Category Archives: Sumatra Barat

Terpesona di Lembah Harau

LEMBAH Harau merupakan salah satu lembah terindah yang ada di Indonesia. Lembah yang dikelilingi batu granit terjal berwarna-warni dengan ketinggian mencapai 100 hingga 500m itu terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat.

Lembah Harau memiliki iklim tropis, tanah yang subur, serta keindahan pemandangan alam yang mengagumkan. Pagar tebing curam berwarna kemerahan yang menjulang tinggi, menjadi pembatas lembah.

Pesona Harau yang memukau membuatnya dijuluki sebagai Lembah Yosemite di Indonesia karena keindahannya menyerupai Taman Nasional Yosemite yang berada di Sierra Nevada California.

Harau sendiri dipercaya berasal dari kata ‘parau’ yang menurut istilah lokal berarti suara serak. Penduduk yang berdiam di atas Bukit Jambu, dulunya sering mengalami banjir dan longsor. Hal tersebut menciptakan kegaduhan dan kepanikan sehingga banyak penduduk berteriak dan menimbulkan suara parau.

Penduduknya yang memiliki ciri khas dengan suara parau, membuat daerahnya disebut sebagai ‘orau’ yang kemudian berubah menjadi ‘Arau’. Saat ini penyebutannya lebih sering dikenal dengan nama ‘harau’.

Anda bisa menjangkau Lembah Harau menggunakan kendaraan umum melalui Bukittinggi, menyewa minivan, atau dengan sepeda motor. (indonesia.travel/*/X-13)

Jembatan Akar Berumur 100 Tahun?

SEBUAH jembatan akar yang diuperkirakan berumur sekitar 100 tahun di Sumatra Barat menjadi objek wisata yang unik untuk dikunjungi. Berbeda dengan jembatan akar lain yang dibangun menggunakan campuran bahan semen, jembatan akar ini secara keseluruhan dirajut dari akar pohon yang tumbuh dari kedua sisi sungai. Panjangnya yang mencapai 25 meter, melebihi panjang jembatan akar yang terletak di Badui, Jawa Barat dan jembatan akar di Jepang.

Objek wisata ini terletak kurang lebih 88 km sebelah selatan kota Padang, kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Tempat ini bisa diakses menggunakan angkutan umum, travel, mobil sewaan atau mobil pribadi.

Jika menggunakan jasa angkutan umum, perjalanan akan dimulai dari kota Padang menuju Painan (ibu kota kabupaten), yang kemudian mengarah ke Kec. Bayang. Bagi wisatawan yang menggunakan mobil sewaan atau mobil pribadi bisa langsung menuju lokasi objek wisata.

Wisatawan yang datang dari luar kota dapat menginap di hotel dan penginapan yang ada di kota tersebut. Meski didekat lokasi objek wisata terdapat beberapa warung kecil yang menyediakan minuman ringan dan mie instan, wisatawan disarankan untuk membawa bekal makanan sendiri. Jembatan dari akar pohon beringin ini sepanjang 15 meter dengan lebar satu meter. (*/X-13)

Rona-rona Singkarak

BILA gugusan awan menyibak, di arah selatan dari puncak Gunung Marapi (2891 Mdpl), panorama Danau Singkarak tak ubah seperti genangan air di salah satu cekungan Bukit Barisan. Marapi, merupakan puncak tertinggi untuk melihat keindahan danau terbesar di Sumatra Barat tersebut.

Keelokan Danau Singkarak dapat juga lebih dekat disaksikan dari Bukit Aua Sarumpun, Ombilin, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar. Danau Singkarak membentang panjang dari arah utara di Kabupaten Tanah Datar ke arah tenggara di Kabupaten Solok, sepanjang 20 km.

Dengan lebar danau mencapai 6,5 kilometer, berair biru dari kejauhan, Singkarak memang ‘milik’ dua kabupaten itu. Di lalui jalur lintas tengah Sumatra di bagian timur danau, membuat Singkarak mudah diakses. Dari Padang, danau ini berjarak hampir 100 kilometer melalui jalur Kota Padang Panjang. Dari arah selatan, Singkarak hanya berjarak belasan kilometer dari Kota Solok.

Danau yang sudah tersohor itu merupakan satu-satunya danau di Sumbar yang dilalui jalur kereta api yang membentang antara Padang Panjang dengan Sawahlunto. Dan ada cara lain menikmati panorama danau ini, yaitu dari kereta wisata yang sudah dirancang melalui jalurnya.

Berkereta menyusuri rel yang berliku di pinggiran Singkarak, memberi nuansa yang berbeda. Di pinggir Singkarak, Anda bisa sepuasnya berendam dan berenang di airnya nan sejuk. Setidaknya ada tiga lokasi wisata yang biasa dijadikan wisatawan untuk berenang, yaitu di Dermaga dan Tikalak, Kabupaten Solok serta di Tanjung Mutiara, Kabupaten Tanah Datar.

