Tag Archives: candi

Ijo, Candi Lain di Dekat Ratu Boko yang Patut Dikunjungi

LETAKNYA tidak jauh dari Candi Ratu Boko atau kita-kira 18 km di sebelah timur kota Yogyakarta. Candi Ijo adalah candi Hindu yang dibangun pada abad ke-9, di zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Candi ini berdiri pada ketinggian 410 meter di atas permukaan laut dan di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo. Dari tempat ini, Anda bisa menyaksikan pemandangan yang begitu indah, terutama area persawahan dan Bandara Adisucipto di sisi baratnya.

Kompleks Candi Ijo memiliki 17 buah bangunan yang dilengkapi sebelas teras berundak. Di bagian pintu masuk terdapat ukiran kala makara, berupa mulut raksasa (kala) yang berbadan naga (makara) seperti yang ada di pintu masuk Candi Borobudur.

Untuk bagian dalam kompleks adalah tiga candi perwara yang melambangkan penghormatan warga Hindu di sekitar candi terhadap Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Syiwa.(*/X-13)

Mencari Eksistensi di Candi Gedongsongo

RANGKAIAN petualangan wisata di Ambarawa belum berakhir. Setelah semalaman melepas kepenatan bersama kenangan indah perjalanan, masih ada satu tujuan kunjungan wisata yaitu Candi Gedongsongo.

Candi Gedongsongo terletak di lereng gunung Ungaran dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Desa Candi, Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Dari kota Ambarawa hanya berjarak 15 kilometer ke arah utara atau delapan kilometer dari Bandungan di bagian utara.

Udara nan sejuk bahkan cenderung dingin dengan suhu berkisar 19 – 27 derajat Celcius apalagi pada musim hujan seperti saat ini mudah dijumpai kabut tebal menutup areal pegunungan dan bangunan candi. Jalan menanjak 60 derajat dan berliku beraspal mulus cukup membuat sulit pengendara.

Bagi kendaraan besar seperti bus, terpaksa parkir di bawah sekitar 1 kilometer dari pelataran parkir di pintu gerbang. Ke pintu candi bisa ditempuh dengan jalan kaki, naik ojek atau kendaraan kecil karena tanjakan yang cukup tinggi.

Memasuki area candi, pintu gerbang bermaterial batu alam warna hitam sudah terlihat menjulang dari jarak 500 meter. Setelah membayar tiket masuk Rp6.000 untuk orang dewasa dan Rp3.000 (anak-anak) atau Rp7.000 (orang asing), perjalanan panjang siap menanti.

Desis angin dan gesekan pohon di hutan cemara menambah kesahduan saat menapaki jalan berbatu menuju candi pertama berjarak satu kilometer dari pintu gerbang.

Sebuah candi peninggalan budaya Hindu pada jaman Wangsa Syailindra (Abad IX) atau tahun 927 Masehi terlihat megah berdiri di atas gundukan bukit. Bangunan candi itu sempat runtuh dan tertimbun tanah material gunung Ungaran dan ditemukan lagi oleh Raffles pada 1804.

Udara yang dingin tak sanggup menahan keringat berkucuran setelah menapaki jalan bebatuan menanjak. Namun bagi orang tua atau anak-anak jangan khawatir, karena puluhan kuda siap membawa dengan ongkos Rp52.000 (wisatawan lokal) dan Rp70.000 (wisatawan asing) untuk satu paket perjalanan, mulai candipertama hingga 9 yang jaraknya mencapai empat kilometer.

Berada di lokasi bangunan candi ke sembilan yang terlihat anggun di atas puncak bukit bagaikan melambangkan perjalanan akhir manusia mencapai kesempurnaan. “Kita merasakan betapa kecil dan tidak berartinya manusia di hadapan Tuhan pencipta alam semesta,” ujar seorang wisatawan.

Alam semesta sangat indah, dari candi yang bercirikan bangunan dari kerajaan Hindu Nusantara yaitu bangunan pemujaan, seakan membawa kita berada di angkasa dengan pemaandangan ke bawah terlihat seperti gunung, danau, perkampungan, perkebunan, hutan dan seisi alam lainnya.

Setelah kekaguman dan keindahan yang sulit di dapat di lokasi wisata lainnya, maka pengunjung bisa turun lewat jalur alternatif.

Nah, di tengah perjalanan atau sekitar dua kilometer ke bawah kita dapat menikmati pemandian air panas alam. Mandi di air panas alam ini, selain menjadikan kesegaran badan konon juga dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit, karena mengandung belerang. Bagi yang malu berada di kolam umum dapat mandi di ruangan khusus yang telah disediakan.

