Tag Archives: jakarta

Wisata Alam di Tengah Kota Jakarta

KOTA megapapolitan Jakarta memang banyak menawarkan tujuan pelesiran bagi warganya. Di tengah deretan mal dan hiruk pikuknya aktivitas warganya, Jakarta masih memiliki sebuah lokasi yang dapat dijadikan alternatif wisata untuk lebih mengenal alam dan lingkungan Jakarta yaitu Suaka Margasatwa Muara Angke.

Suaka Margasatwa Muara Angke adalah sebuah kawasan konservasi di wilayah hutan bakau (mangrove) di pesisir utara Jakarta. Berada di atas lahan seluas 25,02 hektare, Anda dapat mengenal lebih banyak aneka jenis tumbuhan dan satwa langka.

Kawasan ini pertama kali ditetapkan sebagai cagar alam merujuk Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor 24 tanggal 18 Juni 1939 seluas 15,4 hektare, hingga akhirnya berubah menjadi Suaka Margasatwa berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.755/Kpts-II/98 dengan luas 25,02 hektare.

Wilayah ini merupakan satu dari empat kawasan hutan bakau yang masih tersisa di Jakarta sebagai daerah resapan air. Di sini Anda juga dapat menyaksikan secara langsung 74 jenis burung-burung air. Selain itu terdapat binatang reptil seperti ular cobra, sanca, biawak dan kera berekor panjang.

Binatang yang tergolong unik disini adalah burung bubut jawa. Burung ini hanya bisa terbang pendek, yang jika terlihat seperti berlari. Burung ini bisa bertahan hidup dari memakan kelabang, belalang, tikus, katak, kumbang.

Puas berkeliling melihat-lihat jenis binatang yang berada disana, Anda juga dapat menyusuri Kali Adem dengan menggunakan speedboat. Bersama speedboat Anda akan dibawa menyusuri kawasan tersebut dari pinggir Kali Adem yang airnya sudah tercampur dengan limbah. Beragam jenis sampah mengapung sepanjang kali.

Di balik keindahan yang memang jarang Anda temui di kota besar Jakarta, Suaka Margasatwa Muara Angke memang menyimpan pesona tersendiri. Namun, sangat disayangkan jika kita sebagai masyarakat tidak perduli untuk merawatnya. (mediaindonesia.com/OL-5)

Museum Transportasi Nostalgia Naik Angkutan Umum

PERNAH merasakan naik delman, bemo, oplet atau becak? Beruntung bagi mereka yang pernah merasakannya karena di era modernisasi seperti saat ini, alat transportasi tersebut nyaris punah tergerus arus jaman. Bahkan, sarana itu sudah tergantikan dengan mobil dan bus angkutan umum di kota Jakarta.

Jangan kecewa dulu bila belum pernah merasakan sensasi naik kendaraan unik ini, karena Anda masih bisa melihatnya di Museum Transportasi. Berlokasi di area Taman Mini Indonesia Indah (TMII), museum yang diresmikan pada 20 April 1991, memiliki beragam koleksi alat transportasi Indonesia dari masa ke masa.

Sajian lengkap mengenai dunia transportasi mulai dari sejarah perkeretaapian Indonesia dan peta jaringan kereta api di pulau Jawa, lengkap dengan koleksi kereta api yang menggandeng gerbong-gerbong kayu, hingga bus-bus kuno, bisa dinikmati di area seluas 6,25 hektare tersebut.

Untuk lebih lengkapnya, museum ini terbagi menjadi empat ruang. Diawali, Modul Pusat. Terdiri atas koleksi alat transportasi tradisional diantaranya, bendi, becak, andong, sepeda, cikar, roda pedati, serta perahu layar dengan bentuk asli maupun miniatur. Koleksi unik di sini berupa foto kereta jenasah asli yang dipakai masyaarakat Aceh untuk mengangkutjenasah Sultan Iskandar Thani tahun 1641.

