Tag Archives: masjid

Masjid Tua Wapauwe

Masjid Tua Wapauwe adalah sebuah masjid bersejarah dan merupakan masjid tertua di Maluku. Masjid yang berada di Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah ini dibangun pada 1414.

Di masjid ini tersimpan Mushaf Alquran Imam Muhammad Arikulapessy yang selesai ditulis (tangan) pada 1550. Keunikan bangunan masjid berusia tujuh abad ini adalah konstruksinya tidak menggunakan paku sama sekali, hanya menggunakan pasak kayu pada setiap sambungan.

Tak jauh dari masjid Wapauwe terdapat benteng New Amsterdam. Benteng ini peninggalan Belanda yang mulanya adalah loji Portugis.

Benteng tersebut menjadi saksi sejarah perlawanan para pejuang Tanah Hitu melalui Perang Wawane (1634-1643) serta Perang Kapahaha (1643-1646).

Sumber: Majalah Travel Club

Wisata Ziarah di Reruntuhan Kerajaan Banten Bersimpuh Sambil Mengharap Berkah

BANTEN — Dwi (28) bersimpuh di depan makam Sultan Hasanudin yang terletak di sebelah utara Masjid Agung Banten di Desa Banten, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang, Provinsi Banten. Mulutnya komat-kamit membaca doa secara cepat dan mimik wajahnya terlihat penuh pengharapan.
“Setiap hari Jumat saya ke sini, sekadar berziarah kepada para leluhur dan mencari berkah. Sebulan sekali pada malam Jumat saya tidur di masjid ini untuk membaca doa-doa, wirid, atau membaca Al-Quran,” kata Dwi yang lahir di Yogyakarta dan sudah tujuh tahun tinggal di Kota Serang.
Biasanya sepulang dari berziarah, Dwi membawa air putih dalam botol kemasan air mineral. Air ini sengaja diletakkan di dekat makam raja ketika dia berwirid atau membaca Al-Quran. Air ini diyakini telah diberkati. “Airnya saya percikkan ke sekitar tempat saya berdagang. Ini sudah kebiasaan saya,” katanya.
Dwi tidak sendirian. Setiap tahun tercatat 12-13 juta orang berdatangan ke kawasan reruntuhan Keraton Kerajaan Islam Banten yang jaya pada abad ke-12. Mereka datang dari berbagai daerah, baik dari luar maupun dari Banten sendiri. Kedatangan mereka selain untuk berwisata, juga untuk mendapat berkah di petilasan kerajaan ini.
Sultan Hasanudin merupakan raja pertama yang memimpin Kerajaan Islam Banten setelah didirikan oleh ayahnya, Syarif Hidayatullah yang kemudian berdiam di Gunung Jati, Cirebon. Gelar yang dipangku saat itu adalah Panembahan Maulana Hasanudin.
Kota kerajaan yang semula di Banten Girang dipindahkan ke dekat muara Sungai Cibanten yang kemudian dikenal dengan nama Banten. Pemindahan ibu kota ini setelah Pucuk Umun (Raja Banten) ditaklukkan dan daerahnya diislamkan.
Kejayaan kerajaan ini terbukti dengan semakin berkembangnya niaga antara negara dan pesatnya perkembangan pelabuhan. Tercatat bangsa yang berniaga itu adalah Inggris, Spanyol, Portugis, Arab, Melayu, Gujarat, Persia, Cina, dan bangsa-bangsa lainnya. Kejayaan pelabuhan ini menggeser ketenaran Sunda Kelapa (Jakarta).
Namun Belanda menghancurkan kerajaan ini setelah terjadi perpecahan pada pewarisnya. Belanda berhasil meyakinkan Sultan Haji untuk menyerahkan ayahnya, Sultan Agung Tirtayasa ke Belanda untuk dipenjara dan diasingkan. Belanda pun memindahkan kota ke Kota Serang yang hingga saat ini masih berdiri.
Kini reruntuhan keraton ini berserakan di atas tanah seluas 3,5 hektare di Desa Banten. Hanya Masjid Agung yang utuh dan telah direnovasi berulang-ulang. Bangunan-bangunan di kawasan kerajaan ini nyaris rata dengan tanah. Sisa-sisa keraton ini yang kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berziarah yang diyakini mendatangkan keberkahan bagi yang mempercainya.
Makam Raja-raja
