Tag Archives: museum

Museum Jenderal Nasution

Museum Jenderal NasutionMuseum ini semula adalah kediaman pribadi dari Pak Nasution yang ditempati bersama dengan keluarganya sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000. Petugas dari Dinas Sejarah Mabes TNI AD melakukan perawatan diorama di Museum Jenderal Besar DR AH Nasution, Jakarta Pusat, Minggu (29/9/2013).

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila untuk mengenang korban dari peristiwa G30S/PKI yang juga merenggut nyawa putri Jenderal Besar Nasution, Ade Irma Suryani Nasution. Museum Abdul Haris Nasution atau tepatnya Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution adalah salah satu museum pahlawan nasional yang terletak di Jalan Teuku Umar No. 40, Jakarta Pusat, DKI Jaya, Indonesia.

Museum ini terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga hari Minggu, dari pukul 08:00 hingga pukul 14:00 WIB. Setiap hari Senin museum ini ditutup untuk umum.

Sumber: Nonblok.com

Museum Taman Prasasti: Bekas Pemakaman yang Tidak Lagi Angker

SEBAGIAN dari Anda mungkin pernah mendengar Museum Taman Prasasti. Museum yang merupakan bekas pemakaman Belanda ini juga kerap digunakan sebagai lokasi pemotretan. Ini dikarenakan ada berbagai koleksi prasasti, nisan, makam, dan patung sebanyak 1.372 yang terbuat dari bahan batu dan perunggu.

Museum Taman Prasasti pada awalnya adalah pemakaman umum yang dididirikan pada akhir pemerintahan VOC tahun 1795 dengan nama Pemakaman Kerkhoof Laan. Kerkhoof Laan dimaksudkan sebagai pengganti kuburan di samping Gereja Nieuw Hollandsche Kerk (sekarang menjadi Museum Wayang ) dan Gereja Portugeesche Buitenkerk (sekarang Gereja Sion) yang saat itu sudah penuh terisi makam.

Dikatakan, Museum Taman Prasasti adalah satu-satunya museum dengan konsep outdoor karena hampir seluruh prasastinya tidak terlindung dari pengaruh cuaca.

Memasuki Museum Taman Prasasti, Anda akan disambut oleh taman yang bersih dengan pohon tinggi yang rindang. Tidak terasa keangkeran dari bekas lokasi pemakaman umum di sini malahan Anda akan melihat berbagai prasasti serta patung dengan gaya arsitektur Belanda yang unik.

Salah satu patung yang terlihat menarik ialah patung batu marmer Gadis Berduka yang menggambarkan seorang gadis sedang menangis dengan duka yang mendalam di wajahnya. Ada pula patung malaikat yang sedang berdoa.

Bukan itu saja, di tengah Museum Taman Prasasti juga terdapat bangunan berbentuk seperti Gereja Katedral yang terbuat dari bahan perunggu berwarna kehijauan. Selain peninggalan prasasti, terdapat pula kereta kuda pengangkut peti jenazah yang digunakan sejak 1825. Ada pula peti jenazah Presiden RI pertama Ir. Soekarno dan Wapres RI pertama Mohammad Hatta serta miniatur makam khas dari 33 provinsi di Indonesia.

Bagi penggemar fotografi, Museum Taman Prasasti menjadi surga di tengah hutan beton untuk menyalurkan bakat dan kreativitas seni fotografi. Bahkan, pembuatan beberapa video klip musik dibuat di museum ini dengan memanfaatkan nilai artistik tempat tersebut.

Belum pernah berkunjung, objek wisata Museum Taman Prasasti bisa Anda temukan di Jalan Tanah Abang 1/1 Kelurahan Petojo Selatan, Kecamatan Gambir Jakarta Pusat.

Harga tiket masuknya relatif murah yaitu Rp2.000 untuk dewasa, Rp1.000 untuk mahasiswa, dan Rp600 untuk anak-anak/pelajar. Waktu beroperasi museum ini pukul 09.00-15.00 WIB pada hari Selasa-Minggu, sedangkan Senin dan hari libur tutup. (wisatamelayu/*/X-13)

Merasakan Bencana Alam di Museum Tsunami Aceh

SEBAGAI upaya mengenang peristiwa tsumani Aceh tahun 2004 silam, didirikanlah Museum Tsunami Aceh. Arsitektur bangunannya merupakan gabungan rumah panggung khas Aceh dengan konsep escape building hill berupa bukit untuk evakuasi bencana tsunami.