Bagi yang tak terbiasa berenang di air tawar, Anda bisa menyewa pelampung seharga berkisar Rp5 ribu sampai Rp10 ribu. Anda juga dapat berkeliling sejenak dengan menyewa boat atau bagi yang ingin santai bisa mengendarai sepeda air.

Penat bermain air, di sepanjang sisi timur, puluhan rumah makan dengan masakan khas danau sudah tersedia. Menu yang paling terkenal, apa lagi kalau bukan, goreng ikan bilih lado hijau. Ikan bilih adalah spesies ikan kecil sebesar jari kelingking orang dewasa yang hanya ada di Danau Singkarak. Rasanya gurih, karena hidup di air yang jernih dengan makanan alami.

Ikan bilih juga dijual dalam bentuk kering, sehingga bisa dibawa sebagai oleh-oleh. Harganya sekitar Rp50 ribu per kilogram, tergantung sedang musim atau tidak.

Bagi yang punya waktu cukup panjang dan gemar memancing, Anda bisa memilih tempat memancing di seputar danau, dengan keliling sekitar 50 kilometer itu. Ada 19 spesies ikan yang hidup di Singkarak. Selain ikan Bilih, ada ikan Asang, Turiak/turiq, Lelan, Sasau/Barau serta Gariang/Tor.

Banyaknya spesies ikan di Singkarak, menjadikan damau dengan luas permukaan mencapai 11.200 hektare itu, tidak saja menawarkan keindahan, namun juga kehidupan bagi warga di sekitarnya. Ikan bukan saja menjadi konsumsi sendiri, juga untuk dijual.

Dalam bentuk kering, ikan bilih juga sudah dijual di Padang atau Bukittinggi, dua kota terbesar di Sumbar yang lebih banyak dikunjungi pelancong.

Setahun terakhir, sebenarnya Singkarak sudah semakin sering dilafaskan masyarakat dunia, terutama bagi penggemar olah raga sepeda. Singkarak, menjadi ikon baru pariwisata Sumbar karena adanya even balap sepeda internasional: Tour de Singkarak.

Dimulai pertama kali 2009, pada 2010 tour ini akan kembali digelar dan dirancang dihadiri lebih banyak pebalap internasional.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumbar James Hellyward mengatakan Tour de Singkarak 2010 yang dimulai 1 Juni nanti, diikuti sekitar 200 pebalap dari 24 negara. Jumlah ini meningkat dibanding even pertama yang terbilang sukses dan diikuti 15 negara dengan 150 pebalap.

Tour ini menjadi unik, karena menggabungkan olah raga dengan pariwisata. Rute balap yang menyusuri keindahan alam Minangkabau, menjadi tambah unik karena dibalut dengan sajian budaya dan pasar rakyat.

“Masyarakat Sumbar ingin menjadikan even ini sebagai titik tolak untuk kebangkitan pariwisata daerah ini. Terkenalnya Sumbar di dunia karena gempa pada 30 September lalu, menurut kami, malah merupakan promosi gratis. Kita tinggal menambahkan, daerah ini bukan hanya ‘punya’ gempa. Lihatlah keelokan alamnya, keunikan budayanya dan bagaimana lezat kulinernya,” ujarnya bersemangat.

Sumbar memang tak berpangku tangan, meski beberapa kali didera bencana. Pariwisata daerah ini terus menggeliat. Bukittinggi malah sudah ramai dikunjungi beberapa pekan setelah gempa. Kini, giliran Singkarak menanti ‘dunia.(M-1)

Cubadak, Pulau Indah yang belum Terjamah

PULAU Cubadak yang merupakan salah satu dari puluhan pulau kecil di lepas pantai Sumatra Barat, masih belum banyak dikenal. Padahal, pulau yang dijuluki sebagai Paradiso Village ini memiliki pesona bahari yang menakjubkan.

Sejumlah villa yang menghiasi pinggir pantainya berbahan dasar kayu dengan atap dari daun palam. Bangunan villa tertata rapi menghadap ke laut. Kebanyakan perabotannya terbuat dari rotan dan kayu. Sedangkan untuk karpet, alas meja, selimutnya terbuat dari tenunan tangan.

Setiap villa terdiri atas beranda, kamar tidur, tempat tidur dengan kelambu (khusus di lantai dua), kamar mandi besar denga air panas dan dingin. Bila ingin minum, bisa mengambil langsung dari wastafel. Hal ini memudahkan wisatawan yang berkunjung ke desa.

Olahraga air yang menjadi andalan bagi para wisatawan adalah menyelam. Jika ingin melakukan penyelaman namun belum berpengalaman, tersedia instruktur bersertifikat internasional yang siap melatih dan memberikan panduan.

