Romantisme Senja di Kaimana

Senja di Kaimana
Senja di Kaimana

KAIMANA – Bagi pencinta tembang lawas era 1970-an, tentunya lagu “Senja di Kaimana” yang dibawakan penyanyi Alfian sudah tak asing lagi di telinga.
Lagu yang menceritakan tentang keindahan senja di Kaimana, Papua Barat itu membuat rasa penasaran siapa saja untuk menyaksikan langsung senja saat berada di Kaimana.

Kan ku ingat slalu
Kan ku kenang slalu
Senja indah
Senja di Kaimana

Dari cerita para orang tua dulu, terciptanya lagu ini berawal ketika pasukan tentara Tri Komando Rakyat (Trikora) mendarat di Kaimana (waktu itu masih menjadi satu dengan Kabupaten Fakfak-red). Kedatangan Pasukan Trikora itu untuk membebaskan Irian Barat di tahun 1960-an dari penjajahan asing, tepatnya di Tanjung Fataga menggunakan KRI Macan Tutul.
Pasukan ini mendarat di saat hari menjelang sore dan disambut dengan keindahan nuansa senja di Kaimana. Mereka begitu terpesona menyaksikan pemandangan alam senja itu dan lupa kalau saat itu mereka hendak bertempur melawan pasukan Belanda untuk merebut kembali Irian Barat ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Salah seorang di antara tentara itu kemudian membuat puisi tentang keindahan senja di Kaimana. Dan saat kembali ke Pulau Jawa inilah puisi tersebut dibuat dan kemudian dijadikan lagu dengan judul “Senja di Kaimana”.
Biasanya senja akan terlihat indah sehabis turun hujan dari pukul 12.00 sampai 15.00. Ketika langit bersih dan matahari akan terbenam itulah muncul panorama yang sangat indah, karena di balik panorama langit yang berwarna dominan ungu, merah, serta oranye ini muncul pula pelangi dari arah timur.
Tetapi bila tidak sedang turun hujan, suasana senja di Kaimana terasa biasa-biasa. Saya termasuk orang yang beruntung, karena ketika baru pertama kali mengunjungi Kaimana ternyata langsung mendapat suguhan keindahan alam ciptaan Tuhan yang tiada tara ini. Begitu indah dan unik sehingga mata tak mau terpejam, ingin menyaksikan detik demi detik perubahan bentuk langit.
Bila Anda belum pernah ke Kaimana dan ingin menyaksikan senja di sana, pemandangan sebelum matahari terbenam itu dapat Anda saksikan di daerah Coa pada bulan Agustus. Menurut warga Kaimana, pada bulan Agustus keindahan senjanya biasanya sangat fantastis, langit Kaimana akan berwarna merah. Uniknya, bentuk langitnya akan selalu berubah–ubah dan tidak terpaku pada satu bentuk dan warna saja.
Mau percaya atau tidak, masyarakat Kaimana juga mempercayai sejumlah cerita, seperti cerita dari Pulau Aiduma, di mana setiap hari Jumat tepat pukul 11.00 selalu muncul serombongan ikan yang dipimpin ikan paus, kemudian diikuti lumba-lumba dan serombongan ikan lainnya. Mereka akan menuju Pulau Namatota. Dahulu ada Kerajaan Namatota yang penduduknya beragama Islam. Rombongan ikan itu menuju Pulau Namatota untuk mengambil air wudu.

Kompleks Pecinan
Kota Kaimana ternyata menyimpan banyak objek wisata selain kekayaan wisata bahari. Ada yang seolah-olah terlupakan, yakni kompleks daerah pecinan. Letaknya di jantung Kota Kaimana. Warga China di Kaimana sudah lama beranak pinak bahkan sejak zaman Hindia Belanda sehingga biasanya ada istilah orang China Medan, China Makassar, atau China Surabaya. Maka, di Papua selain ada peranakan China Serui, ada juga peranakan China Kaimana.
Seperti orang China lainnya, kebanyakan mata pencarian mereka berdagang. Dahulu sebelum banyak kaum pendatang dari Makassar ke daerah ini, warga China biasanya melakukan jual-beli dengan nelayan tradisional asli Kaimana, seperti menjual teripang, sirip ikan hiu, dan hati ikan hiu.
Sisi unik dari Kota Kaimana lainnya adalah ada semacam peraturan tak tertulis di antara para pemilik toko, yaitu pada pukul 14.00 WIT seluruh toko tutup. Menurut mereka, jam itu merupakan jam tidur siang sehingga suasana kota betul-betul sepi. Toko baru akan buka lagi pada pukul 16.00.
Apabila Anda ingin rehat dan melepaskan diri dari kebisingan kota besar, kota tua ini memang layak dijadikan sebagai objek wisata alternatif.

4 thoughts on “Romantisme Senja di Kaimana”

  1. earlier, Turk was the perfect matchup for Ariza. There’s no way he could have played similar defense on Pierce. Artest and Melo, too, had some success when using their strength advantage. Ariza’s a great help defender and solid on weaker SFs, but he’s just too weak to contain guys in the Pierce-mold. We’ll have to make do with what we have, we don’t have a shot at bringing in another (stronger) defensive wing, but an unfavorable matchup could result in last year’s problems – forcing Kobe to take on the brunt of the defensive load.

  2. Man skriver:Helt klart, det behöver alla för att det ska bli nÃ¥n magi av det hela, mycket ocksÃ¥ för att kunna kommunicera och bättra pÃ¥ samspelet vilket gör den största skillnaden skulle jag säga för att dra ännu en sliten klysha. 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.