Tag Archives: makam

Ada Kembaran Taman Prasasti Jakarta di Surabaya

Makam Belanda PenelehSurabaya – Suasana unik Taman Prasasti di Jakarta Pusat membuat siapapun jatuh hati. Bukan cuma Jakarta, Surabaya juga punya taman yang mirip dengan Taman Prasasti,lho. Makam Belanda Peneleh namanya. Penasaran?

Situs sejarah seringkali menjadi incaran para traveler saat berlibur ke sebuah daerah. Nah, Surabaya punya yang keren yaitu Makam Belanda Peneleh. Makam tua ini berada tepat di belakang Puskesmas Peneleh. Peneleh merupakan salah satu daerah yang masih asli dan belum banyak mendapat perubahan di Kota Surabaya.

Makam ini dibangun pada tahun 1814, dengan nama De Begraafplaats Peneleh Soerabaja. Kompleks pemakaman ini diperuntukkan bagi tuan dan none Belanda yang tinggal di Surabaya, pada masa penjajahan kala itu.

Saat masuk lebih dalam ke area pemakaman, suasananya sangat berbeda. Traveler akan terbawa suasana, seolah-olah hidup kembali di zaman penjajahan Belanda. Detil ornamen yang bergaya klasik menjadikan makam ini sebagai tempat paling top untuk foto-foto. Meskipun kondisinya saat ini kumuh dan memprihatinkan, makam ini masih menyisakan sisa-sisa arsitektur bangunan zaman dahulu.

“Sekarang makamnya sudah tidak terawat. Tapi tetap banyak yang datang untuk foto-foto,” kata seorang warga lokal Surabaya, Edo saat dihubungi detikTravel, Rabu (13/3/2013).

Suasana tempo dulu yang terasa, membuat makam ini sering dijadikan untuk lokasi pre-weeding. Tak jarang, sering pula anak-anak sekolah datang ke pemakaman yang turut menjadi saksi sejarah Kota Surabaya ini.

Tidak jauh berbeda dengan Taman Prasasti, makam Belanda ini juga dihiasi dengan patung-patung. Sayang, sebagian besar patung tersebut sudah tidak utuh. Bila saja masih terawat dengan baik, kondisi makam ini sebenarnya tertata dengan rapi. Bahkan lengkap dengan nomor seri di setiap nisannya. Seluruh makam di sini terbuat dari logam dan tembok dari batu.

Sebenarnya, untuk masuk ke dalam makam Belanda ini traveler tidak dipungut biaya. Traveler hanya perlu membayar untuk parkir kendaraan. Akan tetapi, alih-alih untuk biaya retribusi perawatan makam, traveler dikenai tarif seikhlasnya.

“Gratis, tapi kalau foto-foto harus bayar. Untuk yang pre-weeding biasanya harus membayar sekitar Rp 200 ribu. Kalau hanya foto-foto bisa bayar Rp 50 ribu,” tambah Edo.

Sejak tahun 1955, Makam Belanda Peneleh sudah ditutup. Kini hanya menjadi salah satu destinasi wisata saja.

Miris, keberadaannya yang dekat dengan perkampungan penduduk membuat makam ini terkadang berfungsi sebagai tempat warga menjemur pakaian. Sungguh disayangkan, padahal ini adalah makam tertua di Jawa Timur dan menjadi bukti peninggalan sejarah keberadaan Kota Surabaya.

Sumber: detikcom

Sunan Giri dan Kisah Cinta Putri Campa di Gresik

Makam Sunan GiriGresik di Jawa Timur tak hanya jadi saksi bisu terbentuknya pusat kekuasaan yang dipercaya sebagai Kerajaan Sunan Giri. Kota ini juga menyimpan kisah kasih antara Sunan Giri dan Putri Campa asal Vietnam.

Gresik merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang dikenal masyarakat karena sektor perindustriannya yang maju. Dulu di daerah yang mendapat julukan Kota Pudak ini pernah berdiri Kerajaan Islam tertua di Pulau Jawa.

Meski tinggal di daerah yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Gresik, namun rumah kami itu berada di pinggiran Kota Gresik. Lokasi ini justru lebih dekat dengan wilayah Sidoarjo maupun Surabaya.

Untuk mencapai Kota Gresik, kami masih harus menempuh perjalanan sekitar 35 kilometer lagi. Kami pun menempuh jalur melewati pinggiran kota yang meski terasa agak jauh. Tapi karena panorama di sepanjang usaha pertambakan warga Desa Cerme yang dilalui terlihat menarik, saya dan kerabat lain pun merasa betah saja berkendara.

Burung-burung bangau terbang ke sana ke mari. Lalu mereka hinggap dan terbang kembali di pohon-pohon yang berada di sekitar tambak, sambil sesekali mencari ikan-ikan kecil.

Sungguh perjalanan ke Kota Santri ini terasa lebih menyenangkan. Apalagi setelah kami berhasil membantu seorang keponakan untuk bisa diterima bekerja, di salah satu perusahaan mie di kota itu.

Sepulang dari mengunjungi keponakan yang punya rumah kontrakan di sekitar pabrik, saya dan keponakan pun jalan-jalan. Kami mengunjungi beberapa situs sejarah di Kota Gresik, antara lain Situs Giri Kedaton, Makam Sunan Giri dan Makam Putri Campa.

Giri Kedaton, begitu nama kerajaan Islam yang ada di Gresik. Hingga kini, kerajaan ini masih bisa turis lihat bukti-bukti keberadaannya di daerah Kebomas, Gresik. Kerajaan ini pun menjadi objek wisata penting bagi kota ini.

Sebagian ulama berpendapat bahwa Giri Kedaton merupakan pesantren yang didirikan oleh Sunan Giri. Giri Kedaton berada di atas sebuah bukit yang tinggi di Kota Gresik, sesuai namanya giri yang berarti bukit dan kedaton yang berarti kerajaan.

Pada kurun waktu tertentu, di kawasan itu juga pernah terjadi suksesi kepemimpinan. Ini adalah suksesi pemerintahan para sunan sebagai keturunan Sunan Giri (Dinasti Giri). Karena itu, masyarakat Gresik umumnya menganggap Giri Kedaton sebagai Kerajaan Islam yang didirikan oleh Sunan Giri, atau yang memiliki nama lain Raden Paku itu.

Penelitian yang dilakukan terhadap situs makam Sunan Giri dan Giri Kedaton pun dilakukan. Hasilnya menyebutkan bahwa pada tahun 1470 telah berdiri Kerajaan Islam di sebuah perbukitan di kawasan Kebomas, Gresik. Hal ini terjadi sebelum masa pemerintahan Raden Fattah dari Kerajaan Demak pada tahun 1517.

Dengan demikian para ahli sejarah menyimpulkan bahwa Giri Kedaton merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Hal ini sekaligus merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Islam Demak.

Bagi para wisatawan yang ingin mengunjungi situs Giri Kedaton dan Makam Sunan Giri, perjalanan bisa dilakukan dari Terminal Kota Bunder di Gresik. Turis bisa naik angkutan umum dengan tarif Rp 2.000 menuju kawasan Kebomas. Â

Antara makam Sunan Giri dan situs Giri Kedaton letaknya terpisah dengan jarak kurang lebih 500 meter. Komplek makam Sunan Giri juga berada di perbukitan.

Untuk memudahkan jalan menuju makam dibuatlah jalan tangga berundak. Sementara itu pipa pegangan yang kokoh ditempatkan pada bagian tengah antara tangga naik dan turun.

