Tag Archives: masjid

Bedug Kyai Bagelen di Masjid Jami’ Purworejo

bedug-kyai-bagelen Di sebelah barat alun-alun besar Kabupaten Purworejo, suatu ketika berdirilah masjid besar dan agung yang merupakan kebanggaan seluruh umat Islam Purworejo hingga kini. Masjid yang diberi nama Masjid Agung Kabupaten Purworejo ini menempati tanah wakaf seluas kurang lebih 70 x 80 m2 dengan ukuran 21 x 22 m2 ditambah gandok berukuran ± 10 x 21 m2. Menurut sejarah, setelah berakhirnya Perang Diponegoro (1825 – 1830), Pemerintah Hindia Belanda merasa perlu mengangkat pemimpin dari kalangan pribumi untuk memerintah wilayah Tanah Bagelen (Purworejo sekarang). Sebagai Bupati kemudian diangkat Kangjeng Raden Tumenggung Cokronegoro I dan jabatan pepatih (pembantu Bupati) dipercayakan kepada Raden Cokrojoyo. Pada masa pemerintahan Bupati Cokronegoro I ini mulai dibangun beberapa gedung (gedhung) terutama untuk memperlancar kegiatan-kegiatan pemerintahan. Di sebelah utara alum-alun didirikan Gedung Kabupaten beserta Pendhapa Agengnya untuk tempat bersidang. Gedhung yang terdiri dari dua buah bangunan ini disebut paseban, yaitu tempat para abdi Kabupaten, Lurah dan rakyat menungg panggilan menghadap ke Kabupaten. Continue reading Bedug Kyai Bagelen di Masjid Jami’ Purworejo

Masjid Kebon Jeruk

Masjid Kebon Jeruk
Masjid Kebon Jeruk

Kalau bicara mengenai kemasyhuran dan keunikan, masjid ini mungkin salah satunya. Masjid ini bukan saja terkenal di Jakarta saja, tapi masyarakat dari berbagai daerah cukup banyak yang mengenalnya, bahkan tidak sedikit jamaahnya berasal dari penjuru dunia.
Masjid yang dimaksud adalah Masjid Kebon Jeruk. Letak masjid ini berada di Jalan Hayam Wuruk No. 85 Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat.
Masjid Kebon Jeruk merupakan masjid pertama di kawasan perdagangan dan keramaian bisnis ibu kota, yakni Glodok.
Menurut data dari Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi Jakarta, Masjid Kebon Jeruk didirikan oleh seorang Tionghoa Muslim, Chau Tsien Hwu di tahun 1786. Beliau adalah salah seorang pendatang dari Sin Kiang, Tiongkok yang kabur dari negerinya karena ditindas oleh pemerintah setempat. Continue reading Masjid Kebon Jeruk

Masjid Angke

masjid-angkeMasjid Angke terletak di Jakarta Barat dan mudah dicapai oleh minibus dari Museum Fatahillah Kota atau dari stasiun beos kota. Ia adalah satu-satunya masjid di Jakarta yang masih bertahan. Bangunan masjid ini ada dua lantai, yang bercirikan khas arsitektur Jawa.

Pada tahun 1856 Pangeran Syarif Hamid, seorang Sultan dari Pontianak dibuang ke Batavia (sekarang Jakarta) oleh Belanda. Ketika ia meninggal ia dikuburkan di depan masjid pada tanggal 17 Juli 1858. Makamnya terbuat dari batu pualam dan terdapat tulisan yang menyebutkan usia sultan yakni meninggal dunia dalam usia 64 tahun 35 hari.

Namun nisan yang konon tertua adalah nisan Ny Chen, seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim, dan kini disimpan di samping masjid. Orang dari Pontianak sering mengunjungi makam beliau dan banyak dari mereka telah memutuskan untuk tinggal di Angke. Continue reading Masjid Angke

Indahnya Masjid Raya Baiturrahman

masjid-raya-baiturrahmanMasjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, telah berusia 712 tahun, namun masih tetap memancarkan keindahan dan berlatar belakang sejarah yang besar. Karena itu, tidaklah mengherankan jika bangunan masjid yang mampu menampung sekitar 10.000-13.000 jemaah ini menarik perhatian umat Islam, baik yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) maupun dari berbagai pelosok Tanah Air. Continue reading Indahnya Masjid Raya Baiturrahman

Sumenep, “Jogja”-nya Madura

Gambaran umum orang Madura yang keras dan kasar, tidaklah seluruhnya benar. Bila Anda melakukan perjalanan ke ujung timur Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Sumenep, wajar jika tidak percaya kalau sedang berada di Pulau Madura.

masjid-agung-sumenepOrang Sumenep terkenal sopan dan tutur katanya lembut. Gambaran orang Sumenep yang berbeda dengan gambaran orang luar terhadap masyarakat Madura pada umumnya ini, erat kaitannya dengan posisinya yang pernah menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan Madura pada zaman kerajaan pada abad XVIII sampai awal abad XX. Continue reading Sumenep, “Jogja”-nya Madura

Riwayat Masjid Demak

Adalah Seorang Raden Patah yang menjadi perintis kerajaan Islam di Jawa. Ia disebut-sebut sebagai putra Raja Majapahit Brawijaya V dengan putri asal Campa (kini Kamboja) yang telah masuk Islam. Masa kecilnya dihabiskan di Pesantren Ampel Denta -pesantren yang dikelola Sunan Ampel. Ibu Sunan Ampel (istri Maulana Malik Ibrahim) juga putri penguasa Campa ketika Majapahit melemah dan terjadi pertikaian internal, Raden Patah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit dan membangun Kesultanan Demak. Dalam konflik dengan Majapahit, ia dibantu Sunan Giri. Berdirilah Kesultanan Demak pada 1475 atau beberapa tahun setelah itu.

Kelahiran Demak tersebut mengakhiri masa Kerajaan Majapahit. Konon sebagian penganut Hindu kemudian hijrah ke Bali dan sebagian mengasingkan diri ke Tengger. Continue reading Riwayat Masjid Demak