Tag Archives: goa

Wisata Gua Salukangkallang yang Menantang

MENELUSURI gua terpanjang di Indonesia bisa menjadi rekreasi alternatif bagi pecinta tantangan. Gua itu adalah Salukangkallang yang panjangnya mencapai 27 Kilometer.

Gua yang terletak di Kawasan Desa Wisata Samangki, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan itu kini menjadi tempat pendidikan dan pelatihan penelusuran gua (caving).

Kabupaten Maros terkenal dengan keindahan gunung kars dan barisan tebing sehingga dijuluki The Spectacular Tower Karst.

Pintu masuk gua berada di Desa Labuaja yang merupakan desa tetangga Samangki. Untuk memasuki mulut gua, Anda harus menuruni tebing berketinggian sekitar 5 Meter dengan menggunakan perlengkapan caving.

Saat menjelajahi gua, Anda akan mendapati tantangan yang lebih besar. Berhati-hatilah dengan kepala Anda karena saat berada di dalam gua tak jarang banyak yang terbentur. Namun, perjuangan Anda akan terbayar dengan keindahan bawah tanah gua yang dihiasi dengan stalaktit dan stalakmit di sepanjang gua.

Bebatuan kapur yang menghiasi dinding gua akan nampak bercahaya, bening dan mengkilap layaknya berlian jika disinari cahaya senter. Dibalik kesunyiannya ternyata gua memiliki keindahan yang mengagumkan.

Di dalam gua juga terdapat sungai yang pada bagian pinggirnya dijadikan sebagai tempat istirahat pengunjung. (desawisatasamangki.com/*/OL-14)

Gua Rancang Kencono, Tempat Persembunyian Pejuang

GUA Rancang Kencono menjadi saksi bisu atas masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Gua merupakan gua purba karena di dalamnya ditemukan artefak dan tulang belulang berumur ribuan tahun. Terletak di Desa Wisata Bleberan, Yogyakarta.

Tak perlu perlengkapan khusus untuk menyusuri gua. Untuk memasukinya, pengunjung hanya cukup menuruni tangga batu yang sudah dibangun sejak dulu. Sebatang pohon klumpit berdiri tegak menutupi atas gua seakan menjadi pelindung.

Dulu gua sempat dijadikan sebagai lokasi persembunyian dan pertemuan Laskar Mataram saat menyusun rencana pengusiran Belanda dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Fungsi gua sebagai tempat perancangan strategi kemerdekaan menjadi alasan mengapa gua diberi nama Gua Rancang Kencono.

Langit-langit gua banyak dihiasi stalaktit. Banyak di antaranya sudah mati sehingga tak nampak air yang menetes. Tepat di sebelah ruang pertemuan, ada ruang kecil yang sempit dan gelap. Di dalamnya terdapat lukisan bendera merah putih serta kata-kata penyemangat untuk para pejuang.

Ada pula sebuah lorong yang menghubungkan Gua Rancang Kencono dengan obyek wisata Air Terjun Sri Gethuk. Namun sayangnya sebagian lorong telah runtuh sehingga tak bisa ditelusuri.

Wisata Gua Rancang Kencono dikelola sepenuhnya oleh masyarakat Desa Wisata Bleberan. Harga tiket masuk seharga Rp 3.000 dan sudah termasuk tiket masuk ke Air Terjun Sri Gethuk. (yogyes.com/*/X-13)

Suran, Tempat Semedi Kyai Ageng Gribig di Klaten

BUKAN cuma candi yang tersebar di Klaten. Di Kalurahan Jatinom, Kecamatan Jatinom pun terdapat tempat sujud dan semedi Kyai Ageng Gribig sebelum ada masjid, yakni Gua Suran.

Gua berbentuk huruf L ini memiliki kedalaman sekitar 4 m dan di sampingnya adalah tempat wudlu yang dipakai oleh Kyai Ageng Gribig. Uniknya lagi, setiap bulan Syapar lokasi ini malah dijadikan penyebaran ku-kue apem

Tempat lainnya yang menarik adalah Sendang Plampeyan dan Taman Rekreasi untuk anak, di selatan makam Kyai Ageng Gribig.

Bagi anak-anak muda, biasanya lebih memilih Gua Belan, terowongan yang memiliki kedalaman sekitar 8 m di dekat Gua Suran. (wisatanesia.com/*/X-13)

Pesona Goa Akbar di Kota Wali

KOTA Tuban, Jawa Timur tidak hanya tersohor karena minuman segarnya ‘legen’ yang diteres dari daun aren atau pegunungan kapurnya untuk dimanfaatkan industri pembuatan semen.

