Menyusuri Jejak Induk Peradaban

Sungai Nil MesirMelihat Sungai Nil adalah keinginan pertama saya begitu tiba di Mesir. Keinginan itu sudah terpendam lama, terutama karena ingin melihat langsung sungai tempat Musa kecil berada di dalam kotak kayu yang dialirkan orang tuanya demi menghindari hukum pancung yang diberlakukan Firaun alias Raja Ramses II.

Penguasa itu mendapat bisikan seorang ahli nujum bahwa akan lahir seorang anak laki-laki yang kelak akan menjadi penentang kekuasaannya. Dia jadi paranoid sehingga perintah kejam seperti itu.

Di luar itu, sungai tersebut telah menjadi saksi sejarah peradaban dan dinamika bangsa Mesir sejak ribuan tahun lalu, bahkan sampai saat ini. Sungai itu mengalir melewati sembilan negara (Uganda, Kongo, Sudan, Etiopia, Tanzania, Rwanda, Burundi, Kenya, Mesir di hulu dan berhilir di Lautan Mediterania (Laut Tengah). Dengan kondisi geografis yang kering, berpasir dan berbatu, wajar kalau bangsa Mesir bahkan sejak zaman dahulu pun menggantungkan hidupnya pada sungai tersebut.

Mereka tinggal di kiri-kanan aliran sungai ini sehingga jejak peninggalan budaya serta situs dan artefak kuno banyak ditemukan di sekitar dan sepanjang alirannya. Selain jadi tumpuan hidup, airnya juga pernah jadi ancaman bagi bangsa Mesir. Ancaman terbesarnya adalah banjir. Namun, sebagaimana dikatakan oleh ahli sejarah Inggris Arnold B Tonybee tentang Teori Challenge and Response atau Hukum Tantangan dan Jawaban maka begitulah juga yang dialami bangsa Mesir Kuno.

Konon bangsa Mesir Kuno pernah membuat kota modern Mohenjo Daro dan Harappa. Keduanya kemudian ludes diterjang banjir. Hal itu kemudian mendorong bangsa Mesir untuk berfikir bagaimana memanfaatkan air Sungai Nil untuk kehidupan dengan mengeliminasi tantangannya. Mulailah mereka membangun bendungan Aswan untuk membendung air sungai. Konon pekerjaan ini telah dilakukan 3.000 tahun lalu.

Kemampuan ini dan juga banyaknya penemuan lain yang dihasilkan orang Mesir Kuno -baik di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, budaya, arsitektur, kedokteran maupun cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lain- menyebabkan Mesir sering disebut sebagai ‘the mother of civilization’ atau tempat lahirnya induk peradaban dunia.

Jejak peninggalan bangsa Mesir Kuno di sepanjang Sungai Nil tersebut sampai sekarang masih terpelihara dengan baik. Sebut saja, di Abu Simbel terdapat Kuil Ramses II; di Kalabsha (dekat Dam Aswan) terdapat Kuil Kalabsha; di Aswan Phlae terdapat Kuil Dewa Isis; di Edfu terdapat Kuil Dewa Horus; di Esna terdapat Kuil Khnum (Temple of Khnum); di Medinet Habu terdapat Kuil Raja Ramses III; di Gurnah terdapat terdapat Ramesseum Colossi of Memnon; di Luxor terdapat Kuil Dewa Amon; di Karnak (dekat Luxor) terdapat Kuil Karnak (Temple of Karnak); di Dendera terdapat Kuil Hathor; di Deir El-Bahari terdapat Kuil Raja Hatsheput; di Abydos terdapat Kuil Raja Seti I; di Gizeh (Giza) terdapat Sphinx -patung singa berkepala manusia yang hidungnya sekarang sudah jadi pesek- dan 3 buah piramida kuno.

Di samping itu tempat peninggalan Mesir kuno yang sering menjadi tujuan kunjungan wisatawan budaya adalah Sinai. Ya, di Pegunungan Sinai inilah Nabi Musa mendapat perintah Allah yang berjumlah 10 buah sehingga di kemudian hari dikenal sebagai The Ten Commandements. Di Gurun Sinai itu juga terdapat peninggalan orang Kristen kuno yaitu St Catherine Monastery (Biara Santa Catherine).