Aktivitas air lainnya yang sayang untuk dilewatkan diantaranya berselancar angin, berlayar, snorkeling, ski air atau naik kano. Sayangnya pulau Cubadak tidak menyediakan alat untuk kegiatan jet ski karena suara yang dihasilkan dari transportasi tersebut akan mengganggu ketenangan para tamu.

Selain menghabiskan waktu di kawasan perairannya, menjelajahi pulau juga menjadi pilihan yang tak kalah menarik. Pulau Cubadak masih memiliki hutan lebat dengan bukit runcing yang tak terlalu tinggi. Meski bukitnya bertekstur berliku, cukup terbilang aman bila anda ingin melakukan pendakian. (*/X-13)

Sawah Lunto Trip Sejarah di Kota Tambang Berbudaya

Tak hanya bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial yang bisa dijumpai disini, lokomotif uap yang usianya lebih dari seratus tahun juga siap membawa Anda menghirup suasana Eropa di Sawahlunto.

Awalnya merasa aneh dan asing berjalan kaki sendirian menyusuri jalan berliku dan menurun. Tidak ada satupun orang berjalan, meski trotoar untuk pejalan kaki pada sisi jalan tertata rapi berpadu dengan rimbunan hijau daun. Semua orang tampak
berkendara. Sejenak terlintas untuk memberhentikan kendaraan dan ikut menumpang sampal tujuan layaknya pengembara pada film-film Hollywood.

Tapi niat itu urung saya lakukan, karena pemandangan menyusuri jalan dari penginapan menuju pusat kota Sawahlunto begitu menakjubkan saya akan menikmati sambil mencari sudut pengambilan gambar yang bagus. Kota kecil di Sumatera Barat yang pernah jaya dengan tambang batu bara ini mempunyai topografi dan bentangan alam yang sangat menarik.

Secara geografis “kota Arang” ini terletak pada 0.34-0.46 Lintang Selatan dan 100.41-100.49 Bujur Timur. Menunjukkan Sawahlunto terletak di daerah dataran tinggi pada bagian tengah Bukit Barisan, pegunungan yang membujur sepanjang Pulau Sumatera.

Letaknya berada pada ketinggian antara 250-650 meter di atas permukaan laut. Namun demikian, kota peninggalan Belanda ini terbilang cukup panas karena kandungan batu bara didalamnya, suhunya berkisar antara 22,5 sampai 27,5 derajat celsius.

Atas dasar hal tersebut, bagi Anda yang ingin berwisata ke Sawahlunto sebaiknya memakai pakaian yang mudah menyerap keringat dan nyaman dipakai. Kendati kota ini baru beberapa tahun menjelma menjadi kota wisata, Sawahlunto memiliki obyek wisata sejarah andalan yang dapat dinikmati. Atmosfer wisata membawa kita kepada eksotisme kejayaan peninggalan Belanda, sangat kental dengan aroma kolonialisme.

Pemandangan kota tua yang masih terpelihara langsung manyeruak pandangan mata. Dari kejauhan sejumlah bangunan tua bertebaran menjadi tempat tinggal penduduk, perkantoran atau aneka kios diatas tanah yang berbukit. Diatas bukit yang masih dominan warna hijau pepohonan terpampang tulisan Sawahlunto. Inilah wisata kota tua yang masih terjaga dengan baik.

Ada beberapa bangunan peninggalan yang menjadi landmark (penanda kota) Sawahlunto. Langkah kaki pun terhenti ketika melihat tiga buah tabung beton raksasa. Penduduk setempat menyebutnya Silo, merupakan tempat penyimpanan batubara yang masih berdiri kokoh menceritakan kejayaan masa lalu kepada siapapun yang datang. Ini menjadi penanda kota yang saya jumpai pertama.

Bangunan kedua beraksitektur Belanda yang juga membuat kagum mata adalah kantor PT. BA (Bukit Asam) yang lokasinya tepat di jantung kota. Dibangun pada 1916 dan masih terawat dengan baik sesuai fungsinya, meski warna dindingnya sudah tidak asli lagi.

Lokasinya berpadu dengan taman berbentuk segitiga, sehingga masyarakat menyebutnya dengan lapangan segitiga. Disinilah warga biasa berkumpul menikmati senja dan liburan setiap minggunya. Dan di sini pula tempat berbagai acara lokal maupun nasional digelar oleh pemerintah kota setempat.

Berjalan lagi menyusuri bangunan-bangunan tua, ada sebuah galeri infobox yang bercerita mengenai sejarah tambang. Foto-foto pekerja tambang, peralatan, seragam, bahkan rantai dan borgol besi yang dipakai oleh orang rantai (sebutan pekerja tambang zaman kolonial) menjadi koleksi galeri ini.

