Category Archives: Sulawesi Utara

Mengenal Primata Kecil di Tangkoko

PERNAH dengar nama tangkasi ? Tangkasi atau tarsius (Tarsius spectrum) adalah primata kecil dari genus Tarsius yang masih bisa ditemukan di daratan Asia Tenggara. Salah satu tempat ada di Taman Nasional Tangkoko, Sulawesi Utara.

Tangkasi memiliki panjang sekitar 10-15 cm dengan berat sekitar 80 gram. Hewan ini dapat melompat sejauh 3 meter atau hampir 10 kaki dari satu pohon ke pohon lainnya lalu menghilang dengan cepat.

Karena sfatnya pemalu dan bermata besar inilah, membuat peneliti dan wisatawan penasaran. Tarsius memiliki ekor panjang tidak berbulu, kecuali tubuhnya yang berwarna coklat muda.

Uniknya, hewan langka dan unik ini tidak pernah berjalan di atas tanah dan sulit dikembangbiakan. Jika di dalam kurungan, Tarsius merasa stress dan berusaha melukai dirinya hingga mati

Taman Nasional Tangkoko terletak di utara pelabuhan Bitung di kaki gunung Dua Saudara. Tangkoko juga merupakan rumah bagi kera hitam, burung maleo dan burung enggang. Selain itu, juga ada pemandangan indah bukit dan lembah.

Di sekitar taman nasional juga tersedia cottage dan restoran kecil. Tidak sulit ya berlibur ke Tangkoko. Selain memiliki banyak fasilitas, jalan yang menuju ke tempat ini pun sudah diaspal. (*/X-13)

Menikmati Fenomena Alam Batu Dinding

SEKITAR 60 km dari Manado, Anda sudah bisa mengunjungi Batu Dinding yang terletak di Desa Kilotiga (K3), Amurang, Minahasa Selatan. Lokasinya pun ternyata cukup dekat dengan Sungai Ranoyapo, salah satu area arung jeram di Sulawesi Utara.

Batu Dinding adalah bukit batu berbentuk dinding yang berdiri lurus sekitar 200 meter dengan ketinggian sekitar 70 m. Area terjal Batu Dinding dijadikan lokasi favorit bagi para pendaki dan pencinta alam lainnya.

Di bagian atas bukit, Anda bisa menyaksikan ribuan hektare perkebunan yang hijau dan pemandangan indah. Begitu pula di bagian utara dan timurnya terbentang luas perairan laut Amurang yang elok.

Menurut warga Minahasa, keajaiban dan fenomena alam di sini bisa disejajarkan dengan berbagai lokasi wisata alam dunia lainnya. Namun, sayangnya belum semua orang tahu keberadaan Batu Dinding. (*/X-13)

Pesona Danau Tondano

BAGI Anda yang berasal dari Manado atau Tomohon tentunya akrab dengan lokasi wisata Danau Tondano. Ya, danau ini memang menjadi salah satu wisata terkenal di Sulawesi Utara. Namun bila Anda tidak berasal dari daerah ini, cobalah berkunjung untuk melihat keindahan alam di sana.

Danau yang terletak 600 meter di atas permukaan laut dan mencakup wilayah 4.278 hektare ini terletak di desa Remboken, sekitar 3 kilometer dari kota Tomohon atau sekitar 30 kilometer dari Manado.

Dari kota Tomohon ke Danau Tondano diperlukan waktu sekitar satu jam menggunakan kendaraan melalui jalan berkelok-kelok. Anda bisa menggunakan mobil pribadi atau naik angkutan umum dari Manado atau Tomohon.

Sejak 2003 daerah ini dikelola oleh sektor swasta dan dikenal sebagai Sumaru Endo. Berbagai fasilitas wisata seperti bungalow, kolam renang dan restoran bisa Anda jumpai di sini. Ini memungkinkan Anda untuk menginap beberapa hari bila datang dari jauh.

Selain itu, Anda juga dapat menemukan layanan sewa mobil, sewa peralatan renang dan sewa perahu untuk berkeliling di sekitar danau. Untuk berkeliling, Anda cukup membayar Rp50 ribu tetapi harus menunggu perahu terisi 10 penumpang.

