Category Archives: Sulawesi Tenggara

Danau Napabale, Danau Berair Asin di Muna

DANAU Napabale terbilang cukup unik dan berbeda dari danau pada umumnya karena memiliki air yang asin. Terletak di kaki bukit Desa Lohia, Muna, Sulawesi Tenggara. Tepat di sebelah danau terdapat lautan yang dihubungkan dengan terowongan alam sepanjang 30m dengan lebar 9m.

Terowongan alam tersebut menjadi jalan masuk air yang berasal dari laut. Tak heran air Danau Napabale terasa asin. Selain itu, terowongan juga menjadi tempat wisata dan kerap ditelusuri wisatawan yang berkunjung.

Saat air laut pasang, terowongan akan tertutupi air. Namun ketika airnya surut, terowongan bisa dilalui menggunakan perahu pincara.

Kegiatan lain yang bisa dilakukan di Danau Napabale adalah berlayar atau menyelam. Wisatawan yang ingin berlayar bisa menggunakan sampan atau perahu yang disewakan nelayan di sekitar danau.

Jangan hanya sekedar menikmati suasana danau saja, Anda bisa menyebrang melewati terowongan untuk menuju tepi pantai yang pemandangannya tak kalah mengagumkan.

Tak jauh dari Danau Napabale terdapat objek wisata berupa situs purbakala bernama Gua Layang-layang. Jika memasuki gua Anda akan menemukan lukisan-lukisan hasil karya manusia zaman prasejarah. (*/X-13)

Jelajahi Kota Angin Mamiri

Visit Makassar And Beyond 2011 telah di luncurkan oleh Menbudpar Jero Wacik. Dengan semua potensinya, Kota Makassar siap menjadi tujuan wisata unggulan dan menyambut wisatawan.

Sejarah dan budaya telah membawa Kota Makassar menjadi bagian penting bagi kawasan Timur Indonesia, begitu juga dalam pariwisata. Selain menjadi pintu masuk sekaligus penghubung bagi kawasan Indonesia Timur, kota ini juga memiliki potensi wisata menakjubkan yang tak boleh dilewatkan.

Salah satu ikon pariwisata Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara ini adalah Pantai Losari. Sejak direvitalisasi wajah kawasan Pantai Losari terlihat lebih rapih dan semakin nyaman dikunjungi. Luasnya anjungan pantai menjadikannya ruang publik yang selalu ramai oleh wisatawan. Apalagi bila senja menjelang, keindahan matahari yang pulang keperaduannya benar-benar dapat tersaji sempurna disini.

Bagi penyuka wisata kuliner, kawasan pantai ini juga menjadi surga makanan. Puluhan kafe berjajar menyediakan berbagai makanan dan minuman khas kota Angin Mamiri ini. Ada pula restoran yang khusus menyediakan menu aneka makanan laut. Pendek kata, semua kelezatan bisa didapat di tempat ini.

Berdekatan dengan Pantai Losari, terdapat benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) peninggalan masa Kerajaan Gowa-Tallo. Sementara di kawasan Fort Rotterdam terdapat pula museum La Galigo. Museum ini memiliki koleksi benda-benda bersejarah seperti manuskrip, patung, keramik, pakaian tradisional, dari berbagai suku di Sulawesi Selatan.

Benteng Ujung Pandang dibangun tahun 1545 oleh I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna atau Raja Gowa ke-9. Dan dimasa pemerintahan Raja Gowa ke-14, Sultan Alauddin, konstruksi benteng ini dipugar dan diganti dengan batu cadas yang bersumber dari Pegunungan Karst.

Keunikan benteng ini juga terlihat pada bentuknya yang menyerupai seekor penyu. Bentuk ini diartikan sebagai sebuah kejayaan di daratan maupun di lautan, seperti penyu yang dapat hidup di dua alam tersebut. Sehingga diharapkan Kerajaan Gowa dapat berjaya di darat maupun di laut.

Saat Belanda berhasil merebut benteng ini, namanya kemudian diubah menjadi Fort Rotterdam. Semasa dikuasai tentara kolonial, benteng ini menjadi saksi bisu bagi pengasingan Pangeran Diponegoro yang harus mendekam selama 26 tahun di tempat ini.