Di sebelahnya terdapat obyek wisata Lobang Mbah Suro. Ini merupakan bekas tambang yang sudah tidak aktif lagi. Nama obyek di ambil dari seorang pekerja tambang dengan jabatan mandor yang bernama Mbah Suro.

Bekas ekploitasi tambang ini mulai di gali pada 1898 oleh orang-orang rantai dan merupakan tambang pertama di patahan Soegar. Ditutup sebelum 1930 karena tingginya rembesan air. Kemudian dibuka kembali sebagai obyek wisata tambang lengkap dengan galeri infobox dan monumen orang rantai buah karya salah satu keturunan dari orang rantai, Suparman dan anaknya.

Monumen berupa dua orang pekerja tambang sedang mendorong troly berisi batu bara di bawah pengawasan menir berpakaian Belanda, merupakan gambaran kehidupan orang rantai yang bekerja di bawah kerasnya dunia tambang zaman penjajahan. Meskipun mereka sudah berada dalam aturan ketat pekerjaan tetapi kaki mereka tetap di rantai.

Suasana mencekam seolah merasakan apa yang mereka rasakan dibawah tekanan penguasa ketika mulai memasuki lobang. Pengunjung dipersilahkan menyusuri Lobang Mbah Suro dengan pendamping. Sebelumnya harus memakai pakaian standar berupa helm dan sepatu boot yang telah tersedia.

Tidak jauh dari Lobang Mbah Suro masih ada sebuah bangunan peninggalan lain yang kini menjadi Museum Gudang Ransum. Di dalamnya, pengunjung bisa melihat koleksi peralatan masak serba besar yang pernah dipergunakan dapur umum untuk pekerja tambang. Dibangun pada 1918, koleksi dan keterangan di dalamnya juga menceritakan betapa kejamnya dunia tambang.

Pada bekas dapur umum ini perampasan makanan dan keributan sesama pekerja sudah lazim terjadi ketika itu. Disamping koleksi dapur umum, komplek Gugang Ransum ini juga menceritakan sejarah masa lalu dari berbagai segi kehidupan yang tertuang pada beberapa galeri. Diantaranya galeri etnografi, galeri foto tempo dulu, pusat peragaan Iptek, dan galeri Malaka sebagai bentuk kerjasama Sawahlunto dengan negeri Malaka (twin city).

Selesai pada bagian ini, sejarah peninggalan lain tampaknya menunggu untuk dikunjungi. Sawahlunto memiliiki sebuah Museum Kereta Api yang diresmikan lima tahun lalu. Museum ini dahulunya merupakan sebuah Stasiun Kereta Api yang dibangun 1912, dan tidak dipakai lagi sejak 2003 karena pengangkutan batu bara ke Padang tidak lagi menggunakan kereta api.

Ada satu koleksi kereta uap yang kini difungsikan sebagai kereta wisata dengan rute Sawahlunto – Muara Kelaban pulang pergi. Memakan waktu sekitar setengah jam, dan melewati terowongan sepanjang 1 km akan menjadi kenangan tersendiri di Kota Tambang ini.

Namun sayangnya biaya operasional yang sangat tinggi mengakibatkan wisatawan enggan mencarter kereta wisata untuk mengenang masa lalu. Sekali perjalanan menghabiskan batu bara kurang lebih satu ton. Tapi untuk kalangan pelajar, pemerintah kota memberikan subsidi 50 persen.

Lokomotif uap seri E 1060 yang diberi nama “Mak Itam” ini merupakan kereta yang pernah beroperasi di Sawahlunto. Kemudian sempat menjadi koleksi Museum kereta Api di Ambarawa, Semarang. Tahun 2009 Pemkot Sawahlunto meminta kembali untuk menjadi kereta wisata dan koleksi Museum Kereta Api di Sawahlunto.

Masih dengan wisata sejarah, peninggalan Komplek Pemakaman membuktikan kejayaan Belanda di Sawahlunto. Pemakaman orang-orang Belanda dan sebagian juga Cina menunjukkan bahwa dahulu mereka menempati hierarki sosial atas. Pemakaman di bangun dengan struktur fisik yang indah.

Berkunjung ke Sawahlunto tentu akan mengembalikan ingatan kita pada zaman kolonial di negeri ini. Suasananya melambungkan jauh imajinasi ke Eropa sana dengan penataan kota dan bangunan yang ada. Bahkan tempat menginap wisatawan pun beraroma tempo dulu dengan banguna kuno yang berubah fungsi menjad hotel dan wisma.

Namun, terlepas dari sejarah yang begitu kental, keragaman budaya dan penduduknya yang multietnis mencirikan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Maka jangan heran jika Anda menjumpai banyak penduduk yang berbincang dengan bahasa Jawa. Karena memang mereka orang Jawa yang merantau, atau keturunan orang rantai yang telah menjadi warga Sawahlunto. Jangan heran pula jika kesenian kuda lumping kerap ditampilkan dan tidak asing di sini.