Di sebelah kanan dan kiri tangga jalan banyak orang berjualan beraneka jenis kebutuhan umat muslim. Mulai dari pakaian muslim, perlengkapan salat, buku-buku Islam, kitab suci, kurma, alat-alat kesenian Islam ada di sana. Tak ketinggalan makanan khas Kota Gresik yakni jenang ayas, pudak, nasi krawu serta minuman legen tersedia di sana.

Makam Sunan Giri dan keturunannya terletak dalam sebuah bangunan. Khusus pada makam Sunan Giri terdapat keunikan dalam arsitek bangunannya.

Bangunan kayu mengelilingi makam berukir indah. Bangunan ini tampak menarik dengan warna coklat keemasan, dan ada sedikit warna merah di situ. Seni ukir dan pahatan kayu menunjukkan pengaruh agama sebelum Islam.

Di bagian pintu masuk makam terdapat sepasang patung berukiran kayu yang menyerupai ular naga. Ketika kami mintai keterangan, juru kunci makam Sunan Giri mengatakan setiap hari makam ini ramai dikunjungi peziarah. Bahkan tak sedikit pengunjung datang dari luar Kota Gresik.

Pada hari-hari tertentu seperti malam Jumat, peziarah yang berkunjung lebih banyak lagi. Tidak jauh dari makam Sunan Giri, kira-kira 200 meter sebelah kanan komplek makam, terdapat tempat persemayaman keturunan sunan yang lain, yakni Sunan Prapen.

Masih di Kecamatan Kebomas, Gresik tepatnya Desa Sidomukti Gang XV terdapat Giri Kedaton. Letaknya kira-kira beberapa ratus meter dari makan Sunan Giri. Menuju situs ini pengunjung harus berjalan menaiki tangga berundak yang terbuat dari semen.

Situs Giri Kedaton berada jauh lebih tinggi dari makam sunan. Dari tempat yang tinggi ini, para pengunjung bisa menyaksikan indahnya pemandangan Kota Gresik. Tak ketinggalan merasakan tiupan angin yang sejuk sepoi-sepoi basah.

Menurut cerita juru kunci situs, dulu sebelum mendirikan Giri Kedaton, Sunan Giri harus bertafakur atau berserah diri kepada Tuhan. Ia bertafakur selama 40 hari 40 malam. Â

Ayahanda Sunan Giri, yakni Maulana Ishak memerintahkan beliau agar mendirikan pesantren. Lokasinya berada di daerah yang tanahnya sama dengan segumpal tanah yang diberikannya kepada Sunan Giri.

Segumpal tanah pemberian Maulana Ishak ternyata cocok atau sesuai dengan kawasan perbukitan Desa Sidomukti, Kebomas, Gresik. Di tempat ini Sunan Giri merasakan kedamaian. Akhirnya beliau memutuskan untuk mendirikan pesantren atau kerajaan yang kelak bernama Giri Kedaton.

Di komplek situs Giri Kedaton pengunjung bisa menyaksikan bukti-bukti lain tentang keberadaan kerajaan ini di masa silam, antara lain:Â makam Raden Supeno putra pertama Sunan Giri, kolam sebagai tempat berwudhu sunan dan santrinya, makam para kerabat dekat sunan, bebatuan yang diyakini sebagai tempat berkumpul dan berunding para sunan keturunan Sunan Giri.

Situs Giri Kedaton sendiri merupakan bangunan yang terbuat dari batu andesit bertingkat berundak-undak. Ada sekitar lima undakan di sana. Di bagian paling atas berdiri bangunan masjid yang sudah direnovasi.

Kolam tempat berwudu sunan dan santrinya terbuat dari batu bata tebal. Ada kemiripan dengan bahan batu bata candi peninggalan Majapahit di daerah Trowulan.

Penasaran dengan cerita banyak orang, kami pun melanjutkan perjalanan ke sebuah perbukitan yang masih dalam kawasan Kebomas Gresik. Di situ bersemayam seorang putri dari negeri Campa (Vietnam) yang menjadi istri Sunan Giri.

Karena agum dan terpesona dengan watak dan keluhuran budi pekerti Sunan Giri, maka putri jelita ini pun menikah dengan sunan. Ternyata, putri cantik ini adalah seorang saudagar negeri Campa atau Vietnam.

Versi lain tentang cerita Putri Campa ini ialah ia hanya menaruh hati kepada Sunan Giri. Namun, Sunan Giri tidak menanggapinya hingga akhir hayat putri itu.

Setelah mengikuti jejak Sunan Giri dalam memperjuangkan Islam di Pulau Jawa dan Gresik, Putri Campa yang oleh masyarakat Gresik dinamakan Putri Cempo.

Ia pun meninggal dunia dan jenazahnya dimakamkan secara Islam di perbukitan yang teduh. Pemakaman ini ditumbuhi pohon-pohon rindang dan tidak jauh dari kawasan Kebomas.

Rupanya Kota Gresik dikenal bukan hanya dikenal sebagai tempat Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Tapi lebih dari itu Kota Gresik juga terkenal dengan kulinernya, yaitu Otak-Otak Bandeng.

Bagi Anda yang sedang berkunjung ke Kota Gresik tidak ada salahnya menyempatkan diri untuk singgah di kawasan Sindujoyo. Pasar ini menjadi sentra oleh-oleh khas Gresik.

Sumber: detikcom

Garut dan Wisata Surga dari Timur

UDARA nan sejuk berpadu landskap perbukitan menjadi ramuan pas untuk menikmati alam. Diapit gunung Guntur, Papandayan, dan Cikuray yang masih aktif, Garut telah memikat hati banyak orang. Bahkan pada 1910, Officieel Touristen Bureau, Weltevreden, menyebut Garut sebagai Paradijs van Oosten atau surga dari timur.

Kota Dodol ini, terletak di sebelah tenggara Kota Bandung, 250 km dari Jakarta. Perjalanannya dapat ditempuh dalam waktu tiga setengah jam dari Ibu Kota.

Menjelajah Garut bersama National Geographic dan Cevron Geothermal, Januari lalu sungguh berkesan. Kota yang juga terkenal dengan dombanya itu tentu tak bisa dinikmati dengan berendam air panas saja. Alam yang menantang sungguh sayang dilewatkan.

Pantai di selatan membujur hingga 90 kilometer panjangnya. Air terjun dan situ-situ alami menyejukan mata. Pengunungan menjulang tinggi hingga 2.821 meter. Belum lagi kekayaan budaya seperti acara surak ibra, raja dogar, dan bangunan-bangunan tua.

Gunung Papandayan bisa menjadi awal pertualangan pertama Anda di Swiss van Java. Terletak di kecamatan Cisurupan, 29 kilometer dari pusat kota Garut, Papandayan menjadi favorit bagi para pendaki pemula. Untuk mencapai Gunung Papandayan, naiklah kendaraan umum dari pusat kota menuju Cijulang. Kemudian turun di pertigaan Cisurupan. Dari sana, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menyewa ojek atau angkot hingga sampai di pelataran parkir gunung Papandayan.

Mendaki
Di pelataran yang memiliki ketinggian 2000 meter itulah jejak pendakian dimulai. Batuan besar kekuningan serta jalan menanjak akan menyambut kedatangan Anda. Pohon suwagi dan pakis tangkur tumbuh hijau di sisi-sisi jalan. Tebing batu yang tinggi dan curam mendominasi pandangan.

Mendaki lebih ke atas, Anda akan menjumpai kawah belerang yang mengeluarkan asap putih. Sesekali terlihat cairan kuning dimulut kawah, menandakan kepekatan belerangnya. Agar asap tak membuat pedih, cobalah berjalan agak menunduk, menghindari kontak langsung dengan asap. Jangan lupa, kenakan masker atau saputangan agar bau menyengat tak membuat kepala pusing.

