Category Archives: Sulawesi Tengah

Terpikat Keindahan Taman Laut Olele

PESONA keindahan laut Indonesia selalu berhasil menggoda para wisatawan untuk singgah. Taman Laut Olele salah satunya. Pemandangan dasar lautnya tak berbeda jauh dengan Taman Laut Bunaken, namun kawasannya lebih terlihat alami dan mempesona.

Puluhan lumba-lumba yang muncul ke permuakaan laut seakan menyambut kehadiran pengunjung saat tiba di sini. Air lautnya berwana biru dan nampak bening. Beraneka karang cantik yang menghiasi dasar laut seolah mengajak untuk ditelusuri.

Taman Laut Olele berada di Desa Olele, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Sulawesi Tengah, atau sekitar 20 km arah Selatan dari ibukota Gorontalo.

Para pecinta olahraga laut dari seluruh penjuru dunia menjadikan Olele sebagai tempat favorit. Selain lingkungannya masih sangat alami, suasana pantainya juga masih tak terlalu ramai sehingga pengunjung bisa menikmati kecantikannya dengan seksama.

Wisatawan asing yang datang ke tempat ini biasanya melakukan kegiatan yang memacu adrenalin mereka seperti diving atau snorkeling di lautnya yang tenang. Taman Laut Olele bahkan disetujui pemerintah setempat sebagai arena Fun Diving dan scientic diving.

Memandangi keindahan biota laut Olele bisa menjadi pilihan tepat untuk melepas kepenatan. Tak perlu menyelam untuk menikmatinya. Anda bisa melihat kehidupan laut Olele dari atas perahu sewaan yang dilengkapi dengan kaca bening pada bagian bawahnya. (*/X-13)

Melepas Lelah di Pantai Lambangan Pauno

visitsulteng.com

PANTAI selalu menjadi destinasi liburan yang menyenangkan. Keindahan panorama yang alami serta hembusan angin sepoi-sepoi di kawasannya, cocok sebagai tempat untuk mengusir rasa jenuh dari kehidupan perkotaan.

Salah satu objek wisata pantai yang bisa dikunjungi dan menjadi pilihan masyarakat Banggai adalah Pantai Lambangan Pauno. Selain memiliki keindahan pantai berpasir putih dan pemandangan yang menawan, pantai ini berada tak jauh dari kota, yaitu sekitar 10 km. Tak heran banyak wisatawan berkunjung untuk berlibur ke tempat ini.

Sebagai objek wisata pesisir pantai, pengunjung yang datang menjadikannya sebagai lokasi berenang. Panjang pantai berkisar 200m dengan hamparan pasir putih yang bersih. Pada ujung kiri dan kanan pantai terdapat bebatuan karang, tebing terjal, serta pohon ketapang dan pohon nyiur yang nampak seperti pagar pembatas pantai.

Keunikan Pantai Lambangan Pauno bisa dilihat saat musim tertentu dimana terdapat sejumlah bebatuan warna hitam yang tertinggal akibat kikisan pasir-pasir pantai oleh air laut. Sementara pada musim lainnya batu-batuan tersebut ditutupi kembali oleh pasir putih.

Pantai Lambangan Pauno berada di Sulawesi Tengah dan kawasannya termasuk dalam wilayah Desa Kendek Kecamatan Banggai. (visitsulteng.com/*/X-13)

Pencarian Makna “Tadulako” dari Kampus hingga Situs

Kata “Tadulako” berasal dari dua kata “Tadu” atau “Padu” berarti “Tumit” dan “Lako” atau “Dako” yang berarti sumber atau asal muasal. Sehingga pengertian Tadulako bermakna “Tumpuan yang berasal atau bersumber pada tumit”. Kemudian pengertian ini bermetamorfosis dan memunculkan makna yang lebih familiar “Pemimpin”.