Tuban kini mendapat julukan kota seribu gua. Titel itu diberikan karena sejatinya di kabupaten ini terdapat sedikitnya seribu goa. Salah satunya Goa Akbar yang telah ditawarkan sebagai salah satu lokasi wisata unggulan sejak 1996 lalu. Berwisata dengan mengunjungi goa mungkin sudah tidak asing bagi Anda yang memiliki hobi traveling. Namun Goa Akbar, yang lokasinya persis di bawah kota, berbeda dengan lazimnya goa lainnya.

Kebanyakan orang mungkin mengira, tempat wisata yang berupa goa selalu identik dan berdekatan dengan hutan belantara atau pegunungan. Dan inilah, salah satu keunikan goa yang memiliki luas sekitar 0,5 hektare yang berada di Dukuh Ngabar, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Tuban Kota.

Goa yang memiliki nama asli Goa Ngabar ini diambil dari nama pedukuhan setempat. Selain itu, dahulu di sekitar goa banyak tumbuh pohon ngabar–sejenis pohon beringin yang memiliki batang kulit berwarna putih dan memiliki ranting menjulur ke bawah.

Untuk kelestariannya, di lokasi ini juga masih dirawat sebatang pohon ngabar sebagai simbolnya. Pemberian nama Akbar pada gua juga dikarenakan ruangan gua yang sangat luas dan besar. Selain itu, nama Akbar juga merupakan akronim dari Aman, Kreatif, Bersih, Asri, dan Rapi– yang tak lain adalah slogan dari Bumi Ronggolawe ini.

Ruangan dalam goa ini saling terhubung dan banyak memiliki keunikan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Misalnya, goa yang terletak persisnya di bawah pasar induk tradisional setempat masih tampak alami.

Terhubung pantai
Sejatinya, goa yang memiliki lorong sepanjang 1,2 kilometer ini adalah bagian atas saja. Sementara, pada bagian bawahnya juga terdapat ruangan yang tidak kalah luas. Sejumlah lorong yang ada di dasar goa ada diantaranya yang mengarah ke utara dan terhubung hingga pantai pesisir utara. Jaraknya sekitar 2 kilometer di pesisir pantai.

Sedangkan untuk lorong yang mengarah ke timur juga tersambung dengan Goa Ngerong– sebuah obyek wisata goa lainnya yang terletak di bagian selatan Kota Tuban persisnya di pinggir Anak Sungai Bengawan Solo. Padahal, jarak antara Goa Ngerong dengan Goa Akbar tidak kurang dari 27 kilometer.

Untuk lorong yang mengarah ke barat terhubung dengan sungai bawah tanah Srunggo yang letaknya di wilayah Kecamatan Merakurak. Namun, lorong yang menuju ke bagian bawah ini sengaja dirahasiakan dan tidak dibuka untuk umum.

Sisi religius
Masyarakat Tuban percaya keberadaan Goa Akbar tersebut memiliki keterkaitan historis dengan sejarah perjuangan Wali Songo (Wali Sembilan), penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Dikisahkan, saat itu Sunan Bonang melihat goa ini waktu diajak oleh Sunan Kalijogo (Raden Mas Sahid), seorang putra Bupati Tuban kala itu. Sehingga, beberapa tempat di goa ini oleh sejumlah kalangan dipercaya sebagai tempat Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang pernah bertapa. Misalnya, ceruk yang diberi nama Pasepen Koro Sinandhi yaitu, tempat pintu yang dirahasiakan.

Ceruk ini sangat kecil pintunya dan untuk masuk ke dalamnya, orang harus merangkak atau membungkuk. Warga sekitar percaya prosesi membungkuk ini memiliki makna filosofis yang tinggi yakni, pengunjung diingatkan bahwa dihadapan Tuhan semua harus bersikap diri.

Pada sisi lain, dalam gua terdapat sebuah ruangan yang bisa digunakan untuk melaksanakan ibadah salat dan oleh Pemkab Tuban telah ditata sedemikian rupa seperti musola plus dengan tempat wudhunya.

Pada ruangan lainnya yang cukup luas juga diberi nama Paseban Wali. Lokasi ini, juga dipercaya sempat digunakan oleh para Wali Songo untuk berkumpul dan menyampaikan ajaran agama Islam. Apalagi, letak ruangan ini juga mirip dengan ruang pertemuan yang bagian atapnya terdapat lubang-lubang udara hingga cahaya matahari masuk ke dalam dengan jelas.