Setelah melewati kepulan asap belerang, pesona kawah bisa dinikmati dari atas. Tentu bertambah nikmat dengan iringan melodi air yang turun ke kaki bukit. Tak jauh dari situ, terdapat danau. Lebarnya bisa mencapai seratus meter. “Warna airnya bisa berubah-ubah tergantung cuaca,” ujar Dede, yang pemandu pendakian.

Mencapai ketinggian 2.300 meter, pepohonan mati menciptakan pemandangan berbeda. Batang pohon-pohon itu hitam legam, hampir jadi arang. Pijakan tak lagi dipenuhi batu melainkan lapisan abu yang putih. Tempat ini kental dengan suasana kematian. Seakan ada panas api yang dengan cepat memberangus kehidupan.

Wilayah itu dikenal dengan nama ‘gunung salju’. Kontur pemandangannya tercipta karena letusan gunung Papandayan pada 2002 lalu. Kepulan uap panas ketika itu, membakar pepohonan, juga mengendapkan abu di bawahnya.

Kalau ingin menyaksikan matahari terbit, sebaiknya mendaki pada saat malam. “Sekitar jam sebelas ke atas,” kata Dede yang kerap menemani mahasiswa pecinta alam mendaki di malam hari.

Setelah beristirahat dan puas menikmati megahnya Papandayan, tiba saatnya untuk menuruni gunung. Salah besar kalau ada anggapan menuruni gunung adalah hal mudah. Walau tak butuh energi besar seperti ketika mendaki, tapi gravitasi betul-betul menyulitkan. Belum lagi kerikil-kelikil yang membuat pijakan tidak stabil.

Agar tak tergelincir, miringkan posisi telapak kaki seperti Anda ingin berjalan miring. Pusatkan tumpuan pada tumit dan turun perlahan. Selesai mendaki Papandayan, jangan lupa akan rencana selanjutnya. Peta Segitiga Wisata Garut keluaran National Geographic bisa jadi pemandu.

Tempat wisata unggulannya termasuk Situ Bangendit, Kawah Papandayan, dan Situ Cangkuang. Bagi yang suka berwisata di dalam kota, cobalah berwisata ziarah ke Makam Pangeran Papak di Wanajara, atau nikmati sejarah kota di Stasiun Cibatu. Tak lupa, bungkus beberapa helai batik tulis Garutan yang dapat dibeli di tengah kota, dodol manis, kerajinan kulit, dan anyaman bambu khas Garut untuk oleh-oleh.(mediaindonesia.com/M-3)

Menikmati Sejarah dan Ziarah di Surabaya

TAK banyak yang bisa saya bayangkan saat kaki menjejakkan Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, selain sebuah ibu kota provinsi yang padat aktivitas penduduk urban. Nyatanya bayangan ruwetnya Jakarta tak pernah terbukti, bahkan di kota besar seperti Surabaya.

“Mungkin karena jalan-jalannya enggak pas jam sibuk di tengah kota, jadi enggak ketemu macet,” ujar Diane Laurentia, asisten MICE Manager Hotel Mercure Grand Miramar, saat saya dan beberapa rekan wartawan mengikuti inspeksi di sana dua pekan lalu.

Pembangunan di kota itu tampak begitu pesat. Proyek konstruksi di mana-mana. Tapi memang bukan jalanan macet atau konstruksi mal ala Jakarta yang ingin saya cari, melainkan keindahan menawan yang membuat napas tertahan dan pandangan mata tak beranjak. Seperti deretan gedung kuno di kawasan kota tua.

Peninggalan Belanda
Satu hal yang cukup membantu adalah lokasi tempat kami menginap di Hotel Ibis Rajawali yang terletak di kota tua Surabaya yang sarat sejarah.

Julangan bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial Belanda mengelilingi pandangan di sana. Kemegahan gedung-gedung masa lalu dengan pintu-pintu tinggi memikat hati meski tak semuanya masih berfungsi.

Banyak bangunan di kawasan utara Surabaya itu dilengkapi papan informasi di depannya, yang memberitahukan bahwa bangunan termasuk dalam cagar budaya pelestarian arsitektur sesuai peraturan daerah.

Pejalan kaki di kawasan ini pun mulai dimanja dengan jalur trotoar selebar kira-kira 4 meter di tepi jalan utama, termasuk di depan hotel, meski masih putus-sambung karena pembangunannya masih berlangsung.

Sekelompok orang berwajah Melayu keluar dari hotel saat saya juga hendak keluar, menikmati sore di Jembatan Merah yang jaraknya tak sampai 500 meter dari pintu masuk hotel. “Tamu dari Malaysia. Banyak yang suka ke sini untuk belanja di Pusat Grosir Jembatan Merah,” cetus Saiful Malik, front office manager hotel, menjawab rasa ingin tahu saya tentang mereka.

Pusat grosir itu terletak hanya di seberang hotel, di lokasi tewasnya pemimpin pasukan Inggris Jenderal Mallaby yang dikirim ke Surabaya setelah Perang Dunia II untuk melucuti tentara Jepang.

Kampung Arab
Selain gedung-gedung lawas di kawasan kota tua, beberapa rumah tinggal penduduk juga tampil cantik dengan gaya ‘jadul’-nya. Beberapa rumah di jalan-jalan kecil di kawasan Kampung Arab masih berfasad asli dengan lebar muka 5-6 meter.

Tatanan bukaannya simetris, sebuah pintu di tengah bidang dan dua jendela di setiap sisinya. Keaslian bangunan tampak dari lubang udara di atas pintu dan konsol yang dibuat dari besi bermotif lengkung, atau keriting, beberapa rekan arsitek menyebutnya. Beberapa fasad tampak asli, tapi mayoritas telah dirombak habis-habisan. Sayang.

Jalan kecil di Kampung Arab ini merupakan jalur masuk ke Masjid Sunan Ampel, salah satu tujuan wisata religi di Surabaya. Dari Jalan Nyamplungan yang merupakan jalan raya, perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki menelusuri gang kecil, Jalan Ampel Kembang. Lebarnya tak lebih dari 3 meter dan membelah permukiman padat penduduk.

Jalan ini berujung pada Jalan Ampel Suci, sebuah lorong beratap seperti pasar. Di dua sisinya terhampar para pedagang yang menawarkan beragam barang. Dari keperluan ibadah seperti baju-baju gamis, tasbih, kopiah, sampai aksesori, parfum, bahkan air zamzam dari Arab.

Ziarah
Ujung lorong Ampel Suci adalah pelataran Masjid Sunan Ampel. Di sana juga terdapat makam Sunan Ampel, salah satu Wali Songo, yang biasa dikunjungi warga peziarah. Makam itu, bersama makam istri dan beberapa pengikutnya, dibatasi gerbang masuk serupa gapura.

Penjaga di mulut gerbang tak segan mengingatkan pengunjung perempuan agar mengenakan kerudung saat memasuki permakaman. Mereka juga menyiapkan kain kerudung untuk dipinjamkan kepada pengunjung, tanpa biaya.

Pelataran makam yang ditutup konblok dibagi dua dengan batas pagar besi.

Satu untuk peziarah laki-laki, satu lagi untuk perempuan. Suasananya sejuk dan hening meski dengungan doa dari puluhan peziarah yang duduk bersila di sekeliling makam membahana.

