Tag Archives: masjid

Masjid Raya Bandung, Mahakarya Arsitektur Islam di Kota Kembang

Masjid Raya BandungTerletak di sisi alun-alun, Masjid Raya Bandung menjadi poros syiar Islam di Kota Kembang. Bangunan kuno ini telah bermetamorfosa menjadi sebuah masjid yang megah dan indah. Cocok untuk didatangi saat mudik Lebaran.

Siapa sangka bangunan megah itu dulunya hanya berupa panggung kayu sederhana. Masjid Raya Bandung, dulu dikenal sebagai Masjid Agung Bandung, mulai dibangun pada 1812. Waktu pertama berdiri hanya ada satu panggung tradisional dengan tiang kayu, berdinding anyaman bambu, dan beratap rumbia. Sebuah kolam besar tersedia untuk mengambil wudhu.

Baru mulai 1826, masjid ini menjadi bangunan berkonstruksi kayu. Masjid Raya Bandung akhirnya menggunakan batu bata dan atap genting, atas prakarsa Bupati R.A. Wiranatakoesoemah IV yang menjabat pada 1846-1874.

Mengutip situs resmi pariwisata Kota Bandung, Selasa (14/8/2012), letak Masjid Raya yang berada di tengah-tengah kegiatan komersial yang amat padat, merupakan ciri utama yang dimiliki masjid ini. Bangunan yang tampak seperti saat ini merupakan hasil beberapa kali renovasi. Sejak renovasi tahun 1826, pembongkaran kembali dilakukan pada 1850, 1900, 1930, 1955, hingga terakhir pada 2006 lalu. Renovasi itu termasuk penataan ulang alun-alun yang persis berada di depan Masjid Raya.

Sekarang, masjid ini sudah dilengkapi pagar tembok setinggi 2 meter bermotif sisik ikan, sebagai penanda ornamen khas Priangan. Atap tumpang susun tiga yang dipakai sejak 1850 diubah menjadi kubah model bawang bergaya Timur Tengah. Serambi diperluas, ruang panjang di bagian kiri-kanan masjid disatukan dengan bangunan induk. Dua menara kembar yang menjulang setinggi 81 meter menjadi ciri khas utama masjid ini.

Mulai sore hari, kawasan alun-alun sudah ramai pengunjung yang ngabuburit dan mencari takjil untuk berbuka. Adzan maghrib sebagai penanda senja lalu bergaung dengan indah, seakan membangunkan seluruh kota untuk kembali menghadap-Nya. Para mojang jajaka berbondong-bondong memasuki masjid ini untuk salat maghrib dan tarawih.

Kalau kampung halaman Anda adalah Kota Bandung, Masjid Raya menjadi tempat yang pas untuk salat Ied. Kalau Anda menyambangi Bandung saat mudik, jangan lupa singgah untuk beribadah sejenak. Rasakan atmosfer Kota Kembang yang sejuk dan nyaman sambil menikmati mahakarya arsitektur Islam.

Sumber: detikcom

Masjid Baiturrahman dan Makam Bertuliskan Ayat Al Quran

Destinasi wisata religi dalam Jelajah Utama kali ini berakhir di Aceh. Sebagai pusat dari segala pusatnya penyebaran Islam di Nusantara, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) mempunyai nilai historis budaya dan religius yang sangat kuat dan harus menjadi perhatian semua pihak.

Sebagaimana dalam sejarah, kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang posisinya terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kini dalam sekitaran Kota Lhokseumawe, Aceh Utara.

Pada awalnya kerajaan Samudera Pasai terdiri atas dua daerah, yaitu Samudera dan Pasai. Kedua daerah itu telah lama menjadi tempat persinggahan dan tempat pemukiman saudagar Arab, hal ini diperkuat dengan bukti keterangan perjalanan Marcopolo. Dari sinilah Islam masuk pada sekitar abad ke 13.

