Tag Archives: garut

Menikmati Panorama Alam di Pantai Sayang Heulang

SAAT berada di Garut lengkapi liburan Anda dengan mengunjungi Pantai Sayang Heulang. Keindahan pantai berpasir kecokelatan dan panorama alamnya mampu membuat siapapun yang melihat terpukau. Lahan pantai yang subur membuatnya mudah untuk ditanami tumbuhan seperti pohon kelapa dan tanaman merambat.

Tanaman pandan laut nampak menghiasi tepian pantai. Sementara pada daerah yang lebih dalam lagi ke daratan digunakan untuk lokasi pertanian produktif yang ditanami kacang tanah, kelapa dan lainnya.

Sayang Heulang terletak di Desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk, Garut. Meski terbilang cukup jauh dari tengah kota, tak menyurutkan minat wisatawan untuk berkunjung. Panjang pantai mencapai 3,5 km dengan luas lokasi pariwisata sekitar 10 hektar.

Satu hal yang menjadi daya tarik pantai adalah ombaknya yang cukup besar dan tinggi. Selain itu pantai juga memiliki dua tipe, yaitu tipe pantai berkarang yang berada di sebelah barat dan pantai yang tidak berkarang.

Nikmatilah pemandangan dari ikan-ikan hias, beragam bebatuan karang, dan ikan laut yang hidup di sela-sela karang.

Bagi Anda yang hendak bermalam untuk menikmati keindan pantai lebih lama terdapat lokasi perkemahan di sekitar pantai. Sambil bermalam Anda berkesempatan menyaksikan para nelayan yang sedang mencari ikan di lautan.

Jika tak ingin berkemah tersedia pula penginapan, khususnya untuk wisatawan luar kota. Di kawasan pantai juga tersedia kios-kios makanan dan minuman. (*/X-13)

Garut dan Wisata Surga dari Timur

UDARA nan sejuk berpadu landskap perbukitan menjadi ramuan pas untuk menikmati alam. Diapit gunung Guntur, Papandayan, dan Cikuray yang masih aktif, Garut telah memikat hati banyak orang. Bahkan pada 1910, Officieel Touristen Bureau, Weltevreden, menyebut Garut sebagai Paradijs van Oosten atau surga dari timur.

Kota Dodol ini, terletak di sebelah tenggara Kota Bandung, 250 km dari Jakarta. Perjalanannya dapat ditempuh dalam waktu tiga setengah jam dari Ibu Kota.

Menjelajah Garut bersama National Geographic dan Cevron Geothermal, Januari lalu sungguh berkesan. Kota yang juga terkenal dengan dombanya itu tentu tak bisa dinikmati dengan berendam air panas saja. Alam yang menantang sungguh sayang dilewatkan.

Pantai di selatan membujur hingga 90 kilometer panjangnya. Air terjun dan situ-situ alami menyejukan mata. Pengunungan menjulang tinggi hingga 2.821 meter. Belum lagi kekayaan budaya seperti acara surak ibra, raja dogar, dan bangunan-bangunan tua.

Gunung Papandayan bisa menjadi awal pertualangan pertama Anda di Swiss van Java. Terletak di kecamatan Cisurupan, 29 kilometer dari pusat kota Garut, Papandayan menjadi favorit bagi para pendaki pemula. Untuk mencapai Gunung Papandayan, naiklah kendaraan umum dari pusat kota menuju Cijulang. Kemudian turun di pertigaan Cisurupan. Dari sana, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menyewa ojek atau angkot hingga sampai di pelataran parkir gunung Papandayan.

Mendaki
Di pelataran yang memiliki ketinggian 2000 meter itulah jejak pendakian dimulai. Batuan besar kekuningan serta jalan menanjak akan menyambut kedatangan Anda. Pohon suwagi dan pakis tangkur tumbuh hijau di sisi-sisi jalan. Tebing batu yang tinggi dan curam mendominasi pandangan.

Mendaki lebih ke atas, Anda akan menjumpai kawah belerang yang mengeluarkan asap putih. Sesekali terlihat cairan kuning dimulut kawah, menandakan kepekatan belerangnya. Agar asap tak membuat pedih, cobalah berjalan agak menunduk, menghindari kontak langsung dengan asap. Jangan lupa, kenakan masker atau saputangan agar bau menyengat tak membuat kepala pusing.