Selanjutnya, Modul Darat. Tempat itu khusus menampilkan sarana dan prasarana jalan raya, halan baja, serta penyebrangan. Lalu, Modul Laut. Terdapat transportasi laut menggunakan mesin, sebut saja, kapal penumpang, dok terapung, kontainer dan peralatan lainnya. Tak ketinggalan foto-foto mengenai perkembangan transportasi laut.

Kemudian, Modul Udara. Koleksinya adalah pesawat terbang, berbabgai macam peralatan di bandara, juga foto penunjang koleksi. Sementara, benda yang tidak boleh terlewatkan oleh pengunjung, bus wisata pertama dari Perum Pengangkutan Djakarta (PPD) tahun 1968 yang bermesin Mercedes Benz 0 302.

Tunggu apa lagi, yuk, bernostalgia di Museum Transportasi. Menikmati serunya naik angkutan umum dari sini.

Museum Transportasi
Komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Telp: 021-8400482, 8400662
Faks: 021-87792486
Buka: 09.00-16.00 (setiap hari)
Biaya: Rp. 2.000

Sumber: Majalah Travel Club

Mengenang Sejarah Batavia di Koja

MUNGKIN Anda lebih mengenal Kota Tua Jakarta sebagai tempat peninggalan sejarah Batavia Lama. Tapi di Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Koja, Jakarta Utara nuansa seperti itu juga bisa Anda rasakan di Kampung Tugu.

Sejak dulu, kampung ini dikenal sebagai tempat hunian orang-orang Portugis (kaum Mardjiker) yang pernah ditawan oleh Pemerintah Belanda. Umumnya, mereka beragama Katolik dan menggunakan bahasa Portugis sebagai bahasa percakapan.

Yang menjadi landmark tempat ini adalah Gereja Tugu di kampung ini. Konon, gereja ini didirikan sekitar tahun 1676-1678 M seiring dipindahkannya para Mardjiker dari Kota Batavia.

Menyusuri serpih-serpih sejarah di Kampung Tugu mengingatkan kita pada suasana Kota Batavia di masa lampau. Ada bangunan-bagunan kuno, jalan dan Kali Cakung yang dulu dipakai sebagai jalur transportasi air utama untuk menuju gereja.

Anda juga bisa mengikuti ritual mandi-mandi saat perayaan tahun baru. Ini dilakukan bukan dalam bentuk mandi yang sesungguhnya, melainkan saling memaafkan antar sesama warga di Kampung Tugu. Ritual ini merupakan warisan kaum Mardjiker.

Di Kampung Tugu juga ada pertunjukkan musik Keroncong Tugu yang biasa dipentaskan sejak tahun 1661 M pada acara pesta perkawinan, ulang tahun, peresmian, jamuan makan, menyambut tamu asing, perayaan Natal, dan perayaan tahun baru.

Selain itu, di Kampung Tugu masih bisa tersisa deretan rumah-rumah khas Batavia yang berumur ratusan tahun, bahkan beberapa kuburan kuno peninggalan zaman Belanda pun bisa ditemukan.

Kampung Tugu bisa diakses dari Jalan Raya Tugu Semper 20 dan Jalan Cakung-Cilincing. Anda bisa berangkat dari Stasiun Tanjung Priok dan pergi dengan angkutan umum 01, lalu turun di jalan Tugu, kemudian tinggal berjalan kaki sekitar 250 meter. (wisatamelayu.com/*/X-13)

Museum Layang-Layang Dolanan Anak Indonesia

Dolanan anak apa yang masih dimainkan hingga sekarang? Layang-layang adalah salah satunya. Mainan tak lekang oleh jaman ini kerap dijumpai di sekitar lingkungan kita, apalagi saat musim panas tiba. Biasanya dimainkan menjelang sore hari.

Agar lebih seru, sebaiknya layang-layang tidak saja untuk dijadikan permainan, tetapi juga dikenali dari dekat dengan pergi ke Museum Layang-Layang, di Jakarta.

Letaknya agak jauh dari jalan raya, hening dan nyaman seperti itulah suasana yang terasa ketika masuk ke area museum ini. Rumah tradisional bergaya joglo siap menyambut tamu. Didalam, layang-layang dari berbagai macam warna, ukuran dan desain, ramai menggelantung di atap rumah.