Adapun stalaktit dan stalagmit juga seakan menjadi hiasan ruangan pertemuan dengan adanya batu-batu besar yang terletak di bagian depan ruang, yang seolah menjadi podium bagi pembicara. Dan pada salah satu ruangan, juga terdapat bongkahan batu yang dikelilingi pagar tembok bertuliskan Perapian Empu Supa.

Paska resmi dibuka oleh Bupati Tuban Hindarto pada 1996 lalu, setiap ruangan dalam goa yang dihubungkan dengan lorong-lorong ini diberi pegangan tangan dari pipa besi. Kini, dalam perkembangannya, pipa pengangan itu telah di ganti stainlis.

Pada lorong-lorongnya yang gelap dipasangi lampu aneka warna hingga suasana menjadi nyaman. Gelapnya, lampu yang ada dalam gua ini disebabkan karena sebagian penerangan tidak terawat. Di tempat ini pengungjung dianjurkan tidak merokok, berkata-kata, dan berbuat tidak sopan. Pagar pembatas juga sengaja dibuat agar pengunjung tidak sampai mengeksplorasi tanpa arah saat berada di dalam goa.

Umumnya, pada wisatawan domestik yang berkungjung di goa ini adalah rangkaian paket wisata religi Sembilan Wali. Karena, memang di Kabupaten Tuban ini merupakan wilayah lintasan strategis yang terdapat makam salah satu Wali Sembilan yakni, Sunan Bonang letak persisnya, berada di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban Kota dan bersebelahan dengan pendopo kabupaten serta alun-alun kota.(M-1)

Menelusuri Gua Alami di Pulau Bui

MAU ke Karangbolong? Biaya sewa perahunya murah, hanya Rp15 ribu pulang balik. Nanti kalau sudah puas jalan-jalan, tinggal telepon saja,” kata Narno, 48, tukang perahu di Teluk Penyu, Cilacap.

Karangbolong ialah pantai, sama seperti Teluk Penyu. Hanya saja pantai ini berada di sisi timur Pulau Nusakambangan. Untuk mencapai tempat itu kita harus menumpang perahu kecil menyusuri Segara Anakan.

Perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit. Begitu sampai ke pantai di Pulau Nusakambangan itu, suasana dan kondisi berbeda. Di tempat itu, pantainya berpasir putih, berbeda dengan pesisir Cilacap yang tertutup pasir hitam.

Selepas pantai, perjalanan melewati hutan belantara. Hanya jalan setapak dari tanah yang ada di kawasan Nusakambangan timur ini. Dan, sekitar Sekitar 1 kilometer dari pantai membentang gua-gua yang masih alami dan disebut Eyang Wiryalodra. Stalagtit maupun stalagmitnya menakjubkan. Hanya saja gua tersebut hanya sedalam lima meter saja.

Juru kunci gua di Nusakambangan Timur, Mardiyono, mengatakan di kawasan pantai timur Nusakambangan sesungguhnya ada dua gua, selain Eyang Wiryalodra ada pula Eyang Nagaraja. “Kedua gua ini bisanya dipakai untuk menyepi. Banyak yang datang ke sini untuk mengajukaan permohonan macam-macam,” ujarnya.

Selama ini, kedua gua dibiarkan apa adanya. Bahkan, ada dindingnya yang ambrol. “Belum ada yang menyentuhnya untuk objek wisata komersial. Paling-paling yang datang ke sini hanya peziarah saja,” ungkap Mardiyono yang sejak kecil bermukim di Nusakambangan.

Adapun gua-gua kecil juga menyebar dalam kawasan ini misalnya Gua Singabarong, Gua Kepatihan, dan lainnya. Bahkan di Pulau Majeti, pulau kecil di seberang Nusakambangan ada juga gua yang menarik karena menjadi tempat tumbuh bunga Wijaya Kusuma dan biasa digunakan sebagai ritual larungan saat Sedekah Laut nelayan Cilacap.

“Setiap gua di Nusakambangan mempunyai makna masing-masing sesuai dengan karakternya. Semuanya juga memiliki sejarah sendiri,” imbuh dia.

Pada umumnya gua di Nusakambangan banyak dipakai untuk kegiatan menyepi dibandingkan sebagai tempat wisata.