Jika dilihat dari jauh, bangunan museum menyerupai kapal laut dengan cerobong. Museum berlokasi di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh.

Daya tarik utama museum adalah sebuah lorong sempit dimana pada kedua sisi dindingnya terdapat suara air yang bergemuruh seakan mengingatkan pada gelombang tsunami. Museum juga menampilkan simulasi elektronik gempa bumi Samudra Hindia 2004 beserta foto korban dan kisah dari mereka yang selamat.

Museum yang diresmikan pada Februari 2008 ini, juga difungsikan sebagai pusat pendidikan dan pusat evakuasi jika bencana tsunami terjadi lagi.

Konsep bangunan merupakan ide dari M. Ridwan Kamil, sang pemenang sayembara sekaligus Dosen Arsitektur Institut Teknologi Bandung, yakni Rumoh Aceh as Escape Hill.

Museum memiliki 2 tingkat. Lantai 1 merupakan area terbuka yang berfungsi sebagai tempat untuk mengenang peristiwa tsunami. Terdapat ruangan-ruangan berisikan hal-hal terkait kejadian tsunami 2004, seperti foto, artefak jejak tsunami, dan diorama (miniatur) kapal nelayan yang diterjang gelombang tsunami.

Sementara pada lantai 2 terdapat media pembelajaran seperti perpustakaan, ruang alat peraga, ruang 4D, ruang lukisan bencana, serta souvenir shop dan café. (indonesia.travel/*/X-13)

Ayo Tambah Pengetahuan di Museum Gedong Arca

BALI juga menjadi destinasi yang sarat akan sejarah dengan adanya keberadaan museum yang jumlahnya tak sedikit. Salah satunya Museum Arkeologi atau yang lebih dikenal sebagai Gedong Arca. Bangunan museum terbilang artistik dan sangat mencerminkan nuansa Bali.

Museum resmi berdiri pada tanggal 14 September 1974. Lokasinya berada di Desa Pejeng, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Kawasan museum dipenuhi pepohonan hijau, kolam teratai dan bunga anggrek.

Halaman Museum Gedong Arca mengikuti pola bangunan pura yang terdiri dari halaman luar (jaba sisi), halaman tengah (jaba tengah), dan halaman dalam (jeroan). Pada halaman tengah terdapat lima gedung yang berfungsi sebagai ruang pameran.

Koleksi museum terbagi menjadi dua kelompok, yakni benda cagar budaya (BCB) dari masa prasejarah dan masa sejarah.

Salah satu koleksi istimewa museum adalah Sarkofagus atau palungan yang ditata berdasarkan kelompok menurut lokasi penemuan dalam balai kecil yang artistik. Sebagian palungan berbentuk trapesium dan kura-kura.

Sarkofagus merupakan peti batu yang berfungsi sebagai wadah kubur pada masa prasejarah. Umur koleksi tersebut diperkirakan 2.000-2.500 tahun. Arca Ganesha, sang pelindung seni dan ilmu pengetahuan, juga termasuk salah satu koleksi di Gedong Arca. (museumindonesia.com/*/X-13)

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Sentuhan Budaya di Bumi Sriwijaya

Catatan perkembangan Kota Palembang terkuak di sini. Tak ketinggalan, sisi budaya masyarakat ikut membantu pengunjung mengenal tanah Sriwijaya.

Bangunan dengan padupadan gaya Eropa dan tradisional rumah limas khas Palembang itu masih tampak kokoh berdiri, tak jauh dari Sungai Musi, dan dekat kawasan Benteng Kuto Besak. Didirikan pada 1823 dan selesai 1825 di masa pemerintahan kolonial Belanda. Bangunan dua lantai ini berfungsi sebagai rumah dinas residen Belanda.

Sebelumnya, menurut kisah sejarah, keberadaan gedung tersebut merupakan keraton yang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo sekitar 1737. Namun, setelah kekalahan perang dialami pasukan Sultan, Belanda menghancurkan keraton agar tidak ada lagi sisa-sisa peninggalan kesultanan.