Bagi Anda yang tidak membawa bekal makanan, di sana banyak penjual makanan yang tersaji hangat. Kebugaran rohani dan ragawi sepertinya lengkap sudah. Sebuah pengalaman yang sulit diperoleh di lokasi wisata lainnya.(mediaindonesia.com/M-1)

Situ dan Candi di Kampung Pulo, Garut

KONON di Kampung Pulo berabad-abad lalu, terdapat putri Hindu nan cantik jelita. Ketika itu, datanglah Arif Muhammad, panglima perang kerajaan Mataram. Dalam pelariannya setelah kalah melawan Belanda, Arif memutuskan menetap di desa. Sambil menyebarkan agama Islam, ia lalu jatuh hati pada sang putri.

Gayung pun bersambut. Sang putri mengiyakan, namun dengan satu syarat. Buatlah danau yang mengelilingi desa, pinta sang putri. Esoknya, muncullah sebuah situ, yang kini bernama situ Cangkuang.

Kisah itu diceritakan turun temurun di Kampung Pulo, Kecamatan Leles, Garut. Situ Cangkuang yang kini menjadi objek wisata, menyimpan banyak kisah. Begitu juga Candi Cangkuang di seberang situ, serta makam Arif Muhammad di sebelahnya.

Untuk mencapai lokasi, rakit bambu disediakan pengelola. Cukup Rp 3.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak. Tak sampai sepuluh menit menyebrangi situ, kami sudah bisa sampai di candi setinggi delapan setengah meter itu.

Perpaduan Hindu-Islam menjadi ciri istimewa. Candi dan makam Arif Muhammad terletak bersisian menandakan harmoni dua agama. Pertama kali candi ditemukan pada 1966 oleh Harsoyo dan Uka Candrasasmita. Penemuan ini berdasarkan laporan Vorderman tahun 1893.

Sayangnya, candi Cangkuang ditemukan tak berbentuk. Hanya bersisa 40 persen saja puingnya yang 60 persen yang hilang lalu dibuat replika. Sehingga pada 1976, candi itu utuh kembali. Tepat di belakang komplek candi, terdapat rumah adat yang dengan bebas bisa ditelusuri.

Rumah adat Kampung Pulo hanya tujuh saja jumlahnya. Tak boleh lebih, juga tak boleh kurang. Susunannya seperti huruf U, lingkungannya terawat, bersih, dan rapi. Jumlah ini simbol dari tujuh anak Arif Muhammad. Satu bangunan masjid melambangkan anak laki-laki. Enam lainnya berupa rumah tinggal, melambangkan anak perempuan.

“Kalau anak sudah menikah, dia harus pindah dari desa ini, tapi kalau ada rumah yang kosong, nanti dipanggil kembali,” jelas Tatang, Juru Kunci di Kampung Pulo.

Walau memeluk agama islam, warga kampung memengang garis keturunan perempuan. Maka, hanya anak perempuan yang berhak tinggal di desa, anak laki-laki harus pindah ketika dewasa.

Tatang, pria paruh baya itu, kemudian bercerita banyak hal. Kisah tentang benda pusaka yang hilang, para leluhur, bentuk rumah, dan kisah adat Kampung Pulo lainnya.(http://www.mediaindonesia.com/M-3)

Dome, Rumah Unik di Sekitar Joglo

JIKA Anda perhatikan rumah-rumah asli di Jawa umumnya berbentuk empat persegi panjang atau segi empat sama sisi yang biasa dikenal sebagai rumah gaya limasan atau joglo. Tapi di Sleman ada rumah-rumah dome yang berbentuk kubah.

Rumah Dome dibuat di Dusun Nglepen, Prambanan akibat bencana gempa bumi 27 Mei 2006 lalu dan mulai ditempati warga pada akhir April 2007. Muhammad Ali Alabar pemilik Emaar Property Dubai adalah donatur tunggal yang membangun kompleks.

Selain aman dan tahan dari gempa, Rumah Dome juga unik, di mana bentuknya menyerupai bentuk rumah yang ada di serial boneka telletubies dan dilihat dari kejauhan, deretan rumah-rumah ini mirip dengan telur angsa yang berceceran.

Ada 80 unit Rumah Dome di Dusun Nglepen, 71 rumah hunian, 6 MCK komunal dan 3 fasilitas umun (mushola, aula, dan poliklinik). Sebelum masuk ke sini, Anda diwajibkan membayar Rp 1.500,00 per orang dan Rp 6.000,00 per orang untuk paket.