Setelah melewati kepulan asap belerang, pesona kawah bisa dinikmati dari atas. Tentu bertambah nikmat dengan iringan melodi air yang turun ke kaki bukit. Tak jauh dari situ, terdapat danau. Lebarnya bisa mencapai seratus meter. “Warna airnya bisa berubah-ubah tergantung cuaca,” ujar Dede, yang pemandu pendakian.

Mencapai ketinggian 2.300 meter, pepohonan mati menciptakan pemandangan berbeda. Batang pohon-pohon itu hitam legam, hampir jadi arang. Pijakan tak lagi dipenuhi batu melainkan lapisan abu yang putih. Tempat ini kental dengan suasana kematian. Seakan ada panas api yang dengan cepat memberangus kehidupan.

Wilayah itu dikenal dengan nama ‘gunung salju’. Kontur pemandangannya tercipta karena letusan gunung Papandayan pada 2002 lalu. Kepulan uap panas ketika itu, membakar pepohonan, juga mengendapkan abu di bawahnya.

Kalau ingin menyaksikan matahari terbit, sebaiknya mendaki pada saat malam. “Sekitar jam sebelas ke atas,” kata Dede yang kerap menemani mahasiswa pecinta alam mendaki di malam hari.

Setelah beristirahat dan puas menikmati megahnya Papandayan, tiba saatnya untuk menuruni gunung. Salah besar kalau ada anggapan menuruni gunung adalah hal mudah. Walau tak butuh energi besar seperti ketika mendaki, tapi gravitasi betul-betul menyulitkan. Belum lagi kerikil-kelikil yang membuat pijakan tidak stabil.

Agar tak tergelincir, miringkan posisi telapak kaki seperti Anda ingin berjalan miring. Pusatkan tumpuan pada tumit dan turun perlahan. Selesai mendaki Papandayan, jangan lupa akan rencana selanjutnya. Peta Segitiga Wisata Garut keluaran National Geographic bisa jadi pemandu.

Tempat wisata unggulannya termasuk Situ Bangendit, Kawah Papandayan, dan Situ Cangkuang. Bagi yang suka berwisata di dalam kota, cobalah berwisata ziarah ke Makam Pangeran Papak di Wanajara, atau nikmati sejarah kota di Stasiun Cibatu. Tak lupa, bungkus beberapa helai batik tulis Garutan yang dapat dibeli di tengah kota, dodol manis, kerajinan kulit, dan anyaman bambu khas Garut untuk oleh-oleh.(mediaindonesia.com/M-3)

Situ dan Candi di Kampung Pulo, Garut

KONON di Kampung Pulo berabad-abad lalu, terdapat putri Hindu nan cantik jelita. Ketika itu, datanglah Arif Muhammad, panglima perang kerajaan Mataram. Dalam pelariannya setelah kalah melawan Belanda, Arif memutuskan menetap di desa. Sambil menyebarkan agama Islam, ia lalu jatuh hati pada sang putri.

Gayung pun bersambut. Sang putri mengiyakan, namun dengan satu syarat. Buatlah danau yang mengelilingi desa, pinta sang putri. Esoknya, muncullah sebuah situ, yang kini bernama situ Cangkuang.

Kisah itu diceritakan turun temurun di Kampung Pulo, Kecamatan Leles, Garut. Situ Cangkuang yang kini menjadi objek wisata, menyimpan banyak kisah. Begitu juga Candi Cangkuang di seberang situ, serta makam Arif Muhammad di sebelahnya.

Untuk mencapai lokasi, rakit bambu disediakan pengelola. Cukup Rp 3.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak. Tak sampai sepuluh menit menyebrangi situ, kami sudah bisa sampai di candi setinggi delapan setengah meter itu.

Perpaduan Hindu-Islam menjadi ciri istimewa. Candi dan makam Arif Muhammad terletak bersisian menandakan harmoni dua agama. Pertama kali candi ditemukan pada 1966 oleh Harsoyo dan Uka Candrasasmita. Penemuan ini berdasarkan laporan Vorderman tahun 1893.

