Tag Archives: gunung

Bebatuan Unik di Gunung Api Purba, Yogyakarta

Gunung Api PurbaAda suatu objek wisata menarik di Gunungkidul, DI Yogyakarta. Di sana terdapat Gunung Nglanggeran atau yang biasa disebut Gunung Api Purba. Bebatuan di sana sungguh unik, ukurannya yang beragam seolah membawa Anda ke zaman purba!

Kawasan ekowisata Gunung Api Purba yang terletak di Daerah Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul ini memang sangat menantang untung dikunjungi. Udara yang masih sangat sejuk, menambah semangat untuk menjelajahinya.

Perjalanan saya kali ini ke Gunung Api Purba berawal dari rasa penasaran, karena namanya yang cukup unik dan menarik. Saya pun mencoba untuk mencari lokasi dan akhirnya sampai juga di sana.

Kesan pertama kali ketika sampai di sana adalah keren banget! Bebatuan yang tersusun dan membentuk seperti gunung tampak mengagumkan. Saya juga menemukan banyak bentuk batu-batu unik dengan ukuran yang sangat besar. Warna-warna batu yang bervariasi juga membuat saya tidak berhenti untuk mencari hal-hal unik lainnya yang berada di sana.

Semangat yang mengalahkan rasa lelah membuat saya terus berjalan mendaki dan menyusuri pepohonan dan bebatuan. Ada banyak hal yang menarik ketika saya mulai menyusuri tempat ini, melewati jalan sempit dan menanjak yang cukup sulit di lewati. Namun tidak usah khawatir, karena di sana telah di sediakan tangga kecil untuk membantu perjalanan menjadi lebih mudah.

Setelah perjalanan yang cukup seru, saya kembali dikejutkan dengan panorama indah ketika berada di atas bebatuan. Dari atas, saya dapat melihat hampir seluruh pemandangan yang sangat menakjubkan dengan angin yang cukup kencang. Itu tidak membuat saya ragu untuk tetap berdiri di atas sana.

Pemandangan ini akan lebih bagus apabila dinikmati pada saat sunset ataupun sunrise, terlihat sangat indah. Ini aalah salah satu hal yang membuat saya bersyukur berada di negeri sendiri dengan segala keindahan dan kekayaannya.

Sumber: detikcom

Sunrise di Gunung Sikunir, Dahsyat!

Sunrise di Gunung SikunirMelihat keindahan candi ketika traveling ke Dataran Tinggi Dieng sudah biasa. Jika ingin berbeda, akhir pekan ini cobalah mampir ke Gunung Sikunir, tempat untuk mendapat sunrise terbaik di Dieng. Pasti terpukau.

Gunung Sikunir dengan ketinggian 2.263 mdpl ini memiliki pemandangan alam yang cantik. Sayang sekali jika dilewatkan ketika Anda mengunjungi dataran tinggi Dieng.

Meskipun berada cukup jauh dari tempat wisata utama lain di Dieng, turis bisa berjalanan kaki untuk mencapai puncak gunung. Waktu yang dihabiskan juga tak begitu lama, yaitu hanya 30 menit dengan jarak tempuhnya sekitar 1 km. Jarak tersebut diambil dari akses terakhir kendaraan bermotor.

Begitu tiba di puncak, kita dapat menikmati cantiknya kilau emas mentari terbit. Pemandangan ini semakin cantik karena berhias rentetan bentang alam yang indah khas Dataran Tinggi Dieng.

Sumber: detikcom

Sunrise Gunung Bromo yang Mendunia

Sunrise Gunung BromoGunung Bromo adalah salah satu destinasi favorit wisatawan di Jawa Timur. Tidak hanya wisatawan lokal, wisatawan dari mancanegara pun berlomba-lomba datang ke sini. Mereka datang untuk melihat sunrise Bromo yang cantik mendunia.

Gunung Bromo merupakan salah satu primadona wisata di Jawa Timur. Tempat ini terletak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, di timur kota Malang. Keindahan gunung ini tak hanya memikat wisatawan lokal saja, bahkan banyak yang berasal dari luar negeri.