Bukan tanpa sebab Endang Widjarnako Puspoyo mendirikan museum tersebut. Kecintaan terhadap layang-layang lah yang membuatnya membangun Merindo Kites & Gallery tahun 1985 silam. Berbagai kegiatan pun ia lakukan melalui galerinya, hingga, pada 21 Maret 2003 resmi berdiri museum yang menyimpan koleksi museum dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Menariknya, ada replika layang-layang dari jaman purbakala, terbuat dari daun.

Banyak kegiatan bisa dilakukan di tempat ini. Sebut saja, kegiatan menonton film tentang layang-layang, keliling museum, merakit layang-layang sederhana, melukis layang-layang, hingga pelatihan menjadi pembuat layang-layang. Bukan sekedar itu, ada lagi paket kegiatan membuat keramik, melukis payung, membatik dan lainnya.

Berminat mampir ke Museum Layang-Layang? Jangan lupa bawa seluruh keluarga untuk menikmati serunya jalan-jalan ke museum ini.

Museum Layang-Layang
Jalan H. Kamang No.38, Pondok Labu
Jakarta Selatan 12450
Telepon: 021-7658075, 75904863
Fax: 021-7505112
Buka: 09.00-17.00 (setiap hari), kecuali hari libur nasional
Harga: Rp. 10.000

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Bank Mandiri Rekam Jejak Bank Tempo Dulu

Sebuah papan kayu jati berukuran besar dengan tulisan berbahasa Belanda tergantung kuat menghadap pintu masuk. Di bawahnya, terdapat deretan loket yang biasa digunakan untuk transaksi keuangan saat itu.

Ya, penjelajahan museum kali ini berpijak di Museum Bank Mandiri. Museum di Jalan Lapangan Stasiun 1, Jakarta Barat ini, tidak pernah sepi dari pengunjung. Wajar saja demikian, karena dalam bangunan empat lantai dengan luas bangunan 21.509 meter persegi tersebut, terdapat puluhan ribu koleksi peninggalan Belanda berkaitan dengan sejarah perbankan di Indonesia yang sangat sayang bila dilewatkan begitu saja oleh masyarakat.

Berdiri kokoh di atas lahan seluas 10.039 meter persegi, museum ini lebih dulu digunakan untuk kantor wilayah Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau di zamannya biasa disebut Factorji Batavia, yang diartikan sebagai perusahaan dagang milik Belanda. Gedung hasil rancangan tiga arsitek asal Belanda ini, diantaranya J.J.J. de Bruyn, A.P. Smits dan C. van de Linde, diresmikan pada 14 Januari 1933 oleh Presiden NHM ke-10, C.J. Karel van Aalst.

Penasaran ingin tahu apa saja koleksi yang tersimpan di bangunan gaya art deco klasik itu?

Perjalanan pun dimulai dari sini. Menapaki lantai dasar, pengunjung bisa melihat sebuah ruangan besar. Dinamakan ruang pelayanan nasabah, terdapat loket-loket teller, lengkap dengan perabot pendukungnya, sebut saja kursi-kursi, meja, lemari, serta mesin tik. Seluruh benda tersebut masih asli, sesuai dengan keberadaannya saat itu.

Di sebelah kanan loket, ada ruang kasir Cina. Ruang tersebut tampak beberapa manekin, merupakan representasi orang Tionghoa dan orang Belanda yang seolah-olah sedang bekerja. Di dalam ruang itu, juga tersimpan koleksi peti uang dan rekonstruksi jalannya transaksi antara nasabah dan petugas bank.

Dua buah etalase berisi buku besar atau istilah Belanda groetbook, menjadi perhatian pengunjung. Buku dengan ukuran 67 x 54 x 13 cm, terdiri dari 234 lembar halaman dan berat 28 kg, merupakan kumpulan catatan transaksi dari tahun 1833-1837. Sedangkan buku lainnya berukuran 38,5 x 49 x 17,3 cm dengan 1503 lembar dan berat 20 kg mencatat transaksi dari tahun 1935-1936.