Sayangnya, candi Cangkuang ditemukan tak berbentuk. Hanya bersisa 40 persen saja puingnya yang 60 persen yang hilang lalu dibuat replika. Sehingga pada 1976, candi itu utuh kembali. Tepat di belakang komplek candi, terdapat rumah adat yang dengan bebas bisa ditelusuri.

Rumah adat Kampung Pulo hanya tujuh saja jumlahnya. Tak boleh lebih, juga tak boleh kurang. Susunannya seperti huruf U, lingkungannya terawat, bersih, dan rapi. Jumlah ini simbol dari tujuh anak Arif Muhammad. Satu bangunan masjid melambangkan anak laki-laki. Enam lainnya berupa rumah tinggal, melambangkan anak perempuan.

“Kalau anak sudah menikah, dia harus pindah dari desa ini, tapi kalau ada rumah yang kosong, nanti dipanggil kembali,” jelas Tatang, Juru Kunci di Kampung Pulo.

Walau memeluk agama islam, warga kampung memengang garis keturunan perempuan. Maka, hanya anak perempuan yang berhak tinggal di desa, anak laki-laki harus pindah ketika dewasa.

Tatang, pria paruh baya itu, kemudian bercerita banyak hal. Kisah tentang benda pusaka yang hilang, para leluhur, bentuk rumah, dan kisah adat Kampung Pulo lainnya.(http://www.mediaindonesia.com/M-3)

Garut, Menyimpan Belerang dan Sejarah Wisata

GARUT – Kota Garut berhias gunung-gunung yang menjulang, termasuk Gunung Gede (atau Gunung Papandayan), Gunung Guntur dan Gunung Cikuray. Di saat fajar, pemandangan gunung terkesan misterius dengan lingkup kabut yang menebal dan terlihat dari kejauhan. Kala senja di saat matahari berwarna merah dan mulai menghilang di ufuk barat, kesan itu pun muncul kembali.

”Itu Gunung Gede, masih aktif dan dulu sempat meletus,” ujar seorang pemandu, saat pertama kali tiba dan melintas kabupaten ini. Baru selepas siang dan sore menjelang, kami langsung menikmati dinginnya udara di sekitar. Pegunungan yang mulai menghilang dibungkus senja, dan malam yang sudah menyuguhkan udara sejuk.
Bukan hal aneh jika Garut yang begitu indah kemudian dijadikan kota wisata oleh seorang Belanda bernama Holke van Garut (seorang gubernur kesayangan pemerintah Belanda pada tahun 1930-1940) dan melihat kabupaten ini berpotensi sehingga dijuluki sebagai ”Switzerland van Java” dan kemudian mendirikan hotel di sana. Di wilayah ini juga pernah didirikan dua hotel yang antara lain bernama Hotel Belvedere dan Hotel Van Hengel.
Ada juga hotel lain yang berada di luar kota Garut termasuk Hotel Ngamplang di Cilawu, Hotel Cisurupan, Hotel Malayu di Tarogong, Hotel Bagendit di Banyuresmi, Hotel Kamojang di Semarang dan Hotel Cilaut Eureun di Pamengpeuk. Semua hotel itu (termasuk hotel milik Holke van Garut), sayangnya telah hilang, rata dengan tanah atau berubah fungsi dan wujudnya.
Sempat juga kami menjalani jalur ”hanya” di sepanjang kaki Gunung Papandayan itu. Tanaman, tanah dan bebatuan di kaki gunung ini sebenarnya diharapkan untuk dipertahankan –beberapa tempat sempat dijadikan penggalian pasir– sebaiknya bisa dihentikan.


