerja sama Trans Coorporate dan Grup Kalla dengan investasi awal sebanyak Rp1 triliun tersebut didesain oleh John Stevenson yang dikenal sebagai sutradara Kung Fu Panda.

Yang penting diketahui bagi mereka yang akan berkunjung ke Trans Studio Theme Park adalah, di dalam studio tersebut tidak berlaku uang tunai, untuk menikmati semua jenis permainan yang ada dalam Theme Park menggunkan kartu mikrochip yang disebut studo pass yang merupakan tukar digital yang pertama kali digunakan di dunia dan pertama kalinya digunakan di Makassar.

Bahkan informasinya wahana rekreasi serupa seperti Disneyland baru akan menggunakannya 2010 mendatang. Untuk masuk ke theme park, setip kepala harus memiliki studio pass dengan saldo minimal Rp100 ribu. Dari saldo tersebut, Rp10 ribu untuk free pass masuk, sisanya Rp90 ribu untuk bermain diwahana yang tersedia di theme park tersebut sesuai pilihan dari 21 wahana permainan yang ada. Mau mencoba berbagai wahana itu?(mediaindonesia.com/OL-5)

Menikmati Keindahan Pulau Buton

SAAT berada di Kendari, Sulawesi Selatan, jangan lupa singgah ke Pulau Buton yang menawarkan keindahan panorama laut dan pantai putihnya. Pulau Buton merupakan satu-satunya pulau di negeri ini yang menghasilkan aspal alam terbesar.

Bila ingin mengunjungi pulau Buton bisa menggunakan ferry di dermaga Kendari yang langsung mengarah ke Buton dengan jarak tempuh mencapai 4 jam. Namun Anda harus memesan tiket sehari sebelumnya karena biasanya dipadati penumpang.

Pulau Buton memiliki ibukota bernama kota Bau-Bau. Penduduk setempat menyebut diri mereka sebagai ‘orang buton’ atau dalam bahasa setempat disebut sebagai ‘wolio’ yang berasal dari kata ‘welia’ yang berarti orang yang menebas hutan.

Konon, nenenk moyang awal orang Buton, Syahdan, datang dari wilayah Johor Malaysia yang berlayar dipertengahan abag 13. Mereka masuk melalui selat Malaka dengan menyusuri laut Jawa, hingga akhirnya sampai dan menetap di wilayah ini. Setibanya di sini mereka membangun pemukiman di garis pantai.

Hasil laut Buton sangatlah melimpah sehingga memberikan kentungan warga selama mencari nafkah sebagai nelayan di laut. (*/X-13)

Desa Wisata Religius Bubohu Gorontalo – Sulawesi

Sejarah Islam di Gorontalo tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia, menjadi pusat penyebaran dan pengembangan agama Islam sejak masa lampau. Lagi-lagi agama yang berakulturasi dengan budaya menjadi sebuah daya tarik kunjungan wisata.

Berawal dari sebuah tradisi perayaan salah satu hari besar Islam. Setiap tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah masyarakat Muslim di Indonesia mengenal perayaan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW dengan istilah Maulid.

Di Gorontalo Setiap kali acara Maulid Nabi, selalu dirayakan dengan membuat Walima (Kreasi Seni Kue Tradisional) di setiap masjid seluruh Gorontalo, dan diramaikan oleh umat Islam berzikir yang dimulai setelah Isya sampai jam 11 pagi, atau sekitar 15-16 jam.

Ada hal unik pada salah satu desa, sehingga menarik perhatian wisatawan yang datang ke Gorontalo. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan dengan membuat dan mengarak Walima secara kolosal ke masjid. Terciptalah Desa Wisata Religius Bubohu, atau lebih dikenal dengan Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Sulawesi.

Ditetapkan sejak 1997. Diawali dengan penulisan sejarah penyelamatan lingkungan hidup dan penggalian potensi budaya. Sepuluh tahun kemudian, pada 2007, mulailah dilakukan pembangunan fisik penunjang sarana wisata, pendirian PKBM Yotama sebagai pengelola, melaksanakan festival budaya serta mempromosikannya sebagai salah satu tujuan wisata religi yang bernilai tinggi.

Desa yang terletak di Teluk Tomini ini dulunya merupakan wilayah Kerajaan Bubohu, sebuah kerajaan kecil yang berada dibawah pemerintahan raja Gorontalo. Jadi daerah ini merupakan wilayah sejarah, dan kehidupan rakyatnya pun tidak jauh dari cara-cara hidup yang islami. Sehingga alasannya begitu kuat, pemerintah setempat menjadikan kawasan wisata religi di Gorontalo.

Sebagai Desa Wisata Religi, Bubohu telah dilengkapi dengan sarana dan prasana penunjang seperti; Masjid Walima Emas yang terang dan bersinar ketika malam tiba, lengkap dengan sebuah Kalender Islami atau Kalender Hijriah terbesar di dunia. Masjid yang berada di puncak bukit ini berpadu dengan Kolam Miem, sebuah kolam dengan air pegunungan yang alami. Terdapat pula kolam renang santri gratis dengan air mancur tanpa mesin.

Belum cukup dengan itu, alam desa menawarkan pesona Gunung Tidur dan Pantai Dulang yang cocok untuk kegiatan outbound. Cenderamata pun telah dikemas secara profesional, yaitu kue kolombengi khas walima dan sarung putih walima. Dan satu lagi keunikan yang tidak boleh dilewatkan, yaitu Pasar Subuh; Pasar Desa Bubohu yang sistem jual belinya masih mengunakan cara barter.

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Balla Lompoa

Balla Lompoa dalam bahasa Makassar berarti Rumah Besar. Museum yang menyimpan benda-benda Kerajaan Gowa ini adalah rekontruksi dari istana Kerajaan Gowa.

Arsitektur bangunan dalam komplek seluas satu hektar ini berbentuk rumah panggung, khas masyarakat Bugis. Bangunan museum ini seluruhnya terbuat dari kayu ulin atau kayu besi.

Museum yang berada di Kota Sungguminasa, Sulawesi Selatan ini, menyimpan sekitar 140 koleksi benda-benda kerajaan, seperti mahkota, gelang, kancing, kalung, keris dan benda-benda lain yang umumnya terbuat dari emas murni dan dihiasi berlian, batu ruby, dan permata. Alat perang, seperti tombak dan meriam kuno juga menjadi koleksinya.

Untuk melengkapi pejalanan wisata sebaiknya juga mendatangi makam Sultan Hasanuddin di komplek pemakaman raja-raja Gowa di Katangka Somba Opu Gowa.

Pahlawan nasional ini terkenal keberaniannya menentang penjajahan. Karena keberaniannya beliau mendapatjulukan dari kaum penjajah sebagai De Haantjes van Het Oosten atau Ayam Jantan dari Benua Timur.

Sumber: Majalah Travel Club