Tag Archives: museum

Museum Transportasi Nostalgia Naik Angkutan Umum

PERNAH merasakan naik delman, bemo, oplet atau becak? Beruntung bagi mereka yang pernah merasakannya karena di era modernisasi seperti saat ini, alat transportasi tersebut nyaris punah tergerus arus jaman. Bahkan, sarana itu sudah tergantikan dengan mobil dan bus angkutan umum di kota Jakarta.

Jangan kecewa dulu bila belum pernah merasakan sensasi naik kendaraan unik ini, karena Anda masih bisa melihatnya di Museum Transportasi. Berlokasi di area Taman Mini Indonesia Indah (TMII), museum yang diresmikan pada 20 April 1991, memiliki beragam koleksi alat transportasi Indonesia dari masa ke masa.

Sajian lengkap mengenai dunia transportasi mulai dari sejarah perkeretaapian Indonesia dan peta jaringan kereta api di pulau Jawa, lengkap dengan koleksi kereta api yang menggandeng gerbong-gerbong kayu, hingga bus-bus kuno, bisa dinikmati di area seluas 6,25 hektare tersebut.

Untuk lebih lengkapnya, museum ini terbagi menjadi empat ruang. Diawali, Modul Pusat. Terdiri atas koleksi alat transportasi tradisional diantaranya, bendi, becak, andong, sepeda, cikar, roda pedati, serta perahu layar dengan bentuk asli maupun miniatur. Koleksi unik di sini berupa foto kereta jenasah asli yang dipakai masyaarakat Aceh untuk mengangkutjenasah Sultan Iskandar Thani tahun 1641.

Selanjutnya, Modul Darat. Tempat itu khusus menampilkan sarana dan prasarana jalan raya, halan baja, serta penyebrangan. Lalu, Modul Laut. Terdapat transportasi laut menggunakan mesin, sebut saja, kapal penumpang, dok terapung, kontainer dan peralatan lainnya. Tak ketinggalan foto-foto mengenai perkembangan transportasi laut.

Kemudian, Modul Udara. Koleksinya adalah pesawat terbang, berbabgai macam peralatan di bandara, juga foto penunjang koleksi. Sementara, benda yang tidak boleh terlewatkan oleh pengunjung, bus wisata pertama dari Perum Pengangkutan Djakarta (PPD) tahun 1968 yang bermesin Mercedes Benz 0 302.

Tunggu apa lagi, yuk, bernostalgia di Museum Transportasi. Menikmati serunya naik angkutan umum dari sini.

Museum Transportasi
Komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Telp: 021-8400482, 8400662
Faks: 021-87792486
Buka: 09.00-16.00 (setiap hari)
Biaya: Rp. 2.000

Sumber: Majalah Travel Club

Trowulan, Kota Klasik di Jawa Timur

SATU dari sekian banyak tempat sejarah berada di Jawa Timur. Trowulan adalah satu-satunya situs kota klasik di Indonesia yang menjadi warisan kebesaran kerajaan Majapahit. Ya, inilah situs Kerajaan Majapahit dari masa abad XIII s/d XV Masehi.

Situs dan Museum Purbakala Trowulan berlokasi di Trowulan, Mojokerto. Situs ini pertama kali muncul dalam literatur berjudul ‘History of Java I‘ yang ditulis Sir Stamford Raffles pada tahun 1817.

Raffles sendiri mengatakan bahwa nama Trowulan berasal dari Trang Wulan atau Terang Bulan. Namun, saat ditemukan seluruh situs ini tertutup hutan jati yang cukup lebat, sehingga dia tidak dapat terlihat sebagai sebuah kota yang klasik.

Situs kota klasik Trowulan dibangun dengan pola ruang kanal air yang diduga ada hubungannya dengan konsep mandala, sebagai acuan dan dasar pembagian kosmologis kota ini.