Anda akan mendapat informasi lebih tentang Rumah Dome dari seorang pemandu dan akan diajak melakukan aktivitas menarik seperti melihat proses pembuatan emping garut, jelajah desa, dan tracking ke berbagai obyek yang ada di sekitar kompleks Rumah Dome.

Akses menuju kompleks Rumah Dome tidak terlalu jauh dari obyek wisata Candi Ratu Boko dan Candi Prambanan. Namun sayangnya, tidak ada angkutan umum yang melewati daerah ini, sehingga Anda harus berjalan kaki atau sewa ojek.

Bisa Anda pilih 2 rute perjalanan dari Kota Yogyakarta menuju kompleks Rumah Dome. Yang pertama lewat jalan utama Solo-Yogyakarta dan yang kedua lewat jalan Jogja-Wonosari.

Sepintas rumah-rumah ini juga seperti rumah Iglo yang ditempati orang-orang Eskimo atau rumah asli Papua Honai. Rumah Dome di Sleman merupakan satu-satunya kompleks Rumah Dome yang ada di Indonesia atau bahkan Asia.

Selain Indonesia, empat negara lainnya di dunia yang memiliki rumah-rumah Dome adalah India, Nicaragua, Haiti dan Paraguay. Saat ini, warga yang tinggal di rumah Dome menyebut kompleks perumahan mereka dengan nama New Nglepen Village.(wisatamelayu.com/*/X-13)

Trowulan, Kota Klasik di Jawa Timur

SATU dari sekian banyak tempat sejarah berada di Jawa Timur. Trowulan adalah satu-satunya situs kota klasik di Indonesia yang menjadi warisan kebesaran kerajaan Majapahit. Ya, inilah situs Kerajaan Majapahit dari masa abad XIII s/d XV Masehi.

Situs dan Museum Purbakala Trowulan berlokasi di Trowulan, Mojokerto. Situs ini pertama kali muncul dalam literatur berjudul ‘History of Java I‘ yang ditulis Sir Stamford Raffles pada tahun 1817.

Raffles sendiri mengatakan bahwa nama Trowulan berasal dari Trang Wulan atau Terang Bulan. Namun, saat ditemukan seluruh situs ini tertutup hutan jati yang cukup lebat, sehingga dia tidak dapat terlihat sebagai sebuah kota yang klasik.

Situs kota klasik Trowulan dibangun dengan pola ruang kanal air yang diduga ada hubungannya dengan konsep mandala, sebagai acuan dan dasar pembagian kosmologis kota ini.

Kolam Segaran misalnya, yang berfungsi sebagai telaga di tengah kota. Berdasarkan sketsa rekonstruksi Kota Majapahit dan foto udara, kota klasik ini memiliki sistem kanal pengairan untuk drainase dan pasokan air yang dibuat dalam garis lurus memanjang dari barat laut ke tenggara dan dari timur laut ke barat daya.(indonesia.travel/*/X-13)

4 Candi Ternama di Banjarnegara

Candi Bima — www.wisatanesia.com

DATARAN Tinggi Dieng (Dieng Plateu) adalah tempat wisata yang terkenal di Banjarnegara. Tapi tahukah Anda, jika di kawasan ini ada banyak candi Hindu tertua di Indonesia.

Nama-nama candi yang menjadi daya tarik tempat ini adalah Candi Arjuna, Candi Gatot Kaca, Candi Bima dan Candi Dwarawati. Seperti apa bentuknya ? Yuk kita telusuri bersama.

1. Candi Arjuna

Candi Arjuna adalah sebuah kompleks candi peninggalan Hindu yang dibuat di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah sekitar abad ke-7-8 atau lebih tepatnya pada tahun 809.

Ini merupakan salah satu dari delapan kompleks candi yang ada di Dieng. Kelompok Candi Arjuna terdiri dari dua deret, deret di sebelah timur terdiri dari empat candi (Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra) dan deret sebelah barat adalah Candi Semar.

2. Candi Gatot Kaca

Candi Gatot Kaca dibangun setelah Candi Srikandi di kaki bukit Pangonan. Dahulu di lokasi ini terdapat enam bangunan candi yaitu Candi Gatutkaca, Candi Sentyaki, Candi Antareja, Candi Nakula-Sadewa dan Candi Nalagareng.

3. Candi Bima

Candi Bima berada di sebelah selatan Candi Gatot kaca, kurang lebih satu kilometer. Bentuknya seperti mangkuk yang ditangkupkan, selain itu pada bidang-bidang tingkatnya dihiasi dengan relung-relung yang melengkung.