Sejak dari Kota Serang menuju Banten sebenarnya wisata ziarah sudah bisa dimulai. Sepanjang jalan itu terdapat makam-makam raja dan pembesar kerajaan yang terkenal namanya, karena kebajikan maupun kepahlawanannya melawan penjajahan.
Misalnya, Maulana Yusuf yang terkenal dalam penyebaran agama Islam, serta Pangeran Arya Mandalika. Makam itu disertai dengan fasilitas parkir, kolam untuk wudhu, MCK, dan sebagainya.
Mendekati lokasi Masjid Agung Banten terdapat reruntuhan Keraton Kaibon yang kini sudah dipagar. Keraton Kaibon dibangun setelah berdirinya Keraton Surosowan yang merupakan keraton utama, tempat raja menjalankan pemerintahannya. Pembangunan kedua keraton itu dibantu arsitek Portugis bernama Cordel yang dianugerahi gelar Tubagus (Tb) Wiraguna. Sedangkan Keraton Kaibon dibangun untuk dipersembahkan kepada ibunda raja tercinta.
Keraton Surosowan merupakan pusat reruntuhan kerajaan yang kini tinggal tembok tinggi, pondasi-pondasi dan bagian-bagian kecil yang tersisa. Di sebelah selatan, terdapat sebuah kanal yang menghubungkan antara Tasikardi dengan keraton. Tasikardi merupakan tempat pengolahan air bersih yang dipasok ke kerajaan. Sedangkan di sebelah utara terdapat masjid agung dan sebuah museum yang memajangkan berbagai benda pusaka.
“Dulu, kapal-kapal perniagaan bisa merapat ke dekat keraton ini dan menyusuri Sungai Cibanten hingga ke Girang (daerah hulu yang sekarang dikenal Banten Girang di Kota Serang). Sekarang semuanya sudah tertutup, bahkan pembuatan Pelabuhan Karanghantu justru telah merusak tapak kerajaan,” kata Fatul Adhzim, pemimpin pesantren yang masih keturunan bangsawan Kerajaan Banten.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menyediakan terminal dan lapangan parkir cukup luas untuk kendaraan wisatawan. Dari parkir ini, dibuat jalan paving block untuk berjalan kaki menuju Masjid Agung dan makam Sultan Hasanudin. Sayangnya, lapangan parkir dan pinggir jalan itu dipenuhi berbagai pedagang mulai dari penjual kopiah, kemenyan, penganan hingga buah-buahan. Kondisi ini ditingkahi para pengemis yang masih anak-anak yang setia mengikuti pengunjung sebelum diberi uang recehan.
Sekitar 300 meter dari lokasi parkir, tampak meriam Si Jagur yang unik karena di bagian penyulut sumbunya berhiaskan kepalan tangan yang jari jempolnya diselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah. Meriam Si Jagur diyakini berpasangan dengan meriam Si Amuk yang kini berada di Jakarta. Keduanya merupakan hadiah dari Portugis dan digunakan untuk menjaga pantai. Konon, siapa yang sudah merangkul kedua meriam itu akan hidup bahagia dan serasi dengan pasangan hidupnya. Sedangkan bagi yang belum berkeluarga, keberanian dan kegarangan Si Jagur akan menular kepadanya.
Si Jagur ditempatkan di depan halaman Museum yang dibangun pemerintah pusat. Di museum itu dipajang penemuan hasil penggalian para arkeolog mulai dari gerabah, persolen cina, mata uang Banten, persenjataan hingga baju-baju kerajaan.
Menara Masjid Banten kini menjadi lambang bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Menara ini biasa dinaiki pengunjung. Di atasnya, bisa melihat laut sebelah utara dan pulau-pulau kecil, pelabuhan, serta perkampungan di sekitar reruntuhan kerajaan. Pada sore hari, pemandangannya sangat menakjubkan.
Sebelum berziarah ke makam raja, jangan lupa membeli air mineral untuk meangkap berkah doa-doa. Pulangnya. Jangan lupa pula, menyiapkan recehan karena akan diserbu pengemis anak-anak yang merengek dan mengikuti Anda. Sekali Anda memberi recehan, pengemis lain akan mengerubuti Anda.