Sejak itu Aceh menjadi pusat perkembangan pemikiran dan dakwah Islam terbesar di Asia Tenggara, sehingga Aceh dikenal sebagai sebuah kerajaan Islam yang penting pada Abad ke 16 dan 17 silam.

Seperti destinasi lainnya, wisata ziarah spiritual di NAD berupa ratusan masjid, pesantren kuno, makam raja dan kesultanan, dan tentu saja makam ulama besar. Salah satu yang kini sangat terkenal dan menjadi favorit wisatawan adalah Masjid Raya Baiturrahman yang memiliki persyaratan penuh sebagai objek wisata spiritual.

Disamping bangunan yang megah di tengah kota, masjid ini juga merupakan bangunan budaya dengan arsitektur yang sangat tinggi. Kemudian penetapan syariat Islam berlaku untuk semua wisatawan yang memasuki area masjid menjadi nilai tersendiri yang harus ditaati, seperti harus berpakaian sesuai Islam, bagi pengunjung perempuan mutlak harus memakai kerudung/jilbab.

Kembali menengok sejarah Islam di Aceh. Cirebon sebagai destinasi yang telah dibahas pada halaman muka, ternyata mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Aceh. Bukti ini bisa kita telusuri dengan berziarah ke makam Said Syarif, seorang menteri dari Kerajaan Samudera Pasai. Beliau merupakan ayah kandung Fatahillah atau Falatehan, seorang ulama terkenal bergelar Sunan Gunung Jati, pendiri Kota Jayakarta (Jakarta), lahir di Pasai 1490 Masehi.

Makamnya terletak di Gampong Mancang Kecamatan Samudera. Makam ini dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 16 km sebelah timur Kota Lhokseumawe. Batu nisannya terbuat dari batu marmer bertuliskan kaligrafi indah terdiri dari ayat Kursi, surat Ali Imran ayat 18-19 dan surat At Taubah ayat 21-22.

Di dekat Makam Said Syarif, tedapat Makam Teungku Di Iboih atau Makam Maulana Abdurrahman Al-Fasi yang nisannya bertuliskan surat Al Quran yang sama dengan makam Said. Dan masih banyak makam peninggalan lain yang nisannya bertuliskan ayat-ayat Al Quran yang merupakan situs peninggalan sejarah Kerajaan Samudera Pasai. Tokoh utama yang dimakamkan pada situs Batee Balee ini adalah Tuan Perbu yang mangkat tahun 1444 Masehi.

Lokasinya di Desa Meucat Kecamatan Samudera sebelah Timur Kota Lhokseumawe. Diantara nisan-nisan tersebut ada yang bertuliskan kaligrafi yang indah yang terdiri dari Surat Yasin, Surat Ali Imran, Surat Al’Araaf, Surat Al-Jaatsiyah dan Surat Al-Hasyr.

Sumber: Majalah Travel Club

Surau Tua Minangkabau Tanah Datar – Sumatera Barat

Sumatera Barat merupakan daerah tertua di Nusantara yang menjadi salah satu pusat sebaran ajaran Islam. Menengok sejarah Islam di Minangkabau, Sumatera Barat (Sumbar) tidak telepas dari kehidupan surau. Keberadaan peninggalan sejarah Islam berupa surau-surau tua beserta bukti sejarah didalamnya mengindikasikan bahwa masyarakat Sumbar memiliki kebudayaan maju.

Kebanyakan surau menjadi pusat pembelajaran Islam termasuk dalam melahirkan kebudayaan seperti halnya reproduksi naskah kuno dan ilmu beladiri silat. Surau di Ranah Minang bahkan menjadi center of excellence atau pusat kegiatan intelektual masyarakat.

Fungsi surau sebagai pusat penulisan dan penyalinan teks Al Quran, tafsir, tauhid, figih, mantik, ma’ani, kitab-kitab pelajaran Bahasa Arab, juga sebagai pusat pendidikan agama, serta sebagai tempat pendidikan yang berkenaan dengan tradisi dan adat istiadat Minangkabau sejak ratusan tahun silam.

