Tag Archives: air terjun

Air Terjun Napua, Percikan Kesegaran Milik Wamena

Air Terjun NapuaWamena – Kota Wamena di Papua tak hanya dikelilingi Pegunungan Jayawijaya, dengan Lembah Baliem yang membentang indah di tengahnya. Tak jauh dari pusat kota, terdapat Air Terjun Napua yang memercikkan air dingin nan segar.

Walaupun angin membawa hawa dingin, teriknya matahari siang itu tak ada bandingannya. Tak butuh waktu lama hingga saya dan beberapa wartawan yang meliput Festival Lembah Baliem 2012 menyetujui untuk datang ke sebuah tempat wisata.

Namanya Air Terjun Napua, dengan jarak tempuh setengah jam dari pusat Kota Wamena. Bisa kami bayangkan, pasti segar sekali terkena gemericik air di tengah terik matahari siang itu.

Jumat (10/8/2012), mobil sewaan kami melintasi jalanan menanjak yang berkelok. Panorama Kota Wamena tampak luar biasa indah dari atas sini. Pegunungan Jayawijaya menjadi teman selama perjalanan, berdiri gagah di kejauhan, seakan melindungi apa yang kami pijak sekarang.

Tiga mobil sewaan kami berbelok ke jalan setapak. Tak lama, tibalah kami di atas bukit hijau. Inilah titik awal trekking untuk bisa mencapai Air Terjun Napua.

Sepuluh menit pertama, ladang jagung mendominasi pandangan. Tanah masih nyaman dipijak, turunan dan tanjakan masih wajar, sedikit lumpur tak memberatkan langkah. Namun setelah itu, jalan setapak berubah menjadi kubangan lumpur. Butuh sedikit usaha untuk melewati beberapa turunan yang licin. Bukan karena hujan, tapi karena wilayah yang kami lewati adalah hutan hujan tropis.

Setelah melewati sungai dangkal dan jembatan kayu ringkih yang memacu adrenalin, kami tiba di Air Terjun Napua setelah trekking 20 menit. Lucunya, hal pertama yang tertangkap mata bukanlah air terjun melainkan Honai! Rumah bundar khas Papua itu berdiri di lahan datar, sebagai tempat beristirahat para pengunjung Air Terjun Napua.

Tebing lumut dan lanskap hijau langsung mendominasi pandangan. Tinggi air terjun itu sekitar 7 meter, memercikkan air yang sejuk bukan main. Saya langsung melepas sepatu dan membenamkan kaki sebatas betis. Segar sekali!

Hampir satu jam kami bermain air, mengabadikan momen sebanyak mungkin dari berbagai sudut. Teriknya matahari tak terasa lagi siang itu, tertutup oleh rimbun pepohonan dan percikan air terjun. Walaupun harus kembali bergelut dengan lumpur di perjalanan pulang, saya pun kembali ke mobil dengan perasaan segar!

Sumber: detikcom

Baturaden Tawarkan Beragam Wisata

BERADA di sisi selatan Gunung Slamet, ditambah lokasi yang strategis, hawa yang sejuk membuat Baturaden menjadi salah satu primadona Purwokerto dan menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Indonesia.

Dengan berbagai lokasi wisata dan fasilitas di dalamnya, rasanya tak cukup sehari untuk menikmati kepuasan berwisata di Baturaden, Jawa Tengah. Tempat pertama yang paling dekat dengan gerbang utama adalah Taman Kaloka Widya Mandala.

Taman yang pada 17 Mei 1995 diresmikan oleh Bupati Banyumas yang saat itu dijabat Djoko Sudantoko dijadikan sebagai wisata edukasi. Koleksinya meliputi, sapi kaki lima, kambing kaki tiga, gajah, beruk (buing), buaya irian, ular sanca, kaswari, monyet, landak, iguana, cendrawasih, kelelawar, ayam kate, ayam mutiara, orangutan, elang bondol, dan rusa.

Di tempat ini juga terdapat Museum Satwa Langka, seperti: harimau sumatra, beruang madu, dan macan dahan.

