Tag Archives: curug

Merasakan Kesegaran Alam Curug Cipendok

CURUG Cipendok terletak di Desa Karang Tengah, Kecamatan Cilingok, kurang lebih 15 km di sebelah barat Purwokerto, Jawa Tengah. Di sini Anda bisa menyaksikan pemandangan alam berupa air terjun yang tingginya 92 m dan hutan-hutan yang indah. Nah, untuk peristirahatan di sekitar area juga tersedia bumi perkemahan.

Ingin mengusir rasa lapar ? Jajanan mendoan dan susu murni bisa Anda temukan di warung-warung rumah penduduk. Dan setelah itu Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Telaga Pucung.

Asal mula nama Curug Cipendok diambil dari sebuah kisah. Di mana pemerintah kolonial Belanda saat itu menugaskan Wedana Ajibarang yang bernama R. Ranusentika untuk kerja rodi membabat hutan di lereng gunung ini.

Namun R. Ranusentika merasa bosan dan ia pun pergi untuk memancing ikan di air terjun yang ada ceruk atau kedungnya yang dalam. Ketika kail diarahkan ke kedung, bukan ikan yang didapat melainkan pendok atau warangka keris berwarna kuning emas. (*/X-13)

Menikmati Keasrian Kota Bogor di Curug Cilember

BILA ingin menikmati suasana Bogor yang sejuk asri, Anda bisa mengunjungi obyek wisata Curug Cilember yang terdiri dari 2 hektare hutan tanaman. Sepanjang mata memandang, Anda akan menemukan hamparan pepohonan hijau yang menyegarkan mata.

Terdapat tujuh buah air terjun (curug) dengan maksimal ketinggian mencapai 30m. Namun yang paling sering dikunjungi adalah curug keempat yang konon berkhasiat menyembuhkan penyakit, membuat awet muda, dan mempercepat jodoh.

Curug Cilember disebut pula sebagai tempat pemandian bagi para putri kayangan. Seorang penduduk berusia 70 tahun yang tinggal di sekitar obyek wisata mengaku pernah melihat sekitar 7 putri cantik yang sedang mandi sambil bersenda gurau di curug keempat.

Di atas lokasi curug ketujuh terdapat sebuah makam keramat yang juga sering mendapat kunjungan masyarakat setiap harinya. Konon, makam tersebut bernama makam Embah Jaya Sakti yang masih memiliki garis keturunan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran.

Berkemah

Kawasan Curug Cilember dilengkapi dengan dua kompleks perkemahan dan pondokan berupa enam buah villa. Tiga villa teratasnya memiliki pemandangan air terjun yang bisa terlihat langsung dari kamar tidur. Tak heran ketiganya diberikan tag line “waterfall at your doorstep”.

Selain camping ground dan villa, pengunjung juga bisa menjumpai sekumpulan kupu-kupu cantik yang berterbangan bebas di taman kupu-kupu. (*/OL-06)