Benteng lain peninggalan kejayaan kerajaan Gowa adalah Benteng Somba Opu. Tembok benteng yang masih tersisa menyiratkan kokohnya benteng ini, bahkan seorang ilmuan asal Inggris, William Wallace, menyatakan, Somba Opu merupakan benteng terkuat yang pernah dibangun di nusantara. Bangunan yang tersisa adalah tiga bastion, yaitu Bastion Barat Daya, Bastion Tengah, dan Bastion Barat Laut atau biasa juga disebut Buluwara Agung.

Pilihan lain yang bisa dilakukan untuk berwisata di kota ini adalah dengan mengunjungi pusat rekreasi keluarga di Pantai Akkarena yang berada di pesisir pantai Tanjung Bunga, luas pengembangan kawasan ini mencapai 10 ha. Disini wisatawan dapat menikmati suasana pantai yang indah dan nyaman, selain itu beberapa aktifitas olahraga air juga bisa dinikmati.

Kawasan rekreasi Pantai Akkarena beroperasi sejak 1998, kawasan ini berupa Taman Hidangan seluas 450 m2 yang dibangun dengan gaya bangunan Mediterania plus suguhan live music untuk menemani mereka yang sedang bersantap. Aneka menu makanan tradisional hingga internasional bisa di pilih sesuai selera Anda.

Wisata Bahari

Selain keindahan Pantai Losari dan Pantai Akkarena, Kota Makassar masih menyimpan banyak pilihan tempat wisata bahari, sebanyak 12 pulau dengan potensi menakjubkan siap menyambut wisatawan. Pulau Kayangan adalah destinasi wisata bahari terdekat dari pusat kota. Pulau seluas 2 ha ini dapat dijangkau hanya dalam waktu lebih kurang 15 menit dari Dermaga Kayangan di Kota Makassar. Pulau tak berpenduduk ini sejak 1964 sudah menjadi lokasi wisata favorit.

Beragam fasilitas wisata seperti tempat penginapan, restoran, gedung serba guna, ruang pertemuan, taman bermain anak, hingga kolam renang pun sudah terbangun lengkap di pulau yang dahulu bernama Marrouw ini.

Selain Pulau Kayangan, lokasi wisata bahari terdekat lainnya adalah pulau Lae-Lae Kecil. Pulau ini merupakan tempat yang cocok untuk memancing. Namun wisatawan juga bisa berenang atau sekadar bersantai menikmati pemandangan dan hembusan angin pantai.

Berdekatan dengan Pulau Lae-Lae Kecil terdapat Pulau Lae-Lae yang berhadapan langsung dengan pantai Losari, jaraknya sekitar 2 km. Pulau ini juga menjadi tempat yang nyaman bagi wisatawan untuk bercengkerama dan memancing. Selain itu, kehidupan penduduk pulau ini juga layak menjadi bagian yang dinikmati.

Untuk mencapai ketiga kawasan tersebut terdapat transportasi reguler yaitu dengan menggunakan perahu bermesin dari kota Makasar. Selain itu masih ada beberapa pulau yang menawarkan keindahan alam pantai seperti Pulau Samalona, Pulau Barrang Caddi, Pulau Barrang Lompo, Pulau Kodingareng Keke, Pulau Kodingareng Lompo, Pulau Bonetambung, Pulau Lumu-Lumu, Pulau Langkai, dan Pulau Lanjukang.

Meski belum semua pulau memiliiki akses transportasi untuk mencapainya, namun penyewaan perahu sudah tersedia dengan harga yang relatif terjangkau.

Sumber: Majalah Travel Club

Benteng Keraton Buton

Benteng yang memiliki nama asli Benteng Keraton Wolio ini merupakan peninggalan sejarah terbesar di Sulawesi. Benteng yang masih berdiri kokoh di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara tersebut memiliki luas mencapai 22,4 hektar.

Benteng ini adalah yang terbesar di dunia, setelah tembok besar di Cina. Di dalam kawasan benteng terdapat pemukiman penduduk yang merupakan pewaris keturunan dari para keluarga bangsawan Keraton Buton masa lalu.