Selepas penjajahan Belanda, gedung tersebut tidak lagi menjadi rumah dinas, melainkan tiga kali berubah fungsi sebagai markas Jepang, lalu, teritorium II Kodam Sriwijaya diawal kemerdekaan, hingga akhirnya menjadi museum dibawah pengelolaan Pemerintah Kota Palembang. Dan, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II atau SMB II inilah yang menjadi fokus penjelajahan Kunjung Museum edisi ini.

Sebelum melangkah masuk menelusuri sudut demi sudut ruang, pengunjung diharuskan melewati tangga setengah melingkar, terdapat di bagian luar bangunan inti. Saat tiba di pintu masuk museum, sebuah lukisan besar bergambar sosok Sultan Mahmud Badaruddin II terpajang dalam bingkai, serta merta siap menyambut kedatangan para pengunjung.

Travel Club pun diajak berkeliling melihat sejarah peradaban kota pempek itu bersama pemandu museum. Di ruang pertama, pengunjung akan menemukan ruang pamer masa Sriwijaya. Ruangan ini menceritakan awal lahirnya Sriwijaya, mulai dari penemuan nama Sriwijaya, berkembangnya kerajaan, hingga keberadaan pendeta Buddha dari Cina, I-tsing yang belajar tata bahasa Sansekerta di Sriwijaya.

Kemudian, dilanjutkan ke ruang Pra Kesultanan, ruang Masa Kesultanan Palembang, Masa Kolonialisme Belanda di Palembang, serta ruang Daur Hidup berisi benda-benda berkaitan dengan tradisi orang Palembang dalam menyiapkan peristiwa penting yang perlu diperingati, seperti kelahiran, khitanan, pernikahan dan kematian. Selain itu, terdapat juga koleksi alat musik jidur, musik tradisional yang terkenal di Sumatera Selatan.

Dari sekian banyak ruang pamer di museum tersebut, total keseluruhan koleksinya ada 566 buah. Dengan perincian sebagai berikut, koleksi arkeologika sebanyak 10 buah, etnografika sebanyak 209 buah, numismatika ada 173 buah, biologika 15 buah, keramalogika 117 buah, seni rupa 6 buah, filologika 9 buah, historika 23 buah.

Seluruh koleksi merupakan perwujudan Palembang dari masa ke masa. Termasuk didalamnya terdapat Gelumpai, tidak lain adalah naskah kuno ditulis dengan huruf ‘ULU’ diatas potongan bambu. Lalu, arca Budha Siguntang iuga menarik untuk dilihat.

Museum SMB II memang lebih banyak menyimpan peninggalan masa lampau dari sisi etnografika. Jadi, pengunjung bisa mengenal lebih jauh seperti apa budaya tradisional masyarakat Palembang.

Nah, bila Anda sedang berada di Palembang, jangan lupa untuk singgah di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan nikmati sejuta pesona Sriwijaya dari dekat.

Lokasi museum
JI. Sultan Mahmud Badaruddin II No. 2 Palembang
Telp. (0711) 358450

Jadwal kunjung
Senin-Jumat Pukul 08.00-16.00 WIB
Sabtu-Minggu Pukul 08.30-16.00 WIB

Tiket
Umum: Rp. 2.000
Pelajar: Rp. 1.000,-

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Basoeki Abdullah: Warisan untuk Indonesia

MENIKMATI karya Basoeki Abdullah (almarhum), seolah menyadarkan betapa ia sangat berpengalaman dalam hal melukis. Basoeki turut membawa Indonesia sebagai bangsa besar atas hasil karyanya.

Seluruh koleksi pribadinya beserta rumah kediaman agar dihibahkan kepada pemerintah Republik Indonesia. Penyerahan ini dilakukan oleh Saraswati Kowenhouven, Cicilia Sidhawati dan Nataya Narerat sebagai ahli waris pada tanggal 2 dan 5 September 1995 kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada tahun 1998 rumah di Jalan Keuangan Raya No. 19 Cilandak Barat Jakarta Selatan diserahkan kepada pemerintah melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan Cq. Direktorat Permuseuman dan tepat tanggal 25 September 2001 diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Drs. I Gede Ardika.

