Tag Archives: kebun teh

Objek Wisata Baru di Sumut: Kebun Teh Tobasari

Kebun Teh TobasariSimalungun – Siapa bilang Sumatera Utara tidak punya kebun teh. Pemandangan kebun teh yang menghampar hijau ala Puncak atau Lembang, juga di Tobasari, Kabupaten Simalungun, Sumut. Teh hitam-nya legit!

Usai perjalanan dari Danau Toba, bus yang membawa detikTravel dan para fotografer Garuda Indonesia Photo Contest 2013 dari lima negara, tiba di hamparan hijau bak permadani pada Selasa (27/8/2013) lalu. Kebun teh terlihat sejauh mata memandang di Desa Sarimattin, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

Konturnya memang lebih landai daripada kebun teh Gunung Mas di Puncak, Bogor. Namun tetap saja, pemandangan hijau ini membuat mata teduh. Dua mobil milik PT Perkebunan Nusantara IV memandu kami masuk ke tengah-tengah perkebunan. Para fotografer lantas menghambur keluar untuk mengabadikan lanskap hijau ini dalam gambar.

Wah, indahnya! Sekelompok ibu-ibu pemetik teh sedang mengambil pucuk daun terbaik secara manual. Sementara di kejauhan, para lelaki memakai mesin khusus pemetik teh yang lebih modern.

“Tobasari luasnya 590 hektar, semuanya blacktea,” kata Kadis Tanaman Tobasari PTPN IV, Berlindo Saragih memulai obrolan santai dengan detikTravel.

Berada di ketinggian 1.100 mdpl, saya belum merasa sejuk-sejuk amat di sini. Walaupun ini sudah merupakan daerah perbukitan. Meski demikian, pemandangan hijau memang menjadi daya tarik utama.

Tidak salah, menurut Berlindo, perkebunan Tobasari kini dipersiapkan untuk menjadi agro wisata seperti halnya di Gunung Mas, Bogor. Berlindo mengatakan, nantinya akan ada aneka kegiatan wisata yang ditawarkan kepada turis.

“Agrowisata lagi disiapkan PTPN IV. Nantinya ada tea walk, factory tour, tea morning. Penginapan juga rencananya disiapkan dari guest house punya PTPN,” jelas dia.

Berlindo dengan lancar menjelaskan proses pengolahan daun teh kepada saya. Dari data yang diberikan PTPN IV, black tea dari perkebunan Tobasari diekspor ke Eropa, Amerika, Australia, Timur Tengah dan lain-lain. Di dalam negeri, teh mereka memasok banyak produsen teh misalnya Sariwangi dan Lipton.

Kebun teh Tobasari, bisa menjadi alternatif liburan baru di Sumatera Utara. Apalagi jika nanti agrowisata yang dirancang PTPN IV sudah siap berjalan. Kebun teh ini bisa dijangkau dari Pematangsiantar sejauh 28 km dengan waktu perjalanan sekitar 45 menit.

“Sejauh ini wisatawan yang datang ke sini biasanya yang sedang melintas kemudian singgah di sini,” jelas dia.

Usai menikmati hamparan hijau teh dan berfoto-foto, saya dan para fotografer Garuda Photo Contest diajak melihat pabrik teh Tobasari. Di ruang pertemuan di pabrik itu, beraneka cangkir teh panas black tea sudah menunggu kami.

Slurrrp! Aroma dan rasa legit black tea yang baru diproses ini memang bukan main. 3 Cangkir black tea panas pun licin tandas menyempurnakan kunjungan saya ke perkebunan teh Tobasari. Sempurna!

Sumber: detikcom

Menikmati Kesejukan Perkebunan Teh Pagilarang

BUAT Anda yang gemar melakukan aktivitas tea walk bisa berkunjung ke Perkebunan Teh Pagilarang yang berada di Kabupaten Batang, Kecamatan Blado, di sebelah selatan kota Batang, Jawa Tengah.

Pemandangan alam di sekitarnya sangat mengagumkan dengan hamparan kebun teh yang menawan di Pegunungan Dieng bagian utara. Sambil menikmati paket tea walk bersama teman-teman, anda bisa sekaligus menghirup udara sejuk dan segar.

Tak ketinggalan Anda bisa menyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Pengunjung juga berkesempatan melihat secara langsung proses pembuatan teh, mulai dari pemetikan, pengolahan hingga proses pengepakan di pabrik.