Selain koleksi hewan, berbagai permainan juga tersedia seperti kereta gantung, sepeda air, atraksi naik gajah dan yang paling penting adalah menikmati indahnya pemandangan di taman ini.

Bagi yang suka menghabiskan waktu malam bersama alam di sini juga disediakan oleh pengelola yaitu Bumi Perkemahan (camping ground) khusus disediakan oleh pengelola bagi para pencinta alam ini.

Anda masih kurang puas hanya dengan berkemah, mungkin mencapai puncak Gunung Slamet akan menjadi tantangan tersendiri buat Anda semua yang suka tantangan. Pancuran Telu dan Pancuran Pitu adalah sebagai alternatif terakhir yang dapat dituju.

Selain bisa berendam di sumber air panas ini, pijat refleksi dengan rendaman air panas alam akan memanjakan anda. Goa Sarabadak adalah rangkaian tempat yang bisa kita kunjungi ketika ke Pancuran Pitu.

Terletak di ketinggian 640 meter dpl (di atas permukaan air laut) dan hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Purwokerto-Banyumas -Jawa Tengah., bagi Anda yang berminat kesana bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi. Selain itu banyak juga jalur bus-bus antar provinsi dan kereta api yang melewati Kota Purwokerto sehingga mudah sekali untuk mencapai lokawisata Baturaden. (*/OL-5)

Air Terjun Srigethuk, Oase di Gunungkidul

KABUPATEN Gunungkidul di Provinsi DI Yogyakarta makin terkenal dengan pantai-pantai barunya yang indah. Namun, selain pantai, wilayah ini juga dianugerahi dengan keindahan alam lain yakni gua dan air terjun. Air terjun Srigethuk adalah salah satu lokasi wisata baru yang menjadi buah bibir selama setahun terakhir ini.

Ketika saya berkunjung ke Srigethuk akhir pekan lalu, kesan pertama saya adalah adanya kemiripan dengan Green Canyon di Jawa Barat. Namun, tentu saja setiap lokasi memiliki keunikan sendiri-sendiri.

Pada dasarnya, inti objek wisata Srigethuk ini adalah tiga air terjun yang berada dalam satu lokasi. Ketiga air terjun tersebut jatuh di bebatuan yang sama kemudian bersama-sama mengalir di Sungai Oya. Masing-masing air terjun tersebut berasal dari tiga sumber mata air, yaitu Dong Poh, Ngandong, serta Bleberan. Selain ketiga air terjun utama, ada beberapa air terjun kecil — dalam bahasa Jawa disebut kriwikan — di lokasi tersebut.
Objek wisata ini masih cukup baru sehingga infrastruktur pun masih terbatas. Namun, jangan khawatir, sarana dasar seperti toilet dan warung makan sudah tersedia di sini. Hingga saat ini, objek wisata Srigethuk masih dikelola secara lokal oleh pihak Desa Bleberan.

Walaupun sarana masih terbatas, pihak pengelola telah membangun tangga batu dari tempat parkir menuju ke tepi sungai, sehingga wisatawan tidak perlu khawatir ketika menuruni tebing. Butuh waktu sekitar 5-10 menit untuk mencapai bibir sungai. Setibanya di pinggir sungai Oya, Anda akan dimanjakan dengan paduan warna kehijauan sungai serta tumbuh-tumbuhan yang mengelilinginya. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi tertiup angin.

Dari sini Anda tidak dapat langsung melihat air terjun utama, hanya sebuah air terjun kecil di kejauhan. Anda harus menaiki rakit untuk mencapai air terjun Srigethuk. Di sini Anda harus membayar Rp 5.000 per kepala untuk perjalanan pulang-pergi. Ada dua buah rakit yang beroperasi di sungai itu, yang mengangkut wisatawan secara bergantian.
Butuh waktu sekitar 10 menit untuk mencapai air terjun utama. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, namun rakit berjalan sangat lambat. Dari atas rakit Anda dapat mengabadikan pemandangan yang memang mayoritas didominasi warna hijau. Semakin dekat, air terjun Srigethuk (yang juga dikenal dengan nama Slempret) ini semakin menakjubkan. Ketiga air terjun jatuh dari ketinggian sekitar 25 meter. Ketiganya bergabung menjadi satu di bebatuan yang berwarna kekuningan di bawahnya.

