GEREJA TUA – Gereja St George (St George’s Curch) merupakan gereja Anglican tertua di Kota Penang. Bangunan dengan atap parabola di depan gereja merupakan tempat untuk memperingati kematian pejabat Inggris yang pertama kali mendarat di Pulau Penang, Kapten Francis Light.

PULAU Penang – ada juga yang menyebutnya Pinang, orang Malaysia menyebutnya dengan ejaan Bahasa Inggris – merupakan wilayah Malaysia yang terletak di perairan Selat Malaka. Melihat sejarah Selat Malaka yang telah lama digunakan sebagai jalur perdagangan, maka sejarah Pulau Penang juga tak lepas dari sejarah perdagangan di Asia.

Selat Malaka memang dari dulu dikenal sebagai kawasan yang menjadi penghubung antara pedagang-pedagang dari Barat dan Timur. Di kawasan ini, para pedagang dari China, India, Arab, Belanda, Portugis, Inggris dan negara-negara di Eropa lainnya bertemu.

Nuansa keanekaragaman suku dan bangsa itu terlihat jelas di Pulau Penang. Sejumlah bangunan bersejarah menjadi saksi nyata bahwa di pulau itu, sekitar abad ke-17 lalu, para pedagang dari seluruh penjuru dunia bertemu.

Sejarah Pulau Penang dimulai sekitar 1786. Ketika itu Kapten Francis Light dari pemerintahan kolonial Inggris membuat kesepakatan dengan Sultan Kedah untuk menempati Pulau Penang.

Sejak itu, Penang menjadi pulau tempat perdagangan barang-barang hasil bumi seperti teh, rempah-rempah, dan kain. Sejumlah pedagang yang berasal dari berbagai negara seperti dari Eropa, China, India, Indonesia, Thailand, dan Birma (sekarang bernama Myanmar), melakukan aktivitas perdagangan.

Tempat yang menjadi saksi sejarah Pulau Penang adalah Fort Cornwallis. Di tempat inilah Kapten Francis Light pertama kali mendarat di Pulau Penang. Beberapa tahun kemudian, sebuah benteng dibangun di kawasan itu. Sejak itu, benteng tersebut diberi nama Fort Cornwallis.

Fort Cornwallis menjadi salah satu tujuan wisata andalan Pulau Penang. Para wisatawan dapat merasakan betapa pada awalnya Fort Cornwallis menjadi salah satu benteng pertahanan di Pulau Penang.

Sejumlah meriam terpasang di sekeliling benteng yang terletak di tepi laut Selat Malaka tersebut. Saat memasuki pintu gerbang benteng, setiap pengunjung akan disapa oleh seorang penjaga yang berpakaian ala militer Eropa sekitar abad ke-18.

Setiap wisatawan yang ingin masuk dan berkeliling di sekitar benteng harus membayar tiket seharga 3 ringgit Malaysia (sekitar Rp 7.000). Selain memamerkan sejarah Pulau Penang, di sekitar Fort Cornwallis juga pengunjung dapat membeli barang-barang suvenir.

Tempat lain yang menjadi bukti sejarah penjajahan Bangsa Eropa di Pulau Penang adalah Gereja Santo George (St George’s Church). Gereja ini dibangun pada tahun 1818 oleh Kapten Robert Smith dan merupakan gereja Anglican tertua di Pulau Penang.

Sampai saat ini, gereja yang terletak di sudut jalan Masjid Kapiten Keling itu masih digunakan oleh umat Kristiani di Pulau Penang untuk beribadah. Di depan gereja, dibangun sebuah bangunan yang atapnya berbentuk parabola. Bangunan yang hanya berukuran sekitar 2×2 meter itu merupakan tempat untuk memperingati kematian Kapten Light.

Selain bangunan-bangunan bernuansa Eropa, khususnya Inggris dan Belanda, bangunan-bangunan benuansa China juga banyak terdapat di Pulau Penang. Salah satu tempat yang menjadi objek wisata menarik adalah sebuah tempat yang disebut Khoo Kongsi.

Khoo Kongsi merupakan nama dari kelompok pedagang China yang dipimpin oleh klen Leong San Tong (bisa dikatakan sebagai seorang godfather). Klen ini sangat terkenal di tempat asalnya, provinsi bagian selatan China, dari suku Hokkian..

