Museum Mulawarman Intip Istana Kesultanan Kutai

Sejarah masa lalu dari Kesultanan Kutai Kartanegara tersimpan dengan baik di istana ini. Ditemani Lembu Suana, pengunjung akan dibuat terkesima melihat benda-benda di dalamnya.

Dulunya, bangunan ini merupakan Istana Kesultanan Kutai Kartanegara. Kemudian, dibangun Hollandsche Beton Maatschappij (HBM) pada 1936, di masa pemerintahan Sultan Adji Mohammad Parikesit. Kemudian, 25 November 1971, istana ini diserahkan kepada pihak pemerintah. Hingga akhirnya, pada 18 Februari 1976, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan koleksi-kolesi sejarah Kutai Kartanegara, dinamai Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur Mulawarman atau lebih dikenal dengan sebutan Museum Mulawarman.

Museum yang terletak di Jalan Diponegoro No. 26, Tenggarong, Kutai Kartanegara ini, nampak masih sangat kokoh dan terawat, kebersihannya pun sangat terjaga. Sebelum memasuki bagian dalam museum, di halaman depan tampak patung Lembu Suana yang berbelalai tapi bukan gajah, bersayap tapi bukan burung, bersisik tapi bukan ikan, berjengger tapi bukan ayam dan bermahkota, merupakan lambang Kerajaan Kutai Kartanegara dan kolam berbentuk naga, mengandung makna perjalanan hidup dan penjaga alam semesta.

Saatnya beranjak ke dalam gedung museum. Selepas dari pintu masuk, pengunjung bisa melihat koleksi peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara, seperti singgasana Sultan Kutai. Di sisi kanan dan kiri singgasana terdapat arca Lembu Suana, sementara dua mozaik gambar Sultan Kutai Kartanegara ke-17, AM Soelaiman dan Sultan Kutai Kartanegara ke-18, AM Alimoeddin, menjadi latar belakangnya. Selain itu, ada lukisan Sultan AM Parikesit, payung kebesaran Kesultanan, serta tiga buah patung perunggu dari Eropa.

Masih di ruang yang sama, terpajang pula mahkota peninggalan kesultanan pada masa Sultan Soelaiman. Cerana terbuat dari emas 23 karat, dan 18 karatnya digunakan sebagai pelapis cerana. Wadah ini digunakan untuk menyimpan tembakau, pinang, gambir dan kapur. Lalu, perhiasan dari emas, perlengkapan upacara mendirikan Ayu, merupakan salah satu bagian dari upacara Erau.

Setelah berkeliling di ruang pertama, pengunjung melanjutkan ke ruang berikutnya. Di sini, pengunjung mendapati satu set wayang kulit Jawa lengkap dengan gamelan. Penjelajahan pun diteruskan, melewati koridor panjang. Tepat di depan lorong, ada sebuah ruang cukup besar tanpa lapisan atap, memajang miniatur Candi Borobudur dan beberapa miniatur sejarah lainnya.

Ruang di sepanjang lorong itu memamerkan Prasasti Yupa dan beragam arca Dewa Hindu. Prasasti Yupa yang dipamerkan di museum ini merupakan benda tiruan, sedangkan yang aslinya berada di Museum Nasional, Jakarta. Sebagai informasi, prasasti ini ditemukan di bukit Brubus, Kecamatan Muara Kaman.

Lalu, seperangkat meja tamu peninggalan Kesultanan Bulungan. Ulap Doyo, hasil kerajinan Suku Dayak Benuaq, diorama tentang sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara, koleksi Numismatika (mata uang dan alat tukar lainnya), serta koleksi keramik dari Cina, Jepang, Vietnam dan Thailand.

Lebih kedalam lagi, pengunjung akan menemukan diorama hasil kekayaan alam Kalimantan Timur, kerajinan khas masyarakat, sebut saja sarung Samarinda yang terkenal itu. Ruang selanjutnya adalah kamar berisi ranjang pengantin bangsawan Kutai, dinamakan Geta. Ranjang tersebut adalah peninggalan Sultan AM Parikesit.

Tidak ketinggalan, lemari kristal, didalamnya tersusun seperangkat alat upacara Pangkon Perak, perhiasan, keris, tombak, dan senjata khas Kalimantan, yakni Mandau.

Tepat di belakang bangunan museum, sebelah timur, terdapat bangunan khusus untuk makam para raja Kesultanan Kutai. Beberapa di antaranya, makam Sultan Muslihuddin, Sultan Salehuddin, Sultan Sulaiman dan Sultan Parikesit. Di sini menjadi tempat terakhir penelusuran jejak sejarah peradaban Kesultanan Kutai.

Jadi, jika Anda sedang berkunjung ke Tenggarong, jangan lupa singgah ke Museum Mulawarman untuk menambah pengetahuan tentang sejarah bangsa ini.

Menuju Museum

Untuk sampai ke Museum Mulawarman yang terletak di Tenggarong, pengunjung bisa menempuhnya dari arah Samarinda karena jaraknya lebih dekat dan mudah, membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan.

Bila dari arah Balikpapan membutuhkan waktu tiga jam tiba di museum melalui perjalanan darat. Sementara, untuk sarana transportasi, tersedia angkutan umum dari Samarinda menuju Tenggarong dan taksi dengan tarif antara Rp250 ribu hingga Rp300 ribu.

Sumber: Majalah Travel Club

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.