Jejak Islam ini dapat ditelusuri dengan ditemukannya surau-surau yang memiliki koleksi manuskrip (naskah) yang berusia lebih dari tiga abad. Dan sampai saat ini setidaknya masih ada puluhan surau kuno yang masih terjaga menurut kriteria di atas. Surau-surau ini tentu sebuah potensi wisata religi yang tersebar di berbagai daerah di Sumbar.

Terutama daerah Darek dengan tiga Luhak utama yaitu; Tanah Datar, Luhak Lima Puluh Kota, dan Luhak Agam, rata-rata memiliki tempat-tempat yang berpotensi untuk dijadikan daerah tujuan wisata religi. Belum lagi di daerah Rantau, dikenal sebagai daerah pesisir Minangkabau, juga banyak tempat peninggalan Islam.

Sebaran tujuan wisata di Darek dan Rantau, mengindikasikan masuknya Islam ke Minangkabau melalui dua jalur dengan dua periode. Pertama Islam masuk dari Selat Melaka dan membentuk koloni di Luhak Lima Puluh Kota. Kedua, Islam masuk melalui pesisir Minangkabau yang merupakan kelanjutan dari rute Aceh.

Dalam perkembangannya, daerah pesisir lebih terkenal sebagai pusat sebaran Islam di Minangkabau, seperti ungkapan adat: Syarak Mandaki, Adat Manurun. Artinya agama datang dari pesisir, sedangkan adat warisan daerah Darek. Namun demikian keduanya meninggalkan jejak sejarah Islam yang bernilai tinggi.

Kita tengok satu wilayah saja peninggalan di Luhak Tanah Datar, selain memiliki situs-situs budaya religius seperti Makam Tuan Kadhi – salah seorang dari Basa Ampek Balai yang sangat penting dalam konteks ideal masyarakat tradisi Minangkabau-di Padang Ganting, Surau dan Makam Syeh Abdurrachman di Kumango, Masjid Tua di Limau Kaum, Masjid Rao-Rao, dan situs Tuanku di Simabur, serta komplek surau di Pariangan yang merupakan gambaran ideal mengenai harmonisasi pengembangan beberapa mazhab Islam di Minangkabau.

Usianya yang tua, arsitekturnya yang unik, koleksi manuskrip yang ada, dan aktivitas ritual yang khas, serta sumber air panas yang alami, menjadi modal utama dalam mengundang wisatawan untuk datang.

Sumber: Majalah Travel Club

Desa Wisata Religius Bubohu Gorontalo – Sulawesi

Sejarah Islam di Gorontalo tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia, menjadi pusat penyebaran dan pengembangan agama Islam sejak masa lampau. Lagi-lagi agama yang berakulturasi dengan budaya menjadi sebuah daya tarik kunjungan wisata.

Berawal dari sebuah tradisi perayaan salah satu hari besar Islam. Setiap tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah masyarakat Muslim di Indonesia mengenal perayaan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW dengan istilah Maulid.

Di Gorontalo Setiap kali acara Maulid Nabi, selalu dirayakan dengan membuat Walima (Kreasi Seni Kue Tradisional) di setiap masjid seluruh Gorontalo, dan diramaikan oleh umat Islam berzikir yang dimulai setelah Isya sampai jam 11 pagi, atau sekitar 15-16 jam.

Ada hal unik pada salah satu desa, sehingga menarik perhatian wisatawan yang datang ke Gorontalo. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan dengan membuat dan mengarak Walima secara kolosal ke masjid. Terciptalah Desa Wisata Religius Bubohu, atau lebih dikenal dengan Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Sulawesi.

Ditetapkan sejak 1997. Diawali dengan penulisan sejarah penyelamatan lingkungan hidup dan penggalian potensi budaya. Sepuluh tahun kemudian, pada 2007, mulailah dilakukan pembangunan fisik penunjang sarana wisata, pendirian PKBM Yotama sebagai pengelola, melaksanakan festival budaya serta mempromosikannya sebagai salah satu tujuan wisata religi yang bernilai tinggi.