Obyek wisata lain yang bisa dinikmati adalah Curung Binorong dan Curung Kembar dengan pemandangan yang indah dan alami. Selain itu hamparan kebun cengkeh di sepanjang lereng pegunungan. Ada pula obyek peninggalan sejarah seperti rumah peninggalan Belanda, kopel, kereta gantung dan bak air Sijengan.

Di kawasan perkebunan teh Pagilarang bisa dijumpai beberapa bungalow dengan kisaran harga sebesar Rp 150.000 s/d Rp 250.000. Biasanya bungalow ditempati para pecinta alam dan penggila tea walk. (*/X-13)

Pesona Ciwidey

Ciwidey, sebuah kawasan pegunungan yang terletak disebelah selatan kota Bandung. Ciwidey menyimpan sejuta pesona alam yang memikat. Mulai dari kebun Strawberry yang menggiurkan, Kawah Putih yang mempesona, Situ Patengan yang melegenda, dan masih banyak objek wisata lain yang menjadi daya pikat Ciwidey. Daerah Wisata Ciwidey adalah merupakan daerah tujuan wisata yang cukup lengkap di Bagian Selatan Kabupaten Bandung, Kawah Putih Ciwidey sudah merupakan tempat yang wajib dikunjungi dan kerap diabadikan dalam foto prawedding beberapa pasangan dari berbagai daerah.

Objek Wisata Menarik di Ciwidey:
1. Punceling (Forest Tourist)
Objek wisata Punceling dikunjungi oleh mereka yang senang dengan olah raga hiking sekaligus menikmati keindahan alamnya.
2. Kawah Putih.
Obyek wisata kawah Putih terletak di Rancabali 44 Km dari Kota Bandung, dengan pemandangan yang luar biasa indah dan eksotis. Benar-benar seperti surga yang tercecer ke bumi.
3. Penangkaran Rusa Ranca Upas.
Di Ranca Upas terdapat penangkaran rusa dengan pemandangan hutan alam dan hutan tanaman serta area perkemahannya. Bumi Perkemahan Ranca Upas dapat dicapai dengan kendaraan roda empat dan roda enam. Jarak tempuh dari Pangalengan 15 km dan dari Bandung 56 km dengan kondisi jalan beraspal.
4. Pemandian Air Panas Alam Cimanggu
Kolam pemandian air panas Cimanggu berada pada ketinggian kurang lebih 1.100 m dpl yang di sekitarnya terdapat hamparan perkebunan teh yang luas dan dapat ditempuh dari kota Bandung melalui jalur Ciwidey Pangalengan. Berjarak hanya 45 Km dari Bandung.
5. Walini, Pemandian Air panas Alam
Walini yang pula memanfaatkan melimpahnya sumber air panas alam, menyediakan kolam renang air panas. Objek wisata ini berada dilingkungan perkebunan teh yang berhawa sejuk nan segar, Berlokasi di daerah perkebunan Kebun Teh Walini, tidak jauh dari Danau Situpatengan.
6. Situ Patenggang (Tourist Forest and Water Tourist)
Terletak diantara perkebunan teh Rancabali dan kawasan hutan Rancabali, Situ Patenggang benar benar memanfaatkan keindahan alam sebagai daya tariknya. Situ Patengan terletak di Perkebunan Rancabali Kecamatan Rancabali 47 Km sebelah selatan Kota Bandung.
7. Wisata Agro, Perkebunan Teh Rancabali
Keindahan panorama perkebunan teh Rancabali merupakan daya tarik tersendiri daerah wisata Ciwidey. Hamparan pepohonan teh yang tertata rapih, dengan udara yang sejuk segar menjanjikan memberikan kesan bagi siapa saja yang berkunjung. Perkebunan Rancabali Kecamatan Rancabali 47 Km sebelah selatan Kota Bandung.
8. Kampung Strawberry
Wisata Agro petik Strawberry di lahan perkebunan. Berlokasi di Tanjakan Panjang, Desa Panundaan (Depan Hotel Abang)
9. Gunung Patuha
Gunung Patuha, bisa ditempuh dengan sekitar dua jam perjalanan mobil dari Bandung, masyarakat setempat masih melakukan ritual tradisional di area Kawah Putih sebagai bagian dari warisan budaya leluhur.
10. Kawah Cibuni
Merupakan salah satu dari objek-objek wisata yang berada di daerah Ciwidey. Berjarak 3 km dari pintu dalam. Kawah Cibuni merupakan tempat terujung dari daerah wisata Ciwidey.