Situs Sejarah

Nama Garut sendiri mulanya cukup unik. Di awal tahun 1813, Bupati Limbangan, Adipati Adiwijaya, memerintahkan untuk mencari tempat yang cocok sebagai ibu kota kabupaten. Akhirnya, ditemukanlah sebuah tempat yang cocok, berupa tanah datar, subur, lengkap dengan mata air yang terus mengalir ke Sungai Cimanuk. Berkah alam ini ditambah pula dengan pemandangan yang indah dari gunung-gunung di sekitarnya, yaitu Cikuray, Papandayan, Guntur, Talaga Bodas dan Karacak. Konon, pada masa pemerintahan bupati itulah tempat ini mulai diberi sebutan ”Garut”.
Sejak awal abad ke-19, Garut memang heterogen dengan masyarakat yang berusaha di perkebunan, bahkan sebagai tempat wisata sejak masa kolonial Belanda. Usaha perkebunan yang terletak di sekitar Giriawas, Cisaruni, Cikajang, Papandayan, dan Darajat ketika itu telah dikelola oleh swasta Belanda. Baru pada tahun 1900-1928 diikuti dengan perkebunan karet, teh, kini di daerah Cilawu, Cisurupan, Pakenjeng, Cikajang, Cisompet, Cikelet dan Pameungpeuk.
Dulu, di Garut, ada juga situs candi bernama Candi Cangkuang (konon didirikan pada abad ke-7, pada masa peradaban Hindu-Jawa) yang sebenarnya sudah cukup tua – bahkan konon lebih tua dari candi Prambanan – yang kemudian sayangnya sempat dihancurkan saat sejarah pergolakan ideologi di tahun 1950-an. Sayang sekali, pandangan dan ideologi yang sempit telah menghancurkan tatanan dan peradaban budaya yang begitu dikenal di masa lampau.
Karena pesona itu, beberapa tokoh dunia termasuk Charlie Chaplin, Ratu Beatrix dan keluarga dari Ratu Wilhelmina pernah datang ke wilayah ini.
Sejarah hotel yang akhirnya dibumihanguskan sekitar tahun 1949 itu diinformasikan oleh Bupati Garut (ketika itu Momong Kertasasmita yang mengetahui dokumennya dari cucu Holke van Garut).
Tempat untuk wisata lainnya yang juga menarik dari Garut adalah Kawah Papandayan, Kawah Kamojang, Kawah Manuk, Kawah Talaga Bodas, Situ Cangkuang, pemandian air panas, Cipanas Bagendit, Gunung Cikuray, Gunung Guntur dan Pantai Pameungpeuk.

Sumber Alam
”Ikannya dapat, ikannya dapat,” suara seorang bocah terdengar histeris saat tali pancingnya ditarik oleh ikan dari air kolam dengan kandungan Manesium Sulfat, unsur yang menyegarkan otot lelah dan tegang. Si bocah tadi, ditemani kakaknya, adalah anak dari salah satu tamu yang datang menginap di ”Kampung Sumber Alam” nama areal hunian berupa bungalow dilengkapi dengan restoran, ruang rapat, kolam renang, juga spa yang terletak di wilayah Garut.
Kolam memang tak terpisahkan dari seluruh bungalow yang ada di resor ini. Rumah yang dibangun dan dirancang seperti rumah panggung namun terbuat dari tembok dengan kolam-kolam yang ada di bawahnya, membuat posisi rumah praktis memang berada tepat di tengah air.
”Tiap penghuni bisa memancing ikan yang ada di sini sepuasnya dan bisa meminta kepada kami untuk langsung menggorengnya. Hampir tiap minggu kami akan menambahkan ikan-ikan ini sehingga tak akan habis,” ujar Yudi Feriska yang menjadi juga menjabat sebagai Manajer Personalia.
Ikan-ikan yang berenang bisa dilihat dari beranda tiap bungalow yang ada. Selain ikan, kolam ditata dengan tanaman air dan teratai sehingga tetap asri. Airnya pun bukan air tawar biasa. Air yang berasal dari mata air Gunung Gede ini mengandung larutan belerang yang alami. Inilah yang justru menjadi daya tarik utama pada penginapan yang berada di wilayah Garut ini.
Potensi alami yang ada di lingkungan sekeliling yang asri dan sejuk ini dipertahankan. Bentuk bangunan diusahakan tidak direkayasa dan mengambil filosofi bangunan Sunda yang memang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu di Garut.
Kampung Sumber Alam, yang dimiliki oleh Rahmat Syukur Maskawan ini selain terdiri dari bungalow juga memiliki fasilitas lain seperti ruang rapat, restoran, kolam renang dan Spa. Kampung Sumber Alam, memiliki fasilitas 40 buah kamar dengan ruang pertemuan Inten Dewata dan Gambir Wangi, Restoran Tanjung Balebat, Kolam Renang air panas alam Tasikmadu, Warung Kopi dan Kamar Rendam Sipatahunan.
Konon, bila air panas semata memang harus dibatasi hingga 15 menit, maka air alam dari Cipanas ini tetap bisa berlama-lama. Karena kualitas air dari Cipanas mengandung sulfur, memang sangat baik untuk para pendatang.
Bangunan Kampung Sumber Alam memang menjadikan batang pohon kelapa sebagai tiang utama di setiap bangunan dengan unsur ijuk dan rumbia diharapkan dapat mengusir dingin buat penghuninya.
Berbagai wilayah dalam areal Kampung Sumber Alam ini pun menggunakan prinsip itu, antara lain: wilayah Tegal Pangulinan (tempat main anak-anak termasuk juga permainan tradisi ”anak kampung” antara lain bermain Gatrik, Nangkap Belut, Main Dampu dan permainan tradisi lainnya), Tepas Panampian, di mana ada lesung dan kentongan, pengairan dan jembatan bambu, juga Seke Jajar dan Balong Gede.
Di luar bungalow ini, yang akan didapat dari kekhasan makanan yang dihasilkan oleh penduduk Garut di masa sekarang adalah Dodol atau pun Jeruk Garut.
Sedangkan kerajinan tangan penduduknya termasuk Batik Garutan, Sutera Alam, AkarWangi, juga kerajinan kulit dengan bermacam pengolahan dengan harga yang memang tak seberapa mahal.
(Sinar Harapan/sihar ramses simatupang)