Desa yang terletak di Teluk Tomini ini dulunya merupakan wilayah Kerajaan Bubohu, sebuah kerajaan kecil yang berada dibawah pemerintahan raja Gorontalo. Jadi daerah ini merupakan wilayah sejarah, dan kehidupan rakyatnya pun tidak jauh dari cara-cara hidup yang islami. Sehingga alasannya begitu kuat, pemerintah setempat menjadikan kawasan wisata religi di Gorontalo.

Sebagai Desa Wisata Religi, Bubohu telah dilengkapi dengan sarana dan prasana penunjang seperti; Masjid Walima Emas yang terang dan bersinar ketika malam tiba, lengkap dengan sebuah Kalender Islami atau Kalender Hijriah terbesar di dunia. Masjid yang berada di puncak bukit ini berpadu dengan Kolam Miem, sebuah kolam dengan air pegunungan yang alami. Terdapat pula kolam renang santri gratis dengan air mancur tanpa mesin.

Belum cukup dengan itu, alam desa menawarkan pesona Gunung Tidur dan Pantai Dulang yang cocok untuk kegiatan outbound. Cenderamata pun telah dikemas secara profesional, yaitu kue kolombengi khas walima dan sarung putih walima. Dan satu lagi keunikan yang tidak boleh dilewatkan, yaitu Pasar Subuh; Pasar Desa Bubohu yang sistem jual belinya masih mengunakan cara barter.

Sumber: Majalah Travel Club

Dari Masjid ke Masjid dan Makam Banjarmasin – Kalimantan Selatan

Dari latar belakang sejarah, Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi ikon pusat penyebaran Islam untuk Pulau Kalimantan. Sehingga sangat lazim, banyak ditemui tempat-tempat (destinasi), bangunan dan tempat ibadah (masjid) tua dan bernilai sejarah tinggi.

Maka Kalsel memiliki beberapa obyek wisata religi yang masih sangat mungkin dikembangkan. Diantaranya Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Masjid dan Makam Sultan Suriansyah, Masjid Al-Karomah Martapura, Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, dan banyak makam lainnya yang tak pernah sepi dari puluhan ribu peziarah atau pengunjung setiap tahunnya.

Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah salah satu landmark kota Banjarmasin yang berada di jantung kota. Menempati areal seluas 10.36 hektar menghadap sungai Martapura yang ramai dengan lalu lintas airnya. Bangunan berarsitektur modern dikelilingi oleh lima menara menjulang tinggi serta taman luas nan indah, berlantai dua dapat menampung sekitar 15.000 jamaah.

Sementara Masjid Sultan Suriansyah merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Dan jika sempat ziarah ke Martapura, sebaiknya juga menyinggahi Masjid Agung Al-Karomah, Martapura. Masjid ini memiliki kubah yang unik dengan warna-warna dipuncaknya, dan juga dilengkapi dengan satu menara tinggi berarsitektur unik.

Meski sudah tiga kali rehab, namun tetap meninggalkan beberapa komponen bangunan asli dari pembangunan pertama. Empat tiang Ulin yang masih tegak di tengah menjadi penanda bangunan sebagai nilai sejarah. Dengan mengikuti bentuk bangunan modern dan Eropa, sekarang Masjid Agung Al Karomah Martapura terlihat lebih megah. Ke empat tiang bersejarah ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid.

Selanjutnya, jangan lewatkan pula Makam Ulama Agung Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau lebih dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan, merupakan destinasi wisata religius yang juga banyak dikunjungi orang.

Makam beliau berlokasi di desa Kalampayan Ulu, Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar dengan jarak tempuh sekita 60 km dari kota Banjarmasin, sedangkan dari kota Martapura – Ibukota Kabupaten Banjar- hanya kurang lebih 22 menit waktu perjalanan. Kitab/buku karangan beliau yang terkenal adalah Sabilal Muhtadin – sebuah kitab ilmu agama Islam – yang kemudian diabadikan sebagai nama masjid terbesar di Kalimantan Selatan.