Beranjak ke sudut lain. Sebuah koridor panjang menghubungkan bagian dalam bank dengan loket bagian luar. Belok kiri, maka pengunjung akan menemukan ruang lainnya. Ada ruang yang menyimpan koleksi macam-macam giro, cek, sempoa, mesin tik, kalkulator manual buatan tahun 1940. Dan, berbagai jenis mesin cetak, mesin pembukuan, alat pres, mesin photocopy, printer, hingga mesin ATM.

Tepat di sebelah ruang koleksi giro, ada catatan-catatan berupa arsip, obligasi, buku tabungan dari empat bank yang menggabungkan diri, periode 1959/1960 hingga Juli 1999. Bank tersebut antara lain, Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo). Keempat bank inilah yang akhirnya melahirkan Bank Mandiri.

Naik ke lantai satu. Di sini terdapat ruang rapat besar, tempat para direksi berkumpul untuk melakukan rapat. Lalu, ruang perpustakaan, ruang sejarah pemimpin-pemimpin bank yang pernah menjabat, kemudian ruang model seragam karyawan, ruang perlengkapan keamanan, seperti perlengkapan penjaga keamanan, pemadam kebakaran, dan masih banyak lagi.

Turun, menuju lantai bawah tanah, pengunjung bisa melihat proses pembangunan gedung museum di ruang komponen bangunan, termasuk material-material untuk membangun, mulai dari jenis kayu, batu, hingga alat berat. Tidak ketinggalan, sepeda ontel dan patung orang sedang berjualan makanan tradisional, hingga patahan rel kereta. Sebagai tambahan informasi, tersedia sebuah box yang menampilkan gambar serta suara, menceritakan sejarah perkembangan kota Batavia sejak jaman penjajahan sampai era kemerdekaan.

Masih di sekitar lantai bawah tanah, terdapat ruang khusus, dahulu merupakan tempat penyimpanan uang dan benda berharga, seperti emas batangan. Penataan ruang tidak diubah, bahkan pengunjung bisa menggambarkan suasana kerja karyawan bank hanya dengan melihat manekin-manekin yang ditata sedemikian rupa, sehingga menghasilkan suatu ilustrasi masa lampau pada bagian ini.

Sungguh, tidak salah pilihan bila Anda berkunjung ke Museum Bank Mandiri. Selain seluruh koleksi terpelihara baik, tempat ini menjadi sumber khasanah pengetahuan mengenai perkembangan dunia perbankan.

Jam Buka
Selasa-Minggu: pukul 09.00-16.00
Senin dan hari libur nasional, tutup

Biaya Masuk
Umum: Rp. 2.000
Rombongan minimal 20 orang: Rp. 1.000
Pelajar: gratis
Nasabah, karyawan Bank Mandiri: gratis

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Manggala Wanabakti, Kenali Hutan Indonesia

Banyak hal menarik dalam museum ini. Fosil kayu berumur 40 ribu tahun, gelondongan jati usia 336 tahun, dan pohon berbicara. Ketiganya menjadi primadona.

Berkunjung ke Museum Manggala Wanabakti seperti menjelajah hutan Indonesia. Wajar demikian, karena pohon-pohon besar yang mengelilingi bangunan ini diambil dari beberapa daerah di Indonesia. Suasana sejuk pun mengiringi langkah memasuki museum di Jalan Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta.

Saat menuju bagian dalam museum, pohon jati berbicara menyambut kedatangan pengunjung. Dinamai pohon berbicara karena pengunjung bisa mendengar suara rekaman seolah-olah datang dari pohon tersebut, menceritakan tentang sejarah pohon jati itu dan artifak di sekitarnya. Di sebelah pohon yang sudah berusia 139 tahun ini, terlihat gelondongan jati dengan umur 336 tahun.

Kedua pohon ini berada di tengah-tengah ruang dan tertata layaknya di hutan sungguhan. Tidak hanya kedua benda tersebut, ada pula fosil kayu yang usianya terhitung sudah 40 ribu tahun.