Oleh Iman Nur Rosyadi [Sinar Harapan]

Menelusuri Benteng Keraton Buton

BAU-BAU – Jika masyarakat Jawa Tengah bangga akan Borobudur, sebuah candi peninggalan kerajaan Budha yang tersohor di seluruh penjuru dunia, warga Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengagungkan benteng dan Masjid Agung Keraton yang bernilai religius tinggi. Benteng yang mengelilingi pusat pemerintahan Kesultanan Buton dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton III, La Sangaji (Sultan Kaimuddin).
Banyak cerita yang mengalir seputar keberadaan benteng tersebut. Menurut La Ode Abu Bakar, tokoh adat masyarakat Buton, benteng tersebut awalnya hanyalah tumpukan batu yang mengelilingi pusat kerajaan. Selain berfungsi sebagai pembatas pusat lingkungan keraton, tumpukan batu tersebut berfungsi sebagai perlindungan dari serangan musuh. Pada masa pemerintahan sultan Buton IV, La Elangi (Sultan Dayanu Ikhsanuddin), tumpukan batu tersebut dibangun menjadi sebuah benteng. Cerita unik seputar pendirian benteng yang beredar di tengah masyarakat mirip dengan kisah pendirian Candi Borobudur. Konon, tumpukan batu tersebut direkatkan dengan menggunakan putih telur. “Kalau semata-mata hanya menggunakan putih telur tentu akan menggunakan sekian banyak telur. Secara jujur, tentu itu bukan hanya menggunakan putih telur, tapi juga kapur yang diolah menjadi adonan dengan campuran agar-agar dan putih telur,” kata Abu Bakar ketika ditemui di rumahnya, Kota Bau-Bau.
Menurutnya, benteng tersebut dikerjakan oleh seluruh penduduk kesultanan Buton, laki-laki dan perempuan. Para laki-laki mengumpulkan batu-batuan gunung dan menyusunnya. Sementara pasir dikumpulkan oleh kaum perempuannya.
Benteng yang berukuran keliling 2.740 meter dengan tinggi 2-3 meter dan ketebalan dinding 1,5 meter hingga 2 meter ini memiliki 12 pintu (lawa) dengan tambahan na (nya) yang diberi nama sesuai dengan nama atau gelar pengawas pintu-pintu tersebut, antara lain Lawana Rakia, Lawana Lanto, Lawana Labunta, Lawana Kampebuni, Lawana Wabarobo, Lawana Dete, Lawana Kalau, Lawana Bajo/Bariya, Lawana Burukene/Tanailandu, Lawana Melai/Baau, Lawana Lantongau, dan Lawana Gundu-gundu, yang berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung di sekitarnya.
Pintu-pintu tersebut menurut La Ode Mursali (48), budayawan Buton, diidentikkan dengan jumlah lubang dalam tubuh manusia yang juga terdiri dari 12 lubang. Kedua belas lubang pada tubuh manusia tersebut adalah lubang pori-pori kulit, mulut, dua lubang telinga, dua lubang mata, dua lubang hidung, satu lubang anus, satu lubang saluran kencing, satu lubang saluran sperma, dan satu lubang pusat.
Lubang saluran sperma diidentikkan dengan pintu rahasia benteng yang menjadi jalan keluar bagi petinggi-petinggi Kesultanan atau tempat persembunyian, jika ada serangan musuh yang mengancam dan membahayakan keselamatan keluarga Istana Keraton. Lawana Kampebuni (pintu tersembunyi) itu pula digunakan oleh Aru Palaka ketika hendak bersembunyi di sebuah gua di sekitar benteng dari kejaran raja Gowa.
”Dalam tatanan masyarakat suku bangsa Buton, segala sesuatu yang dibuat atau dibangun, selalu dikaitkan dengan tubuh manusia. Makanya, semua bangunan yang ada di dalam keraton, sarat dengan nuansa Islam. Karena memang, para sultan yang berkuasa menganut paham Islam,” tutur Mursali.
Sebagai sebuah benteng perlindungan, benteng Keraton Buton dilengkapi dengan puluhan meriam yang terdapat pada setiap pintu. “Meriam-meriam yang ada di sisi kiri-kanan pintu masuk itu merupakan bukti kuat bahwa Kesultanan Buton pernah melawan penjajah Belanda,” kata Mursali.
Keterangan serupa juga diungkapkan oleh pemerhati budaya Buton, Lutfi Hasmar. Menurut laki-laki yang bekerja sebagai juru bicara Pemda Kabupaten Buton ini, di wilayah Kesultanan Buton terdapat 72 benteng yang tersebar di sejumlah kadie (wilayah setingkat kecamatan). Di Buton sendiri terdapat tiga buah benteng, yaitu benteng Keraton Buton yang berbentuk huruf dal, benteng Baadia yang berbentuk huruf alif, dan benteng Sorawolio yang menyerupai huruf mim.
“Kombinasi karakter huruf yang membentuk ketiga benteng tersebut diasosiasikan masyarakat Buton dengan nama Nabi Adam, nabi yang mengawali kehidupan di muka bumi ini, tutur Lutfi.