Di sebuah dialog kesejarahan di Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah yang merupakan satu rangkaian dengan acara PENTAS (Pekan Cinta Sejarah) gelaran Direktorat Jenderal Sejarah Purbakala (Ditjen Sepur), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beberapa waktu lalu. Salah satu pembicara yang juga dosen sejarah di Universitas itu mengungkapkan hal yang sama, bahwa Tadulako adalah pemimpin, panglima, atau orang-orang yang berjasa terhadap bangsanya.

Tadulako bisa siapa saja, bangsawan, ketua adat, para ulama, bahkan masyarakat biasa yang pernah berjasa. Namun, untuk memperoleh gelar itu tidak semudah mengucapkan pengertiannya. Melainkan berdasarkan tahapan-tahapan tertentu yang berlaku di masyarakat pada masa itu. Ini tercatat dalam sejarah peradaban Tanah Kaili, suku banga asli bagian tengah Sulawesi.

Bicara sejarah, rasanya kurang lengkap tanpa mengunjungi bukti peninggalannya. Kami pun tergerak untuk melihat langsung situs cagar budaya Sulawesi Tengah yang konon merupakan situs tertua yang ada diseluruh dunia. Meskipun dalam agenda kunjungan kami ke Kota Palu hanya mengikuti serangkaian acara Pentas; diskusi, seminar, pameran dan seremonial lainnya yang membosankan.

Tampaknya keberuntungan berpihak pada kami, karena panitia menyetujui. Hari kedua, besok. Kami berenam akan berangkat. Saya dari Travel Club dan dua rekan sesama jurnalis serta dua pendamping dari pihak panitia Ditjen Sepur ditambah supir yang akan membawa mobil sewaan.

***

Pagi itu mendung menutup langit, kemudian gerimis seolah ingin melunturkan niat kami mencari dua situs di Lembah Besoa, Tadulako dan Pokekea. Dengan tekad yang sudah bulat, kami semua sepakat tetap jalan meski medan yang dialui akan terasa berat.

Wisata arkeologi. Mungkin ini istilah yang tepat untuk perjalanan kami. Pencarian sosok pemimpin purba peninggalan zaman megalith yang tersebar di Daerah Lore, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Menurut kabar, banyak situs cagar budaya tersebar di sana. Salah satunya adalah situs Tadulako. Sebuah patung batu (arca) silinder, mungkin dulunya merupakan gambaran seorang pemimpin.

“Pada zamannya, arca megalith dianggap sebagai sebuah perwujudan terhadap pemujaan arwah nenek moyang yang dimuliakan masyarakat setempat. Biasanya penjelmaan sosok pemimpin atau yang dituakan dalam kelompoknya,” kata Wawan, salah satu panitia pendamping yang ternyata berpendidikan S2 Arkeolog.

Pencarian situs tentu jadi semakin menarik, karena diantara kami ada yang mengerti apa yang sedang kami cari. Situs Tadulako menjadi target utama. Selain informasi yang tertera di brosur pariwisata, informasi dari penduduk lokal pastinya akan lebih akurat. Maka sang supir membawa kami melalui jalur Sigi – Palolo – Taman Nasional Lore Lindu – Lembah Napu dan singgah di Desa Wuasa.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Bentangan alam yang begitu indah; bukit-bukit menghijau, hutan lebat, sawah ladang, dan perkebunan coklat silih berganti menghiasi jendela mobil kami. Jalan berliku, menanjak, dan sempit memaksa mobil yang kami tumpangi memeras tenaga.

Sebelum sampai Lembah Napu kami bertemu wisatawan asing yang asik mengamati burung dengan teropongnya. Sulawesi Tengah ibarat surga bagi pengamat burung. Pasalnya disinilah Garis Wallace itu ada, garis hipotesa yang memisahkan wilayah geografi hewan. Disinilah habitat burung rangkong atau atau burung-burung paruh bengkok lainnya yang tidak akan ditemui pada bagian barat dunia.