“Setiap hari selalu ada yang ke sini. Ya saya sih berdoa saja, enggak ada yang khusus,” tutur seorang ibu yang duduk di sisi utara makam. Dia masih tampak khusyuk berdoa saat saya menyentuh lengannya untuk berpamitan.

Sembahyang
Ziarah lain di Surabaya bisa berlanjut ke tepi Pantai Kenjeran. Sayang, kawasan wisata di sana yang dinamai Ken Park–singkatan dari Kenjeran Park–begitu kering. Rumput liar, cat bangunan mengelupas, pepohonan mati. Beberapa sudut dijadikan tempat berduaan.

Tetapi di kawasan inilah berdiri Sanggar Agung. Sebuah bangunan ibadah bergaya Tionghoa, berhias tulisan China dengan nyala lilin-lilin raksasa setinggi manusia. Umat Buddha dan Konghucu beribadah di sana. Tak jarang wisatawan mengunjunginya untuk berekreasi.

Di balik dinding altar depan terhampar panorama lautan Selat Madura berbingkai patung Dewi Kwan Im, yang diyakini sebagai dewi cinta kasih. Sang dewi berdiri di atas gapura dengan total tinggi sekitar 20 meter, diapit dua anak dan dua pasang dewa. Mereka dijunjung sepasang naga.

Komposisi panorama nan agung yang disempurnakan debur ombak di laut lepas. Sesaat napas saya pun tertahan dan pandangan mata enggan beranjak. Sampai seorang perempuan muda berkacamata menyentuh bahu saya, berujar, “Permisi Mbak, saya mau sembahyang.” Dia memegang beberapa batang hio yang sudah dinyalakan dan karena saya menghalanginya persis di depan hio lo, tempat hio ditancapkan.(mediaindonesia.com/OL-5)

Sawah Lunto Trip Sejarah di Kota Tambang Berbudaya

Tak hanya bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial yang bisa dijumpai disini, lokomotif uap yang usianya lebih dari seratus tahun juga siap membawa Anda menghirup suasana Eropa di Sawahlunto.

Awalnya merasa aneh dan asing berjalan kaki sendirian menyusuri jalan berliku dan menurun. Tidak ada satupun orang berjalan, meski trotoar untuk pejalan kaki pada sisi jalan tertata rapi berpadu dengan rimbunan hijau daun. Semua orang tampak
berkendara. Sejenak terlintas untuk memberhentikan kendaraan dan ikut menumpang sampal tujuan layaknya pengembara pada film-film Hollywood.

Tapi niat itu urung saya lakukan, karena pemandangan menyusuri jalan dari penginapan menuju pusat kota Sawahlunto begitu menakjubkan saya akan menikmati sambil mencari sudut pengambilan gambar yang bagus. Kota kecil di Sumatera Barat yang pernah jaya dengan tambang batu bara ini mempunyai topografi dan bentangan alam yang sangat menarik.

Secara geografis “kota Arang” ini terletak pada 0.34-0.46 Lintang Selatan dan 100.41-100.49 Bujur Timur. Menunjukkan Sawahlunto terletak di daerah dataran tinggi pada bagian tengah Bukit Barisan, pegunungan yang membujur sepanjang Pulau Sumatera.

Letaknya berada pada ketinggian antara 250-650 meter di atas permukaan laut. Namun demikian, kota peninggalan Belanda ini terbilang cukup panas karena kandungan batu bara didalamnya, suhunya berkisar antara 22,5 sampai 27,5 derajat celsius.

Atas dasar hal tersebut, bagi Anda yang ingin berwisata ke Sawahlunto sebaiknya memakai pakaian yang mudah menyerap keringat dan nyaman dipakai. Kendati kota ini baru beberapa tahun menjelma menjadi kota wisata, Sawahlunto memiliki obyek wisata sejarah andalan yang dapat dinikmati. Atmosfer wisata membawa kita kepada eksotisme kejayaan peninggalan Belanda, sangat kental dengan aroma kolonialisme.

Pemandangan kota tua yang masih terpelihara langsung manyeruak pandangan mata. Dari kejauhan sejumlah bangunan tua bertebaran menjadi tempat tinggal penduduk, perkantoran atau aneka kios diatas tanah yang berbukit. Diatas bukit yang masih dominan warna hijau pepohonan terpampang tulisan Sawahlunto. Inilah wisata kota tua yang masih terjaga dengan baik.

Ada beberapa bangunan peninggalan yang menjadi landmark (penanda kota) Sawahlunto. Langkah kaki pun terhenti ketika melihat tiga buah tabung beton raksasa. Penduduk setempat menyebutnya Silo, merupakan tempat penyimpanan batubara yang masih berdiri kokoh menceritakan kejayaan masa lalu kepada siapapun yang datang. Ini menjadi penanda kota yang saya jumpai pertama.

Bangunan kedua beraksitektur Belanda yang juga membuat kagum mata adalah kantor PT. BA (Bukit Asam) yang lokasinya tepat di jantung kota. Dibangun pada 1916 dan masih terawat dengan baik sesuai fungsinya, meski warna dindingnya sudah tidak asli lagi.

Lokasinya berpadu dengan taman berbentuk segitiga, sehingga masyarakat menyebutnya dengan lapangan segitiga. Disinilah warga biasa berkumpul menikmati senja dan liburan setiap minggunya. Dan di sini pula tempat berbagai acara lokal maupun nasional digelar oleh pemerintah kota setempat.

Berjalan lagi menyusuri bangunan-bangunan tua, ada sebuah galeri infobox yang bercerita mengenai sejarah tambang. Foto-foto pekerja tambang, peralatan, seragam, bahkan rantai dan borgol besi yang dipakai oleh orang rantai (sebutan pekerja tambang zaman kolonial) menjadi koleksi galeri ini.

Di sebelahnya terdapat obyek wisata Lobang Mbah Suro. Ini merupakan bekas tambang yang sudah tidak aktif lagi. Nama obyek di ambil dari seorang pekerja tambang dengan jabatan mandor yang bernama Mbah Suro.

Bekas ekploitasi tambang ini mulai di gali pada 1898 oleh orang-orang rantai dan merupakan tambang pertama di patahan Soegar. Ditutup sebelum 1930 karena tingginya rembesan air. Kemudian dibuka kembali sebagai obyek wisata tambang lengkap dengan galeri infobox dan monumen orang rantai buah karya salah satu keturunan dari orang rantai, Suparman dan anaknya.

Monumen berupa dua orang pekerja tambang sedang mendorong troly berisi batu bara di bawah pengawasan menir berpakaian Belanda, merupakan gambaran kehidupan orang rantai yang bekerja di bawah kerasnya dunia tambang zaman penjajahan. Meskipun mereka sudah berada dalam aturan ketat pekerjaan tetapi kaki mereka tetap di rantai.

Suasana mencekam seolah merasakan apa yang mereka rasakan dibawah tekanan penguasa ketika mulai memasuki lobang. Pengunjung dipersilahkan menyusuri Lobang Mbah Suro dengan pendamping. Sebelumnya harus memakai pakaian standar berupa helm dan sepatu boot yang telah tersedia.

Tidak jauh dari Lobang Mbah Suro masih ada sebuah bangunan peninggalan lain yang kini menjadi Museum Gudang Ransum. Di dalamnya, pengunjung bisa melihat koleksi peralatan masak serba besar yang pernah dipergunakan dapur umum untuk pekerja tambang. Dibangun pada 1918, koleksi dan keterangan di dalamnya juga menceritakan betapa kejamnya dunia tambang.