Gunung Bromo (dari bahasa Sansekerta atau Jawa Kuna adalah Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Bentuk ‘tubuh’ Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera, atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.
Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah sekitar 800 meter (utara-selatan) dan sekitar 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya, berupa lingkaran dengan jari-jari 4 Km dari pusat kawah Bromo.

Dingin, begitulah yang akan Anda rasakan saat pertama kali keluar dari mobil. Suhu di sini mencapai 10 derajat Celsius, Anda hendaknya mempersiapkan pakaian dingin, topi kupluk, sarung tangan, kaos kaki, syal untuk mengatasinya. Tapi, bila Anda melupakan perlengkapan tersebut, ada banyak penjaja keliling yang menawarkan dagangannya berupa topi, sarung tangan, atau syal.

perjalanan ke Gunung Bromo, rasanya belum lengkap jika tak merasakan sunrise dari penanjakan. Penanjakan adalah sebuah punggungan bukit dengan akses penglihatan langsung ke arah Gunung Semeru, Gunung Bromo dan Gunung Batok. sesampainya di atas penanjakan, ada banyak toko yang menyediakan kopi atau teh hangat dan api unggun untuk menghangatkan tubuh sambil menunggu waktu tebitnya matahari.

Menyaksikan terbitnya matahari memang merupakan peristiwa yang menarik. Buktinya, para pengunjung rela menunggu sejak pukul 05.00 pagi menghadap sebelah timur, agar tidak kehilangan momen ini. Anda pun tidak selalu bisa melihat peristiwa ini, karena bila langit berawan, kemunculan matahari ini tidak terlihat secara jelas.

Namun, saat langit cerah, Anda dapat melihat bulatan matahari. Pertama-tama hanya sekecil pentul korek api, perlahan-lahan membesar dan akhirnya membentuk bulatan utuh dan memberi penerangan. Sehingga kita dapat melihat pemandangan gunung-gunung yang ada di kawasan ini.

Selesai menyaksikan matahari terbit, Anda dapat kembali menuruni Gunung Pananjakan dan menuju Gunung Bromo. Sinar matahari dapat membuat Anda melihat pemandangan sekitar. Anda akan melewati lautan pasir yang luasnya mencapai 10 km persegi. Daerah gersang yang dipenuhi pasir dan hanya ditumbuhi sedikit rumput-rumputan yang mengering. Tiupan angin, membuat pasir berterbangan dan dapat menyulitkan Anda bernafas.

Untuk mencapai kaki Gunung Bromo, Anda tidak dapat menggunakan kendaraan. Sebaliknya, Anda harus menyewa kuda dengan harga Rp 80.000 atau bila merasa kuat, Anda dapat memilih berjalan kaki dengan tantangan sinar matahari yang terik, jarak yang jauh, dan debu yang berterbangan

Sesampainya di kaki Bromo untuk dapat melihat kawah, Anda harus menaiki anak tangga yang jumlahnya mencapai 250 anak tangga. Sesampainya di puncak, Anda dapat melihat kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap. Anda juga dapat melayangkan pandangan ke bawah, dan terlihatlah lautan pasir dengan pura di tengah-tengahnya. Benar-benar pemandangan yang sangat langka dan luar biasa yang dapat kita nikmati!

Sumber: detikcom

Semuanya Terbayar saat Tiba di Puncak Gunung Dempo

GUNUNG Dempo merupakan gunung tertinggi di Sumatra Selatan. Tingginya sekitar 3195m di atas permukaan laut. Banyak pendaki menjadikan Gunung Dempo sebagai tempat favorit karena memiliki jalur menantang dengan lereng berliku. Tertarik?

Gunung Dempo terletak di perbatasan antara propinsi Sumatra Selatan dan Bengkulu di pantai barat Sumatra, tepatnya di Kabupaten Pagar Alam yang kawasannya diselimuti perbukitan dan pegunungan. Dengan mengemudi kendaran dibutuhkan waktu sekitar 7 jam untuk mencapai Pagar Alam dari Palembang dan berlanjut 15 km dari pusat kota Pagar Alam menuju Gunung Dempo.

Saat berada di Pagar Alam, Anda bisa menjumpai pasar tradisional yang menjual beragam barang lokal seperti teh, kopi, buah-buahan dan lainnya.