Curug Cipendok dan Telaga Pucung yang Sensasional

BANYUMAS – Tentu sudah tidak asing lagi, kalau Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) memiliki satu objek wisata Baturaden. Kekhasan alam sangat terasa mulai dari hutan, air sungai yang jernih, sampai asrinya lokasi perkemahan (camping ground). Namun, ternyata Banyumas tidak hanya memiliki Baturaden.
Di Kecamatan Cilongok atau sekitar 15 km arah barat Kota Purwokerto, juga mempunyai objek wisata yang hampir sama dengan Baturaden. Pesonanya sensasional, karena alam khas pegunungan benar-benar dapat dinikmati pengunjung. Itulah Curug Cipendok dan Telaga Pucung.
Jika Anda ingin mengunjungi Curug Cipendok, siap-siaplah membawa payung atau jas hujan, minimal pakaian ganti. Sebab kalau memasuki kawasan Curug Cipendok, Anda pasti ”kehujanan”. Ini dikarenakan Curug Cipendok adalah air terjun yang memiliki ketinggian hampir 100 meter sehingga titik-titik air membasahi daerah sekitarnya, meski tidak turun hujan.
Curug Cipendok menjadi daya tarik tersendiri, karena lingkungan alamnya masih betul-betul alami. Kesunyian juga masih sangat terasa, sebab belum banyak pelancong yang datang menikmati keindahan alam di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok tersebut.
Antara Curug Cipendok dengan tempat parkir mobil masih tersisa sekitar 500 meter. Namun jangan khawatir, perjalanan 500 meter jalan dari pintu masuk menuju curug tidak bakal membuat bosan. Justru sebaliknya, perjalanan tersebut membuat pengunjung dibawa memasuki alam yang masih asri. Dengan jalan yang naik turun, wisatawan yang datang akan disambut dengan suara-suara serangga khas hutan tropis.
Setelah berjalan sekitar 15-20 menit, sebelum sampai Curug Cipendok akan terdengar suara gemuruh seperti hujan lebat. Itulah suara air terjun yang turun dari ketinggian hampir 100 meter tersebut. Udara dingin ditambah dengan titik-titik air membuat suasana damai dan fresh. Jika sudah agak siang, sinar matahari yang bersinar membuat pelangi tipis hasil pantulan titik-titik air yang turun.
Menuju Curug Cipendok tidaklah terlalu susah. Hanya saja, belum ada angkutan umum resmi yang sampai ke sana, sehingga kalau wisatawan mengunjungi tempat itu harus dengan kendaraan pribadi atau sewaan. Tempat wisata alam itu, berada sekitar 10 km arah barat Kota Purwokerto atau sekitar 5 km dari Ajibarang, Banyumas.

Elang dan Monyet
Dari jalan raya Cilongok menuju lokasi berjarak 8 km dengan kondisi jalan naik dan berkelok, tapi aspalnya sudah halus. Di sekitar lokasi Curug Cipendok, ada juga wisata telaga yang sungguh menakjubkan yakni Telaga Pucung. Telaga setempat dikelilingi oleh hutan pinus dan damar, sehingga sangat cocok untuk camping ground.
Telaga ini akan menjadi salah satu andalan Kabupaten Banyumas untuk menyedot wisatawan. Kompleks Telaga Pucung menempati areal seluas tiga hektare (ha), dengan luas telaga sekitar satu ha. Objek wisata di Banyumas mungkin belum banyak yang kenal, sebab baru akan dibuka secara resmi menjadi tujuan wisata pada 8 Agustus 2005.
Daya tarik objek wisata ini adalah telaga dengan air yang cukup jernih dan di sekitarnya dikelilingi hutan yang masih alami. Selain itu, wisatawan juga dapat mendengar suara-suara burung langka seperti elang Jawa yang terbang berputar-putar di atas telaga. Apalagi, bagi pengunjung yang beruntung dapat melihat spesies endemik sejenis monyet berwarna abu-abu yakni rek-rek.
Tempat wisata yang masuk dalam wilayah Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuma Timur tersebut mulai dibenahi dengan berbagai fasilitas, karena dijadikan tujuan wisata secara resmi.
KPH Banyumas Timur telah melengkapi dengan tempat parkir, tempat istirahat, dan kamar mandi. Bahkan, Perhutani telah memberi nama-nama pohon langka yang hidup di situ. Tujuannya tidak lain diperuntukkan bagi para pelajar, di samping menikmati alam, mereka juga dapat mengenal tumbuh-tumbuhan langka yang hidup di tempat itu.
Di sekitar Telaga Pucung juga terdapat tempat lapang yang dapat digunakan untuk camping ground. Tempat tersebut sengaja dibuat, dikhususkan bagi anak-anak muda yang suka berpetualang dengan di alam bebas. Telaga Pucung ini semakin memantapkan wisata khas Banyumas yakni alam pegunungan. Dengan bertambahnya objek wisata tersebut, wisatawan yang datang ke Banyumas semakin mendambah daftar alternatif tujuan wisata. Jadi, kalau selama ini Anda ke Banyumas hanya pergi ke Baturaden, akan rugi. Pasalnya, masih ada tempat alternatif lainnya yang tidak kalah asrinya. Yang pasti, wisatawan yang datang ke tempat ini akan merasa damai, karena jauh dari hiruk pikuk perkotaan. (*)

Oleh Lilik Darmawan – Sinar Harapan

Gunung Bunder: Sekali Naik, 4 Curug Terlampaui

Curug Ngumpet

Curug Cigamea. Nama itu mungkin yang paling sering terdengar ketika berbicara tentang air terjun di kawasan Gunung Salak. Padahal, selain Curug Cigamea, masih ada Curug Cihurang, Curug Ngumpet, dan Curug Seribu di sekitar kawasan Salak Endah, Jawa Barat. Pesona air terjunnya bisa menjadi alternatif menikmati alam pegunungan.