Masjid dan Makam
Jika memasuki lingkungan benteng tersebut, kita seolah berada di masa lampau. Rumah-rumah yang terdapat di dalamnya dipertahankan berbentuk rumah asli Buton, rumah panggung yang sebagian besar bahan bangunannya adalah kayu. Orang-orang yang tinggal di dalamnya pun masih berhubungan dekat dengan para petinggi kesultanan.
Selain benteng itu sendiri, terdapat beberapa bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi, Masjid Agung Keraton dan Makam Murhum.
Masjid Agung Keraton dibangun pada masa pemerintahan Sultan Sakiyuddin Darul Alam (La Ngkariyri, Sultan Buton XIX). Masjid yang berukuran 20,6 x 19,40 m merupakan bangunan pusat kegiatan lembaga kesultanan di bidang keagamaan. Para perangkatnya berstatus sebagai aparat kesultanan.
Menurut Abu Bakar, bahan yang digunakan untuk membangun masjid itu sama dengan bahan untuk benteng keraton. Bangunan yang teridi dari dua lantai ini pun memiliki 12 pintu seperti pada benteng keraton. Sementara itu, kayu yang digunakan untuk membangun masjid tersebut berjumlah 313 potong yang diidentikkan dengan jumlah tulang pada tubuh manusia.
Jumlah anak tangga masuk masjid 17 buah, sama dengan jumlah rakaat salat umat Islam dalam sehari. Bedug masjid yang berukuran panjang 99 cm dianalogikan dengan asmaul husna (99 sifat Allah), dan diameter 50 cm dimaknai sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima Rasulullah. Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan tasbih sebanyak 33 kali.
Di samping masjid, terdapat tiang bendera yang didirikan tidak lama setelah masjid dibangun. Menurut Abu Bakar, kayu yang digunakan untuk tiang bendera tersebut dibawa oleh pedagang beras dari Pattani, Siam (sekarang Thailand).
“Perahu dagang selalu membawa kayu untuk persiapan mengganti bagian perahu yang rusak di perjalanan,” katanya. Setelah dagangan mereka habis dan hendak kembali ke Pattani, sultan meminta agar kayu tersebut ditinggalkan untuk dijadikan tiang bendera. Dahulu, setiap Jumat dipasang bendera kerajaan yang berwarna kuning, merah, putih, dan hitam di tiang tersebut.
Selain masjid, terdapat pula makam raja terakhir sekaligus Sultan I Buton, Murhum yang juga dikenal dengan Sultan Kaimuddin dan Halu Oleo (dalam bahasa Muna berarti delapan hari). Nama Halu Oleo diberikan karena Murhum mampu menyelesaikan perang saudara antara Konawe dengan Mekongga dalam waktu delapan hari.
Murhum adalah raja Buton pertama yang menganut ajaran Islam. Sejak itu pula, sistem pemerintahan berubah menjadi kesultanan yang sarat dengan nilai-nilai Islam. Makam Murhum terletak di belakang Baruga Keraton Buton (balai pertemuan) yang berada di hadapan Masjid Agung Keraton.