Setelah turun dari rakit Anda harus menyeberangi batu-batu basah itu untuk mendekati air terjun. Rasakan sensasi mandi di bawah Srigethuk! Banyak wisatawan yang memanfaatkan waktu untuk mandi dan berenang di sungai sekitar air terjun. Hijaunya air di sini adalah karena lumut, bukan karena limbah, sehingga aman untuk mandi.

Beberapa bagian dari Gunungkidul merupakan tanah tandus sehingga air yang berasal dari Sungai Oya dan air terjun Srigethuk bagaikan oase di Desa Bleberan ini. Air dimanfaatkan untuk pengairan daerah pertanian penduduk setempat. Vegetasi yang umum di wilayah tersebut adalah jagung, jati, serta kayu putih.

Bila sudah puas bermain-main di air terjun, Anda dapat menumpang rakit untuk kembali. Apabila perut sudah melilit, ada beberapa warung makan di sekitar tangga menuju ke tempat parkir. Cobalah salah satu menu khas Gunungkidul, yaitu tiwul. Tiwul adalah makanan yang dibuat dari singkong. Secara umum, tiwul manis dimakan untuk makanan ringan.
Menuju ke Srigethuk

Dari Yogyakarta, Srigethuk dapat dicapai melalui jalan Yogya-Wonosari. Sebelum sampai di Wonosari, tepatnya setelah lapangan udara Gunungkidul, Anda harus membelok ke kanan menuju ke Playen. Sampai di pertigaan pasar Playen, Anda kembali membelok ke kanan untuk menuju ke arah Desa Bleberan. Setelah itu akan ada penanda arah untuk menuju ke Srigethuk.

Tanda-tanda yang tersedia cukup banyak. Jalanan dari Yogyakarta hingga ke mulut Desa Bleberan sangat baik, namun setelah itu cukup buruk karena banyak bagian yang belum diaspal. Setiap orang yang berkunjung ke Srigethuk dipungut biaya Rp 2.000 sementara mobil Rp 3.000. Biaya itu sudah termasuk ongkos parkir, jadi masih sangat murah!

Selain Srigethuk, Anda juga dapat berkunjung ke Gua Rancang yang berada di desa itu. Biaya yang Anda bayarkan sudah termasuk kedua lokasi wisata sehingga Anda tidak perlu membayar lagi. Nah, saatnya wisata hemat ke Gunungkidul!

Tiga Lokasi Wisata Air di Tegal

JIKA kata ‘Tegal’ disebutkan, yang terlintas di benak kebanyakan warga Tanah Air pasti adalah warung makan sederhana yang menyajikan berbagai masakan rumah.

Tahukah Anda? Ternyata tak hanya identik dengan masakan ataupun bahasanya yang lucu, Kabupaten Tegal juga memiliki tempat-tempat wisata alam yang asyik untuk dikunjungi selama liburan, terutama wisata airnya. Dari beberapa wisata air yang ada di Tegal, ada tiga wisata air di Tegal yang kami rekomendasikan untuk Anda.

Objek Wisata Guci
Objek wisata ini berlatar belakang panorama pegunungan, air terjun, dan sumber air panas. Karena berada di kaki Gunung Slamet, daerah ini pun menjadi subur dan berudara dingin. Pemandian Air Panas Guci, terletak di Kecamatan Bumijawa, di lereng Gunung Slamet, sekitar 30 km dari Kota Slawi. Di Guci, ada 10 air terjun, di antaranya Pemandian Pancuran 13 yang memang memiliki pancuran berjumlah 13 buah.

Adapun penduduk setempat sering berendam dan mandi di Pancuran 7 karena dipercaya air di pancuran itu ampuh untuk menyembuhkan penyakit kulit. Bila Anda naik lagi, ada air terjun Jedor (diambil dari nama Lurah pada zaman dahulu). Di Guci juga disewakan kuda untuk menikmati pemandangan sekitar dengan harga terjangkau. Objek Wisata Guci sangat ramai terutama pada malam Jumat Kliwon.