“Hutan di Indonesia bagus dan masih alami, tapi sayang penebangan hutan masih terjadi tanpa memikirkan ekosistem yang ada,” kata Manfred, wisatawan asal Jerman yang sempat berbincang dengan kami di sekitaran Taman Nasional Lore Lindu.

Lembah Napu terlihat membentuk lanskap luas dibawah sana, kendaraan kami berlanjut menuruni bukit. Tiba di penginapan sore hari. Perlu diketahui di Desa Wuasa ini listrik hanya menyala sekitar enam jam. Menyala pukul 18.30 hingga 23.30 saja. Hampir tidak ada aktivitas di malam hari, kecuali terlelap dalam gelap. Sungguh pengalaman berwisata yang amat berkesan.

***

Udara dingin membangunkan kami dari mimpi, bersiap pergi menuju Doda, sampai akhirnya tiba di Lembah Besoa. Setelah dua jam lebih melewati jalan sempit dan beberapa desa kami temukan plang bertuliskan “Situs Tadulako 1 km”. Namun kendaraan tidak bisa mencapai situs pertama yang kami temukan.

Terpaksa harus melanjutkan dengan berjalan kaki satu kilometer melalui jalan setapak dan mencari-cari lokasi yang tidak pasti. Biasanya sebuah situs akan berada di tempat yang tinggi. Pengalaman arkeolog itulah yang menjadi patokan kami harus berjalan ke arah mana.

Akhirnya kami temukan Situs Tadulako yang menjadi ikon pariwisata Sulawesi Tengah. Sebuah arca yang menyendiri terbuat dari batu granit, berdiri tegak di tengah alam yang luas dan indah. Dengan tinggi 196 centimeter dan diameter 60 centimeter batu Tadulako menghadap ke arah utara, diartikan sebagai tempat datangnya arwah nenek moyang. Sayangnya sampai sekarang belum ada kepastian dari para arkeolog yang menyebutkan kapan awal mula situs ini dibuat.

Hanya ada hipotesa global yang menyebutkan megalith yang ada di Sulawesi Tengah diperkirakan berasal 3.000 SM (sebelum Masehi), dan yang termuda dibuat sekitar 1.300 SM. Ada juga anggapan dari para peneliti bahwa megalith Lore merupakan yang tertua di dunia. Tampaknya tetap menjadi misteri sampai ada penelitian lanjutan dari Balai Arkeolog Manado yang berwenang terhadap situs-situs di wilayah ini.

Setelah puas mengamati dan berfoto, perjalanan kami berlanjut mencari situs kedua, Pokekea. Ternyata lokasinya pun masih tersembunyi karena tidak ada petunjuk yang jelas bagi kami. Tetapi tetap kami paksakan untuk terus mencari hingga desa paling akhir di Lembah Besoa. Beruntung kami bertemu dengan Mandela, seoarang anak desa yang bersedia menunjukan jalan. Lagi-lagi harus berjalan kaki untuk sampai ke lokasi, dan kali ini terasa lebih jauh.

Situs Pokekea berbeda dengan Tadulako, di sini banyak peninggalan batu-batu purba. Rata-rata berbentuk Kalamba (batu kubur), bentuk silinder yang bagian dalamnya dilubangi menyerupai bentuk tong besar dengan ukuran tinggi bervariasi antara 1,5 meter sampai 2,7 meter, dan memiliki diameter antara 1 meter hingga 1,8 meter tempat penyimpanan orang yang sudah mati. Tutupnya menunjukan jumlah yang terkubur dengan pahatan berbentuk manusia sedang telungkup atau ukiran wajah.

Menurut data yang diperoleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah, situs megalith Pokekea terdiri dari 8 buah Kalamba, 4 buah Arca, 14 buah batu Dokon, 18 buah batu Kerakel, 5 buah Dolmen, 5 buah Altar Batu, 2 buah batu Tetralit, 1 buah batu bergores, dan 2 buah Palung Batu, yang tersebar dalam satu komplek.

