Menikmati Nasi Rawon di Sungai Barito

Belanja di Pasar Apung kemudian ke Pulau Kembang bercengkerama dengan kelompok warik (kera/monyet) merupakan pengalaman wisata menarik. Di Sungai Barito, salah satu urat nadi perekonomian di Provinsi Kalimantan Selatan, bisa juga menikmati nasi rawon dan soto banjar.

FOTO – FOTO ; M. ADI SUWANTO

SUNGAI MARTAPURA – Sebuah perahu bermesin mengangkut kelapa dari Pasar Terapung melintasi Sungai Martapura di tengah Kota Banjarmasin. Tampak pula speedboat berseliweran membawa penumpang.

Sungai Barito di Kalimantan Selatan (Kalsel)-bagian terpanjang sungai ada di Kalteng -memang tak pernah sepi. Denyut nadi perekonomian di sini terasa sepanjang hari. Perahu-perahu kelotok berseliweran, banyak orang menumpang taksi (air). Kendaraan air berukuran besar mengangkut penumpang melebihi batas ketentuan, tak ubahnya kereta rel listrik (KRL) Jabotabek yang banyak orang naik di bagian atapnya.

Beberapa industri perkayuan tradisional beroperasi tak jauh dari permukiman penduduk. Bangunan-bangunan rumah Banjar bubungan (atap) tinggi dan rumah Lanting adalah pemandangan khas di daerah aliran sungai (DAS) ini. Ada juga kegiatan bongkar-muat cadangan (deadstock) batu bara dari truk ke kapal, lalu disimpan di wadah raksasa di tengah sungai, berlangsung 24 jam (sistem kerja tiga shift).

Suatu saat berkunjung ke Banjarmasin, singgahlah ke sini. Beberapa penerbangan dari Jakarta ke Bandar Udara (Bandara) Syamsuddin Noor hanya perlu waktu sekitar satu jam dan dua puluh menit. Tapi jadual penerbangan tidak jarang mengalami keterlambatan. Dari bandara ke ibu kota Kalsel (Banjarmasin) berjarak 25 km, ongkos taksi Rp 50.000.

Ada juga pesawat terbang dari Surabaya, Semarang, Yogyakarta (via Surabaya), Balikpapan, dan Palangkaraya. Menumpang kapal laut kelas ekonomi (jenis Roro) dari Surabaya butuh waktu 18 jam pelayaran, tapi dengan kapal cepat cukup delapan jam. Menempuh perjalanan darat dengan bus antarprovinsi (ditambah penyeberangan) perlu waktu lebih lama lagi.

Sekitar pukul 04.50 waktu setempat, cuacanya masih terang-tanah. Dari dermaga Manunggal, Jalan Kuin Selatan (tak jauh dari Depo Pemasaran Perta- mina Banjarmasin), menyewa taksi kelotok (perahu kayu bermesin) tarifnya Rp 50.000. Tujuannya ke Pasar Terapung, kemudian ke Pulau Kembang, dan ke deadstock batubara. Tiga lokasi ini tidak saling berjauhan, masing-masing hanya memerlukan pelayaran selama sepuluh menit.

Dermaga (kayu terapung) Manunggal terletak di bagian muara Sungai Martapura, hanya beberapa ratus meter memasuki perairan Barito. Di pangkalan taksi kelotok ini guncangan riak air sungai sangat terasa. Puluhan perahu pengangkut sayur-mayur dan buah-buahan serta mata-dagangan lain hilir-mudik membelah perairan, memperdengarkan suara mesin-tempelnya masing-masing.

Dalam keremangan dinihari, tampak pula wajah-wajah putih perempuan berpupur (bedak) dingin penghalau udara panas. Mereka, di antaranya pelaku-pelaku ekonomi, pedagang sekaligus pembeli barang kebutuhan. Mengangkut barang dagangan tertentu dengan perahu kayuhnya, sesampai di Pasar Apung menukarkannya dengan barang lain sesuai kebutuhan pada kebanyakan pedagang.

Saat pulang, karena harus melawan arus sungai, kaum wanita memilih untuk tidak mendayung kelotoknya sendiri melainkan membayar jasa perahu “derek”, Rp 2.000 – Rp 5.000 per kelotok, tergantung jarak “penderekan”. Sebuah perahu besar sedikitnya bisa menarik lima sampai enam kelotok berpenumpang seorang wanita dengan barang bawaan.

Sistem barter masih berlaku di pasar tradisional khas Banjarmasin yang konon sudah berusia ratusan tahun ini. Namun kini transaksinya sudah lebih banyak dalam bentuk jual-beli langsung. Tak beda di Pasar Induk Sayur dan Buah-buahan Kramat Jati, Jakarta Timur, mata dagangan di sini serba komplit. Dari terasi, sisir, pakaian jadi, sampai peniti pun bisa dibeli di sini. Ciri khas Pasar Apung, baik pembeli maupun pedagangnya tetap berada di atas kendaraan airnya.

