Home » Banten

Seren Taun dalam Tiga Warna

7 October 2005 Banten 2,126 views No CommentPrint This Post PRINTEmail This Post EMAIL

TARI KENDI – Di acara Seren Taun yang diadakan di Desa Cigugur, atraksi debus tak terlihat, diganti dengan prosesi tari kendi.

BANTEN – Sebentar lagi pesta seren taun akan kembali digelar di Desa Ciptagelar. Upacara dalam pasal pesta panen itu, pastinya akan kembali menggelar kemegahan, seperti yang lalu-lalu.

Di Jawa barat, sebenarnya pesta rakyat ini merupakan ciri tersendiri. Sebuah budaya yang mungkin berawal dari masa megalitik, terus bertahan hingga jaman moderen kini. Dalam arus adaptasinya, tentu saja banyak hal yang harus disesuaikan. Mungkin beberapa mantera telah dikurangi. Atau sedikit bagian prosesi ditawarkan pada umum. Namun pada intinya sama, sebuah acara penghargaan terhadap nikmat yang kita terima.
Diantara berbagai prosesi yang dilakukan, ada beberapa atraksi yang sebenarnya menarik untuk diperhatikan karena masing-masing perbedaannya. Seperti debus, misalnya. Keahlian kebal senjata ini sebenarnya cukup melegenda di kalangan masyarakat barat Jawa.
Beberapa kali kabarnya kemampuan ini telah dipertunjukkan secara internasional. Namun melihatnya di tanah kelahiran sendiri, ini merupakan satu pengalaman wisata yang menakjubkan. Seperti cerita debus di Dusun Lebak Sibedug, yang teramat mempertontonkan keahlian ini secara frontal. Ini dapat digambarkan dalam kilasan berikut.
“Orang-orang di depan saya tiba-tiba meruyak. Rombongan terpecah dan cenderung chaos. Aksi kekerasan seperti memukul-mukulkan rotan pada tangan dan badan, memenuhi hampir keseluruhan orang yang hadir. Beberapa tubuh tampak limbung dengan golok-golok yang terus ditekan pada badannya. Seorang wanita kemudian tampak mengangkat tangannya ke atas. Dan mulai membeset bagian tapak tangannya dengan sebilah pisau kecil. Darah kemudian tampak menetes. Di sela tangan yang menelungkup dalam pisau.Tampaknya wanita itu gagal mempertunjukan debus di depan khalayak. Mungkin ilmunya kurang kuat, atau ada penganggu disekitarnya.”
Begitulah sedikit gambaran yang bisa dilihat kalau kita sempat melihat prosesi upacara Seren Taun di Lebak Sibedug, Citorek, Jawa Barat. Namun atraksi debus serupa tak terlihat kental di upacara Seren Taun yang digelar juga setiap tahun di Dusun Ciptagelar. Dusun yang berada di pusat pegunungan Halimun tersebut, memakai atraksi debus hanya sebagai pengiring saja. Biasanya debus ditaruh pada barisan pertama. Menjaga gadis-gadis berkemben putih, dengan dandanan bak putri dari keraton. Kata para tetua di sana, puteri-puteri itu harus dipilih yang masih perawan. Sebagai perlambang Dewi Sri, sang dewi padi.
Meski terasa hanya sebagai aksesoris belaka, debus menjadi atraksi yang cukup menakjubkan. Adegan tusuk mata, potong lidah, beset perut, tampak menjadi tak menyakitkan.
Berbeda lagi bila kita membicarakan atraksi debus dalam prosesi Seren Taun di Dusun Cigugur. Karena di acara yang juga dilakukan tiap tahun sekali di desa dekat kota Cirebon itu, sama sekali tak meninggalkan bekas-bekasnya. Alias tak ada sama sekali atraksi debus di dusun ini. Entah juga mengapa, atraksi yang cukup bikin nengok kepala itu bisa lenyap di Cigugur.

