Tag Archives: danau

Pesona Danau Ranau, Danau Terbesar Kedua di Sumatera

danau ranauSelain Danau Toba, Pulau Sumatera juga punya Danau Ranau, danau terbesar kedua di Sumatera. Tidak hanya luas dan indah, udara di sekitar danau juga sangat sejuk. Ayo bertualang ke sana akhir pekan ini.

Danau Ranau ini merupakan danau terbesar kedua di Pulau Sumatera. Lokasi Danau Ranau ini terletak di perbatasan Lampung Barat, Provinsi Lampung dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Rute yang kami pilih melalui Palembang-Prabumulih-Baturaja-Muaradua, dengan total perjalanan 7-8 jam.

Namun, jika wisatawan berasal dari Pulau Jawa atau dari Lampung menuju Danau Ranau, bisa menggunakan rute Bandar Lampung-Kota Bumi-Bukit Kemuning-Liwa-Kotabatu-Sukamarga atau Banding Agung. Perjalanan dari Bandar Lampung menuju Danau Ranau kurang lebih 6-7 jam.

Track yang kami jalani relatif mudah menantang. Kondisi menantang ketika kami mulai memasuki kawasan hutan lindung, dimana kondisi jalannya sangat kecil walaupun sudah diaspal. Dengan keadaan alam hutan di kanan kiri yang pepohonannya cenderung merunduk ke arah jalan, akan sangat rawan longsor. Jika longsor, maka akses akan secara otomatis tertutup.

Tepat Pukul 17.00 WIB kami tiba di villa milik PT Pusri yang terletak persis di sebelah Danau Ranau. Suhu saat itu sekitar 16 derajat, dingin. Nampaknya ini satu-satunya villa yang ada tepat di pinggir Danau Ranau. Sebenarnya ada villa atau penginapan lain, namun lokasinya di atas. Ratenya antara Rp 175 ribu-400 ribu.

Kegiatan yang bisa dilakukan di Danau Ranau adalah berenang dan mandi di pemandian air panas. Untuk anak-anak bisa bermain di waterboom yang langsung berada di tepi Danau Ranau.

Untuk menuju pemandian air panas dibutuhkan waktu 20 menit dengan menggunakan perahu carteran yang diberangkatkan dari dermaga tempat kami menginap, dan biaya sekitar Rp 50 ribu. Sama dengan harga tiket masuk ke waterboom. Namum dalam traveling kami, kali ini memilih waterboom dikarenakan kedaan pemandian air panas sedang tidak oke saat itu.

Sumber: detikcom

Unik! Danau Toba Punya Pantai Pasir Putih

Danau TobaUnik sudah pasti. Beda dengan pantai lainnya, Pasir Putih Parbaba ini bukan di laut tapi di tepi danau. Keunikan yang tersimpan di Danau Toba, Sumatera Utara ini pun bisa menggoda wisatawan untuk menceburkan diri. Byurr!

Pagi yang cerah dan indah itu merupakan kenangan ketika kami berangkat melakukan perjalanan wisata. Walaupun, cuaca masih dingin sampai menusuk tulang-tulang sumsum, itu tidak menjadi hambatan. Semua itu merupakan suatu kesatuan yang sangat berkesan seolah-olah Tuhan berkata selamat menikmati perjalanan wisata ini.

Beberapa minggu yang lalu,seorang teman kampus yang kini sudah tamat dan bekerja ingin berlibur bersama kami, teman-temannya yang masih berjuang menyelesaikan tugas akhir untuk meraih gelar sarjana. Keinginannya itu juga sebagai ungkapan akan kerinduannya kepada teman-teman saat kuliah dulu. Hal itu pun kami tanggapi dengan senang hati.

Tanggal 26 Oktober, kami setujui sebagai hari untuk melakukan perjalan wisata tersebut. Kenapa tanggal 26 Oktober? Karena saat itu adalah tanggal merah, tepatnya dalam rangka Hari Raya Idul Adha bagi umat Islam.

Jadi, hari ini juga kami punya waktu luang untuk berhenti sejenak dari aktivitas masing-masing. Samosir dan Parapat menjadi tempat yang kami pilih untuk wisata kami.

Dimulai pada 25 Oktober 2012, pukul 08.00 WIB kami semua berkumpul di tempat kos seorang teman. Sebelum kami berangkat, ada sedikit kekecewaan karena tidak semua teman yang awalnya berjumlah sebelas orang setuju ikut, malah ada beberapa teman yang bisa ikut, akhirnya kami hanya tujuh orang yang berangkat untuk berlibur.

Tepat pukul 00.45 WIB, kami pun berangkat dari Medan menuju Samosir. Dari atas mobil, kelihatannya semua teman beseri-seri dan gembira. Selama perjalanan kami isi dengan ngobrol-ngobrol, bercanda, hingga menimbulkan suasana yang semakin ceria.