Kolam Segaran misalnya, yang berfungsi sebagai telaga di tengah kota. Berdasarkan sketsa rekonstruksi Kota Majapahit dan foto udara, kota klasik ini memiliki sistem kanal pengairan untuk drainase dan pasokan air yang dibuat dalam garis lurus memanjang dari barat laut ke tenggara dan dari timur laut ke barat daya.(indonesia.travel/*/X-13)

Ayo Melihat Koleksi Keraton Sumenep di Museum

DI Jalan Dr. Sutomo, Sumenep atau tepatnya di belakang Keraton Sumenep terdapat sebuah museum yang menyimpan beragam peninggalan bersejarah para bangsawan Sumenep.

Koleksi yang tersimpan di antaranya adalah kereta keraton buatan abad ke-18, keramik dari Dinasti Ming, naskah kuno, peralatan pertanian dan nelayan kuno, prasasti, arca, keris, tombak, pedang, meriam dan alat-alat pribadi atau rumah tangga kerajaan.

Uniknya lagi, terdapat Alquran raksasa berukuran 4 x 3 meter dengan berat 500 kg. Alquran ini dibuat oleh seorang wanita yang bernama Yanti dari Desa Bluto pada tahun 2005. Waktu pembuatannya pun dibutuhkan selama enam bulan.

Bagian pertama museum berada di luar keraton. Ini merupakan tempat penyimpanan kereta kencana kerajaan Sumenep dan kereta kuda pemberian ratu Inggris. Hingga kini, kereta kerajaan ini masih dipakai saat upacara peringatan hari jadi kota Sumenep.

Bagian kedua museum ada di dalam Keraton Sumenep. Alat-alat untuk upacara mitoni atau upacara tujuh bulan kehamilan keluarga raja dan senjata-senjata kuno berupa keris, clurit, pistol pedang tersimpan di sini. Beragam guci dan keramik Tiongkok pun ada.

Di Museum Keraton Sumenep juga ada piring ajaib (magic rower) yang memiliki kekuatan magis, dimana nasi yang dihidangkan di atasnya tidak akan basi meskipun sudah satu minggu.

Jangan heran dengan salah satu raungan yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung, karena kamar itu diyakini sebagai kamar tidur raja Sumenep.

Museum Bindara Saod adalah bagian ketiga museum yang terletak di dalam keraton. Ruangan ini terdiri lima bagian yaitu teras rumah, kamar depan bagian timur, kamar depan bagian barat, kamar belakang bagian timur dan bagian barat.

Keraton Sumenep yang dikenal sebagai Potre Koneng (Putri Kuning) dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo I tahun 1762. Arsiteknya adalah Liaw Piau Ngo dari China yang memadukan gaya arsitektur Islam, Eropa, China, dan Jawa.

Di dalam keraton pun terdapat Pendopo Agung, Kantor Koneng, dan bekas Keraton Raden Ayu Tirto Negoro yang saat ini dijadikan tempat penyimpanan benda-benda kuno. (indonesia.travel/*/X-13)

Museum Layang-Layang Dolanan Anak Indonesia

Dolanan anak apa yang masih dimainkan hingga sekarang? Layang-layang adalah salah satunya. Mainan tak lekang oleh jaman ini kerap dijumpai di sekitar lingkungan kita, apalagi saat musim panas tiba. Biasanya dimainkan menjelang sore hari.

Agar lebih seru, sebaiknya layang-layang tidak saja untuk dijadikan permainan, tetapi juga dikenali dari dekat dengan pergi ke Museum Layang-Layang, di Jakarta.

Letaknya agak jauh dari jalan raya, hening dan nyaman seperti itulah suasana yang terasa ketika masuk ke area museum ini. Rumah tradisional bergaya joglo siap menyambut tamu. Didalam, layang-layang dari berbagai macam warna, ukuran dan desain, ramai menggelantung di atap rumah.

Bukan tanpa sebab Endang Widjarnako Puspoyo mendirikan museum tersebut. Kecintaan terhadap layang-layang lah yang membuatnya membangun Merindo Kites & Gallery tahun 1985 silam. Berbagai kegiatan pun ia lakukan melalui galerinya, hingga, pada 21 Maret 2003 resmi berdiri museum yang menyimpan koleksi museum dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Menariknya, ada replika layang-layang dari jaman purbakala, terbuat dari daun.