Masuk Lumbung
Acara memasukkan padi ke dalam lumbung di tiga tempat tersebut juga berbeda-beda. Di Lebak Sibedug, acara memasukkan padi ke dalam lumbung tak dimasukkan dalam acara yang dapat dilihat umum. Mereka melakukan acara tersebut tersendiri setiap tahun, biasanya dua atau tiga hari sebelum puncak acara berlangsung.
Sementara di Ciptagelar acara prosesi memasukkan padi ke dalam lumbung lebih terlihat vulgar. Semua pihak dapat melihatnya dengan jelas. Satu per satu pocong padi pun dapat dilihat jelas alur masuknya ke dalam lumbung. Abah Anom, tetua adat kampung Ciptagelar seperti membuka saja prosesi itu untuk santapan umum. Segala prosesi dan mantera-mantera pun diperlihatkan apa adanya.
Sedangkan di Cigugur, prosesi memasukkan padi ke dalam lumbung, coba ditawarkan menjadi milik umum. Setiap orang yang hadir boleh mencoba menumbuk padi yang akan dimasukkan ke dalam lumbung. Beberapa pengalaman menarik, bila Anda turut menikmatinya.

Oleh Sulung Prasetyo – Sinar Harapan

Be Sociable, Share!


Artikel Terkait:

  • Kemeriahan Pesta Serah Tahun
    [ Friday, 25 Mar 2011 - 7 : 14 | 0 comments | 2678 views ]
    Pesta Rakyat masyarakat peladang di Tanah Parahyangan ini menjadi simbol ungkapan syukur kepada Sang Pencipta terhadap panen yang diperoleh. Tuntunan dan tontonan budaya berpadu serasi dalam gelaran Seren Taun. Hari masih pagi ketika orang berbondong-bondong antusias datang ke Desa Pasir Eurih....
  • Berkunjung ke Kampung Adat di Tengah Hutan
    [ Sunday, 2 Jan 2005 - 5 : 01 | 1 comments | 4547 views ]
    Permukiman di tengah hutan, di kaki Gunung Halimun, Jawa Barat. Tak mudah mencapainya, tetapi ke sanalah kaki melangkah untuk menikmati kedamaian dan ketenteraman kehidupan masyarakat Kesatuan Adat Banten Kidul, yang lebih dikenal dengan nama Kasepuhan Banten Kidul. Suatu bentuk ketaatan...
  • Berlibur Sambil Mengenal Kebudayaan Sunda
    [ Thursday, 29 Dec 2011 - 7 : 29 | 0 comments | 1977 views ]
    kp-sindangbarang.com TAK perlu pergi jauh mengajak keluarga Anda berlibur. Cukup mendatangi Kampung Budaya Sindangbarang yang berlokasi di desa pasir eurih kecamatan tamansari kabupaten Bogor Jawa Barat. Sambil berwisata, Anda dan keluarga bisa menikmati keindahan alam Bogor yang asri. Kegiatan yang bisa dilakukan...
  • Debus Atraksi Mengerikan Dari Banten
    [ Thursday, 23 Apr 2009 - 10 : 21 | 0 comments | 7754 views ]
    debus-banten Debus selain merupakan satu kesatuan dengan seni bela diri pencak silat, juga memiliki kelengkapan atraktif. Debus selalu menarik dan membuat syaraf segenap penontonnya menjadi tegang. Kenapa? Karena permainan bersenjatakan golok, pisau, atau benda tajam lain, yang mengakibatkan luka-luka berat di...
  • Pergelaran Maha Bandhana Prasadha: Kisah Manusia dalam Tradisi Bali
    [ Tuesday, 27 Oct 2009 - 10 : 26 | 0 comments | 3865 views ]
    Kesenian "Wayang Lemah" yang biasa dipentaskan pada upacara tertentu yang berkaitan dengan manusia yadnya. Kesenian "Wayang Lemah" yang biasa dipentaskan pada upacara tertentu yang berkaitan dengan manusia yadnya. Sebagai kota yang menuju Kota Budaya, Denpasar harus memperhatikan budaya sebagai salah satu pilar pembangunan. Hal itu sejalan dengan konsep pembangunan pariwisata Bali yang juga mengembangkan pariwisata...


Error. Page cannot be displayed. Please contact your service provider for more details. (5)



Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>