Waduk Cacaban
Wisata air selanjutnya adalah Waduk Cacaban yang terletak di Kecamatan Kedungbanteng. Waduk ini menjadi menarik untuk dikunjungi karena berlatar belakang pemandangan hutan dengan panorama yang indah. Karena itu, selain berfungsi mengairi sawah-sawah di sekitarnya, waduk ini juga menjadi salah satu objek wisata andalan di Tegal.

Di tempat ini, Anda dapat bersantai dengan memancing ikan, berkeliling waduk dengan berjalan kaki atau dengan kapal motor. Bila lapar, tersedia banyak rumah makan yang menawarkan menu dengan masakan andalan aneka ikan air tawar.

Gunung Tanjung
Selanjutnya adalah Gunung Tanjung yang berlokasi di Desa Lebaksiu sekitar 7 km dari pusat pemerintahan. Gunung Tanjung merupakan wilayah pegunungan di mana Syech Maulana Maghribi dimakamkan. Tempat ini memiliki daya tarik alam pegunungan yang sejuk, kolam renang dengan air yang hangat dan dingin serta memiliki sumber air panas yang berkhasiat. Akomodasi pada objek wisata ini pun cukup mudah didapat dan terdapat banyak hotel dan vila untuk Anda beristirahat ataupun menginap.

Sebenarnya masih banyak objek wisata air yang potensial di Tegal. Sayangnya, karena kurangnya promosi, akses yang masih terbilang sulit, sarana dan prasarana yang kurang memadai, serta kurangnya pemeliharaan, tempat-tempat itu pun belum dapat terekspos secara maksimal.(Pri/OL-5)

Malino, Puncak-nya Makassar

SEJAK dahulu, kota kecil bernama Malino yang terletak di Sulawesi Selatan memang sudah tersohor. Terletak 90 km arah selatan Kota Makassar, tepatnya di Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Malino merupakan salah satu kawasan wisata alam yang memiliki daya tarik yang luar biasa, seperti kawasan Puncak di Bogor ataupun Lembang, Bandung.

Untuk mencapai kota Malino, Anda harus melalui jalan menanjak dan berkelok-kelok dengan melintasi deretan pegunungan yang sangat kaya serta pemandangan batu gamping dan pinus. Berbagai jenis tanaman tropis yang indah, tumbuh dan berkembang di kota yang dingin itu.

Malino pun menghasilkan buah-buahan dan sayuran khas yang tumbuh di lereng Gunung Bawakaraeng. Sebagian masyarakat Sulawesi Selatan masih mengkulturkan gunung itu sebagai tempat suci dan dikeramatkan.

Pemandangan yang tidak kalah menariknya adalah ada air terjun yang posisinya tegak lurus dari puncak tebing bernama Takkapala. Gemuruh suara air yang terjun bebas tak pernah berhenti barang sejenak. Keberadaannya menjadi seperti magnet yang menggoda wisatawan domestik dan asing untuk selalu kembali.

Dalam taman wisata alam Malino ditemui berbagai jenis fauna seperti burung nuri (Trichaglossus flavoridis), kera hitam (Macaca maura), biawak (Varanus salvator), jalak kerbau (Acridatheres sp), raja udang (Halcyon sp), dan burung gelatik (Padda oryzofora).

Sedikit ke arah atas yaitu daerah Pattapang, terdapat perkebunan teh milik Nittoh asal jepang yang juga menjadi salah satu objek wisata Malino yang digemari karena hamparan hijaunya yang cantik dan memukau. Sempatkan diri Anda untuk membeli bubuk daun teh asli Malino. Tanaman hortikultura seperti kol, vetsai, bawang prei, kentang dan tomat, digarap oleh para petani desa setempat terletak di daerah Kanrepia.