Peta Wisata Garut

ADA beberapa lokasi yang wajib Anda kunjungi ketika berkunjung ke Garut. Di kota Dodol ini ada beragam tempat wisata, mulai dari wisata alam seperti pegunungan dan danau, juga ada tempat wisata religius. Beberapa diantaranya:

Situ Bagendit
Danau terluas di Garut. Terletak di kecamatan Banyuresmi, 13 kilometer dari kpusat kota. Anda dapat mengelilingi Situ Bagendit yang terkenal dengan Leganda Nyi Endit ini dengan menggunakan rakit bambu.

Cipanas
Terletak di kaki Gunung Guntur, Cipanas merupakan objek wisata utama di Garut dengan pemandian air panas belerang paling bening di Indonesia. Terdapat berbagai fasilitas resort, restoran, dan kolam rendaman air panas alami.

Situ dan Candi Cangkuang
Peninggalan abad ke tujuh, terletak di tengah Situ Cangkuang bersebelahan dengan kampung Pulo, sebuah perkampungan tradisional dengan penduduk yang masih sangat memegang teguh adat istiadat.

Kawah Papandayan
Terletak di kecamatan Cisurupan, 29 kmilometer dari kota Garut. Memilki ketinggian 2.622 meter dengan kawah belerang, gunung salju, dan danau yang mempesona.

Wisata Ziarah
Terdapat dibeberapa wilayah seperti Makam Pangeran Papak di Desa Cinunuk-Wanaraja. Makam Syekh Ja’far Shidiq atau Sunan Haruman di wilayah Cibiuk, dan Makam Sunan Godong di Kampung Godong, Desa Lebak Agung, Karang Pawitaan.

Sumber www.mediatravelista.com

Gunung Cikuray

gunung-cikurayGunung Cikuray yang berlokasi di wilayah Garut Jawa Barat, dan merupakan Gunung Berapi yang sudah tidak aktif lagi, berada tak jauh dari Gunung Papandayan dan dapat terlihat jelas menjulang dari terminal Garut. Gunung Cikurai menyimpan pesona alam yang sangat luar biasa bersama dengan Gunung Papandayan, Gunung  Guntur dan Gunung Satria.