Jalan-jalan di dekat danau juga menjadi kegiatan yang menyenangkan dalam udara yang dingin. Dari sisi danau di Toliang Oki, dan Tondano Pante Anda dapat melihat laut Maluku yang indah, di balik bukit Lembean. Biaya Masuk ke objek wisata ini adalah Rp 4 ribu.

Selain lokasi tepi, di tengah Danau Tondano juga ada sebuah pulau kecil bernama Pulau Likri. Sayangnya, Anda tidak dapat berhenti di pulau itu karena perahu mengikuti rute yang berbeda.

Berbagai kegiatan menarik lainnya yang bisa Anda lihat di danau ini adalah kegiatan menangkap ikan nike yang dilakukan masyarakat setempat dengan menggunakan jaring menyerupai sendok yang dibentuk dari tongkat bambu di kedua sisinya.

Bila rencana liburan Anda belum tersusun, selipkanlah lokasi wisata Danau Tondano diantaranya. Dengan keindahan alam yang dikelilingi pegunungan hijau, Anda tidak akan merugi berkunjung ke sini.(*/X-12)

Mengenal Alam dengan Berwisata di Sulawesi

TAK ada habisnya membicarakan keindahan alam Indonesia. Begitu banyak tempat wisata menonjolkan sisi natural panorama tanah air yang memukau. Salah satunya objek wisata alam Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Keindahan alam yang terhampar di kawasannya dijamin mampu membuat pengunjung terpana, khususnya mereka yang mencintai wisata di alam bebas.

Lokasi taman berada pada dua wilayah kabupaten dan dua wilayah propinsi, yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara dan Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Beberapa objek wisata yang tersedia di taman, diantaranya:

Habitat Maleo Keberadaan maleo (Macrocephalon maleo) merupakan aset berharga bagi nusantara maupun dunia. Objek wisata ini berpotensi mengalami pengembangan untuk kategori wisata minat khusus berupa bird watching. Hewan Maleo bisa dijumpai di dua lokasi, yaitu di Tambun dan di Muara Pusian.

Air Terjun Sungai Tumpah

Kawasannya merupakan habitat beragam jenis burung endemis. Saat menyusuri jalan menuju air terjun, pengunjung akan ditemani kicauan burung-burung khas Sulawesi. Nikmati pula Air Terjun Lombongo dengan tawaran panorama alam dan keindahan hutan yang hijau.

Puncak Bukit Linggua

Pengunjung bisa hiking ke puncak bukit Linggua. Dari puncak Bukit Lingga pengunjung bisa memandangi hamparan hijau kawasan taman nasional serta wilayah pemukiman warga sekitar. Pengunjung juga bisa melakukan aktivitas fotografi.

Pemandian Air Panas Lombongo

Sebagian besar pengunjung menghabiskan waktu mereka di pemandian air panas. Tiap tahunnya jumlah wisatawan meningkat. Pemandian dilelola oleh Pemerintah Kabupaten Bone Bolongo. Biasanya pengunjung berlanjut ke Sungai Boliohuto untuk berendam.

Objek wisata alam lain yang tidak boleh lupa dikunjungi adalah Gua Batu Berkapur yang memiliki keindahan stalaktit dan stalaknit. Taman nasional ini juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti penginapan, tempat makan, kafe, kolam renang air panas, dan ruang pertemuan untuk berdiskusi.

Selengkapnya bisa dilihat pada situs: http://boganinaniwartabone.dephut.go.id (*/X-13)

Serunya Pertandingan Kuda-Kuda Balap Tompaso

wisatanesia.com

DALAM waktu 1,5 jam dari Kota Manado, Anda bisa mampir ke Kecamatan Tompaso untuk menyaksikan pertandingan balap kuda di Arena Pacuan Kuda Tompaso, Sulawesi Utara.

Secara regular, kuda-kuda ini didatangkan dari beberapa wilayah Kabupaten Minahasa. Selain pertandingan atau lomba pacuan kuda, di tempat ini juga terdapat lokasi pemeliharaan kuda-kuda pacu yang hebat. Berani melawan mereka ?