Puas melihat yang hijau-hijau, sempatkan juga untuk berjalan ke Air Terjun 1000 Tangga. Diberi nama 100 tangga karena untuk sampai ke air terjun harus ngelewatin tangga yang jumlahnya 1000.

Yang unik juga terdapat Air Terjun Ketemu Jodoh. Konon katanya dulu ada sepasang anak muda yang kesana dan akhirnya mereka berjodoh setelah bertemu disana.

Dilihat dari potensi pariwisatanya, Malino merupakan prospek pariwisata yang sangat potensial. Keindahan Panorama Alam yang memukau, potensi flora dan faunanya, dan kenyamanan yang dijanjikannya, membuatnya berpeluang menjadi salah satu objek wisata yang terkenal di Nusantara. Semoga…(mediaindonesia.com/Ol-5)

Mengenal Alam dengan Berwisata di Sulawesi

TAK ada habisnya membicarakan keindahan alam Indonesia. Begitu banyak tempat wisata menonjolkan sisi natural panorama tanah air yang memukau. Salah satunya objek wisata alam Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Keindahan alam yang terhampar di kawasannya dijamin mampu membuat pengunjung terpana, khususnya mereka yang mencintai wisata di alam bebas.

Lokasi taman berada pada dua wilayah kabupaten dan dua wilayah propinsi, yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara dan Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Beberapa objek wisata yang tersedia di taman, diantaranya:

Habitat Maleo Keberadaan maleo (Macrocephalon maleo) merupakan aset berharga bagi nusantara maupun dunia. Objek wisata ini berpotensi mengalami pengembangan untuk kategori wisata minat khusus berupa bird watching. Hewan Maleo bisa dijumpai di dua lokasi, yaitu di Tambun dan di Muara Pusian.

Air Terjun Sungai Tumpah

Kawasannya merupakan habitat beragam jenis burung endemis. Saat menyusuri jalan menuju air terjun, pengunjung akan ditemani kicauan burung-burung khas Sulawesi. Nikmati pula Air Terjun Lombongo dengan tawaran panorama alam dan keindahan hutan yang hijau.

Puncak Bukit Linggua

Pengunjung bisa hiking ke puncak bukit Linggua. Dari puncak Bukit Lingga pengunjung bisa memandangi hamparan hijau kawasan taman nasional serta wilayah pemukiman warga sekitar. Pengunjung juga bisa melakukan aktivitas fotografi.

Pemandian Air Panas Lombongo

Sebagian besar pengunjung menghabiskan waktu mereka di pemandian air panas. Tiap tahunnya jumlah wisatawan meningkat. Pemandian dilelola oleh Pemerintah Kabupaten Bone Bolongo. Biasanya pengunjung berlanjut ke Sungai Boliohuto untuk berendam.

Objek wisata alam lain yang tidak boleh lupa dikunjungi adalah Gua Batu Berkapur yang memiliki keindahan stalaktit dan stalaknit. Taman nasional ini juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti penginapan, tempat makan, kafe, kolam renang air panas, dan ruang pertemuan untuk berdiskusi.

Selengkapnya bisa dilihat pada situs: http://boganinaniwartabone.dephut.go.id (*/X-13)

7 Tempat Wisata Andalan Kendal

DARI sekian banyak tempat wisata di Indonesia, tujuh di antaranya ada di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Mulai dari pantai, air tejun, goa hingga wisata buatan bisa Anda kunjungi satu persatu. Seperti apa tempatnya ? Yuk kita mulai perjalanannya.

1. Air Terjun Curug Sewu

Tempat pertama yang harus Anda kunjungi adalah Air Terjun Curug Sewu. Air terjun ini memiliki 3 air tejun yang masing-masing tingginya adalah 45 meter, 15 meter dan 20 meter.

Di sekitarnya juga ada taman rekreasi, kebun binatang, panggung hiburan, kereta mini, jet coaster dan kolam renang. Air Terjun Curug Sewu terletak di Desa Curug Sewu, Kecamatan Patean, berjarak 40 km dari kota Kendal lewat Weleri atau Sukorejo.

