Angin Semilir di Losari Coffee Plantation

club house yang dibangun tahun 1828

WAKTU seakan berhenti di Losari Coffee Plantation, bekas perkebunan kopi seluas lebih dari 22 hektare di Desa Losari, Magelang, Jawa Tengah, yang diubah menjadi resort dan spa di akhir tahun 2003. Berkendaraan dari Semarang melewati Ambarawa menuju arah Magelang, di suatu tempat, mobil berbelok ke kiri. Memasuki pedesaan yang rimbun pepohonan, tiba-tiba kita seperti merasa berada di tempat lain yang sunyi. Sungguh berbeda dengan suasana sebelumnya, jalan raya yang hampir setiap saat ramai kendaraan besar dan kecil.

Setelah melewati tembok putih sepanjang jalan, tibalah di gerbang Losari Coffee Plantation yang terletak di Continue reading Angin Semilir di Losari Coffee Plantation

Obat, Teh, Giok, Elektronik dan Musim Dingin di Cina

poci teh cina

Cina memang membuka lebar-lebar pintu wisatanya bagi turis mancanegara. Penerbangan langsung ke negara tersebut juga sudah dilakukan oleh beberapa perusahaan penerbangan Indonesia.

Dengan kemudahan tersebut, keinginan untuk melihat negeri Cina semakin kuat. Beberapa kota seperti Beijing dan Sanghai merupakan kota yang menarik untuk dikunjungi. Penerbangan dengan Cathay Pacific bisa langsung dari Jakarta, walau harus transit sebentar di Hong Kong. Kemudian dilanjutkan penerbangan selama empat jam ke Beijing.

Biasanya dari Hong Kong cuaca dan berbagai hal di Beijing sudah bisa diprediksi. Kalau di Hong Kong cuaca hangat atau dingin, maka yang terjadi di Beijing atau kota lainnya tidak terlalu berbeda.

Oleh kru dikabarkan cuaca di bulan Desember sangat dingin. Suhu antara dua sampai nol derajat Celcius. Di Continue reading Obat, Teh, Giok, Elektronik dan Musim Dingin di Cina

Gerbang Nusantara, Taman Resto dan Rekreasi di Cibubur

FOTO-FOTO: UTUN L KARTAKUSUMAH

SAUNG – Beberapa saung disediakan untuk menikmati hidangan bersama keluarga atau rekan. Pemandangan alam dari saung ini cukup meningkatkan selera makan.

Jambore Nasional tahun 1973 yang diselenggarakan di Cibubur Jakarta membawa berkah tersendiri bagi pekembangan kawasan Cibubur Jakarta Timur. Sejak itu Cibubur dikenal dengan Bumi Perkemahan (camping ground) dan menjadi pusat kegiatan Pramuka maupun organisasi kepemudaan lainnya pada tingkat nasional. Bukan hanya untuk kegiatan Pramuka, kegiatan organisasi lain juga menggunakan fasilitas yang ada di Bumi Perkemahan ini. Continue reading Gerbang Nusantara, Taman Resto dan Rekreasi di Cibubur

Karpet Hijau Raksasa di Pagilaran

Bagai karpet raksasa di kejauhan! Warnya hijau. Pemandangan itu mulai terlihat ketika kendaraan memasuki kawasan kebun teh PT Pagilaran di Batang, Jawa Tengah. Hamparan tanaman teh menutup lereng utara dataran tinggi Dieng, mengikuti kontur tanah. Jika beruntung cuaca cerah, dari punggungan salah satu bukitnya tampak laut biru membentang di arah utara

FOTO-FOTO: PEMBARUAN/FUSKA SANI EVANI

KARPET RAKSASA – Hamparan tanaman teh PT Pagilaran memenuhi lereng utara dataran tinggi Dieng, bagai karpet raksasa berwarna hijau.

.

SELURUH permukaan bukit tampak hijau tak bercela. Suasananya tenang, tenteram, suatu hal yang membedakannya dengan perkebunan teh di kawasan Puncak, Jawa Barat, yang langsung berbatasan dengan jalan raya. Continue reading Karpet Hijau Raksasa di Pagilaran

Ogoh-Ogoh, Daya Tarik Wisata Bali

PEMBARUAN/NYOMAN MARDIKA

HANOMAN DUTA- Ogoh-ogoh ini merupakan karya warga Sesetan, Denpasar, Bali, juara pertama dalam lomba pawai ogoh-ogoh HUT ke-13 Kota Denpasar yang diselenggarakan Minggu (20/2).