Sumber: Majalah Travel Club

Surau Tua Minangkabau Tanah Datar – Sumatera Barat

Sumatera Barat merupakan daerah tertua di Nusantara yang menjadi salah satu pusat sebaran ajaran Islam. Menengok sejarah Islam di Minangkabau, Sumatera Barat (Sumbar) tidak telepas dari kehidupan surau. Keberadaan peninggalan sejarah Islam berupa surau-surau tua beserta bukti sejarah didalamnya mengindikasikan bahwa masyarakat Sumbar memiliki kebudayaan maju.

Kebanyakan surau menjadi pusat pembelajaran Islam termasuk dalam melahirkan kebudayaan seperti halnya reproduksi naskah kuno dan ilmu beladiri silat. Surau di Ranah Minang bahkan menjadi center of excellence atau pusat kegiatan intelektual masyarakat.

Fungsi surau sebagai pusat penulisan dan penyalinan teks Al Quran, tafsir, tauhid, figih, mantik, ma’ani, kitab-kitab pelajaran Bahasa Arab, juga sebagai pusat pendidikan agama, serta sebagai tempat pendidikan yang berkenaan dengan tradisi dan adat istiadat Minangkabau sejak ratusan tahun silam.

Jejak Islam ini dapat ditelusuri dengan ditemukannya surau-surau yang memiliki koleksi manuskrip (naskah) yang berusia lebih dari tiga abad. Dan sampai saat ini setidaknya masih ada puluhan surau kuno yang masih terjaga menurut kriteria di atas. Surau-surau ini tentu sebuah potensi wisata religi yang tersebar di berbagai daerah di Sumbar.

Terutama daerah Darek dengan tiga Luhak utama yaitu; Tanah Datar, Luhak Lima Puluh Kota, dan Luhak Agam, rata-rata memiliki tempat-tempat yang berpotensi untuk dijadikan daerah tujuan wisata religi. Belum lagi di daerah Rantau, dikenal sebagai daerah pesisir Minangkabau, juga banyak tempat peninggalan Islam.

Sebaran tujuan wisata di Darek dan Rantau, mengindikasikan masuknya Islam ke Minangkabau melalui dua jalur dengan dua periode. Pertama Islam masuk dari Selat Melaka dan membentuk koloni di Luhak Lima Puluh Kota. Kedua, Islam masuk melalui pesisir Minangkabau yang merupakan kelanjutan dari rute Aceh.

Dalam perkembangannya, daerah pesisir lebih terkenal sebagai pusat sebaran Islam di Minangkabau, seperti ungkapan adat: Syarak Mandaki, Adat Manurun. Artinya agama datang dari pesisir, sedangkan adat warisan daerah Darek. Namun demikian keduanya meninggalkan jejak sejarah Islam yang bernilai tinggi.

Kita tengok satu wilayah saja peninggalan di Luhak Tanah Datar, selain memiliki situs-situs budaya religius seperti Makam Tuan Kadhi – salah seorang dari Basa Ampek Balai yang sangat penting dalam konteks ideal masyarakat tradisi Minangkabau-di Padang Ganting, Surau dan Makam Syeh Abdurrachman di Kumango, Masjid Tua di Limau Kaum, Masjid Rao-Rao, dan situs Tuanku di Simabur, serta komplek surau di Pariangan yang merupakan gambaran ideal mengenai harmonisasi pengembangan beberapa mazhab Islam di Minangkabau.

Usianya yang tua, arsitekturnya yang unik, koleksi manuskrip yang ada, dan aktivitas ritual yang khas, serta sumber air panas yang alami, menjadi modal utama dalam mengundang wisatawan untuk datang.

Sumber: Majalah Travel Club

Cerita Malin Kundang Jadi Batu

Alkisah pada suatu masa hiduplah keluarga nelayan dengan satu anak laki-laki di pesisir pantai Sumatera. Anak yang cerdas sedikit nakal itu bernama Malin Kundang. Sepeninggal ayahnya pergi berlayar yang tak kunjung tiba, ia pun ikut mengadu nasib berlayar mencari kesuksesan di nagari (negri) sebrang.

Ibunya Malin Kundang merestui walau berat dalam hati. “Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak,” ujar ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.

Singkat cerita kapal yang ditumpangi Malin Kundang dirampok dan tenggelam bajak laut. Namun, Malin Kundang selamat dan terdampar di sebuah desa yang subur. Disinilah impian Malin terwujud manjadi saudagar yang kaya raya, sehingga beritanya sampai pula pada ibunya nan jauh dikampung halaman.

Dalam sebuah pelayaran dengan kapal yang sangat mewah beserta istri, Malin Kundang berlabuh di kampung halaman. Penantian ibunya tiba juga, keyakinan tinggi bahwa saudagar kaya ini adalah anaknya karena ada tanda bekas luka. “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?,” katanya sambil memeluk Malin Kundang.