Tompaso adalah salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Minahasa yang berbatasan dengan Kecamatan Kawangkoan, Kecamatan Langowan Barat, Kecamatan Remboken, Kecamatan Langowan Barat dan Kecamatan Kawangkoan.

Objek wisata lainnya yang menarik di Tompaso adalah Watu Pinawetengan yang merupakan peninggalan sejarah tentang pembagian wilayah sub etnis Tountemboan, Tombulu, Tolour, Tonsea, dan Panosakan atau Tonsawang. (wikipedia/*/X-13)

Pergilah ke Gemeh Sebelum Didahului Turis Asing

TALAUD – Ada kalanya seorang wisatawan bosan dengan segala kemapanan dan keteraturan. Ada kalanya wisatawan bosan dengan pariwisata konvensional, di mana semua sudah diatur biro perjalanan, tidur di hotel berbintang, semua serba-terencana, terkemas rapih dengan aroma bisnis yang kental. Terlalu sempurna, monoton, tanpa kejutan dan mungkin tanpa tantangan.

TALAUD – Ada kalanya seorang wisatawan bosan dengan segala kemapanan dan keteraturan. Ada kalanya wisatawan bosan dengan pariwisata konvensional, di mana semua sudah diatur biro perjalanan, tidur di hotel berbintang, semua serba-terencana, terkemas rapih dengan aroma bisnis yang kental. Terlalu sempurna, monoton, tanpa kejutan dan mungkin tanpa tantangan.

Karena itulah, belakangan muncul wisata pedesaan (village tour) yang mencoba menjawab kebosanan itu. Wisata pedesaan memungkinkan wisatawan tidak bersentuhan dengan dunia luar. Tidak ada pesawat televisi, tidak ada surat kabar, tidak ada urusan bisnis. Yang ada cuma kampung, penduduk dan kehidupan keseharian yang serbasederhana dan manual.
Salah satu desa yang terbuka dan bersedia menampung wisatawan adalah desa Gemeh, di Kecamatan Gemeh, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Desa yang dekat dengan perbatasan Filipina ini tetap asli, penduduknya ramah dan keamanan terjamin.
Dari Jakarta, perjalanan ke Talaud dapat dimulai dengan pesawat terbang. Mendarat di Manado, Anda bisa melanjutkannya dengan pesawat kecil ke Melongue di Pulau Karakelang. Ini merupakan pulau terbesar di Talaud. Di Melongue, terdapat banyak speedboat sewaan, lengkap dengan juru mudi dan awaknya. Mereka siap mengantarkan Anda ke bagian mana pun di Kepulauan Talaud.
Yang ingin mencicipi petualangan lain dapat memilih jalur laut. Banyak kapal sejenis feri yang melayani pelayaran dari Pelabuhan Manado ke Talaud. Umumnya, kapal di sini berangkat sekitar pukul 18.00 WITA. Begitu keluar dari Pelabuhan Manado, atau sekitar satu jam kemudian, kapal akan terguncang disebabkan pertemuan arus selatan dan utara di sekitar Pulau Talise.
Kapal akan terus mengarah ke utara. Lihatlah ke sebelah kanan kapal sekitar pukul 22.00 WITA. Di situ ada Gunung Karangentang di Pulau Siau. Puncak Gunung Karangetang selalu berasap dan berwarna merah membara. Terakhir kali, gunung tersebut meletus pada 1976. Hingga kini, gunung itu belum meletus lagi, mungkin karena gunung itu mengalirkan laharnya secara teratur. Pemandangan ini dapat dinikmati dengan perjalanan siang hari.
Sepanjang perjalanan, kapal akan diterjang ombak yang cukup besar. Bagi yang menyukai angin dan udara laut, tempat ini sungguh mengasyikkan. Namun, bagi yang tidak suka angin dan ombak, sebaiknya minum obat antimabuk dan tidur saja di kamar. Besok pagi, sekitar pukul 10.00, kapal akan sampai di Kaburuang, pelabuhan pertama yang biasa disinggahi kapal di Kepulauan Talaud.
Kapal berada di sini sekitar satu atau dua jam untuk menurunkan barang dan penumpang. Lalu, kapal akan melanjutkan perjalanan ke Lirung untuk keperluan yang sama. Dari sana, kapal akan menuju Melongue, Rainis dan terakhir ke Beo. Dari Beo, perjalanan dilanjutkan dengan ojek karena ada jembatan yang putus antara Beo dengan Gemeh. Kelak, ojek dan penumpangnya diseberangkan dengan rakit.
Bagi yang tidak sabar, bisa saja turun di Melongue atau Lirung. Di kedua pelabuhan ini banyak terdapat speedboat yang dapat disewakan untuk langsung menuju Gemeh.
Perjalanan dari Lirung ke Gemeh dengan speedboat makan waktu sekitar empat jam.