Ya, jika ingin menikmati suasana pegunungan, namun merasa bosan dengan suasana kawasan Puncak, menginap di sekitar Salak Endah bisa menjadi alternatif yang pas. Kawasan yang juga berdekatan dengan Wana Wisata Gunung Bunder masih memiliki udara pegunungan yang tak kalah sejuk dengan udara di Puncak. Tapi yang paling menarik, di kawasan ini terdapat empat air terjun yang indah.

Pintu gerbang wana wisata Gunung BunderSudah lama kawasan yang berdekatan dengan Taman Nasional Salak-Halimun ini menjadi objek wisata alternatif. Lokasinya yang relatif tidak jauh dari Jakarta menjadi salah satu pertimbangan. Selain itu, biaya yang harus dikeluarkan juga tidak terlalu besar. Beragam fasilitas tersedia, mulai dari yang paling mahal hingga yang bermodal tenda di tengah hutan.

Banyak cara untuk me- ngunjungi lokasi yang berada di kaki Gunung Salak itu. Setidaknya ada tiga jalur yang bisa digunakan untuk menuju kawasan Salak Endah atau Wana Wisata Gunung Bunder. Pertama adalah jalur Cemplang-Pamijahan-Salak Endah, kemudian ada jalur Cikampak-Salak Endah-Cibatok, dan terakhir jalur Tamansari-Gunung Bunder-Salak Endah. Namun umumnya, wisatawan lebih banyak menggunakan jalur Cemplang-Pamijahan-Salak Endah. Jalur ini memiliki jarak dan waktu tempuh terpendek dari jalan raya Bogor-Leuwiliang. Selain itu, kondisi fisik jalan di jalur ini lebih bagus dan tidak berkelok-kelok.

Ada baiknya ketika sampai di kawasan Salak Endah, langsung memutuskan tempat penginapan mana yang akan dipilih. Di kawasan ini, tersedia rumah-rumah penginapan yang bisa disewa. Mulai dari harga Rp 200.000 per malam per vila hingga yang jutaan rupiah. Namun, jika kondisi kantong tidak bisa mencukupi, di lokasi ini juga tersedia warung penduduk yang bisa dimanfaatkan untuk menumpang menginap dengan biaya sukarela. Bahkan, dengan modal tenda pun masih bisa menikmati keindahan alam kawasan Gunung Bunder. Karena di lokasi ini tersedia camping ground yang lengkap dengan fasilitas out bond lainnya.

Empat Air Terjun

Keindahan alam di wana wisata Gunung Bunder

Memang, berkunjung ke lokasi ini akan lebih berkesan jika meluangkan waktu untuk menginap. Karena tersedia waktu yang lebih leluasa untuk mengunjungi air terjun yang ada.

Ada empat air terjun yang sudah menanti di kawasan ini; Curug Cigamea, Curug Cihurang, Curug Ngumpet, dan Curug Seribu. Keempatnya memiliki keunikan sendiri. Untuk perjalanan awal, mungkin bisa mengunjungi Curug Cihurang. Air terjun di tempat ini bisa dilihat setelah berjalan sekitar 150 meter dari pintu gerbang Curug Cihurang. Namun, sebelum memasuki kawasan Curug Cihurang, setiap pengunjung wajib membayar biaya retribusi sebesar Rp 2.500 per orang.

Curug Seribu

Meskipun ketinggian air terjun ini tidak terlalu tinggi, air terjun ini memiliki kolam yang tidak dalam untuk se- kadar bermain air. Dan tentunya, lokasi ini menjadi tepat yang cocok untuk berfoto- foto.

Namun, jangan puas dulu. Sisakan frame foto kamera Anda, karena masih ada tiga air terjun lain yang tak kalah menarik. Usai menikmati Curug Cihurang, sasaran berikutnya adalah Curug Ngumpet. Lokasi ini sebenarnya tidak jauh dari Curug Cihurang, tapi akan lebih baik jika ditempuh dengan kendaraan.