Tapi apa yang terjadi kemudian. Malin Kundang melepaskan pelukan ibunya seraya mendorongnya hingga jatuh. “Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku,” kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu terhadap istrinya.

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, tidak menduga anaknya menjadi durhaka. Kemarahannya memuncak, ibu Malin Kundang berdoa “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.

Doa ibu terkabul. Tidak berapa lama angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Legenda ini seolah meninggalkan bukti sejarah yang ada di Pantai Air Manis.

Percaya atau tidak, hanya Anda yang bisa menjawab setelah berkunjung ke sana.

Sumber: Majalah Travel Club

Makan Bajamba Kemasan Pariwisata dari Akar Budaya

Berbagai acara digelar Pemkot Sawahlunto untuk memeriahkan hari jadinya. Puncak hari ulang tahunnya pada 1 Desember, selalu menampilkan ritual Makan Bajamba sebagai puncak acara. Sawahlunto telah menyelenggarakan budaya Makan Bajamba sebanyak empat kali dan telah menjadi agenda tahunan untuk menarik wisatawan datang ke “Kota Arang” tersebut.

Tidak hanya Sawahlunto, beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat pun melaksanakan budaya yang sama dalam menciptakan keunikan dan daya tarik pariwisata. Di Kabupaten Agam pada momen-momen tertentu, Makan Bajamba menjadi semacam ritual wajib yang mesti dijalankan oleh warga Koto Gadang tersebut.

Contoh lain, pada Kabupaten Tanah Datar ketika penyelenggraan lomba balap sepeda internasional “Tour de Singkarak 2010”. Ketika salah satu etape finish di Kapubaten Tanah Datar, seluruh peserta dan official serta tamu undangan mendapat jamuan Makan Bajamba di Istana Pagaruyung.

“Ini merupakan suatu strategi marketing jualan pariwisata dengan memanfaatkan budaya, khususnya di Sumatera Barat,” ujar Sapta Nirwandar, Dirjen Pemasaran Kementrian Budaya dan Pariwisata waktu itu.

Makan Bajamba sendiri memang berasal dari akar budaya Minangkabau yang secara turun temurun masih dilaksanakan hingga saat ini. Merupakan sebuah ritual budaya makan bersama yang diadakan dalam lingkup keluarga dekat, dalam hal ini adanya pertalian darah.

Namun demikian, tidak jarang dilakukan dalam lingkup yang lebih luas, seperti persaudaraan satu suku kendati tidak ada hubungan darah (suku dalam adat Minangkabau hampir sama dengan marga dalam adat Batak). Kekeluargaan dan gotong royong sudah terasa pada tahap pertama dalam proses mempersiapkan makanan, karena memasak dilakukan bersama-sama.

Kemudian prosesi Makan Bajamba ini dilakukan dengan beberapa aturan yang sudah ditetapkan oleh para leluhur atau sesepuh adat di Bumi Minang. Biasanya ritual ini diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran, kemudian diiringi dengan petuah atau ucapan dari tuan rumah atau pemuka adat yang hadir pada saat itu.

Budaya Makan Bajamba memiliki beberapa aturan adat sebagai simbolis penghormatan kepada yang lebih tua, seperti menyuap (mengambil makanan dengan tangan) yang pertama kali harus yang paling tua. Dan yang menambahkan makanan dan lauk pauknya dilakukan oleh anggota keluarga yang paling muda, serta tetap menjaga tata krama dan etika pada saat makan.

Makanan disajikan dalam piring-piring besar, biasanya berdiameter minimal 70 cm, dan disantap oleh lima sampai enam orang dalam satu piring atau jamba (wadah) dengan posisi duduk di lantai mengelilingi piring. Posisi perempuan bersimpuh, sedang yang laki-laki baselo (bersila). Tujuannya bila ada nasi yang jatuh ketika hendak masuk mulut tidak kembali masuk ke dalam piring. Jadi, yang lain tidak merasa jijik untuk memakan nasi tersebut secara bersama-sama.

Lauk pauk yang wajib menjadi teman Makan Bajamba tentunya adalah masakan khas Sumatra Barat, rendang daging yang dicampur dengan kacang pagar. Potongan dagingnya tidak terlalu besar, namun dirasa cukup untuk dimakan berlima. Isi satu porsi rendang adalah tiga potong daging ditambah sedikit kacang dan bumbu rendang.

Ketiga jenis lauk tersebut, dihidangkan bersama-sama nasi dalam jamba besar dan ditambah sepiring nasi untuk tambuah (tambahan). Kegunaannya untuk mengelap atau menyerap minyak dari sambal yang sudah dimakan tadi. Sebelum tangan dicuci dalam kobokan, minyak yang melekat di tangan sudah semakin terserap sampai suapan terakhir.