Melangkah lebih jauh ke sisi sebelah kiri dari arah pintu masuk, pengunjung akan melihat ruang Rimbawan Pejuang. Di sini terdapat dokumentasi, sebut saja, emblem, foto-foto, para pelaku sejarah, dan lukisan sebagai wujud mengenang perjuangan relawan hutan atau lebih dikenal sebagai Pasukan Wanara.

Setelah dari ruang Rimbawan Pejuang, pengunjung bisa melihat beberapa sarana pengelolaan hutan sejak jaman Belanda, berbagai jenis alat pemotong kayu, alat-alat ukur yang memiliki fungsi untuk membuat peta kehutanan, sarana untuk mengangkut kayu-kayu, seperti miniatur gerobak sapi, serta monorail.

Selain itu, pengunjung akan dibuat terpana dengan diorama hutan alam jati, pinus, agathis dan hutan payau. Pasalnya, diorama tersebut tidak terlindungi oleh kaca, seperti yang biasa dilihat di museum lainnya. Walaupun buatan, hutan penuh pohon-pohon ini diatur sesuai bentuk aslinya.

Kemudian, di sebelah kanan, terdapat koleksi beragam jenis kayu, macam-macam biji pohon jenis komersial, berbagai jenis hama dan penyakit pohon, hasil hutan ikutan, penyadapan getah pinus dan cara penyadapannya. Lalu, ragam peralatan kerja serta berburu dari daerah di Indonesia, persuteraan alam, perlengkapan tugas mantri hutan tempo dulu, barang kerajinan kayu, perangko dan uang yang didesain khusus ketika memperingati KKS ke-8, tahun 1978.

Museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 24 Agustus 1983 ini, juga mempunyai ruang informasi, yakni perpustakaan. Di sini tersimpan sekitar 30 ribu judul buku, tak ketinggalan koleksi foto hutan, dilengkapi dengan informasi mengenai manfaat, tipe, dan fungsinya.

Sementara, total koleksi yang dipamerkan dalam museum ini berjumlah 736 koleksi, 524 koleksi dipamerkan didalam ruang, empat koleksi di luar ruang, dan 208 benda di ruang penyimpanan. Tentu saja, jumlah tersebut bisa mengalami perubahan jika ada peminat, layaknya ilmuwan atau masyarakat untuk member sumbangan dalam bentuk benda, pikiran atau peran serta lain.

Museum Manggala Wanabakti memang sebuah museum unik dan patut Anda kunjungi agar lebih mengenal seperti apa hutan Indonesia. Dari sana, kita bisa ikut menjaga hutan sebagai paru-paru dunia.

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal Menyusuri Jejak Islam Nusantara

Al-Qur’an berukuran raksasa bersanding dengan Al-Qur’an sebesar ibu jari. Budaya Nusantara pun terbaca lewat seni kaligrafi, tanpa menghilangkan nilai ajaran Islam.

Sentuhan islami sangat terasa ketika menjejakan kaki di Museum Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal,Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Tampak dari luar, ukiran kaligrafi Arab terpampang di gedung bagian depan dan sebuah menara berdiri, menyapa tamu yang datang.

Berdiri di atas lahan seluas 20.013 meter persegi, museum ini terbagi menjadi dua bagian, yakni ruang Bayt Al-Qur’an, memajang mushaf-mushaf Al-Qur’an dari berbagai daerah dan ruang Istiqlal, menampilkan sejarah perkembangan dan penyebaran agama Islam melalui budaya di Indonesia.

Sebagai permulaan, pengunjung bisa melihat seni kaligrafi dari ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat mengagumkan. Di sepanjang lorong museum, pengunjung akan menemukan puluhan mushaf-mushaf Al-Qur’an tulisan tangan, dari ukuran terbesar hingga ukuran paling kecil, panjangnya tidak lebih dari ukuran ibu jari. Sementara, tahun pembuatannya tertera dari pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Perbedaan puluhan mushaf tersebut pun terlihat dari gaya penulisannya yang tidak terlepas dari hasil serapan budaya tempat mushaf itu dibuat. Seperti corak iluminasi dan karakter kaligrafi terbentuk berdasarkan kondisi jaman dan kreatifitas daerah masing-masing.