Setelah lelah ketawa-ketiwi, teman-teman pun tidur karena perjalanan masih panjang. Rute yang kami lalui menuju Samosir dengan memilih rute Medan-Berastagi-Sidikalang-Pangururan. Teman-teman pun tertidur, hanya supir dan kernetnya kebetulan supir mobil yang disewa adalah teman kami juga namanya Mas Dodi Turnip alias Rini.

Sekitar, pukul 07.00 WIB kami pun sampai di Tele. Setelah sarapan pagi dengan melakukan perjalanan kurang lebih 20 km, kami pun sampai di Menara Pandang Tele. Sesampainya di sana kami sempatkan untuk mengabadikan foto sebagai kenangan di menara pandang. Teman-teman yang baru pertama kalinya berwisata ke Samosir, sangat takjub dengan keindahan Pulau Samosir dan Danau Toba.

Danau Toba, berbicara tentang pesona danau vulkanik yang terletak di Sumatera Utara ini memang tidak akan ada habisnya. Sebab danau ini punya objek wisata alam yang indah membentang dari satu bagian ke bagian lainnya. Mulai dari perairan danau, perbukitan, jejeran pegunungan, hingga pantai berpasir putih serta objek wisata alam lainnya seperti Pulau Samosir yang berada tepat di tengah-tengah Danau Toba.

Tak hanya sebagai objek wisata alam, Danau Toba pun terkenal dengan eksotika perkampungan etnis Batak. Di mana tradisi dan kebudayaan khas Batak masih dapat Anda lihat, sebab penduduk di perkampungan tersebut sangat menjaga kelestarian budaya yang dibawa oleh generasi-generasi mereka sebelumnya.

Dengan keunikan Danau Toba yang begitu eksotis seperti ini, Danau Toba menjadi destinasi pariwisata internasional bahkan juga menjadi ikon pariwisata Indonesia. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju hotspring atau pangururan. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan yang indah.

Danau Toba dikelilingi bukit-bukit, namun gundul, tandus, dan gersang. Kemudian, mulailah tampak ciri khas Batak. Di sepanjang bukit tersebut kelihatan beberapa kuburan yang berupa tugu berukuran besar, serta tinggi dan rendah. Artinya, bukit-bukit tersebut tidak ditanami dengan tumbuhan tetapi dengan jasad orang yang meninggal.

Banyaknya kuburan atau tugu itu dikarenakan masih adanya pemahaman orang Batak. Pemahaman tersebut, yakni sejauh manapun seseorang merantau kalau meninggal harus dikubur di kampung halamannya, Samosir.

Pemandangan lain yang terlihat adalah keramba ikan di danau. Keramba biasanya terbuat dari jaring bahan plastik. Di sanalah ikan diternakkan yang tiap hari harus dikasih makan. Keramba itu kelihatannya dalam jumlah banyak dan benar-benar sangat mengganggu dan merusak keindahan.

Pukul 09.00 WIB kami sampai di Hotspring. Karena cuaca di Samosir sudah mulai cerah, kami pun memutuskan untuk tidak mandi di hotspring. Kami hanya singgah sebentar untuk cuci muka dan menikmati pemandangan di sekitar hotspring. Selanjutnya, kami sempatkan untuk berkeliling di Kota Pangururan, Ibukota Samosir ini sebelum berangkat menuju Pantai Pasir Putih Parbaba.

Salah satu keunikan yang tersimpan di pesisir Danau Toba adalah Pantai Pasir Putih Parbaba. Apabila baru pertama kali mendengar adanya sebuah pantai yang terletak di Danau Toba tentunya menyimpan pertanyaan.

Bagaimana bisa ada pantai yang terdapat di pesisir danau? Apalagi Danau Toba bukanlah daerah dataran rendah dengan hawa panas yang bisa menyebabkan daerah punya banyak pantai.

Ya, panorama pantai ini memang ada di Danau Toba. Tentunya destinasi ini bukanlah pantai yang seperti dibayangkan sebelumnya. Karena pantai di Danau Toba ini berbeda dari pantai-pantai lainnya yang terdapat di dataran rendah, meski sama-sama memiliki pasir putih yang khas.

Keunikan pantai ini banyak mengundang perhatian dan decak kagum para wisatawan dari berbagai daerah ketika mengunjunginya. Berada di daerah dataran tinggi yang beriklim sejuk, perairan di pantai ini bukanlah air asin yang mengandung garam seperti di daerah dataran rendah melainkan air tawar yang terdapat perairan Danau Toba. Sehingga sensasi segar dan sejuk membaur menjadi satu ketika berada di kawasan pantai ini.