Acara Makan Bajamba ini biasanya dijadikan sebagai pelengkap bagian acara adat lainnya seperti pernikahan, khitanan, halal bihalal, khatam Al Quran dan beberapa acara adat lainnya. Inilah mengapa ritual Makan Bajamba dipilih sebagai prosesi adat yang layak jual sebagai daya tarik wisata di Sumatera Barat. Karena sangat sesuai dan mudah dikombinasikan dalam lingkup yang lebih luas sebagai pelengkap acara-acara kabupaten kota, baik bersifat nasional maupun internasional.

Sangat menarik memang, terlebih jika prosesi Makan Bajamba sebagai jualan pariwisata selalu diiringi dengan budaya minang lainnya. Dalam perhelatan akbar menyambut ulang tahun Sawahlunto 122 tahun, banyak pagelaran budaya yang menyertainya. Dan tidak pernah ketinggalan tradisi berbalas pantun sebelum proses Makan Bajamba dimulai.

Dengan bahasa daerah setempat dan nada serta intonasi yang diakhirnya selalu dengan bunyi yang sama, mengandung kekayaan budaya Melayu yang khas. Mungkin bagi orang yang mengerti bahasa setempat menjadi lebih indah dalam menyelami bunyi dan makna.

Ini adalah kekayaan seni dan budaya Indonesia yang berakar pada sastra lisan, dan sudah sepatutnya dilestarikan. Tradisi pantun dalam Makan Bajamba merupakan simbol atau kata salam bagi mereka yang datang (wisatawan) dan kata penerimaan bagi tuan rumah. Sama halnya dengan tradisi buka palang pintu pada masyarakat Betawi, ketika hendak melangsungkan pernikahan.

Di samping itu, ada lagi daya tarik lain dari segi kostum yang digunakan peserta Makan Bajamba. Dalam pakem budaya yang sebenarnya, pakaian yang dikenakan haruslah pakaian adat lengkap dengan hiasan kepala berbentuk tanduk. Untuk kaum wanita harus mengenakan baju kurung dengan bahan satin bagi usia muda, dan volvet untuk yang sudah berumur. Namun, seiring perkembangan zaman, karena jenis bahan tersebut sudah jarang diproduksi lagi, maka makin bervariasi bahan baju kurung yang dipakai dalam adat ini.

Warna pakaian yang terang-benderang seperti merah, kuning, merah jambu dan manik-manik yang berkilauan menjadi warna pilihan kaum wanita saat prosesi adat Makan Bajamba berlangsung.

Acara makan dimulai ketika pantun ditutup dengan rima terakhir “mari makan”. Suasana santai dan harmonis sangat terasa. Siapapun boleh ikut makan tanpa terkecuali dan tanpa adanya perbedaan. Inilah budaya dan tradisi yang dapat Anda nikmati sebagai kemasan pariwisata.

Diantara modernitas jamuan makan secara prasmanan, Makan Bajamba menjadi salah satu cermin kehidupan yang kaya dengan nilai-nilai warisan yang masih dipelihara di Sumatera Barat.

Sumber: Majalah Travel Club

Pantai Air Manis Lekat Legenda Rakyat

Matahari siang itu masih malu menyinari bumi, entah sembunyi dimana. Perjalanan menuju Pantai Air Manis jadi terasa lebih sejuk. Melewati perbukitan, beberapa tikungan tajam. Menanjak, sesekali menurun yang dihiasi rimbunan pepohonan dan semak belukar pada sisi-sisi jalan.

Tampak pula sesekali pemandangan Kota Padang dan luasnya lautan dikejauhan dengan ombak-ombak bergulung berkejaran menuju daratan berpasir. Pantai yang terletak di Kecamatan Padang Selatan ini, memakan waktu tempuh perjalanan darat sekitar 30 menit dari pusat Kota Padang.

Pantainya cukup rimbun, dipenuhi pepohonan yang diselingi gazebo-gazebo tempat bersantai para pelancong. Begitu luas memberikan lokasi bermain bagi para pengunjung. Pada saat pasang surut, pegunjung bisa melihat biota laut yang muncul ke permukaan.

Di sana, terdapat Pulau Pisang Kecil yang berada tak jauh dari tepian Pantai Air Manis. Pulau yang tak begitu luas ini bisa dimanfaatkan sebagai tempat tetirah, sambil menikmati bekal makanan. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki ketika air sedang surut, hanya jangan terlena untuk berlama-lama karena khawatir air segera pasang dan menutup jalan kembali ke pantai.

Pulau Pisang Kecil dihiasi dengan pohon Jambu Kaliang, jika beruntung bisa menikmati buahnya secara gratis. Tak jarang, kalangan muda di Kota Padang memanfaatkan Pantai Air Manis sebagai tempat perkemahan. Ombak bergulung di pantai ini pun kadang digunakan untuk berselancar. Sangat pas bagi pemula, ombaknya tidak terlalu besar dan juga tidak kecil.