Tradisi pawai ogoh-ogoh (patung raksasa) yang biasanya berlangsung sehari menjelang Nyepi atau disebut “pengrupukan” di Denpasar tidak akan lagi berlangsung. Sebab, tradisi ini tengah dialihkan lewat lomba menyambut HUT Kota Denpasar ke-13 Minggu (20/2) dan Senin (21/2). Bahkan, lomba ini tengah dirancang untuk bisa digelar setiap tahun secara kontinyu sebagai daya tarik wisata. Continue reading Ogoh-Ogoh, Daya Tarik Wisata Bali

Koteka dan Dinamikanya

PEMBARUAN/FUSKA SANI EVANI

PADA mulanya, tari-tarian dipersembahkan sebagai bagian dari ritual. Bahkan dalam masa berkabung pun suku Lani di Pegunungan Tengah Kabupaten Jaya Wijaya , Kabupaten Puncak Jaya, Papua Barat bersatu dalam tarian-tarian rancak dan khidmat.

Sepanjang teriakan dan lagu-lagu tak beraturan didengungkan, semua mengandung fonem-fonem yang hanya bisa dipahami secara indrawi, jika keluarga mereka sakit atau berdoa kepada arwah nenek moyang. Tarian-tarian dipersembahkan sebagai sikap kerukunan dan kebersamaan.

Pada dekade 70-an, muncul keinginan dari penduduk muda Papua yang merantau ke daerah lain untuk Continue reading Koteka dan Dinamikanya

Berkunjung ke Kampung Adat di Tengah Hutan

Permukiman di tengah hutan, di kaki Gunung Halimun, Jawa Barat. Tak mudah mencapainya, tetapi ke sanalah kaki melangkah untuk menikmati kedamaian dan ketenteraman kehidupan masyarakat Kesatuan Adat Banten Kidul, yang lebih dikenal dengan nama Kasepuhan Banten Kidul. Suatu bentuk ketaatan warga kepada adat dan tradisi yang patut dipelajari

FOTO-FOTO: PEMBARUAN/SOTYATI

DERETAN LUMBUNG – Deretan lumbung berbentuk kerucut dengan atap ijuk atau anyaman daun jenis tertentu menjadi pemandangan umum di kampung adat Kasepuhan. Continue reading Berkunjung ke Kampung Adat di Tengah Hutan

Kampung Naga, Riwayatmu Kini

Foto-foto oleh Sulung Prasetyo Kegiatan menumbuk padi merupakan salah satu ritual yang dilakukan hampir tiap hari di Kampung Naga.

TASIKMALAYA – Berwisata di kampung ini layaknya orang –maaf— kebelet kencing saja. Datang, lihat, buang, rasakan, dan sesudahnya pergi pulang. Tak ada kesan mendalam yang biasanya berbekas. Semua berlalu, serba cepat. Berbagai daya tarik yang ditampilkan seperti sudah disediakan dan diatur. Kita harus melangkah ke mana, melihat siapa, dan merasakan apa. Apakah ini sebuah pertanda bahwa kampung tersebut hanya sekadar komoditas bagi turis.