Hampir sama dengan Curug Cihurang, untuk masuk kawasan Curug Ngumpet, setiap pengunjung dikenakan lagi biaya Rp 2.500. Air terjun di lokasi ini memang lebih tinggi dari Cihurang, hanya saja kawasan di sekitar air terjun terlihat tidak terawat. Banyak sampah yang merusak pemandangan mata di sekitar air terjun ini.

Lokasi air terjun yang satu ini sebenarnya menarik, karena di bawah jatuhnya air ada kolam yang cukup untuk berenang. Batu-batu besar pun berserakan di pinggir jatuhnya air, seakan-akan menyediakan spot-spot untuk berfoto-foto. Hanya saja perlu ekstra teliti menentukan angle kamera, agar sampah tidak ikut menghiasi foto Anda.

Selanjutnya, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Curug Seribu. Curug Seribu adalah air terjun yang paling tinggi di kawasan itu (sekitar 100 meter), sehingga bisa terbayang bagaimana suara gemuruh air yang jatuh.

Hanya saja untuk menjumpai air terjun ini, membutuhkan perjalanan ekstra. Berbeda dengan dua curug lainnya, perjalanan menuju Curug Seribu harus mengikuti jalan setapak yang membelah hutan. Lagu Naik-naik ke Puncak Gunung akan menjadi theme song yang tepat untuk mengiringi perjalanan menuju tempat ini. Setelah puluhan kali lagu itu dinyanyikan ulang, baru akan terdengar gemuruh Curug Seribu. Tapi, kelelahan perjalanan akan terbayar dengan keindahan alam yang sangat alami di kawasan itu.

Terakhir, air terjun yang paling sering dikunjungi adalah Curug Cigamea. Lokasi air terjun ini memang lebih mudah dijangkau, dan terawat. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 2.500 pengunjung harus melintasi jalur sepanjang 200 meter untuk menemui air terjun ini.

Curug Cigamea ini tampaknya lebih dikembangkan sebagai kawasan wisata di banding tiga curug lainnya. Di kawasan Curug Cigamea, sudah dibangun fasilitas kamar mandi yang bersih, tempat ibadah, dan beberapa warung yang berjejer rapi. Lokasi ini pun lebih ramai dari pada air terjun lainnya.

Sebenarnya, selain empat air terjun itu, di kawasan Wana Wisata Gunung Bunder juga menyediakan Kawah Ratu yang menarik untuk dikunjungi. Kawah itu setiap harinya mengeluarkan gas panas yang berbau belerang. Sayangnya, kawasan ini tertutup untuk umum karena dianggap berbahaya.

Meski lelah mengunjungi empat air terjun itu, tapi jangan lupa untuk membawa buah tangan bagi yang di rumah. Selain buah-buahan, beberapa warung di kawasan ini juga menyediakan hasil kerajinan tangan sebagai oleh-oleh. Banyak aksesori anyaman bambu yang menarik yang bisa dibawa pulang. Tentu saja setelah harganya disepakati bersama. [Suara Pembaruan/Kurniadi]

Menyusur Lava, Menggali Legenda

Perjalanan menyusuri bekas aliran lava gunung api diwarnai dengan tanjakan dan juga turunan dengan latar belakang pemandangan Curug Sigay.
Perjalanan menyusuri bekas aliran lava gunung api diwarnai dengan tanjakan dan juga turunan dengan latar belakang pemandangan Curug Sigay.

Sudah banyak orang mengetahui legenda Gunung Tangkuban Parahu. Bentang alam penanda bagian utara Kota Bandung itu, konon terbentuk karena Sangkuriang menendang perahu buatannya, setelah gagal memenuhi persyaratan yang diajukan calon istri-yang juga ibunya sendiri-Dayang Sumbi. Perahu yang terbalik itu akhirnya disebut- sebut sebagai Gunung Tangkuban Parahu.

Namun, tidak banyak orang yang mengetahui asal muasal pembentukan gunung itu secara alamiah. Perjalanan yang di gagas oleh Mahanagari bekerjasama dengan Jantera, kelompok pencinta alam Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada akhir Oktober lalu, mengajak pesertanya mengenali peristiwa pembentukan Gunung Tangkuban Parahu dari sisa-sisa lavanya.