Gua di barat
Sementara pada bagian barat pulau bui ada juga potensi gua alami. Salah satu yang terkenal adalah Gua Masigitsela. Dari cerita-cerita masyarakat yang berkembang dan kemudian direkam oleh Dinas Pariwisata Cilacap menyebutkan, Gua Masigitsela dulunya dipakai Sunan Kalijaga sebagai tempat ibadah. Disebutkan juga Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono pernah ibadah ke gua tersebut.

Selain stalagtit dan stalagmit yang menjulang, di dalam gua terdapat mata air yang kemudian digunakan untuk membersihkan diri atau mengambil air sembahyang.

Untuk sampai ke Gua Masigitsela butuh waktu yang lebih lama lagi karena jalur yang harus ditempuh yaitu ber perahu dua jam dari Cilacap. Setelah sampai ke Desa Klaces, Kecamatan Kampung Laut, masih harus berjalan kaki lagi melewati setapak sekitar setengah jam. “Umumnya yang datang hanya peziarah yang berdoa memohon sesuatu,” kata Agus, 37, warga Desa Klaces.

Masih di sekitar Nusakambangan barat, ada juga Gua Bendung. Gua tersebut, berdasarkan penuturan warga dan juga disebutkan oleh Dinas Pariwisata Cilacap, pernah digunakan untuk ibadah umat Nasrani pada abad ke-16 ketika Belanda menguasai Indonesia.

Kini, gua yang memiliki lorong 150 meter dan lebar 10 meter tersebut dikenal sebagai Gua Maria. Disebut Gua Maria karena di dalamnya ada altar tempat berkhotbah dan stalagtit yang bentuknya seperti Bunda Maria. Biasanya yang datang adalah para peziarah umat Katolik dan gua ramai pada waktu menjelang Paskah.

Sebetulnya masih banyak gua-gua lainnya yang ada di Pulau Nusakambangan, namun sejauh ini tidak ada satupun yang digarap secara komersial. Sebab, Pulau Nusakambangan telah diputuskan sebagai pulau tertutup. (N-4)

Ayo Mengitari Gua Maharani

SAAT sedang di Lamongan, Jawa Timur, jangan lupa mengajak anak Anda mengunjungi tempat wisata Maharani Zoo & Goa Maharani. Keduanya berada dalam satu kawasan sehingga hanya cukup membeli satu tiket untuk menikmati aneka satwa yang unik serta pemandangan bebatuan indah dalam Gua Maharani.

Beraneka binatang dari berbagai penjuru dunia bisa dijumpai di area Maharani Zoo. Sedangkan Gua Maharani menampilkam bentuk stalagtit dan stalagmit yang sangat unik, mulai daribentuk yang menyerupai singgasana raja hingga mirip flora/fauna.

Gua juga dilengkapi dengan pencahayaan yang beraneka warna sehingga menonjolkan keindahan masing-masing bentuk batuan di dalamnya. Stalaktit dan stalagmit dalam gua bisa memancarkan cahaya warna-warni jika tersorot cahaya.

Saat keluar pintu gua terdapat Museum Batu (Gem Stone Gallery) dengan koleksi batu-batu eksotis zaman purba dari beragam belahan dunia dengan desain menarik. Yang menjadi daya tarik utama adalah Batu Mutiara yang dilengkapi dengan kaca pembesar sehingga detail keindahan dalam batu bisa terlihat jelas

Gua Maharani dilengkapi dengan tangga dan jalan setapak untuk mempermudah pengunjung berkeliling gua mengikuti jalur yang tersedia. Waktu yang dibutuhkan mengitari gua adalah sekitar setengah jam.

Pengunjung tak mungkin kehabisan oksigen saat berada dalam gua karena pada bagian atas gua terdapat jalan angin berupa blower kipas angin yang mampu menembus batu setebal lima meter. (liburananak.com/*/X-13)

7 Tempat Wisata Andalan Kendal

DARI sekian banyak tempat wisata di Indonesia, tujuh di antaranya ada di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Mulai dari pantai, air tejun, goa hingga wisata buatan bisa Anda kunjungi satu persatu. Seperti apa tempatnya ? Yuk kita mulai perjalanannya.

1. Air Terjun Curug Sewu

Tempat pertama yang harus Anda kunjungi adalah Air Terjun Curug Sewu. Air terjun ini memiliki 3 air tejun yang masing-masing tingginya adalah 45 meter, 15 meter dan 20 meter.

