Sail Bunaken 2009, Jayalah Lautku

Pesawat Sukhoi TNI AU melesat di atas KRI Dewaruci yang bersama 26 kapal perang asing dan 6 KRI mengikuti parade kapal perang di perairan Teluk Manado, Rabu (19/8).
Pesawat Sukhoi TNI AU melesat di atas KRI Dewaruci yang bersama 26 kapal perang asing dan 6 KRI mengikuti parade kapal perang di perairan Teluk Manado, Rabu (19/8).

Nenek moyangku seorang pelaut/gemar arungi luas samudera/tiada takut ombak dan karang. Demikian petikan lagu yang acap dinyanyikan oleh anak-anak puluhan tahun lalu. Lagu ini, tampaknya mulai terlupakan. Padahal, lagu ini tidak saja lagu yang cocok untuk anak-anak, tetapi juga dapat menggugah kecintaan terhadap laut. Mengingat wilayah Indonesia dikelilingi banyak lautan, dan samudra yang di dalamnya terkandung keanekaragaman biota yang indah. Semua kekayaan laut hingga bibir pantainya yang indah, semuanya adalah potensi pariwisata bagi Indonesia. Karena itu, tidak berlebihan apabila pertengahan Agustus lalu, diadakan Sail Bunaken 2009.

Para peserta upacara mendekati tiang bendera seusai upacara bendera peringatan detik-detik Proklamasi di bawah laut, yang diikuti 2.486 penyelam, di pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, Senin (17/8).
Para peserta upacara mendekati tiang bendera seusai upacara bendera peringatan detik-detik Proklamasi di bawah laut, yang diikuti 2.486 penyelam, di pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, Senin (17/8).

Ide kegiatan Sail Bunaken 2009 mengemuka setelah rencana kegiatan World Ocean Conference (WOC) ditetapkan pada tahun 2008 lalu. Saat itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi berbincang dalam suasana informal dengan Dirjen pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, DKP Aji Sularso. Dalam kesempatan itu, Aji Sularso mengemukakan bahwa kegiatan WOC merupakan sebuah momentum politik RI dalam mengelola potensi laut secara benar. Karena itu, sebagai tidak lanjut dari WOC, perlu diadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Lantas, tercetuslah ide pelaksanaan Sail Bunaken 2009. Ide ini sebetulnya diangkat dari acara tahunan yang telah dilakukan, yaitu Sail Indonesia. Kegiatan Sail Indonesia telah dilakukan secara rutin setiap tahun berupa reli kapal layar dari Darwin, Australia, menuju kawasan timur Indonesia.

Untuk tahun 2009, kegiatan Sail Indonesia dikembangkan menjadi Sail Bunaken 2009 dengan lokasi finis di kota pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara. Dalam kegiatan ini, sekitar 70 yacht (kapal layar) mengikuti kegiatan. Setelah finis di Kota Bitung, para peserta reli disuguhi berbagai atraksi wisata, serta festival makanan laut dan mengunjungi lokasi wisata di Sulawesi Utara. Dalam kegiatan Sail Bunaken, aktivitas tidak hanya berupa kegiatan reli yacht, tetapi juga dengan pemecahan rekor selam massal dan Indonesia Fleet Review (parade kapal perang).

Karena itu, selama beberapa hari, Kota Manado menjadi begitu meriah. Pada Selasa (19/8) sore, tiga pesawat tempur Sukhoi SU-30 MK TNI AU membelah langit Manado. Jet tempur produksi Rusia itu melintas di atas kapal layar tiang tinggi KRI Dewaruci yang berlayar di permukaan perairan Teluk Manado, Sulawesi Utara. Di atas tiang layar, para kadet Akademi Angkatan Laut memberi salam dengan melambaikan topi kepada para tamu yang menyaksikan dari tribun Blue Banter Citywalk, Manado, dalam kegiatan Indonesia Fleet Review.

Menkopulhukam Widodo AS menerima penghormatan dari tribun kehormatan. Awalnya, kegiatan ini dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, namun presiden tidak dapat menghadiri kegiatan penghormatan dari awak kapal perang 30 negara sahabat itu, sehingga Widodo AS menggantikan posisi presiden, sekaligus membacakan amanat tertulis presiden.

Terbang lintas itu juga diikuti pesawat intai TNI AL, Nomad dan Cassa 212, dan empat pesawat F-16 TNI AU. Terbang lintas diawali dengan lepas landasnya empat pesawat F-18 Hornet dari atas landasan kapal Induk Amerika Serikat USS George Washington yang berparade bersama 37 kapal perang lainnya di Teluk Manado, sebagai kegiatan penutup Sail Bunaken 2009 sekaligus peringatan Hari Kemerdekaan ke-64 Republik Indonesia.