Sumber: Sinar Harapan

Masjid Kubah Emas di Kota Depok

Photo by Eki Milono - http://picasaweb.google.com/eki.milono/

Masjid Kubah Emas merupakan sebuah masjid megah yang berdiri di Kota Depok, Propinsi Jawa Barat. Ciri khas masjid ini terletak pada atap kubahnya yang terbuat dari emas 24 karat. Bangunan masjid ini mempunyai luas sekitar 8 hektar dan menempati area tanas seluas 60 hektar. Konon, karena kemegahannya, masjid ini sering disebut sebagai masjid termegah di Asia Tenggara, melebihi Masjid Istiqlal di Jakarta.

Masjid ini diresmikan pada tanggal 31 Desember 2006 dengan nama Masjid Dian Al Mahri. Tanggal peresmian ini bertepatan dengan Hari Raya Iduladha 1427 H. Menurut cerita yang beredar, bahan-bahan material masjid ini langsung didatangkan dari negara-negara Eropa dan Brazil, seperti emas, lampu, dan granit dari Italia, serta beberapa material lain dari Spanyol, Norwegia, dan Brazil. Pembangunannya pun dijalankan oleh tenaga profesional dari luar negeri dan memakan biaya milyaran rupiah.

Masjid Kubah Emas dibangun oleh seorang pengusaha asal Banten bernama Hj. Dian Djuriah Al Rasyid. Pengusaha kaya tersebut telah membeli tanah di daerah Depok sejak tahun 1996 dan mulai membangunnya sejak tahun 2001. Pembanguan masjid selesai pada akhir tahun 2006 dan dibuka untuk publik tepat pada tanggal 31 Desember 2006.

Keistimewaan

Salah satu keunikan yang dapat disaksikan pengunjung masjid ini adalah kubah tengah masjid. Masjid Dian Al Mahri mempunyai kubah berjumlah lima, yakni satu kubah utama dan empat buah kubah kecil. Bentuk kubah utama menyerupai kubah bangunan Taj Mahal di India. Kubah tersebut mempunyai diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara kubah-kubah kecil lainnya memiliki diameter bawah 6 meter, diameter tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter. Seluruh kubah tersebut dilapisi emas setebal 2 hingga 3 milimeter dan dihiasi oleh mozaik kristal. Selain itu, di pojok-pojok masjid juga berdiri enam menara yang berbentuk segi enam (heksagonal) dengan tinggi sekitar 40 meter. Keenam menara ini dibalut oleh batu-batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia dengan ornamen melingkar. Pada puncak menara-menara ini juga terdapat kubah yang dilapisi oleh emas. Enam menara ini melambangkan jumlah rukun iman, sedangkan lima kubah melambangkan rukun Islam.

Di Masjid ini juga terdapat lampu gantung yang didatangkan langsung dari Italia dengan berat sekitar 8 ton. Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan kekhasan relief yang menghiasi ruang Mihrab yang terbuat dari emas 18 karat. Kekhasan relief ini juga dapat dilihat pada pagar pembatas di lantai dua, hiasan kaligrafi di langit-langit masjid, dan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah yang berlapis bahan prado atau sisa emas. Khusus untuk langit-langit masjid terdapat hiasan kaligrafi bergaya Kuffi yang terbuat dari lempengan kuningan berlapis emas.