Banyak kegiatan bisa dilakukan di tempat ini. Sebut saja, kegiatan menonton film tentang layang-layang, keliling museum, merakit layang-layang sederhana, melukis layang-layang, hingga pelatihan menjadi pembuat layang-layang. Bukan sekedar itu, ada lagi paket kegiatan membuat keramik, melukis payung, membatik dan lainnya.

Berminat mampir ke Museum Layang-Layang? Jangan lupa bawa seluruh keluarga untuk menikmati serunya jalan-jalan ke museum ini.

Museum Layang-Layang
Jalan H. Kamang No.38, Pondok Labu
Jakarta Selatan 12450
Telepon: 021-7658075, 75904863
Fax: 021-7505112
Buka: 09.00-17.00 (setiap hari), kecuali hari libur nasional
Harga: Rp. 10.000

Sumber: Majalah Travel Club

Mengunjungi Museum Bagi Pecinta Seni Lukis

BAGI Anda pecinta seni lukis, mungkin tak asing dengan nama Affandi, seorang maestro lukis yang kerap mengadakan pameran lukisan ke berbagai penjuru dunia dan karyanya sering menerima berbagai penghargaan.

Bila ingin melihat sejumlah koleksi lukisannya, Anda bisa mengunjungi Museum Affandi yang terletak di Jalan Laksda Adi Sucipto No. 167, Depok, Sleman, Yogyakarta. Sebanyak 1.000 koleksi lukisan dipajang dan sekitar 300 diantaranya merupakan karya Affandi sendiri.

Museum terbagi menjadi empat galeri, yaitu Galeri I, Galeri II, Galeri III dan Galeri IV. Kesemua galeri berarsitektur serupa namun terdapat perbedaan dari segi penataan yang memiliki ciri khas dan karakteristik tersendiri.

Tak hanya sekedar menampilkan lukisan karya sang maesto dan pelukis kenamaan lainnya, museum juga menjadi tempat untuk pelaksanaan beberapa kegiatan seni lukis dan pameran yang rutin. Misalnya Pameran Lukisan Tonny Holsbergen (setiap Februari), Haul Almarhum Affandi (23 Mei), Pameran Sorrandu (Juni-Juli), Pameran Tunggal Kartika Affandi (November).

Fasilitas pendukung museum antara lain perpustakaan, mushola, toilet, kolam renang, menara pandang, rumah panggung, gerobak, galeri pertunjukan (indoor dan outdoor), pemandu (guide), ruang pertemuan, ruang pertunjukan, toko souvenir, Kafe Loteng dan Sanggar Gajah Wong.

Bila ingin melihat proses sang maestro berkarya, pengunjung bisa meminta pihak pengelola untuk memutarkan video/CD yang menayangkan bagaimana Affandi melukis menggunakan media dan alat beragam.

Museum buka pada hari Senin-Minggu dan tutup pada hari besar, kecuali sebelumnya sudah melakukan reservasi ke pengelola. Senin-Sabtu buka pukul 09.00-16.00 WIB, sedangkan hari Minggu pada pukul 09.00-13.00 WIB. (jogjatrip.com/*/X-13)

Untuk Pikat Wisatawan, Museum Tekstil Jakarta Barat Berbenah

Museum Tekstil yang berada di jalan KS Tubun No 4 Palmerah, Jakarta Barat merupakan tempat menyimpan koleksi benda-benda antik dan bersejarah,saat ini Museum Tekstil yang juga sebagai kebanggaan masyarakat Jakarta terlihat jauh berbeda dari sebelumnya yang sangat memprihatinkan. Di dalamnya terlihat kurang terawat dan terlihat sangat kumuh.