Selain itu pantai ini juga cukup dangkal hingga jarak beberapa meter dari pesisir. Bahkan menurut informasi, kedalaman yang paling tinggi dari Pantai Pasir Putih Parbaba ini hanya berkisar antara 2 meter hingga 2,5 meter.

Apabila berenang di sekitar Pantai Pasir Putih Parbaba, maka Anda akan merasakan sensasi seperti di kolam renang alami yang berukuran besar. Ditambah rasa yang tentunya cukup aman tanpa adanya arus deras seperti di daerah pantai dataran rendah.

Tak hanya itu, pasir putih di kawasan pantai ini pun juga terlihat sangat bersih. Pasir putih tersebut membentang dari sisi utara ke selatan dan sesekali bergerak seiring dengan hembusan angin yang sejuk.

Sekitar pukul 11.30 WIB kami pun sampai di Pantai Pasir Putih Parbaba. Sesampainya di sana kami menggelar tikar. Tempat kami berteduh di bawah pohon waru menikmati panorama alam yang disuguhkan pantai pasir putih ini.

Setelah makan siang, tak lengkap rasanya apabila tidak berenang ataupun sekadar berendam di perairan pantai yang unik ini. Ya, meski airnya cukup dingin tapi akan terasa sangat segar ketika merasakan langsung air pantainya. Apalagi setelah menempuh perjalanan jauh menuju Danau Toba.

Rasa lelah dan penat di perjalanan akan hilang setelah menyaksikan panorama alam yang terbentang di sekitar Pantai Pasir Putih Parbaba. Puas berenang di Pantai Pasir Putih Parbaba, pukul 14.30 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju Tomok.

Sumber: detikcom

Danau Sebedang

Danau SebedangObjek Wisata Danau Sebedang merupakan sebuah danau yang mempunyai luas sekitar 1 km.dan Objek Wisata Danau Sebedang dikelilingi oleh bukit dengan ketinggian sekitar 400 meter dari permukaan laut. Kawasan Objek wisata ini sangat mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat karena berada pada jalur jalan regional Sambas – Singkawang – Pontianak. Objek Wisata Danau ini memiliki panorama alam yang indah.

Lokasi Objek Wisata Danau Sebedang berada di Desa Sebedang Kecamatan Sambas, jarak tempuh ke lokasi ini dari Kota Pontianak ± 202 km. Kondisi jalan masuk ke lokasi beraspal sepanjang ± 500 meter dapat dilalui dengan kendaraan roda empat. Objek Wisata Danau Sebedang terdapat fasilitas penunjang kepariwisataan yang disediakan oleh masyarakat setempat bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sambas.

Bagi wisatawan yang tertarik untuk melakukan olahraga hiking, dapat menuju puncak Bukit Amor yang berada di sebelah selatan danau dan menikmati keindahan pemandangan danau. Bagi anda membawa keluarga, dapat sekalian mengunjungi pulau panjang yang berada di tengah Danau Sebedang. Menurut sejarah, Danau Sebedang digunakan para Sultan Sambas untuk tempat pemandian dan peristirahatan.(Wisatanesia)

Sumber: DNA Berita

Petualangan Menarik di Dekat Gunung Kelimutu

TUJUAN trekking kali ini adalah Danau Kelimutu yang memiliki tiga warna air berbeda di kawasan gunung berapi Kelimutu, tepatnya di puncak Taman Nasional Kelimutu, Flores.

Untuk mencapai lokasi danau, Anda bisa berangkat dari kota kecil Moni atau dikenal sebagai basecamp para backpacker sekitar 12 km. Danau Tiwu Ata Mbupu berada paling barat, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai di tengah dan Tiwu Ata Polo di timur.

Warna masing-masing danau itu selalu berubah-ubah dan ketiga Danau Kelimutu diyakini memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat. Ini merupakan tempat bersemayamnya para roh.

Disini juga mudah ditemukan tikus-tikus gunung (Bunomys naso), banteng (Bos javanicus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak nainggolani), luwak (Pardofelis marmorata), trenggiling (Manis javanica), landak (Hystrix brachyura brachyura) dan kancil (Tragulus javanicus javanicus).

Meski danau ini indah, namun tidak semua daerah dapat dijelajahi. Pasalnya Kelimutu merupakan salah satu daerah yang berbahaya. Taman Nasional Kelimutu merupakan taman nasional terkecil dari enam taman nasional di wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

Beberapa tempat menarik lainnya yang dapat Anda kunjungi di Flores adalah Blue Stone Beach, Situs Rumah Bekas Pembuangan Bung Karno dan pusat perbelanjaan kain di Pasar Ikat.(*/X-13)

Danau Napabale, Danau Berair Asin di Muna

DANAU Napabale terbilang cukup unik dan berbeda dari danau pada umumnya karena memiliki air yang asin. Terletak di kaki bukit Desa Lohia, Muna, Sulawesi Tenggara. Tepat di sebelah danau terdapat lautan yang dihubungkan dengan terowongan alam sepanjang 30m dengan lebar 9m.