Kalau dilihat secara umum, arsitektur masjid ini mirip bangunan-bangunan masjid di Timur Tengah, yakni dengan ciri khas kubah, menara, halaman dalam, serta corak hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk-nya.

Sebagai sebuah bangunan yang megah dan memesona, masjid ini mempunyai bangunan dan halaman yang begitu luas. Luas bangunan masjid sekitar 8.000 meter persegi dan mampu menampung sekitar 15.000 hingga 20.000 jamaah. Ruangan masjid terbagi atas ruang utama, ruang mezanin, halaman dalam, selasar atas, selasar luar, dan ruang-ruang fungsional lainnya. Ruangan utama masjid didominasi oleh warna monokrom dengan warna dasar krem. Warna-warna ini seolah memberi nuansa tenang dan nyaman bagi pengunjung yang berada di dalam masjid ini.

Pada bagian luar masjid terdapat taman luas yang mengitari masjid. Taman ini ditumbuhi pepohonan rindang yang dapat memunculkan suasana sejuk dan asri bagi pengunjung. Konsep penataan taman ini merupakan kolaborasi antara arsitektur bangunan masjid bernuansa Timur Tengah dengan suasana lingkungan tropis Indonesia.

Lokasi

Masjid ini terletak di Jalan Meruyung, Kelurahan Limo, Kecamatan Cinere, Kota Depok, Propinsi Jawa Barat, Indonesia.

Akses

Masjid Kubah Emas berlokasi di pinggir Jalan Meruyung, Kecamatan Cinere, Kota Depok. Untuk menuju lokasi ini tidak terlalu sulit, karena dapat ditempuh dari beberapa arah. Bila berangkat dari arah Terminal Depok, pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi dapat mengambil jalan menuju arah Kecamatan Sawangan. Setelah sampai di pertigaan Parung Bingung, pengunjung disarankan berbelok ke kanan ke arah Kecamatan Cinere, lalu menuju lokasi masjid. Jarak antara pertigaan Parung Bingung ke lokasi masjid sekitar 3—4 km.

Bagi pengunjung yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, dari Terminal Kota Depok, dapat berangkat dengan menggunakan jasa angkutan kota (angkot) nomor 03 menuju pertigaan Parung Bingung. Dari pertigaan ini, pengunjung disarankan menggunakan ojek menuju Masjid Kubah Emas. Kota Depok berjarak sekitar 7 km dari Masjid Kubah Emas.

Sedangkan untuk pengunjung yang berangkat dari Terminal Lebak Bulus atau Terminal Pondok Labu di Jakarta Selatan, dapat menggunakan jasa angkutan kota (angkot) bernomor 102 menuju pertigaan Parung Bingung, kemudian belok kanan menuju arah lokasi masjid.

Harga tiket

Wisatawan yang berkunjung ke masjid ini dikenai biaya parkir kendaraan. Untuk rombongan bus dikenai tarif parkir sebesar Rp 10.000, untuk mobil keluarga dikenai tarif 3.000, sedangkan pengendara roda dua hanya sebesar Rp 2.000 (Mei 2008).

Masjid Kubah Emas dibuka setiap hari untuk umum pada pukul 04.00—06.00 WIB dan pada pukul 10.00—20.00 WIB. Pada hari Kamis, masjid ini ditutup untuk persiapan kebersihan shalat Jumat.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di masjid ini terdapat fasilitas-fasilitas penunjang yang bisa membuat pengunjung semakin betah berlama-lama di sini, di antaranya mini market, restoran, kios makanan, toko butik, rumah penginapan, gedung serbaguna, auditorium, gedung Islamic Center, dapur umum, dan toko suvenir. Wisatawan yang berniat mampir ke toko suvernir dapat membeli aneka cenderamata, seperti cangkir, pin, kaos, mukena, sajadah, songkok, dompet, jam, piring, dan lain-lain.