Pada bekas dapur umum ini perampasan makanan dan keributan sesama pekerja sudah lazim terjadi ketika itu. Disamping koleksi dapur umum, komplek Gugang Ransum ini juga menceritakan sejarah masa lalu dari berbagai segi kehidupan yang tertuang pada beberapa galeri. Diantaranya galeri etnografi, galeri foto tempo dulu, pusat peragaan Iptek, dan galeri Malaka sebagai bentuk kerjasama Sawahlunto dengan negeri Malaka (twin city).

Selesai pada bagian ini, sejarah peninggalan lain tampaknya menunggu untuk dikunjungi. Sawahlunto memiliiki sebuah Museum Kereta Api yang diresmikan lima tahun lalu. Museum ini dahulunya merupakan sebuah Stasiun Kereta Api yang dibangun 1912, dan tidak dipakai lagi sejak 2003 karena pengangkutan batu bara ke Padang tidak lagi menggunakan kereta api.

Ada satu koleksi kereta uap yang kini difungsikan sebagai kereta wisata dengan rute Sawahlunto – Muara Kelaban pulang pergi. Memakan waktu sekitar setengah jam, dan melewati terowongan sepanjang 1 km akan menjadi kenangan tersendiri di Kota Tambang ini.

Namun sayangnya biaya operasional yang sangat tinggi mengakibatkan wisatawan enggan mencarter kereta wisata untuk mengenang masa lalu. Sekali perjalanan menghabiskan batu bara kurang lebih satu ton. Tapi untuk kalangan pelajar, pemerintah kota memberikan subsidi 50 persen.

Lokomotif uap seri E 1060 yang diberi nama “Mak Itam” ini merupakan kereta yang pernah beroperasi di Sawahlunto. Kemudian sempat menjadi koleksi Museum kereta Api di Ambarawa, Semarang. Tahun 2009 Pemkot Sawahlunto meminta kembali untuk menjadi kereta wisata dan koleksi Museum Kereta Api di Sawahlunto.

Masih dengan wisata sejarah, peninggalan Komplek Pemakaman membuktikan kejayaan Belanda di Sawahlunto. Pemakaman orang-orang Belanda dan sebagian juga Cina menunjukkan bahwa dahulu mereka menempati hierarki sosial atas. Pemakaman di bangun dengan struktur fisik yang indah.

Berkunjung ke Sawahlunto tentu akan mengembalikan ingatan kita pada zaman kolonial di negeri ini. Suasananya melambungkan jauh imajinasi ke Eropa sana dengan penataan kota dan bangunan yang ada. Bahkan tempat menginap wisatawan pun beraroma tempo dulu dengan banguna kuno yang berubah fungsi menjad hotel dan wisma.

Namun, terlepas dari sejarah yang begitu kental, keragaman budaya dan penduduknya yang multietnis mencirikan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Maka jangan heran jika Anda menjumpai banyak penduduk yang berbincang dengan bahasa Jawa. Karena memang mereka orang Jawa yang merantau, atau keturunan orang rantai yang telah menjadi warga Sawahlunto. Jangan heran pula jika kesenian kuda lumping kerap ditampilkan dan tidak asing di sini.

Sumber: Majalah Travel Club

Dari Masjid ke Masjid dan Makam Banjarmasin – Kalimantan Selatan

Dari latar belakang sejarah, Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi ikon pusat penyebaran Islam untuk Pulau Kalimantan. Sehingga sangat lazim, banyak ditemui tempat-tempat (destinasi), bangunan dan tempat ibadah (masjid) tua dan bernilai sejarah tinggi.

Maka Kalsel memiliki beberapa obyek wisata religi yang masih sangat mungkin dikembangkan. Diantaranya Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Masjid dan Makam Sultan Suriansyah, Masjid Al-Karomah Martapura, Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, dan banyak makam lainnya yang tak pernah sepi dari puluhan ribu peziarah atau pengunjung setiap tahunnya.

Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah salah satu landmark kota Banjarmasin yang berada di jantung kota. Menempati areal seluas 10.36 hektar menghadap sungai Martapura yang ramai dengan lalu lintas airnya. Bangunan berarsitektur modern dikelilingi oleh lima menara menjulang tinggi serta taman luas nan indah, berlantai dua dapat menampung sekitar 15.000 jamaah.

Sementara Masjid Sultan Suriansyah merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Dan jika sempat ziarah ke Martapura, sebaiknya juga menyinggahi Masjid Agung Al-Karomah, Martapura. Masjid ini memiliki kubah yang unik dengan warna-warna dipuncaknya, dan juga dilengkapi dengan satu menara tinggi berarsitektur unik.

Meski sudah tiga kali rehab, namun tetap meninggalkan beberapa komponen bangunan asli dari pembangunan pertama. Empat tiang Ulin yang masih tegak di tengah menjadi penanda bangunan sebagai nilai sejarah. Dengan mengikuti bentuk bangunan modern dan Eropa, sekarang Masjid Agung Al Karomah Martapura terlihat lebih megah. Ke empat tiang bersejarah ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid.

Selanjutnya, jangan lewatkan pula Makam Ulama Agung Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau lebih dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan, merupakan destinasi wisata religius yang juga banyak dikunjungi orang.

Makam beliau berlokasi di desa Kalampayan Ulu, Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar dengan jarak tempuh sekita 60 km dari kota Banjarmasin, sedangkan dari kota Martapura – Ibukota Kabupaten Banjar- hanya kurang lebih 22 menit waktu perjalanan. Kitab/buku karangan beliau yang terkenal adalah Sabilal Muhtadin – sebuah kitab ilmu agama Islam – yang kemudian diabadikan sebagai nama masjid terbesar di Kalimantan Selatan.

Sumber: Majalah Travel Club

Makam Sunan Mumbul Karangasem

Kendati kita ketahui mayoritas masyarakat Bali beragama Hindu, namun Islam pernah berpijak dan meninggalkan beberapa lembaran sejarah di sini. Maka Bali sebagai destinasi wisata favorit ternyata juga menawarkan wisata religi Islam yang laik untuk dikunjungi.

Islam telah masuk ke Pulau Bali sejak zaman Kerajaan Gel-Gel Klungkung, sekitar abad ke-16 Masehi. Peranan ulama dan saudagar muslim yang datang ke Bali waktu itu sangat besar terhadap kerajaan yang berkuasa di Bali saat dilanda peperangan. Bahkan menempati posisi penting sebagai penerjemah, patih, dan kerabat istana. Sehingga banyak peninggalan bersejarah Islam yang terekam pada situs-situs, dan sampai kini masih tersimpan dan terjaga dengan baik di sekitaran Pulau Bali.

Ziarah Islami di Bali seperti perjalanan napak tilas mencari jejak-jejak penyebar Islam di masa lampau. Kita tidak hanya sekedar mengunjungi makam para ulama (Di Bali terkenal dengan nama ziarah wali pitu atau tujuh), lalu berdoa. Melainkan menikmati indahnya suasana damai dan kekerabatan antara Islam dan Hindu di beberapa kampung Islam, mengetahui sejarah Islam lewat benteng-benteng Islam di Bali Timur dan masjid-masjid tua di Kota Singaraja.

Indahnya Islam di Pulau Dewata juga menyatu dengan keindahan sebuah destinasi. Cobalah ziarahi Makam Sunan Mumbul yang terletak di sebelah Istana Taman Air Ujung tepat dibibir pantai. Ini seperti bukan sebuah ziarah, tapi sebuah perjalanan wisata yang mengilhami jiwa untuk selalu bersyukur kepada Sang Pencipta. Keindahan sempurna tempat peristirahatan abadi.