NASI RAWON ? Rasidi, pemilik warung makan apung di Sungai Barito, menyediakan menu nasi rawon dan soto banjar. Dia sudah dua tahun berusaha di perairan sungai ini.

Rawon dan Soto

Hari itu sedang musim jeruk siam (sejenis jeruk pontianak) dan semangka tanpa biji dari Kabupaten Barito Kuala. Pada musim rambutan dan cempedak, banyak wisatawan berkunjung ke sini. Pelancong mancanegara kabarnya paling suka menyantap buah rambutan dan cempedak yang beraroma menusuk hidung itu.

Tak perlu berbekal makanan dan minuman, karena di perairan Sungai Barito (sekitar Pasar Terapung) juga tak bedanya dengan Pujasera (Pusat Jajan Serba Ada) di kota-kota besar di Tanah Air. Apapun selera Anda, banyak menu dapat dinikmati di rumah-makan terapung (perahu kayu berukuran cukup besar posisi lego jangkar, bagian deknya di desain ala restoran lesehan).

Menu favorit di sini antara lain ikan saluang (gabus) bakar, patin dan jelawat goreng, pecel ayam, ketupat Kandangan (ketupat dengan sayur ikan saluang panggang bersantan), juga nasi rawon dan soto Banjar. Harganya pun tak terlalu mahal, nasi rawon dengan segelas teh manis (panas) hanya Rp 4.500/porsi.

Para tamu ‘restoran lesehan’ ini adalah penumpang ataupun pengemudi kelotok. Setiap pengelola warung apung dengan senang hati membantu menambatkan kelotok calon konsumen pada tiang perahunya. Rasidi (37), asal Desa/Kecamatan Ulak Utara, Kota Banjarmasin, mengaku sudah dua tahun membuka usahanya di atas kendaraan airnya. Saat Pasar Apung mulai sepi, dia memindahkan warung-makannya ke sentra industri perkayuan atau dekat dengan lokasi pabrik kayu lapis. Di sana banyak karyawan pabrik memerlukan makan siang.

“Membuka restoran di sini (alur Barito) tidak perlu punya izin usaha. Kecuali berjualan di darat. Tapi saya harus menyisihkan uang untuk perawatan perahu, sekitar Rp 1 juta per tahun,” ujarnya sambil melayani konsumennya. Rasidi melanjutkan usaha orangtuanya yang sudah ‘pensiun’ karena usia lanjut. Sebelumnya berbisnis warung-makan di (darat) Banjarmasin.

Selepas sarapan pagi di rumah-makan Rasidi, kelotok sewaan perlu mengisi bahan bakar. Rachman (35), pengemudi kelotok, segera mengarahkan kendaraan airnya ke perahu pengecer solar. Pedagang BBM di sini sama halnya restoran lesehan tadi, lego jangkar di tengah Sungai Barito.

Apakah bisnis bahan bakar minyak di perairan ini bisa diduga melakukan pelanggaran, semisal mencampur solar dengan oli bekas ataupun minyak tanah ‘sadapan’ dari kran tanki-tanki BBM di jalan raya, tidak cukup jelas.

Rachman (warga Jalan Kuin Selatan, Banjarmasin, bapak satu anak) mengaku sudah lima tahun mengemudikan kelotok milik orangtuanya. Uang setorannya Rp 20.000 per hari, untuk membeli solar Rp 10.000. Guna menambah penghasilan, dia jadi tukang ojek motor yang dimilikinya dari pembelian secara kredit.

Dia tampaknya terbiasa mengantarkan wisatawan menelusuri alur Barito. Ini terbukti ketika kelotoknya segera merapat di dermaga kayu memasuki kawasan Hutan Wisata Alam Pulau Kembang/HWAPK (seluas 60 hektare, termasuk wilayah Kabupaten Barito Kuala, Kalsel), pawang warik (kera) bernama Mang Alil (37) langsung memanggil namanya. Ada banyak pengemudi kelotok di sini merangkap sebagai guide.

Kawasan HWAPK – ditumbuhi tanaman jenis rambai, jingah, piai, dan bakau serta akasia – yang kini diswastanisasikan oleh Pemkab setempat, merupakan habitat terbesar bagi kera-kera jinak jenis abu-abu. Kera jenis bekantan lebih banyak berhabitat di Pulau Kaget.

Sepuluh bungkus kacang kulit goreng dan satu termos es lilin dalam plastik dibeli dari Mang Alil seharga Rp 10.000 cukup untuk mengundang kawanan monyet jinak. Beberapa ekor anak warik menaiki tubuh, bahkan kepala, pakaian pun tak bersih lagi. Sebuah risiko bercengkarama dengan ‘saudara’. Maka, mengunjungi ‘kerajaan’ kera ini tak perlu berpakaian serba bagus layaknya pergi ke mal.