Selain itu, masjid ini mempunyai tempat parkir seluas 7.000 meter persegi yang dapat menampung 300 kendaraan roda empat atau 1.400 kendaraan bermotor. Sistem pengamanan kompleks masjid ini diserahkan kepada para satpam yang bertugas di lokasi masjid. Bagi para pengunjung yang ingin berfoto di lokasi masjid ini tidak perlu khawatir, karena di sini terdapat banyak fotografer yang menawarkan jasa foto.

Pengunjung yang ingin berwisata rohani ke masjid ini juga dapat mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan masjid ini secara rutin, di antaranya kegiatan tausiyah umum setiap hari Selasa, Rabu, Sabtu, dan Minggu pada pukul 10.30—12.00 WIB.

Sebagai sebuah kawasan terpadu untuk sarana ibadah, dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial, masjid ini di masa mendatang akan dilengkapi dengan rumah sakit, sekolah perawat, pesantren, dan universitas.?

Sumber: www.depok.go.id

Masjid Tua Katangka Situs Masuknya Agama Islam

Masjid al Hilal KatangkaDi Kabupaten Gowa terdapat Masjid tertua di Sulawesi Selatan yang dibuat tahun 1603, Masjid Al Hilal Katangka menjadi salah satu bukti masuknya agama Islam di Kabupaten Gowa pada tahun 1603.

Kehadiran Masjid Al Hilal Katangka inilah titik awal berkembangnya Islam di selatan Pulau Sulawesi. Islam diperkenalkan di Gowa oleh 41 mubaliq dari Timur Tengah dan tidak diketahui dengan jelas identitas resminya.

Namun menurut cerita mereka memperkenalkan Islam melalui sholat Jum’at yang pertama kali dilaksanakan dibawah pohon Katangka, daerah yang kini bernama Jalan Syekh Yusuf, di Kecamatan Somba Opu.

Setelah Raja Gowa ke 14 Sultan Alauddin memeluk Islam, dibangunlah sebuah Masjid yang kini masih berdiri dengan kokoh.

Pohon Katangka yang tadinya memayungi para mubaliq Timur Tengah saat sholat ditebang, kayunya dibuat sebagai bahan utama material bangunan Masjid. Dan sampai sekarang ini bagian atap atau kuda – kuda Masjid ini masih diyakini masyarakat dibangun dari pohon Katangka. Continue reading Masjid Tua Katangka Situs Masuknya Agama Islam

Wisata Kota Banjarmasin (2): Kemilau Batu Kecubung

Kemilau Batu Kecubung

Serunya mencucuk kue di perahu kelotok di atas aliran Sungai Kuin di Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel), bukan menjadi klimaks penulis dalam merunut nostalgia di kota ini.

SP/N Nuke Ernawat i- Masjid Raya Al Karomah Kota Martapura.
SP/N Nuke Ernawat i- Masjid Raya Al Karomah Kota Martapura.
flickr.com - Batu kecubung ungu.

Setelah 25 tahun, pastinya semua berubah. Dulu, sembari berjalan kaki sepulang sekolah di SD Rajawali yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, menuju rumah yang berjarak sekitar 200 meter, penulis berjalan di trotoar tepi Sungai Martapura yang memang mengalir di tengah kota. Perjalanan pulang sekolah itu, melewati Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Nah, tepat di depan masjid, di tepi Sungai Martapura waktu itu, selalu ada beberapa perahu kelotok yang merapat dan berjualan aneka buah-buahan. Bila musim buah rambutan tiba, aneka jenis rambutan yang hanya ada di Kalsel, seperti cikotok dan garuda, biasanya menggunung di atas perahu kelotok pedagang. Belum lagi jeruk madang yang tak kenal musim dan selalu ada, selalu setiap saat dijajakan di tepi Sungai Martapura, depan Masjid Raya. Sembari pulang sekolah, penulis biasanya sekalian ‘dititipi’ ibu untuk membeli buah-buahan itu. Sekarang, perahu-perahu kelotok penjaja buah itu, hanya bisa ditemui pagi-pagi di Pasar Terapung. Semua memang sudah berubah. Pun lokasi SD yang sekarang sudah menjadi gedung Bank Mandiri dan rumah masa kecil juga telah menjadi sebuah hotel. Namun, yang paling menyedihkan, adalah keadaan bangunan Masjid Raya Sabilal Muhtadin yang demikian kusam dengan rumput-rumput liar yang meninggi. Padahal, dulu, masjid itu menjadi kebanggaan warga Kota Banjarmasin. Rumput di halamannya begitu tertata, bahkan menjadi lokasi pelajaran olahraga tempat penulis bersekolah. Continue reading Wisata Kota Banjarmasin (2): Kemilau Batu Kecubung