Selamat Datang
Desa Gemeh letaknya agak terpencil di sisi barat Pulau Karakelang, pulau terbesar di Kabupaten Talaud. Gemeh tidak memiliki pelabuhan atau dermaga, kecuali pantai yang agak landai untuk pendaratan speedboat.
Di tempat ini terdapat sebuah gapura yang jika dilihat dari arah laut bertuliskan bahasa Talaud, yang jika diindonesiakan berarti ”Selamat Datang di Kampung Kami”. Sebaliknya, ketika kita hendak meninggalkan Gemeh, di balik gapura yang sama terdapat tulisan berbahasa Talaud yang jika diindonesiakan berarti “Selamat Jalan, Semoga Tuhan Menyertai Anda”.
Apakah tulisan di gapura itu sebuah basa-basi? Rasanya tidak, terutama jika Anda sudah masuk ke dalam desa dan tinggal bersama penduduknya. Setiap orang yang lebih muda mengucapkan selamat terhadap orang asing yang berpapasan di jalan.

Rumah Penduduk
Sebelum menginap di rumah penduduk, lapor dulu kepada kepala desa Gemeh. Sang kepala desar akan mengantar Anda ke rumah warga yang bersedia diinapi. Salah satunya adalah keluarga Adonis Maarisit. ”Silakan saja kalau mau menginap di sini,” kata Nyonya Adonis.
Ia hanya tinggal berdua dengan suaminya. Sementara itu, ketiga anaknya sudah keluar semua, merantau. Yang tertua merantau ke Maluku, yang kedua ke Jakarta dan yang bungsu ke Bogor. Ia memiliki tiga kamar, dua di antaranya kosong.
Dua rumah di sebelah kanan rumah Adonis adalah rumah sekaligus sekretariat Lembaga Pemberdayaan Masyarakat. Di rumah ini pun terdapat dua kamar kosong untuk tamu. Dengan menginap di sana, berarti Anda turut memberdayakan perekonomian pedesaan.
Kebetulan pula, di rumah ini terdapat sarana telekomunikasi semacam wartel, yakni telepon PASTI. Anda bisa menghubungi siapa pun dari sini.
Tetapi, Anda jangan berharap menemukan pesawat televisi atau surat kabar di sini. Pasalnya, listrik di sini menggunakan tenaga diesel yang disalurkan ke rumah-rumah penduduk. Listrik sering “byar-pet” sehingga membuat pesawat televisi mudah rusak. Surat kabar juga merupakan barang yang langka karena harus didatangkan dari Manado. Jadi, siap-siaplah menjadi orang yang terisolasi.

Objek Wisata
Ada beberapa objek wisata di Gemeh, yakni, makam raja Larenggam di kaki bukit di desa Arangkaa, dua kilometer dari Gemeh dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Makam tersebut sebenarnya tidak bisa dibilang makam karena jenazah diletakkan begitu saja di gua. Tengkorak kepala dikumpulkan dalam satu bak, sedangkan tulangnya berserakan. Pemandangan serupa terdapat di gua di bagian atas. Gua kedua bisa dicapai lewat jalan setapak.
Gua ini konon juga menjadi tempat bertapa bagi orang-orang yang ingin menuntut ilmu hitam atau ingin bisnisnya maju. Di luar gua terdapat kursi-kursi bambu yang menghadap ke laut lepas, Lautan Pasifik. Pemandangannya indah, anginnya segar, pasirnya putih dan lautnya jernih sehingga menimbulkan suasana tenang.
Objek wisata lainnya adalah memancing bersama penduduk dengan menggunakan perahu dayung. Penduduk desa Gemeh umumnya berprofesi ganda, yakni: petani dan nelayan. Ketika musim ombak besar, mereka bertani dan berkebun di gunung. Ketika laut sedang teduh (ombak kecil) mereka memancing atau menombak ikan.