Kelompok drumben awak kapal perang Korea Selatan dan awak kapal perang asing lainnya berbaris memeriahkan karnaval hari kemerdekaan di jalan Kota Manado, Selasa (18/8).
Kelompok drumben awak kapal perang Korea Selatan dan awak kapal perang asing lainnya berbaris memeriahkan karnaval hari kemerdekaan di jalan Kota Manado, Selasa (18/8).

Masyarakat Manado pun memadati sepanjang pantai Teluk Manado, menyaksikan parade kapal perang Fleet Review. Parade dipimpin oleh kapal induk AL AS, USS George Washington, diikuti dengan kapal-kapal perang dari 24 negara sahabat. Dalam jarak sekitar satu mil laut, rangkaian kapal perang itu menyusuri Teluk Manado. Setiap kapal melintas di depan mimbar kehormatan, mereka memberi penghormatan sekaligus meneriakkan yel-yel “Indonesia Merdeka”.

Sebelumnya, pada Selasa (18/8), sekitar 2.000 awak kapal perang negara sahabat itu mengikuti kirab kota di sepanjang Jalan Boulevard, Kota Manado. Selain menyapa warga Manado, para pelaut itu juga menampilkan drumben bersama dengan atraksi seni warga Manado yang menjadi peserta karnaval.

Sementara itu, tepat pada pukul 10.00 WITA, pada Senin (17/8), sebanyak 2.486 penyelam memperingati detik-detik Proklamasi di kedalaman 15 meter di bawah permukaan laut, Pantai Malalayang, Manado. Ribuan penyelam, baik anggota TNI Polri maupun penghobi olahraga selam, mengikuti upacara di bawah laut. Upacara bendera dipimpin oleh Wakil Kepala Staf TNI AL, Laksdya TNI Moekhlas Sidik dengan komandan upacara, Kadispenal Laksma TNI Iskandar Sitompul.

Penyelaman itu dimulai dari Pantai Malalayang secara bergelombang. Dengan peralatan lengkap, dan tabung oksigen di punggung, para penyelam memasuki laut dengan berjalan di pinggir pantai. Mereka bergerak dengan berenang dari pinggir ke lokasi upacara sejauh 100 meter yang sudah ditandai dengan titik-titik penyelaman sesuai simbol huruf.

Setelah itu, semua peserta selam menempati posisi di permukaan laut. Kemudian sesuai aba-aba, para penyelam mengempeskan rompi selam mereka dan mulai tenggelam ke dasar laut. Di dasar laut, mereka kemudian berbaris berbanjar dari barat ke timur. Barisan terdiri dari 54 grup, yang terdiri dari 50 penyelam yang dipimpin oleh komandan regu. Komandan regu dan wakilnya sekaligus menjadi tim SAR bila terjadi kondisi darurat.

Para penyelam selanjutnya berbaris dengan posisi berlutut di dasar laut. Rangkaian tali yang terikat di dasar laut menjadi pegangan agar para penyelam tidak melayang ke atas.

Setelah para penyelam berbaris rapi, komandan dan inspektur upacara memasuki lapangan upacara. Komandan upacara berlutut di depan barisan peserta upacara, menghadap tiang bendera dan inspektur upacara. Mimbar upacara cukup unik, dikelilingi bongkahan terumbu karang.

Seperti halnya upacara di darat, berbagai kegiatan dilakukan tata upacara berupa pengibaran bendera merah putih yang diringi lagu Indonesia Raya, dan pembacaan naskah Proklamasi. Para peserta dapat mendengar prosesi itu, karena telah ditempatkan speaker khusus di dalam laut. Aba-aba komandan dan inspektur upacara dapat didengar peserta, karena kedua pejabat itu menggunakan masker khusus yang dilengkapi mikrofon. Dengan demikian, wawancara pun bisa dilakukan di bawah laut.

Upacara bendera di bawah laut ini masuk rekor Guinnes World Record sebagai upacara bendera pertama kali yang dilakukan di dasar laut. Sedangkan dalam jumlah peserta, kegiatan selam ini juga telah memecahkan rekor penyelaman massal, yakni sebanyak 2.486 peserta upacara pada Hari Kemerdekaan, dan 2.465 penyelam sehari sebelumnya di Pantai Malalayang.

Selama ini, rekor dunia selam massal secara berturut-turut dicatatkan oleh Australia pada tahun 2004 dengan 600 penyelam, kemudian Thailand pada tahun 2005 pada Festival Kohtao sebanyak 725 penyelam dan di Maladewa tahun 2007 sebanyak 958 penyelam.

Menurut Aji Sularso, tahun 2010 mendatang akan dilakukan kegiatan Sail Maluku, sebagai rangkaian kegiatan lanjutan Sail Bunaken. Dengan kegiatan tahunan tersebut, diharapkan dapat mengukuhkan Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia. Jalesveva jayamahe! [Suara Pembaruan/Alex Suban]

One thought on “Sail Bunaken 2009, Jayalah Lautku”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.