Banyaknya pedagang kaki lima (PKL) yang memenuhi trotoar museum sehingga bangunan bersejarah yang kita banggakan itu terhalang oleh kehadiran lapak pedagang kaki lima (PKL) hal ini membuat minat pengunjung yang ingin melihat kekayaan tekstil tanah air berkurang

Namun sekarang Museum Tekstil terlihat jauh berbeda, banyak dilakukan perbaikan baik disisi bangunannya maupuan perluasan sarana parkir kendaraan roda empat, bus dan sepeda motor.

Menurut Eko Hartoyo, Kasie Pameran dan Edukasi Museum Tekstil Jakarta kepada LIcom mengatakan, di Museum Tekstil ini sering ada kunjungan dari wisatawan mancanegara untuk mengetahui lebih dekat keberadaan perstekstilan di tanah air. Namun, banyak keluhan dari pengunjung sulitnya akses masuk ke Museum lantaran jalan menuju museum menyempit karena adanya lapak-lapak pedagang kaki lima .

”Dengan adanya penertiban kepada pedagang kaki lima ini diharapkan keindahan bangunan kuno museum tekstil ini bisa terlihat dari luar sehingga bisa menarik minat pengunjung agar datang ke museum tekstil,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Meski sampai saat ini sebagian pedagang masih saja berjualan di atas trotoar depan museum namun diharapkan dalam waktu dekat para pedagang bisa pindah dengan kesadaran sendiri tanpa harus dipaksa. Diatas trotoar nantinya akan di isi dengan pot bunga.

Jika kondisi museum tekstil terlihat lebih rapi dan bersih tentunya akan membuat rasa aman dan nyaman bagi pengunjung museum, dan kedepannya membuat kunjungan ke Museum tekstil akan meningkat. kasiyanto/LI-08

Sumber: lensaindonesia.com

Al Quran Penanda Zaman di Museum Sulteng Lembah Palu

Menelusuri Jejak sejarah Islam tidak mesti di masjid atau makam para penyiar agama. Di Lembah Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), benda-benda peninggalan Islam justru tersimpan di Museum Negeri Sulteng. Bukti peninggalan berupa sejumlah Al Quran tua, kumpulan Lontara, hingga lembaran Kutika masih terjaga dengan baik dan tesusun rapi sebagai lembaran sejarah Islam.

Koleksi Alquran tua yang ditulis dengan tangan itu diperkirakan berumur 200-an tahun. Rata-rata Al Quran berukuran sekitar 30 centimeter kali 40 centimeter dengan tebal kira-kira 10 centimeter. Uniknya Al Quran berisikan ukiran-ukiran floral atau tumbuh-tumbuhan yang digambar di setiap sisi lembaran ayat.

Setiap peralihan juz dalam Al Quran ditemukan satu halaman penuh yang berukiran flora khas Sulteng sebagai penanda halaman. Ukiran floral dengan tiga warna dasar, yakni merah, kuning dan hijau memakai tinta Cina. Kombinasi warna dan ukiran menimbulkan suatu keindahan tersendiri.

Al Quran tua ini telah diteliti oleh Libang Departemen Agama, dan dapat diketahui bahwa ratusan lembar Al Quran yang diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-18 itu, dibuat dari kulit kayu beringin. Sementara sampulnya menggunakan kulit binatang.

Al Quran menjadi sangat unik karena menggunakan ukiran khas lokal lembah Palu dan tidak ditemukan Al Quran tua sejenis di Indonesia. Hal ini menjadi sebuah penanda bahwa penyebaran Islam di Indonesia tetap berdampingan dengan budaya yang ada.

Keunikan Al Quran ini kemudian menjadi daya tarik, dan menjadi andalan Museum yang terletak di Jalan Kemiri No. 23 Kamonji, Palu ini, sebagai salah satu destinasi religi dalam menelusuri jejak sejarah Islam. Banyak pengunjung sangat tertarik, dan mencoba untuk memiliki dengan berbagai tawaran harga yang tinggi. Namun, sejarah bukanlah hal yang bisa diperjualbelikan.