Info Retribusi
Untuk retribusi di Kawah Putih adalah:
. Tanda masuk per orang Rp.3.500,-
. Motor Rp.1.000,-
. Sedan dan mini bus Rp.3.000,-
. Bus / Truck Rp. 5.000,-

Untuk retribusi di Ranca Upas adalah;
. Tanda masuk per orang Rp. 3.500,-

Untuk retribusi di Situ Patengang adalah:
. Tanda masuk per orang Rp.4.000,-

Hotel :
Prana Tirta
Jln Rancawalini Ciwidey Telp. 022-5927050, Rancabali, Telp. 022-5927050
Cimanggu Cottage Jl. Raya Rancabali Ciwidey
Wisma Palapa Jl. Raya Soreang – Ciwidey Telp. 022-5895445
Hotel Lembah Gembyang Telp. 022-5928998
Pondok Selly Jl. Raya Ciwidey Telp. 022-5928260
Sukarasa Endah Jl Raya Pasir Jambu Telp. 022-5928311
Pondok Unyil Jl. Baru Tunggul Telp. 022-5928250
Eco Hotel Jl. Baru Tunggul RT 004/01 Telp. 022-5928082
Kampoeng Strawberry, Bungalow dan Restaurant Rancabali Km. 07 Barutunggul Alam Endah
Telp. 022-859 20550
Sukarasa Indah Hotel Jl. Ciwidey Telp. 022-5928301
Tirta Selly Hotel Jl. Ciwidey Telp. 022- 5928119
Kampung Pa’go Jl Soreang – Ciwidey Km 25
Telp 022- 5928062
Patuha Resort & Pemandian Cimanggu, Jl. Raya Soreang Ciwidey Km 25 Kabupaten Bandung, Telp. 022-5928062
Perhutani KPH Bandung Selatan, Jl. Cirebon No. 4 Bandung Telp. 022-720 8310
Hotel Abang Jl. Raya Ciwidey No. 500 Km.2, Telp. 022-592 8235 – 592 8429 Bpk. Acep: 081 321 607 257
Argapuri Resort Jl. Raya Gambung Km. 6 Pasir Jambu, Telp. 022-592 8816-18, 592 8200
Hotel Sindang Reret Jl. Raya Ciwidey Km 27 Kab. Bandung Telp. 022-592 8205, 022-237602
Wisma PTPN VIII Telp 022-7830826, Fax 022-7830827.

Rute dari Jakarta
1. Jakarta-Cipularang- Keluar di Tol Kopo
Sebenarnya, ini rute yang paling pendek, tapi siap-siap menghadapi kemacetan di sepanjang Jalan Kopo. Jalan yang hanya beberapa kilometer membutuhkan waktu hampir 2 jam untuk melewatinya. Akan lebih aman bila melintasi daerah ini pada malam hari, saat Pasar Kopo sudah sepi. Atau luangkan waktu untuk mempelajari rute alternatif lainnya.
2. Jakarta-Cipularang-Tol Buah Batu menuju Banjaran – Soreang – Ciwidey
3. Jakarta-Leuwi Gajah – Soreang – Ciwidey

Sumber: CBN

Hijaunya Wonosari Birunya Arjuno

kebun teh arjunoSudah menjadi pengetahuan umum bahwa kawasan Malang dan sekitarnya merupakan daerah yang kaya objek wisata di Jawa Timur. Sebut saja Candi Singosari, Pulau Sempu, Peziarahan Gunung Kawi, Air Terjun Pujon, dan Waduk Karangkates.

Itu belum termasuk objek wi­sa­­ta di kota Batu yang hanya 15 km dari pusat Kota Ma­lang. Kota Malang sendiri merupakan kota tua yang sangat nyaman untuk dikunjungi.

Di antara semua itu ada satu destinasi cukup berkesan di hati, mes­ki belum sepopuler objek wisata lain. Tempat itu ialah Agrowisata Kebun Teh Wonosari. Letaknya di kaki Gunung Arjuno yang bisa dicapai dari Lawang, Malang sebelah utara. Lokasinya sejuk, tenang, dan relatif tidak seramai destinasi lain, misalnya jika dibandingkan dengan Pemandian Selekta, Batu.