Makam Sunan Mumbul pun tak terlepas dari cerita sejarah kerajaan yang ada di Bali. Sunan Mumbul merupakan nama yang diambil dari seorang putra mahkota Kerajaan Pejanggik, Mataram-Lombok sekitar abad ke-17 Masehi. Sementara, nama sebenarnya adalah Raden Datu Mas Pakel.

Alkisah Kerajaan Pejanggik akhirnya runtuh akibat serangan Kerajaan Karangasem Bali, dan Mas Pakel turut diboyong ke Bali. Raja Karang Asem mempercayakan Mas Pakel menjadi orang dalam istana dan memperkuat Kerajaan Karangasem. Istana Taman Ujung dibangun Raja Karangasem dengan bantuan Mas Pakel sebagai tempat istirahat dan bersantai Keluarga Raja, sekaligus menjadi basis pengintaian terhadap masuknya kapal-kapal musuh dari Bali Timur.

Di komplek istana yang berada di Karangasem ini terdapat sumur buatan Sunan Mumbul yang dipercaya warga memiliki khasiat. Benar atau tidaknya kabar khasiat itu, hanya Anda yang bisa menjawab dengan berwisata secara Islami di Pulau Bali. Di samping Sunan Mumbul, tentunya masih banyak jejak-jejak Islam yang bisa Anda telusuri.

Sumber: Majalah Travel Club

Makan Bajamba Kemasan Pariwisata dari Akar Budaya

Berbagai acara digelar Pemkot Sawahlunto untuk memeriahkan hari jadinya. Puncak hari ulang tahunnya pada 1 Desember, selalu menampilkan ritual Makan Bajamba sebagai puncak acara. Sawahlunto telah menyelenggarakan budaya Makan Bajamba sebanyak empat kali dan telah menjadi agenda tahunan untuk menarik wisatawan datang ke “Kota Arang” tersebut.

Tidak hanya Sawahlunto, beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat pun melaksanakan budaya yang sama dalam menciptakan keunikan dan daya tarik pariwisata. Di Kabupaten Agam pada momen-momen tertentu, Makan Bajamba menjadi semacam ritual wajib yang mesti dijalankan oleh warga Koto Gadang tersebut.

Contoh lain, pada Kabupaten Tanah Datar ketika penyelenggraan lomba balap sepeda internasional “Tour de Singkarak 2010”. Ketika salah satu etape finish di Kapubaten Tanah Datar, seluruh peserta dan official serta tamu undangan mendapat jamuan Makan Bajamba di Istana Pagaruyung.

“Ini merupakan suatu strategi marketing jualan pariwisata dengan memanfaatkan budaya, khususnya di Sumatera Barat,” ujar Sapta Nirwandar, Dirjen Pemasaran Kementrian Budaya dan Pariwisata waktu itu.

Makan Bajamba sendiri memang berasal dari akar budaya Minangkabau yang secara turun temurun masih dilaksanakan hingga saat ini. Merupakan sebuah ritual budaya makan bersama yang diadakan dalam lingkup keluarga dekat, dalam hal ini adanya pertalian darah.

Namun demikian, tidak jarang dilakukan dalam lingkup yang lebih luas, seperti persaudaraan satu suku kendati tidak ada hubungan darah (suku dalam adat Minangkabau hampir sama dengan marga dalam adat Batak). Kekeluargaan dan gotong royong sudah terasa pada tahap pertama dalam proses mempersiapkan makanan, karena memasak dilakukan bersama-sama.

Kemudian prosesi Makan Bajamba ini dilakukan dengan beberapa aturan yang sudah ditetapkan oleh para leluhur atau sesepuh adat di Bumi Minang. Biasanya ritual ini diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran, kemudian diiringi dengan petuah atau ucapan dari tuan rumah atau pemuka adat yang hadir pada saat itu.

Budaya Makan Bajamba memiliki beberapa aturan adat sebagai simbolis penghormatan kepada yang lebih tua, seperti menyuap (mengambil makanan dengan tangan) yang pertama kali harus yang paling tua. Dan yang menambahkan makanan dan lauk pauknya dilakukan oleh anggota keluarga yang paling muda, serta tetap menjaga tata krama dan etika pada saat makan.

Makanan disajikan dalam piring-piring besar, biasanya berdiameter minimal 70 cm, dan disantap oleh lima sampai enam orang dalam satu piring atau jamba (wadah) dengan posisi duduk di lantai mengelilingi piring. Posisi perempuan bersimpuh, sedang yang laki-laki baselo (bersila). Tujuannya bila ada nasi yang jatuh ketika hendak masuk mulut tidak kembali masuk ke dalam piring. Jadi, yang lain tidak merasa jijik untuk memakan nasi tersebut secara bersama-sama.

Lauk pauk yang wajib menjadi teman Makan Bajamba tentunya adalah masakan khas Sumatra Barat, rendang daging yang dicampur dengan kacang pagar. Potongan dagingnya tidak terlalu besar, namun dirasa cukup untuk dimakan berlima. Isi satu porsi rendang adalah tiga potong daging ditambah sedikit kacang dan bumbu rendang.

Ketiga jenis lauk tersebut, dihidangkan bersama-sama nasi dalam jamba besar dan ditambah sepiring nasi untuk tambuah (tambahan). Kegunaannya untuk mengelap atau menyerap minyak dari sambal yang sudah dimakan tadi. Sebelum tangan dicuci dalam kobokan, minyak yang melekat di tangan sudah semakin terserap sampai suapan terakhir.

Acara Makan Bajamba ini biasanya dijadikan sebagai pelengkap bagian acara adat lainnya seperti pernikahan, khitanan, halal bihalal, khatam Al Quran dan beberapa acara adat lainnya. Inilah mengapa ritual Makan Bajamba dipilih sebagai prosesi adat yang layak jual sebagai daya tarik wisata di Sumatera Barat. Karena sangat sesuai dan mudah dikombinasikan dalam lingkup yang lebih luas sebagai pelengkap acara-acara kabupaten kota, baik bersifat nasional maupun internasional.

Sangat menarik memang, terlebih jika prosesi Makan Bajamba sebagai jualan pariwisata selalu diiringi dengan budaya minang lainnya. Dalam perhelatan akbar menyambut ulang tahun Sawahlunto 122 tahun, banyak pagelaran budaya yang menyertainya. Dan tidak pernah ketinggalan tradisi berbalas pantun sebelum proses Makan Bajamba dimulai.

Dengan bahasa daerah setempat dan nada serta intonasi yang diakhirnya selalu dengan bunyi yang sama, mengandung kekayaan budaya Melayu yang khas. Mungkin bagi orang yang mengerti bahasa setempat menjadi lebih indah dalam menyelami bunyi dan makna.

Ini adalah kekayaan seni dan budaya Indonesia yang berakar pada sastra lisan, dan sudah sepatutnya dilestarikan. Tradisi pantun dalam Makan Bajamba merupakan simbol atau kata salam bagi mereka yang datang (wisatawan) dan kata penerimaan bagi tuan rumah. Sama halnya dengan tradisi buka palang pintu pada masyarakat Betawi, ketika hendak melangsungkan pernikahan.

Di samping itu, ada lagi daya tarik lain dari segi kostum yang digunakan peserta Makan Bajamba. Dalam pakem budaya yang sebenarnya, pakaian yang dikenakan haruslah pakaian adat lengkap dengan hiasan kepala berbentuk tanduk. Untuk kaum wanita harus mengenakan baju kurung dengan bahan satin bagi usia muda, dan volvet untuk yang sudah berumur. Namun, seiring perkembangan zaman, karena jenis bahan tersebut sudah jarang diproduksi lagi, maka makin bervariasi bahan baju kurung yang dipakai dalam adat ini.