Terowongan alam tersebut menjadi jalan masuk air yang berasal dari laut. Tak heran air Danau Napabale terasa asin. Selain itu, terowongan juga menjadi tempat wisata dan kerap ditelusuri wisatawan yang berkunjung.

Saat air laut pasang, terowongan akan tertutupi air. Namun ketika airnya surut, terowongan bisa dilalui menggunakan perahu pincara.

Kegiatan lain yang bisa dilakukan di Danau Napabale adalah berlayar atau menyelam. Wisatawan yang ingin berlayar bisa menggunakan sampan atau perahu yang disewakan nelayan di sekitar danau.

Jangan hanya sekedar menikmati suasana danau saja, Anda bisa menyebrang melewati terowongan untuk menuju tepi pantai yang pemandangannya tak kalah mengagumkan.

Tak jauh dari Danau Napabale terdapat objek wisata berupa situs purbakala bernama Gua Layang-layang. Jika memasuki gua Anda akan menemukan lukisan-lukisan hasil karya manusia zaman prasejarah. (*/X-13)

Tidak Ada Danau Seunik Danau Sentarum

THE Last Paradise menjadi julukan bagi Danau Sentarum yang merupakan komplek danau-danau yang terdiri dari 20 danau besar dan kecil yang terletak di Borneo, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sejak tahun 1999 ditetapkan sebagai Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS).

Berbeda dengan danau konvensional lainnya, Danau Sentarum merupakan sebuah hamparan banjir (lebak lebung/floodplain). Letak dan kondisinya yang berada di tengah-tengah deretan pegunungan membuat kawasannya sebagai daerah tangkap hujan.

Pada musih hujan, komplek Danau Sentarum akan terendam air dari aliran pengunungan sekitar dan luapan Sungai Kapuas. Namun pada musim kemarau panjang, sebagian besar danau menjadi kering dan terkadang ditumbuhi rumput hijau menyerupai padang golf.

Keunikan tersebut menjadikan kawasan Danau Sentarum sebagai salah satu tipe ekosistem hamparan banjir paling luas yang langka dan masih tersisa dalam kondisi baik di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Danau Sentarum terbentuk pada zaman es atau periode pleistosen. Kekayaan flora dan faunanya sangat luar biasa dan tak mungkin dijumpai di belahan manapun. Sedikitnya ada 510 spesies tumbuhan, 141 spesies hewan mamalia, 266 spesies ikan, dan 31 jenis reptilia.

Luas Danau Sentarum adalah 132.000 hektar, terdiri dari 89.000 hektar hutan rawa tergenang dan 43.000 hektar daratan. Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum tercatat sebagai salah satu habitan ikan air tawar terlengkap di dunia.(*/X-13)

Rona-rona Singkarak

BILA gugusan awan menyibak, di arah selatan dari puncak Gunung Marapi (2891 Mdpl), panorama Danau Singkarak tak ubah seperti genangan air di salah satu cekungan Bukit Barisan. Marapi, merupakan puncak tertinggi untuk melihat keindahan danau terbesar di Sumatra Barat tersebut.

Keelokan Danau Singkarak dapat juga lebih dekat disaksikan dari Bukit Aua Sarumpun, Ombilin, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar. Danau Singkarak membentang panjang dari arah utara di Kabupaten Tanah Datar ke arah tenggara di Kabupaten Solok, sepanjang 20 km.

Dengan lebar danau mencapai 6,5 kilometer, berair biru dari kejauhan, Singkarak memang ‘milik’ dua kabupaten itu. Di lalui jalur lintas tengah Sumatra di bagian timur danau, membuat Singkarak mudah diakses. Dari Padang, danau ini berjarak hampir 100 kilometer melalui jalur Kota Padang Panjang. Dari arah selatan, Singkarak hanya berjarak belasan kilometer dari Kota Solok.

Danau yang sudah tersohor itu merupakan satu-satunya danau di Sumbar yang dilalui jalur kereta api yang membentang antara Padang Panjang dengan Sawahlunto. Dan ada cara lain menikmati panorama danau ini, yaitu dari kereta wisata yang sudah dirancang melalui jalurnya.

Berkereta menyusuri rel yang berliku di pinggiran Singkarak, memberi nuansa yang berbeda. Di pinggir Singkarak, Anda bisa sepuasnya berendam dan berenang di airnya nan sejuk. Setidaknya ada tiga lokasi wisata yang biasa dijadikan wisatawan untuk berenang, yaitu di Dermaga dan Tikalak, Kabupaten Solok serta di Tanjung Mutiara, Kabupaten Tanah Datar.