Semenanjung Sinai itu letaknya tidak jauh dari Suez. Jika disisi utara terdapat Terusan Suez maka di sisi barat dan selatan terdapat Laut Merah yang menjadi saksi pengejaran Nabi Musa oleh Firaun dan pasukannya. Konon, Firaun tenggelam dalam pengejaran ini dan jasadnya ditemukan beberapa waktu kemudian. Kini jasad yang telah dijadikan mumi tersebut tersimpan dengan rapi di Museum Nasional di Kairo. Jika ingin melihat jasad tersebut, Anda perlu menyiapkan 100 pound (1 pound Mesir sekitar Rp 1.700) per orang di luar tiket masuk museum. Jasad itu masih utuh termasuk rambut dan kulit yang telah mengeras.

Semenjak Bendungan Aswan berdiri, pertanian di sana semakin maju pesat. Pada arah luar kota di sepanjang Sungai Nil, kita dapat menikmati eksotika berupa aktivitas penduduk Mesir sedang bertanam kentang dan gandum serta sayuran seperti buncis, kacang panjang kol, fava, okra, terong, dan tomat dan juga buah-buahan seperti ara, kurma, jeruk, dan delima. Mangga yang dihasilkan negara ini rasanya sangat manis. Sering dijual di toko makanan dalam bentuk jus yang pekat. Mereka menyebutnya ashir. Hasil pertanian itu selain untuk konsumsi dalam negeri, sebagian juga diekspor ke Negara-negara tetangganya. Bendungan Aswan juga dimanfaatkan sebagai Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bagi Mesir yang menjadi andalan utama pasokan energi untuk penerangan dan industri.

Di kiri dan kanan Sungai Nil terdapat gurun pasir yang luas. Di sebelah kiri Sungai Nil terdapat Gurun Pasir Barat- sering juga disebut Gurun Pasir Libia/Sahara Mesir yang luasnya 2/3 nya luas Negara Mesir. Di tengah gurun pasir yang sangat gersang dan berdebu ini- dengan kuasa Tuhan- terdapat Oasis Faiyum (Faiyum Depression) yang merupakan dataran rendah. Di sana terdapat danau air tawar, Danau Qurun, yang berada 53 m di bawah permukaan laut. Di sepanjang aliran sungai Nil, penduduk Mesir tinggal dan menggarap lahan pertanian di sekitar Oasis Faiyum. Sementara di sebelah kanan Sungai Nil (sisi Timur) terdapat juga gurun pasir yang sering disebut Gurun Pasir Timur atau Gurun Arab.

Di Pesisir Laut Tengah, terdapat banyak pantai berpasir putih indah. Beberapa kota yang terletak di dekat pesisir tersebut adalah Matruh, Roseta, El Mansuria dan Alexandria serta Port Said (Pelabuhan Said). Ke sanalah para keluarga kaya Mesir dan wisatawan pergi untuk sekadar ‘ngadem’ menghindar dari sengatan panas dan angin yang debu di Kairo. Suhu rata-rata di Kairo antara 32-35 derajat Celsius.

Bahkan kadang lebih panas lagi seperti di bulan September. Hujan kadang hanya turun 3 kali dalam setahun di Mesir, sehingga baik angin Barat maupun Timur yang berembus semuanya membawa debu pasir. Kota Alexandria yang terdapat tepat di bibir Lautan Mediterania ini juga terkenal karena dulu pernah menjadi ibu­kota Mesir. Setelah perang Salib ibukota Mesir dipindah ke Kairo, termasuk Ista­na Presiden dan rumah pribadinya, pindah ke daerah Sharmuze. Benteng-benteng pertahanan untuk menjaga musuh yang berasal dari laut masih berdiri kokoh di pinggir laut Mediterania ini dan sekarang dijadikan museum, yaitu Qait­bay Citadel Museum yang di­bangun oleh Sultan Qaitbay (882 AH-1477 AD).