Aktivitas masyarakat di dalam benteng masih menjaga kekayaan budaya leluhurnya. Berbagai ritual yang diwariskan dimasa kesultanan masih dilakukan masyarakatnya.

Peninggalan sejarah masa lalu yang tersimpan di dalam kawasan benteng ini masih pun tetap terpelihara dengan baik. Beberapa obyek yang bisa di lihat di dalam benteng ini seperti, Batu Wolio (batu berwarna gelap yang ukurannya sebesarnya seekor lembu sedang duduk), batu popaua, makam Sultan Murhum (Sultan Buton pertama), Istana Badia, dan meriam-meriam kuno.

Di dalam kawasan benteng juga berdiri masjid tua dengan tiang bendera yang usianya seumur mesjid. Bangunan ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton III La sangaji Sultan Kaimuddin, Sultan berjuluk ‘Sangia Makengkuna’ ini memerintah antara 1591 – 1597.

Sumber: Majalah Travel Club

Menelusuri Benteng Keraton Buton

BAU-BAU – Jika masyarakat Jawa Tengah bangga akan Borobudur, sebuah candi peninggalan kerajaan Budha yang tersohor di seluruh penjuru dunia, warga Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengagungkan benteng dan Masjid Agung Keraton yang bernilai religius tinggi. Benteng yang mengelilingi pusat pemerintahan Kesultanan Buton dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton III, La Sangaji (Sultan Kaimuddin).
Banyak cerita yang mengalir seputar keberadaan benteng tersebut. Menurut La Ode Abu Bakar, tokoh adat masyarakat Buton, benteng tersebut awalnya hanyalah tumpukan batu yang mengelilingi pusat kerajaan. Selain berfungsi sebagai pembatas pusat lingkungan keraton, tumpukan batu tersebut berfungsi sebagai perlindungan dari serangan musuh. Pada masa pemerintahan sultan Buton IV, La Elangi (Sultan Dayanu Ikhsanuddin), tumpukan batu tersebut dibangun menjadi sebuah benteng. Cerita unik seputar pendirian benteng yang beredar di tengah masyarakat mirip dengan kisah pendirian Candi Borobudur. Konon, tumpukan batu tersebut direkatkan dengan menggunakan putih telur. “Kalau semata-mata hanya menggunakan putih telur tentu akan menggunakan sekian banyak telur. Secara jujur, tentu itu bukan hanya menggunakan putih telur, tapi juga kapur yang diolah menjadi adonan dengan campuran agar-agar dan putih telur,” kata Abu Bakar ketika ditemui di rumahnya, Kota Bau-Bau.
Menurutnya, benteng tersebut dikerjakan oleh seluruh penduduk kesultanan Buton, laki-laki dan perempuan. Para laki-laki mengumpulkan batu-batuan gunung dan menyusunnya. Sementara pasir dikumpulkan oleh kaum perempuannya.
Benteng yang berukuran keliling 2.740 meter dengan tinggi 2-3 meter dan ketebalan dinding 1,5 meter hingga 2 meter ini memiliki 12 pintu (lawa) dengan tambahan na (nya) yang diberi nama sesuai dengan nama atau gelar pengawas pintu-pintu tersebut, antara lain Lawana Rakia, Lawana Lanto, Lawana Labunta, Lawana Kampebuni, Lawana Wabarobo, Lawana Dete, Lawana Kalau, Lawana Bajo/Bariya, Lawana Burukene/Tanailandu, Lawana Melai/Baau, Lawana Lantongau, dan Lawana Gundu-gundu, yang berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung di sekitarnya.
Pintu-pintu tersebut menurut La Ode Mursali (48), budayawan Buton, diidentikkan dengan jumlah lubang dalam tubuh manusia yang juga terdiri dari 12 lubang. Kedua belas lubang pada tubuh manusia tersebut adalah lubang pori-pori kulit, mulut, dua lubang telinga, dua lubang mata, dua lubang hidung, satu lubang anus, satu lubang saluran kencing, satu lubang saluran sperma, dan satu lubang pusat.
Lubang saluran sperma diidentikkan dengan pintu rahasia benteng yang menjadi jalan keluar bagi petinggi-petinggi Kesultanan atau tempat persembunyian, jika ada serangan musuh yang mengancam dan membahayakan keselamatan keluarga Istana Keraton. Lawana Kampebuni (pintu tersembunyi) itu pula digunakan oleh Aru Palaka ketika hendak bersembunyi di sebuah gua di sekitar benteng dari kejaran raja Gowa.
”Dalam tatanan masyarakat suku bangsa Buton, segala sesuatu yang dibuat atau dibangun, selalu dikaitkan dengan tubuh manusia. Makanya, semua bangunan yang ada di dalam keraton, sarat dengan nuansa Islam. Karena memang, para sultan yang berkuasa menganut paham Islam,” tutur Mursali.
Sebagai sebuah benteng perlindungan, benteng Keraton Buton dilengkapi dengan puluhan meriam yang terdapat pada setiap pintu. “Meriam-meriam yang ada di sisi kiri-kanan pintu masuk itu merupakan bukti kuat bahwa Kesultanan Buton pernah melawan penjajah Belanda,” kata Mursali.
Keterangan serupa juga diungkapkan oleh pemerhati budaya Buton, Lutfi Hasmar. Menurut laki-laki yang bekerja sebagai juru bicara Pemda Kabupaten Buton ini, di wilayah Kesultanan Buton terdapat 72 benteng yang tersebar di sejumlah kadie (wilayah setingkat kecamatan). Di Buton sendiri terdapat tiga buah benteng, yaitu benteng Keraton Buton yang berbentuk huruf dal, benteng Baadia yang berbentuk huruf alif, dan benteng Sorawolio yang menyerupai huruf mim.
“Kombinasi karakter huruf yang membentuk ketiga benteng tersebut diasosiasikan masyarakat Buton dengan nama Nabi Adam, nabi yang mengawali kehidupan di muka bumi ini, tutur Lutfi.