Di sekitarnya juga ada taman rekreasi, kebun binatang, panggung hiburan, kereta mini, jet coaster dan kolam renang. Air Terjun Curug Sewu terletak di Desa Curug Sewu, Kecamatan Patean, berjarak 40 km dari kota Kendal lewat Weleri atau Sukorejo.

2. Pantai Sendang Sikucing

Pantai Sendang Sikucing adalah tempat yang paling tepat untuk menyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Di pantai indah Kecamatan Rowosari ini telah ada rumah makan terapung, panggung terbuka, perahu tradisional dan becak air.

3. Pemandian Air Panas Gonoharjo

Objek wisata yang satu ini bisa Anda temukan di lereng Gunung Ungaran, sekitar 40 km dari kota Kendal, lewat kota Kaliwungu. Di sini ada beberapa sumber air panas yang memiliki latar belakang alam yang indah.

Berbagai fasilitas pun kini mulai dikembangkan. Kolam renang, kafetaria, taman bermain dan tempat air panas berbelerang adalah bagian dari Pemandian Air Panas Gonoharjo.

4. Goa Kiskendo

Sebelum masuk ke mulut goa yang curam, Anda akan menyusuri jalan berbatu. Di dalamnya terdapat goa-goa kecil seperti Goa Lawang, Goa Pertapaan, Goa Tulangan, Goa Kempul dan Goa Kampret. Untuk cekungan anak sungai dikenal dengan nama Kedung Jagan.

Goa Kiskendo terletak di Desa Trayu, Kecamatan Singorojo, 15 km ke arah selatan dari kota Kendal lewat kota Kaliwungu.

5. Pantai Jomblom

Tidak sulit menemukan tempat wisata di Kecamatan Cepiring ini. Ada banyak transportasi umum yang menuju ke Pantai Jomblom dan juga bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi sekitar 10 km dari Kota Kendal.

6. Perkebunan The Medini

Letaknya tidak jauh dari pemandian air panas Gonoharjo Limbangan dan perkebunan karet Merbuh, Getas Kecil di Kecamatan Singorojo atau perkebunan kopi Sukomangli Kecamatan Patean.

Tempat-tempat ini sering dikunjungi wisatawan mancanegara asal Jepang dan Belanda untuk bernostalgia. Areal perkebunan di Merbuh juga terdapat kawasan bumi perkemahan yang selalu ramai pada waktu liburan sekolah.

7. Wisata Buatan

Ada tiga lokasi wisaata Buatan di Kendal. Kolam Renang Tirto Arum di Jalan Soekarno Hatta, Kampung Jowo Sekatul Limbangan di Desa dan Argo Wisata Ngebruk di Desa Sidokumpul. (kendalkab.go.id/*/X-13)

Uji Adrenalin di Gua Buniayu

visitsukabumi.com

INGIN mencari objek wisata yang menantang? Menelusuri gua bisa menjadi pilihan menarik. Anda bisa mencoba menaklukkan salah satu gua yang cukup terkenal di Sukabumi, yakni Gua Buniayu.

Saat memasuki gua Anda akan menemukan pemandangan beraneka ragam ornamen gua yang menakjubkan, serta beragam jenis hewan unik seperti kalelawar dari ukuran terkecil hingga yang terbesar.

Bagi pengunjung yang tak memiliki kelengkapan alat untuk menelusuri gua, tersedia jasa penyewaan alat di sana. Untuk pengunjung yang berjiwa petualang dan ingin menguji adrenalin, terdapat jalur khusus yang hanya bisa dilalui menggunakan tali. Tak perlu khawatir karena Anda akan didampingi oleh guide handal.

Gua Buniayu berada dalam pengawasan Perhutani sehingga menjadi wisata gua yang dikelola secara professional. Keberadaan gua cukup mudah untuk digapai dan tersedia akomodasi yang nyaman. Gua terletak di Desa Kertanagsana Kecamatan Nyalindung di ketinggian sekitar 800m.

Disekitar gua terdapat satu rumah penduduk yang menyediakan dua buah kamar untuk disewakan. Terdapat pula satu tempat tidur di luar kamar yang mampu menampung 7-10 orang. Bagi Anda yang ingin menginap di hotel bisa mencari di sekitar Kota Sukabumi yang berjarak 45 menit menggunakan mobil. (visitsukabumi.com/*/X-13)

Eksotisme Menjelajahi Goa Bawah Tanah

Bosan dengan paket wisata yang monoton? Sekarang di DIY sedang menjamur wisata alternatif berupa petualangan alam yang bisa menjadi ajang relaksasi. Sebut saja, misalnya, goa Cerme yang terletak kawasan tandus berkapur Gunungkidul tersimpan pesona keindahan alam yang menggoda untuk dinimati.