Ketika berkunjung ke Malang belum lama ini, saya bersama rombongan memulai perjalanan dari Kepanjen yang berada di selatan Kabupaten Malang. Kami mesti melewati Kota Malang untuk mencapai Lawang. Tapi kami tak mampir di kota sejuk itu, sebab sudah siang, dan kami pun sudah menyusun rencana untuk mampir saat pulang.

Sekitar satu jam menyusuri jalan Malang-Surabaya, kami sampai di Singosari. Dari sana, ada jalan bersimpang ke kiri, tepatnya ke pebukitan Lawang. Jalanannya berliku, sempit dan bertanjakan tajam. Tak jarang kami berpapasan dengan bus pariwisata berukuran besar. Alhasil, perjalanan sepanjang 8 km itu cukup mendebarkan. Oya, bagi yang tidak membawa kendaraan sendiri, tersedia jalur angkutan umum Lawang-Wonosari dengan tarifnya Rp 3.000/orang. Jika datang berombongan, bisa mencarter mikrolet dari Terminal Lawang, sekitar Rp 25.000 sekali jalan.

Perjalanan terasa berbeda ketika makin ke atas, udara terasa makin dingin menerpa kulit. Kami membuka kaca mobil lebar-lebar dan mengisi paru-paru dengan udara gunung yang bersih. Kebun buah naga milik penduduk tampak mulai berbuah dan sebagian sudah dipanen. Betapa menggembirakan: di daerah sejuk begini, villa-villa dan rumah mewah tak mencolok mata, untuk mengatakannya sedikit. Setidaknya jika saya banding-bandingkan misalnya dengan daerah pebukitan sekitar Bandung yang diserbu para pengembang yang membangun villa-villa mewah.

Sebelum sampai ke gerbang utama Agrowisata Wonosari, kami dipungut restribusi jalan sebesar Rp 1.000 oleh petugas LPMD Desa Ketindan. Barulah ketika hendak memasuki kawasan PTPN XII kami membayar karcis Rp 7.500/orang. Begitu mobil parkir, kami segera berhamburan ke luar menikmati kesegaran alam.

Kesegaran pertama jelas dari cuacanya yang sejuk (19-26 derajat Celsius), maklum terletak antara 950-1.250 di atas permukaan laut (dpl). Kesejukan berikutnya berasal dari kehijauan pohon-pohon, aneka bunga, bahkan rumput di tepi jalan. Ada juga deretan cemara yang pucuknya runcing menusuk langit. Semuanya hijau berseri.

Kami tidak langsung menuju kebun teh, melainkan mampir di pabrik pengolahannya terlebih dulu, takut sudah tutup kalau kesorean. Sayang, kami tetap tidak diizinkan masuk dengan alasan waktu berkunjung ke pabrik sudah habis. Biasanya, setiap rombongan yang masuk dipungut Rp 50.000 dengan anggota rombongan sekitar 10-12 orang.

Akhirnya, kami harus puas menikmati aktivitas penimbangan daun teh yang dilakukan sejumlah karyawan di pintu gudang pabrik. Daun teh yang berada dalam karung nilon itu, dicatat jumlah beratnya, lalu ditaruh di atas lori gantung yang berputar membawanya masuk ke dalam pabrik untuk selanjutnya diproduksi menjadi teh kemasan dengan merk dagang ”Teh Rolas”.

Setelah puas menikmati aktivitas penimbangan daun teh, kami menuju areal perkebunan teh. Kami melewati rumah-rumah dinas karyawan perkebunan Persero milik negara yang berkesan damai itu. Tidak jauh dari situ, terdapat taman yang luas, dilengkapi berbagai fasilitas seperti kolam pemandian air panas dan permainan anak.

Ada pula penyewaan kendaraan berupa trailer antik, untuk mengelilingi perkebunan. Ongkosnya Rp 20.000 sekali jalan. Pilihan lainnya adalah naik kuda dengan ongkos Rp 15.000 sekali jalan. Atau bisa pilih angkutan massal, yakni kereta kelinci, yang memutari kawasan perkebunan dengan sirinenya yang khas. Kami berjalan kaki saja, sebab dalam cuaca dingin begini lumayan memperlancar aliran darah.