Selama perjalanan Anda bisa menikmati pemandangan alam dan lembah yang dipadu dengan udara sejuk. Hamparan perkebunan teh yang luas seraya menjadi pertanda bahwa Anda sudah mendekati lokasi Gunung Dempo yang memiliki puncak tertinggi di pegunungan Bukit Barisan di sepanjang pulau Sumatera.

Pendakian yang melelahkan takkan menjadi hal sia-sia karena tawaran keindahan pemandangan alamnya sangat luar biasa. Dari atas puncak Anda bisa melihat kawah Gunung Dempo yang masih aktif dan sayang jika tak diabadikan dengan kamera.

Tak hanya keindahannya, di sepanjang lereng Gunung Dempo ternyata ditemukan serpihan-serpihan budaya prasejarah seperti ukiran batu dalam bentuk manusia, hewan dan lainnya.(*/X-14)

Seharian Tamasya di Umbul Sidomukti

OBJEK Wisata Umbul Sidomukti hadir di tengah kawasan bernuansa alami di lereng Gunung Ungaran, Semarang. Tempat ini tidak hanya menawarkan keindahan dan kesegaran, tetapi juga sejumlah tantangan yang dijamin memicu adrenalin setiap pengunjung.

Sebuah taman renang alami menghiasi Umbul Sidomukti. Susunan batu alam digunakan sebagai dinding kolam dan pada tamannya banyak dijumpai tempat duduk berundak model panggung terbuka agar pengunjung bisa menandang bebas ke segala penjuru.

Bagi Anda yang ingin menguji nyali cobalah wahana flying fox dengan panjang sekitar 100m yang melintasi jurang dengan kedalaman lembah lebih dari 70m. Lalu ada Marine Bridge (jembatan tali) sepanjang 60m dengan jurang dibawah berkedalaman lebih dari 30m.

Jika kurang menantang, Anda bisa menaklukan dinding bukit setinggi 25m atau mengendarai kendaraan ATV menyusuri jalan tanah di sekitar jurang.

Sidomukti juga menyediakan jalur trekking menuju puncak Gunung Ungaran, Gua Jepang, dan Kebun Teh Medini. Objek wisata ini bisa menjadi paket agenda “One Day Tour” di Semarang.

Untuk anak-anak disediakan wahana flying fox sepanjang 15m. Tak teinggalan ada camping ground dimana pengunjung bisa menikmati malam di alam bebas dan menyalakan api unggun pada malam hari.

Umbul Sidomukti terletak di Desa Sidomukti, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Lokasi wisata ini cukup dijangkau, butuh waktu sekitar 40-60 menit perjalanan dari pusat kota Semarang. Sebelum berkunjung jangan lupa membawa jaket dan payung untuk berjaga sekiranya hujan. (visitsemarang.com/*/X-13)

Gunung Merbabu, Favoritnya Para Pendaki

BAGI Anda penggemar naik gunung atauhiking pasti sudah tidak asing lagi dengan Gunung Merbabu yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Keindahan alamnya mampu mengembalikan setiap energi yang telah hilang setelah lelah mendaki.

Terletak di Provinsi Jawa Tengah dengan ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut pada puncak Kenteng Songo. Gunung ini dikenal sebagai gunung tidur meskipun sebenarnya memiliki 5 buah kawah: kawah Candradimuka, Kombang, Kendang, Rebab, dan Sambernyawa.

Terdapat 2 buah puncak yakni puncak Syarif (3119 meter di atas permukaan laut) dan puncak Kenteng Songo (3142 meter di atas permukaan laut).

Merbabu memang sering digunakan sebagai ajang kegiatan pendakian. Medannya tidak terlalu berat namun potensi bahaya yang harus diperhatikan pendaki adalah udara dingin, kabut tebal, hutan yang lebat namun homogen, serta ketiadaan sumber air.

Puncak Gunung Merbabu dapat ditempuh dari Cunthel, Thekelan, (Kopeng / Salatiga) Wekas (Kaponan / Magelang) atau dari selo (Boyolali). Namun rupanya akan lebih menarik bila Anda berangkat dari jalur Utara (Wekas, Cunthel, Thekelan) turun kembali lewat jalur selatan (Selo).