2. Pantai Sendang Sikucing

Pantai Sendang Sikucing adalah tempat yang paling tepat untuk menyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Di pantai indah Kecamatan Rowosari ini telah ada rumah makan terapung, panggung terbuka, perahu tradisional dan becak air.

3. Pemandian Air Panas Gonoharjo

Objek wisata yang satu ini bisa Anda temukan di lereng Gunung Ungaran, sekitar 40 km dari kota Kendal, lewat kota Kaliwungu. Di sini ada beberapa sumber air panas yang memiliki latar belakang alam yang indah.

Berbagai fasilitas pun kini mulai dikembangkan. Kolam renang, kafetaria, taman bermain dan tempat air panas berbelerang adalah bagian dari Pemandian Air Panas Gonoharjo.

4. Goa Kiskendo

Sebelum masuk ke mulut goa yang curam, Anda akan menyusuri jalan berbatu. Di dalamnya terdapat goa-goa kecil seperti Goa Lawang, Goa Pertapaan, Goa Tulangan, Goa Kempul dan Goa Kampret. Untuk cekungan anak sungai dikenal dengan nama Kedung Jagan.

Goa Kiskendo terletak di Desa Trayu, Kecamatan Singorojo, 15 km ke arah selatan dari kota Kendal lewat kota Kaliwungu.

5. Pantai Jomblom

Tidak sulit menemukan tempat wisata di Kecamatan Cepiring ini. Ada banyak transportasi umum yang menuju ke Pantai Jomblom dan juga bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi sekitar 10 km dari Kota Kendal.

6. Perkebunan The Medini

Letaknya tidak jauh dari pemandian air panas Gonoharjo Limbangan dan perkebunan karet Merbuh, Getas Kecil di Kecamatan Singorojo atau perkebunan kopi Sukomangli Kecamatan Patean.

Tempat-tempat ini sering dikunjungi wisatawan mancanegara asal Jepang dan Belanda untuk bernostalgia. Areal perkebunan di Merbuh juga terdapat kawasan bumi perkemahan yang selalu ramai pada waktu liburan sekolah.

7. Wisata Buatan

Ada tiga lokasi wisaata Buatan di Kendal. Kolam Renang Tirto Arum di Jalan Soekarno Hatta, Kampung Jowo Sekatul Limbangan di Desa dan Argo Wisata Ngebruk di Desa Sidokumpul. (kendalkab.go.id/*/X-13)

Keindahan Tersembunyi di Gunungkidul

Air Terjun Sri Gethuk — yogyes.com

MESKI dikenal sebagai wilayah kering dan tandus, Gunungkidul ternyata menyimpan keindahan air tejun di antara ngarai Sungai Oya yang dikelilingi sawah hijau. Air Terjun Sri Gethuk di Desa Wisata Bleberan, Yogyakarta, menjadi salah satu destinasi wisata yang sayang dilewatkan.

Bebatuan di bawah air terjun membentuk undak-undakan layaknya kolam renang mewah yang menambah keindahan panoramanya. Gemuruh aliran air terjun tak pernah berhenti di setiap musim. Berenang di sekitar air terjun menjadi hal yang tak boleh terlupakan.

Asal mula penamaan Air Terjun Sri Gethuk terbilang unik. Masyarakat setempat percaya bahwa air terjun tersebut merupakan tempat penyimpanan kethuk yang merupakan salah satu instrumen gamelan milik Jin Anggo Meduro. Konon, pada saat tertentu terdengar alunan suara gamelan dari arah air terjun.

Untuk menggapai lokasi air terjun bisa dilalui dengan dua cara, yaitu dengan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi sawah hijau dan pohon kelapa, atau menaiki rakit melawan arus Sungai Oya yang dikelilingi tebing-tebing karst di sisi kanan kiri sungai.