Puas sudah kami melihat langsung Benda Cagar Budaya (BCB) peninggalan zaman purba, meski cuma dua situs yang berhasil kami datangi. Sebenarnya masih banyak situs yang belum atau baru ditemukan. Bahkan menurut cerita seorang anak di daerah situs ada satu Kalamba yang masih terdapat tulang belulang di dalamanya. Mungkin baru saja ditemukan arkeolog dan belum sempat diangkat.

Tapi waktu tidak memungkinkan untuk melakukan pencarian lagi, karena perjalanan pulang melalui Trans Sulawesi Poso – Parigi – Palu masih memakan waktu sehari semalam. Wisata yang cukup melelahkan dan berkesan.

Akomodasi dan Transportasi

Hanya ada dua penginapan di Lembah Napu yang menjadi tempat persingahan para wisatawan yang berkunjung ke situs megalith atau pengamatan burung. Penginapan Sendy dan Monalisa, keduanya bertarif Rp 75.000 – Rp 100.000. Sebaiknya memilih Penginapan Sendy karena unggul akan fasilitas, diantaranya genset untuk menambah pasokan listrik yang hanya menyala 6 jam dan rumah makan.

Untuk transportasi sebenarnya ada sebuah minibus yang melayani trayek Palu – Lembah Napu, dan Lembah Napu – Poso. Jika dari Palu, naik angkutan ini bisa dari terminal Petobo dengan tarif sekitar Rp 50.000. Namun untuk berwisata yang menantang ini sebaiknya menyewa kendaraan dengan Tarif Rp 350.000 sudah termasuk supir, akan sangat membantu dan memudahkan menjangkau situs.

 

Sumber: Majalah Travel Club

Al Quran Penanda Zaman di Museum Sulteng Lembah Palu

Menelusuri Jejak sejarah Islam tidak mesti di masjid atau makam para penyiar agama. Di Lembah Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), benda-benda peninggalan Islam justru tersimpan di Museum Negeri Sulteng. Bukti peninggalan berupa sejumlah Al Quran tua, kumpulan Lontara, hingga lembaran Kutika masih terjaga dengan baik dan tesusun rapi sebagai lembaran sejarah Islam.

Koleksi Alquran tua yang ditulis dengan tangan itu diperkirakan berumur 200-an tahun. Rata-rata Al Quran berukuran sekitar 30 centimeter kali 40 centimeter dengan tebal kira-kira 10 centimeter. Uniknya Al Quran berisikan ukiran-ukiran floral atau tumbuh-tumbuhan yang digambar di setiap sisi lembaran ayat.

Setiap peralihan juz dalam Al Quran ditemukan satu halaman penuh yang berukiran flora khas Sulteng sebagai penanda halaman. Ukiran floral dengan tiga warna dasar, yakni merah, kuning dan hijau memakai tinta Cina. Kombinasi warna dan ukiran menimbulkan suatu keindahan tersendiri.

Al Quran tua ini telah diteliti oleh Libang Departemen Agama, dan dapat diketahui bahwa ratusan lembar Al Quran yang diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-18 itu, dibuat dari kulit kayu beringin. Sementara sampulnya menggunakan kulit binatang.

Al Quran menjadi sangat unik karena menggunakan ukiran khas lokal lembah Palu dan tidak ditemukan Al Quran tua sejenis di Indonesia. Hal ini menjadi sebuah penanda bahwa penyebaran Islam di Indonesia tetap berdampingan dengan budaya yang ada.

Keunikan Al Quran ini kemudian menjadi daya tarik, dan menjadi andalan Museum yang terletak di Jalan Kemiri No. 23 Kamonji, Palu ini, sebagai salah satu destinasi religi dalam menelusuri jejak sejarah Islam. Banyak pengunjung sangat tertarik, dan mencoba untuk memiliki dengan berbagai tawaran harga yang tinggi. Namun, sejarah bukanlah hal yang bisa diperjualbelikan.