Sekitar 100 meter berjalan, akhirnya kami disambut tanaman teh yang tingginya sama rata. Menghampar luas seolah karpet hijau menyelimuti perbukitan. ”Karpet hijau” itu tampak mengikuti kontur tanah yang bergelombang, membuat pemandangan tidak monoton. Mata diajak mengembara mengikuti lekak-lekuknya, sehingga imajinasi terasa ikut naik-turun diayun ”gelombang hijau” yang lembut. Imajinasi kian melambung saat mata tanpa terasa masuk ke ”gelombang biru” berupa lereng dan puncak gunung. Ya, Gunung Arjuno setinggi 3339 M-dpl itu memang menjadi latar yang anggun bagi Kebun Teh Wonosari.

Belum habis rasa takjub diaduk kehijauan tanaman teh, kami sudah pula dipukau birunya puncak Arjuno. Puncak itu terasa dekat, seolah dapat digapai, meski tentu saja tidak dapat kami sentuh. Sayang, awan putih-kelabu cukup tebal menyelimuti sebagian pundak gunung, pertanda mendung. Hujan memang sering turun di sana, karenanya beberapa di antara kami sudah sejak tadi mengepit payung. Tapi, sebelum hujan benar-benar turun, masih cukup waktu menikmati puncak Arjuno yang tetap terbuka, menantang. Puncak biru dan pundak yang diselimuti awan kelabu memberi gradasi unik bagi warna hijau kebun teh Wonosari. Jadilah saya merapal kata-kata,”Hijaunya Wonosari, birunya Arjuno, menyatu sejodoh menenteramkan hati, hmm…”

Cukup lama kami larut dalam kedamaian, diiringi kicau burung dari atas pepohonan, sebelum akhirnya kami melanjutkan penyusuran. Kami ikuti sebuah jalan aspal yang cukup lebar membelah hamparan kebun. Di kiri-kanannya tumbuh subur pohon sengon dan lamtoro. Beberapa jenis bunga tumbuh teratur di tepi jalan, menambah asri suasana. Tak jarang kami berpapasan dengan pengunjung yang memilih naik kuda dan sebagian naik kereta kelinci. Rombongan anak-anak, juga orang tua mereka serta pasangan remaja, tampak ceria di atas kereta mini itu. Saya mencari-cari perempuan pemetik teh, sayang tak seorang pun yang terlihat. Kepada seorang petugas yang sedang membersihkan kandang kuda, saya bertanya kenapa. Ternyata karena hari sudah sore. Jadwal memetik teh, katanya, dimulai pukul 7 pagi dan selesai pukul 2 siang. ”Hari Minggu libur,” jelasnya ramah.

Dia malah mengajak kami melihat tandon penampung air hujan cukup besar di bawah tanah. Airnya dipakai untuk berbagai keperluan. Lumayan, hati jadi sedikit terhibur. Akhirnya kami duduk-duduk di atas sebuah batu besar di tepi jurang yang sekaligus melempangkan panorama cantik ke arah kota dan perkampungan di bawah sana.

Setelah puas bercengkerama, kami berangsur turun ke tempat parkir. Namun tunggu dulu! ”Perut sudah pegal nih!” seru seorang teman serombongan. Kami bergerak cepat ke kompleks kedai, dekat taman bermain. Kopi, mie rebus, dan jagung bakar, cukuplah….(73)

Minim Informasi

DI tengah hamparan kebun teh, ada sebuah plang dari papan, dengan tiga permukaan dilapisi seng bercat biru-putih. Setiap permukaan ditulisi keterangan tentang riwayat singkat kebun teh dalam sejumlah bahasa. Ada bahasa Inggris, Belanda, Indonesia, bahkan bahasa Jawa, lengkap dengan aksaranya.

Dalam bahasa Belanda tertulis,”De aahplanting thee het berste begin op deplantage Wonosari in 1910 door N.V. Cultuur Matschapy Lawang”. Yang tak bisa berbahasa Belanda, cukuplah membaca tulisan bahasa Indonesia­nya: ”Teh ini pertama kali ditanam pa­da tahun 1910 oleh N.V. Cultur Masca­pay Lawang.”