Benar-benar Memanjakan Wisatawan

TAK afdol rasanya ”bertemu” sungai seperti Sungai Nil kalau tak menyusuri alirannya. Maka, dengan taksi air yang sewa per jamnya 100 pound Mesir, saya meluncur di atas. Pada pinggir-pinggir sungai terdapat banyak hotel dan restoran dari yang bintang lima sampai yang kelasnya lebih rendah. Terdapat pula restoran kapal terapung, yaitu Rumah Makan Blue Nile yang menawarkan menu dengan hidangan khas Mesir dengan suguhan ikan yang konon ditangkap dari sungai itu.

Ada pula restoran keliling yang sepanjang hari bergerak menyusuri Sungai Nil. Restoran itu menawarkan kombinasi antara wisata air dan hidangan khas Mesir, Di malam hari kita dapat pula menikmati suguhan tari perut khas timur Tengah (Belly Dance) sambil menyusuri sungai di atas kapal tersebut. Kita bisa memilih kapal Golden Pharaoh untuk tujuan tersebut, namun bila kita menghendaki suasana dan tampilan yang lebih eksklusif, pilihannya bisa memilih restoran kapal Nile Crystal dengan tiket masuk 180 pound per orang (165 pound per orang untuk yang membawa ID diplomat). Bagi penggemar gambling, Sungai Nil juga menawarkan kasino bernama Casino Kasr el Nile yang terdapat di pinggir sungai.

Hotel besar bertaraf internasional berderet sepanjang sungai Nil dengan teras di luar yang menjorok ke bibir sungai. Sangat indah melihat pemandangan Sungai Nil di sore hari sambil menikmati semilirnya tiupan angin dan matahari sore dengan segelas capppucino atau ashir (jus mangga) yang rasanya manis dan pekat. Hotel Four Season serta Hyatt menawarkan rekreasi semacam itu sementara Hotel Sofitel Cairo adalah satu-satunya hotel yang menawarkan sensasi berenang di Sungai Nil. Hal itu dimungkinkan karena hotel tersebut membuat kolam sendiri di bibir sungai Nil tersebut.

Namun jika ingin menyusuri Sungai Nil seperti pelayaran yang dilakukan oleh orang-orang Mesir jadul, Anda dapat menyewa fellucas (perahu layar tradisional Mesir yang geraknya bergantung atas tiupan angin). Perahu seperti itu banyak disewakan di sekitar Aswan dan Luxor. Banyak wisatawan asing yang mencoba menggunakan perahu itu untuk menikmati sensasi pelayaran ala bangsa Mesir kuno.

Semua tawaran di atas merupakan tawaran yang menarik. Benar-benar memanjakan wisatawan. Masalahnya terletak pada kantung atau dompet Anda: limited atau unlimited? Kalau jawabannya yang pertama, maka simpan kembali semua keinginan dan Anda masih bisa menggunakan uang anda untuk berbelanja suvenir di Pasar Attaba, atau di Khan El Khalili Bazaar atau di toko Suni Papirus, membeli oleh-oleh berbagai lukisan kuno bergambar Ratu Cleopatra atau Nefertiti yang cantik di atas papirus (berasal dari pohon papirus, bahan ini dikemudian hari akan menjadi bahan utama pembuat kertas/paper seperti yang kita kenal sekarang).

Selain ”kemewahan” di sepanjang Sungai Nil, jangan lupakan pula untuk pergi ke Jalan Anwar Sadat. Dinamakan demikian karena di sana terdapat Museum Anwar Sadat. Museum itu dibangun untuk menghormati Presiden Anwar Sadat yang terbunuh oleh salah seorang tentaranya sendiri di acara defile pasukan pada saat peringatan Hari Kemerdekaan Mesir tahun 1981.

Museum Anwar Sadat itu berbentuk piramid dan dihiasi dengan meriam yang digunakan dalam perang abad 18. Di situ terpajang pula patung sang mantan presiden dengan tulisan ”Presiden masa perang dan damai.”

Sumber: Suara Merdeka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.