Surau Tua Minangkabau Tanah Datar – Sumatera Barat

Sumatera Barat merupakan daerah tertua di Nusantara yang menjadi salah satu pusat sebaran ajaran Islam. Menengok sejarah Islam di Minangkabau, Sumatera Barat (Sumbar) tidak telepas dari kehidupan surau. Keberadaan peninggalan sejarah Islam berupa surau-surau tua beserta bukti sejarah didalamnya mengindikasikan bahwa masyarakat Sumbar memiliki kebudayaan maju.

Kebanyakan surau menjadi pusat pembelajaran Islam termasuk dalam melahirkan kebudayaan seperti halnya reproduksi naskah kuno dan ilmu beladiri silat. Surau di Ranah Minang bahkan menjadi center of excellence atau pusat kegiatan intelektual masyarakat.

Fungsi surau sebagai pusat penulisan dan penyalinan teks Al Quran, tafsir, tauhid, figih, mantik, ma’ani, kitab-kitab pelajaran Bahasa Arab, juga sebagai pusat pendidikan agama, serta sebagai tempat pendidikan yang berkenaan dengan tradisi dan adat istiadat Minangkabau sejak ratusan tahun silam.

Jejak Islam ini dapat ditelusuri dengan ditemukannya surau-surau yang memiliki koleksi manuskrip (naskah) yang berusia lebih dari tiga abad. Dan sampai saat ini setidaknya masih ada puluhan surau kuno yang masih terjaga menurut kriteria di atas. Surau-surau ini tentu sebuah potensi wisata religi yang tersebar di berbagai daerah di Sumbar.

Terutama daerah Darek dengan tiga Luhak utama yaitu; Tanah Datar, Luhak Lima Puluh Kota, dan Luhak Agam, rata-rata memiliki tempat-tempat yang berpotensi untuk dijadikan daerah tujuan wisata religi. Belum lagi di daerah Rantau, dikenal sebagai daerah pesisir Minangkabau, juga banyak tempat peninggalan Islam.

Sebaran tujuan wisata di Darek dan Rantau, mengindikasikan masuknya Islam ke Minangkabau melalui dua jalur dengan dua periode. Pertama Islam masuk dari Selat Melaka dan membentuk koloni di Luhak Lima Puluh Kota. Kedua, Islam masuk melalui pesisir Minangkabau yang merupakan kelanjutan dari rute Aceh.

Dalam perkembangannya, daerah pesisir lebih terkenal sebagai pusat sebaran Islam di Minangkabau, seperti ungkapan adat: Syarak Mandaki, Adat Manurun. Artinya agama datang dari pesisir, sedangkan adat warisan daerah Darek. Namun demikian keduanya meninggalkan jejak sejarah Islam yang bernilai tinggi.

Kita tengok satu wilayah saja peninggalan di Luhak Tanah Datar, selain memiliki situs-situs budaya religius seperti Makam Tuan Kadhi – salah seorang dari Basa Ampek Balai yang sangat penting dalam konteks ideal masyarakat tradisi Minangkabau-di Padang Ganting, Surau dan Makam Syeh Abdurrachman di Kumango, Masjid Tua di Limau Kaum, Masjid Rao-Rao, dan situs Tuanku di Simabur, serta komplek surau di Pariangan yang merupakan gambaran ideal mengenai harmonisasi pengembangan beberapa mazhab Islam di Minangkabau.

Usianya yang tua, arsitekturnya yang unik, koleksi manuskrip yang ada, dan aktivitas ritual yang khas, serta sumber air panas yang alami, menjadi modal utama dalam mengundang wisatawan untuk datang.

Sumber: Majalah Travel Club

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.