Sinolewah, Wisata Kemah

Berkemah di sela-sela pohon sengon, sambil menatap Gunung Merapi di kejauhan. Jika punya tenaga berlebih, mengasyikkan jalan-jalan di sekitar “berburu” susu sapi perah. Lalu, bagaimana dengan berapi unggun dalam iringan gamelan?

Foto-foto: PEMBARUAN/BERNADUS WIJAYAKA - Pendopo Utama

Sejauh mata memandang, tak tampak keistimewaan tempat itu. Namun, masuk ke dalamnya, mulai tampak daya tariknya, terutama pemandangan di kejauhan yang luar biasa: gunung Merapi dengan keangkuhan dan keangkerannya.

Lahan yang sebelumnya dikenal sebagai kebun jambu dan padang ilalang itu kini telah disulap menjadi tempat wisata berkemah. Namanya Sinolewah, tepatnya di Dusun Gondang, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta.

Setiap akhir pekan, tempat itu ramai dikunjungi orang, baik mahasiswa maupun pegawai kantoran. Kalangan mahasiswa datang untuk berkemah, pegawai kantoran biasanya datang untuk mengikuti pelatihan di luar ruangan (outbound).

Kalau sedang ramai, areal perkemahan itu bisa menampung 1.000 orang. Kemah-kemah didirikan di antara pepohonan sengon. Pengunjung ditarik biaya Rp 15.000 per orang per sekali berkemah.

Fasilitas yang ditawarkan Sinolewah lumayan memadai. Di tempat itu terdapat delapan rumah pendopo yang biasa dipakai sebagai ruang pertemuan, dan 35 kamar mandi dengan air yang melimpah ruah. Sinolewah menyediakan dapur umum, lengkap dengan peralatan masaknya.

Pengelola tempat wisata itu juga menyediakan fasilitas penerangan, baik luar maupun dalam ruangan, serta sound system. Bagi yang tidak mempunyai alat telekomunikasi sendiri, tempat itu juga menawarkan warung telekomunikasi.

YB Sukamto, yang “menyulap” tempat itu menjadi tempat wisata berkemah, mengatakan minimal tiga kali dalam sebulan Sinolewah disewa. Memang, belum tentu dalam jumlah yang besar. “Ada juga yang datang dari kantor tertentu. Tidak melulu pramuka atau anak sekolah. Biasanya, kalau dari kantor-kantor mereka mengadakan kemah dengan out bound. Mereka membawa alat sendiri. Sebagian besar mengatakan, dengan berkemah semangat kerja mereka bangkit,” katanya.

Lokasinya memang strategis. Tidak jauh dari Merapi Golf. Dari Sinolewah, sangat memungkinkan melakukan perjalanan ke Kali Kuning yang hanya berjarak sekitar satu kilometer. Dari tempat itu juga bisa mendaki Merapi. “Atau berkunjung ke tempat agribisnis, misalnya taman bunga, tempat budi daya jamur, atau sapi perah,” ujarnya.

Berada pada ketinggian 850 meter di atas permukaan laut, udara Sinolewah sejuk, bahkan dingin bila malam menjelang. Lazimnya, pekemah mengusir hawa dingin dengan membuat api unggun sambil bernyanyi diiringi gitar. Di Sinolewah, iringan gitar bisa diganti dengan iringan gamelan. “Kami bisa menyuguhi pengunjung tari-tarian, wayang, campur sari, organ tunggal, atau jathilan. Ada paket-paket khusus, bisa dipilih,” tutur Kamto.

Dari pusat Kota Yogyakarta, Sinolewah berjarak sekitar 24 kilometer. Bila menggunakan transportasi umum ada beberapa pilihan rute. Pertama, naik angkutan dari Terminal Giwangan, Bantul, selanjutnya naik angkutan jurusan Ngrangkah, Umbulharjo, Cangkringan. Dari jalan utama, Sinolewah berjarak satu kilometer. Kedua, naik angkutan umum jurusan Kaliurang dan turun di Pakem, terus ke jurusan Ngrangkah.