Menurut sejarahnya keberadaan sejumlah Al Quran tua tersebut diduga dari masa periode sesudah syiar Islam yang dilakukan oleh Datokarama, yakni pada periodesasi syiar Islam oleh para mubalig bugis, makassar, dan mandar hingga periodesasi mubalig Arab/Yaman.

Selain Al Quran tua (200 tahun), ada juga koleksi Al Quran yang usianya lebih muda, peninggalan abad 19 dan abad 20. Al Quran zaman itu, sudah menggunakan kertas hasil produksi pabrik dari Eropa. Hal itu ditandai dengan adanya cap air atau watermark pabrik kertas yang ada di setiap lembaran Alquran. Meski demikian, ayat-ayat masih ditulis dengan tangan.

Sumber: Majalah Travel Club

Taipa Beach: Pantai Elok di Tengah Kota

Taipa Beach 1Berbagai kegiatan wista dapat dinikmati di pantai yang menawarkan keindahan hingga bawah airnya. Sulawesi Tengah merupakan Provinsi terluas di Sulawesi, meski tak setenar wilayah lainnya, provinsi ini memiliki keindahan alam yang mempesona dan tak kalah menarik. Kota Palu sebagai ibukota provinsi merupakan pintu gerbang bagi para wisatawan yang ingin bertamasya ke berbagai tempat di Sulawesi Tengah.

Kota Palu juga memiliki banyak obyek wisata yang sangat menarik dan layak dijadikan referensi bagi para traveler. Letaknya yang menghadap teluk, menjadikan wisata bahari dan pantai menjadi obyek wisata yang patut diandalkan. Salah satunya adalah kawasan wisata Pantai Taipa Beach.

Dari Bandara Mutiara Palu untuk mencapai kawasan Wisata Taipa Beach hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Taipa Beach merupakan pilihan alternatif bagi warga Palu yang ingin berwisata pantai selain bertandang ke Pantai Talise. Untuk menikmati pasir putih dan air laut nan jernih Teluk Palu di Taipa Beach, pengunjung hanya dikenakan tiket masuk sebesar Rp 5.000.

Matahari pagi yang menghangatkan tubuh seakan menjadi teman pengunjung yang asyik berenang menikmati air laut berwarna kebiruan. Sementara itu, di bibir pantai dua orang wanita tampak sibuk saling foto.

Pagi itu, Pantai yang memiliki panjang sekitar 500 meter ini tak terlalu ramai. Hanya terlihat sekelompok anak muda yang datang menggunakan sepeda motor. “Kami datang bersama teman-teman satu kantor, bahkan sebagian ada yang datang sejak kemarin,” kata Ayu menuturkan, seorang di antaranya. “Selain karena keindahannya, pantai ini pun belum terlalu ramai, jadi kami memilih datang ke sini,” kata Edie, teman lainnya menambahkan. Continue reading Taipa Beach: Pantai Elok di Tengah Kota

Sejuta Pesona Danau Poso

Pemandangan Danau Poso
Pemandangan Danau Poso

Di atas air bening hijau kebiru-biruan, di tepian timur Danau Poso, berderet rapi sekumpulan bebatuan besar dan kecil yang unik. Dari kejauhan, kumpulan bebatuan itu mirip taman batu terapung dengan latar belakang rerumputan dan pepohonan hijau di atas perbukitan yang memagari sekeliling danau.

Uniknya, sebagian dari kumpulan bebatuan itu, bisa mengeluarkan bunyi kalau diketuk, yaitu yang disebut Watu Nggongi. Artinya, batu yang bisa berbunyi.

Menurut seorang tokoh masyarakat Poso, S Pelima, pada zaman dulu di Poso, Watu Nggongi menjadi alat tabuh. “Jadi, kalau batu ini berbunyi, pertanda ada sesuatu yang penting terjadi, dan masyarakat harus berkumpul di sabua (rumah pertemuan) untuk mendengarkannya,” ungkapnya.