Ikan Bakar
Renang di laut juga kegiatan yang cukup menarik karena lautnya jernih dan pasirnya putih. Bagi yang suka makan, ikan bakar rica merupakan menu yang menggiurkan, terutama bila disantap sehabis berenang. Dan ikan di daerah sini pasti segar karena baru ditangkap dari laut.
Ikan bakar dapat dikonsumsi bersama nasi, ubi atau sagu. Nasi adalah sesuatu yang agak mahal karena Talaud bukan penghasil beras. Minumannya adalah minuman keras lokal yang lazim disebut cap tikus. Kadar alkoholnya mencapai 70 persen. Tetapi, jika Anda mengharamkan minuman keras, minum saja air kelapa atau air mineral. Tidak perlu khawatir, air mineral di daerah ini sama seperti di Jakarta, yakni, Rp2.000 untuk ukuran 500 mililiter (setengah liter).
”Di desa kami, keamanan adalah nomor satu. Di desa lain, orang yang mabuk bisa berkeliaran di jalanan. Di desa ini, kami melarang mereka berkeliaran,” kata Elmer Laira, seorang aparat Kelurahan Gemeh, Kecamatan Gemeh.
Bagi yang gemar belanja, Anda dapat membeli produk-produk Filipina yang dijual bebas dengan harga yang relatif murah, terutama produk rokok dan minuman keras. Umumnya, mutu barang-barang Filipina itu masih di bawah barang-barang buatan dalam negeri. Jadi, tunggu apalagi. Datanglah ke Gemeh, sebelum Gemeh didatangi turis Asing dan menjadi sangat komersial.
(Sinar Harapan/Isyanto)

Sail Bunaken 2009, Jayalah Lautku

Pesawat Sukhoi TNI AU melesat di atas KRI Dewaruci yang bersama 26 kapal perang asing dan 6 KRI mengikuti parade kapal perang di perairan Teluk Manado, Rabu (19/8).
Pesawat Sukhoi TNI AU melesat di atas KRI Dewaruci yang bersama 26 kapal perang asing dan 6 KRI mengikuti parade kapal perang di perairan Teluk Manado, Rabu (19/8).

Nenek moyangku seorang pelaut/gemar arungi luas samudera/tiada takut ombak dan karang. Demikian petikan lagu yang acap dinyanyikan oleh anak-anak puluhan tahun lalu. Lagu ini, tampaknya mulai terlupakan. Padahal, lagu ini tidak saja lagu yang cocok untuk anak-anak, tetapi juga dapat menggugah kecintaan terhadap laut. Mengingat wilayah Indonesia dikelilingi banyak lautan, dan samudra yang di dalamnya terkandung keanekaragaman biota yang indah. Semua kekayaan laut hingga bibir pantainya yang indah, semuanya adalah potensi pariwisata bagi Indonesia. Karena itu, tidak berlebihan apabila pertengahan Agustus lalu, diadakan Sail Bunaken 2009.

Para peserta upacara mendekati tiang bendera seusai upacara bendera peringatan detik-detik Proklamasi di bawah laut, yang diikuti 2.486 penyelam, di pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, Senin (17/8).
Para peserta upacara mendekati tiang bendera seusai upacara bendera peringatan detik-detik Proklamasi di bawah laut, yang diikuti 2.486 penyelam, di pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, Senin (17/8).

Ide kegiatan Sail Bunaken 2009 mengemuka setelah rencana kegiatan World Ocean Conference (WOC) ditetapkan pada tahun 2008 lalu. Saat itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi berbincang dalam suasana informal dengan Dirjen pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, DKP Aji Sularso. Dalam kesempatan itu, Aji Sularso mengemukakan bahwa kegiatan WOC merupakan sebuah momentum politik RI dalam mengelola potensi laut secara benar. Karena itu, sebagai tidak lanjut dari WOC, perlu diadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Continue reading Sail Bunaken 2009, Jayalah Lautku

Ikan Purba Coelacanth dan Maskot WOC

ikan-purbaMANADO–Dua nelayan asal Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, Yustinus Lahama dan Delfie, tidak menyangka bahwa ikan hasil tangkapannya pada 19 Mei 2007 di perairan Teluk Manado, cukup menggegerkan dunia.