Masjid dan Makam
Jika memasuki lingkungan benteng tersebut, kita seolah berada di masa lampau. Rumah-rumah yang terdapat di dalamnya dipertahankan berbentuk rumah asli Buton, rumah panggung yang sebagian besar bahan bangunannya adalah kayu. Orang-orang yang tinggal di dalamnya pun masih berhubungan dekat dengan para petinggi kesultanan.
Selain benteng itu sendiri, terdapat beberapa bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi, Masjid Agung Keraton dan Makam Murhum.
Masjid Agung Keraton dibangun pada masa pemerintahan Sultan Sakiyuddin Darul Alam (La Ngkariyri, Sultan Buton XIX). Masjid yang berukuran 20,6 x 19,40 m merupakan bangunan pusat kegiatan lembaga kesultanan di bidang keagamaan. Para perangkatnya berstatus sebagai aparat kesultanan.
Menurut Abu Bakar, bahan yang digunakan untuk membangun masjid itu sama dengan bahan untuk benteng keraton. Bangunan yang teridi dari dua lantai ini pun memiliki 12 pintu seperti pada benteng keraton. Sementara itu, kayu yang digunakan untuk membangun masjid tersebut berjumlah 313 potong yang diidentikkan dengan jumlah tulang pada tubuh manusia.
Jumlah anak tangga masuk masjid 17 buah, sama dengan jumlah rakaat salat umat Islam dalam sehari. Bedug masjid yang berukuran panjang 99 cm dianalogikan dengan asmaul husna (99 sifat Allah), dan diameter 50 cm dimaknai sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima Rasulullah. Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan tasbih sebanyak 33 kali.
Di samping masjid, terdapat tiang bendera yang didirikan tidak lama setelah masjid dibangun. Menurut Abu Bakar, kayu yang digunakan untuk tiang bendera tersebut dibawa oleh pedagang beras dari Pattani, Siam (sekarang Thailand).
“Perahu dagang selalu membawa kayu untuk persiapan mengganti bagian perahu yang rusak di perjalanan,” katanya. Setelah dagangan mereka habis dan hendak kembali ke Pattani, sultan meminta agar kayu tersebut ditinggalkan untuk dijadikan tiang bendera. Dahulu, setiap Jumat dipasang bendera kerajaan yang berwarna kuning, merah, putih, dan hitam di tiang tersebut.
Selain masjid, terdapat pula makam raja terakhir sekaligus Sultan I Buton, Murhum yang juga dikenal dengan Sultan Kaimuddin dan Halu Oleo (dalam bahasa Muna berarti delapan hari). Nama Halu Oleo diberikan karena Murhum mampu menyelesaikan perang saudara antara Konawe dengan Mekongga dalam waktu delapan hari.
Murhum adalah raja Buton pertama yang menganut ajaran Islam. Sejak itu pula, sistem pemerintahan berubah menjadi kesultanan yang sarat dengan nilai-nilai Islam. Makam Murhum terletak di belakang Baruga Keraton Buton (balai pertemuan) yang berada di hadapan Masjid Agung Keraton.