Bagi yang tak terbiasa berenang di air tawar, Anda bisa menyewa pelampung seharga berkisar Rp5 ribu sampai Rp10 ribu. Anda juga dapat berkeliling sejenak dengan menyewa boat atau bagi yang ingin santai bisa mengendarai sepeda air.

Penat bermain air, di sepanjang sisi timur, puluhan rumah makan dengan masakan khas danau sudah tersedia. Menu yang paling terkenal, apa lagi kalau bukan, goreng ikan bilih lado hijau. Ikan bilih adalah spesies ikan kecil sebesar jari kelingking orang dewasa yang hanya ada di Danau Singkarak. Rasanya gurih, karena hidup di air yang jernih dengan makanan alami.

Ikan bilih juga dijual dalam bentuk kering, sehingga bisa dibawa sebagai oleh-oleh. Harganya sekitar Rp50 ribu per kilogram, tergantung sedang musim atau tidak.

Bagi yang punya waktu cukup panjang dan gemar memancing, Anda bisa memilih tempat memancing di seputar danau, dengan keliling sekitar 50 kilometer itu. Ada 19 spesies ikan yang hidup di Singkarak. Selain ikan Bilih, ada ikan Asang, Turiak/turiq, Lelan, Sasau/Barau serta Gariang/Tor.

Banyaknya spesies ikan di Singkarak, menjadikan damau dengan luas permukaan mencapai 11.200 hektare itu, tidak saja menawarkan keindahan, namun juga kehidupan bagi warga di sekitarnya. Ikan bukan saja menjadi konsumsi sendiri, juga untuk dijual.

Dalam bentuk kering, ikan bilih juga sudah dijual di Padang atau Bukittinggi, dua kota terbesar di Sumbar yang lebih banyak dikunjungi pelancong.

Setahun terakhir, sebenarnya Singkarak sudah semakin sering dilafaskan masyarakat dunia, terutama bagi penggemar olah raga sepeda. Singkarak, menjadi ikon baru pariwisata Sumbar karena adanya even balap sepeda internasional: Tour de Singkarak.

Dimulai pertama kali 2009, pada 2010 tour ini akan kembali digelar dan dirancang dihadiri lebih banyak pebalap internasional.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumbar James Hellyward mengatakan Tour de Singkarak 2010 yang dimulai 1 Juni nanti, diikuti sekitar 200 pebalap dari 24 negara. Jumlah ini meningkat dibanding even pertama yang terbilang sukses dan diikuti 15 negara dengan 150 pebalap.

Tour ini menjadi unik, karena menggabungkan olah raga dengan pariwisata. Rute balap yang menyusuri keindahan alam Minangkabau, menjadi tambah unik karena dibalut dengan sajian budaya dan pasar rakyat.

“Masyarakat Sumbar ingin menjadikan even ini sebagai titik tolak untuk kebangkitan pariwisata daerah ini. Terkenalnya Sumbar di dunia karena gempa pada 30 September lalu, menurut kami, malah merupakan promosi gratis. Kita tinggal menambahkan, daerah ini bukan hanya ‘punya’ gempa. Lihatlah keelokan alamnya, keunikan budayanya dan bagaimana lezat kulinernya,” ujarnya bersemangat.

Sumbar memang tak berpangku tangan, meski beberapa kali didera bencana. Pariwisata daerah ini terus menggeliat. Bukittinggi malah sudah ramai dikunjungi beberapa pekan setelah gempa. Kini, giliran Singkarak menanti ‘dunia.(M-1)

Pesona Danau Tondano

BAGI Anda yang berasal dari Manado atau Tomohon tentunya akrab dengan lokasi wisata Danau Tondano. Ya, danau ini memang menjadi salah satu wisata terkenal di Sulawesi Utara. Namun bila Anda tidak berasal dari daerah ini, cobalah berkunjung untuk melihat keindahan alam di sana.

Danau yang terletak 600 meter di atas permukaan laut dan mencakup wilayah 4.278 hektare ini terletak di desa Remboken, sekitar 3 kilometer dari kota Tomohon atau sekitar 30 kilometer dari Manado.

Dari kota Tomohon ke Danau Tondano diperlukan waktu sekitar satu jam menggunakan kendaraan melalui jalan berkelok-kelok. Anda bisa menggunakan mobil pribadi atau naik angkutan umum dari Manado atau Tomohon.

Sejak 2003 daerah ini dikelola oleh sektor swasta dan dikenal sebagai Sumaru Endo. Berbagai fasilitas wisata seperti bungalow, kolam renang dan restoran bisa Anda jumpai di sini. Ini memungkinkan Anda untuk menginap beberapa hari bila datang dari jauh.