Sebut saja, Mushaf Istiqlal, Mushaf Wonosobo, merupakan mushaf paling besar, hasil karya dua santri Pondok Pesantren Al-Asy’ariah Wonosobo, Mushaf Kuno Nusantara, Mushaf Sundawi, Mushaf Jakarta, Mushaf Cirebon, Mushaf Kerajaan Bima, Mushaf Pusaka RI, dan masih banyak lagi.

Selain itu, terdapat pula Al-Qur’an Braille, khusus bagi mereka penyandang tuna netra, Al-Qur’an terjemahan bahasa daerah, serta Al-Qur’an berstandar Indonesia. Dan, ada juga peti-peti dengan ukiran indah untuk menyimpan mushaf-mushaf dari bahan kayu jati dan kuningan.

Menuju ruang pamer Istiqlal. Di ruang ini, pengunjung bisa mengetahui peradaban budaya bangsa Indonesia bernafaskan Islam. Koleksinya antara lain, manuskrip islami, lukisan kaligrafi, batu nisan, prasasti maklumat, naskah kuno, seni tradisional dan kontemporer. Keseluruhan hasil karya tersebut tidak lain bersumber dari firman-firman Tuhan dalam Al-Qur’an.

Beranjak lebih jauh, terdapat bangunan mini dan foto masjid-masjid Indonesia, dibangun berdasarkan arsitektur yang khas dan tidak dimiliki daerah lain. Misal, Masjid Baiturrahman, Nangroe Aceh Darussalam, dibangun pada abad ke-17 Masehi, Masjid Demak, Masjid Kudus, Masjid Sultan Ternate, dan tentu saja Masjid Istiqlal, Masjid terbesar di Asia Tenggara.

Tidak hanya itu, benda-benda seni kerajinan tangan, seperti keramik, songket, bordir, kulit dan interior dengan sentuhan Islam ikut melengkapi seluruh koleksi di museum yang sudah berdiri sejak tahun 1997.

Musem Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal sepertinya patut menjadi rekomendasi wisata religi Anda. Apalagi bila ingin ngabuburit saat Ramadhan tiba, datanglah ke museum ini.

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Sumpah Pemuda Mengenang Semangat Juang Pemuda Indonesia

Rumah tua itu menjadi saksi pergerakan pemuda di tahun 1928. Ketika ikrar terucap dengan penuh tekad, dari para pemuda yang merapatkan barisan untuk selalu setia pada tanah air Indonesia. Di gedung sederhana ini Sumpah Pemuda dikumandangkan.

Letaknya persis di pinggir jalan Kramat Raya No.106, Jakarta Pusat. Sebelum diresmikan menjadi museum, bangunan tersebut merupakan rumah kediaman Sie Kong Liong. Namun, seiring berkembangnya sekolah-sekolah di Jakarta, awal abad ke-20, rumah itu pun disewakan sebagai pondok pelajar oleh STOVIA (School Tot Opleding Van Inlandesh Arsen) yang kemudian dinamakan Club Gebow. Kini, bangunan sederhana ini dikenal dengan nama Museum Sumpah Pemuda.

Tidak hanya berfungsi sebagai pondokan, di rumah tersebut dahulu juga kerap dijadikan tempat latihan kesenian “Langen Siswo” dan diskusi politik oleh para pelajar. Hingga akhirnya terbentuk Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) di bulan September 1926, maka gedung itu dijadikan kantor PPI, sekaligus redaksi majalah PPPI, bernama Indonesia Raja. Sejak itulah, pemuda-pemuda yang tergabung dalam berbagai macam organisasi sering memakai bangunan seluas 550m2 ini sebagai tempat kongres.