Harga untuk naik rakit sebesar Rp 5.000/orang (pulang pergi) dan pengunjung akan ditemani oleh seorang pemandu. Nikmati pula pemandangan indah selama perjalanan. Wisata ini dikelola sepenuhnya oleh masyarakat Desa Bleberan. (yogyes.com/*/X-13)

Air Terjun Sampuran Putih “Berlian” Di Tengah Hamparan Hutan

Nama objek wisata yang satu ini memang belum akrab di telinga para pecinta pesona alam. Keberadaan yang jauh ditengah hamparan hutan kaki gunung Bukit Barisan membuat “Berlian Alam” yang dikenal dengan sebutan Air Terjun sampuran Putih ini tak sesohor Air Terjun Dua Warna. Meski keduannya berada di kawasan yang sama, yakni kecamatan Sibolangit.

Untuk menjangkau lokasi wisata yang terletak di desa Cinta Rakyat ini, memerlukan waktu 2 jam dari pusat ibu kota Sumatera Utara, Medan. Aksesnyapun tidak terlalu sulit, karena infrastruktur terbilanag memadai sampai kita menginjakkan kaki di Sibolangit atau tepatnya simpang Basukum Kota Bandar Baru. jangan senang dulu, karena petualang belum berakhir, anda masih harus disuguhkan lagi perjalanan penuh tantangan sekitar 30 menitmenuju Desa Cinta Rakyat yang penuh liku, tanjakan dan kecuraman jalan von blok yang lebarnya hanya 2,5 meter.

Nah, sampailah kita di desa yang menawarkan keindahan “berlian alam” DesaCinta Rakyat. Desa ini menawarkan bermacam keunikan, seperti sungainya yangbercabang dua. cabang pertama berasal dari air pegunungan sibolangit yang dingin, sedangkan cabang sungai kedua berasal dari sumber air panas bumi di Desa Nageri Suah yang berarti desa negeri bawah. Sekarang, kita akan menelusuri sumber air panas sungai ini. Untuk itu, jalan setapak disela-selapohon-pohon besar yang masih berdiri kokoh harus ditelusuri sepanjang 300meter. Jangan khawatir, karena lelah anda akan terbayarkan dengan menyaksikan air terjun 7 tingkat yang hangat.

Penasaran dengan asal kehangatan air terjun yang dihimpit 2 bukit yangterjal ini, kami pun berusaha untuk menelusuri desa berikutnya untuk mencaritau hal tersebut. Jarak antara Desa Cinta Rakyat dan Desa Nageri Suah sejauh 5 km. Bagi yang ingin mencari tantangan wisatawan bisa melaluinya dengan jalan kaki, juga bisa dilalui dengan sepeda motor. Tapi jangan sekali-kali menggunakan mobil pribadi, karena jalan menuju lokasi ini benar-benar tidak bersahabat, Kecuali menggunakan kendaraan offroad. Karena kami mengendarai sepeda motor, sekali-kali sepeda motor yang kami tumpangi juga harus didorong.

Desa Nageri Suah yang hanya dihuni 15 Kepala Keluarag (KK) ini menawarkanlokasi yang berbeda, jika sampuran putih dikelilingi hutan, maka lokasi inijustru dikelilingi lembah. 20 meter sebelum sampai di sungai Desa Nageri Suah bau belerang pun menyengat ke atas permukaan. Sampai di lokasi sungai air panas pun mengalir dari hulu. Airnya terlihat putih pekat seperti airsusu, sesekali uap panas keluar dari sela-sela bebatuan. Menurut TomasTarigan, salah seorang penduduk setempat yang menjadi guide wisata kami kali ini, bagi yang punya penyakit kulit sangat cocok sekali mereka mandi di sungai itu, “lumayan bisa menyembuhkan penyakit kulit,” ujarnya. Anda tertarik mengunjungi lokasi ini, siapkan fisik dan perlengkapan berpetualang dan tetap berhati-hati. (DNA I R-05)

Sumber: DNA Berita

Air Terjun Cibeureum Mempercantik Diri, Meramahkan Alam

Pelataran Parkir Cibodas – Gunung Pangrango indah berdiri di pagi hari, di pelataran Cibodas.