4. Candi Dwarawati

Candi Dwarawati merupakan candi Dataran Tinggi Dieng yang yang berada di paling timur, di atas bukit Perahu. Di lokasi ini dulunya ada dua buah candi, Dwarawati dan Parikesit. Namun kondisinya hancur, lalu Dwarawati dipugar pada tahun 1980. (mediaindonesia.com/X-13)

Istana Raja Bangau di Bukit Kedamaian

Hujan gerimis yang turun tak menyurutkan niat tim Travel Club (TC) untuk menyambangi Desa Dawung di Kecamatan Prambanan. Kunjungan TC ke desa yang berada di wilayah perbukitan ini tak lain untuk melihat dari dekat sebuah situs bersejarah peninggalan masa kejayaan Wangsa Syailendra dari kerajaan Medang (Mataram Hindu) yang dikenal dengan nama Istana Ratu Boko. Kebanyakan orang pun menyebut situs ini dengan nama Candi Ratu Boko.

Pemandangan alam nan indah tersaji sempurna menuntun pengunjung yang hendak berwisata ke Candi dari akhir abad ke-8 masehi ini. Jalan aspal berliku dan menanjak, dengan suasana alam yang asri membuat perjalanan menuju desa di Kabupaten Sleman ini terasa menyenangkan. Sawah yang mulai menguning terhampar sejauh mata memandang di kirikanan jalan. Kehidupan pedesaan dengan aktifitas masyarakatnya memperkaya pengalaman dan tentunya tak mudah terlupakan.

Nama Ratu Boko merupakan berasal dari legenda masyarakat sekitar, Ratu berarti Raja/Ratu, sementara Boko dalam bahasa Jawa artinya Bangau. Jadi secara harfiah Ratu Boko dapat diartikan sebagai Raja Bangau. Berdasarkan prasasti Rakai Panangkaran (746-784M) kawasan ini dulunya disebut sebagai Abhyagiri Wihara atau dapat di artikan Wihara di atas bukit yang damai.

Sebagai sebuah obyek wisata, Kompleks Keraton yang berlokasi 3km di sebelah selatan kawasan Candi Prambanan ini memang belum terlalu populer. Namun, bukan berarti Ratu Boko tak menarik untuk dikunjungi. Sejarah keberadaan candi dengan balutan keindahan alam sekitar seolah memiliki daya magis yang membuat wisatawan bisa berlama-lama singgah dikawasan ini. Di antara reruntuhan bangunan yang masih tersisa, bagi para arkeolog, situs ini menyimpan misteri besar yang menarik untuk diungkap.

Jalan menanjak segera menyambut selepas melewati loket pintu masuk. Selepas jalan dari loket, ada dua gapura sebagai pintu masuk situs Istana Ratu Boko. Gapura pertama memiliki tiga buah pintu dengan pintu tengah berukuran besar yang diapit dua pintu dengan ukuran lebih kecil di kiri-kanannya. Gerbang masuk ini terbuat dari susunan batuan andesit berwarna hitam kecoklatan yang tampak kokoh. Berbeda dengan bangunan keraton pada umumnya, Istana Ratu Boko kebanyakan bangunannya terbuat dari susunan batuan andesit yang biasanya digunakan sebagai bahan untuk bangunan candi.

Dengan jarak yang berdekatan dari gapura pertama, setelah melewati teras berlantai batu, gapura kedua segera menyambut. Gapura ini memiliki lima buah pintu dengan pintu utama dibagian tengah. Empat pintu pendamping yang berukuran lebih kecil, mengapit dikedua sisinya. Setelah melewati gapura kedua ini hamparan rerumputan dengan runtuhan bangunan akan menjadi pemandangan selanjutnya.

Di sebelah kiri dari gapura ini terdapat sebuah bangungan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula Candi yang di yakini sebagai lokasi untuk prosesi Pembakaran. Berbentuk bujur sangkar dengan luas 26 meter x 26 meter, candi ini memiliki dua buah teras. Disebelah tenggara terdapat sebuah sumur yang kabarnya, sumur ini bernama Amerta Mantana yang dapat diartikan sebagai air suci yang yang diberi mantra.

Peninggalan-peninggalan bangunan lainnya di kompleks ini antara lain sebuah sisa-sisa bangunan pendopo berukuran 20mX20m dengan tinggi 1.25m. selain itu, disini juga dapat disaksikan pondasi Pringgitan (ruangan antara pendapa dan bagian ruangan utama) yang juga berukuran tak berbeda. Dalam kompleks situs Ratu Boko juga terdapat Keputren (bagian istana tempat tinggal para putri raja/bangsawan).