Pada 1867, pernah terjadi perang antarkelompok jalanan di sekitar Gedung Khoo Kongsi. Kerusuhan itu terjadi karena adanya persaingan dagang antarpara pedagang, khususnya yang berasal dari China dan Sumatera.

Ada dua bangunan utama di objek wisata Khoo Kongsi. Bangunan pertama, yang paling besar, merupakan sebuah kuil. Gedung kedua, biasa digunakan untuk menampilkan atraksi-atraksi hiburan dan opera.

UKIRAN CINA – Dinding dan pilar yang ada di Kuil Khoo Kongsi dihiasi dengan ukiran-ukiran khas Cina. Ukiran-ukiran di dinding menggambarkan kepahlawanan para ksatria Cina.

Ruang utama kuil Khoo Kongsi merupakan altar untuk bersembahyang. Memang, warga keturunan China sangat memuja leluhur mereka sehingga altar untuk bersembahyang harus ada di setiap rumah dan dirawat dengan baik.

Di sebelah kanan dan kiri ruang altar untuk bersembahyang terdapat ruang untuk mengingat masa-masa kejayaan Khoo Kongsi. Di dua ruang itu terpampang nama-nama pimpinan kelompok ini di negara-negara lain, termasuk di sejumlah negara di Eropa dan Amerika. Nama-nama itu diukir seperti prasasti di atas lempengan batu.

Ukiran-ukiran dan ornamen Cina mendominasi sekitar gedung. Tembok-tembok gedung diukir dengan gambar yang mengisahkan kehebatan para ksatria asal China. Misalnya, ada ukiran yang memperlihatkan seorang ksatria melawan harimau.

Bentuk bangunan utama Khoo Kongsi yang digunakan sebagai kuil sangat mirip dengan istana-istana China di abad pertengahan. Sedikitnya terdapat tujuh paviliun yang mengitari kuil. Beberapa patung naga, besar dan kecil, juga menghiasi kuil.

Ada kisah menarik seputar Khoo Kongsi itu. Pada suatu malam, gedung utama terbakar. Banyak orang-orang keturunan China di Penang beranggapan bahwa Dewa marah, tidak suka ukuran gedung yang besar. Akhirnya, gedung utama itu dibangun kembali dengan ukuran yang lebih kecil.

Gedung Khoo Kongsi terletak di pusat kota. Selain menggunakan taksi, wisatawan dapat mengunjungi objek wisata itu dengan becak. Becak di Penang tidak jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Hanya saja, untuk melindungi penumpang dari sengatan matahari atau hujan, digunakan payung berukuran besar.

India Kecil

Selain orang-orang keturunan China, sebagian penduduk Penang juga merupakan orang-orang keturunan India. Di salah satu sudut kota, ada sebuah kawasan yang disebut sebagai India Kecil (Little India).

Sudah bisa diduga sebelumnya, kawasan ini merupakan suatu kawasan perdagangan. Toko-toko yang ada di kawasan itu milik pedagang-pedagang keturunan India. Wisatawan bisa membeli beraneka ragam barang-barang, seperti kain, pakaian, dan suvenir, khas India. Selain itu, terdapat pula beberapa toko yang menjual rempah-rempah dan bumbu masak ala India. Harga barang-barang yang ditawarkan relatif murah.

Keberadaan warga keturunan India di Kota Penang menjadi daya tarik wisata tersendiri. Ketika Pembaruan mengunjungi kota itu, ikut dalam rombongan Malaysian Tourism Board, warga keturunan India tengah mengadakan Perayaan Thaipusam. Perayaan ini merupakan perayaan umat Hindu untuk menghormati Dewa Murugan yang juga dikenal sebagai Dewa Subramaniam, Sivaguru, Kumaran, dan Arumugan.

Warga keturuanan India turun ke jalan-jalan di seluruh Kota Penang, pada malam hari. Mereka berkeliling kota. Warga yang mampu biasanya menyediakan aneka makanan dan buah-buahan untuk dibagikan kepada warga yang berkeliling kota. Yang menarik, warga keturunan India itu beramai-ramai memecahkan buah kelapa yang sudah tua.

Menurut kepercayaan mereka, buah kelapa yang isinya putih melambangkan hati manusia. Dalam diri setiap manusia memiliki kebaikan. Hanya saja, kebaikan itu ada yang keluar dan ada yang tenggelam sehingga yang menonjol hanya sisi buruknya. Buah kelapa dipecahkan bertujuan agar sisi baik manusia lebih banyak keluar.

PEMBARUAN/ASNI OVIER DP