Dibandingkan goa-goa wisata yang ada dipulau Jawa, keaslian atau kealamian goa cerme masih terjaga secara utuh, hal ini ditandai dengan tidak diperkenankanya alat penerangan listrik didalam goa. Pada sisi lain juga tidak ditemukannya berupa bangunan buatan manusia seperti jembatan didalam goa untuk sarana penyeberangan dalam susur goa ini.

Bagi para pengujung yang ingin melihat deretan stalagtit yang menakjubkan, dapat menggunakan alat bantu dari senter yang selalu disediakan para guide sebagai alat penerangan. Para guide yang kebanyakan dari penduduk sekitar dengan penuh kesabaran akan menuntun dan mengantarkan pengunjung, untuk melihat pesona alam yang terletak diatas bukit dan didalamnya terdapat air jernih yang mengalir dengan tenang.

Ya, aliran sungai di dalam gua bawah tanah layak dijadikan potensi wisata andalan bagi kabupaten di ujung timur DIY ini. Eksploitasi wahana baru rekreasi petualangan ini terus digenjot. Pada 2012 mendatang, pemkab sudah bersiap-siap mengarahkan wisatawan untuk mencoba petualangan memacu adrenalin ini dengan konsep family leasure.

Beberapa kawasan yang layak menjadi bidikan wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara dalam menikmati cave tubingatau susur gua bawah tanah adalah Kali Suci serta Gua Pindul.Di objek wisata ini.Wisatawan disuguhkan dengan sebuah petualangan mendebarkan.

Seperti di Gua Pindul, begitu memasuki mulut gua wisatawan harus naik ban pelampung. Sambil berbasah-basahan menaiki ban pelampung,turis bisa melihat pemandangan yang menakjubkan berupa stalagtit dan stalagmit.

”Konsep ini memang baru kita garap mulai tahun ini.Ini murni untuk pemberdayaan masyarakat,” terang Kepala Bidang Pemasaran dan Promosi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul Supriyadi.

Selama menyusuri gua sepanjang sekitar 300 meter ini,wisatawan akan merasakan sensasi memacu adrenalin yakni berada di perut bumi selama hampir 45 menit. Jika belum puas,maka cave tubing bisa dilanjukan ke Sungai Oya yang lokasinya tak terlalu jauh.

”Untuk pemula biasanya hanya masuk lewat gua dan bagi mereka yang menginginkan tantangan lagi maka jalur Sungai Oya bisa dicoba,” tambahnya.

Untuk bisa melakukan petualangan ringan di Goa yang terletak di Dusun Gelaran II,Desa Bejiharjo, Karangmojo ini,pengunjung hanya dikenakan biaya mulai Rp30.000 hingga Rp45.000. Pengelola Gua Pindul Haris Purnawan mengungkapkan, sejak mulai dibuka di awal tahun lalu, jumlah wisatawan yang masuk mencapai 100 orang setiap bulannya.

Bahkan akhir-kahir ini turis asing berdatangan untuk mencoba tantangan alur sungai bawah tanah di dalam gua.

”Tahun depan kita juga menyiapkan sebuah tambahan arena berupa flying fox,” ungkapnya. Potensi wisata petualangan di Gunungkidul kini menjadi titik balik pengembangan wisata alternatif.cholis

Sumber: lensaindonesia.com

Petualangan di Luweng-Luweng Pacitan

Berwisata minat khusus menelusuri goa. Petualangan spektakuler di perut bumi Pacitan merupakan sebuah anugerah. Menggantung seorang diri pada seutas tali.

Memperhatikan sekeliling yang penuh misteri. Luweng Ombo menganga begitu lebar pada bukit kerontang Desa Klepu, kabupaten Donorojo, Pacitan, Jawa Timur. Diameter mulut goa ini lebih dari 50 meter, tampak sunyi, sayup-sayup angin berdesing seiring gerak pacu adrenalin menuruni sumur raksasa. Sungguh mendebarkan.