Puncaknya, tanggal 27-28 Oktober 1928, terselenggara Kongres Pemuda Indonesia Kedua di tempat yang sama. Dalam kongres tersebut melahirkan sebuah keputusan dengan tiga butir pernyataan atau lebih dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Isi ikrar tersebut diantaranya:

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mendukung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Hasil keputusan itu terpampang di papan besar yang menggantung di dinding ruang tengah, berdampingan dengan diorama suasana saat peserta kongres mendengarkan lagu Indonesia Raya dengan iringan biola dari WR. Supratman. Tepat dibelakang diorama, terdapat lirik lagu Indonesia Raya dalam ukuran besar.

Koleksi lainnya adalah biola milik Wage Rudolf Supratman, foto-foto kegiatan berbagai organisasi pemuda, replika peralatan rumah tangga, seperti meja dan kursi milik Sie Kong Liong, piringan hitam lagu Indonesia Raya, vandel, bendera, kendaraan vespa dan masih banyak lagi. Total koleksi berjumlah 2.868 buah.

Dari semua koleksi, yang paling menarik tentulah biola asli milik WR Supratman yang masih terawat dengan baik. Biola yang dibeli Supratman dari WM Van Eldick pada 1914 inilah yang mengantarkannya menjadi pemain band, Black & White Jazz Band, sampai akhirnya melahirkan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Di museum yang berdiri di atas lahan seluas 1.284 meter persegi ini, pengunjung bisa melihat perjalanan organisasi-organisasi kepemudaan dalam mewujudkan kebangkitan nasional, diawali sejak berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, hingga tercetusnya Sumpah Pemuda. Kedua peristiwa besar itu pun mampu menggerakan pemuda seluruh Indonesia untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsanya dari tangan penjajah.

Untuk mengisi Hari Sumpah Pemuda yang dirayakan setiap tanggal 28 Oktober, ada baiknya Anda mengunjungi Museum Sumpah Pemuda. Dan, siap-siap menemukan kembali gelora perjuangan Pemuda Indonesia melawan segala bentuk penjajahan.

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani Mengenang September Kelam

Pukul 04.35, menjelang subuh, Sang Jenderal tertembak mati di rumahnya sendiri. Kini, rumah itu menjadi saksi bisu kekejaman Gerakan 30 September 1965/PKI.

Kediaman Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani terletak di Jalan Lembang No. D-58, Menteng, Jakarta Pusat. Rumah yang resmi menjadi Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani, pada 1 Oktober 1966 atau tepat setahun setelah terjadinya peristiwa G30 S/PKI, menyimpan kisah tak terlupakan bangsa Indonesia.

Walaupun tampak seperti rumah tua, bangunan dengan arsitektur indische ini sangat terawat, nyaman dan asri berkat pohon-pohon yang tumbuh di bagian depan dan belakang rumah. Di sisi kiri bagian luar, terlihat mobil Chevrolet tua berwarna biru milik Jenderal Ahmad Yani. Petugas museum, Sersan Mayor H. Sartono, mengajak pengunjung masuk dari arah belakang rumah.

Cerita pun bermula di ruang tamu bagian belakang. Tempat ini menjadi ruang dokumentasi berupa foto-foto lama. Diantaranya, beberapa foto rekonstruksi saat pembunuhan, data riwayat hidup. Terdapat juga, gambar penggalian dan pengangkatan tujuh jenazah Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, pelepasan jenazah dari Mabes AD, foto situasi upacara pemakaman di TMP Kalibata.

Setelah itu, pengunjung bisa melihat kamar mandi anak-anak dan dapur. Lalu, melangkah menyusuri lorong yang menghubungkan dapur dengan bagian dalam rumah, dibatasi oleh sebuah pintu kaca. Pengunjung bisa menyaksikan bukti penembakan berupa bekas peluru, menyisakan retakan dan lima lubang pada kaca.

Di depan pintu dapur inilah, Jenderal Ahmad Yani tersungkur bersimbah darah dan menghembuskan nafas terakhirnya. Lantai tempat beliau meregang nyawa pun diberi tanda peringatan.