Sumber: Majalah Travel Club

Masjid Raya Pulau Penyengat Tanjung Pinang – Kepulauan Riau

Masjid Raya Sultan Riau merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah Islam dan sejak lama sudah sangat terkenal sebagai destinasi wisata religi. Daya tarik lain karena letaknya di sebuah pulau kecil, bernama Pulau Penyengat. Masjid mulai dibangun ketika Pulau menjadi tempat tinggal Engku Puteri Raja Hamidah, istri Sultan Mahmudah (1761 – 1812 M).

Pulau kecil ini kurang lebih berjarak 6 km dari kota Tanjung Pinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Riau, dan dari Pulau Batam berjarak sekitar 35 kilometer. Luas Pulau Penyengat hanya sekitar 240 hektar. Akses ke Pulau bisa dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu boat atau dalam penyebutan masyarakat setempat lebih dikenal dengan bot pompong, bentuknya seperti sebuah rumah adat Melayu dengan kapasitas standar 13 orang.

Waktu yang dibutuhkan cukup singkat, hanya sekitar 15 menit saja, dengan biaya Rp 10.000 per orang sekali jalan. Namun biaya untuk kembali ke Pelabuhan Bintan Pura berbeda dan lebih mahal, bisa Rp 20.000 – Rp 25.000, bahkan jika sudah malam harganya melonjak bisa sampai Rp 30.000 sampai Rp 40.000. Jadi, jika memang sudah kemalaman sebaiknya tinggal saja di beberapa penginapan yang tersedia. Selain menghemat, wisata religi akan lebih kidmat di malam hari.

Masjid berwarna kuning, terlihat mencolok diantara bangunan yang ada di Pulau. Bentuk arsitektur masjid ini sangat unik, perpaduan antara Arab, India, dan Melayu. Dua kali pameran masjid pada Festival Istiglal, Jakarta 1991 dan 1995, Masjid Raya Sultan Riau ditetapkan sebagai masjid yang menggunakan kubah pertama di Indonesia. Memiliki 13 kubah, dan empat menara berujung runcing setinggi 18.9 meter yang dulu digunakan muadzin untuk mengumandangkan panggilan shalat.

Peninggalan sejarah berupa mushaf Al Quran tulisan tangan Abdurrahman Stambul pada 1867 Masehi. Sengaja diletakkan dekat pintu utama dalam peti kaca agar pengunjung bisa melihatnya. Sebenarnya ada mushaf yang lebih tua buatan 1752 lengkap dengan tafsir. Tidak diketahui siapa yang menulisnya, tapi tersirat bahwa orang Melayu tidak hanya menulis ulang Mushaf tapi menerjemahkannya. Sayang, Mushaf ini tidak bisa diperlihatkan karena kondidisnya telah rusak. Hanya tersimpan dalam lemari yang ada di bagian kanan masjid bersama 300-an lebih kitab lainnya.

Benda lainnya yang menarik perhatian adalah mimbar dari kayu jati yang dipesan dari Jepara. Sepiring pasir yang konon di bawa dari Tanah Mekah Al-Mukarromah oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua, Bangsawan Rai pertama yang menunaikan ibadah haji 1820 Masehi. Dan pasir biasa digunakan masyarakat setempat untuk upacara jejak tanah, tradisi menginjak tanah pertama kali bagi anak-anak.

Sumber: Majalah Travel Club

Masjid Bayan Beleq Lombok

Desa Bayan, Lombok Barat, berjarak 80 kilometer dari Kota Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi lokasi masjid pertama yang ada di Pulau Lombok. Bangunan mungil terbuat dari bambu itu tampak tua bersahaja, dan menjadi penanda masuknya Islam di Lombok.