Perjalanan kali ini dimulai jam setengah delapan pagi dari Plasa Utara Isola UPI. Bangunan cantik bergaya art deco yang digunakan sebagai gedung Rektorat UPI ini didesain oleh arsitek ternama C P Wolff Schoemaker.

Bangunan yang dibangun dari Oktober 1932 hingga Maret 1933, dengan bantuan biro arsitektur AIA di Batavia itu, berada di sisi kiri jalan bila kita menuju ke Lembang dari Bandung. Kerangka bangunan dan jendelanya terbuat dari baja. Sedangkan, lantainya dari beton cor. Struktur bangunan yang melengkung dan bertingkat ini menjadi salah satu warisan budaya yang masih bisa dinikmati.

Para peserta Lava Tour menyeberangi aliran Ci Beureum yang melewati Curug (air terjun) Sigay di belakang kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Curug itu menjadi salah satu bukti adanya aliran lava yang membeku di daerah tersebut
Para peserta Lava Tour menyeberangi aliran Ci Beureum yang melewati Curug (air terjun) Sigay di belakang kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Curug itu menjadi salah satu bukti adanya aliran lava yang membeku di daerah tersebut

Dalam perjalanan itu, para peserta ditemani oleh Titi Bachtiar, seorang dosen ekonomi yang juga aktif menjadi peneliti dalam Kelompok Riset Cekungan Bandung. Menurut dia, kawasan Bandung sebelah utara menyimpan banyak ‘kekayaan’ yang bisa jadi sumber pengetahuan buat warganya.

Pelajaran sambil jalan-jalan kali ini dimulai dengan sejarah letusan Gunung Sunda yang meletus dan mengeluarkan lava dengan volume yang luar biasa banyaknya. Lava itu mengalir ke lembah-lembah yang mengarah ke bagian utara dan selatan, seperti yang mengalir sepanjang lembah hingga Curug Aleh di Kompleks Perumahan Setraduta, atau di lembah-lembah lainnya, seperti di Lebak Cigugur, di Ci (sungai) Beureum, Ci Hideung, Ci Mahi, dan lain-lain.

Setelah semua peserta berkumpul, perjalanan dimulai ke arah belakang kampus UPI. Menyusuri gang dan bangunan yang menjadi pondokan mahasiswa, kita bisa melihat seperti apa pengembangan sebuah kawasan yang tidak terencana. Permukiman padat dengan jalanan yang sempit, pada saatnya akan mengakibatkan kesulitan sendiri buat warganya, misalnya kalau ada kebakaran.

Setelah mengikuti jalur jalan sempit yang berkelok-kelok, kita sampai pada onggokan lava yang sudah membeku di sisi kanan jalan. Tingginya mencapai 10 meter. Bachtiar menjelaskan, lava yang panasnya 1.200 Celcius itu membeku di titik tersebut. “Awalnya berwarna merah seperti gulali (penganan dari gula) lalu tiba-tiba membeku.”

Ujung lava yang membeku di lembah-lembah itu kemudian dialiri air, membentuk jeram, curug, cai urug, serta air terjun. Namun, ada pula lembah-lembah yang dipenuhi aliran lava, sehingga aliran sungai beralih ke sebelahnya.

Tidak jauh dari lokasi perhentian pertama, kita bisa melihat pembekuan lava itu dalam ukuran yang lebih besar. Masyarakat menamainya Curug (air terjun) Sigay. Sigay dalam bahasa Sunda berarti bambu panjang yang di antara bilah-bilahnya dibuat ceruk, sehingga bambu itu bisa menjadi tangga.

Peristiwa pembekuan secara alami ini yang mengakibatkan sepanjang lembah-lembah tadi terdapat bongkah-bongkah aliran batuan beku yang amat panjang. Jika diukur dari pusatnya di Gunung Sunda, jarak alirannya bisa mencapai 15 kilometer.

Curug Sigay, sambung Bachtiar, seperti halnya air terjun lain, memiliki fungsi aerasi. “Air terjun itu penting adanya, karena itu bisa menghilangkan partikel yang tidak penting dalam air. Oksigen jadi masuk ke dalam air. Kualitas air menjadi lebih baik,” terang dia.