Menurut sejarahnya keberadaan sejumlah Al Quran tua tersebut diduga dari masa periode sesudah syiar Islam yang dilakukan oleh Datokarama, yakni pada periodesasi syiar Islam oleh para mubalig bugis, makassar, dan mandar hingga periodesasi mubalig Arab/Yaman.

Selain Al Quran tua (200 tahun), ada juga koleksi Al Quran yang usianya lebih muda, peninggalan abad 19 dan abad 20. Al Quran zaman itu, sudah menggunakan kertas hasil produksi pabrik dari Eropa. Hal itu ditandai dengan adanya cap air atau watermark pabrik kertas yang ada di setiap lembaran Alquran. Meski demikian, ayat-ayat masih ditulis dengan tangan.

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Arjuna Metapa

Gianyar – Bali sebagai pusat budaya dan daerah tujuan wisata utama ternyata menyimpan benda-benda purbakala yang sangat berharga. Benda-benda pra-sejarah tersebut dapat dinikmati di museum Arjuna Metapa.

Museum yang berupa peninggalan benda-benda pra-sejarah ini berada di udara terbuka. Dibangun pada tahun 1960 dan dikelola oleh Departement Purbakala pemda Bali.

Di museum ini bisa ditemukan berbagai patung, arca, dan juga batu-batuan dari jaman prehistoric dan historich daerah Bali.

Terletak antara daerah Pejeng dan Bedahulu, kurang lebih 5 km dari kota Tampaksiring. Di sebelah barat komplek utama museum, yaitu Gedung Are terdapat petilasan tempat Arjuna bermeditasi dan bertapa.

Petilasan ini dikenal dengan nama Arjuna Metapa. (wahyu/smcn)

Sumber: Suara Merdeka

Museum M.H. Thamrin Napak Tilas Rumah Sang Pejuang

Menapaki halaman depan bangunan dengan luas lahan 3.620 meter per segi, seperti melangkah masuk ke dalam rumah sederhana. Namun, siapa sangka, rumah itu adalah museum yang sengaja dipersembahkan untuk mengenang jasa salah seorang pahlawan nasional, Mohammad Hoesni Thamrin.

Museum ini dibangun awal abad ke-20. Sebelum menjadi museum, tempat ini merupakan bekas rumah pemotongan hewan dan tempat penimbunan buah yang datang dari Australia. Kemudian, pada 1929, setelah dibeli M. H. Thamrin, bangunan itu dipakai untuk kegiatan pergerakan nasional sebuah kelompok organisasi yang menamakan dirinya sebagai Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Tidak hanya itu, tempat ini pun sering dipakai untuk menyelenggarakan berbagai macam kongres penting. Diantaranya, pernah digunakan sebagai tempat Kongres Partai Nasional Indonesia (KPNI) I dan II, pada. 18 hingga 20 Mei 1929.

Tahun 1930, bangunan tersebut digunakan untuk pementasan sandiwara. Tujuannya tidak lain membangkitkan semangat kepahlawanan para pejuang Indonesia. Dan, masih banyak lagi kongres menuju kemerdekaan kala itu, diadakan di tempat ini.

Di tahun yang sama, untuk pertama kalinya, lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan dalam sebuah orkes, di museum tersebut. Setelah masa kemerdekaan, sekitar tahun 1960-1964, dipergunakan sebagai tempat pendidikan Kepamong-Prajaan. Bahkan, sempat menjadi tempat kuliah untuk mahasiswa Universitas Jakarta (sekarang berganti nama menjadi UNJ) di tahun 1966-1977.

Lalu, benda-benda apa saja yang ada didalam museum ini? Museum ini memiliki dua ruang pamer. Satu ruangan besar untuk memajang benda-benda koleksi, sebut saja blankon, dipan kayu, replika meja keluarga, meja beranda, bale tempat pembaringan terakhir jenazahnya, lemari hias dari marmer, lukisan potret diri dan radio setinggi satu meter.