Pasalnya, ikan yang diketahui para ilmuwan dunia itu, sejenis “Latimeria menadoensis” atau Coelacanth, merupakan ikan purba yang sebenarnya sudah dianggap punah sejak 65 juta tahun lalu.

Sekarang ikan tersebut telah dipajang di lokasi pelaksanaan World Ocean Conference (WOC) dan Coral Triangle Initiative (CTI) Summit, 11-15 Mei 2009, dan menjadi perhatian peserta dari berbagai negara.

Yustinus mengatakan, ikan purba tersebut ditangkap ketika tersangkut di kail miliknya. Ketika ditarik nampak seekor ikan dengan panjang kurang lebih satu meter dan berat berkisar 30 Kg disertai bintik-bintik putih. Continue reading Ikan Purba Coelacanth dan Maskot WOC

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

peta-boganiTaman Nasional Bogani Nani Wartabone yang sebelumnya bernama Dumoga Bone, memiliki berbagai keunikan ekologi sebagai kawasan peralihan geografi daerah Indomalayan di sebelah Barat dan Papua-Australia di sebelah Timur (Wallaceae Area).

Tumbuhan yang khas dan langka di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yaitu palem matayangan (Pholidocarpus ihur), kayu hitam (Diospyros celebica), kayu besi (Intsia spp.), kayu kuning (Arcangelisia flava) dan bunga bangkai (Amorphophallus companulatus). Sedangkan tumbuhan yang umum dijumpai seperti Piper aduncum, Trema orientalis, Macaranga sp., cempaka, agathis, kenanga, berbagai macam jenis anggrek, dan tanaman hias.

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone memiliki 24 jenis mamalia, 125 jenis aves, 11 jenis reptilia, 2 jenis amfibia, 38 jenis kupu-kupu, 200 jenis kumbang, dan 19 jenis ikan. Sebagian besar satwa yang ada di taman nasional merupakan satwa khas/endemik pulau Sulawesi seperti monyet hitam/yaki (Macaca nigra nigra), monyet dumoga bone (M. nigrescens), tangkasi (Tarsius spectrum spectrum), musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii), anoa besar (Bubalus depressicornis), anoa kecil (B. quarlesi), babirusa (Babyrousa babirussa celebensis), dan berbagai jenis burung. Continue reading Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Taman Nasional Bunaken

Peta Bunaken
Peta Bunaken

Taman Nasional Bunaken merupakan perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia yang terdiri dari ekosistem hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem daratan/pesisir.

Pada bagian Utara terdiri dari pulau Bunaken, pulau Manado Tua, pulau Montehage, pulau Siladen, pulau Nain, pulau Nain Kecil, dan sebagian wilayah pesisir Tanjung Pisok. Sedangkan pada bagian Selatan meliputi sebagian pesisir Tanjung Kelapa.

Potensi daratan pulau-pulau taman nasional ini kaya dengan jenis palem, sagu, woka, silar dan kelapa. Jenis satwa yang ada di daratan dan pesisir antara lain kera hitam Sulawesi (Macaca nigra nigra), rusa (Cervus timorensis russa), dan kuskus (Ailurops ursinus ursinus).

Jenis tumbuhan di hutan bakau Taman Nasional Bunaken yaitu Rhizophora sp., Sonneratia sp., Lumnitzera sp., dan Bruguiera sp. Hutan ini kaya dengan berbagai jenis kepiting, udang, moluska dan berbagai jenis burung laut seperti camar, bangau, dara laut, dan cangak laut.

Jenis ganggang yang terdapat di taman nasional ini meliputi jenis Caulerpa sp., Halimeda sp., dan Padina sp. Padang lamun yang mendominasi terutama di pulau Montehage, dan pulau Nain yaitu Thalassia hemprichii, Enhallus acoroides, dan Thalassodendron ciliatum. Continue reading Taman Nasional Bunaken