Berdentam-dentam rasanya hati bila melihat air terjun ini. Semburat air bertenaga, jatuh menerpa serombongan batu di bawahnya. Sekejap terselip takut, saat kita tepat berada di bawah air jatuhnya. Namun, bulir-bulir embun air yang terbawa angin ke mana saja, seperti memberitakan persahabatan sejati. Aku, sang air terjun perkasa, akan selalu menerima.
Itu makna yang kembali tersirat, saat kaki berkesempatan kembali mengempaskan jejaknya disana minggu lalu. Di lokasi yang terletak di kaki gunung Gede– Pangrango ini, kembali teringat betapa hingga sepuluh tahun terakhir ini tak banyak yang berubah di sana.
Pembukaan jalur masih harus melewati deretan pohon hijau. Meniti undakan-undakan bersahabat. Menikmati segar udara hasil fotosintesa, yang kualitasnya amat jauh berbeda ketika berada di perkotaan. Napaspun masih agak tersengal sedikit. Sekadar mengingatkan bahwa kita berada di kawasan konservasi, yang telah berumur ratusan tahun sekarang. Hingga akhirnya mata ini melihat kembali telaga biru. Lengkap dengan aliran air bersih yang mengalir disebelahnya. Tak banyak yang berubah.
Namun seperti layaknya juga arus globalisasi yang menerpa sekian banyak orang dinegeri ini. Bohong, kalau kita tak perlu berubah untuk menawar hidup bersama alam. Benar saja, tepat setelah telaga biru kini berdiri kukuh kirai jembatan panjang. “Untuk memudahkan wisatawan mencapai daerah air terjun Cibeureum,” ucap seorang penjaga taman nasional yang kebetulan berpapasan.
Kini jalan rawa, tepat sebelum pos Panyangcangan, telah dibuatkan jembatan kayu. Lebih horizontal, ketimbang berlelah mendaki. Ini lebih bersahabat, ketimbang mengotori kaki, karena rembesan rawa yang seingat saya memang kadang mengganggu dibawahnya. Terlihat lebih cantik dan rapi, bersahabat karena memudahkan.
Hal serupa juga kemudian ditemui, ketika makin mendekati air terjun paska pos Panyangcangan. Deretan kayu-kayu yang tersusun rapih, seperti menjadi pintu gerbang. Menuju suasana alam, air terjun “Merah” yang terdengar mengelegak di atas sana.
Di Cibeureum, kini juga terlihat beberapa bangunan baru menghias.
Sebuah altar kayu, berdiri tepat diatas aliran sungai Cikundul. Ada juga sebuah bangunan mirip altar namun lengkap dengan atapnya juga menghias kini. Membuat kita lebih nyaman menikmati alam, tanpa harus kegerahan.
Tempat wisata alam ini tampak dibuat lebih bersahabat kini. Menjauhkan orang-orang dari bayangan sulit menikmatinya. Membuat makin dekat alam, dengan banyak orang. Yang berarti makin banyak orang yang berkesempatan mengenali alamnya. Dan memutuskan mencintanya.

Menuju Lokasi Cibeureum

Tak perlu berdenyut saat kita memutuskan untuk menyambangi air terjun ini. Bila memulai perjalanan dari Jakarta, arahkan saja laju kendaraan menuju kawasan Puncak. Tiba di persimpangan Cibodas, masuklah ke arah daerah Taman Nasional. Parkir kendaraan di pelataran parkir, yang teramat luas di area desa Rarahan, dan kita bisa memulai perjalanan dengan berjalan kaki.
Bila memulai perjalanan dari Bandung. Arahkan mobil anda ke daerah Cianjur. Terus menuju area Puncak. Tiba di simpang Cibodas, setelah Cipanas, lakukan hal serupa seperti yang diungkapkan sebelumnya.

Aula Hijau – Bangunan berbentuk aula terbuka juga kini dibuat untuk menambah nyaman wisatawan yang mengunjungi.

Jangan lupa melapor dulu ke pos PHPA Taman Nasional Gede – Pangrango yang berada di dekat pelataran parkir. Bayar karcis tanda masuk, dan silahkan menikmati indahnya alam. (slg)

Naskah dan Foto: Sulung Prasetyo (Sinar Harapan)