Untuk mendaki gunung ini kita terlebih dahulu harus mencapai sebuah desa yang dikenal dengan nama Cilawu. Dari terminal Guntur Garut kita dapat mencari angkot nomor 06 jurusan Garut-Cilawu dan turun sekitar Portal Perkebunan Teh DewuehManggun, selanjutnya kita dapat meneruskan perjalanan yang dapat kita tempuh baik dengan berjalan kaki atau dnegan menggunakan sarana ojek motor yang banyak tersedia, mengingat jarak antara portal tersebut dengan pintu hutan sekitar 7-10 Km, maka ada baiknya untuk menyimpan tenaga tak ada salahnya mengeluarkan tambahan ongkos. Pintu hutan yang dimaksud ditandai dengan sebuah pemancar televisi, yang sangat berguna bagi masyarakat garut menikmati hiburan layar kaca. Continue reading Gunung Cikuray

Menikmati Indah Pantai Santolo Garut

pantai-santolo-garutSiapa bilang Garut tidak memiiki objek wisata seindah Pulau Dewata? Bagi mereka yang pernah mengunjungi Pantai Santolo, Pemeungpeuk Garut Selatan, bisa jadi akan mengatakan Pantai Santolo lebih indah dari Pantai Kuta Bali.

Kesan itu muncul ketika orang mendongakkan kepala dari balik pohon-pohon bakau yang tumbuh di pinggir pantai menutupi pemandangan indahnya Pantai Sentolo. Dari jalan raya, orang tidak dapat menyaksikan pantai, karena tertutup oleh hutan bakau. Tetapi setelah menerobos masuk melewati hutan bakau yang tumbuh di sepanjang pantai itu, barulah orang melihat betapa Santolo, memang lebih indah dari Kuta Bali. Continue reading Menikmati Indah Pantai Santolo Garut

Situ Bagendit

Situ Bagendit
Situ Bagendit

Lingkungan Alam Fisik
Objek wisata Situ Bagendit terletak di desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi ini merupakan objek wisata alam berupa danau dengan batas administrasi disebelah utara berbatasan dengan Desa Banyuresmi, disebelah selatan berbatasan dengan Desa Cipicung, disebelah timur berbatasan dengan Desa Binakarya, dan disebelah barat berbatasan dengan Desa Sukamukti.

Aktivitas wisata yang dapat dilakukan di Situ Bagendit ini antara lain menikmati pemandangan, mengelilingi danau dengan menggunakan perahu atau rakit. Para pengunjung juga dapat melakukan kegiatan rekreasi keluarga, menikmati pemandangan serta kegiatan bersepeda air.

Objek wisata ini dikelola oleh Bapak Ajan Sobari dengan status kepemilikan berada di tangan pemerintah daerah yang Continue reading Situ Bagendit

Pantai Rancabuaya Kerap Dijadikan Penelitian Wisman

pantai-rancabuayaGARUT – Wisatawan asing (wisman), khususnya dari Australia, Inggris, Korea, Jepang dan China, kerap mengadakan penelitian di Pantai Rancabuaya, Garut, yang dipenuhi hamparan karang dan beragam jenis biota laut.

Anggota Kompepar (Kelompok Penggerak Pariwisata) sekaligus pemandu wisata setempat, Dadang Other(50) mengatakan di Garut, Senin (12/01) wisman tersebut umumnya melakukan pengamatan visual dari dekat keberagaman terumbu karang yang sebagian besar berlumut.

“Mereka sangat terkesan dengan banyaknya hamparan terumbu karang yang seluas lapangan sepak bola, yang menjorok ke lepas pantai laut lepas lengkap dengan warna-warni beragam jenis biota lautnya, termasuk ikan hias yang masih lestari,” katanya. Continue reading Pantai Rancabuaya Kerap Dijadikan Penelitian Wisman

Bertualang ke Garut Selatan

Berlibur ke pantai, melihat gua, menyusuri pegunungan, bukit, dan perkebunan teh, jelas merupakan paket wisata yang lengkap. Apalagi jika kombinasi keindahan pemandangan tersebut bisa diperoleh hanya dalam satu kali perjalanan.

pantai-ranca-buayaKeuntungan ganda tersebut bisa diperoleh jika berwisata ke Garut Selatan dengan tujuan wisata Pantai Ranca Buaya. Atau jika Anda cukup bernyali melakukan perjalanan menyusuri Pantai Ranca Buaya dan tembus ke Pameungpeuk yang membutuhkan kesabaran dan kebesaran hati karena belum ada jalur jalan permanen, bahkan kondisi jalan cenderung ekstrem. Continue reading Bertualang ke Garut Selatan