Pemandangan yang sangat indah dapat disaksikan disepanjang perjalanan, hal itulah yang membuat para pecinta hiking tidak bosan mendaki Merbabu sampai berkali-kali.

Di sekitar Gunung Merbabu, banyak juga terdapat gunung lainnya, diantaranya adalah Merapi, Telomoyo dan Ungaran. Gunung Merbabu ini jika dilihat juga membentuk garis deretan gunung berapi ke arah utara Merapi – Merbabu – Telomoyo-Ungaran.

Gunung Merbabu dahulunya dikenal melalui naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pam(a)rihan. Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15.

Menurut etimologi, ‘merbabu’ berasal dari gabungan kata ‘meru’ (gunung) dan ‘abu’ (abu). Nama tersebut akhirnya muncul pada catatan-catatan Belanda. Merbabu rupanya juga pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. (*/OL-08)

Desa Wisata Kopeng, Semarang – Jawa Tengah Wisata Petik Bunga hingga Hiking

Letaknya di ketinggian 1450 meter di atas permukaan laut menjadikan kawasan ini terasa begitu sejuk. Berada di lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Andong menjadikan Kopeng sebagai tempat yang cocok untuk tanaman bunga dan buah-buahan.

Kehangatan sikap masyarakat desa pun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke sini. Berbagai pilihan wisata tersaji seperti wisata alam pegunungan, budaya hingga wisata kuliner.

Bagi penyuka bunga dan tanaman hias, terdapat klaster yang menyajikan aneka ragam tanaman bunga dan hias. warna-wani bunga akan membuat betah setiap pengunjung. Harga tanaman yang dijual pun cukup terjangkau, pengunjung tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk belanja tanaman disini.

Nikmati juga serunya memetik strawberry langsung dari kebunnya. Untuk kegiatan petik strawberry cocok dilakukan bersama keluarga. Selain bunga, buah dan tanaman hias pengunjung pun bisa berbelanja sayur-sayuran segar.

Beragam jenis kerajinan juga dapat diburu sebagai cendramata dari desa yang pada 2009 mendapat predikat sebagai Rintisan Desa Vokasi sekaligus Pilot Project Desa Konservasi ini.

Kawasan ini juga menjadi salah satu base camp pendakian ke puncak Gunung Merbabu. Bagi yang senang wisata petualang bisa memilih wahana Kopeng Tree Top Adventure Park.

Di Kawasan Desa wisata Kopeng terdapat air terjun Umbul Songo (sembilan mata air). Kesembilan sumber mata air berada di sekitar Tekelan, Contre, Tayengan, Selodhuwur, Kopeng, Peng Jero dan Kali Sati.

Menurut cerita masyarakat, Umbul Songo ditemukan oleh para wali pada zaman Kesultanan Demak. Para wali ini kemudian berdoa kepada Allah SWT, memohon dimudahkan memperoleh sumber mata air, guna keperluan bersuci, kemudian keluarlah mata air dengan debit besar. sumber air ini dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan akan air wudhu.

Rute panduan dan fasilitas
Desa Wisata Kopeng terletak di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang berjarak tempuh sekitar 14 km dari kota Salatiga dan sekitar 54 km dari kota Semarang. Akses jalan menuju kawasan ini sudah sangat baik sehingga mudah untuk mencapainya. Fasilitas pendukung wisata tersedia lengkap disini.

Sumber: Majalah Travel Club

Rona Merah Menawan Suku Tengger

KEELOKAN Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tidak hanya pada panorama alam yang begitu memesona, tapi juga Suku Tengger-nya sendiri yang mendiami wilayah sekitaran Bromo.

Suku Tengger memiliki ciri khas khusus pada rona wajah yang mereka miliki. Kulit di sekitar wajah mereka kemerah-merahan, hasil adaptasi dari suhu pegunungan Bromo yang sangat dingin. Boleh juga, ini menjadi pesona tersendiri bagi pelancong yang melirik penduduk asli Bromo ini.

Berdasarkan mitos atau legenda yang bertahan di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama Tengger sendiri diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger.