Selain itu, Anda juga dapat menemukan layanan sewa mobil, sewa peralatan renang dan sewa perahu untuk berkeliling di sekitar danau. Untuk berkeliling, Anda cukup membayar Rp50 ribu tetapi harus menunggu perahu terisi 10 penumpang.

Jalan-jalan di dekat danau juga menjadi kegiatan yang menyenangkan dalam udara yang dingin. Dari sisi danau di Toliang Oki, dan Tondano Pante Anda dapat melihat laut Maluku yang indah, di balik bukit Lembean. Biaya Masuk ke objek wisata ini adalah Rp 4 ribu.

Selain lokasi tepi, di tengah Danau Tondano juga ada sebuah pulau kecil bernama Pulau Likri. Sayangnya, Anda tidak dapat berhenti di pulau itu karena perahu mengikuti rute yang berbeda.

Berbagai kegiatan menarik lainnya yang bisa Anda lihat di danau ini adalah kegiatan menangkap ikan nike yang dilakukan masyarakat setempat dengan menggunakan jaring menyerupai sendok yang dibentuk dari tongkat bambu di kedua sisinya.

Bila rencana liburan Anda belum tersusun, selipkanlah lokasi wisata Danau Tondano diantaranya. Dengan keindahan alam yang dikelilingi pegunungan hijau, Anda tidak akan merugi berkunjung ke sini.(*/X-12)

Menyusuri Ambarawa dengan Kereta Tua

UDARA dingin dengan suhu 21 derajat Celcius di pagi buta terasa menusuk tulang. Kabut tipis minggu ketiga bulan ini juga terlihat menutupi pegunungan yang menjulang di arah selatan, utara dan barat Kota Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Saat melangkahkan kaki di kota kecil yang berjarak 30 kilometer dari Kota Semarang atau 60 kilomeSter dari Yogyakarta itu, bisa merasakan nuansa yang khas.

Ambarawa juga menawarkan aneka lokasi wisata yang menakjubkan dari wisata sejarah, agrowisata, wisata petualangan pegunungan hingga kuliner terdapat di sana.

Keindahan wilayah Ambarawa sempat menggugah minat penjajah Belanda untuk menjadikannya jadi tempat peristirahatan mereka. Di situ terdapat Benteng Williem I sebagai tangsi bagi tentara Belanda yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Dulu banyak penggede-penggede Belanda yang berlindung di sana saat diusik para pejuang.

Sebagai simbol kolonialisme di Ambarawa, Belanda juga tak segan-segan membangun stasiun kereta terbesar di dunia. Maka jika Anda berkunjung ke sana terasa kurang afdol jika tidak mengunjungi museum kereta api tersebut.

Memasuki Kota Ambarawa dari Semarang Anda akan dibuat takjub karena hamparan pemandangan danau (Rawapening) di sebelah selatan dengan latar belakang pegunungan Telomoyo dan Merbabu yang menjulang. Di utara Gunung Ungaran dan barat berdiri pegunungan Jambu.

Setibanya di daerah perkotaan Anda dapat langsung mengunjungi museum kereta api dengan koleksi puluhan kereta api kuno yang sulit dijumpai di negara manapun, bahkan negara pembuatnya sendiri.

Sekadar menyebut, di situ ada lokomotif seri CC50 buatan Schweizericche Lokomotiv und Maschinenfabrik Winterthur, Swiss dan Werkspoor, Belanda (1927). Lokomotif tercepat di dunia pada masanya yang mampu berjalan 120 km perjam seri C28 buatan Henschel dan F10 buatan Hanomag Jerman juga ada di sana.

Bahkan di Stasiun Willem I (kini Stasiun Ambarawa) yang diresmikan pada 21 Mei 1873 , sebuah lokomotif uap bergerigi B 2502 berbahan bakar kayu jati dengan dua gerbong kayu bercat hijau tua masih dioperasikan dan bisa Anda dinikmati . “Di dunia, lokomotif tua seperti ini tinggal tiga unit. Dua lainnya masing-masing di India dan Swiss,” kata Sumarno, pengamat keret api.

Perjalanan wisata dengan lokomotif tua, yang melewati rute Stasiun Ambarawa – Bedono sepanjang sembilan kilometer membawa keasyikan tersendiri. Dari dalam kereta tua itu Anda bisa menatap takjub alam pegunungan dan hamparan perkebunan di sisi kanan dan kiri yang diikuti semilir sejuk angin yang terhembus dari jendela kereta tua.

Dengan tarif Rp3,25 juta untuk carteran atau Rp50.000 per orang ongkos reguler, Anda sudah dapat menikmati suasana lampau di dalam kereta yang berjalan dengan kecepatan hanya 10 km per jam.