Mencapai kedalaman goa 107 meter di bawah permukaan bumi, ketegangan sedikit mereda seraya melepaskan segala bahaya di tantangan pertama. Sebenarnya kondisi ini sudah diperhitungkan jauh hari sebelum kami melakukan penelusuran Goa Luweng Ombo. Tapi di lapangan tentu berbeda dari perkiraan. Alam tidak dapat di prediksi seratus persen. Tapi justru disitulah kenikmatan berwisata petualangan.

Cave tourism, atau wisata minat khusus penelusuran goa sungguh kegiatan yang mengasikan dan unik, kendati tidak semua orang bisa melakukannya. Kebanyakan orang takut memasuki goa karena kegelapan abadi dan resiko yang tinggi di dalamnya, belum lagi harus belajar menguasai peralatan dan mematuhi prosedur keamanan yang memakan waktu berbulan-bulan. Namun, tidak sedikit juga orang yang menjadikan goa sebagai tempat wisata.

Untuk bisa menelusuri goa-goa alam dengan kesulitan tinggi, tentunya diperlukan ketrampilan khusus, serta wajib mempersiapkan mental dan fisik sebelum kegiatan berlangsung. Khususnya untuk goa-goa vertikal dengan kedalaman tertentu, peralatan penunjang seperti tali, carabiner, descender, ascender dan sebagainya wajib menyertai dalam setiap penelusuran.

Pada wisata petualangan, goa seperti halnya gunung, pantai, dan objek wisata lainnya. Ada lansekap yang indah di dalamnya. Bagi para penelusur (caver) ornamen batuan yang terbentuk selama ribuan tahun merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan. Dibutuhkan persiapan yang matang untuk menyaksikan keindahan alam di dasar bumi ini. Terlebih Goa Luweng Ombo, berhari-hari waktu penelusuran seolah belum cukup untuk menjelajahi lorong-lorongnya. Sementara fisik dan perbekalan tidak sanggup menandingi kemegahan bawah tanah Pacitan ini.

Menurut catatan tim-tim ekspedisi dan para petualang sebelumnya, belum pernah ada tim manapun yang berhasil menelusuri goa ini secara keseluruhan. Pada 1981, almarhum Norman Edwin menjadi orang pertama menembus Luweng Ombo. Cahaya yang dibawanya, menerangi hampir semua lorong goa ini. Namun, sampai sekarang Luweng Ombo seolah tak berujung. Tidak terkecuali bagi wisatawan luar negri atau caver asing yang jam terbang penelusurannya jauh di atas caver-caver lokal.

Inilah kemegahan perut bumi Pacitan. Daerah tempat kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini memang terkenal akan wisata goanya. Sehingga Pacitan mendapatjulukan kota 1001 goa. Menurut peneliti dan pemerhati lingkungan kars, Hanang Samodra, sistem pergoaan terpanjang dan terdalam di Pulau Jawa teridentifikasi di daerah Pacitan. Luweng Ombo tercatat sebagai goa tegak paling dalam. Kedalamannya mencapai 125 meter, sedangkan panjang total sistem lorong luweng diperkirakan lebih dari 25 kilometer meski belum ada penelusur yang berhasil memetakan seluruh lorongnya.

Berbeda dengan Luweng Ombo, goa terbesar lainnya di bumi Pacitan adalah Luweng Jaran. Pintu goa hanya berupa lubang (luweng), yang seolah tanpa dasar, hanya terbuka selebar 3×5 meter. Lokasi persisnya berada di perbukitan Desa Jlumbang, 20 km dari Kota Pacitan, ke arah Barat. Sayangnya, goa yang sangat menantang ini justru diperawani bukan oleh penjelajah negeri sendiri, tapi tim ekspedisi dari Australia, sekitar 1987.

Terungkaplah hal yang menakjubkan: panjang goa itu mencapai 30 km. Untuk turun ke dalamnya tidak sedalam Luweng Ombo. Dari mulut hingga ke dasar goa hanya sepanjang 35 meter. Para penelusur akan disuguhi ruang (camber) seluas 3 hektare, dengan hunian gemericik air dan kilau batu stalaktit dan stalakmit.

Jika angin berhenti berembus, suara titik air itu terkesan begitu ritmis, seolah memancarkan tenaga magis yang memancing tangis. Keindahan yang mengiris kalbu. Kagum, tegang, takut, dan segala emosi yang mengerdilkan seolah menjadi satu. Mengagungkan kemegahan ciptaan-Nya.