Masyarakat Suku Tengger merupakan masyarakat yang sangat plural terutama pada masalah keyakinan spiritual. Terbagi menjadi tiga agama besar, Hindu, Budha dan Islam. Walaupun begitu kerukunan dan sikap toleransi beragama Suku Tengger tetap terjaga dengan kuat.

Suku Tengger yang berdiam di Bromo sangat mudah dikenali karena selalu menggenakan sarung. Suku Tengger mengenal sarung dengan istilah kawengan. Sarung bagi Suku Tengger adalah baju atau jaket penghangat mereka. Kawengan digunakan untuk menepis serangan angin dingin yang menusuk tulang, selain karena harganya yang murah dan mudah di dapat di mana-mana dibandingkan pakaian hangat yang lain.

Suku Tengger sangat mempertahankan seni dan budaya tradisional. Tarian khas mereka adalah tari sodoran yang kerap kali ditampilkan pada perayaan Karo dan Kasada.

Dari sisi budaya, masyarakat Tengger berbudaya pertanian dan pegunungan yang kental, hal ini terlihat dari penghormatan berupa upacara adat pada dewa setelah panen.

Mereka tidak pernah menjual ladang (tanah) kepada orang lain, apalagi orang yang berasal dari luar Bromo. Hasil pertanian utama suku Tengger adalah kentang, kubis, wortel, jagung dan tembakau. Mereka termasuk pengonsumsi tembakau yang cukup kuat.

Sebagian dari mereka selain bertani menambah penghasilan menjadi porter para pendaki gunung Semeru atau menjadi pemanudu wisata di Bromo. Mereka juga kerap menawarkan kuda tunggangan untuk disewakan pada para wisatawan yang ingin merasakan desir pasir Bromo yang liat.(*/M-1)

Garut dan Wisata Surga dari Timur

UDARA nan sejuk berpadu landskap perbukitan menjadi ramuan pas untuk menikmati alam. Diapit gunung Guntur, Papandayan, dan Cikuray yang masih aktif, Garut telah memikat hati banyak orang. Bahkan pada 1910, Officieel Touristen Bureau, Weltevreden, menyebut Garut sebagai Paradijs van Oosten atau surga dari timur.

Kota Dodol ini, terletak di sebelah tenggara Kota Bandung, 250 km dari Jakarta. Perjalanannya dapat ditempuh dalam waktu tiga setengah jam dari Ibu Kota.

Menjelajah Garut bersama National Geographic dan Cevron Geothermal, Januari lalu sungguh berkesan. Kota yang juga terkenal dengan dombanya itu tentu tak bisa dinikmati dengan berendam air panas saja. Alam yang menantang sungguh sayang dilewatkan.

Pantai di selatan membujur hingga 90 kilometer panjangnya. Air terjun dan situ-situ alami menyejukan mata. Pengunungan menjulang tinggi hingga 2.821 meter. Belum lagi kekayaan budaya seperti acara surak ibra, raja dogar, dan bangunan-bangunan tua.

Gunung Papandayan bisa menjadi awal pertualangan pertama Anda di Swiss van Java. Terletak di kecamatan Cisurupan, 29 kilometer dari pusat kota Garut, Papandayan menjadi favorit bagi para pendaki pemula. Untuk mencapai Gunung Papandayan, naiklah kendaraan umum dari pusat kota menuju Cijulang. Kemudian turun di pertigaan Cisurupan. Dari sana, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menyewa ojek atau angkot hingga sampai di pelataran parkir gunung Papandayan.

Mendaki
Di pelataran yang memiliki ketinggian 2000 meter itulah jejak pendakian dimulai. Batuan besar kekuningan serta jalan menanjak akan menyambut kedatangan Anda. Pohon suwagi dan pakis tangkur tumbuh hijau di sisi-sisi jalan. Tebing batu yang tinggi dan curam mendominasi pandangan.

Mendaki lebih ke atas, Anda akan menjumpai kawah belerang yang mengeluarkan asap putih. Sesekali terlihat cairan kuning dimulut kawah, menandakan kepekatan belerangnya. Agar asap tak membuat pedih, cobalah berjalan agak menunduk, menghindari kontak langsung dengan asap. Jangan lupa, kenakan masker atau saputangan agar bau menyengat tak membuat kepala pusing.