Hmm, cukup tua dan pastilah me­nyim­pan banyak sejarah. Dari seorang pengelola warung di sekitar situ, saya mendapat cerita bahwa pada zaman Jepang (1942-1943), kebun itu pernah ditanami singkong untuk kebutuhan pangan militer. Bahkan jauh sebelum itu, tanaman teh pernah diganti dengan kina. Saya pun membayangkan para pemetik teh, buruh pabrik serta hubungannya dengan mandor dan kekuasaan. Sayang, tidak ada brosur penjelas kesejarahan itu lebih lanjut.

Ungkapan ”sayang” memang berulang kali terlontar dari mulut kami saat berbicara mengenai Kebun Teh Wono­sari ini. Salah satunya karena tak ada aktivitas perkebunan pada hari Minggu, baik aktivitas memetik teh mau­­pun kegiatan pabrik. Padahal, Minggu merupakan puncak kunjungan wisatawan (kebanyakan lokal) yang datang berombongan dengan keluarga. Akibatnya, banyak yang kecewa karena tak bersua aktivitas memetik teh, apalagi melihat proses mengolah daun ajaib itu menjadi produk konsumsi.

Sebagai tempat yang sudah secara sadar menjadi pusat agrowisata, keluhan tersebut tentu wajar. Artinya, pengunjung ke sana tidak hanya untuk menikmati keelokan perkebunan, namun juga untuk menambah pengetahuan, khususnya mengenai seluk-beluk produksi teh. Apakah mungkin mengganti hari libur? Entahlah.

Saat kami berkunjung, hari itu bukanlah hari Minggu. Meski begitu, kami tetap kecewa karena tak bisa langsung menyaksikan aktivitas pabrik. Alasannya, kedatangan kami setelah jam yang dijadwalkan untuk berkunjung. Sistem yang berkesan ”kaku” itu mungkin perlu diimbangi dengan sedikit kompromi, sebab di samping pengumuman soal jadwal tidak terlalu jelas, belum tentu juga kami datang dalam waktu dekat lagi. Begitu pula saat ingin membeli atau sekadar melihat-lihat produk teh di sebuah bangunan khusus, kami hanya bisa menyaksikan bungkus-bungkus teh dari balik kaca etalase. Sebab pintunya terkunci dan penjaganya entah ke mana.

Kata ”sayang” yang lain mungkin dapat ditujukan pada kekurangan informasi soal fasilitas dan potensi wisata kawasan ini. Tidak ada pemandu, brosur atau papan petunjuk. Saya sempat penasaran ingin tahu, apakah dari sini ada jalur pendakian ke Gunung Arjuno. Informasi yang lumayan banyak baru bisa diperoleh kalau seseorang mau browsing di internet. Ternyata, kawasan seluas 1.144,31 hektare itu kaya potensi dan fasilitas. Selain memiliki taman bermain anak dan kolam air panas, juga tersedia ada lokasi outbond, tempat berkemah, penginapan (homestay), minimarket, kebun binatang mini, kebun ceri, jalur sepeda gunung, dan jalur pendakian ke Arjuno serta aula pertemuan.

Tempat itu pun berpotensi jadi ajang praktik dan penelitian mahasiswa atau para peminat teh. Bisa pula mengembangkan wisata satwa dan flora, seperti pengamatan burung atau aneka bunga. Bahkan beberapa jurang saya bayangkan sangat menantang untuk wisata terbang layang (gantole). Tantangan itu sekaligus tertuju kepada pihak PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII sebagai pengelola Agrowisata Kebun Teh Wonosari. Dan saya percaya, mereka bisa.

Sumber: Suara Merdeka

Pilihan Baru, Kebun Teh Pangheotan

Kantor yang menyatu dengan tempat pengolahan.
Kantor yang menyatu dengan tempat pengolahan.

Kebun teh sejak dua dekade belakangan ini telah menjadi salah satu pilihan bagi warga kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bandung untuk “memburu” udara segar. Kebun Teh Pangheotan di Kebun Sukawana, Bandung Barat, bisa menjadi pilihan lokasi baru jika bosan ke Kebun Teh Gunung Mas dan Kebun Teh Malabar.

Villa Merah peninggalan administratur Belanda, disewakan untuk umum.
Villa Merah peninggalan administratur Belanda, disewakan untuk umum.

Tanaman teh menghampar bagai permadani raksasa, mengikuti kontur tanah berbukit-bukit! Kebun Teh Pangheotan memang terhampar di daerah bertopografi berbukit-bukit, dengan kemiringan lereng 10 sampai 85 derajat, di sebelah timur Gunung Burangrang dan Tangkuban Perahu.