Tidak ada kemegahan dari Masjid Bayan Beleq yang telah menjadi situs purbakala ini. Seperti halnya rumah-rumah penduduk di sana, keberadaanya tidak terlalu mencolok. Dari tepi jalan hanya terlihat pagar tembok diapit dua rumah kecil, kantor tempat pendaftaran pengunjung, dan rumah penjaga situs.

Meski tidak banyak masyarakat yang menggunakan sebagai tempat ibadah karena kapasitasnya tidak mencukupi lagi, tapi masyarakat tetap menjaga keutuhan bangunan sebagai salah satu bukti sejarah penyebaran Islam di Indonesia. Masjid berukuran 10 x 10 meter ini merupakan kebanggaan warga Bayan, dari sinilah salah satu pusat kegiatan menyebarkan Islam ke seluruh Lombok.

Dindingnya begitu rendah hanya dari anyaman bambu. Atapnya berbentuk tumpang disusun dari bilah-bilah bambu. Fondasi lantai yang tinggi dibuat dari susunan batu-batu kali. Di belakang kanan dan depan kiri masjid terdapat dua gubuk kecil. Tidak lain, itu adalah makam tokoh-tokoh agama di masa awal masjid ini. Pengunjung biasanya selalu menyempatkan diri ziarah dan berdoa di situ.

Bagian dalam lantai tanah liat ditutupi tikar buluh. Empat tiang utama penopang masjid dari kayu nangka berbentuk silinder. Di tiang atap masjid tergantung beduk kayu. Hanya para ulama dan pemangku adat yang biasa terlihat shalat dan tarawih di sini.

Menurut catatan Museum Negeri NTB, Islam masuk ke Lombok abad ke-17 dari beberapa tempat sekaligus, diantaranya dari Jawa, Gowa (Sulawesi), dan Bima. Maka perluasan siarnya bukan hanya dari Bayan. Ada dua Masjid kuno lagi di Gunung Pujut dan Desa Rembitan, keduanya di Lombok Tengah. Dan Islam di Bayan dengan Masjid Bayan Beleqnya diyakini masuk dari Tanah Jawa.

Memang tidak ada peninggalan-peninggalan tertulis yang menyebutkan dari Jawa. Tetapi karena banyaknya penggunaan istilah Jawa di Bayan seperti penggunaan kata raden, gusti pangeran, maka diyakini masuk dari Jawa. Dan terpeliharanya situs Masjid Bayan Beleq karena kuatnya tradisi pada masyarakat setempat.

Sejak itu agama dan budaya Islam masuk ke Lombok secara bergelombang melalui perdagangan dan interaksi sosial. Ada keyakinan dari ulama setempat, syiar Islam di Bayan oleh Sunan Prapen, cucu Sunan Giri, salah satu Wali Songo, penyebar Islam di Pulau Jawa.

Sumber: Majalah Travel Club

Masjid Merah Sang Cipta Rasa Cirebon – Jawa Barat

Cirebon merupakan salah satu tujuan wisata di Jawa Barat yang kaya akan destinasi sejarah tentang kejayaan kerajaan Islam. Kisah para wali terpartri di kota ini. Mulai dari komplek Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung sekitar 15 km ke arah barat pusat kota, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Masjid At Tagwa, dan keistimewaan Keraton Cirebon yang menjadi simbol kejayaan kerajaan Islam.

Cirebon mempunyai empat keraton sekaligus di dalam kota, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon. Semuanya memiliki arsitektur gabungan dari elemen kebudayaan Islam, Cina, dan Belanda. Ciri khas bangunan keraton selalu menghadap ke utara dan terdapat sebuah masjid didekatnya.

Dan wisata religi yang paling fenomenal di Cirebon adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa atau disebut Masjid Merah, karena sebagian besar dindingnya berwarna merah dan masih asli. Peninggalan berharga Sunan Gunung Jati. Arsitektur bangunannya amat khas, dindingnya yang merah mencirikan corak kebudayaan Hindu masih tetap dipertahankan.