Di dalam kawasan seluas 250.000m2 ini, juga terdapat sebuah komplek pemandian yang dikelilingi pagar, lokasi tempat pemandian ini berada di bagian timur Pendopo. Selain itu, batur Paseban (balai yang berfungsi untuk pertemuan/menghadap raja) juga masih bisa disaksikan di kawasan ini.

Sayang ketika Travel Club berkunjung, cuaca di kawasan Ratu Boko sedang kurang bersahabat. Awan tebal menyembunyikan sinar matahari sore itu. Padahal, selain keberadaan sisa-sisa peninggalan kerajaan mataram kuno, daya tarik dari kawasan ini, juga terdapat pada momen matahari terbit dan tenggelam. Saat-saat ini yang paling ditunggu para pengunjung yang bertandang kesini, semburat sinarnya semakin menambah keindahan lokasi Istana Ratu Boko dan alam sekitar.

Situs yang Masih Diselimuti Misteri

Berdasarkan catatan sejarah, pada abad ke-17 HJ. De Graaf, seorang arkeolog berkebangsaan Belanda mencatat bahwa terdapat sebuah situs kepurbakalaan yang berlokasi di sebelah selatan Candi Prambanan. Catatan ini berdasarkan informasi orang-orang Eropa yang sedang melakukan perjalanan. Kemudian pada 1790 Van Boeckholtz menemukan reruntuhan bangunan di perbukitan.

Penemuan ini kemudian menarik minat banyak ilmuan, namun sayang setelah laporan yang disampaikan Boeckholtz, para ilmuan yang datang sekadar melakukan kunjungan dan pencatatan saja. Seabad berselang barulah sekelompok tim arkeologi yang dipimpin oleh FDK Bosch mengadakan penelitian atas keberadaan candi ini.

Banyak artefak-artefak yang menjadi peninggalan di Ratu Boko. Termasuk patung atau arca, baik Budha maupun arca Hindu. Beberapa prasasti berbahasa sansakerta juga ditemukan. Prasasti Siwagraha misalnya, prasasti ini berisikan peperangan yang terjadi antra Raja Balaputra dengan Rakai Pikatan. Kekalahan membuat Balaputra melarikan diri dan mendirikan bangunan pertahanan disekitar kaki bukit Ratu Boko.

Prasasti lain berbahasa jawa kuno juga pernah di temukan disini. Prasasti dalam bentuk syair Sansakerta ini menceritakan kerajaan Lingga Kertiwasa dan Lingga Triyambaka atas titah Raja Kumbhaya, ada juga prasati yang menceritakan pendirian Lingga atas perintah Raja Kalasodbhawa.

Meski sudah banyak penemuan dan penelitian yang dilakukan, situs Ratu Boko masih menyimpan sebuah misteri besar mengenai fungsi sesungguhnya komplek istana ini. Ini mungkin karena karena tidak adanya prasasti yang mengungkapkan secara gamblang mengenai fungsi dari situs yang membuat para ahli masih kesulitan menafsirkan apakah kompleks ini sebuah taman kerajaan, benteng pertahanan, candi atau pun sebuah keraton.

Sumber: Majalah Travel Club

Garut, Menyimpan Belerang dan Sejarah Wisata

GARUT – Kota Garut berhias gunung-gunung yang menjulang, termasuk Gunung Gede (atau Gunung Papandayan), Gunung Guntur dan Gunung Cikuray. Di saat fajar, pemandangan gunung terkesan misterius dengan lingkup kabut yang menebal dan terlihat dari kejauhan. Kala senja di saat matahari berwarna merah dan mulai menghilang di ufuk barat, kesan itu pun muncul kembali.

”Itu Gunung Gede, masih aktif dan dulu sempat meletus,” ujar seorang pemandu, saat pertama kali tiba dan melintas kabupaten ini. Baru selepas siang dan sore menjelang, kami langsung menikmati dinginnya udara di sekitar. Pegunungan yang mulai menghilang dibungkus senja, dan malam yang sudah menyuguhkan udara sejuk.
Bukan hal aneh jika Garut yang begitu indah kemudian dijadikan kota wisata oleh seorang Belanda bernama Holke van Garut (seorang gubernur kesayangan pemerintah Belanda pada tahun 1930-1940) dan melihat kabupaten ini berpotensi sehingga dijuluki sebagai ”Switzerland van Java” dan kemudian mendirikan hotel di sana. Di wilayah ini juga pernah didirikan dua hotel yang antara lain bernama Hotel Belvedere dan Hotel Van Hengel.
Ada juga hotel lain yang berada di luar kota Garut termasuk Hotel Ngamplang di Cilawu, Hotel Cisurupan, Hotel Malayu di Tarogong, Hotel Bagendit di Banyuresmi, Hotel Kamojang di Semarang dan Hotel Cilaut Eureun di Pamengpeuk. Semua hotel itu (termasuk hotel milik Holke van Garut), sayangnya telah hilang, rata dengan tanah atau berubah fungsi dan wujudnya.
Sempat juga kami menjalani jalur ”hanya” di sepanjang kaki Gunung Papandayan itu. Tanaman, tanah dan bebatuan di kaki gunung ini sebenarnya diharapkan untuk dipertahankan –beberapa tempat sempat dijadikan penggalian pasir– sebaiknya bisa dihentikan.