Tak perlu takut ada monyet menggigit anggota tubuh, karena sang pawang (membawea tongkat bambu) setia mendampingi pengunjung. Percaya atau tidak, jika makanan habis disantap oleh kelompok-kelompok warik, si pemberinya konon akan memperoleh keberkahan. Pastinya, satu kelompok kera dengan kelompok lain tidak saling mengganggu. Uniknya lagi, pedagang makanan dan minuman di kawasan ini tidak pernah dijarah para kera.

Pulau Kembang konon terbentuk dari proses endapan tanah dan pasir sejak tahun 1825. Tapi menurut cerita lainnya, pulau ini adalah bentukan dari sebuah kapal VOC pencari rempah-rempah yang tenggelam akibat diinjak oleh seorang sakti. Versi lainnya lagi menyebutkan pulau ini semula merupakan tempat berziarah bagi penduduk keturunan Cina. Setiap melakukan ziarah, mereka menaburkan aneka macam kembang (bunga).

KAPAL VOC ? Pulau Kembang, habitat terbesar kera abu-abu, konon terbentuk dari kapal VOC yang tenggelam di Sungai Barito pada 1825. Tampak patung kera dibuat di tengah tanah lapang, dianggap induk monyet.

The Golden Gate

Dari Pulau Kembang, pelayaran dilanjutkan ke arah barat laut. Sekitar 30 menit kemudian tampak jembatan Sungai Barito yang menghubungkan wilayah Kalsel dan Kalteng. Membentang sepanjang 1,8 km, jembatan berkonstruksi baja mirip The Golden Gate di San Fransisco, AS, itu merupakan salah satu tempat rekreasi mengasyikkan. Di hari libur, muda-mudi memadati badan jembatan. Puluhan sepeda motor dan mobil diparkir, mengingatkan suasana malam tahun baru di daerah Puncak Pass Jawa Barat.

Menuju lokasi deadstock batu bara di alur Sungai Barito, sebuah ‘bangkai’ kapal yang sudah berlumur karat dihuni puluhan ekor kera. Berbeda dengan penghuni Pulau Kembang, warik-warik di atas kapal usang itu tampak liar. Mencari makan dengan cara menuruni kapal, kera-kera meniti tali tambat (kapal) berukuran besar yang dijuraikan kera-kera besar ke perairan sungai. Sampah-sampah di kiri-kanan dinding kapal pun dikaisnya. Suatu pemandangan yang tak layak untuk dilewatkan.

Sungai Barito memang merupakan salah satu urat nadi perekonomian di Kalsel. Banyak aspek kehidupan menyangkut aktivitas industri, perdagangan, transportasi, pendidikan, pariwisata, dan sebagainya, sangat tergantung pada keberadaan sungai terbesar di Kalimantan ini. Dari kepentingan upaya pengembangan pariwisata, Sungai Barito akan lebih banyak menyedot wisatawan apabila dikelola secara profesional dan proporsional.

Tapi, pemprov setempat agaknya masih kurang memberikan perhatian terhadap keberadaan objek wisata alamnya, termasuk Pasar Apung dan Hutan Wisata Alam Pulau Kembang yang sesungguhnya layak ‘dijual’. Sungai ini tampaknya sudah sangat tercemar limbah industri dan banyak ditumbuhi enceng-gondok (Eichomia Crassipes) sehingga kurang sedap dipandang mata.

Tampak ribuan batang kayu bulat yang sudah mulai membusuk seperti tak bertuan, sejak lama dibiarkan mengapung di permukaan sungai. Kenyataan ini semestinya tidak dibiarkan karena log-log itu mengurangi lebar sungai, dan tentunya cukup mengganggu transportasi perairan di sini.

Ada wacana, Sungai Barito akan menjadi salah satu pilihan lokasi (selain bagian Sungai Martapura di depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin) penyelenggaraan festival perahu naga. Festival tahunan tingkat ASEAN itu memerlukan panjang sungai sekitar 1.000 meter (dari start ke finish), dan Sungai Barito memenuhi syarat itu.

Lebar Sungai Barito dinilai lebih ideal di banding sungai-sungai di lima negara penyelenggara (festival perahu naga) sebelumnya yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Myanmar. Namun, panjang dan lebar sungai (Barito) saja tidaklah cukup. Kebersihannya pun harus diperhatikan untuk suatu penyelenggaraan acara sekelas festival perahu naga.

– M.ADI SUWANTO

TETAP DI KELOTOK – Seorang ibu memilih jeruk siam pada posisi tetap berada di kelotoknya yang didayung sendiri dari desa asal. Pemandangan khas di Pasar Terapung, pedagang dan pembeli masing-masing menumpangi kendaraan airnya.

Sumber: Suara Pembaruan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.