Di antara luas camber itu bertebaran lorong-lorong kecil yang belum terjamah, sempit, licin, lembab, dan basah. Pada bagian tengah camber tetesan air tertahan, dan mengumpul menjadi semacam telaga kecil, bening sehingga dasarnya terlihat jelas. Kami meminumnya langsung dengan telapak tangan, airnya tidak terlalu dingin dan tidak hangat, iniah sumber mata air alami yang seutuhnya masih terjaga.

Menurut kabar, tim ekspedisi Australia itu pernah menelusuri lorong utama, dan berjalan terus ke arah Barat, lalu, mereka menarik garis lurus berdasarkan jarak tempuh, goa itu terus memanjang, berada di bawah kota kecamatan Donorojo, hampir berbatasan dengan Jawa Tengah. Luar biasa, bukan?

Masih banyak luweng-luweng lainnya di Pacitan yang menunggu untuk ditelusuri. Pemda setempat telah menjadikan goa sebagai komoditi utama jualan pariwisata mereka.

Bagi Anda yang ingin mencoba kegiatan minat khusus ini, dan Anda pemula, mulailah dari goa-goa yang medannya relatif mudah. Asah ketrampilan penelusuran dan perbanyak jam terbang sebelum memasuki lorong-lorong asing yang penuh tantangan di Luweng Ombo dan Luweng Jaran. Ini merupakan kegiatan wisata yang relatif “mahal”, karena nyawa bisa jadi taruhannya jika tak bersiap lebih baik.

Gong dan Tabuhan

Sebagai kota geowisata goa, Pacitan juga telah mengelola goa-goa yang bisa ditelusuri oleh semua kalangan, termasuk keluarga. Diantaranya yang terkenal dan menjadi kunjungan utama para wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara adalah Goa Tabuhan dan Goa Gong.

Kedua goa ini merupakan goa horizontal sehingga medannya tidak terlalu berat. Apalagi pemerintah setempat telah melengkapi anak tangga untuk lebih memudahkan wisatawan menikmati ornamen goa dan kelembabannya.

Goa Gong dengan panjang lorong sekitar 256 meter ini merupakan goa yang memiliki ornamen terindah di Asia Tenggara. Batuannya mengandung material yang berkerlap-kerlip jika terkena cahaya sehingga begitu menarik. Penamaan Goa Gong karena sering terdengar bunyi-bunyian menyerupai suara gong yang ditabuh.

Untuk menuju goa yang terletak di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur ini sudah merupakan petualangan tersendiri bagi wisatawan. Meski menggunakan kendaraan, medannya cukup menantang.

Goa ini memiliki lima sendang dan beberapa ruangan. Salah satu ruangan yang agak besar pernah menjadi tempat konser empat negara antara lain; Indonesia, Swiss, Inggris, dan Perancis dalam rangka promosi keunikan goa ini.

Sementara untuk Goa Tabuhan yang terletak di Dukuh Tabuhan, Desa Wareng, Kecamatan Punung kawasan perbukitan gamping gunung seribu, panjang lorongnya mencapai 300 meter. Untuk menuju goa ini tidak terlalu sulit, sangat mudah di jangkau dari Kota Pacitan.

Namun, kebanyakan wisatawan yang datang lebih memilih menginap di Yogyakarta. Selain jarak Yogya-Pacitan berdekatan, banyak destinasi lain dan penginapan untuk wisatawan di Kota Pelajar ini. Dan biasanya Pacitan hanya menjadi tujuan kedua liburan setelah Yogya.

Sebelum menjadi Goa Tabuhan, semula goa ini bernama Tapan yang berarti tempat bertapa para pengawal Pangeran Diponegoro, sekaligus menjadi tempat persembunyian mereka dari kejaran kolonial Belanda. Namanya berganti menjadi Tabuhan karena ornamen stalagmit dan stalagtitnya dapat mengeluarkan bunyi-bunyian ritmis dengan nada pentatonik, seperti halnya gamelan jika ditabuh (dipukul). Hal inilah yang menjadi keistimewaan goa.

Jika beruntung ada acara atau pagelaran, wisatawan dapat menikmati suguhan musik gamelan di dalam goa lengkap dengan sindennya. Banyak hal menarik yang dapat kita temukan dengan berwisata di goa. Dari mulai kebutuhan penelitian, olahraga ekstrim, belajar sejarah, sampai cerita rakyat dan kemanusiaan. Asalkan goa-goa tersebut dikelola dengan baik dan benar tanpa mengabaikan kelestarian alam.

Sumber: Majalah Travel Club