Masjid Sang Cipta Rasa memiliki keunikan tersendiri dengan adanya tradisi “Azan Pitu”. Setiap hendak salat Jumat, 7 orang muazin akan mengumandangkan azan secara bersamaan. Tradisi ini telah dilakukan sejak lima ratus tahun lalu. Dahulu, azan pitu disuarakan setiap waktu shalat, namun kini hanya dilakukan saat shalat Jumat saja, pada azan pertama.

Tidak ada riwayat tertulis yang bisa menjadi acuan sejarah dan alasan Sunan Kalijaga memulai tradisi azan pitu. Satu-satunya sumber, hanyalah cerita lisan turun temurun dari pengurus masjid.

Konon katanya, tradisi azan oleh 7 muazin berawal dari adanya wabah penyakit yang melanda jemaah masjid di awal pendiriannya. Tradisi 7 azan ini diwariskan oleh Sunan Kalijaga saat mengusir wabah tersebut.

Menurut cerita selanjutnya, masjid ini berkaitan erat dengan Masjid Agung Demak, Sunan Gunung Jati memohon izin untuk membuat pasangannya di Cirebon. Maka Masjid Agung Demak mempunyai watak maskulin, sedangkan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini sebagai feminim.

Perbedaan mendasar masjid ini dengan masjid-masjid yang dibangun para wali lainnya adalah bentuk atapnya limasan dan di atasnya tidak dipasang momolo (mahkota masjid). Selain azan pitu, tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan yakni khotbah yang menggunakan bahasa Arab.

Kegiatan di masjid selalu ramai oleh peziarah ketika malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Biasanya mereka datang untuk berzikir dan tirakat malam. Sebagian percaya akan berkah yang lebih jika melaksanakan ibadah di masjid wali ini.

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Tengah Tower Asmaul Husna – Masjid Agung Jawa Tengah

Sejak diresmikan 14 November 2006, Masjid Agung Jawa Tengah menjadi destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi wisawatan dari berbagai daerah. Desain modern dan indah yang mengacu kepada gaya arsitektur timur tengah, bukanlah satu-satunya daya tarik yang dapat dinikmati. Hadirnya museum tampaknya menjadi pilihan utama bagi wisatawan yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai sejarah Islam.

Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah mencatat sejarah perkembangan agama Islam di Jawa Tengah. Museum ini berada di lantai dua dan tiga dari Tower Asmaul Husna di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah yang berlokasi di Jl. Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kota Semarang.

Pada lantai dua terdapat koleksi diorama dan lukisan yang bercerita tentang awal perkembangan Islam di Jawa Tengah sampai terjadinya dialog antara Islam dengan budaya lokal. Sedangkan pada lantai tiga, menampilkan koleksi-koleksi budaya pesantren sampai dengan berdirinya Masjid Agung Jawa Tengah, seperti Al Quran yang disadur selama 70 tahun dengan aksara Jawa pada 1835 oleh salah seorang abdi dalem Keraton Surakarta.

Tidak ketiggalan koleksi berupa artefak yang seolah turut bercerita bagaimana proses penyebaran Islam lewat budaya yang ada pada masyarakat pada masa itu. Diantaranya koleksi berupa: Wayang Golek Menak, Wayang Sadat, Gayor Masjid Sunan Muria, Gamelan, Ornamen Dua Sisi, Ornamen Masjid Mantingan, Keramik, Koleksi peninggalan Islam Awal, Artefak Kapal Dagang, Miniatur Menara Kudus, dan banyak koleksi lainnya yang menuntun kita menelusuri sejarah Islam di Jawa Tengah.

Jam layanan untuk umum terbuka pada hari Selasa sampai minggu pukul 08.00 – 15.00. Hari Senin libur. Untuk masuk ke dalam museum dan Tower Asmaul Husna pengunjung dikenakan biaya Rp 3.000, per orang (data 2009) termasuk melihat indahnya Kota Semarang dari atas tower.