Situs Sejarah

Nama Garut sendiri mulanya cukup unik. Di awal tahun 1813, Bupati Limbangan, Adipati Adiwijaya, memerintahkan untuk mencari tempat yang cocok sebagai ibu kota kabupaten. Akhirnya, ditemukanlah sebuah tempat yang cocok, berupa tanah datar, subur, lengkap dengan mata air yang terus mengalir ke Sungai Cimanuk. Berkah alam ini ditambah pula dengan pemandangan yang indah dari gunung-gunung di sekitarnya, yaitu Cikuray, Papandayan, Guntur, Talaga Bodas dan Karacak. Konon, pada masa pemerintahan bupati itulah tempat ini mulai diberi sebutan ”Garut”.
Sejak awal abad ke-19, Garut memang heterogen dengan masyarakat yang berusaha di perkebunan, bahkan sebagai tempat wisata sejak masa kolonial Belanda. Usaha perkebunan yang terletak di sekitar Giriawas, Cisaruni, Cikajang, Papandayan, dan Darajat ketika itu telah dikelola oleh swasta Belanda. Baru pada tahun 1900-1928 diikuti dengan perkebunan karet, teh, kini di daerah Cilawu, Cisurupan, Pakenjeng, Cikajang, Cisompet, Cikelet dan Pameungpeuk.
Dulu, di Garut, ada juga situs candi bernama Candi Cangkuang (konon didirikan pada abad ke-7, pada masa peradaban Hindu-Jawa) yang sebenarnya sudah cukup tua – bahkan konon lebih tua dari candi Prambanan – yang kemudian sayangnya sempat dihancurkan saat sejarah pergolakan ideologi di tahun 1950-an. Sayang sekali, pandangan dan ideologi yang sempit telah menghancurkan tatanan dan peradaban budaya yang begitu dikenal di masa lampau.
Karena pesona itu, beberapa tokoh dunia termasuk Charlie Chaplin, Ratu Beatrix dan keluarga dari Ratu Wilhelmina pernah datang ke wilayah ini.
Sejarah hotel yang akhirnya dibumihanguskan sekitar tahun 1949 itu diinformasikan oleh Bupati Garut (ketika itu Momong Kertasasmita yang mengetahui dokumennya dari cucu Holke van Garut).
Tempat untuk wisata lainnya yang juga menarik dari Garut adalah Kawah Papandayan, Kawah Kamojang, Kawah Manuk, Kawah Talaga Bodas, Situ Cangkuang, pemandian air panas, Cipanas Bagendit, Gunung Cikuray, Gunung Guntur dan Pantai Pameungpeuk.