Setelah melewati kepulan asap belerang, pesona kawah bisa dinikmati dari atas. Tentu bertambah nikmat dengan iringan melodi air yang turun ke kaki bukit. Tak jauh dari situ, terdapat danau. Lebarnya bisa mencapai seratus meter. “Warna airnya bisa berubah-ubah tergantung cuaca,” ujar Dede, yang pemandu pendakian.

Mencapai ketinggian 2.300 meter, pepohonan mati menciptakan pemandangan berbeda. Batang pohon-pohon itu hitam legam, hampir jadi arang. Pijakan tak lagi dipenuhi batu melainkan lapisan abu yang putih. Tempat ini kental dengan suasana kematian. Seakan ada panas api yang dengan cepat memberangus kehidupan.

Wilayah itu dikenal dengan nama ‘gunung salju’. Kontur pemandangannya tercipta karena letusan gunung Papandayan pada 2002 lalu. Kepulan uap panas ketika itu, membakar pepohonan, juga mengendapkan abu di bawahnya.

Kalau ingin menyaksikan matahari terbit, sebaiknya mendaki pada saat malam. “Sekitar jam sebelas ke atas,” kata Dede yang kerap menemani mahasiswa pecinta alam mendaki di malam hari.

Setelah beristirahat dan puas menikmati megahnya Papandayan, tiba saatnya untuk menuruni gunung. Salah besar kalau ada anggapan menuruni gunung adalah hal mudah. Walau tak butuh energi besar seperti ketika mendaki, tapi gravitasi betul-betul menyulitkan. Belum lagi kerikil-kelikil yang membuat pijakan tidak stabil.

Agar tak tergelincir, miringkan posisi telapak kaki seperti Anda ingin berjalan miring. Pusatkan tumpuan pada tumit dan turun perlahan. Selesai mendaki Papandayan, jangan lupa akan rencana selanjutnya. Peta Segitiga Wisata Garut keluaran National Geographic bisa jadi pemandu.

Tempat wisata unggulannya termasuk Situ Bangendit, Kawah Papandayan, dan Situ Cangkuang. Bagi yang suka berwisata di dalam kota, cobalah berwisata ziarah ke Makam Pangeran Papak di Wanajara, atau nikmati sejarah kota di Stasiun Cibatu. Tak lupa, bungkus beberapa helai batik tulis Garutan yang dapat dibeli di tengah kota, dodol manis, kerajinan kulit, dan anyaman bambu khas Garut untuk oleh-oleh.(mediaindonesia.com/M-3)

Menikmati Lautan Pasir di Bromo

KEINDAHAN lautan biru bisa Anda jumpai di banyak tempat. Namun keunikan pemandangan berupa lautan pasir seluas 5.250 hektarE hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Bromo Tengger. Taman ini juga merupakan satu-satunya kawasan konversi di Indonesia dan memiliki sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilian.

Kawasan Taman Nasional terletak di 4 Kabupaten yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Selain itu berada pada ketinggian sekitar 2.100m dari permukaan laut dengan keindahan alam yang mempesona dan didominasi oleh pegunungan.

Pada hamparan laut pasirnya, terdapat tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang. Meski mengetahui Gunung Bromo berbahaya, Suku Tengger yang merupakan suku asli penghuni kawasan gunung, tak pernah beranjak dari tempat tinggalnya.

Begitu pula dengan wisatawan yang tak berhenti datang berkunjung. Pemandangan alamnya yang sangat mempesona terlalu sulit untuk diabaikan.

Selain melihat matahari terbit, pengunjung bisa menyaksikan atraksi budaya Suku Tengger dengan segala keunikan kehidupan mereka yang justru menjadi daya pikat tersendiri. Salah satunya adalah upacara kasodo dan karo yang dilakukan besar-besara tiap tahunnya.

Sambil menikmati panorama alam yang menawan, pengunjung juga bisa berkemah dan melakukan pengamatan satwa/tumbuhan. Waktu yang baik untuk berkunjung adalah bulan Juni-Oktober dan bulan Desember-Januari. (wisatamalang.com/*/X-13)