Dari koleksi yang dihadirkan di Museum Basoeki Abdullah, pengunjung dapat melihat sosok Basoeki lewat benda-benda koleksinya, seperti jam tangan dan koleksi keramiknya. Beberapa koleksi jam tangan unik yang dipajang, seakan mengembalikan ingatan kita saat Basoeki dibunuh delapan tahun silam.

Bahkan, senapan angin yang digunakan untuk memukul Basuki, hingga menyebabkan seniman besar ini tewas tidak ketinggalan untuk dipamerkan disana.

Tokoh-tokoh dari negara asing seperti, Imelda Marcos dari Filipina dan Ratu Juliana dari Amsterdam juga tidak ingin ketinggalan mengabadikan dirinya untuk dilukis oleh Basoeki dan sekaligus menjadi salah satu karya monumental Basuki.

Negarawan dalam negeri, seperti Sukarno, Muhammad Hatta, Soeharto beserta sang istri, Tien Soeharto pun tak luput dari inspirasinya.

Koleksi lainnya
Koleksi Museum Basoeki Abdullah lainnya mengenai penjelasan tentang riwayat hidup sang Maestro, berupa teks informasi yang didukung dengan foto-foto kegiatan dirinya sebagai pelukis, piagam penghargaan dari dalam dan luar negeri.

Jam buka museum
Selasa-Kamis : pukul 08.30-15.30 WIB
Jumat : pukul 08.30-15.30 WIB
Sabtu-Minggu : pukul 08.30-15.30 WIB

Harga tiket masuk : Gratis

Filosofi Museum Rudana

MUSEUM Rudana yang lokasinya tepat di pusat seni Ubud, Bali, memiliki pemandangan sawah yang sejuk, nyaman, serta memberikan kesan yang asri. Museum seni lukis ini berdiri atas prakarsa Presiden RI Soeharto dan sang istri, Tien Soeharto.

Koleksi Museum Rudana terdiri dari lukisan tradisional 108 buah, lukisan modern 216 buah, patung 55 buah, topeng 10 buah, wayang kulit dan dilengkapi juga dengan senjata Nawa Sanga 9 buah.

Pada struktur bangunannya, Museum Rudana mempersembahkan arsitektur asal Bali dengan tiga lantai sesuai dengan filosofi Bali, Tri Angga Yaitu, tiga bagian tubuh manusia yang terdiri dari kepala, badan dan kaki. Hal ini disesuaikan juga dengan Tri Mandala yang merupakan tiga bagian halaman museum, Jeroan, Jaba Tengah dan Jaba Isi.

Lalu juga ada Tri Loka yang merupakan tiga tingkatan alam semesta yaitu Bhur, Bwah, dan Swah. Atau dengan Tri Hita Karana yaitu tingkatan/hubungan manusia hidup di dunia seperti manusia dengan alam (palemahan), manusia dengan manusia (pawongan) dan manusia dengan Tuhan (parahyangan).

Konsep filosofi tersebut erat kaitannya dengan perkembangan seni rupa yang dapat memberikan regenarasi seniman dari zaman ke zaman, layaknya benang emas yang tidak dapat putus.

Museum secara resmi dibuka pada 26 Desember 1995 oleh Presiden Soeharto yang juga berbarengan dengan memperingati ulang tahun Republik Indonesia ke 50. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti yang dihadiri oleh para menteri, seniman beserta masyarakat.

Museum yang berdiri di Jl. Cok Rai Pudak no 44, Kelurahan Paliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, itu beroperasi setiap hari dari Senin hingga Minggu, pukul 08.00-17.00 WITA. Sedangkan pada hari raya atau hari besar lainnya, museum ini tutup.

Untuk harga tiket masuknya, museum ini memasang tarif untuk dewasa sebesar Rp 20.000 dan anak-anak, Rp 10.000. Bila Anda datang ke Museum Rudana bersama rombongan, pihak pengelola Museum memberikan diskon 50%. (mediaindonesia.com/OL-5)

Kenang Majapahit di Museum Mpu Tantular

SEORANG kolektor berkebangsaan Jerman yang sudah menjadi warga Surabaya Van Faber mendirikan Stedelijk Historisch Museum karena jatuh cinta pada kebesaran Kerajaan Majapahit.