Sumber: Sinar Harapan

Taman Nasional Wakatobi

peta-wakatobiTaman Nasional Wakatobi memiliki potensi sumberdaya alam laut yang bernilai tinggi baik jenis dan keunikannya, dengan panorama bawah laut yang menakjubkan. Secara umum perairan lautnya mempunyai konfigurasi dari mulai datar sampai melandai kearah laut, dan beberapa daerah perairan terdapat yang bertubir curam. Kedalaman airnya bervariasi, bagian terdalam mencapai 1.044 meter dengan dasar perairan sebagian besar berpasir dan berkarang.

Taman nasional ini memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan keliling pantai dari pulau-pulau karang sepanjang 600 km. Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili diantaranya Acropora formosa, A. hyacinthus, Psammocora profundasafla, Pavona cactus, Leptoseris yabei, Fungia molucensis, Lobophyllia robusta, Merulina ampliata, Platygyra versifora, Euphyllia glabrescens, Tubastraea frondes, Stylophora pistillata, Sarcophyton throchelliophorum, dan Sinularia spp.

Kekayaan jenis ikan yang dimiliki taman nasional ini sebanyak 93 jenis ikan konsumsi perdagangan dan ikan hias diantaranya argus bintik (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), pogo-pogo (Balistoides viridescens), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), baronang (Siganus guttatus), Amphiprion melanopus, Chaetodon specullum, Chelmon rostratus, Heniochus acuminatus, Lutjanus monostigma, Caesio caerularea, dan lain-lain. Continue reading Taman Nasional Wakatobi

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

peta-taman-nasional-rawa-aopa-watumohaiTaman Nasional Rawa Aopa Watumohai merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan pegunungan rendah, hutan bakau, hutan pantai, savana, dan hutan rawa air tawar di Sulawesi.

Vegetasi savana di taman nasional ini memiliki ciri khas dan keunikan, karena merupakan asosiasi antara padang rumput dengan tumbuhan agel, lontar dan bambu duri serta semak belukar, juga tumbuhan di sepanjang sungai-sungai yang mengalir di padang savana tersebut.

Keanekaragaman tumbuhan di dalam kawasan ini sangat menonjol yaitu setidaknya tercatat 89 famili, 257 genus dan 323 spesies tumbuhan, diantaranya lara (Metrosideros petiolata), sisio (Cratoxylum formosum), kalapi (Callicarpa celebica), tongke (Bruguiera gimnorrhiza), lontar (Borassus flabellifer), dan bunga teratai (Victoria spp.).

Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai jenis burung, tercatat 155 jenis burung ada di dalamnya, 32 jenis diantaranya tergolong langka dan 37 jenis tergolong endemik. Burung-burung tersebut antara lain maleo (Macrocephalon maleo), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), bangau sandang lawe (Ciconia episcopus episcopus), raja udang kalung putih (Halcyon chloris chloris), kakatua putih besar (Cacatua galerita triton), elang-alap dada-merah (Accipiter rhodogaster rhodogaster), merpati hitam Sulawesi (Turacoena manadensis), dan punai emas (Caloena nicobarica), Terdapat satu jenis burung endemik di Sulawesi Tenggara yaitu kacamata Sulawesi (Zosterops consobrinorum). Burung tersebut tidak pernah terlihat selama puluhan tahun yang lalu, namun saat ini terlihat ada di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Continue reading Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Wawolesea, Sejuta Pesona di Konawe Utara

KONAWE UTARA – Hawa hangat bercampur bau belerang begitu terasa ketika kita berada di kawasan objek wisata Air Panas Wawolesea di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra). Kawasan wisata alam yang ditumbuhi pepohonan pinus itu berada kurang lebih 80 kilometer arah utara Kota Kendari.