Sumber Alam
”Ikannya dapat, ikannya dapat,” suara seorang bocah terdengar histeris saat tali pancingnya ditarik oleh ikan dari air kolam dengan kandungan Manesium Sulfat, unsur yang menyegarkan otot lelah dan tegang. Si bocah tadi, ditemani kakaknya, adalah anak dari salah satu tamu yang datang menginap di ”Kampung Sumber Alam” nama areal hunian berupa bungalow dilengkapi dengan restoran, ruang rapat, kolam renang, juga spa yang terletak di wilayah Garut.
Kolam memang tak terpisahkan dari seluruh bungalow yang ada di resor ini. Rumah yang dibangun dan dirancang seperti rumah panggung namun terbuat dari tembok dengan kolam-kolam yang ada di bawahnya, membuat posisi rumah praktis memang berada tepat di tengah air.
”Tiap penghuni bisa memancing ikan yang ada di sini sepuasnya dan bisa meminta kepada kami untuk langsung menggorengnya. Hampir tiap minggu kami akan menambahkan ikan-ikan ini sehingga tak akan habis,” ujar Yudi Feriska yang menjadi juga menjabat sebagai Manajer Personalia.
Ikan-ikan yang berenang bisa dilihat dari beranda tiap bungalow yang ada. Selain ikan, kolam ditata dengan tanaman air dan teratai sehingga tetap asri. Airnya pun bukan air tawar biasa. Air yang berasal dari mata air Gunung Gede ini mengandung larutan belerang yang alami. Inilah yang justru menjadi daya tarik utama pada penginapan yang berada di wilayah Garut ini.
Potensi alami yang ada di lingkungan sekeliling yang asri dan sejuk ini dipertahankan. Bentuk bangunan diusahakan tidak direkayasa dan mengambil filosofi bangunan Sunda yang memang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu di Garut.
Kampung Sumber Alam, yang dimiliki oleh Rahmat Syukur Maskawan ini selain terdiri dari bungalow juga memiliki fasilitas lain seperti ruang rapat, restoran, kolam renang dan Spa. Kampung Sumber Alam, memiliki fasilitas 40 buah kamar dengan ruang pertemuan Inten Dewata dan Gambir Wangi, Restoran Tanjung Balebat, Kolam Renang air panas alam Tasikmadu, Warung Kopi dan Kamar Rendam Sipatahunan.
Konon, bila air panas semata memang harus dibatasi hingga 15 menit, maka air alam dari Cipanas ini tetap bisa berlama-lama. Karena kualitas air dari Cipanas mengandung sulfur, memang sangat baik untuk para pendatang.
Bangunan Kampung Sumber Alam memang menjadikan batang pohon kelapa sebagai tiang utama di setiap bangunan dengan unsur ijuk dan rumbia diharapkan dapat mengusir dingin buat penghuninya.
Berbagai wilayah dalam areal Kampung Sumber Alam ini pun menggunakan prinsip itu, antara lain: wilayah Tegal Pangulinan (tempat main anak-anak termasuk juga permainan tradisi ”anak kampung” antara lain bermain Gatrik, Nangkap Belut, Main Dampu dan permainan tradisi lainnya), Tepas Panampian, di mana ada lesung dan kentongan, pengairan dan jembatan bambu, juga Seke Jajar dan Balong Gede.
Di luar bungalow ini, yang akan didapat dari kekhasan makanan yang dihasilkan oleh penduduk Garut di masa sekarang adalah Dodol atau pun Jeruk Garut.
Sedangkan kerajinan tangan penduduknya termasuk Batik Garutan, Sutera Alam, AkarWangi, juga kerajinan kulit dengan bermacam pengolahan dengan harga yang memang tak seberapa mahal.
(Sinar Harapan/sihar ramses simatupang)

Candi Muara Takus

Candi Muara Takus merupakan candi Budha sisa masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang berada di Desa Muara Takus, Kabupaten Kampar, Riau.

Satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau ini dibangun sebagai sarana pemujaan sekaligus berfungsi sebagai pusat pengajaran agama.

Candi ini pertama kali ditemukan oleh Yzerman pada 1893. Belum ada yang dapat menentukan secara pasti kapan candi ini dibangun. Jika candi-candi yang ada di Jawa tersusun dari bantuan andesit, Candi Muara Takus di bangun menggunakan batu Bata yang terbuat dari tanah liat.

Ada empat candi yang berdiri di komplek Muara Takus. Candi Mahligai, memiliki fondasi persegi panjang berukuran 9,44 m x 10,6 m, sementara Candi Sulung (Tua) adalah yang terbesar, ada pula Candi Bungsu, dan terakhir Candi Palangka, candi ini diduga berfungsi sebagai altar.

Sumber: Majalah Travel Club

Negeri Seribu Candi

Candi sepertinya menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan bagi lahirnya kebudayaan bangsa Indonesia. Setiap senti dari pahatan batu candi mempunyai ceritanya tersendiri, hingga akhirnya menciptakan begitu banyak sejarah atau legenda mengenai kehidupan masa lampau negeri ini.

Keberadaan candi yang banyak tersebar di Tanah Air sebenarnya dibangun sebagai tempat beribadah masyarakat yang kala itu menganut kepercayaan Hindu atau Budha. Namun, tidak hanya menjadi tempat pemujaan bagi para dewa, melainkan juga ada beberapa candi yang dibangun sebagai istana, pertapaan, gapura, hingga tempat pemandian. Tak terkecuali, candi pun dibuat untuk memuliakan raja yang telah wafat.

Pembangunan candi pun tidak sembarangan, melainkan berdasarkan syarat dan ketentuan yang berasal dari kitab Vastusastra atau Silpasastra.