Upaya Van Faber untuk mendirikan museum ini sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1922, tetapi baru sebelas tahun kemudian dapat diwujudkan. Museum ini dibuka secara resmi pada tanggal 25 Juni 1937.

Sejarah museum
Dalam perjalanannya, nama Stedelijk Historisch Museum Surabaya pada tahun 1972 diubah menjadi Museum Jawa Timur dan pada tanggal 1 November 1974 diresmikan dengan nama Museum Negeri Provinsi Jawa Timur Mpu Tantular.

Pemberian nama Mpu Tantular bagi museum ini adalah untuk mengabadikan pujangga besar Majapahit, pengarang kitab Arjunawijaya dan Sutasoma yang didalamnya terkandung falsafah Bhineka Tunggal Ika yang selanjutnya dijadikan semboyan bangsa Indonesia.

Koleksi
Koleksi museum ini berjumlah kurang lebih 15.000 buah yang digolongkan menjadi koleksi geologi, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatik, heraldik, filologi, keramik, seni rupa dan teknologi.

Seluruh koleksi yang dipamerkan di ruang pameran tetap museum terdiri dari koleksi yang terbagi dari zaman prasejarah, klasik (Hindu-Budha), zaman Islam, kolonial dan zaman modern, termasuk di dalamnya koleksi ilmu pengetahuan dan teknologi. (OL-08)

Jam buka museum
Selasa s/d Kamis : pukul 08.00 s/d 15.00 WIB
Jumat : pukul 07.00 s/d 14.00 WIB
Sabtu :pukul 08.00 s/d 13.30 WIB
Senin : tutup

Harga tiket masuk
Dewasa : Rp 1.500,-
Anak-anak : Rp 1.000,-
Rombongan (minimal 10 orang)
Dewasa : Rp 1.000,-
Anak-anak : Rp 500,-

Transportasi
a. Dari Bandara Udara Juanda : 15 Km
b. Dari Pelabuhan Laut Tanjung Perak : 50 Km
c. Dari terminal bus Bungur Asih : 10 Km
d. Dari Stasiun KA : 35 Km

Mengenal Gula di Museum

INGIN mengetahui bagaimana proses membuat gula dan segala hal informasi mengenai gula, silahkan mampir ke Museum Gula di Klaten, Jawa Tengah. Museum ini menempati salah satu bangunan bekas tempat tinggal yang berada di kompleks Pabrik Gula Gondang Baru, Jogonalan, Klaten.

Museum ini berdiri atas prakarsa Gubernur Jawa Soepardjo Roestam dan mendapat dukungan penuh dari Direktur Utama PTP XV-XVI (Persero) pada 11 September 1982.

Tercetusnya membuat museum ini karena pertimbangan bahwa perkembangan industri gula negara perlu ditunjang dengan data sejarah sebagai data untuk pengembangan lebih lanjut. Pertimbangan tersebut rupanya menjadi dasar perlunya museum gula didirikan sebagai tempat penelitian dan resmi beroperasi sejak 22 Agustus 1986 bertepatan dengan konggres International Society of Sugar Cane Technologist (ISSCT) XIX.

Koleksi museum
Koleksi yang dimiliki terdiri dari peralatan tradisional, penanaman tebu, bibit tebu dan peralatan tradisional pemeliharaan tanaman tebu. Selain itu juga ada alat-alat mekanisme atau fabrikasi dari pabrik gula, serta beberapa foto penunjang antara lain: foto pabrik gula lama, foto upacara gilung pertama serta tiruan visualisasi ruang administrasi lama.

Di salah satu ruangannya, kita dapat menyaksikan maket pabrik gula Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatra Selatan. Masih di ruang yang sama, dipajang koleksi yang berhubungan dengan proses produksi gula, sejak dari masa penanaman hingga pembuatan gula. Tak hanya alat pertanian yang digunakan dalam bercocok tanam tebu, bahkan sejumlah hama pengganggu tanaman juga dipajang.