Rumah tepi Danau Poso
Rumah tepi Danau Poso

Sampai sekarang, sebagian dari Watu Nggongi yang berada di kedalaman air danau, kalau diketuk bisa mengeluarkan bunyi seperti gong.

Kumpulan batu lainnya yang terapung di danau tersebut, disebut Watu Asa Mpangasa Angga yang dalam bahasa Poso, artinya batu tempat mengasah pisau atau parang.

Jenis batu ini, oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat mengasah parang atau pedang orang-orang tua zaman dulu di Poso. “Sebelum orang-orang tua itu pergi ke kebun, atau mengembara ke tempat lain, mereka mengasah parang atau pedangnya di batu itu,” ujar Amir Kiat, warga Tentena.

Sampai sekarang, kata Amir, pada waktu-waktu tertentu, biasa terlihat sekumpulan orang tengah mengasah parang di Watu Asa Mpangasa Angga. “Warga biasa melihat kejadian itu, pada menjelang malam atau dini hari,” tuturnya. Continue reading Sejuta Pesona Danau Poso

Buya Sabe, Kisah Balida dan Benang Sutra

Pantai Donggala
Pantai Donggala

PALU – Kota Donggala, Sulawesi Tengah, menyajikan banyak tawaran pelesiran. Salah satunya menonton para penenun buya sabe atau sarung Donggala.

Pagi baru merekah, masih tersisa langit yang memerah saga di ufuk timur. Mentari tentu dinikmati dari pesisir laut Teluk Palu atau dari ujung teluk, tepatnya di Kota Donggala.
Bila Anda belum pernah mendengar namanya, bolehlah membaca buku “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” milik Buya Hamka, ulama dan budayawan kesohor di masanya. Atau bacalah “Tetralogi Pulau Buru” milik sastrawan Pramoedya Ananta Toer.
Di kedua buku itu, nama Donggala disebut sebagai tempat singgah para pelaut nusantara dan mancanegara. Ya, Donggala identik dengan pelabuhan lautnya. Continue reading Buya Sabe, Kisah Balida dan Benang Sutra

Taman Ria Palu, Segar dan Hangat

taman-ria-paluPALU–Bila anda berkunjung ke Palu, salah satu obyek wisata yang biasanya ditawarkan pemandu untuk didatangi pada sore hingga malam hari adalah Taman Ria yang berada di Kecamatan Palu Barat.

Obyek wisata yang membentang panjang sekitar satu kilometer di pesisir pantai ini memang memiliki keindahan tersendiri, dibandingkan dengan obyek wisata yang terdapat pada daerah lain di Tanah Air. Continue reading Taman Ria Palu, Segar dan Hangat

Ke’te’ Kesu’, Desa Wisata Tana Toraja

Foto-foto: Pembaruan/Aditya L Djono - Kompleks Ke'te' Kesu' dari kejauhan

MISTIS. Mungkin itu kesan yang seketika mencuat saat kaki menapaki anak tangga terakhir dan kepala melongok ke dalam tongkonan tua yang gelap dan berdebu. Gambaran jenazah yang disemayamkan di dalam tongkonan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, menyergap benak, manakala mata tertuju di salah satu bilik kecil dengan balai-balai setinggi pinggang di sudut ruang dalam tongkonan.

“Di ruang situ biasanya jenazah disemayamkan,” tutur Gibson (32), yang memandu perjalanan menengok Ke’te’ Kesu’, sebuah desa tradisional kecil di Kabupaten Tana Toraja (Tator), Sulawesi Tengah. Kawasan yang terdiri dari delapan tongkonan induk, lengkap dengan lumbung beras di depan setiap tongkonan, memang menjadi salah satu tujuan wisata di Tator. Continue reading Ke’te’ Kesu’, Desa Wisata Tana Toraja