Warna pakaian yang terang-benderang seperti merah, kuning, merah jambu dan manik-manik yang berkilauan menjadi warna pilihan kaum wanita saat prosesi adat Makan Bajamba berlangsung.

Acara makan dimulai ketika pantun ditutup dengan rima terakhir “mari makan”. Suasana santai dan harmonis sangat terasa. Siapapun boleh ikut makan tanpa terkecuali dan tanpa adanya perbedaan. Inilah budaya dan tradisi yang dapat Anda nikmati sebagai kemasan pariwisata.

Diantara modernitas jamuan makan secara prasmanan, Makan Bajamba menjadi salah satu cermin kehidupan yang kaya dengan nilai-nilai warisan yang masih dipelihara di Sumatera Barat.

Sumber: Majalah Travel Club

Di Sini Tjut Nyak Beristirahat

Janji Allah Robul Alamin. Kita diberi Tuhan untuk perang sabil. Itulah harga diri mengukir derita. Janji Allah tidak pernah cacat. Wakil teungku dari uleebalang. Itulah bagian perang yang engkau berikan. Di Bawah langit di atas bumi. Di alam ini, tidak ada yang abadi.

Terjemahan dari Hikayat Perang Sabil berbahasa Aceh yang tertulis di makam pahlawan perempuan Aceh, Tjut Nyak Dien (TND) memilih terjun ke medan perang. Makam yang terletak di kaki Gunung Puyuh, Sumedang Jawa Barat, itu menimbulkan pertanyaan dalam benak. Pejuang Aceh, kenapa makamnya ada di Sumedang?

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita telusuri jejak sejarah perjuangan Srikandi Nasional dari cerita Nana Sukmana, juru kunci makam. “Meskipun Tjut Nyak – begitu Nana memanggilnya – sudah 100 tahun wafat, namun, menyisakan hal-hal menarik sehingga tetap dikagumi. Tjut Nya merupakan pahlawan perjuangan, bukan pahlawan pergerakan,” ujar Nana, yang sudah 25 tahun merawat makam itu.

Awal perjuangannya mendampingi suami pertama, Teuku Ibrahim Lamnga yang syahid ditangan serdadu Belanda, 29 Juni 1878 di Sela Glee Tarun, Aceh Besar. Lalu, Tjut Nyak Dien menikah lagi dengan Panglima Perang Aceh lainnya, Teuku Umar yang akhirnya juga gugur dalam usia 45 tahun setelah ditembak marsose Belanda pada 11 Februari 1899, di Pantai Ujung Kala Meulaboh, Aceh Barat.

Semangat perjuangannya tak pernah padam, ia tetap melanjutkan mengusir penjajah dari bumi rencong selama enam tahun. Hingga pada 6 November 1905, Tjut Nyak Dien berhasil ditangkap Belanda karena ulah seorang cuak (orang yang menjebak atau pengkhianat).

Dalam keadaan sakit rematik dan rabun, perempuan perkasa itu digiring ke Kutaraja (Banda Aceh) dengan dalih pengobatan untuk dirinya. Rakyatnya yang setia selalu menengok bersama-sama sehingga membuat kolonial Belanda khawatir.

Seorang guru ngaji dengan julukan Perbu Seberang, alias Ibu Ratu dari seberang. Sangat berkharisma dan ia dikagumi penduduk sekitar. Mereka percaya perempuan perkasa itu bukan orang sembarangan.

Pada November 1908, akhirnya pahlawan putri seberang ini wafat di pembuangan dalam usia 60 tahun. Karena kharisma dan kewibawaannya, ia dimakamkan di komplek makam pangeran atau keturunan Bupati Sumedang. Sampai meninggalnya tidak ada seorangpun yang mengetahui siapa sebenarnya sang guru ngaji tersebut.

Rasa penasaran ini baru terkuak setelah Gubernur Aceh Ali Hasjmy berkunjung ke Perpustakaan Leiden, Belanda dan mendapatkan arsip ada pejuang Aceh yang dibuang ke Sumedang. Maka pada 1959 dilakukan pencarian, ditemukanlah makam Tjut Nyak Dien ini.

Semenjak itu Sumedang gempar. Sempat terjadi kontroversi antara warga Sumedang dan rakyat Aceh. Pasalnya Aceh akan memindahkan makam ke daerah asalnya, namun pihak Sumedang menolak. Perebutan pahlawan akhirnya mereda setelah pemerintah pusat turun tangan. Memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Tjut Nyak Dien dan memutuskan makam tetap pada tempatnya.

“Tjut Nyak Dien bukan hanya milik orang Aceh dan Sumedang, melainkan milik bangsa ini,” kata Nana Sukmana setiap kali kepada setiap peziarah yang datang.

Suasana makam yang begitu hening, sejuk dengan udara pegunungan merupakan peristirahatan yang tenang kendati jauh beratus kilometer dari tanah kelahiran Tjut Nyak yang telah beristirahat panjang. Banyak sudah para pelancong sejarah bahkan para petinggi negeri ini bertandang. Itu semua dapat dilihat dari buku tamu yang sengaja disediakan di makam itu.

Sejarah yang Sempat Terlupa

Tjut Nyak Dien adalah ikon perempuan pejuang dari Aceh. Lahir di Lampadang, 1848, putri Teuku Nanta Setia, seorang Hulubalang VI Mukim, yang masih keturunan Mahmud Sati, perantau dari Sumatera Barat.

Sejarah tentangnya mengalir deras dalam syae (cerita) masyarakat Aceh. Sekian lama ia dikisahkan oleh masyarakat, tetapi tidak pernah tercatat dalam lembaran sejarah bangsa, dianggap mitos oleh masyarakat nasional dan elite.

Bahkan, ketika dinobatkan sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden Soekarno, makamnya belum seperti cagar sejarah nasional. Bahkan, karena sejarah yang begitu kuat, cerita kepahlawanan Tjut Nyak Dien pernah pula diangkat dalam film yang diperankan Christine Hakim.

Kini, makamnya telah menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Sumedang.

Sumber: Majalah Travel Club

Menjenguk Makam Serdadu Belanda di Aceh

SH/Murizal Hamzah GERBANG KERKOFF — Sebuah pintu gerbang Kerkoff berdiri megah lengkap dengan relief nama-nama serdadu Belanda yang tewas dalam pertempuran sejak tahun 1873 hingga 1910.

BANDA ACEHNanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang juga dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah menyimpan cerita tentang perjuangan yang gigih ketika melawan penjajahan Belanda. Dalam pertempuran melawan Belanda sejak 1873 hingga 1942, pejuang Aceh berhasil menewaskan komandan perang Belanda, Jenderal Kohler. Salah satu jejak sejarah itu dapat ditelusuri di Kerkoff Peucut, Banda Aceh. Dalam bahasa Indonesia Kerkoff berarti ”kuburan”.