Pada empat kilometer pertama pemandangan perkampungan nan bersahaja akan dijumpai hingga sampai Stasiun Jambu. Setelah itu Anda akan mengakui takjub dengan teknologi lampau. Kereta api akan berhenti dan loko langsir berpindah ke belakang mendorong dua gerbong yang berjalan menanjak.

Dari stasiun Jambu sekitar 200 meter, jalan menanjak memaksa loko mengeluarkan jurus ampuhnya yaitu menggunakan gerigi yang bergerak berputar menapaki lempengan besi khusus yang dipasang di bagian tengah. Sungguh trip yang mengasyikan.

Rawapening

Belum puas menaiki wilayah pegunungan dengan kereta api tua berkapasitas 80 penumpang, wisatawan masih dapat menikmati indahnya danau Rawapening.

Dalam perjalanan ini, kereta api akan berjalan sekitar satu jam menyusuri pesisir Rawapening dan Anda dapat melihat hamparan danau seluas 3.000 hektare yang diramaikan oleh para nelayan yang hilir mudik dengan perahu tradisionalnya. Danau Rawapening dihuni berbagai jenis ikan air tawar.

Bagi wisatawan pecinta olahraga memancing kesempatan itu sangat langka. Hanya dengan menyewa perahu nelayan setempat seharga Rp25.000 perhari, Anda dapat mengarungi danau berair tenang itu sambil melepaskan umpan ikan.

Jika beruntung, ikan air tawar seperti gurame, tawes, kutuk (gabus), wader ukuran besar dan kecil akan menjadi milik Anda. Tidak itu saja, view gunung Merbabu dan Telomoyo yang melatarbelakangi danau sungguh memaksa mata Anda untuk menatapnya takzim.

Sembari menikmati indahnya panorama rawa dan gunung, di sisi yang berlawanan ada areal perkebunan kopi dan cokelat peninggalan Tlogo Maatscappij Amsterdam (1856) yang terhampar menghijau siap disapa mata juga. Sungguh pengalaman wisata yang memanjakan mata dan pikiran wisatawan.(M-1)

Kejaiban Warna dari Ende

PAGI belum lagi sempurna. Kabut tebal masih menyelimuti kaki pendakian Danau Kelimutu. Tiga danau yang menjadi buah bibir wisatawan belum juga tampak.

Kami menunggu di puncak pendakian, sambil menyeruput secangkir kopi yang di jual di atas oleh Avelinus, salah satu penduduk asli Suku Lio yang ada di kawasan Kelimutu. Dia sengaja datang membawa termos, keranjang gelas, sendok, gula, kopi dan teh, serta beberapa potong kain untuk dijual pada wisatawan. Di puncak pengamatan Danau Kelimutu, hanya dialah yang berjualan.

Tiga jam menunggu dari pukul 07.00 WIT hingga sekitar 10.00 WIT, akhirnya tirai kabut Kelimutu tersibak. Teriakan pengunjung yang jumlahnya tak lebih dari 15 orang langsung terdengar. “Lihat, lihat.”

Dua danau berwarna hijau tosca dan hijau tua terpampang di depan mata. Sebelumnya, danau hitam lebih dulu terlihat di sisi lain tempat kami berdiri. Tak ada kata yang bisa dengan tepat menggambarkan momen saat itu. Barangkali yang mendekati ialah kata takjub! Tiga danau berbeda warna terlihat tenang, dibentengi dinding batu dan di kejauhan terhampar hutan yang masih hijau. Suara burung sesekali masih terdengar, udara sejuk, dan angin kencang membelai serta mengibarkan rambut, jaket, dan busana.

Danau tiga warna Kelimutu terletak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Ajaib sekaligus menyimpan misteri. Warna air danau berubah-ubah seiring perjalanan zaman. Semula pergantian warna air dilaporkan Van Suchtelen, warga Belanda yang datang ke Kelimutu pada 1915. Kelimutu aktif memamerkan misteri alamnya selama 2002-2006. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat 17 kali pergantian warna pascaperubahan terakhir pada 13-21 Mei 1997.

Selama delapan hari, Danau Atapolo berwarna merah hati kemudian berganti warna ke hijau lumut. Danau ini dipercaya masyarakat setempat sebagai tempat arwah-arwah jahat. Sementara itu, danau Nua Muri Koo Fai berwarna hijau tosca (kampung arwah muda-mudi) berganti dari hijau terang ke hijau tosca. Terakhir Danau Ata Mbupu berwarna hitam–sebelumnya cokelat tua–dipercaya masyarakat sebagai kampung arwah para tetua bijaksana.