Sementara, ruang lainnya merupakan perpustakaan, berisikan buku-buku sejarah, naskah-naskah M.H. Thamrin, termasuk teks-teks pidato. Pengunjung bisa melihat koleksi foto pejuang kelahiran 16 Februari 1894 ini, mulai dari masa kecil, hingga akhir hayatnya. Selain itu, pengunjung bisa mengetahui kisah perjuangan pahlawan nasional ini melalui diorama.

M.H. Thamrin dikenal sebagai sosok yang berani membela kebenaran, semangat, tulus, konsisten membela kaum miskin dan sederhana. Maka, pantas bila pemerintah menganugerahi tanda jasa pahlawan dan mengabadikan sejarahnya dalam Museum M.H. Thamrin, yang diresmikan 11 Januari 1986.

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Taman Prasasti: Kala Nisan Bercerita

Buang jauh-jauh pikiran seram ketika menginjakkan kaki di Museum Taman Prasasti, karena museum ini justru menawarkan keindahan seni rupa, bahkan sering dijadikan obyek fotografi maupun video bagi berbagai kalangan masyarakat.

Tidak seperti kebanyakan museum dengan koleksi-koleksi tersimpan dalam ruangan tertutup, di sini seluruh koleksi berada di ruang terbuka. Wajar demikian, sebelum berubah menjadi museum, bangunan yang terletak di Jalan Tanah Abang I No. 1, Jakarta Pusat itu, awalnya merupakan lokasi pemakaman kaum bangsawan serta pejabat tinggi Belanda, sejak 28 September 1795.

Pemakaman tersebut lebih dikenal sebagai Kerkhoof Laan, lalu berubah menjadi Kebon Jahe Kober. Pada 1975, bangunan itu sempat ditutup, lalu tahun 1977 dibuka sebagai Museum Taman Prasasti, dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta ketika itu, Ali Sadikin.

Sebelum melangkah masuk, pengunjung disambut dengan bangunan kuno bergaya Doria. Ruang kosong dan ramai dengan pilar penyangga, dahulunya dijadikan ruang tunggu para pelayat dan keluarga. Di bagian kiri dan kanan bangunan disiapkan sebagai tempat persemayaman jenazah prig dan wanita. Namun, sekarang ruang tersebut berfungsi sebagai gerbang masuk dan loket pembelian tiket.

Setelah melewati gerbang masuk, pengunjung langsung disuguhkan hamparan nisan dalam beragam bentuk dengan hiasan ornamen-ornamen seperti patung malaikat, monumen, replika manusia, serta lempengan batu. Setiap nisan memiliki gayanya sendiri, sebut saja gaya arsitektur klasisisme, neo-gothic dan Hindu-Jawa. Sementara, pembuatan nisan tercatat dari abad ke-17 hingga abad ke-20.

Jika pengunjung memulai penelusuran dari arah kiri, maka akan ditemukan kereta jenazah peninggalan Belanda yang keberadaannya masih terlihat utuh. Di sisi ini, juga terdapat nisan dari H.F.Roll, dokter asal Belanda sekaligus pencetus gagasan berdirinya STOVIA.

Tokoh lain yang namanya disemayamkan adalah J.H.R. Kohler, komandan Belanda saat perang Aceh, Monsignor Adami Caroli Claessens, Olivia Marianne Raffles, merupakan istri Thomas Stamford Raffles, bahkan kaum pribumi, seperti Soe Hok Gie dan Miss Tjitjih, pemain teater terkenal di zamannya, ikut menyatu bersama nisan-nisan yang tertanam di lahan seluas 1,3 hektare itu.

Selain prasasti unik, Museum Taman Prasasti dilengkapi pula taman dengan pohon-pohon besar nan rindang. Hingga akhirnya, taman tersebut turut difungsikan untuk pelestarian alam dan paru-paru kota.

Dengan menjelajah museum ini, pengunjung diharapkan bisa mempelajari sejarah keberadaan masyarakat Jakarta dari berbagai macam strata sosial, komposisi penduduk Jakarta saat itu, juga mengetahui beragam bahasa yang digunakan.

Sumber: Majalah Travel Club