Pemandangan itu mulai membius mata ketika memasuki kawasan Kebun Pang-heotan, Afdeling Sukawana, salah satu kebun di bawah Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Kontur tanahnya yang tajam dan terjal di beberapa bagian, mengingatkan pada pemandangan di Kebun Teh Pagilaran, Batang, Jawa Tengah.

Kesejukan terasa begitu membuka kaca kendaraan saat memasuki kawasan kebun. Bisa dimaklumi. Kebun Pang-heotan berada di ketinggian 600 meter sampai 1.250 meter di atas permukaan air laut, dengan temperatur harian 22 derajat sampai 26 derajat Celcius.

Sejauh mata memandang, hanya kehijauan yang tampak. Di sela-sela hamparan teh, bisa dijumpai pohon suren, kaliandra, sengon, akasia, atau manee, ditanam acak, yang bukan saja berfungsi sebagai “pemecah” angin, namun juga penjaga kelembapan. Manee juga berfungsi sebagai “pengusir” hama.

Di tempat-tempat tertentu, terutama di dekat kompleks perumahan administratur kebun, terlihat jajaran cemara. Pemandangan seperti itu, tampaknya menjadi ciri khas kompleks perumahan petinggi kebun peninggalan Belanda, seperti bisa dilihat di Kebun Teh Malabar dan Gunung Mas.

Daya tarik utama Pang-heotan adalah udara segar tak terbatas saat melintasi jalan-jalan setapak di antara pepohonan teh yang masih dilekati embun pagi. Sunyi. Nyaris tak ada deru kendaraan roda empat melintas, kecuali truk-truk pengangkut pemetik teh dan pengangkut teh pada jam-jam tertentu. Juga tak terdengar raung suara kendaraan roda dua, berlalu lalang seperti di jalan-jalan di kota-kota besar.

Tenang suasananya. Hanya terdengar desau pohon-pohon teh bergesekan dengan tubuh-tubuh yang melintas di sela-selanya. Suasana seperti itu yang direguk kurang lebih 250 peserta Tiwok Suara Pembaruan, Minggu, 8 November pagi.

Acara intinya memang jalan-jalan di sela-sela pepohonan teh. Tiwok, dari kata tea walk, dipopulerkan Bondan Winarno-Rudy Badil-almarhum Norman Edwin, dengan menyelenggarakan Tiwok Mutiara pada 1982. Jika biasanya orang hanya bisa menikmati pemandangan kebun teh dari jalan raya dalam perjalanan Jakarta – Bandung lewat Puncak Pass, dengan tiwok orang diajak masuk dan merasakan kesejukan kebun teh, serta melihat lekukan jalan raya dari areal kebun teh.

Acara jalan-jalan di Kebun Pangheotan dimulai pukul 09.15, diawali dari tempat penimbangan teh. Peserta jalan-jalan sekaligus bisa menyaksikan proses pengolahan teh. Dua rute dipersiapkan, sekitar empat kilo untuk rute pendek, dan sekitar delapan kilo untuk rute panjang.

Sayang sekali, beberapa lintasan terasa sangat berdebu. Selain karena lama tidak terguyur hujan, juga lintasan itu acap dipakai ajang motocross. Jejak-jejak roda motor masih bisa terlihat jelas di sana sini.

Kebun Belanda

Mereguk udara bersih di antara pepohonan teh.
Mereguk udara bersih di antara pepohonan teh.

Bagi warga Bandung dan sekitarnya, Kebun Teh Pang-heotan di Sukawana, di Kabupaten Bandung itu, memang sudah dikenal sebagai tempat refreshing karena panorama dan kesejukannya. Selain berjalan-jalan di kebun teh, warga Bandung dan sekitarnya juga memanfaatkan lokasi itu untuk kegiatan bersepeda (mountain bike).

Kebun Pangheotan di Sukawana terletak di Kampung Kancah Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Bandung Barat. Jaraknya 34 kilometer dari Kota Bandung, ke arah barat laut. Kebun Pang-heotan didirikan pada 1908 oleh Perusahaan Hindia Belanda, dan sampai dengan periode 1957, berada di bawah penguasan HIL Tiedeman & Van Kerchem, yang berkedudukan di Bandung. Membuka-buka catatan sejarah, tercatat dua administratur Belanda yang bertugas di kebun itu, yakni Jan Willem Ruyssenaers (1927 – 1941) dan Albert Johan Ruyssenaers (1941 – 1957).

