Jejak Sunyi Manusia Perahu

manusia-perahuGerimis masih mendera ketika mobil yang saya tumpangi memasuki jembatan Fisabilillah Barelang. Jembatan itu adalah gerbang utama menuju Pulau Galang. Konstruksinya dari baja dan mirip Golden Gate di San Francisco, dengan panjang 700 m dan ketinggian 350 m. Dari situ, kita bisa melihat panorama tebaran pulau kecil yang menakjubkan.

Gerimis tak menyurutkan niat orang-orang untuk berdiri di sisi kiri dan kanan jembatan. Sekadar berhenti melepas pandangan, atau memang sengaja datang berwisata. Sebagian pengunjung nongkrong di warung tenda yang berderet di kedua ujungnya, menikmati jagung bakar.

Saya bersama tiga orang kawan lama yang sekarang merantau di Batam, hampir tergoda untuk mampir. Tapi Hijratul, pemilik mobil yang sekaligus sebagai sopir, mengingatkan bahwa perjalanan ke Pulau Galang masih cukup jauh.

Benar juga. Kami melewati empat jembatan lagi di gugusan kepulauan Barelang. Barelang merupakan akronim dari Batam, Rempang, dan Galang. Ketiga pulau utama itu disatukan jembatan baja yang kokoh dan artistik, ditambah pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Pulau Tonton, Nipah, dan Sekikir. Total jenderal ada enam jembatan penghubung pulau-pulau yang selesai dibangun tahun 1992 itu.

Waktu itu, B.J. Habibie dengan proyek Otorita Batam-nya jelas ingin mengimbangi Singapura di kawasan yang strategis tersebut. Dengan menyatukan sejumlah pulau, setidaknya Batam lebih luas daripada daratan Tumasik hasil sulapan Raffles dari zaman kolonial itu. Tapi apa lacur, mimpi Habibie tampaknya kandas: infrastruktur luar biasa tersebut tetap tak mampu membuat Batam tampil gemilang.

Ah, saya singkirkan pikiran berat itu. Saatnya menikmati perjalanan. Mobil kini meluncur kencang di jalanan lengang, melewati jembatan demi jembatan, kebun nanas dan rumah-rumah penduduk yang jarang dan sepi. Kami sempat berbisik, kalau saja ban bocor atau bensin habis, ke mana hendak mengadu? Untunglah bensin sudah kami isi penuh, dan jalanan mulus lumayan menjamin keamanan ban.

Selepas sebuah tikungan yang merimba, mobil membelok ke kiri, memasuki jalan aspal yang agak rusak. Jika lurus, kita akan bersua jembatan terakhir, Jembatan Raja Kecil sepanjang 180 meter yang menghubungkan Pulau Galang dan Galang Baru. Namun tujuan utama kami bukan ke situ, melainkan ke bekas penampungan manusia perahu dari Vietnam (1979-1996).

Tak jauh di depan, ada pos penjaga yang memungut retribusi atas nama Otorita Batam, sebesar Rp 10.000 untuk mobil sedan. Itulah pertanda kami memasuki tempat tujuan. Dua puluh tahun lalu, gerbang itu pastilah dijaga para tentara di mana tidak setiap orang bisa ke luar-masuk, sebab kawasan relokasi tak ubahnya seperti negara mini transisional yang ”pemerintahannya” melibatkan PBB urusan pengungsian (UNHCR).

Meski sudah tidak ada lagi para tentara berjaga, namun suasana mencekam tetap terasa. Pohon-pohon karet yang tidak terawat, semak-belukar dan pepohonan yang mulai menghutan, membuat suasana sunyi dan lindap. Deretan bangunan tua peninggalan para pengungsi, seperti barak, rumah-rumah papan sederhana, serta berbagai tempat ibadah kebanyakan dibiarkan lapuk, merana, menambah kesunyian yang sukar dilukiskan.

Mobil kami terus menyusuri jalan yang melingkari kawasan sunyi tersebut. Sebatang pohon besar menjulurkan sulurnya sampai ke tepi jalan, tempat dari mana serombongan kera berhamburan meminta jatah makan. Kami lemparkan beberapa tangkup roti. Suara kera yang berebutan lumayan mampu memecah kesunyian.

Ternyata, pokok pohon besar itu pernah menjadi tempat ritual pengungsi beragama Budha, makanya ditandai oleh sebuah papan nama bertulisan ”Body Tree”. Selain pohon bodi, tempat ibadah lainnya yang kami lihat adalah pagoda dan gereja. Ada pagoda Chua Qim Quang, Chuan Ky Vien, Cao Dai, dan yang terbesar bernama Quan Am Tu, dilengkapi patung Dewi Kwan Im setinggi hampir 3 meter.

Sedangkan gereja Katholik ada dua, yakni Ta On Duc Me Chatolic Chruch dan Nha To Duc Me Vo Nhiem Chatolic Chruch -yang terakhir ini dihiasi Patung Bunda Maria di atas kapal pengungsi. Bagi yang Protestan, terdapat Tinh Lanh Chruch. Semua bangunan rumah ibadah itu berbahan papan dan kayu, dicat warna-warni, memiliki gerbang yang besar dan artistik. Sayang, tidak semua tempat saya masuki sebab gerimis telah menjelma jadi hujan cukup lebat.

Puncak kunjungan saya rasakan ketika kami sampai di sebuah kawasan berupa tanah lapang berumput hijau. Di atas rumputan itu diletakkan sejumlah kapal kayu bermesin tempel, tak terlalu besar, persis kapal nelayan di pelabuhan ikan Cirebon atau Tegal. Lebih menyerupai perahu ketimbang kapal, dari mana sebutan ”manusia perahu” berasal. Ya, itulah kapal-kapal asli yang pernah digunakan para pengungsi Vietnam Selatan yang bertolak dari Teluk Tonkin dan sekitarnya, meninggalkan tanah air mereka yang sedang diamuk perang saudara.