Gamelan

Sepuluh Tahun

Sudah lebih dari sepuluh tahun, Sukamto mengadu nasib di Dusun Gondang, itu. Awalnya ia tidak menyangka lokasi itu bakal dijadikan tempat kemah wisata. Di atas lahan dua hektare yang ia sewa dari pemerintah setempat, pada 1994 itu, ia membabat ilalang yang tumbuh subur. Lahan itu dulunya tidak produktif. Selain ilalang, banyak ditemui pohon jambu.

Ketika itu, yang ada di pikiran hanyalah bertani. Hortikultura saat itu memang dirasa akan lebih banyak memberikan keuntungan. “Kami mengembangkan sektor hortikultura waktu itu, menanam cabai, tomat, jagung manis, selada, sawi untuk bakso. Saya tanami pula sengon laut 1.000 pohon. Hingga kini, saya sudah dua kali memanen pohon sengon,” katanya.

Namun, hortikultura itu hanya bertahan empat tahun. Pada awal 1998, ia mengubah lokasi itu menjadi tempat untuk wisata berkemah. “Berawal dari rekan-rekan mahasiswa yang ingin menginap di sini. Mereka lalu mendirikan tenda di sini,” ujar pria yang masih membujang pada usianya yang sudah lebih dari 40 tahun itu.

Dari pengalaman, ia pun melihat peluang bisnis. Selain idenya, ia juga mendapat dukungan dari rekan-rekannya, sebenarnya tempatnya sangat cocok untuk berkemah. Ia lalu melakukan studi di beberapa bumi perkemahan, di Yogyakarta maupun Klaten. “Agar semua pihak puas, saya harus mengetahui apa yang dibutuhkan mereka. Dari bumi perkemahan yang saya kunjungi, saya bisa membandingkan mana yang terbaik. Semua yang baik dari masing- masing tempat saya adopsi,” ujarnya.

Pada awal berdiri, bumi perkemahan itu hanya mempunyai tiga bangunan berupa pendopo. Rumah jawa itu ia beli utuh dari penduduk sekitar. Rata-rata, rumah itu ia tebus dengan harga Rp 3 juta. Ia harus mengeluarkan Rp 7 juta untuk membuat rumah itu semakin bagus.

Lokasi Berkemah

Saat awal berdiri, pada 1998 itu, Sinolewah belumlah laris seperti sekarang ini. Dengan kerja keras, ia berusaha terus memajukan usahanya. Kebanyakan, konsumennya datang setelah mendapat informasi dari rekan-rekan mereka yang lebih dulu kemah. Selain itu, ia juga membuat stiker, kalender, kartu nama, brosur, yang bertuliskan Sinolewah, lengkap dengan nomor telepon dan alamat. Promosi itu dilakukan selama dua tahun. Dan pada 2000, Sinolewah sudah dikenal di seantero Jawa Tengah, khususnya dari Klaten, Solo, Muntilan, Magelang, selain DIY sendiri.

“Sejak itu pengguna merasa cocok dan menjadi langganan setia. Kalau mau ke tempat saya, tidak perlu survei lagi, tinggal telepon. Kebanyakan pelanggan saya, pelanggan lama. Saya selalu ngopeni pelanggan, mungkin hanya satu atau dua yang baru,” ujarnya.

Ia tidak bekerja sendirian. Biasanya, ia dibantu lima orang yang mempunyai keahlian masing-masing, mulai dari ahli listrik sampai yang khusus mengurusi air. Ia sendiri hanya mempunyai satu pekerja tetap.

“Saya tidak 100 persen mencari untung, saya juga melihat latar belakang mereka. Saya terima semua pihak, entah itu sekolah kaya atau tidak. Semua bisa diatur dan bisa dikompromikan,” ia menambahkan.

PEMBARUAN/BERNADUS WIJAYAKA