Selain itu ada mesin-mesin yang digunakan di sebuah pabrik gula (manual-modern) dan alat laboratorium. Terlebih lagi di ruang berikutnya dipamerkan berbagai jenis perangkat kerja seperti mesin ketik, mesin hitung, juga alat hitung manual yang semuanya terlihat antik. Beberapa diantaranya dibuat tahun 1900-an.

Tak kalah menariknya, adalah koleksi yang ada di sebelah kiri bangunan museum. Di sini ada lokomotif kuno yang dibuat Backer dan Rubb Prada Nederland tahun 1889 lalu ada loko buatan Jerman produksi tahun 1901, pedati (semacam gerobak yang digerakkan dengan sapi/kerbau), yang digunakan sebagai pengangkut tebu dari ladang ke pabrik, dan alat transportasi untuk inspeksi di perkebunan.

Jam Buka Museum
Senin-Kamis : pukul 07.00 – 14.00 WIB
Jumat : pukul 07.00 – 11.00 WIB
Sabtu : pukul 07.00 – 14.00 WIB
Minggu : pukul 08.00 – 12.00 WIB

Harga Karcis Masuk
a. Dewasa : Rp 3.500,-
b. Anak-anak : Rp 3.500,-

Lokasi Museum
d/a. Pabrik Gula Gondang Baru Jalan Raya Jogja – Solo Km. 25, Klaten – Jawa Tengah. (*/OL-5)

Dari Gubuk Menjadi Bangunan Bersejarah RI

SEBELUM menjadi Museum Perundingan Linggarjati, bangunan ini hanya berupa gubuk milik Ibu Jasitem di tahun 1918. Lalu pada tahun 1921, seorang kebangsaan Belanda bernama Tersana, merombak gubuk itu menjadi rumah semi permanen.

Rumah itu kemudian dibeli keluarga Van Ost Dome, lalu merombaknya pada tahun 1930 hingga 1935, menjadi rumah tinggal seperti sekarang ini. Rumah ini pada periode 1935-1946 dikontrak Heiker (bangsa Belanda) untuk dijadikan hotel yang bernama Rus Toord.

Keadaan tersebut terus berlanjut setelah Jepang menduduki Indonesia dan diteruskan setelah kemerdekaan Indonesia. Sempat kembali dijadikan hotel dan berubah namanya menjadi Hokay Ryokan.

Setelah Indonesia mengumandangkan kemerdekaanya, bangunan tersebut kemudian diambil alih oleh pemerintah RI dan berganti namanya menjadi Hotel Merdeka. Jika Anda yang pernah kesana dan memperhatikan letak pembagian ruangan dalam museum ini, memang menyerupai pembagian ruangan untuk hotel.

Pada tahun1946 di gedung ini berlangsung peristiwa bersejarah yaitu Perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang melahirkan naskah Linggarjati. Dari situlah hingga kini gedung tersebut dikenal dengan Gedung Perundingan Linggarjati.

Sejak aksi militer tentara Belanda ke-2 (1948-1950) gedung ini kembali dijadikan markas Belanda, lalu dialihfungsikan menjadi Sekola Dasar Negeri Linggarjati (1950-1975). Selanjutnya di tahun 1975, Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung sekaligus menyampaikan pesan bahwa gedung tersebut akan dipugar oleh Pertamina. Tahun 1976, gedung akhirnya diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk menjadi museum.

Museum ini mengoleksi berupa naskah perundingan, foto-foto, dan meja kursi yang menggambarkan peristiwa yang berhubungan dengan perundingan Linggarjati. Hampir semua barang yang terdapat dalam museum masih asli waktu perundingan Linggarjati.

Jika biasanya Anda melihat banyak kerusakan di banyak museum dan coret-coretan dari tangan nakal para pengunjung, di museum ini Anda akan tidak pernah menyaksikannya. Pasalnya, pengurus museum dan penduduk lokal disekitarnya sangat menjaga salah satu gedung bersejarah tersebut.

Museum Perundingan Linggarjati ini terletak di desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Jam bukanya, Senin-Jumat (07.00-15.00), Sabtu-Minggu (08.00-17.00) dengan tarif masuk gratis. Anda hanya perlu membayar seikhlasnya kepada para pemandu yang siap menjelaskan lebih detail sejarah mengenai bangunan.(http://www.mediaindonesia.com/Ol-5)