Selain panorama pantai, ada hal istimewa yang mampu membangkitkan gairah berwisata ke Pantai Air Manis. Legenda Malin Kundang seolah bukan hanya cerita rakyat semata, melainkan menanamkan nilai moral kepada anak untuk berbakti terhadap orang tua.

Sekumpulan batu dan relief cerita si anak durhaka Malin Kundang menghiasi kawasan wisata pantai yang dipadati pengunjung di waktu liburan. Konon, serakan batu tersebut merupakan kapal besar dan jasad Malin Kundang yang terdampar. Susunannya memang sudah tak beraturan, tapi bentukan batu itu seolah menyatakan kebenaran cerita si anak yang dikutuk sang ibu karena durhaka itu.

Disekitar batu-batu yang menyerupai kapal berserta isinya, terdapat kedai-kedai sederhana. Pesanlah es kelapa muda yang disediakan utuh dengan batoknya untuk menambah suasana liburan menjadi berkesan.

Setelah cukup puas menikmati suasana pantai, jangan lupa membeli kenang-kenangan yang juga tersedia pada kios-kios cenderamata. Sebagian besar barang yang dijual sebagai tanda mata berupa kaos (T–Shirt) dengan gambar ikon-ikon obyek pariwisata Sumatera Barat.

Namun ada pula cenderamata khas wisata pantai yang terbuat dari cangkang-cangkang kerang. Unik dan lucu. Bawalah pulang sebagai hiasan interior rumah dan bukti bahwa Anda pernah menengok si anak durhaka, cerita rakyat Sumatera Barat yang telah melegenda langsung dari asalnya.

Cerita Malin Kundang jadi Batu

Alkisah pada suatu masa hiduplah keluarga nelayan dengan satu anak laki-laki di pesisir pantai Sumatera. Anak yang cerdas sedikit nakal itu bernama Malin Kundang. Sepeninggal ayahnya pergi berlayar yang tak kunjung tiba, ia pun ikut mengadu nasib berlayar mencari kesuksesan di nagari (negri) sebrang.

Ibunda Malin Kundang merestui walau berat dalam hati. “Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan Ibumu dan kampung halamannu ini, nak,” ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.

Singkat cerita kapal yang ditumpangi Malin Kundang dirampok dan tenggelam bajak laut. Namun, Malin Kundang selamat dan terdampar di sebuah desa yang subur. Disinilah impian Malin terwujud manjadi saudagar yang kaya raya, sehingga beritanya sampai pula pada Ibunya nan jauh dikampung halaman.

Dalam sebuah pelayaran dengan kapal yang sangat mewah beserta istri, Malin Kundang berlabuh di kampung halaman. Penantian Ibunya tiba juga, keyakinan tinggi bahwa saudagar kaya ini adalah anaknya karena ada tanda bekas luka. “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?,” katanya sambil memeluk Malin Kundang.

Tapi apa yang terjadi kemudian. Malin Kundang melepaskan pelukan ibunya seraya mendorongnya hingga jatuh. “Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku,” kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu terhadap istrinya.

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, tidak menduga anaknya menjadi durhaka. Kemarahannya memuncak, ibu Malin Kundang berdoa “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.

Doa Ibu terkabul. Tidak berapa lama angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Legenda ini seolah meninggalkan bukti sejarah yang ada di Pantai Air Manis.

Percaya atau tidak, hanya Anda yang bisa menjawab setelah berkunjung ke sana.

Sumber: Majalah Travel Club

Sawahlunto

Inilah salah satu kota tambang peninggalan masa kolonial Belanda di Sumatera Barat. Sawahlunto dibangun Hindia-Belanda setelah ditemukannya kandungan batubara oleh Ir De Greve pada 1867 di Batang Lunto, sebelah timur Danau Singkarak.

Kandungan batubara yang melimpah membuat kaum kolonial tak segan menanamkan modalnya di sini. Bangunan-bangunan pendukung serta jaringan transportasi pun dibangun untuk mengeduk mutiara hitam dari kota ini.

Di masa kemerdekaan kegiatan penambangan masih terus dilanjutkan, sampai akhirnya aktivitas tersebut berhenti. Namun, sisa kegiatan penambangan masih bisa di saksikan di sini. Bahkan kini menjadi obyek yang menarik untuk di kunjungi.

Beberapa bangunan gaya kolonial tetap berdiri kokoh, begitu pula kereta pengangkut barang tambang yang masih bisa dinikmati. Misalnya Art Deco Church (Gereja Art Deco), Culture Center Building (Gedung Pusat Kesenian), The Museum of Train (Museum Kereta Api Indonesia), Museum Goedang Ransoem, dan Masjid Agung (Mesjid Raya).

Sumber: Majalah Travel Club