Kepala Tanam Nasional Kelimutu Gatot Subiantoro mengatakan, sesuai penelitian LIPI, kandungan mineral dalam danau membuat pantulan ketiga danau bervariasi. Perubahan itu dipengaruhi pembiasan matahari, kadar garam besi, dan sulfat. Juga ada pengaruh mikroba air serta aktivitas vulkanik.

Gatot menjelaskan, awalnya Kelimutu (1.640 meter di atas permukaan laut) merupakan gunung api aktif. Gunung ini meletus terakhir pada 1886 dan meninggalkan tiga kawah berbentuk danau. Ketika itu, tiga kawah memiliki warna air berlainan, yaitu merah, biru, dan putih.

Pada 3 Juni 1968, terjadi letusan dalam danau hijau muda. Gejalanya didahului suara mendesis, disusul semburan air cokelat kehitaman mencapai ketinggian 10 meter. Itu adalah aktivitas vulkanik ke-12 kalinya sejak 1830. Menurut Gatot, danau hijau muda masih aktif sampai sekarang. Adapun dua danau lainnya tidak aktif lagi, tetapi tetap ikut berubah warna. Itulah misteri yang belum sepenuhnya tersingkap para ahli.

Warga setempat, seperti disampaikan Gatot, mengatakan warna air Kelimutu berubah-ubah selama ratusan tahun. Hanya, saat ini dua danau yang berdampingan di bagian timur, yaitu Nua Muri Koo Fai dan Ata Mbupu dikhawatirkan lenyap. Pasalnya, dinding pemisahnya makin menipis, diduga akibat peristiwa vulkanik. “Dulu, masyarakat bisa berjalan melewati dinding pemisah itu. Tapi, sekarang sudah menipis sehingga tidak bisa dilewati lagi,” papar Gatot.

Wisata Andalan

Keajaiban dan misteri keindahan Kelimutu membuat danau ini terus dibanjiri wisatawan lokal dan mancanegara. Kelimutu bukan hanya obyek wisata andalan Nusa Tenggara Timur, tetapi menjadi satu-satunya objek danau tiga warna di dunia. Kelimutu terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, sekitar 66 kilometer arah utara Ende, ibu kota Ende.

Jika perjalanan dilakukan dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, sejauh 83 kilometer. Tidak sulit mencapai Kelimutu. Dari Maumere, perjalanan sekitar 3-4 jam, sewa mobil termurah sekitar Rp800 ribu. Pengunjung disarankan berangkat pada pukul 03.00 atau 04.00 WIT, hingga bisa tiba di Kelimutu sekitar pukul 06.00-08.00 WIT.

Pada jam itu merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pendakian. Tidak perlu khawatir karena jalan menuju puncak pengamatan Kelimutu tidaklah berat, sudah ada tangga-tangga dari semen. Waktu tempuh menuju puncak sekitar satu jam, tentu jika dilakukan tanpa henti.

Datang ke Kelimutu memang disarankan pagi hari. Saat Media Indonesia berkunjung April lalu, kabut baru terbuka pada pukul 10.00 WIT. Siang menjelang sore, kabut sudah datang lagi menutupi keindahan tiga danau tersebut.

Alternatif tempuh lain, berangkat dari Maumere sore hari menuju Desa Moni. Kawasan berjarak 13 kilometer dari danau itu ialah wilayah paling dekat dengan Kelimutu. Ada kafe, restoran dan 20 homestay berkapasitas sekitar 100 tempat tidur.

Moni menyuguhkan nuansa perdesaan yang sangat kental, seperti persawahan dan perbukitan hijau, sayang untuk dilewatkan. Pukul 03.00 dini hari dengan suhu 20 derajat celcius adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke Kelimutu. Kendaraan wisatawan di parkir di pos penjagaan, kemudian berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Saat itu panorama sungguh menakjubkan, terutama saat menyaksikan matahari terbit dari celah rimbunnya pohon pinus. Setelah tiba di puncak silakan menunggu keajaiban tiga danau, begitu kabut menyingkir.

Flora dan fauna

Taman Nasional Kelimutu–tempat Danau Kelimutu berada–menyimpan potensi flora dan fauna yang dikenal langka. Ada 19 jenis burung yang terancam punah, seperti tesia timor (Tesia everetti), sepah kerdil (Pericrocotus lansbergei), kehicap flores (Monarcha sacerdotum), punai flores (Treron floris).

Sementara itu, mamalia endemik seperti landak (Hystrix brachyura brachyura), kancil (Tragulus javanicus javanicus), dan luwak (Pardofelis marmorata).

Kekayaan alam tersebut dilindungi setelah ditetapkan menjadi taman nasional pada 26 Februari 1992. Kawasan taman nasional seluas 5.356,5 hektare ini meliputi tiga kecamatan, yaitu Detusoko, Wolowaru, dan Ndona. (mediaindonesia.com/OL-5)