Menelusuri Jejak Islam di Guangzhou

masjid-guangzhouGuangzhou – Di Guangzhou, sejarah Islam di China bermula. Sebuah makam yang diyakini sebagai makam dari penyebar Islam pertama di China, terletak di kawasan tersebut, juga sebuah masjid yang diperkirakan berusia 1.300 tahun.

Seorang lelaki usia 30-an melongok malu-malu dari balik pintu Masjid Huaisheng. Sejak tadi, ia berada di situ, mengamati orang lalu-lalang di depan masjid, entah yang berniat salat ataupun sekadar mengamati detail arsitektur masjid dengan kamera di tangan.
Lelaki itu, dengan jubah warna biru dan kopiah putih di kepalanya, serta jenggot panjang yang tumbuh di janggutnya, sama sekali tak tampak garang. Melihat senyum simpul dan sorot di matanya, ia benar-benar jauh dari kesan tak ramah. Dengan isyarat tangan, ia bahkan mengundang saya masuk ke masjid dan mengambil gambar dari dalam.
Continue reading Menelusuri Jejak Islam di Guangzhou

Martapura Kini Berubah Wajah

Megahnya Masjid Al Karomah Martapura
Megahnya Masjid Al Karomah Martapura

Martapura – Mendengar nama Martapura, masyarakat umumnya akan langsung menghubungkannya dengan lokasi penjualan intan permata. Tak heran karena sejak dulu nama Martapura memang dikenal sebagai penghasil intan terbesar di wilayah Kalimantan, bahkan di seantero Nusantara.

Kenyataannya, belakangan Martapura mulai berubah wajah. Lantaran terlalu sering dikunjungi pelancong dari wilayah Kalimantan sendiri maupun wilayah luar Kalimantan, Martapura pun berbenah sehingga belakangan mulai menjadi lokasi wisata tujuan para pelancong. Kawasan ini bukan saja untuk tujuan berburu membeli intan permata, tapi juga sebagai objek wisata keluarga.

Kalimantan Selatan (Kalsel) yang beribu kota Banjarmasin ini memang terbilang daerah yang cukup luas mencapai 36.985 km2. Provinsi Kalsel ini mempunyai dua kota besar, yaitu Banjarmasin dan Banjarbaru dengan sebelas kabupaten yang salah satunya adalah Kabupaten Banjar yang beribu kota Martapura. Continue reading Martapura Kini Berubah Wajah

Masjid Siguntur

masjid-sigunturMASJID Siguntur terletak di Dusun Ranah, Desa Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat. Bangunan masjid berada dalam satu kompleks dengan makam Raja-raja Siguntur dan rumah adat Siguntur. Di sebelah barat masjid mengalir Sungai Batanghari yang terkenal dengan peninggalan purbakala di sepanjang alirannya.

Latar Sejarah
Sejarah kerajaan Siguntur belum banyak diketahui, namun menurut sumber lokal menyebutkan bahwa daerah Siguntur merupakan sebuah kerajaan Dharmasyraya di Swarnabhumi (Sumatera) yang berkedudukan di hulu sungai Batanghari, sungai ini melintasi Provinsi Jambi dengan muara di laut Cina Selatan.

Sebelum agama Islam masuk ke wilayah Minangkabau atau Jambi, kerajaan Siguntur merupakan kerajaan kecil yang bernaung di bawah kerajaan Malayu, namun pernah bernaung pula pada kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Singasari, dan Minangkabau. Continue reading Masjid Siguntur