Saya gemetar dan takjub memandangi kapal atau perahu-perahu itu. Tak kuasa membayangkan derita para pengungsi yang bertarung hidup-mati di samudera. Kali ini saya tak memedulikan hujan. Dengan kepala hanya berbungkus kantong kresek, segera saya melompat turun dari mobil, lalu menyentuh dan menaiki perahu-perahu itu. Beberapa di antaranya sudah keropos dan berlubang. Maklum tidak diberi atap peneduh. Rupanya, niat untuk membangun museum terbuka telah diterjemahkan harafiah oleh pengelola, sehingga sekadar atap pun diluputkan.

Berapa kali saya naik-turun ke geladak kapal-kapal yang telah menyelamatkan entah berapa ratus nyawa pengungsi ini, seolah belum yakin bahwa tragedi pilu itu benar-benar terjadi. Tapi jelas semua itu bukan mimpi. Di sebuah beton berlumut tertempel tulisan memorial yang antara lain berbunyi, ”Perahu inilah yang digunakan para pengungsi mengarungi Lautan Cina Selatan selama berbulan-bulan dan sejauh ribuan kilometer menuju berbagai belahan dunia untuk mencari perlindungan dari negara lain.”

Sungguh tragis. Sebuah bilbor besar bergambar seri foto para pengungsi juga terpancang di tepi lapangan, penuh wajah-wajah sedih. Meski mulai kabur dan kusam, cukuplah jadi penanda peristiwa yang mengusik nurani kita. Tapi anehnya, di bilbor tersebut ada sebuah panel gambar yang tampaknya sengaja ditutupi seng. Ada apa dengan gambar itu? Terlalu vulgarkah? Tak lolos sensor? Atau diprotes mantan pengungsi? Entah. Semoga kabur dan tertutupnya gambar itu bukan pertanda tertutupnya nilai persahabatan yang pernah ada.

Akhirnya sebelum pulang, saya genapkan kunjungan ke kompleks Ngha Trang Grave, tempat 500 lebih para pengungsi dimakamkan. Deretan nisan, tanda salib dan batu-batu yang sunyi dibasuh hujan menjadi saksi abadi bagi jejak panjang manusia perahu di Pulau Galang.

Diprotes Mantan Pengungsi

”Perang dingin” dua raksasa ideologis -kapitalisme dan komunis- berimbas ke Indocina. Perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan salah satu dampaknya. Tahun 1975 pasukan Vietkong (Utara) menyerbu ke Selatan. Puluhan ribu pengungsi ke luar menyelamatkan diri, berdesak-desakan di atas kapal kayu menyusuri keganasan Laut Cina Selatan. Berpuluh-puluh kapal karam, ratusan pengungsi mati di laut, yang lain ditangkap kapal patroli di Teluk Siam.

Sekitar 250 ribu pengungsi terdampar di Natuna dan pulau lain di wilayah Indonesia. Pemerintah Indonesia cukup tanggap, lalu bekerja sama dengan UNHCR merelokasi mereka di Pulau Galang pada 1979. Kawasannya didesain sedemikian rupa. Barak, rumah, perkantoran, sekolah, tempat ibadah, jalan raya, dibangun sehingga menyerupai kota kecil. Mereka tak diperbolehkan ke luar kawasan, tapi bebas menjalani profesi seperti usaha penukaran uang, kedai nasi, membuat tahu-tempe, jadi guru atau karyawan UNHCR. Tentu usaha tersebut sangat terbatas, sehingga sebagian besar orang tetap bergantung pada bantuan badan PBB itu.

Ketika tahun 1995 UNHCR menyatakan tak memiliki anggaran lagi, pemerintah Indonesia memutuskan memulangkan pengungsi. Menariknya (atau mengharukan), pengungsi menolak dipulangkan. Mereka masih trauma. Malah ada yang nekad melakukan ”harakiri”: membakar perahu sebagai bentuk protes, bahkan membakar diri. Toh, 5.000 lebih pengungsi tetap dipulangkan, sisanya diterima sejumlah negara seperti Amerika, Australia dan Prancis.

Kini kawasan bekas pengungsi itu dikelola pihak Otorita Batam sebagai objek wisata sejarah dan kemanusiaan. Cukup beralasan. Dari segi pengunjung misalnya, berapa banyak mantan pengungsi yang sukses di berbagai negara atau negara asalnya? Tiap waktu selalu ada yang datang berziarah. Pasar potensial. Tapi sayangnya pengelolaan tidak maksimal. Banyaknya bangunan rusak jelas kontraproduktif dengan nilai sejarah yang ditawarkan. Kabarnya mantan pengungsi juga keberatan tempat itu dijadikan objek wisata. Tempat di mana mereka pernah hidup menderita, jauh dari tanah air, dianggap kurang pas jadi kunjungan turis. Konon, pihak pengelola sempat keder, meski jika dipikir keberatan itu tak harus jadi ganjalan.

Kehidupan pengungsi di Galang sebenarnya relatif baik, diterima masyarakat dan pemerintah Indonesia penuh empati. Dengan menjadikannya objek wisata sejarah, justru mengajak siapa pun menziarahi jejak kemanusiaan dan persahabatan. Artinya, tinggal bagaimana pihak pengelola mensinergikan nilai-nilai tersebut secara patut dan manusiawi.

Sumber: Suara Merdeka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.