Kembali ke soal Gunung Sunda. Bachtiar mengungkapkan, gunung itu mengalami beberapa unit letusan yang terjadi dalam rentang waktu antara 210.000-105.000 tahun yang lalu. Satu di antara letusannya itu mengeluarkan lava, batuan pijar dari perut bumi yang panasnya 1.200 derajat Celcius.

Gunung Jayagiri

Dinding lava yang berada di daerah (sungai) Ci Hideung menjadi daya tarik tersendiri untuk dinikmati bersama air terjun kecil yang berada di sebelah baratnya
Dinding lava yang berada di daerah (sungai) Ci Hideung menjadi daya tarik tersendiri untuk dinikmati bersama air terjun kecil yang berada di sebelah baratnya

Sebelum ada Gunung Sunda, ada yang namanya Gunung Jayagiri. Anggota Masyarakat Geografi Indonesia ini menyebutnya sebagai kakek Gunung Tangkuban Parahu. Gunung dengan ketinggian lebih dari 4 ribu meter itu diperkirakan meletus 560.000 sampai 500.000 tahun yang lalu. Jejak-jejak aliran lava yang bisa dilihat peserta tur kali ini, berada di sepanjang aliran Ci Beureum.

Akibat meletus, puncaknya hilang dan membentuk kaldera atau kawah. Dari kawah itu, kemudian terbentuk gunung baru yang akhirnya menjadi Gunung Sunda. Seperti pendahulunya, Gunung Sunda juga meletus dan materialnya membendung Danau Bandung Purba. “Itu bisa dilihat dari endapannya. Ketebalannya mencapai 40 meter di daerah Cibogo (dekat Cimahi),” terang Bachtiar.

Perjalanan menyusuri aliran Ci Beureum ini cukup menyenangkan. Meski peserta harus berbasah-basah oleh air sungai. Sembari berjalan di aliran sungai, Bachtiar menjelaskan, masyarakat di aliran sungai itu berpotensi terkena penyakit gondong atau gondok.

Penyakit ini dipicu oleh gejala pembesaran pada kelenjar tiroid yang terjadi karena penderitanya kekurangan yodium. Hal ini wajar terjadi di aliran sungai yang terjadi karena lelehan lava. “Air kawah itu asam sehingga, bisa kekurangan yodium. Akibatnya, selain gondong, kecerdasan berkurang serta pertumbuhan badan terhambat.”

Hal-hal seperti ini, sambung dia, seharusnya menjadi pelajaran buat masyarakat, dan juga pemerintah daerah. Pelajaran paling sederhana yang bisa diambil adalah melihat sampai di mana lontaran material dari gunung api itu? “Untuk mitigasi juga bisa dilihat aliran lavanya seperti apa,” kata Bachtiar. [Suara Pembaruan/Adi Marsiela]

Pesona Curug Cilember, Air Terjun di Tengah Hutan Lindung

cilember_3Cisarua – Salah satu obyek wisata di kawasan puncak yang menjadi andalan Kabupaten Bogor ialah Wana Wisata Curug Cilember. Di Wana Wisata yang terletah di tengah hutan lindung yang dikelola oleh Perhutani ini anda dapat merasakan kesejukan alam serta dinginnya air terjun alami yang berasal dari Bukit Hambalang.
“Air terjun Curug Cilember berasal dari Bukit Hambalang dengan ketinggian sekitar 2000 meter dari permukaan laut, di Wana Wisata ini terdapat tujuh curug yang ketinggiannya mulai dari 1700 meter dari permukaan laut hingga 800 meter dari permukaan laut,” ujar Hendri Apialawan, Manager Marketing Wana Wisata Curug Cilember kepada Jurnal Bogor kemarin. Continue reading Pesona Curug Cilember, Air Terjun di Tengah Hutan Lindung