Salah satu bagian dari kitab Vastusastra adalah Manasara yang berasal dari India Selatan ini berisi patokan-patokan membuat kuil beserta seluruh komponennya. Bahkan, termasuk desain arsitektur profan, bentuk kota, desa, benteng, penempatan kuil-kuil di kompleks kota atau desa, dan masih banyak lagi.

Beberapa syarat membangun candi juga menjadi bagian penting yang terdapat dalam kitab tersebut. Salah satu syaratnya adalah bangunan suci sebaiknya didirikan di dekat air, seperti air sungai (terutama di dekat pertemuan dua sungai, danau, laut), bahkan kalau tidak ada air sungai harus dibuat kolam buatan atau meletakkan sebuah jambangan berisi air di dekat pintu masuk bangunan suci tersebut. Selain di dekat air, tempat terbaik mendirikan sebuah candi yaitu di puncak bukit, di lereng gunung, di hutan dan di lembah.

Ketentuan tersebut berlaku pula untuk Candi Borobudur. Candi kebanggaan Indonesia ini, terletak di dekat pertemuan Sungai Elo dan Sungai Progo, di Desa Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Kemegahan serta keindahan candi ini telah terdengar hingga dunia internasional. Bahkan, sempat menjadi bagian dari Tujuh Keajaiban Dunia beberapa tahun silam.

Candi yang memiliki 1460 relief dan 504 stupa ini dibangun oleh Raja Samaratungga pada jaman kerajaan Mataram Kuno, yang pengerjaan selesai pada tahun 824 Masehi. Tempat ibadah ini berbentuk punden berundak yang terdiri dari sepuluh tingkat.

Tingkatan dalam Candi Borobudur diartikan sebagai tahapan kehidupan manusia. Mulai dari manusia yang terikat dengan nafsu atau Kamadhatu. Lalu, Rupadhatu, yakni manusia telah bebas dari nafsu namun, masih terikat rupa dan bentuk. Kemudian, ada tingkatan Arupadhatu yang artinya manusia telah terbebas dari nafsu, rupa dan bentuk. Hingga akhirnya, menuju tingkat tertinggi, Arupa, tidak lain adalah Nirwana, tempat Budha bersemayam.

Lain halnya dengan Candi Prambanan. Candi Hindu ini dibangun oleh dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung di abad ke 10. Terletak 17 kilometer dari pusat Yogyakarta, bangunan indah ini memiliki tiga candi utama di halaman pertama, yakni Candi Wisnu, Brahma dan Siwa.

Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat dua Candi Apit, empat Candi Kelir dan empat Candi Sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

Dibalik keindahan Candi Prambanan tersimpan legenda yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat, yaitu kisah Roro Jonggrang yang dicintai oleh Bandung Bondowoso. Namun, karena Roro Jonggrang tidak mencintainya, maka ia memerintahkan Bandung Bondowoso membuat seribu candi dalam waktu semalam. Sayangnya, ketika candi berjumlah 999, Roro Jonggrang meminta penduduk desa untuk menumbuk padi dan membuat api besar, hingga Bandung Bondowoso merasa dicurangi, lalu mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu, seperti yang bisa kita lihat sekarang.

Beranjak ke Jawa Barat, terdapat Candi Cangkuang. Candi yang terletak di sebuah pulau kecil, yang ditengahnya terdapat danau bernama Cangkuang, Kampung Pulo, kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat. Candi Cangkuang adalah candi yang pertama kali ditemukan di daerah Jawa Barat dan menjadi satu-satunya candi Hindu, sekitar abad 8 Masehi, yang berada di Tanah Pasundan.

Ditemukan tahun 1966 oleh peneliti, Harsoyo dan Uka Candrasasmita, setelah mengetahui adanya laporan Vorderman tahun 1893. Bangunan berbentuk persegi empat, pada sisi kirinya terdapat penampil atau tempat anak tangga naik dan di sisi utara terdapat pintu masuk.

Semantara itu terdapat arca dengan kondisi sudah rusak, wajahnya datar, bagian tangan hingga kedua pergelangannya telah hilang. Secara keseluruhan, keaslian Candi Cangkuang hanya tersisa sekitar tigapuluh lima persen, yang ada sekarang hanya berupa rekayasa rekonstruksi.

Masih banyak lagi candi yang tersebar di Nusantara. Kekayaan budaya ini yang harus kita rawat dan lestarikan selamanya. Dan, pantas jika Indonesia disebut sebagai Negeri Seribu Candi.

Sumber: Majalah Travel Club