Usai mengikuti upacara bendera 17 Agustus 2004 di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, kami memutuskan untuk menengok Kerkoff. Alasannya, selain letaknya yang berhadap-hadapan dengan Lapangan Blang Padang, kami juga ingin mengetahui nilai sejarah tempat tersebut sekaligus mendengarkan cerita tentang kegigihan para pejuang Aceh mengusir Belanda.
Keinginan untuk menziarahi tempat bersejarah itu nyatanya lebih kuat daripada suhu udara yang saat itu terasa sangat menyengat. Dengan semangat tinggi, kami datang di Kerkoff. Setiba di sana, rasa gerah berangsur-angsur hilang. Pepohonan yang ditanam di halaman Kerkoff memberikan udara yang sejuk.
Rasa takjub pun tak henti-hentinya terlontar dengan sendirinya. Baru saja kaki ini menapak di halaman, sebuah gerbang berbentuk lengkung khas Belanda tampak berdiri dengan kokoh dan terlihat kuno.
Di bawahnya, beberapa tentara dan seorang pegawai pemerintah daerah (pemda) terlihat asyik berbicara. Nun jauh di balik pintu gerbang yang megah itu, tampak deretan pegunungan berwarna biru. Nisan berwarna putih juga tampak berjajar dengan rapi di atas lahan yang ditumbuhi rerumputan. Paduan pemandangan ini menciptakan keindahan yang luar biasa. Kami pun makin mempercepat langkah.
Selanjutnya, ketika posisi kami sudah mendekati pintu gerbang, ukiran cantik mulai terlihat oleh mata. Ukiran itu tak lain adalah nama-nama serdadu Belanda yang meninggal pada saat melakukan pertempuran dengan masyarakat Aceh.
Nama-nama serdadu yang meninggal itu terukir dengan rapi pada relief dinding gerbang. Setiap relief memuat 30 nama serdadu, daerah pertempuran dan tahun mereka mengembuskan napas terakhir. Kejadiannya berkisar antara tahun 1873 – 1910. Di antara nama-nama yang terpampang rapi tersebut, ada beberapa prajurit yang berasal dari Jawa, Manado, dan Ambon. Menurut cerita mereka dulunya tergabung dalam tentara Marsose.
Serdadu Jawa yang berada di bawah pimpinan Belanda biasanya disertai dengan identitas IF (inlander fuselier) di belakang namanya. Tentara Belanda diikuti kode EF ataupun F. Art dan serdadu dari Ambon ditandai dengan AMB dan serdadu dari Manado ditandai dengan MND.
Sedangkan, beberapa wilayah pertempuran itu antara lain: Sigli, Moekim, Tjot Basetoel, Lambari en Teunom, Kandang, Toeanko, Lambesoi, Koewala, Tjot Rang – Pajaoe, Lepong Ara, Oleh Karang – Dango, Samalanga dan sebagainya. Tempat itu untuk mengubur jasad-jasad serdadu Belanda yang tewas seketika pada pertempuran di Aceh maupun orang Belanda lainnya. Bagi serdadu yang meninggal seketika di medan pertempuran akan disertai dengan keterangan Gesneuveld. Sedangkan bagi yang meninggal karena sakit akan disertai dengan keterangan overleden.
Sementara itu, di bagian kiri pintu gerbang tertulis kalimat ”in memoriam Generaal – Majoor JHR Kohler, Gesneuveld, 14 April 1873”. Kalimat tersebut intinya mengenang Jenderal Kohler yang meninggal seketika dalam pertempuran di Aceh pada 14 April 1873.

Catatan Sejarah
Menurut catatan sejarah, pada 1873, serdadu Belanda masuk ke Aceh untuk menguasai daerah tersebut. Namun, upaya Belanda untuk menguasai wilayah Aceh tidak dapat segera terlaksana. Mereka mendapat perlawanan sengit dari pejuang Aceh yang gagah berani. Bahkan, Jenderal Kohler yang memimpin penyerangan tersebut harus kehilangan nyawanya pada tahun 1873 itu juga. Dia terkena tembakan tepat di dahinya di depan Masjid Raya Baiturrahman pada 14 April 1873.
Usaha menguasai Aceh tersebut tetap tidak dapat berjalan mulus hingga pada tahun 1942. Belanda hanya dapat menguasai daerah perkotaan. Sedangkan, di daerah-daerah pedesaan, Belanda dapat dikatakan mengalami kekalahan.
Akibat penjajahan yang dilakukan selama 59 tahun itu, ribuan serdadu Belanda tewas. Serdadu yang terdiri dari orang Belanda sendiri dan pasukan antigerilya atau Marsose yang serdadunya berasal dari orang Jawa, Ambon dan Manado tewas di ujung senjata khas Aceh, yaitu Rencong dan bedil. Pada mulanya, mereka yang tewas di daerah-daerah pertempuran seperti Sigli, Samalanga, Meulaboh, Bakongan, Idi, Paya Bakong langsung dimakamkan di derah itu pula. Namun, karena banyaknya graven atau kompleks kuburan yang berceceran di Aceh, maka dilakukan upaya untuk mengumpulkan jasad para inlander tersebut menjadi satu.
Kerkoff yang sebelumnya merupakan kawasan ilalang dan kemudian menjadi kandang kuda disulap menjadi kompleks kuburan oleh Belanda. Saat ini, di sana dikuburkan 2.200 serdadu Belanda dari yang berpangkat Jenderal sampai berpangkat rendah.
Jasad-jasad tersebut dikumpulkan dari daerah-daerah. Misalnya di dinding gapura disebutkan serdadu Belanda yang tewas di Idi. Walaupun di dinding dicantumkan nama serdadu Marsose yang berasal dari orang Jawa atau Ambon seperti nama Paijo (ditambah nama-nama orang Jawa dan Ambon), namun mereka tidak dikuburkan di Kerkoff, tetapi mereka dikuburkan di Taman Makam Pahlawan sekitar 500 meter dari Kerkoff.

Jasad Kohler
Uniknya, setelah Kohler tewas, pejuang Aceh tidak mengetahui, di mana jasadnya dikuburkan. Terakhir diketahui, Kohler dikuburkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun, karena kawasan Tanah Abang akan dibangun pertokoan, makam Kohler pun terkena penggusuran. Sehingga, sebagai peringatan sejarah dan atas permintaan Gubernur Aceh Muzakir Walad, jasad Kohler akhirnya dikubur ulang di Kerkoff, Banda Aceh pada 19 Mei 1978. Menurut cerita, pemakaman ulang Kohler di Kerkoff tersebut dihadiri oleh satu peleton tinggi Belanda.
Kerkoff sendiri ternyata tidak hanya digunakan sebagai tempat peristirahatan yang terakhir bagi serdadu Belanda yang tewas karena pertempuran, tetapi juga karena sakit dikuburkan. Sejumlah pejabat tinggi perwakilan Belanda yang pernah bertugas di Aceh pun mewasiatkan untuk dikuburkan di lahan tersebut. Misalnya, A Ph Van Aken, Gubernur Belanda untuk Aceh yang tewas di Jakarta pada 1 April 1936 dalam kedudukannya sebagai anggota Dewan Hindian Belanda. Tokoh ini terbilang memiliki sikap lunak dan dikenal baik sehingga menarik simpatik masyarakat Aceh. Dia dikenal telah merenovasi kubah Masjid Raya Baiturrahman.
Karena mengandung nilai sejarah yang tinggi, usaha untuk melakukan perawatan Kerkoff terus dilakukan. Adalah Kolonel Koela Bhee dan Lamie Djeuram mantan komandan bivak di Blang Pidie yang datang kembali ke Aceh pada Juli 1970 dan merenovasi Kerkoff yang sudah ada sejak tahun 1880.
Sumber dana pada awalnya bersifat partikelir dan selanjutnya dilakukan upaya kampanye pengumpulan dana perawatan Kerkoff di Belanda. Hasilnya, terbentuklah Yayasan Peucut atau yang belakangan dikenal Stichting Renovatie Peucut. Dana dari yayasan tersebut disalurkan melalui Pemda Banda Aceh.
(Sinar Harapan/tutut herlina/ murizal hamzah)