Memasuki ruang makan dan minibar. Penataan meja, kursi, lemari, souvenir yang beliau beli saat berkunjung ke luar negeri dan piagam-piagam penghargaan, serta ucapan belasungkawa, tidak berubah, masih sama seperti dulu, saat belum menjadi museum. Foto-foto Pahlawan Revolusi di atas dinding ruang makan menjadi tambahannya.

Beranjak ke ruang khusus. Selama menjabat sebagai Menpangad, beliau menjalankan tugasnya, mengadakan briefing dengan asisten-asistennya di tempat ini. Sebuah lukisan dengan ukuran besar terpampang, menggambarkan penculikan, dinamakan Subuh yang Berdarah. Dilukis oleh Mayor Jenderal TNI Umar Wirahadi Kusumah pada 1967.

Kemudian, pengunjung dibawa menuju ruang santai. Ruangan ini menjadi tempat beliau bersantai, sambil membaca dan mengawasi putra-putrinya bermain ayunan di taman kecil, halaman belakang rumah. Di tempat tersebut juga disimpan perlengkapan golf, salah satu olahraga kegemaran almarhum, aquarium, foto-foto dan benda lainnya.

Selanjutnya, ada ruang tunggu tamu. Sebelum resmi diterima oleh pria kelahiran Jenar, Purworejo, 19 Juni 1922 ini, para tamu biasa menunggu di ruang tersebut. Selain itu, beliau turut menggunakan ruang itu untuk menerima tamu-tamu yang belum pernah datang.

Ada beberapa koleksi cenderamata dari dalam dan luar negeri. Di sebelah ruang tamu, tertata ruang ajudan. Tepat di belakang kursi ajudan, terdapat lemari dengan buku-buku bacaan tersusun rapih dan foto-foto semasa dinas.

Melangkah ke ruang tidur Jenderal Ahmad Yani. Ruang itu tidak terlalu besar, dengan kamar mandi didalamnya. Isi ruangan ini antara lain, sebuah tempat tidur, meja rias, dan dua buah lemari pakaian. Pada sudut kanan atas dinding terlihat bekas sambaran petir.

Etalase kecil memperlihatkan senjata yang dipakai untuk menembak ayah dari delapan anak ini, lengkap dengan sisa peluru. Lalu, replika baju tidur, uang gaji terakhir beliau, cincin, kacamata, keris, tongkat komando, pulpen, dan lain-lain.

Ruang terakhir adalah kamar tidur anak-anak, terdiri dari dua ruang. Lagi-lagi, kita menemukan dokumentasi foto, pakaian dinas, serta boneka-boneka pemberian beliau.

Singgah di Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani seperti membuka tabir kelam sejarah bangsa ini. Tidak menutup mata, peristiwa itu sudah menjadi bagian dari sejarah yang patut diketahui generasi muda.

Sumber: Majalah Travel Club

Kota Tua Jakarta

Di kawasan inilah awal kota modern Jakarta berada. Kawasan yang dikenal dengan Kota Tua ini melingkupi dua wilayah, Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Sebagai sebuah pusat kota pada zaman kolonial, area ini memiliki banyak bangunan megah dengan beragam fungsi mulai dari pusat pemerintahan hingga kantor perdagangan.

Kawasan seluas 846 hektare ini belakangan semakin ramai dikunjungi wisatawan terutama di sekitar Taman Fatahillah. Kawasan ini memang sejak pertama kali dibangun oleh pemerintah kolonial adalah sebagai alun-alun kota.

Di kawasan ini pun berdiri beberapa museum yang mengoleksi benda-benda bersejarah dan bernilai budaya.

Mengunjungi kawasan kota tua, wisatawan tidak hanya diajak menyaksikan bangunan-bangunan masa lalu peninggalan bangsa Belanda.

kawasan ini juga dikelilingi kampung-kampung tua yang berdiri seiring pesatnya sunda kelapa sebagai kawasan Pelabuhan. Bangunan-bangunan tempat beribadah seperti masjid dan klenteng yang sudah berusia ratusan tahun pun masih bisa disaksikan.

Sumber: Majalah Travel Club