Dengan muatan sejarah Islam yang begitu kental destinasi ini tentunya sangat sesuai untuk berwisata religi bersama keluarga. Terlebih bagi Anda yang mengisi libur lebaran tahun ini di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal Menyusuri Jejak Islam Nusantara

Al-Qur’an berukuran raksasa bersanding dengan Al-Qur’an sebesar ibu jari. Budaya Nusantara pun terbaca lewat seni kaligrafi, tanpa menghilangkan nilai ajaran Islam.

Sentuhan islami sangat terasa ketika menjejakan kaki di Museum Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal,Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Tampak dari luar, ukiran kaligrafi Arab terpampang di gedung bagian depan dan sebuah menara berdiri, menyapa tamu yang datang.

Berdiri di atas lahan seluas 20.013 meter persegi, museum ini terbagi menjadi dua bagian, yakni ruang Bayt Al-Qur’an, memajang mushaf-mushaf Al-Qur’an dari berbagai daerah dan ruang Istiqlal, menampilkan sejarah perkembangan dan penyebaran agama Islam melalui budaya di Indonesia.

Sebagai permulaan, pengunjung bisa melihat seni kaligrafi dari ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat mengagumkan. Di sepanjang lorong museum, pengunjung akan menemukan puluhan mushaf-mushaf Al-Qur’an tulisan tangan, dari ukuran terbesar hingga ukuran paling kecil, panjangnya tidak lebih dari ukuran ibu jari. Sementara, tahun pembuatannya tertera dari pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Perbedaan puluhan mushaf tersebut pun terlihat dari gaya penulisannya yang tidak terlepas dari hasil serapan budaya tempat mushaf itu dibuat. Seperti corak iluminasi dan karakter kaligrafi terbentuk berdasarkan kondisi jaman dan kreatifitas daerah masing-masing.

Sebut saja, Mushaf Istiqlal, Mushaf Wonosobo, merupakan mushaf paling besar, hasil karya dua santri Pondok Pesantren Al-Asy’ariah Wonosobo, Mushaf Kuno Nusantara, Mushaf Sundawi, Mushaf Jakarta, Mushaf Cirebon, Mushaf Kerajaan Bima, Mushaf Pusaka RI, dan masih banyak lagi.

Selain itu, terdapat pula Al-Qur’an Braille, khusus bagi mereka penyandang tuna netra, Al-Qur’an terjemahan bahasa daerah, serta Al-Qur’an berstandar Indonesia. Dan, ada juga peti-peti dengan ukiran indah untuk menyimpan mushaf-mushaf dari bahan kayu jati dan kuningan.

Menuju ruang pamer Istiqlal. Di ruang ini, pengunjung bisa mengetahui peradaban budaya bangsa Indonesia bernafaskan Islam. Koleksinya antara lain, manuskrip islami, lukisan kaligrafi, batu nisan, prasasti maklumat, naskah kuno, seni tradisional dan kontemporer. Keseluruhan hasil karya tersebut tidak lain bersumber dari firman-firman Tuhan dalam Al-Qur’an.

Beranjak lebih jauh, terdapat bangunan mini dan foto masjid-masjid Indonesia, dibangun berdasarkan arsitektur yang khas dan tidak dimiliki daerah lain. Misal, Masjid Baiturrahman, Nangroe Aceh Darussalam, dibangun pada abad ke-17 Masehi, Masjid Demak, Masjid Kudus, Masjid Sultan Ternate, dan tentu saja Masjid Istiqlal, Masjid terbesar di Asia Tenggara.

Tidak hanya itu, benda-benda seni kerajinan tangan, seperti keramik, songket, bordir, kulit dan interior dengan sentuhan Islam ikut melengkapi seluruh koleksi di museum yang sudah berdiri sejak tahun 1997.

Musem Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal sepertinya patut menjadi rekomendasi wisata religi Anda. Apalagi bila ingin ngabuburit saat Ramadhan tiba, datanglah ke museum ini.

Sumber: Majalah Travel Club