Tak ada yang bisa disalahkan memang bila Risman, salah seorang ketua RT di Kampung Naga, mau berepot-repot mengantarkan turis domestik berkeliling kampung. Di antara kesibukan ia sebagai ketua RT yang pada Minggu (28/3) lalu harus turut serta dalam tahap renovasi atap rumah, pria setengah baya ini bersedia menemani kami menyusuri desa di pinggir Sungai Ciwulan tersebut.
Perjalanan wisata yang terasa instan ini dimulai saat kami turun, melewati ratusan undak tangga. Tiba di batas undakan jalan, seluas mata memandang adalah hamparan hijau padi. Di sebelah kanan, aliran Sungai Ciwulan berwarna coklat. Matahari menyengat ditingkahi asap sisa pembakaran sampah. Merupakan kebiasaan penduduk setempat membakar sampah di pinggir sungai, agar sisa arang turut terbawa air.
Risman yang sudah menanti kami mulai terlihat meninggikan tangan, menandakan di mana kami akan memulai mengenal desa ini. Kolam-kolam desa harus dilewati dahulu sebelum tiba di batas pondasi rumah pertama.
Jajaran rumah di sini mengingatkan kami pada daerah sempit Jakarta. Antara satu rumah dengan rumah lainnya terlihat sangat berdekatan, hanya sekitar tiga langkah kaki. Batu-batu sungai besar menghiasi batas depan antarrumah. Atap hitam mengkilat terkena panas hingga menyilaukan mata. Tapi mata langsung terasa nyaman saat melihat dinding-dinding anyaman bambu depan masing-masing rumah.
Salah satu rumah deret pertama yang kami lalui, ternyata sedang direnovasi. Meski hanya renovasi atap, hampir semua lelaki desa terlibat. Renovasi atap memang bukan hal enteng di Kampung Naga. Tiap atap dilapisi dengan dua macam bahan. Paling bawah adalah atap nipah yang dianyam kering. Lapisan berikutnya ijuk hitam, yang menurut informasi Risman, pernah sampai 7 tahun ia mengumpulkan agar bisa menutupi keseluruhan satu petak rumah miliknya.

Menemui Kuncen Desa
Sebelum mengitari desa, ritual pertama yang wajib kami lakukan adalah menemui Henhen, seorang kuncen desa atau tetua adat. Umurnya yang masih muda tergambar jelas pada perawakannya. Ini mengingatkan lagi pada perawakan abah Anom, pemimpin spiritual kampung Ciptagelar di Pelabuhan Ratu. Dan makin menambah bukti mengenai mudanya umur seorang tetua di Jawa Barat.
”Ada urusan apa Anda datang ke desa ini?” tanyanya kalem. ”Apabila hanya untuk pribadi silahkan melanjutkan perjalanan,”tambahnya.
Perihal izin untuk memasuki kampung ini memang bisa menjadi kompleks masalahnya. Apalagi buat turis yang tidak tahu atau sok tahu. Disarankan buat Anda jangan sok penting seperti ilmuwan atau wartawan layaknya. Karena alasan itu justru akan mengantar kita pada jurang kerumitan birokrasi. Bertele-telenya sistem birokrasi di Kampung Naga membuat seorang rekan akhirnya punya kesimpulan. ”Kalau ngeliat sulitnya birokrasi, sepertinya desa ini mau tak mau menjual wisatanya.”
Meski begitu, kami puas menyusuri Kampung Naga. Melewati pusat desa yang berisi masjid dan sebuah balai pertemuan. Melihat orang-orang tetap dengan keasyikan sendiri, menenun, menisik bambu, menganyam dan membuat berbagai perkakas tenunan.
Namun rasa lapar di perut ini rasanya mulai memanggil. Ajakan Risman untuk makan di rumahnya memang terdengar menggiurkan. Sempat juga terlantun nada tak enak hati, tapi segera terhapus saat diketahui seorang rekan belum pernah merasakan makan bersama orang-orang ini.
Maka kaki pun langsung saja melangkah masuk dalam rumah. Bersih memang keadaan dalam rumah di sini. Kamar-kamar yang ada di dalamnya tidak terlalu besar. Mungkin karena kesepakatan mereka untuk tidak menambah luas desa. Sementara jumlah penduduknya terus bertambah, menimbulkan dampak seperti keadaan rumah yang kecil-kecil seperti sekarang yang kami lihat ini. Namun, yang namanya makan tetap saja menarik. Makan siang dengan ikan mas goreng, sayur urap lalapan, dan tempe goreng tak terasa amblas begitu saja.
Menjelang siang, kami memutuskan meninggalkan desa, meninggalkan rasa tak enak di hati. Seperti ada perasaan dijauhkan di sini. Tiba-tiba kami mendapati Kampung Naga tak beda dengan Ancol. Wisata budaya menjadi tak jauh berbeda dari wisata kota. Atau ini hanya ekses dari kebutuhan ekonomi semata yang memang lebih mudah terasa dari sisi wisata.
(str-sulung prasetyo – Sinar Harapan)