Menikmati Kelimpahan Curug Luhur

curug luhurCiomas – Kabupaten Bogor memang memiliki banyak air terjun alami yang cukup indah untuk dinikmati saat liburan bersama keluarga atau teman.
Salah air terjun itu adalah Curug Luhur, berada di daerah kecamatan Ciomas, Bogor. Ketinggiannya mencapai 624 meter. Curug yang mempunyai dua air terjun yang sejajar ini terletak di Gunung Salak sekitar 70 km di selatan Jakarta.
Perjalanan dari areal parkir menuju lokasi curug cukuplah mudah karena sudah disediakan undakan semen hingga ke lokasi. Tak heran jika wisatawan berbagai usia mendatangi curug ini. Continue reading Menikmati Kelimpahan Curug Luhur

Mencari Kedamaian di Curug Muncar

curug-muncarAir terjun Curug Muncar terletak 45 km arah barat laut dari pusat Kota Purworejo. Tepatnya terletak di Desa Kaliwungu, Kec. Bruno, di Kawasan Perhutani. Air terjun ini berada di ketinggian 900 m diatas permukaan laut. Curug Muncar ini masih sangat alami, belum tersentuh oleh bermacam-macam teknologi manusia. Oleh karena itu jika Anda menyukai petualangan alam maka Curug Muncar dapat menjadi pilihan yang tepat.

Disarankan, bila Anda ingin berpetualang ke lokasi ini, sebaiknya persiapkan fisik Anda karena jalan menuju lokasi relatif menanjak, sehingga dikhawatirkan bila fisik anda lemah tidak dapat sampai ke tujuan. Bagaimanapun lokasi ini cocok bagi para pencinta alam dan pendaki gunung.

Bila Anda tiba di lokasi akan terasa betapa agungnya Sang Pencipta alam ini. Kesejukan air dan udara akan menyertai Anda sepanjang waktu. Bila Anda ingin mencoba mandi alam, disinilah pilihan yang tepat. Pengunjung yang pernah ke lokasi ini umumnya mengaku puas dapat menikmati keasrian alam sebagai kekayaan bumi nusantara. Continue reading Mencari Kedamaian di Curug Muncar

Curug Cileat

curug-cileatDesa Cibogo Kecamatan Cisalak – Subang
PT. Perhutani

Lokasi curug ini terletak di Kecamatan Cisalak Kab. Subang, dengan ketinggian curug ± 100 m, ditambah udara yang sejuk dan akan bermunculan pelangi-pelangi kecil memantul dari air terjun jika matahari pagi memancar. Selain itu, obyek wisata ini merupakan tempat ideal bagi penggemar kegiatan berkemah.

Aksesibilitas

Untuk menuju ke lokasi ini belum dapat dilalui oleh kendaraan, sehingga pengunjung harus berjalan kaki beberapa kilometer. Adapun jarak dari kota Subang ± 37 km, ke arah selatan, jarak dari kota Bandung ± 62 km, ke arah utara, jarak dari kota Jakarta ±180 km, arah selatan via Subang.

Daya tarik utama di lokasi curug Cileat adalah sebuah air terjun dengan ketinggian 100 meter. Tumpahan airnya membentuk sebuah kubangan atau kolam yang sangat besar dengan radius hampir 40 meter. Wisatawan dapat bermain air dan berendam didalamnya. Butiran-butiran air yang sangat halus bertebaran terbawa aingin dan bisa membasahi Continue reading Curug Cileat

Pendakian Gunung Salak

Kawah Ratu
Kawah Ratu

Gunung Salak sejak jaman dahulu sudah sering dikunjungi oleh para pejiarah, dahulu terdapat patung pemujaan di puncak gunung Salak. Terdapat juga makam Embah Gunung Salak yang sering dikunjungi para pejiarah. Di kaki Gunung Salak banyak terdapat tempat-tempat keramat, makam keramat ada juga pura dengan sebutan Kuil Prabu Siliwangi . Pendakian terbaik dilakukan pada musim kemarau, karena pada musim penghujan jalur menjadi becek seperti rawa, licin sekali dan banyak lintah. Selain itu angin seringkali bertiup kencang.

Gunung ini dapat didaki dari beberapa jalur diantaranya jalur yang umum sering dipakai adalah jalur dari Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, dari Cangkuang ini ada dua jalur yakni jalur lama yang menuju puncak Gunung Salak 1 dan jalur baru yang menuju Kawah Ratu. Jalur yang penuh dengan nuansa mistik untuk berjiarah adalah jalur dari Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Continue reading Pendakian Gunung Salak