Bila dengan mobil atau sepeda motor, Anda dapat menjangkau kawasan itu hanya dalam waktu kurang lebih 1,5 jam. Hawa hangat yang memancar dari air kolam yang terbentuk secara alamiah dengan ornamen cukup fantastik ini sangat menyegarkan tubuh saat kita diterpa tiupan angin yang berembus di kawasan seluas sekitar 100 hektare ini. Continue reading Wawolesea, Sejuta Pesona di Konawe Utara

Indahnya Pulau Hari

pantai-pulau-hariAnda bisa menyempatkan diri untuk menghilangkan kepenatan dan menikmati suasana kecil serta khas pada pulau–pulau impian yang tidak punya penghuni. Pantai berpasir putih mulus akan mengundang anda untuk berenang dan menyelam didalam air yang jernih bagai kaca pada suhu 28-34°C…

Nikmatilah pengalaman Pulau Hari bagai Robinson – sebuah pulau surga kecil yang hanya memiliki luas sekitar 1 km2, yang terletak tidak jauh dari pesisir Kendari dan bias dijangkau sekitar 1 jam dengan perahu atau 30 menit dengan kapal cepat. Continue reading Indahnya Pulau Hari

Pantai Taipa Wisata Primadona di Konawe Utara

pantai-taipaKONAWE UTARA – Angin sepoi-sepoi begitu terasa segar menerpa tubuh ketika kita memasuki kawasan Pantai Tanjung Taipa, objek wisata primadona di Kabupaten Konawe Utara (Konut).

Hamparan pasir berwarna abu-abu yang diterjang hempasan ombak dan gelombang laut silih berganti menjadi pemandangan yang sangat menakjubkan ketika kita berada di kawasan pantai sepanjang kurang lebih tiga kilometer itu.
Menjangkau kawasan pantai yang terletak kurang lebih 70 kilometer arah utara Kota Kendari, Sulawesi Tenggara itu dengan kendaraan roda dua atau roda empat, hanya butuh waktu 1-1,5 jam.
Di sebelah barat ujung pantai itu terdapat tebing yang curam. Di bibir tebing curam itu terdapat dinding-dinding karts (tebing kapur) yang cukup fantastis. Di atas tebing terdapat liang-liang gelap berbentuk gua (cave). Masyarakat setempat menyebut gua itu sebagai gua kelelawar karena memang dihuni oleh spesies kelelawar. Jika berada di mulut gua tersebut, kita akan mendengar dengan jelas suara-suara kelelawar dan satwa lain yang mendiami kawasan hutan di sekitarnya. Continue reading Pantai Taipa Wisata Primadona di Konawe Utara

Bukit Kolema: Dulu Tanjakan Maut, Kini Menakjubkan

bukit-kolemaBAUBAU – Di masa silam, Bukit Kolema di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), tidak lebih dari tempat angker yang mengerikan. Mengerikan, karena tidak sedikit kecelakaan lalu lintas yang merenggut belasan nyawa terjadi di poros jalan di atas bukit tersebut. Itu sebabnya, masyarakat Baubau menyebut bukit itu dengan istilah tanjakan maut.

Melewati Bukit Kolema dengan ketinggian kurang lebih 200 meter dari bibir pantai dan berjarak sekitar tiga kilometer arah utara Kota Baubau itu, Anda memang harus melewati tanjakan yang berbahaya. Sisi kiri ruas jalan arah dari Baubau terdapat jurang, sedangkan pada sisi kanan terdapat batu kapur atau gunung. Tepat di puncak tanjakan bukit, terdapat tikungan tajam. Sedikit saja Anda lalai mengemudikan kendaraan, mobil bisa terjungkal dan terperosok jatuh ke dalam jurang sampai ke laut. Continue reading Bukit Kolema: Dulu Tanjakan Maut, Kini Menakjubkan