Pada 1958, kebun itu dinasionalisasi menjadi milik Pemerintah RI, dengan nama Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Lama, lalu menjadi PPN Baru, PNP, dan pada 31 Juli 1971 dengan akta notaris HGS Loemban Tobing SH, berubah lagi menjadi perusahaan perseroan PT Perkebunan XII yang berkedudukan di Bandung. Sejak 11 Maret 1996, PTP XII dilebur bersama PTP XI dan PTP XIII menjadi PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII).

Kebun Teh Pangheotan dikenal sebagai penghasil teh hitam. Seperti bisa dibaca dari alamat webnya, Kebun Pang-heotan memiliki dua pabrik pengolahan teh hitam, yaitu Pabrik Teh Ortodoks Pang-heotan dengan kapasitas olah 6,5 ton teh kering per hari dan Pabrik Teh CTC Sukawana dengan kapasitas olah 2,6 ton teh kering per hari. Total kedua pabrik tersebut dapat mengolah 9,1 ton teh kering atau lebih kurang setara dengan 42 ton pucuk segar setiap harinya.

Kebun Teh Pangheotan dengan kontur berbukit-bukit.
Kebun Teh Pangheotan dengan kontur berbukit-bukit.

Suasana Pangheotan memang tidak seramai Kebun Teh Malabar. Jangan pernah membayangkan sekaligus berwisata kuliner di tempat itu, seperti di Kebun Teh Malabar. Perkebunan itu hanya menawarkan panorama asri.

Ada beberapa pilihan tempat beristirahat seusai jalan-jalan. Yang pertama di rerumputan di halaman Villa Merah. Tempat itu menawarkan pemandangan kejauhan paling baik jika cuaca cerah. Villa Merah adalah rumah peristirahatan bercat merah dengan empat kamar tidur, berkapasitas 15 orang, yang dipagari pohon cemara dan dihiasi gerumbulan kaktus raksasa di halaman depan.

Tempat kedua, rumah dua kamar, juga bercat merah, tak jauh dari pabrik pengolahan teh. Sama dengan Villa Merah, rumah itu juga dipagari cemara dan dihiasi gerumbulan kaktus raksasa di depannya.

Di rumah itu pula para peserta Tiwok Suara Pembaruan berkumpul seusai jalan-jalan di kebun teh. Namun, bukannya beristirahat, sebagian peserta yang masih punya energi untuk berjoget, mengikuti alunan lagu yang dilantunkan penyanyi dengan iringan organ tunggal. Makan siang bersama mengakhiri acara jalan-jalan di kebun teh siang itu. [Suara Pembaruan/Sotyati]

Perkebunan Teh Gunung Mas – Puncak

kebun-teh-gunung-masSaat menyusuri jalan raya puncak, tepatnya di kawasan kebun teh, cobalah Anda sesekali melihat ke arah perkebunan. Di sana sering terlihat para pemetik teh sedang menjalankan pekerjaannya. Mereka biasanya terlihat di tengah-tengah hamparan kebun teh, walaupun dikejauhan yang terlihat hanya bagian kepala dan topi capingnya saja.

Para pemetik teh ini berkisar antara 15 sampai 20 orang yang dihimpun dalam satu grup. Tugasnya hanya memetik daun teh pada bagian atasnya saja, kemudian daun-daun tersebut dimasukkan ke dalam keranjang yang ditaruh di belakang tubuhnya.

Pemandangan pemetik teh ini memang salah satu obyek wisata Continue reading Perkebunan Teh Gunung Mas – Puncak

Kebun Teh Dayeuh Manggung

dayeuh-manggungSUASANANYA jauh berbeda dengan perkebunan teh Gunung Mas di Puncak, Jawa Barat. Perkebunan teh Dayeuh Manggung di Garut lebih sepi, lebih tenang.

Pemandangan sungguh indah pagi itu. Matahari mulai bersinar, mengusir mendung, bahkan gerimis tipis yang sejenak turun pada pagi hari. Gunung Cikuray yang berketinggian sekitar 1.800 meter di atas air laut di kejauhan mulai menampakkan wajahnya. Continue reading Kebun Teh Dayeuh Manggung